Langsung ke konten utama

Cerdas Emosi, Sehat Berkolaborasi

Sabtu, 6 Jumadilawal 1448 H / 17 Oktober 2026 

09.55 WIB




Bismillah wassalatu wassalamu 'ala Rasulillah

Ketika bekerja dalam kelompok, salah satu konsekuensi yang harus dihadapi adalah kemampuan melapangkan hati saat berinteraksi. Hal ini karena orang yang terlahir kembar identik sekalipun tidak akan pernah memiliki karakter yang 100% sama.

Apakah kita harus bekerja secara kelompok? Jawabannya, tidak harus. Jika kita merasa mampu mencapai tujuan dengan kemampuan sendiri, tidak ada paksaan untuk bekerja dalam kelompok.

Namun, pada kenyataannya, hal tersebut sangat jarang ditemui. Makin besar tujuan yang ingin dicapai, makin banyak kemampuan spesifik yang dibutuhkan. Pada momen itulah kita harus bekerja secara kelompok.

Bekerja secara kelompok tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual setiap individunya. Kita, selaku individu di dalamnya, juga harus mampu mengasah kecerdasan emosional.

Apa itu kecerdasan emosional? Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri sendiri dengan tepat, serta memahami dan merespons emosi orang lain.

Daniel Goleman membagi kecerdasan emosional ke dalam empat unsur, yaitu kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, dan pengelolaan hubungan. Dalam konteks bekerja secara kelompok, baik dalam sebuah organisasi formal maupun nonformal, setiap individu di dalam kelompok tersebut harus memiliki kesadaran sosial yang baik. Kesadaran sosial adalah kemampuan menangkap suasana hati orang lain, membaca dinamika kelompok, dan merespons secara tepat tanpa harus diberi tahu secara eksplisit. (Kompas, 17/18 Oktober 2026)

Walhamdulillah, Islam melalui lisan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga telah mengajarkan perihal ini sejak 1.400-an tahun yang lalu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian bertiga, janganlah berbisik-bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak, kecuali sampai kalian bersama dengan manusia lainnya (orang banyak), karena hal ini dapat membuat orang ketiga tersebut bersedih (tersinggung).” (H.R. Bukhari dan Muslim) https://muslim.or.id/100497-tuntunan-islam-dalam-menjaga-perasaan.html

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda, “Jika seseorang mengabarkan kepada orang lain suatu kabar, kemudian ia berpaling dari orang yang dikabari tersebut, kabar itu adalah amanah (atas orang yang dikabari).” (H.R. At-Tirmidzi [1959] dan Abu Dawud [4868]. Hadis ini dihasankan oleh Syekh al-Albani dalam as-Shahihah [1090].) Makna "berpaling" adalah saat penyampai kabar menengok ke kanan dan ke kiri ketika hendak menyampaikan kabarnya karena khawatir ada yang mendengar. https://firanda.com/ketika-sahabat-kita-membeberkan-rahasia-kita/

Kedua hadis di atas menunjukkan bahwa Islam sangat mengajarkan kecerdasan emosional, khususnya kesadaran sosial, yaitu kemampuan kita menangkap suasana hati orang lain, membaca dinamika kelompok, dan merespons secara tepat tanpa harus diberi tahu secara eksplisit.

Lalu, apakah kita harus berpura-pura menjadi orang lain saat bekerja secara kelompok?

Well, terkadang sebagian orang menggunakan dalih "tidak ingin menjadi munafik" atau "ingin tampil apa adanya" sebagai pembenaran untuk bersikap tidak simpati, tidak empati, dan tidak bertenggang rasa saat bekerja dalam kelompok. Ia “memaksa” orang lain untuk memahaminya, tetapi enggan berusaha memahami orang lain.

Menurut hemat kami, sependek pengalaman bekerja dalam organisasi formal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar kita bisa memiliki kesadaran sosial tanpa melepaskan identitas diri, yaitu:

  1. Tentukan tujuan hidup Lebih dari sekadar menentukan tujuan bekerja secara kelompok, kita juga harus “selesai” dalam menjawab pertanyaan, “Untuk apa kita hidup di dunia ini?”. Tanpa kejelasan tujuan utama dalam hidup, kita akan gamang dalam menentukan tujuan bekerja, dan besar kemungkinan kesadaran sosial yang kita bangun hanya bersifat transaksional.

  2. Membagi peran Pada akhirnya, kita memang harus memiliki banyak peran dalam artian harus bisa menempatkan diri. Saat bersama istri, jadilah suami yang baik. Saat bersama anak, jadilah ayah yang penyayang. Saat menghadapi lawan, jadilah seseorang yang kuat dan tangguh. Begitu pula seterusnya.

  3. Lihat output-nya: apakah kita makin terkoneksi dengan baik dan sehat bersama orang lain, atau justru menilai diri sendiri melalui sudut pandang orang lain? Di sinilah penentunya. Setelah menentukan tujuan hidup dan mampu menempatkan diri sesuai peran yang dibutuhkan di setiap situasi dan kondisi, kita harus melakukan refleksi. Sempatkanlah berintrospeksi diri mengenai hasil yang didapatkan: apakah kita membangun koneksi yang baik dan sehat dengan rekan kerja, atau kita justru sangat bergantung pada penilaian orang lain terhadap diri kita? Kedua hal ini mungkin terlihat sama, tetapi sebenarnya sangat berbeda. Ketika menggantungkan penilaian diri pada pikiran orang lain terhadap kita, kita akan tersandera dan menjadi seorang people pleaser. Sebaliknya, ketika fokus kita adalah membangun koneksi yang baik dan sehat, kita tidak akan terjebak pada sekadar penilaian orang lain, melainkan melihat keberlanjutannya dalam konteks pencapaian tujuan organisasi.

Sebagai penutup, sudah menjadi keniscayaan bagi kita untuk mampu menundukkan ego dan berusaha memahami kondisi orang lain demi tujuan bersama yang telah disepakati. Sekali lagi, kita sedang berbicara dalam konteks bekerja kelompok, bukan individu. Oleh karena itu, tujuan organisasi atau kelompok harus menjadi penengah dan kompas yang kita pedomani. Jika tidak ingin menempuh jalan ini, janganlah bergabung ke dalam sebuah kelompok.

Wallahu a'lam. 
Selesai ditulis pada hari Jumat, 12 Jumadilawal 1448 H yang bertepatan dengan tanggal 23 Oktober 2026 pukul 10.24 WIB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

D-IV atau S1 ?

Suatu malam pada hari Sabtu , tanggal 14, bulan Januari , tahun 2012, berlatar tempatkan teras masjid Al-Ilmi IPDN Kampus Kalimantan Barat, terjadi satu percakapan ringan sangat sederhana tapi kemudian mampu untuk membuat otak ini menjadi rumit karena terus memikirkan substansi dari apa yang diperbincangkan itu, terlalu rumit sehingga saya pikir perlu untuk dituangkan dalam sebuah narasi penuh kata, tidak berpetuah dan tidak juga indah. Tapi cukup-lah untuk sekedar berbagi ide dan informasi yang pastinya tidak sesat. Dan ini-lah percakapan singkat itu : HP ( inisial teman saya ) : “Dim, kamu lebih milih mana, S.IP atau S.STP ?” Saya : “mmm….pengennya sih S.IP” HP : “Kenapa, Dim? Kata orang kan kalo S.STP tuh lebih baik buat karir dan kata orang juga S.IP tuh lebih condong buat jadi dosen.” Saya : “Wah gak tau sih kalo masalah yang kayak gitunya, tapi saya ingin S.IP karena yang saya tau S.IP itu lebih mudah untuk nantinya kita mau nerusin ke S2, nah kalo S.STP itu gak semua unive...

Sekilas tentang PP 11/2017

Rabu, 22 Rajab 1438 H / 19 April 2017 19.00 WIB Pasal 134 Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) menyebutkan bahwa Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang ini (UU ASN) harus ditetapkan paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan. Berdasarkan ketentuan diatas, peraturan pemerintah sebagai bentuk dari peraturan pelaksana berkenaan dengan UU ASN harus ada selambat-lambatnya tanggal 15 bulan Januari tahun 2016. Karena UU ASN disahkan serta diundangkan pada tanggal 15 Januari 2014. Akan tetapi kenyataan yang ada adalah peraturan pelaksana itu baru muncul ke permukaan di tahun 2017, tepatnya pada tanggal 7 bulan April tahun 2017. Kurang lebih 1 (satu) tahun 3 (tiga) bulan lebih lama dari waktu yang telah ditetapkan. Ya, Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (PP 11/2017) telah resmi disahkan pada tanggal 30 Maret 2017 dan kemudian diundangkan pada tanggal 7 April 2017. Dengan...

Iri bercita rasa positif

Pada hari Jumat, tanggal 11, bulan Januari, tahun 2013, pada khutbah Jumat hari itu, disampaikan beberapa wasiat, disampaikan sebuah pesan yang menurut saya sungguh sangat bermakna, sungguh sangat berguna bagi kehidupan Muslim pada khususnya dan Manusia lain pada umumnya dan bukankah setiap pesan agama itu akan selalu bermakna?   Sidang Jumat pada hari itu bertemakan Tujuh Wasiat Rasulullah. Bahwasanya dalam hadits Qudsi dikemukakan tujuh sikap hidup yang hendaknya tercermin dalam perilaku seorang Muslim, baik sebagai individu ataupun sebagai anggota masyarakat.  Ketujuh sikap itu adalah :  1. Mencintai fakir miskin dan selalu mendekati mereka;  2. selalu melihat kepada orang-orang yang ada di bawah, dan tidak selalu melihat yang ada di atas;  3. menyambung kekeluargaan, sekalipun tidak menyukainya;  4. tidak bertanya hal-hal yang tidak layak ditanyakan tentang seseorang;  5. menyampaikan yang haq walaupun terasa pahit;  6....