AHAD, 29 RAJAB 1447 H / 18 JANUARI 2026
09.29 WIB
Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah
Dalam sebuah artikel berjudul Seni Persuasi yang ditulis oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob (Experd - HR Consultant/Konsultan SDM) (KOMPAS, 17/01/2026), disebutkan empat tipe pemimpin yang biasanya ada dalam sebuah organisasi.
Konteks tulisan tersebut sedang membahas bagaimana cara menghadapi pemimpin sesuai dengan tipenya masing-masing. Kita harus bisa terlebih dahulu memetakan tipe seperti apa pimpinan kita sehingga selanjutnya kita bisa lebih mudah untuk menyesuaikan cara menghadapi mereka.
Hal itu menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan ketika kita ingin menawarkan sebuah perubahan atau sekadar menghadirkan ide baru dalam organisasi tempat kita bekerja. Karena pada akhirnya sebagus apapun ide yang kita miliki, tanpa kita bisa meyakinkan pimpinan maka ide tersebut tak akan pernah bisa dilaksanakan.
Pertama, tipe pemimpin "si paling tahu".
Cirinya, cenderung tampil sangat percaya diri, sering memotong pembicaraan dan cepat menyimpulkan karena dia merasa sudah mengerti dan memahami seluruh persoalan.
Cara menghadapi "si paling tahu" adalah dengan persuasi tanpa konfrontasi dengan menanyakan pertanyaan terbuka, seperti "Bagaimana Jika?" atau "Dapatkah kita?"
Kedua, tipe pemimpin "si penjaga konsistensi"
Cirinya, dia melihat sebuah perubahan sikap sebagai kelemahan dan sangat memuja keteguhan. Baginya kalimat-kalimat yang bernada koreksi akan dianggap sebagai sebuah ancaman.
Oleh karena itu, cara berhadapan dengan si penjaga konsistensi adalah dengan cara pertanyaan yang menekankan kesinambungan prinsip sambil menyesuaikan kondisi, yaitu "Kalau kita ingin tetap menjaga prinsip lama, tetapi menyesuaikan kondisi baru, opsi apa yang memungkinkan?"
Ketiga, tipe pemimpin "si narsistik".
Cirinya, terlihat penuh visi, dominan dan percaya diri tapi sangat haus dan bergantung pada pengakuan. Segala bentuk kritik, sekecil apapun itu, akan dianggap sebagai sebuah serangan pribadi.
Cara menghadapi si narsistik adalah kita harus membuat egonya merasa aman dengan cara mengangkat sis identitas lain yang merupakan kekuatannya.
Keempat, tipe pemimpin "suka berdebat"
Cirinya, dia tidak nyaman dengan sebuah kesepakatan yang terjadi dengan cepat. Dia ingin ada kesiapan data dan adu argumen. Oleh karena itu, cara menghadapi tipe ini adalah dengan cara diskusi yang dilakukan bertahap dan panjang.
Tipe mana pemimpin yang ideal dalam sebuah organisasi? well, dalam artikel tersebut tidak membahas hal itu, karena konteksnya, sebagaimana yang kami telah sebutkan di awal, tulisan ini sedang membahas cara persuasi kepada masing-masing tipe pimpinan yang biasanya ada dalam sebuah organisasi.
Tapi bagi kami, rasa-rasanya yang ideal dari empat tipe yang ada, tipe pemimpin "suka berdebat" adalah pilihan tipe yang cukup ideal. Setidaknya, dia masih mengutamakan logika sehingga bisa ada peluang untuk "dikalahkan".
Di akhir tulisan, penulis (Eileen Rachman dan Emilia Jakob) kemudian menutup dengan kalimat bahwa Persuasi itu tumbuh dari kebiasaan sehari-hari melalui cara mendengarkan tanpa memotong, merespon kritik tanpa defensif, mengakui keterbatasan tanpa kehilangan wibawa, kesempatan untuk terhubung, menginspirasi dan membuat dampak positif.
Kalimat tersebut, walaupun konteksnya sedang memberikan makna terhadap kata Persuasi, bagi kami adalah definisi dari tipe ideal karakter seorang pemimpin dalam sebuah organisasi. Seseorang yang berperan sebagai "orang tua", orang yang dewasa dan bijaksana. Rela merasakan lelah, fisik dan psikis, untuk mengembangkan organisasi yang dia pimpin.
Wallahu'allam.
Selesai ditulis pada hari Senin, 30 Rajab 1447 H yang bertepatan dengan tanggal 19 Januari 2026 pukul 10.26 WIB.
Komentar
Posting Komentar