Rabu, 11 Rabiulakhir 1448 H / 23 September 2026
Pukul 09.52 WIB
Bismillah wassalatu wassalamu 'ala Rasulillah
Tawakal adalah salah satu amalan hati. Tawakal bermakna keadaan hati yang berasal dari pengetahuannya tentang Allah; iman pada keesaan-Nya dalam menciptakan, mengendalikan, memberi mudarat dan manfaat, serta memberi dan menolak. Apa yang Dia kehendaki pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak akan pernah terjadi. Oleh karena itu, terdapat keharusan untuk bersandar kepada-Nya, menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya, serta merasa tenang dan percaya diri kepada-Nya. Terdapat juga keyakinan penuh atas kecukupan yang ada pada-Nya terhadap apa yang disandarkan kepada-Nya. (https://almanhaj.or.id/14705-definisi-tawakkal-2.html )
Tawakal merupakan salah satu ibadah yang agung dalam Islam. Sebagai sebuah ibadah, terdapat rukun yang harus dipenuhi agar hati kita bisa dikatakan telah melakukan ibadah tawakal. Rukun itu sendiri diartikan sebagai sesuatu yang jika tidak ada, suatu amalan dianggap tidak sah. Namun, keberadaannya juga belum tentu membuat suatu amalan otomatis dianggap ada, dan rukun itu sendiri terletak di dalam pelaksanaan amalan tersebut. (https://muslimah.or.id/12091-syarat-dan-rukun-puasa.html )
Adapun ibadah tawakal memiliki dua rukun, yaitu: (1) Menempuh dan melakukan sebab atau usaha; (2) Berdoa memohon bantuan kepada Allah dan menyerahkan hasilnya kepada-Nya, serta rida dengan apa pun yang Allah takdirkan nanti. (https://muslim.or.id/42819-salah-paham-tentang-memahami-tawakal.html )
Oleh karena itu, seseorang tidak dikatakan bertawakal apabila tidak melakukan usaha sebab-akibat di dalam koridor batasan syariat. Selain itu, ia juga tidak dikatakan bertawakal jika bersemangat melakukan usaha sebab-akibat, tetapi lalai dalam berdoa dan hatinya sama sekali tidak bersandar kepada Rabbul'alamin.
Mengapa kami mengawali tulisan ini dengan memaparkan definisi tawakal terlebih dahulu? Hal tersebut karena pada tulisan ini kami akan berbagi sebuah nasihat. Walhamdulillah, dengan makin berkembangnya media sosial, kita makin mudah menemukan berbagai macam nasihat kebaikan. Nasihat-nasihat tersebut dikemas secara menarik, tetapi tetap berpegang pada substansi kebenaran.
Salah satu nasihat yang ingin kami bagikan saat ini adalah mengenai kesadaran diri untuk mengukur kemampuan dan tidak menyimpan harapan terlampau tinggi. Nasihat tersebut berbunyi: terbiasalah untuk tidak dipilih dan tidak menjadi favorit siapa pun, karena hal itu dapat membuatmu lebih tenang dan tidak berekspektasi apa pun. Banyak orang kecewa karena merasa dirinya istimewa, padahal sebenarnya tidak. Agar dirimu tidak mudah terluka, hiduplah seolah-olah kamu tidak memiliki tempat istimewa di hati manusia mana pun. Jangan salahkan orang lain ketika dirimu terluka dan kecewa. Namun, salahkan dirimu sendiri karena terlalu berharap kepada manusia.
Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, “Semoga Allah merahmati seseorang yang tahu siapa dirinya.” (https://www.radiorodja.com/29487-allah-merahmati-orang-yang-mengetahui-dirinya-khutbah-jumat-ustadz-badrusalam-lc-2/ )
Oleh karena itu, nasihat di atas kami ikat erat dalam koridor ibadah tawakal. Walhamdulillah, selaku muslim, kami seharusnya tidak perlu risau dan galau dalam menjalani kehidupan ini. Seharusnya tidak ada istilah “kecewa” yang muncul di tengah segala dinamika kehidupan yang terjadi. Mengapa?
Sebab, salah satu pokok keimanan seorang muslim adalah iman kepada hal-hal yang gaib, termasuk iman kepada hari akhir beserta segala konsekuensinya. Semua itu tidak dapat ditangkap oleh indra kita saat ini di dunia, tetapi kita harus meyakini semuanya secara penuh. Oleh karena itu, seorang muslim seharusnyalah menjadi pribadi yang paling kuat semangatnya. Sebab, yang dicarinya bukanlah pujian manusia, melainkan pahala dari Allah Ta'ala. Allah menjanjikan bahwa tidak akan ada amalan yang terluput, walaupun kebaikan itu hanya sebesar zarah sekalipun.
Namun, di sinilah letak ujian sebagai manusia. Kita sering kali terkalahkan oleh berbagai macam harapan dari sesama manusia. Kita terus berupaya mengejar validasi dan apresiasi dari mereka, yang pada akhirnya hanya akan membuahkan rasa kecewa.
Saat ini adalah momen yang tepat bagi kami untuk kembali menekan tombol reset. Sebagaimana yang diulas pada tulisan Mulai dari Nol, kami akan kembali memulai perjalanan karier sebagai seorang birokrat dari nol.
Konteks tulisan tersebut adalah kepindahan unit kerja kami, tetapi masih di dalam satu instansi. Meskipun masih dalam satu instansi, ketika sudah berbeda unit kerja, kami tetap harus memulai segala sesuatunya kembali dari awal.
Kini, kami akan berpindah instansi sehingga perubahan tersebut benar-benar terjadi secara drastis. Kami benar-benar harus memulai lagi dari titik paling dasar. Itulah alasannya kami katakan bahwa saat ini adalah momen paling tepat untuk kembali meluruskan niat dan mengosongkan diri. Artinya, kami tidak ingin lagi berekspektasi berlebihan akibat overclaim terhadap kemampuan yang dimiliki.
Kami harus benar-benar mengimplementasikan secara nyata segala keyakinan yang selama ini dipegang teguh. Kami bekerja sebagai bagian dari ikhtiar untuk mencari pahala dengan cara memberikan manfaat. Oleh karena itu, kami tidak perlu lagi memikirkan feedback nyata apa yang akan kami terima di dunia. Asalkan yang kami lakukan itu baik, benar secara aturan, dan berada di dalam koridor syariat, apa pun hasil yang kami terima di dunia seharusnya tidak menurunkan semangat.
Tidak ada lagi ruang bagi turunnya motivasi. Sebab, sejujurnya harus kami akui bahwa kondisi seperti itu pernah kami alami. Saat telah selesai menunaikan tugas belajar dan lulus dengan predikat cum laude, mulai muncul perasaan lebih “hebat”. Secara naluriah, muncul keyakinan bahwa kami berhak mendapatkan sebuah posisi penting. Namun, ketika fakta yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan di dalam hati, secara perlahan motivasi kami mulai turun.
Kami tidak ingin lagi bersikap seperti itu. Kami ingin bekerja secara profesional dan amanah tanpa harus terbebani oleh segala feedback yang telanjur diharapkan di dalam benak. Sebab, jika demikian adanya, bukankah secara tidak langsung kami telah mencoba bertindak sebagai Tuhan? Atau setidaknya, kami bekerja secara pamrih dan transaksional?
Semoga Allah memudahkan kami untuk memberikan manfaat tanpa menyimpan harapan berlebihan kepada sesama manusia. Sebab, semua yang telah ditakdirkan pasti akan terjadi, sedangkan segala yang tidak ditakdirkan tidak akan pernah bisa terjadi.
Wallahu a'lam.
Selesai ditulis pada hari Rabu, 11 Rabiulakhir 1448 H yang bertepatan dengan tanggal 23 September 2026 pukul 10.45 WIB.

Komentar
Posting Komentar