Selasa, 23 Jumadilawal 1448 H / 3 November 2026
Pukul 09.07 WIB
Bismillah wassalatu wassalamu 'ala Rasulillah
Dikisahkan di salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat, terdapat lulusan APDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) Bandung Angkatan 18 yang menduduki jabatan struktural eselon II.a, eselon II.b, eselon III.a, eselon III.b, eselon IV.a, dan eselon IV.b. Ringkasnya, pada semua jenjang jabatan struktural terdapat perwakilan dari lulusan APDN Bandung Angkatan 18.
Akan tetapi, terdapat satu orang lulusan APDN Bandung Angkatan 18 yang pada momen itu masih menduduki jabatan pelaksana. Kondisinya lantas menjadi makin menarik karena di unit kerjanya, pejabat eselon III.a merupakan lulusan STPDN Angkatan 02, sedangkan pejabat eselon IV.a merupakan lulusan IPDN Angkatan 13.
Lulusan APDN Angkatan 18 tersebut tidak lantas aji mumpung memanfaatkan kondisi atasan langsungnya yang merupakan seorang junior untuk berleha-leha dan sekadar makan gaji buta. Beliau tetap bekerja secara profesional layaknya seorang pelaksana. Bahkan, beliau bersikukuh menjadi sopir ketika melakukan perjalanan dinas bersama atasan yang notabene adalah juniornya tersebut.
Pada satu kesempatan, beliau pernah “dipaksa” untuk dilantik dan menduduki jabatan struktural, tetapi beliau konsisten menolaknya. Jika uang menjadi ukuran, beliau memang tidak mendapatkannya. Namun, pada satu kesempatan beliau pernah berujar bahwa misalnya eselon III.a mendapatkan Rp500.000,00 dan eselon IV.a mendapatkan Rp300.000,00, sementara beliau selaku pelaksana hanya mendapatkan Rp100.000,00, uang Rp100.000,00 miliknya akan utuh dibawa pulang. Adapun uang Rp500.000,00 milik eselon III.a dan Rp300.000,00 milik eselon IV.a tidak mungkin utuh dibawa pulang ke rumah. Sebab, sebagai seorang pimpinan, mereka harus menyambut tamu, berkunjung ke sana kemari, dan melakukan berbagai penugasan lain yang tidak mungkin “gratis”.
Pada akhirnya, beliau berhasil dibujuk dan dilantik pada jabatan struktural, tetapi hanya di tingkat eselon IV.b. Setahun kemudian, beliau akhirnya pensiun sebagai seorang PNS.
Cerita di atas bukanlah sebuah fiksi, melainkan nyata terjadi. Kami yakin bahwa kasus dengan jalan cerita senada banyak terjadi di mayoritas birokrasi Indonesia. Dari kisah tersebut, banyak faedah yang dapat dipetik dan akan coba kami sajikan dalam sebuah refleksi perjalanan awal kami di instansi yang baru.
Walhamdulillah, per 1 Oktober 2026, kami secara resmi berpindah instansi. Kami meninggalkan jejak 12 tahun karier untuk melakukan reset dan memulai segalanya dari nol. Ya, salah satu konsekuensi dari mutasi ini adalah kami harus kembali memulai segala sesuatunya dari awal.
Dari sisi karier, hal itu jelas sebuah kerugian. Namun, dari segi pendewasaan diri, ini adalah kesempatan besar bagi kami untuk mengasah kecerdasan emosional. Kami dapat menguji secara nyata ideologi yang selama ini diyakini, yaitu keimanan pada takdir Ilahi dan kelurusan niat di dalam hati bahwa kami bekerja untuk mengejar pahala, bukan pujian dari sesama.
Kedua hal tersebut benar-benar akan teruji sekaligus terlihat pembuktiannya: apakah kami hanya mampu sekadar beretorika atau dapat mengimplementasikannya secara nyata. Sebab, saat ini mayoritas teman satu angkatan dan bahkan junior kami dalam dunia pendidikan, walhamdulillah, telah memiliki karier yang cemerlang. Mereka telah mengukir tinta emas sehingga namanya harum dikenal luas.
Adapun kami, hadir tanpa nama dan bukan siapa-siapa. Pada satu bulan pertama ini, kami benar-benar harus beradaptasi. Hal yang paling utama, kami harus tahu diri dan bertindak sesuai dengan porsinya.
Sekali lagi, bagi kami ini adalah kesempatan untuk pendewasaan, sebuah pembuktian untuk naik kelas secara personal. Walhamdulillah, kini kami memang tidak lagi terlalu berambisi. Kami ingin bersikap selayaknya para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di medan perang, yang membuat lawan gentar karena berhadapan dengan prajurit yang justru mengincar kematian.
Oleh karena itu, dalam konteks dunia kerja, kami adalah prajurit yang tidak memiliki tendensi jabatan, sehingga siap berjuang sesuai dengan arahan komando pimpinan tanpa hasrat melakukan kudeta.
Ya, hal ini mungkin terdengar tidak logis dan naif dalam konteks kekinian, tetapi setidaknya inilah yang kami yakini saat ini. Semua ini hanyalah barisan kata-kata, dan baru akan terdengar nyaring seiring dengan sikap serta perilaku yang kami tunjukkan.
Konsistensi adalah kunci. Jika hanya dinilai dari satu bulan pertama, mayoritas orang akan menganggapnya wajar karena status kami sebagai "murid baru". Namun, ketika sikap ini konsisten kami tunjukkan setiap harinya, lambat laun orang-orang akan memahaminya sendiri. Kami tidak bekerja untuk mendapatkan pujian, dan kami juga tidak harus melakukan konferensi pers. Kami hanya fokus bekerja secara baik dan benar, serta tidak berbuat zalim kepada sesama.
Semoga Allah memudahkannya.
Wallahu'allam, selesai ditulis pada hari Selasa, 23 Jumadilawal 1448 H yang bertepatan dengan tanggal 3 November 2026 pukul 10.04 WIB.

Komentar
Posting Komentar