Langsung ke konten utama

Episode Kesepuluh: Seni Kritik

Kamis, 17 Syaban 1447 H / 5 Februari 2026

08.58 WIB


Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah

EPISODE KESEPULUH

https://youtu.be/x069ie9tMqc?si=U67uyeUIgrGsYLtn


Pada episode ini, kami berbicara tentang kritik, dalam istilah dakwah sering dikenal dengan sebutan tahdzir. Ya, akhir-akhir ini, dunia dakwah dihiasi dengan maraknya tahdzir di kalangan ustaz. Setidaknya, itu yang dirasakan oleh istri kami di media sosial yang dia miliki.


Walhamdulillah, kami yang sudah sejak lama tidak mempunyai akun Instagram, twitter (X), facebook, tiktok, dan yang semisal dengan itu, sehingga banyak informasi "dunia luar" kami dapatkan dari cerita istri.


Pun dengan kritik atau tahdzir ini, berdasarkan informasi yang muncul di beranda media sosial istri kami, ada salah seorang Ustaz yang akhir-akhir ini sedang ramai diberikan kritik. Dan sebagaimana umumnya respon dalam berbagai fenomena, termasuk dalam hal kritik atau tahdzir ini, masyarakat awam kemudian terbagi menjadi tiga golongan.


Golongan pertama, adalah orang-orang yang anti dengan kritik, bagi mereka kritik itu ibarat racun. Bukti dari rasa hasad dan ketidaksukaan. 

Golongan kedua yaitu mereka yang sangat bersemangat dalam memberikan kritik. Sehingga kritik disampaikan secara serampangan. 

Selanjutnya, golongan ketiga adalah mereka yang bersikap pertengahan dalam bab kritik. Tidak anti dan tidak juga serampangan dalam memberikan kritik.


Dan sebagaimana yang kami obrolkan dalam siniar episode kesepuluh ini, kami pribadi lebih condong untuk mengambil pendapat sebagai golongan ketiga. Tidak anti kritik dan tidak ingin juga serampangan dalam memberikan kritik.


Ketika kritik itu disampaikan secara proporsional, maka kami setuju bahwa hal itu memang harus dilakukan. Proporsional itu bermakna, kritik disampaikan oleh ahli dan dipenuhi argumen ilmiah.


Well, itulah sekelumit gambaran dari apa yang kami bicarakan selama kurang lebih 20 menit.


Wallahu'allam.

Selesai ditulis pada hari Jumat, 18 Syaban 1447 H yang bertepatan dengan tanggal 6 Februari 2026 pukul 09.53 WIB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Ketujuh)

AHAD, 10 MUHARAM 1447 H // 6 JULI 2025 12.41 WIB Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Pertama)  1. Membagi tugas. 2. Menjadi mentor. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Kedua)  3. Pengambilan Keputusan (Decision-making). Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Ketiga)  4. Tidak Terlalu Membutuhkan pada Bawahan. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Keempat)  5. Jujur. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Kelima)  6. Menciptakan dan/atau membangun sebuah iklim birokrasi/proses kerja sesuai dengan yang dia inginkan/ucapkan/janjikan. Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Keenam)  7. Teladan Pimpinan dan Konsistensi Penerapan Aturan Jiwa Kepemimpinan yang Baik (Bagian Ketujuh) 8. Regenerasi Di dalam sebuah organisasi yang baik harus memiliki pembagian tugas yang jelas sehingga masing-masing orang yang ada di dalam organisasi tersebut bisa melakukan identifikasi serta bertindak sesuai dengan tugas yang telah mereka miliki. ...

D-IV atau S1 ?

Suatu malam pada hari Sabtu , tanggal 14, bulan Januari , tahun 2012, berlatar tempatkan teras masjid Al-Ilmi IPDN Kampus Kalimantan Barat, terjadi satu percakapan ringan sangat sederhana tapi kemudian mampu untuk membuat otak ini menjadi rumit karena terus memikirkan substansi dari apa yang diperbincangkan itu, terlalu rumit sehingga saya pikir perlu untuk dituangkan dalam sebuah narasi penuh kata, tidak berpetuah dan tidak juga indah. Tapi cukup-lah untuk sekedar berbagi ide dan informasi yang pastinya tidak sesat. Dan ini-lah percakapan singkat itu : HP ( inisial teman saya ) : “Dim, kamu lebih milih mana, S.IP atau S.STP ?” Saya : “mmm….pengennya sih S.IP” HP : “Kenapa, Dim? Kata orang kan kalo S.STP tuh lebih baik buat karir dan kata orang juga S.IP tuh lebih condong buat jadi dosen.” Saya : “Wah gak tau sih kalo masalah yang kayak gitunya, tapi saya ingin S.IP karena yang saya tau S.IP itu lebih mudah untuk nantinya kita mau nerusin ke S2, nah kalo S.STP itu gak semua unive...

Ibadalana uliy ba’sin syadid

Selasa, 22 Juli 2014 22.00 WIB Saya akan menampilkan atau mem- posting tulisan dari Bapak Usep Romli , Pengasuh Pesantren Budaya "Raksa Sarakan" Garut. Tulisan ini merupakan tulisan di kolom Opini , harian Republika yang diterbitkan pada hari Selasa, 22 Juli 2014. Beliau menulis tentang (satu-satunya) cara untuk bisa mengalahkan zionis Israel. sehingga tulisannya pun diberi judul, Mengalahkan Zionis Israel . Berikut ini tulisannya saya tampilkan penuh tanpa ada sedikit pun saya kurangi atau tambahkan. "Mengalahkan Zionis Israel" Hari-hari ini, bangsa Palestina di Jalur Gaza sedang dibombardir pasukan Zionis-Israel. Nyaris tak ada perlawanan sama sekali, karena Palestina tak punya tentara. Hanya ada beberapa kelompok sipil bersenjata yang berusaha bertahan seadanya. Negara-negara Arab yang tergabung dalam Liga Arab tak berdaya. Begitu pula negara-negara berpenduduk mayoritas Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), tak da...