Langsung ke konten utama

Lembutkan Hatimu dengan Ilmu

Ahad, 14 Dzulhijah 1447 H / 31 Mei 2026 M

11.30 WIB

 

Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah




 

Buku Lembutkan Hatimu dengan Ilmu karya Ustaz Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi, semoga Allah ta’ala senantiasa memberkahi dan menjaga beliau dalam kebaikan, merupakan salah satu jenis buku yang bisa kita selesaikan dalam sekali duduk.

 

Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’i, dengan cetakan pertama pada Jumadal Ula 1447 H/November 2025 M, memiliki jumlah halaman sebanyak 106 lembar. Buku tersebut terdiri dari sepuluh bab/bagian.

 

Sebagaimana judulnya, Lembutkan Hatimu dengan Ilmu, buku ini membahas tentang bagaimana caranya agar kita bisa melembutkan hati dengan ilmu. Oleh karena itu, Ustaz Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi, semoga Allah ta’ala senantiasa memberkahi dan menjaga beliau dalam kebaikan, memulai pembahasan dengan terlebih dahulu menjelaskan tentang kenapa ilmu itu bisa melembutkan hati dan dimana kita bisa meraih ilmu itu (Majelis Ilmu yang Melembutkan Hati).

 

Pembahasan itu kemudian dilanjutkan dengan penyebutan nasihat agar kita bersemangat dalam menuntut ilmu (Anjuran Menunut Ilmu). Setelah kita tau bahwa ilmu itu bisa melembutkan dan kita telah termotivasi untuk senantiasa menuntut ilmu, Penulis lalu menjelaskan bahwa ilmu itu terdapat beberapa varian sehingga tidak semua ilmu bisa melembutkan hati (Macam-macam Ilmu).

 

Ilmu yang bisa melembutkan hati adalah ilmu yang bermanfaat dan Penulis melanjutkan pembahasannya dengan menyebutkan tentang tanda dari bermanfaatnya ilmu (Tanda Ilmu yang Bermanfaat).

 

Ilmu yang bermanfaat tidak mungkin bisa diraih begitu saja, harus ada tahapan yang dilalui. Oleh karena itu, Penulis menjelaskan tentang cara atau tips agar kitab isa meraih ilmu yang bermanfaat (Kiat-kiat Menggapai Ilmu yang Bermanfaat).

 

Setelah Penulis berpanjang lebar menjelaskan tentang ilmu yang bermanfaat, penulis kembali pada tema hati yang bersih sebagai perwujudan dari kelembutan hati (Indahnya Hati yang Bersih). Selanjutnya, Penulis melengkapi pembahasan hati yang bersih dengan cara agar kita bisa meraihnya, tentu ini merupakan manifestasi atau akibat dari ilmu bermanfaat yang telah kita upayakan (Kiat-kiat Meraih Kebeningan Hati).

 

Di akhir, Ustaz Yusuf Abu Ubaidah as-Sidawi, semoga Allah ta’ala senantiasa memberkahi dan menjaga beliau dalam kebaikan, menutup buku ini dengan membawakan beberapa penyakit yang biasa menjangkit para penuntu ilmu secara umum (Penyakit-penyakit Penuntut Ilmu).

 

Ringkasan buku sebagaimana kami sebutkan di atas menunjukan bahwa buku ini “ringan” sehingga bisa untuk diselesaikan dalam “sekali duduk”. “Ringan” tentu tidak makna “receh”, justru yang penulis sampaikan merupakan nasihat kekinian yang sangat dibutuhkan oleh seluruh penuntut ilmu atau orang yang sedang menapaki jalan kebaikan sebagai seorang penuntu ilmu.

 

Bagi kami pribadi, kami sangat tertampar ketika membaca bagian Tanda Ilmu yang Bermanfaat pada poin menumbuhkan rasa takut kepada Allah ta’ala. Itu-lah indikator paling nyata untuk bisa melihat sejauh mana kebermanfaatan ilmu yang telah kita pelajari. Lalu hal itu berkorelasi kepada bentuk konkritnya yaitu pada dosa Ghibah.

 

Masyaallah, kami yang meng-klaim telah berhijrah sejah tahun 2017, bila harus melihat dari dua nasihat itu, kami sangat tertunduk lesu. Betapa belum masuk meresap rasa takut itu dalam hati, terutama ketika kami bersendirian. Begitu banyak dosa yang kami terabas, betapa sangat berbeda wajah yang kami tunjukan ketika sedang berada di keramaian. Allahul Musta’an.

 

Salah satu implikasi dari masih kurangnya rasa takut kami kepada Allah ta’ala, kami masih bermudah-mudah pada dosa ghibah. Dengan dalih bahwa itu adalah hal yang lumrah dilakukan di dunia kantor, maka kami selalu terlena dalam membicarakan aib orang lain. Semoga Allah ampuni kami dan permudah kami untuk bisa segera bertaubat dari dosa ghibah.

 

Pada akhirnya, buku “ringkas” seperti ini sangat dibutuhkan, terkhusus oleh kami, yang mengaku sudah berhijrah. Nasihat-nasihat ulama yang dielaborasi secara ringkas tapi mengena kepada inti permasalahan.

 

Wallahu’allam

Selesai ditulis pada hari Ahad tanggal 14 Dzulhijah 1447 H yang bertepatan dengan tanggal 31 Mei 2026 pada pukul 12.22 WIB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

D-IV atau S1 ?

Suatu malam pada hari Sabtu , tanggal 14, bulan Januari , tahun 2012, berlatar tempatkan teras masjid Al-Ilmi IPDN Kampus Kalimantan Barat, terjadi satu percakapan ringan sangat sederhana tapi kemudian mampu untuk membuat otak ini menjadi rumit karena terus memikirkan substansi dari apa yang diperbincangkan itu, terlalu rumit sehingga saya pikir perlu untuk dituangkan dalam sebuah narasi penuh kata, tidak berpetuah dan tidak juga indah. Tapi cukup-lah untuk sekedar berbagi ide dan informasi yang pastinya tidak sesat. Dan ini-lah percakapan singkat itu : HP ( inisial teman saya ) : “Dim, kamu lebih milih mana, S.IP atau S.STP ?” Saya : “mmm….pengennya sih S.IP” HP : “Kenapa, Dim? Kata orang kan kalo S.STP tuh lebih baik buat karir dan kata orang juga S.IP tuh lebih condong buat jadi dosen.” Saya : “Wah gak tau sih kalo masalah yang kayak gitunya, tapi saya ingin S.IP karena yang saya tau S.IP itu lebih mudah untuk nantinya kita mau nerusin ke S2, nah kalo S.STP itu gak semua unive...

Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Ketujuh)

AHAD, 10 MUHARAM 1447 H // 6 JULI 2025 12.41 WIB Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Pertama)  1. Membagi tugas. 2. Menjadi mentor. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Kedua)  3. Pengambilan Keputusan (Decision-making). Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Ketiga)  4. Tidak Terlalu Membutuhkan pada Bawahan. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Keempat)  5. Jujur. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Kelima)  6. Menciptakan dan/atau membangun sebuah iklim birokrasi/proses kerja sesuai dengan yang dia inginkan/ucapkan/janjikan. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Keenam)  7. Teladan Pimpinan dan Konsistensi Penerapan Aturan Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Ketujuh) 8. Regenerasi Di dalam sebuah organisasi yang baik harus memiliki pembagian tugas yang jelas sehingga masing-masing orang yang ada di dalam organisasi tersebut bisa melakukan identifikasi serta bertindak sesuai dengan tugas yang telah mereka miliki. ...

Ibnu Qayyim bicara Cinta

RABU, 8 RABI’UL AWWAL 1438 H / 7 DESEMBER 2016 09.20 WIB “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman : ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An-Nuur : 30-31) “Tidak ada fitnah yang lebih berbahaya sepeninggalku bagi seorang laki-laki selain dari (fitnah) wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)    ***   Adakah yang tidak mengetahui nama sekaliber Ibnu Qayyim Al Jauziyah? Ada? Ibnu Qayyim Al Jauziyah, mempunyai nama lengkap Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’ad bin Hariiz bin Maki Zainuddin az-Zura’I ad-Dimasyqi al-Hanbali. Dari beberapa sumber yang saya dapatkan dari internet, dikatakan bahwa nama Ibnu ...