Langsung ke konten utama

Lesson Learned dari Program MBG

Sabtu, 8 Syawwal 1447 H / 28 Maret 2026

09.16 WIB


Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah


Pada hari Jumat, 7 Syawwal 1447 H (27 Maret 2026), di sore hari menjelang waktu berakhirnya jam kerja. Kami melakukan obrolan ringan bersama Pak Guru, Dr. Sudrajat, seorang Widyaiswara Utama di kantor kami, Balai Besar Pengembangan Kompetensi Aparatur Pemerintahan Dalam Negeri II (dulu bernama PPSDM Regional Bandung).


Pak Guru menyebutkan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG), di luar kontroversinya, pro atau kontra dan segala dinamika yang menyertainya, menunjukan bahwa negara kita sangat mampu untuk menjalankan sebuah program dengan baik serta konsisten ketika serius dan maksimal dalam menjalankannya.


Sekali lagi, diskusi kami tidak sedang membahas baik atau buruknya program tersebut. Kami hanya sedang berdiskusi tentang kemampuan negara kita dalam mengeksekusi sebuah program. 


Bahkan menurut hemat kami, dalam perspektif manajemen perubahan organisasi, program MBG membuktikan bahwa ketika seorang pemimpin konsisten dengan program yang dicetuskannya, konsisten dalam setiap unsur dan tahapan implementasinya, yaitu perencanaan, penganggaran, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan, maka program tersebut akan mampu terlaksana.


Hal itu semakin menegaskan peran penting figur seorang pemimpin dalam konteks organisasi publik yang ada di Indonesia. Lebih dari sekadar sebuah sistem yang baik, pemerintahan Indonesia masih lebih membutuhkan figur pemimpin dalam menghadirkan sebuah perubahan ataupun pelaksanaan sebuah program.


Berdasarkan argumen tersebut, maka perubahan di pemerintahan Indonesia masih menggunakan pola top-down. Perubahan, di mayoritas unsur pemerintahan, belum bisa dilakukan secara bottom-up. Secara ide, ya bisa dilakukan bottom-up, tapi intinya ide itu harus bisa diterima dan dipahami oleh pimpinan untuk kemudian diturunkan menjadi sebuah ide dan gagasan top-down.


Well, itu-lah fakta yang kami tangkap sependek ilmu dan pengalaman yang kami miliki. Sehingga "PR" besar pemerintahan Indonesia saat ini adalah menghasilkan para pemimpin yang memiliki kompetensi, komitmen dan integritas dalam kebaikan. Sehingga mereka bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik setiap harinya.


Dan hal itu tidak mungkin bisa dihasilkan dari sebuah sistem yang tidak mengindahkan meritokrasi. Bila meritokrasi masih sebatas angan di siang bolong, maka sejauh itu pula organisasi pemerintahan yang ada di Indonesia tidak akan pernah bisa menggapai sebuah kemajuan yang hakiki. Semua hanya semu dan indah secara tampilan.


Wallahu'allam.

Selesai ditulis pada hari Sabtu, 8 Syawwal 1447 H bertepatan dengan tanggal 28 Maret 2026 pukul 17.06 WIB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Ketujuh)

AHAD, 10 MUHARAM 1447 H // 6 JULI 2025 12.41 WIB Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Pertama)  1. Membagi tugas. 2. Menjadi mentor. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Kedua)  3. Pengambilan Keputusan (Decision-making). Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Ketiga)  4. Tidak Terlalu Membutuhkan pada Bawahan. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Keempat)  5. Jujur. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Kelima)  6. Menciptakan dan/atau membangun sebuah iklim birokrasi/proses kerja sesuai dengan yang dia inginkan/ucapkan/janjikan. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Keenam)  7. Teladan Pimpinan dan Konsistensi Penerapan Aturan Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Ketujuh) 8. Regenerasi Di dalam sebuah organisasi yang baik harus memiliki pembagian tugas yang jelas sehingga masing-masing orang yang ada di dalam organisasi tersebut bisa melakukan identifikasi serta bertindak sesuai dengan tugas yang telah mereka miliki. ...

D-IV atau S1 ?

Suatu malam pada hari Sabtu , tanggal 14, bulan Januari , tahun 2012, berlatar tempatkan teras masjid Al-Ilmi IPDN Kampus Kalimantan Barat, terjadi satu percakapan ringan sangat sederhana tapi kemudian mampu untuk membuat otak ini menjadi rumit karena terus memikirkan substansi dari apa yang diperbincangkan itu, terlalu rumit sehingga saya pikir perlu untuk dituangkan dalam sebuah narasi penuh kata, tidak berpetuah dan tidak juga indah. Tapi cukup-lah untuk sekedar berbagi ide dan informasi yang pastinya tidak sesat. Dan ini-lah percakapan singkat itu : HP ( inisial teman saya ) : “Dim, kamu lebih milih mana, S.IP atau S.STP ?” Saya : “mmm….pengennya sih S.IP” HP : “Kenapa, Dim? Kata orang kan kalo S.STP tuh lebih baik buat karir dan kata orang juga S.IP tuh lebih condong buat jadi dosen.” Saya : “Wah gak tau sih kalo masalah yang kayak gitunya, tapi saya ingin S.IP karena yang saya tau S.IP itu lebih mudah untuk nantinya kita mau nerusin ke S2, nah kalo S.STP itu gak semua unive...

Ibadalana uliy ba’sin syadid

Selasa, 22 Juli 2014 22.00 WIB Saya akan menampilkan atau mem- posting tulisan dari Bapak Usep Romli , Pengasuh Pesantren Budaya "Raksa Sarakan" Garut. Tulisan ini merupakan tulisan di kolom Opini , harian Republika yang diterbitkan pada hari Selasa, 22 Juli 2014. Beliau menulis tentang (satu-satunya) cara untuk bisa mengalahkan zionis Israel. sehingga tulisannya pun diberi judul, Mengalahkan Zionis Israel . Berikut ini tulisannya saya tampilkan penuh tanpa ada sedikit pun saya kurangi atau tambahkan. "Mengalahkan Zionis Israel" Hari-hari ini, bangsa Palestina di Jalur Gaza sedang dibombardir pasukan Zionis-Israel. Nyaris tak ada perlawanan sama sekali, karena Palestina tak punya tentara. Hanya ada beberapa kelompok sipil bersenjata yang berusaha bertahan seadanya. Negara-negara Arab yang tergabung dalam Liga Arab tak berdaya. Begitu pula negara-negara berpenduduk mayoritas Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), tak da...