Selasa, 3 Rabiulakhir 1448 H / 15 September 2026 Pukul 07.21 WIB Bismillah wassalatu wassalamu 'ala Rasulillah Sebuah proses pengisian jabatan birokrasi dapat terlihat meritokratis: ada persyaratan, ada seleksi, ada penilaian, ada panitia, dan ada prosedur yang harus dilalui. Namun, keputusan akhir masih dapat dipengaruhi oleh koneksi politik, kepentingan pribadi, atau hubungan patronase sehingga prosedur yang meritokratis tidak menghasilkan keputusan yang meritokratis. ( "Indonesia dan Meritokrasi Seremonial" , Kompas edisi 27 Agustus 2026) Mengapa satu indikator memperoleh bobot tertentu? Mengapa indikator lainnya memperoleh bobot berbeda? Apakah bobot tersebut merupakan hasil pengujian empiris terhadap keberhasilan ASN pada jabatan target? Apakah telah diuji *predictive validity*-nya? Apakah terdapat data yang menunjukkan bahwa orang dengan skor talenta lebih tinggi benar-benar secara konsisten menghasilkan kinerja kepemimpinan yang lebih baik? ( "Kami Percaya ...
Sebuah judul yang dulu sering menemani di saat diri masih terasa bebas berapi-api penuh emosi terwakili oleh sebuah teriakan yang kala itu masih dinikmati waktu berjalan dan semua berganti tak disangka kalimat itu kini datang menghampiri datang memberi label akan karir kami di dunia birokrasi merangkum dengan sangat jelas vulgar dan bahkan terdengar kasar tapi faktanya memang tak memberikan arti hanya membebani, tak ada yang ditinggalkan secara pasti sebagai sebuah legacy . qadarallah.. Semoga di tempat yang baru nanti, setidak-tidaknya kami tak ingin jadi beban. ingin banyak memberikan kontribusi signifikan. menebar manfaat walau bukan dalam ranah formal kedinasan. Tak ingin lagi terjebak dalam mimpi yang terlalu besar sehingga terlalu banyak ekspektasi yang membuncah menjadi beban dalam pikiran. hanya berjalan dan fokus memberikan yang terbaik sesuai dengan peran. semoga Allah mudahkan.