Rabu, 27 September 2017

Hadir kembali!

AHAD, 11 MUHARAM 1439 H // 1 OKTOBER 2017
05.42 WIB

Masyaallah, terakhir saya berkhalwat dengan blog ini adalah pada hari Selasa tanggal 3 bulan Syawal tahun 1438 H yang bertepatan dengan 27 Juni 2017. Itu artinya 2 (dua) bulan (Dzulqadah dan Dzulhijah) telah saya lewati tanpa sempat menuliskan apapun di blog ini atau bahkan hitungan secara masehi saya telah 3 (tiga) bulan (Juli, Agustus, September) tidak menyempatkan waktu untuk mendudukan hati dan pikiran kedalam tulisan, sekedar melempar ide atau semangat atau mungkin nasihat. Yang sejatinya semua itu saya niatkan untuk perbaikan diri saya pribadi. Karena dengan menulis, ide-ide itu tersusun sistematis dan mampu untuk terkendali dengan baik.

Tapi disisi yang lain, saya bersyukur karena tidak menulis. Kenapa? Itu artinya saya meringankan beban saya di akhirat nanti. Karena, kita sebagai muslim, salah satu bentuk keimanan adalah meyakini adanya hisab di akhirat. Dan sungguh peristiwa hisab bukanlah sebuah perkara yang mudah. Tak akan ada yang terlewatkan sedikitpun dari apa yang telah kita lakukan di dunia ini. Semua tercatat, dan demi Allah! Semua akan Allah ta'ala mintai pertanggungjawaban.

Anda masih meragukan hal itu? Subhanallah! Mari kita renungkan logika sederhana. Apakah anda meminta untuk dilahirkan di dunia ini? Tentu tidak! Qodarullah, kita semua terlahir dan akhirnya hidup. Arab badui berkata bahwa tidak mungkin ada tai unta bila tidak ada unta. Maka tidak mungkin ada makhluk seindah manusia tanpa ada Sang Pencipta, Allah Rabbul alamin.

Jadi wajar dong kemudian kita katakan bahwa hidup ini adalah "pinjaman" dari Allah ta'ala. Maka Allah ta'ala yang telah memberikan "pinjaman", sangat berhak untuk meminta pertanggungjawaban pada kita atas apa yang telah kita lakukan dengan "barang" pinjaman ini. Apakah telah sesuai dengan kehendak Allah ta'ala atau justru jauh dari segala syariat-Nya.

Allah ta'ala, adalah dzat yang Mahaadil. Tidak dan tak akan pernah mungkin berbuat dzalim! Jangan pernah berpikir bahwa hal yang kita lakukan itu terlalu kecil sehingga tak mungkin tercatat. Naudzubillah, itu berarti kita meragukan ke-mahaadil-an Allah ta'ala!

Maka tulisan adalah bentuk lain dari perkara lisan. Jadi akan tercatat dan saya harus siap menjawab segala pertanyaan nanti di akhirat.

Akan tetapi disisi yang lainnya, kita pun harus bersemangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena sungguh surga tidak didapatkan dengan malas berdiam diri tak ada usaha. Surga itu mahal! Ada harga yang harus kita bayar untuk bisa meraih tiket masuk ke surga.

Fitrah yang ada pada mayoritas manusia adalah mendapatkan tiket dengan cara yang cepat. Terbukti di beberapa atau bahkan semua tempat hiburan, disediakan fasilitas antrian cepat, walaupun konsumen dikenakan biaya yang lebih mahal. Fasilitas itu tetap menjadi primadona. Karena memang manusia itu ingin selalu cepat dan instan!

Maka dalam urusan meraih surga pun demikian. Manusia ingin mendapatkannya dengan cara yang cepat. Alhamdulillah, syariat juga memungkinkan kita untuk melakukan hal itu. Sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, setiap dari kita yang mampu untuk menunjukan kebaikan maka kita pun akan mendapatkan pahala yang sama tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang yang melakukannya.
Di kasus yang lain, kita pun akan terus mendapatkan kucuran pahala atas dasar ilmu kebaikan terlebih ilmu agama yang telah kita ajarkan.
Bahkan setelah kita mati pahala itu akan terus mengalir! Allahuakbar!

Dua hal itu akan kita dapatkan dengan cara menulis. Terlebih di zaman sekarang ini. Ketika untuk sebagian orang berselayar di dunia maya telah menjadi kegiatan wajib sehari-hari. Maka insyaallah ta'ala apabila kita mampu untuk share tulisan-tulisan yang berisikan nasihat taqwa atau mungkin sekedar nasihat kebaikan hidup di dunia yang bersifat mubah, semua itu akan menjadi pahala bagi kita di akhirat nanti.

Maka dengan dua sudut yang bertolak belakang itu, saya sungguh harus sangat bijak dalam berinteraksi dengan blog ini. Pemikiran ini memang sebuah mindset baru yang saya dapatkan, alhamdulillah atas hidayah yang telah Allah ta'ala berika. Semoga Allah ta'ala memberikan saya kekuatan untuk istiqomah di atas sunnah. Aamiin.

Tulisan-tulisan yang telah lalu banyak yang tidak memenuhi kaidah kebaikan sesuai syariat. Tapi saya sengaja tidak menghapusnya dengan harapan orang-orang yang telah dan pernah datang di blog ini bisa mengambil pelajaran bahwa perubahan dalam hidup menuju kebaikan bukan hal yang tercela. Ketika harus "menjilat ludah sendiri" untuk menuju perubahan yang lebih baik maka jangan sungkan untuk dilakukan. Juga sebagai bukti bahwa "hijrah" bukan perkara instan, ada proses dan progres. Terlebih di zaman fitnah dewasa ini.

Lalu apa yang terjadi di bulan-bulan yang saya lewati tanpa menulis itu? Well, alhamdulillah di tanggal 5 Syawal 1438 H (29 Juni 2017) saya bisa melaksanakan salah satu syariat Islam yakni menikah. Di awal bulan Juli (kurang lebih 2 pekan) saya melaksanakan Diklat. Sepulangnya dari diklat, qodarullah pekerjaan di kantor sedang dalam frekuensi tinggi. Semua itu menjadi "alasan" bagi saya untuk sejenak menepi dari blog.

Akan tetapi satu yang menarik adalah ternyata perubahan status dari lajang menjadi menikah terlebih dengan kondisi harus terpisah jarak bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Masyaallah! Dengan frekuensi kerja yang cukup tinggi ditambah harus terpisah dari istri, merupakan ujian psikis yang harus saya hadapi. Jadi memang di 3 (tiga) bulan itu saya masih mencoba "beradaptasi".

Insyaallah ta'ala bila memang Allah izinkan, di kesempatan yang lain saya akan bercerita banyak tentang pernikahan yang telah saya lalui. Karena saya ingin berbagi dengan harapan menjadi inspirasi atauh ya sekedar penambah masukan bagi mereka yang berdalih bahwa mustahil untuk melaksankan proses pernikahan yang sederhana dan semaksimal mungkin berusaha untuk mendekati sunnah.

Maaf bila tulisan ini hanya sekedarnya, ini hanya mukadimah. Tulisan latihan karena 3 (tiga) bulan tidak menulis.

Wallahu'allam.
Semoga tulisan ini memberikan manfaat.