Sabtu, 11 Mei 2013

The Chronicle of My Birthday

Sabtu, 11 Mei 2013
22.04 WIB

tradisi
Ahh, ulang tahun.
Hal yang selalu memberikan sebuah ironi. Di satu sisi kita bahagia karena umur kita bertambah. Kita pun bahagia karena masih mampu untuk bernafas dan melihat indah serta buruknya kehidupan. Tapi di sisi yang lain, kita juga dipaksa untuk bersedih. Kita bersedih karena umur kita berkurang.
 
Kita semakin bertambah tua dan semakin dekat dengan kematian, tapi tanpa ada jaminan kedewasaan, kebijaksanaan, dan bertambahnya kebaikan dalam kehidupan ini. Dan karena itu kita pun menjadi bersedih.
 
Normalnya hal-hal seperti itu akan kita rasakan. Dan karena saya selalu merasakan dua perasaan serta logika yang bertentangan seperti itu maka saya pun selalu bimbang dan ragu dalam memberikan respon ketika saya harus bertemu kembali dengan tanggal saat saya (katanya) dilahirkan.
 
Bijaknya dan sebaiknya, tentu kita harus menyikapi itu semua dengan penuh rasa syukur diiringi sebuah intropeksi yang dalam. Setelah itu lantas kita membuat sebuah resolusi untuk memperbaiki segala yang salah serta terus mengembangkan segala hal baik. It sounds simple, right? But believe me, it is hard to do.
 
Saya tidak akan berdebat mengenai bagaimana hukum merayakan sebuah ulang tahun karena jelas dalam agama saya, tak ada ritual seperti halnya bernyayi, tiup lilin, dan hal-hal lain yang identik dengan perayaan hari ulang tahun.
 

Tapi saya pun tidak anti. Saya mencoba untuk menyikapinya dengan sudut pandang yang holistik.
 
Saya memang tidak menyetujuinya, tapi saya pun tidak pernah atau belum bisa untuk menolaknya. ( baca : 19th ) Jadi, mari sejenak kita tinggalkan perdebatan itu.
 
Bagi saya pribadi, saya selalu berusaha untuk tidak terlalu bahagia dan juga bersedih ketika saya mampu untuk menginjakan kaki di tanggal saya (katanya) dilahirkan. Saya mencoba untuk tetap tenang. Saya mencoba untuk lebih banyak memupuk rasa syukur dalam hati. Sembari terus mengevaluasi hal-hal apa yang telah saya kerjakan di dalam umur yang telah Allah berikan.
 
Setelahnya, lantas saya pun mencoba untuk membuat beberapa catatan pada diri saya sendiri kemudian menumbuhkan dan menciptakan beberapa harapan baru atau sekedar menghidupkan kembali harapan-harapan yang telah mati.
 
Akan tetapi hal yang selalu membuat saya mati kata (speechless) dan selalu salah dan bertingkah adalah ketika ada orang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya atau bahkan memberikan hadiah kepada saya. Saya menjadi kehabisan kata dan salah dalam bertingkah karena bagi saya tindakan-tindakan yang mereka lakukan jelas merupakan sebuah bentuk perhatian dan kebaikan yang sangat tinggi terhadap saya.

me + present

Saya selalu khawatir saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan yang telah mereka berikan. Karena selalu menjadi beban rasanya, ketika saya tidak pernah mampu membalas kebaikan orang lain walaupun sebenarnya orang-orang yang berlaku baik pada saya itu tak pernah mengharapkan balasan apapun.
 
Saya yang meyakini bahwa dunia ini pasti akan selalu mencari titik kesimbangannya, selalu ada sunatullah atau hukum alam atau hukum karma di dunia. Maka saya selalu yakin ketika saya berbuat baik maka saya pun akan mendapat kebaikan begitu juga sebaliknya. Ketika saya ingin dihargai maka saya harus terlebih dahulu menghargai orang lain. Dan hal-hal sebab-akibat lainnya.
 
Oleh karena itu, ketika saya mendaptkan kebaikan dan saya tidak bisa untuk membalasnya, maka saya khawatir orang-orang itu akan menjadi jahat kepada saya. Orang-orang itu akan meninggalkan saya!
 
hadiah

hadiah
hadiah

hadiah
Mereka yang telah dengan sudi meluangkan sedikit waktu untuk mengucapkan selamat ulang tahun lantas dengan ikhlas (saya harap) mendoakan segala hal baik kepada saya, bukankah orang-orang itu adalah orang yang sangat baik hatinya? Lalu balasan saya apa?
Saya bahkan tak ingat kapan mereka berulang tahun, saya bahkan jarang mengucapkan dan memberikan doa ketika mereka berulang tahun. Jadi, pantas lah kemudian saya khawatir!
 
Saya hanya mampu untuk kemudian mengucapkan terima kasih. Ya, hanya terima kasih. Bisa apa lagi saya? Damn!
 
Karena sekali lagi, ini bukan tentang pamrih atau tidaknya, ini masalah saling menghargai dan saling memberi serta hubungan timbal balik. Akal sehat saya mengatakan, tidak mungkin kita mendapatkan buah mangga apabila kita menanam bibit jambu! Tidak mungkin orang lain akan terus tersenyum kepada kita apabila kita selalu memalingkan muka darinya.
 
Dan ya, hal itu pun kini terjadi lagi di tahun ini, di saat ini, keluarga, sahabat, teman, semua kembali menunjukan kebaikannya. 

Dan dalam tulisan ini, sekali lagi saya memohon maaf karena hanya mampu untuk membalas dengan ucapan terima kasih. Saya memohon maaf karena belum mampu membalas lebih dari itu. Saya pun lantas memohon maaf saya belum bisa untuk menjadi keluarga, sahabat serta teman yang baik selayaknya anda-anda semua berbuat baik kepada saya.
 
Tapi saya juga mohon, jangan pernah kalian semua meninggalkan saya. Tak ada artinya saya tanpa keluarga, sahabat dan teman.
Terima kasih, terima kasih dan terima kasih.

Always #PMA ;)

5 komentar:

  1. tenang adima, saya akan selalu mengingatmu, mengingat bagaimana hubungan kita.... awkkawkaa
    hadiahnya keren-keren pula, ada jam sebagai pengingat waktu, ada gelas buat minta aer ke kamar tetangga, ada buku buat bantal dll.... hehe
    anyways, selamat ulang tahun, maap gak bisa ngasih apa-apa... hehe

    BalasHapus
  2. selamat hari lahir sobat,
    semoga sehat bahagia selalu dalam lindungan ALLAH SWT :-)

    BalasHapus
  3. @bang harri : hahaha bisa jak nih. ;)
    gpp bang, ucapan udh lebih dari cukup hhe

    @Blogs of Hariyanto : amin ya Rabb, terima kasih banya pak. :)

    BalasHapus
  4. didoakan kembali saja, itu relatif bisa lebih dari cukup kok :)

    BalasHapus
  5. @ukhtika : iya tika, terima kasih ya. :)

    BalasHapus