Selasa, 30 Maret 2021

Kementerian Triumvirat

 

Artikel ini mulai ditulis pada hari Senin tanggal 16 Syaban 1442 H yang bertepatan dengan tanggal 29 Maret 2021 Masehi, pukul 13.22 WIB.

 

Berdasarkan Pasal 8 ayat (3) Undang-undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945, disebutkan bahwa Menteri Luar Negeri, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Pertahanan bisa untuk menjadi pelaksana tugas kepresidenan secara bersamaan apabila Presiden dan Wakil Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, dan/atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan.

 

Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pertahanan menjadi tiga Kementerian yang secara khusus nomenklatur kementeriannya disebutkan dengan tegas dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

 

Merujuk pada salah satu artikel di Wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Triumvirat), tiga orang/lembaga yang pada satu waktu menjadi penguasa disebut dengan istilah triumvirat. Triumvirat sendiri berasal dari bahasa latin yang bermakna dari tiga laki-laki.

 

Kembali pada konteks sistem tatanegara di Indonesia, konsekuensi logis dari disebutkannya secara tegas Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pertahanan di dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah ketiga kementerian tadi akan selalu ada dan hadir di Negara Indonesia, siapapun presiden yang terpilih.

 

Satu-satunya cara apabila presiden tidak ingin membentuk ketiga kementerian tersebut atau bahkan sekadar ingin merubah nama nomenklaturnya, presiden harus terlebih dahulu “merayu” Majelis Permusyaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) untuk melakukan amandemen terhadap UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

 

Oleh karena itu, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pertahanan adalah kementerian yang paling sulit untuk dibubarkan.

 

Kenapa harus Kemenlu, Kemendagri dan Kemenhan?

Wallahu’allam, kami pribadi belum melakukan pencarian referensi tulisan tentang alasan di balik pemilihan ketiga kementerian di atas untuk menggantikan Presiden dan Wakil Presiden apabila keduanya secara bersamaan tidak bisa menjalankan tugasnya secara tetap.

 

Akan tetapi, sependek ilmu yang kami miliki, pemilihan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pertahanan sebagai pelaksana tugas kepresidenan adalah sebuah keputusan yang sangat tepat. Kenapa?

 

Karena ketiga Kementerian itu mewakili secara umum tugas yang dilakukan oleh Presiden dan Wakil Presiden selaku pemegang kekuasaan tertinggi di dalam pemerintahan.

 

Apabila kita coba klasifikasikan secara umum tugas sebuah pemerintahan, maka kita bisa membuat sebuah klasifikasi secara ringkas ke dalam urusan pemerintahan dalam negeri, urusan pemerintahan luar negeri, dan urusan pertahanan negara. Semua urusan spesifik pemerintahan pasti ujung-ujungnya akan bermuara pada ketiga klasifikasi di atas, entah itu urusan dalam negeri, urusan luar negeri, dan/atau urusan pertahanan negara.

 

Akan tetapi, kami melihat bahwa saat ini fungsi Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pertahanan rasa-rasanya mengalami sedikit reduksi.

 

Sebelum kami melanjutkan artikel ini kami akan terlebih dahulu mengatakan bahwa tulisan ini masih sangat minim referensi ilmiah sehingga kurang berbobot. Kami hanya akan mencoba mengemukakan ide dan gagasan tentang fungsi utama yang harusnya diembang oleh kementerian triumvirat di Indonesia, khususnya Kementerian Dalam Negeri. Semua hanya sekadar opini.


Tugas yang mengalami Reduksi

Sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas, secara umum urusan pemerintahan akan bisa dibagi ke dalam tiga klasifikasi global, urusan dalam negeri, urusan luar negeri dan urusan pertahanan.

 

Atas dasar argumen di atas, kami melihat bahwa sepertinya Bapak Bangsa Indonesia menginginkan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pertahanan menjadi poros utama Kementerian yang akan dibentuk di Indonesia.

 

Ketiga Kementerian ini idealnya harus menjelma menjadi koordinator bagi kementerian-kementerian teknis lainnya yang dibentuk oleh Presiden dan Wakil Presiden. Karena nama nomenklatur ketiga kementerian tadi bersifat umum dan layak untuk menjadi kementerian koordinator

 

Sehingga seharusnya Kementerian Luar Negeri menjadi koordinator bagi segala urusan negara yang berkaitan dengan pihak/negara/Lembaga asing, Kementerian Dalam Negeri bertindak sebagai koordinator semua urusan teknis pemerintahan yang ada di dalam negeri, dan akhirnya semua tentang pertahanan negara harus berada dalam koordinasi Kementerian Pertahanan.

 

Akan tetapi praktek yang ada dewasa ini, Presiden dan Wakil Presiden terpilih selalu membentuk Kementerian khusus yang menjadi kementerian koordinator, sehingga Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pertahanan “berada” di bawah kementerian koordinator.

 

Mari kita coba baca Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 68 Tahun 2019 tentang Organisasi Kementerian Negara sebagai dasar hukum terbaru bagi kementerian negara di Indonesia.

 

Berdasarkan Pasal 3, Pasal 30, dan Pasal 47 Perpres Nomor 68 Tahun 2019 memang secara tegas disebutkan bahwa seluruh kementerian berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Sehingga hal itu memberikan gambaran bahwa seluruh kementerian berada di satu tingkatan yang sama.

 

Tapi apabila kita mencermati Pasal 79 Perpres Nomor 68 Tahun 2019 maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kementerian koordinator berada satu tingkat di atas kementerian lainnya, termasuk kementerian triumvirat, yaitu Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pertahanan.

 

Kementerian koordinator, berdasarkan Pasal 79, mempunyai wewenang untuk memanggil para Menteri untuk melaksanakan rapat dan meminta hasil tindaklanjut rapat koordinasi, untuk kemudian laporan tersebut diberikan kepada Presiden melalui menteri koordinator.

 

Merujuk pada pemahaman tersebut, maka menjadi sedikit aneh ketika nantinya kementerian triumvirat harus mengemban tugas kepresidenan tapi pada pelaksanaan tugas sehari-harinya mereka justru berada di bawah Menteri koordinator.

 

Untuk semakin mempermudah pemahaman para pembaca, semoga Allah memberikan rahmat bagi kita semua, maka kami akan langsung mengambil contoh di Kementerian Dalam Negeri.

 

Kementerian Dalam Negeri, nasibmu kini

Saat ini Kementerian Dalam Negeri dibentuk berdasarkan Perpres Nomor 11 Tahun 2015 tentang Kementerian Dalam Negeri.

 

Pada Pasal 2 Perpres Nomor 11 Tahun 2015 disebutkan bahwa Kementerian Dalam Negeri mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang pemerintahan dalam negeri untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.

 

Mari kita bedah terlebih dahulu definisi dari pemerintahan sehingga kita bisa memiliki gambaran tentang tugas yang seharusnya diemban oleh Kementerian Dalam Negeri.

 

Definisi pemerintahan tentu akan sangat beragam terlebih ketika kita berusaha meninjaunya dari segi ilmu pemerintahan. Kita akan dapati banyak ahli yang memberikan definisi terkait pemerintahan.

 

Dalam rangka mempermudah pemahaman dan mempersingkat tulisan, maka kami akan menyebutkan satu definisi pemerintahan yang diberikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

 

Pemerintahan memiliki arti sebagai segala urusan yang dilakukan oleh negara dalam menyelenggarakan kesejahteraan masyarakat dan kepentingan negara (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pemerintahan).

 

Berdasarkan definisi di atas maka argumen saya di awal bahwa idealnya Kementerian Dalam Negeri menjadi sebuah Kementerian koordinator memiliki landasan yang kuat.

 

Karena Ketika berbicara tentang urusan pemerintahan dalam negeri maka kita sedang berbicara tentang seluruh urusan negara untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera.

 

Maka urusan pekerjaan umum, urusan keuangan, urusan kesehatan, urusan bencana, urusan hukum, pendidikan, sosial, perdagangan, dan seluruh urusan lainnya, sepanjang itu dikerjakan dalam konteks dalam negeri dan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat maka itu adalah bagian dari urusan dalam negeri.

 

Akan tetapi tugas umum yang seharusnya diemban oleh Kementerian Dalam Negeri, kemudian mengalami reduksi oleh Pasal 3 Perpres Nomor 11 Tahun 2015.

 

Di dalam Pasal tersebut dijelaskan bahwa urusan pemerintahan dalam negeri yang diemban oleh Kementerian Dalam Negeri hanya mencakup bidang politik dan pemerintahan umum, otonomi daerah, pembinaan administrasi kewilayahan, pembinaan pemerintahan desa, pembinaan urusan pemerintahan dan pembangunan daerah, pembinaan keuangan daerah, serta kependudukan dan pencatatan sipil.

 

Beberapa tugas di atas membuat Kementerian Dalam Negeri seolah-olah menjadi sebuah “Kementerian teknis” dan di bawah “kendali” Kementerian koordinator.

 

Tugas yang saling beririsan

Reduksi tugas Kementerian Dalam Negeri memberikan dampak negatif akan kurang kuatnya posisi Kementerian Dalam Negeri sebagai sebuah Kementerian Negara. Karena jujur, tugas yang saat ini dikerjakan oleh Kementerian Dalam Negeri sebenarnya bisa dikerjakan oleh Kementerian teknis lainnya.

 

Seperti misalnya urusan pembangunan daerah bisa dikerjakan oleh Bappenas. Urusan keuangan daerah bisa dikerjakan oleh Kementerian Keuangan. Urusan pemerintahan desa bisa sepenuhnya dikerjakan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, beberapa urusan yang terdapat dalam administrasi kewilayahan juga bisa ditangani secara langsung oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk urusan kebencanaan dan pemadam kebakaran, urusan batas daerah bisa dikerjakan oleh Badan Pertanahan, dan masih banyak urusan lainnya.

 

Praktis yang bisa sepenuhnya “diklaim” oleh Kementerian Dalam Negeri adalah urusan otonomi daerah (itu pun sebenarnya sudah mencakup tugas pemerintahan teknis yang sudah dikerjakan oleh Kementerian teknis yang sudah ada), urusan politik dan pemerintahan umum dan urusan kependudukan dan pencatatan sipil.

 

Apalagi ketika wacana penyederhanaan birokrasi yang saat ini gencar dikampanyekan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (Kemenpan) ingin benar-benar ditegakan sesuai dengan kaidah keilmuaan yang ada. Maka kaidah menghilangkan tumpang tindih tugas yang sama atau sekadar saling beririsan, maka peran Kementerian Dalam Negeri akan semakin banyak mengalami reduksi apabila konsep tugas yang diemban oleh Kementerian Dalam Negeri tetap dipertahankan sesuai dengan Pasal 3 Perpres Nomor 11 Tahun 2015.

Maka kedepannya, peran Kementerian Dalam Negeri harus lebih komprehensif sesuai dengan definisi awal pemerintahan. Kita harus mau mengkaji secara mendalam alasan dipilihnya Kementerian Dalam Negeri sebagai salah satu Kementerian triumvirat yang secara tegas disebutkan di dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

 

Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi sedikit pemantik diskusi untuk kebaikan dan keberlangsungan tugas Kementerian Dalam Negeri dalam sistem pemerintahan Indonesia.

 

Wallahu’alam.

 

Selesai ditulis pada hari Selasa tanggal 17 Syaban 1442 H yang bertepatan dengan tanggal 30 Maret 2021 Masehi di meja kerja, pukul 11.48 WIB

Senin, 22 Maret 2021

Takdir dan Qanaa'ah

Artikel ini mulai ditulis pada hari Senin tanggal 8 Syaban 1442 H yang bertepatan dengan tanggal 22 Maret 2021 Masehi, pukul 11.02 WIB.

 

Tulisan ini banyak mengambil faidah dari kajian Ustaz Firanda Andirja, hafizahullah, yang berjudul TAKDIR (https://www.youtube.com/watch?v=aSg7or4BCRs). Bahkan, atas izin Allah ta’ala, kami pribadi banyak mengambil mutiara ilmu dan nasihat dari beliau, hafizahullah. Semoga Allah ta’ala panjangkan umur beliau dan kita semua dalam ketaatan.

***

“Qanaa’ah adalah harta terbesar untuk bisa menjalani kehidupan ini dengan tenang dan nyaman. Cermin dari bersihnya hati dan pikiran. Wallahu’alam, bahkan menurut kami pribadi, sifat qanaa’ah adalah buah dari aqidah yang benar. Karena tanpa keyakinan yang benar terhadap takdir, maka rasa-rasanya kita akan sulit untuk bersikap qanaa’ah.

 

Beriman kepada takdir adalah salah satu Rukun Iman, sehingga takdir bukan hal remeh. Kita harus meluangkan waktu khusus untuk belajar memahami takdir sehingga pemahaman kita bisa terbentuk dengan baik dan benar. Karena tanpa pemahaman yang baik dan benar, maka keimanan kita akan mudah goyah. Terlebih di zaman ini, dengan begitu banyak pemikiran yang dengan mudahnya kita baca dan memengaruhi hati.

 


Memahami takdir dengan baik dan benar adalah dengan terlebih dahulu memahami bahwa takdir itu terdiri dari: (1) Ilmu Allah (Allah ta’ala mengetahui segalanya sebelum mencipta); (2) Pencatatan (Allah mencatat apa yang akan Allah ciptakan di Lauh Mahfudz); (3) Kehendak (semua yang akan Allah ciptakan tidak ada yang keluar dari kehendak Allah);dan (4) Penciptaan.

 

Di dalam memahami point-point di atas, maka salah satu kaidah penting yang harus kita pahami adalah perkara takdir tidak ada yang mengetahui, bahkan Nabi, Rasul, dan Malaikat pun tidak mengetahui mengenai takdir sedikit pun.

 

Kaidah ini penting untuk dipahami secara benar dan harus dijadikan dasar dalam keyakinan kita terhadap Allah ta’ala. Seorang Muslim yang mencoba memahami Islam sesuai dengan pemahaman salafus shalih, maka harus mengetahui bahwa perkara takdir adalah perkara yang menjadi mutlak urusan Allah ta’ala.

 

Dengan pemahaman takdir melalui kaidah di atas maka kita akan menjalani kehidupan ini dengan tenang. Kenapa?

Karena hikmah tidak adanya makhluk yang mengetahui takdir walaupun secuil adalah (1) Jika seseorang mendapatkan kenikmatan, maka dia tidak akan bisa untuk merasa sombong; (2) Jika seseorang mendapat musibah, maka dia tidak akan terlalu merasa sedih; (3) Ketika beramal baik, maka seseorang tidak akan ujub karena dia tidak tahu akhir hidupnya; (4) Jika seseorang beraktivitas, maka dia akan tenang bertawakal karena semua sudah ditakdirkan.

 


‘kan udah takdir?

Mungkin, sebagian dari kita dibuat bingung dengan beberapa pemahaman takdir yang keliru sehingga kadang ada yang tidak mau menerima konsep takdir atau menerima konsep takdir dengan berbagai macam kesalahan.

 

Beberapa orang beranggapan bahwa konsep takdir akan menyebabkan orang menjadi malas, karena merasa bahwa segala sesuatu itu telah ditentukan jadi kenapa harus bekerja?

 

Maka jawabannya adalah takdir Allah tidak menyebabkan hilangnya sebab-akibat. Dan toh, orang yang dengan pemikiran seperti itu dia tidak konsisten menerapkan pemahamannya ke dalam seluruh segi kehidupan. Buktinya ketika dia lapar, dia tetap berusaha untuk mencari makan. Bila dia mau konsisten dengan pemahaman di atas, maka ketika dia lapar, dia harus diam, bukankah kenyang dan lapar juga sudah Allah takdirkan?

 

Sederhanannya adalah takdir itu mutlak urusan Allah, dan urusan kita sebagai manusia adalah untuk beribadah. Jadi mari sibukan diri dengan ibadah, dengan usaha. Bukan menyibukan diri dengan urusan yang kita tidak tahu ilmu tentangnya.

 

Bila pemahaman kita tentang takdir sudah bisa sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam inginkan sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama rabbani, maka insyaallah kita akan bisa menerima semua yang terjadi dengan lapang dada.

 

Setelah itu apa?

Tentunya setelah itu kita akan mampu memiliki sikap qanaa’ah, biidznillah.

 

Qanaa’ah itu di awal

Karena kuncinya ada dalam hati. Semuanya tentang apa yang hati kita rasakan di awal. Sebagaimana sabar itu dikatakan sabar bila di awal musibah seseorang itu langsung bisa menahan emosinya, maka begitu juga dengan qanaa’ah.

 

Apapun yang kita dapatkan, sesuai atau tidak sesuai dengan cita-cita dan/atau kualitas dan kuantitas usaha kita, maka idealnya kita harus bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Karena semua yang terjadi adalah yang terbaik dari dzat yang Mahasempurna.

 

Di dalam hal ini kita harus bisa peka, kita harus segera melihat apa respon hati di setiap keadaan yang kita alami.

Apakah rasa syukur yang terlintas atau keluhan yang terasa deras?

Allahul Musta’an.

 

Bab qanaa’ah ini akan terlihat jelas Ketika kita dihadapkan pada sebuah hasil yang tidak sesuai harapan dan cita-cita. Terlebih lagi di dalam prosesnya kita merasa sudah mencurahkan segala yang terbaik. Semua sumberdaya sudah kita kerahkan, tapi bila kemudian yang kita dapatkan di luar perkiraan, maka di sanalah letak ujian qanaa’ah.

 

Semoga Allah ta’ala beri kita semua taufik dan hidayah-Nya untuk bisa menggapai hati yang qanaa’ah. Aamiin.

Wallahu’alam.

 

Selesai ditulis pada hari Senin tanggal 8 Syaban 1442 H yang bertepatan dengan tanggal 22 Maret 2021 Masehi di meja kerja, pukul 14.13 WIB

Jumat, 19 Maret 2021

Kita dan Raja Dunia itu Sama

Tulisan ini mulai ditulis pada hari Jumat tanggal 5 Syaban 1442 H yang bertepatan dengan tanggal 19 Maret 2021 Masehi, pukul 14.36 WIB.

 

Dari Abū Hurairah, ia berkata, Rasūlullāh, shallallahu alaihi wa sallam, bersabda (yang artinya),

“Lihatlah kepada yang di bawah kalian dan janganlah kalian melihat yang di atas kalian, sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian.”

(HR Muslim No. 2963)

 

Ustaz Firanda Andirja, hafizahullah, di dalam tulisannya (https://firanda.com/1760-penjelasan-hadits-adab-akhlaq-bulughul-maram-4-pandanglah-orang-yang-di-bawahmu-dalam-masalah-dunia.html), menjelaskan makna hadits di atas dengan sebuah paragraf yang indah,

hadits ini mengajarkan kepada kita agar dalam masalah dunia hendaknya kita melihat ke bawah. Bagaimanapun kekurangan yang ada pada diri kita dalam masalah dunia, pasti masih ada orang lain yang lebih parah daripada kita. Lihatlah kita sekarang dalam keadaan sehat, alhamdulillāh. Kalau kita melihat ke bawah, betapa banyak orang yang sakit, banyak orang yang terkapar di tempat tidur tidak bisa bergerak karena sakit. Kemudian juga, betapa banyak orang yang cacat yang lebih parah dari kita. Bahkan jika kita sedang sakit pun, masih ada yang lebih parah sakitnya daripada kita. Senantiasa pasti ada yang lebih menderita daripada apa yang kita rasakan. Kalau kita selalu melihat ke bawah dalam masalah kesehatan saja, maka kita akan senantiasa bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla atas nikmat sehat yang diberikan kepada kita.

***

 

Islam, sependek pemahaman yang kami miliki saat ini, mengajak umatnya untuk mampu bersikap qanaa’ah.

Apa itu qana’ah?

 

Ustaz Abdullah Taslim, hafizahullah, (https://muslim.or.id/6090-keutamaan-sifat-qonaah.html) menjelaskan bahwa qanaa’ah adalah merasa ridha dan cukup dengan pembagian rizki yang Allah ta’ala berikan. Adapun Ustaz Muhammad Abduh Tuasikal, hafizahullah, menyebutkan bahwa qanaa’ah berarti ridho dengan ketetapan Allah ta’ala dan berserah diri pada keputusan-Nya, yaitu segala yang dari Allah itulah yang terbaik. (https://rumaysho.com/3393-meraih-sifat-qana-ah.html)

 

Mungkin kita akan terus mendapatkan berbagai macam arti/definisi qanaa’ah seiring dengan semakin banyaknya referensi yang kita baca. Tapi berdasarkan dua definisi di atas, maka sudah dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pada hakikatnya qanaa’ah adalah sebuah amalan hati, tidak nampak secara zahir. Qanaa’ah itu berpangkal pada pola pikir seseorang, tidak bisa sekadar diucapkan atau pura-pura dalam perbuatan.

 

Qanaa’ah adalah harta terbesar untuk bisa menjalani kehidupan ini dengan tenang dan nyaman. Cermin dari bersihnya hati dan pikiran. Wallahu’alam, bahkan menurut kami pribadi, sifat qanaa’ah adalah buah dari aqidah yang benar. Karena tanpa keyakinan yang benar terhadap takdir, maka rasa-rasanya kita akan sulit untuk bersikap qanaa’ah.

 

Apalagi di zaman ini, dengan arus informasi yang begitu pesat silih berganti. Kita dengan angkuhnya mudah untuk menjadi hakim. Melakukan penilaian sana-sini. Berkata seenaknya bahwa si fulan tak pantas jadi ini atau hal-hal yang semisal dengannya. Allahul Musta’an.

 

Qanaa’ah, bukti bahwa kita meyakini bahwa Allah adalah Al-Hakim

Bahkan Imam As-Syafii, rahimahullah, berkata (https://salamdakwah.com/forum/299-miskin-tapi-kaya):

Jika engkau memiliki hati yang selalu qanaa'ah,

maka sesungguhnya engkau sama seperti raja dunia

 

Sebuah permisalan sederhana pernah disebutkan oleh Ustaz Ammi Nur Baits, hafizahullah, dalam salah satu ceramahnya (https://www.youtube.com/watch?v=5cZfDm2xcsM&t=2475s) , coba bayangkan apabila kita memiliki dua orang anak dan kedua anak itu kita berikan masing-masing satu buah es krim yang berbeda rasanya. Lalu kemudian tiba-tiba salah satu anak kita membuang es krimnya dan merebut es krim yang berada di anak kita yang lain. Tentu kita sebagai orang tua akan merasa marah atau minimalnya merasa kecewa.

 

Maka bagi Allah permisalan yang lebih besar dan indah, Allah ta’ala dzat yang Mahasempurna, Al-Hakim, maka sudah tentu apa yang terjadi dan apa yang kita miliki, itulah yang terbaik untuk kita.

 

Walaupun mungkin secara dzat lahiriahnya, yang kita terima atau yang kita dapatkan itu nampak buruk tapi yakinlah bahwa di balik itu semua ada hikmah yang indah, baik kita ketahui maupun tidak kita ketahui.

 

Apa mungkin sesuatu yang buruk bisa dimaknai atau memiliki hikmah yang baik?

Tentu bisa!

 

Kita bisa menerima dengan baik ketika dokter memerintahkan untuk melakukan amputasi bagian tubuh karena di balik proses “pemotongan” tersebut akan ada manfaat yang besar. Maka pantaskah kita ragu kepada Allah, rabbul alamin?

 

Apakah kita telah qanaa’ah?

Tapi, jujur, qanaa’ah bukan sebuah hal yang mudah untuk dilakukan, terlebih untuk kami yang fakir ini. Seperti yang kami sebutkan di awal bahwa qanaa’ah itu tentang pola pikir bukan tentang apa yang diucapkan atau dilakukan. Maka butuh perjuangan keras bagi kami untuk bisa mewujudkan qanaa’ah dalam hati.

 

Kami yang sudah lebih dari 20 tahun “terdoktrin” dengan pola pikir “dunia”. Diajarkan untuk berusaha keras agar mendapat proses yang sesuai cita-cita. Semua dicurahkan untuk bisa mendapatkan sesuatu yang terlihat jelas oleh mata.

 

Maka kini Ketika kami mencoba membanting stir untuk menerapkan pola pikir akhirat, yaitu mengutamakan segala sesuatunya untuk sesuatu hal yang ghaib. Hal itu jelas butuh perjuangan yang berat.

 

Beramal!

Karena sudah menjadi tabiat manusia, terlebih lagi hal itu telah terpupuk sejak dini, bahwa diri ini ingin selalu mendapat pujian, menghindari cacian, ingin mendapat apresiasi sesuai dengan proses yang dilakukan, dan, dan, dan masih banyak lagi lainnya.

 

Subhanallah, betapa Islam itu adalah agama yang mudah dan sederhana. Kami saja yang kurang ilmu agama, sehingga seringnya bersikap berlebihan menyikapi segala dinamika kehidupan.

 

Kami, sebagai manusia, hanya harus fokus untuk beribadah. Maka apapun fasilitas dunia yang kami dapatkan, kaya/miskin atau jadi pejabat/rakyat, maka itu tidak akan bernilai apapun selama tidak digunakan untuk beribadah pada Allah ta’ala.

 

Kita hanya harus maksimal dalam beramal sebagai perwujudan ibadah kepada-Nya, karena itulah yang akan memberikan manfaat disisi-Nya. Adapun fasilitas dunia maka itu hanyalah sarana, sehingga jangan dijadikan tujuan.

Ah, betapa sangat indahnya.

 

Semoga Allah beri kita semua taufik dan hidayah-Nya untuk bisa senantiasa menjadikan akhirat sebagai tujuan dan menggunakan dunia sebagai jalan untuk terus menggapai ridha-Nya.

Wallahu’alam.

 

Selesai ditulis pada hari Jumat tanggal 5 Syaban 1442 H yang bertepatan dengan tanggal 19 Maret 2021 Masehi di meja kerja, pukul 16.13 WIB

Manajemen Talenta dalam Ringkasan

Ringkasan ini mulai ditulis pada hari Sabtu tanggal 16 Jumadil Akhir 1442 H yang bertepatan dengan tanggal 30 Januari 2021 Masehi, pukul 06.30 WIB.

 

Apa itu sistem merit?

Sistem merit dapat dipahami secara sederhana sebagai sebuah kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja masing-masing Pegawai ASN. (Pasal 1 angka 7 Permenpan 40/2018)

 

Sebagai sebuah kebijakan maka sistem merit harus diterapkan dalam seluruh aspek manajemen SDM, dari mulai (1) perencanaan kebutuhan, (2) pengadaan, (3) pengembangan karier, (4) promosi dan mutasi, (5) manajemen kinerja, (6) penggajian, penghargaan, dan disiplin, (7) perlindungan dan pelayanan, serta (8) sistem informasi. (Pasal 6 ayat 2 Permenpan 40/2018)

 

Di dalam tulisan ini, kami akan mencoba untuk langsung fokus membahas tentang aspek pengembangan karier. Di dalam aspek pengembangan karier terdapat sub-aspek manajemen talenta dan rencana suksesi. (Pasal 11 ayat (1) Permenpan 440/2018)

 

Hal yang menarik adalah sering kali sistem merit dalam aspek pengembangan karier langsung dikaitkan secara penuh pada pembicaraan pembentukan manajemen talenta. Ternyata, selain manajemen talenta, aspek pengembangan karier terdiri dari beberapa sub-aspek, yaitu: (1) standardisasi jabatan, (2) penetapan standar kompetensi jabatan, (3) penyusunan profil kompetensi ASN, dan (4) penyusunan rencana kompetensi. (Pasal 11 ayat (1) Permenpan 40/2018)

 

Manajemen talenta dan rencana suksesi sebagai salah satu sub-aspek pada pengembangan karier harus dilakukan melalui tahapan pemetaan talenta. Selanjutnya berdasarkan hasil pemetaan talenta tersebut, masing-masing pegawai dimasukan ke dalam kelompok rencana suksesi (talent pool). (Pasal 11 ayat 6 Permenpan 40/2018)

 

Di dalam penerapan manajemen talenta ada beberapa istilah yang harus terlebih dahulu dipahami, yaitu:

1) talenta adalah Pegawai ASN yang masuk ke dalam kelompok rencana suksesi/talent pool,

2) kelompok rencana suksesi/talent pool adalah kelompok talenta yang ada pada kotak SEMBILAN, kotak DELAPAN, dan kotak TUJUH yang disiapkan untuk menduduki jabatan target,

3) rencana suksesi adalah perencanaan sistematis melalui pemetaan suksesor yang diproyeksikan dalam jabatan target,

4) Kotak Manajemen Talenta adalah bagan yang terdiri dari sembilan kategori yang menunjukan potensi dan kinerja Pegawai ASN,

5) jabatan kritikal bermakna JPT, JA, dan JAFUNG yang diperlukan dalam mencapai tujuan organisasi dan prioritas pembangunan nasional,

6) jabatan target yaitu JPT, JA setingkat lebih tinggi yang sedang/akan lowong atau jabatan kritikal yang akan diisi oleh Talenta,

(Pasal 1 Permenpan 3/2020)

 

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat diketahui bahwa Manajemen talenta adalah sistem manajemen karier yang prosesnya dilakukan melalui sebuah mekanisme pemetaan talenta. Pemetaan talenta itu dilakukan kepada seluruh Pegawai ASN di satu Instansi.

Hasil pemetaan talenta itu kemudian dimasukan ke dalam Kotak Manajemen Talenta yang terdiri dari Sembilan bagan. Pegawai ASN yang masuk ke dalam kotak SEMBILAN, kotak DELAPAN, dan kotak TUJUH disebut sebagai Talenta dan merupakan bagian dari kelompok rencana suksesi/talent pool. Talenta di dalam kelompok rencana suksesi itu selanjutnya akan memiliki masing-masing rencana suksesi untuk menduduki jabatan target.

 

Hal di atas merupakan gambaran alur manajemen talenta secara ringkas. Akan tetapi bila mengacu pada Permenpan 3/2020, maka Manajemen talenta, terdiri dari tahapan:

 

1) akuisisi talenta,

a) identifikasi dan penetapan jabatan kritikal

b) analis kebutuhan talenta;

c) penetapan strategi akuisisi

d) identifikasi, penilaian dan pemetaan talenta

e) penetapan kelompok rencana suksesi

f) pencarian talenta melalui mekanisme mutasi/rotasi dan rencana penempatan talenta melalui mekanisme penugasan

 

2) pengembangan talenta;

a) akselerasi karier, melalui sekolah kader

b) pengembangan kompetensi, melalui ASN Corporate University, pembelajaran di dalam dan luar kantor, dan bentuk lainnya.

c) Peningkatan kualifikasi, melalui tugas belajar

 

3) retensi talenta (mempertahan posisi talenta dalam talent pool);

a) rencana suksesi, urutan penempatan, proyeksi penempatan (posisi dan waktu)

b) rotasi jabatan

c) pengayaan jabatan

d) perluasan jabatan

e) penghargaan

 

4) penempatan talenta;

a) Talenta dalam kotak Sembilan langsung ditempatkan pada jabatan target

 

5) pemantauan dan evaluasi

a) pemantauan dilakukan pada tahap pengembangan, retensi dan penempatan

b) yang telah ditetapkan pada jabatan kritikal dilakukan monev selama tiga tahun baru bisa dilakukan penempatan kembali dalam jabatan.

 

Pada proses pembentukan manajemen talenta maka diperlukan beberapa infrastruktur yang akan mendukung proses tersebut, yaitu:

1) peta jabatan dan jabatan kritikal;

2) profil talenta;

3) assesment center;

4) standar kompetensi jabatan;

5) standar penilaian kinerja riil;

6) pola karier;

7) tim manajemen talenta ASN nasional;

8) program pengembangan talenta;

9) panitia seleksi;

10) basis data SDM;

11) sistem informasi manajemen talenta;dan

12) anggaran

 

Lalu apa yang harus dan bisa kita lakukan dalam konteks pembentukan Manajemen Talenta di Kementerian Dalam Negeri?

Walhamdulillah, Kementerian Dalam Negeri telah mempunyai Assesment Center dan melalui program dari Bagian Pengembangan Karier Biro Kepegawaian telah melakukan proses assessment ke hampir semua Pegawai ASN di lingkungan Kementerian Dalam Negeri.

 

Hal itu menurut kami merupakan modal besar untuk bisa melakukan proses ke tahapan selanjutnya dalam usaha membentuk Manajemen Talenta Kementerian Dalam Negeri. Mungkin di tahapan awal ini, kita tidak akan bisa langsung untuk membentuk sebuah konsep Manajemen Talenta yang ideal atau sempurna seperti Instansi lain, semisal Kementerian Keuangan.

 

Dan rasa-rasanya pada tahap awal, pemikiran realistis lebih bijak untuk dikedepankan daripada pemikiran idealis nan sempurna. Karena di tahapan awal ini kita butuh lebih banyak aksi nyata dan aksi nyata lebih mampu terlaksana dengan ide-ide realistis tapi penuh dengan argumen yang kokoh dan terbuka dengan segala masukan yang membangun.

 

Maka, mengacu pada ketentuan Permenpan 3/2020, Kementerian Dalam Negeri telah mempunyai basis data pemetaan talenta (berdasarkan kualifikasi, kompetensi dan kinerja) sehingga untuk keperluan pilot project, basis data hasil uji kompetensi yang telah dilaksanakan bisa dijadikan rujukan awal untuk proses pemetaan telanta. Data tersebut kemudian diolah dan dimasukan ke dalam kotak manajemen talenta yang terdiri dari Sembilan bagan.

Wallahu’alam.

 

Selesai ditulis pada hari Sabtu tanggal 16 Jumadil Akhir 1442 H yang bertepatan dengan tanggal 30 Januari 2021 Masehi di Permata Bogor Residence (Desa Cilebut Barat, Kec. Sukaraja, Kab. Bogor), pukul 07.45 WIB

Selasa, 09 Maret 2021

Tentang Aku, Kau dan Dia

Ketika kau datang menyapa,
sesaat kemudian sesak langsung terasa di dada.
 
Tapi sisi lain ruang hati, justru menyambut kau dengan bahagia.
 
Kau hadir, seakan menjadi alasan bagi jiwa
untuk sejenak melepas dahaga.
Meneguk segelas dosa.
 
Lalu tak lama, dia hadir melengkapi.
Seperti sebuah ilmu pasti.
Diawali hadirnya kamu disini,
dia juga segera menghampiri.
 
Ah, padahal dia datang karena aku kurang berilmu agama
bukan karena kamu yang terlebih dahulu menyapa.
tapi kadang, hadirnya kamu, menjadi sebuah alasan logika.
untuk selanjutnya, aku terus bersama dia, 
walau itu tercela.

Karena kau dan dia hadir, untuk aku lawan.
Karena kau dan dia hadir, untuk sebuah ujian.
Karena inilah hakikat kehidupan, iya 'kan?
 
Ketika kau datang menyapa,
dunia terlihat semakin menggoda.
 
Dekapannya hangat terasa
ingin rasanya terus bersama
tenggelam dalam pelukan, aduhai nikmatnya.
 
Hati mulai banyak berkata "seandainya"
membuat jiwa terbuai lamunan karenanya,
terus terlena,
dan setan pun tertawa.
 
Padahal 'kan ini jelas ujian
yang harusnya aku lawan
karena inilah kehidupan,
 
Menjauhlah kau wahai futur yang menyerang jiwa!
Jangan pula kau coba ajak dia sang dosa mendekat
 
Semoga Allah ta'ala,
selalu beri kita taufik dan hidayah-Nya,
hingga kita bisa terus istiqomah di Jalan-Nya.