Sabtu, 14 Mei 2011

19th part. II

"Special thanks to his damn friend in Wisma Nusantara 1 : Ridho Winar Lagan, Arief Setio Aji, Dewa Ngakan Nyoman, Stevie, Arnando Yugantara, Patris, Edgar, Sani, and Ardian Anggawa. Good fuckin' job guys. U guys really make him angry, so fuckin' angry!! hahahahaha"
(artikel : 19th)

Apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu? apa yang mereka lakukan kepada dia (Adima) sehingga dia bisa begitu sangat "marah"? Seperti yang telah ditulis pada tulisan/artikel sebelumnya, 19th, setiap tahunnya, ketika datangnya hari ulang tahunnya, tak pernah ada sesuatu hal yang spesial yang terjadi. Walaupun memang tidak bisa dia pungkiri, ada beberapa bagian dari ulang tahun yang ia lewati dengan sesuatu yang spesial, ucapan yang spesial, hadiah yang spesial dan perlakuan yang spesial. Tapi apa yang terjadi pada ulang tahun nya kali ini bukanlah spesial dalam artian sesuatu yang menyenangkan atau yang membahagiakan, spesial yang mereka lakukan kepadanya lebih kepada sesuatu hal yang sangat tidak dia harapkan dan bahkan oleh semua orang yang berulang tahun.

Kampus IPDN Kalimantan Barat adalah kampus baru dan baru menerima Praja pada tahun ini, sehingga disini Angkatan XXI IPDN menjadi junior sekaligus senior. Mereka menjadi sekelompok Wasana tanpa bintang dan senior tanpa junior. Hal itu sedikit banyaknya membuat mereka agak lebih bebas untuk mengekspresikan diri mereka masing-masing, dalam arti yang seluas-luasnya dan dalam segi positif maupun negatif sekalipun. Walaupun begitu, mereka tetaplah sekumpulan Muda Praja, tingkat pertama, yang tetap harus mendapat serangkaian tekanan, khususnya dalam bidang Pengasuhan. Apalagi pengasuh mereka disini seluruhnya merupakan Purna Praja (alumni APDN/STPDN/IPDN) yang sudah tau seluk beluk kehidupan Praja dan bagaimana cara untuk mendidik mereka.

Berbanding lurus dengan adanya sedikit kebebasan untuk lebih mengekspresikan diri mereka itu, timbulah suatu tradisi yang sangat menakutkan bagi mereka yang berulang tahun dan bahkan mungkin setiap orangnya berharap untuk tidak pernah berulang tahun di kampus ini. Tradisi itu adalah memasukan setiap Praja yang berulang tahun ke dalam sebuah kolam. Bila anda pikir ini suatu hal yang biasa, maka coba anda pikirkan kondisi kolam yang ada di sini. Kolam di sini bukanlah kolam yang sengaja dibuat untuk menghiasi sebuah taman, tapi kolam di sini adalah sebuah kolam yang berbentuk lubang nan dalam berisikan air hujan dan segala sampah yang secara sengaja ataupun tidak sengaja dibuang kedalamnya. Terkadang, bila hujan lama tidak turun, maka kolam itu akan berubah menjadi kolam hitam pekat dan bau nya cukup menusuk telinga. Entah siapa yang memulai, tapi suatu tradisi memang terkadang timbul tanpa sebuah perencanaan dan oleh sekelompok orang yang tidak pernah dapat diketahui identitasnya. Sebuah kegiatan tiba-tiba dan tiba-tiba pula disenangi oleh banyak orang.

Dan itu lah yang terjadi pada seorang Adima Insan Akbar Noors, dia akhirnya harus merasakan kolam itu, Kolam Pencucian Dosa sebutannya, karena biasanya bila ada Praja yang berbuat suatu deviasi (Pelanggaran) yang cukup membuat pengasuh marah, maka disitulah tempat dia untuk mencuci segala dosa yang telah ia perbuat. Hal itu menjadi sangat membuatnya "marah" karena mereka semua melakukannya ketika dia masih berpakaian PDH (Pakaian Dinas Harian).
Jadi, siang itu, pada hari Selasa, tanggal 10, bulan Mei, tahun 2011, beberapa saat setelah selesai dilakukannya apel siang. Segerombolan orang mulai datang menghampirinya, mereka dengan senyum penuh makna mengucapkan selamat yang sebenarnya orang-orang itu telah mengucapkan selamat pada pagi harinya. Dia memang telah curiga dan memang telah waspada dari semenjak malam harinya, karena dia tahu benar tradisi itu dan karena orang-orang itu telah berkali-kali mengatakan bahwa dia harus siap untuk basah dan menerima segala apa yang terjadi besok hari. Dan memang benar adanya, seketika saja segerombolan orang tersebut mencengkram dia dan seketika itu pula banyak orang yang berdatangan untuk menolong segerombolan orang tadi. Tak perlu waktu lama, orang-orang itu telah mampu untuk mengangkatnya dan bersama-sama membawanya menuju Kolam pencucian Dosa. Segala upaya dan daya yang dia lakukan menjadi terlihat percuma, teriakan dan gerakan tubuh pun terbuang sia-sia. Mereka dengan penuh rasa bahagia diiringi gelak tawa, tanpa ampun membawa dia menuju ke lokasi ritual. Beberapa saat kemudian, kolam itu mulai terlihat dekat, rontaan yang dia lakukan semakin kuat tapi semakin kuat pula mereka untuk sesegera mungkin menjatuhkannya ke kolam tersebut dan sesaat kemudian tubuhnya pun melayang dan jatuh tepat ke dalam kolam hitam nan pekat berbau itu. Dia pun berenang pasrah menuju daratan, orang-orang semakin keras dan lepas tertawa. Dia hanya bisa tersenyum pasrah meratapi kedaan. Penderitaan tak berhenti disitu, kembalinya dia ke wisma dia mendapati kedaan kamarnya yang hancur berantakan dan kasur yang menghilang entah kemana. Suatu hal yang cukup untuk membuatnya "marah" dan dongkol sedongkolnya manusia.

Tapi, jauh dari itu semua, jauh dari perasaan marah dan dongkol yang dia rasakan. Jauh dalam hatinya, dia merasa sesuatu rasa bahagia dan suatu ketenangan. Bahagia bahwa dia merasa dicintai dan disayangi oleh teman-teman dan lingkungannya sendiri dan tenang karena ternyata masih ada orang-orang yang peduli terhadapnya. Sekali lagi itu semua adalah sesuatu yang selalu membuatnya tertegun dan terhenyak,sesuatu hal yang tak akan pernah mampu dia balas. Satu hal yang pasti, dia akan selalu mendoakan semua orang dan setiap jiwa yang telah mau untuk peduli dan menyayanginya.

2 komentar:

  1. berharap saya ada disana...saya merindukanmu sodaraku

    BalasHapus
  2. ??? siapa lur?? kok pake anonim segala??

    BalasHapus