Senin, 9 Rajab 1447 H / 29 Desember 2025
15.53 WIB
Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah
Di akhir tulisan Dua Kisah Satu Cerita, kami menuliskan kalimat,
Pada akhirnya "Dua Kisah Satu Cerita" memberikan inspirasi bagi kami untuk juga mendokumentasikan setiap gerak usaha kami dalam menyekolahkan anak kami ke Pesantren. Kami akan mencoba untuk menuliskan setiap cerita yang kami lalui bersama anak-anak kami, khususnya yang berkenaan langsung dengan dunia pesantren. Terlebih perjuangan itu akan panjang kami lalui, karena kini anak kami yang pertama masih berusia 6 tahun, dan baru akan masuk jenjang SD pada bulan Juni/Juli tahun ini (2025).
Oleh karena itu, kami akan memiliki banyak kisah yang bisa untuk dituliskan tentang usaha dan proses Panjang kami "merayu" anak kami untuk masuk ke Pesantren. Semoga Allah mudahkan.
Dan beberapa usaha telah kami lakukan, yaitu:
Pertama: Komitmen.
Kami dan istri, selaku orang tua, telah bersepakat bahwa anak-anak yang Allah ta'ala amanahkan kepada kami, akan kami didik secara maksimal untuk dekat dengan syariat Islam sesuai dengan pemahaman salafus shalih.
Benar bahwa kami tidak akan memaksakan kehendak dalam bentuk sebuah cita-cita tertentu dalam diri mereka, tapi kami akan fokus memberikan pondasi. Menjadi apapun mereka nantinya, asalkan itu dibangun di atas ilmu agama dan selaras dengan syariat-Nya, maka insyaallah kami akan mendukungnya.
Kami akan pastikan mereka memiliki modal agama yang cukup untuk kemudian bisa menentukan pilihan sesuai dengan syariat Islam, walaupun pada akhirnya harus mengorbankan kehidupan dunia.
Berdasarkan kesepakatan itu, maka kami berkomitmen untuk menyekolahkan seluruh anak-anak kami ke pesantren ketika mereka masuk di jenjang SMP. Harapannya, mereka akan lebih dekat kepada lingkungan yang agamis sehingga lebih besar kemungkinan untuk membentuk pemikiran agama yang kokoh.
Kedua: Realistis.
Intinya kami mencari pesantren yang bermanhaj salaf. Selanjutnya, kami harus menyesuaikan kondisi keuangan yang kami miliki. Mungkin untuk biaya satu kali masuk, kami selaku orang tua, masih akan bisa melakukan upaya halal untuk membayarnya tapi bila harus dihadapkan dengan biaya bulanan yang akan rutin kami keluarkan, disana letak kompromi yang harus dilakukan. Pada akhirnya pertimbangan biaya rutin bulanan yang akan menjadi faktor terbesar ketika nanti kami akan menentukan lokasi pesantren.
Ketiga: Menabung.
Selaras dengan poin kedua, usaha yang kami tempuh untuk mempersiapkan biaya masuk anak-anak kami ke pesantren adalah dengan cara menabung. Beberapa nasihat yang dikeluarkan ustaz, insyaallah menabung dengan niat persiapan pendidikan, tidak termasuk menahan rizki atau tidak termasuk kedalam kategori pelit.
Kami mencoba terus meluruskan niat bahwa kami menabung bukan dalam rangka menahan rizki atau tidak mau untuk menjadi seorang yang dermawan. Kami menabung dalam rangka bentuk usaha mempersiapkan pendidikan yang layak untuk anak-anak yang telah Allah ta'ala karuniakan kepada kami.
Adapun bentuk tabungan yang kami pilih, setelah membaca dan mendengar beberapa penjelasan dari ahli keuangan, kami menabung dalam bentuk emas. Karena insyaallah tabungan itu baru akan kami gunakan paling cepat 5 atau 6 tahun kemudian. Maka setiap bulan, sedikit demi sedikit, kami coba sisihkan uang untuk membeli emas sesuai dengan rezeki yang Allah berikan.
Keempat: Mempersiapkan Mental.
Kami tidak ingin pada akhirnya anak-anak kami akan merasa terpaksa untuk masuk ke dunia pesantren. Kami ingin membentuk mental dan menginternalisasikan visi kepada seluruh anak-anak kami untuk bisa yakin meneruskan jenjang pendidikannya di jalur pesantren.
Upaya yang saat ini kami coba rintis adalah membuat anak-anak kami, khususnya Abdullah (anak pertama) yang kini berusia 7 tahun dan sedang menikmati masa-masa indah di kelas 1 SD, untuk bisa mandiri. Kami mulai memberi pemahaman kepada Abdullah bahwa kelak ketika dia sudah masuk usia SMP, dia akan melanjutkan pendidikan ke dunia pesantren.
Kami mulai tunjukan kepadanya gambaran visual kehidupan pesantren. Walhamdulillah dengan adanya media sosial dan aktifnya beberapa pesantren dengan manhaj salaf dalam mendokumentasikan kegiatan di media sosial, memudahkan kami untuk memberikan penjelasan kepada Abdullah tentang apa itu dunia pesantren.
Penekanan yang kami berikan saat ini adalah memberikan penjelasan kepada Abdullah bahwa melanjutkan pendidikan di pesantren artinya Abdullah akan hidup terpisah dari kami selaku orang tua. Abdullah akan tinggal dan menetap di asrama.
Oleh karena itu, salah satu agenda yang ingin kami rutinkan untuk bisa dilakukan oleh Abdullah adalah menginap di rumah paman-bibinya (dari pihak kami) dan di rumah kakek-neneknya (dari pihak istri). Selain untuk menjaga silaturahmi, diharapkan dengan cara itu, sedikit demi sedikit Abdullah mulai terbiasa untuk hidup di luar zona nyaman. Merasakan hidup dengan "orang lain", dengan segala situasi yang berbeda.
Kami harap hal kecil seperti itu bisa mengajarkan secara langsung kepada Abdullah bagaimana caranya untuk beradaptasi. Tidak kaku untuk masuk ke dalam dunia yang baru. Dan walhamdulillah, karena jarak usia antara Abdullah (anak pertama) dan Abdurrahman (anak kedua) hanya sekitar 3 tahun, maka upaya pendidikan yang kami terapkan pada Abdullah juga langsung bisa diterapkan pada Abdurrahman.
Sebagai seorang Adik, Abdurrahman dengan mudahnya mengikuti saja apa yang Abdullah lakukan. Maka dalam hal persiapan mental, konteksnya belajar menginap, Abdurrahman kemudian jadi "ikut-ikutan". Dan memang hal itu juga terlihat di beberapa hal lainnya. Sehingga walaupun fokus kami sekarang sebenarnya adalah sedang menyiapkan Abdullah, tapi walhamdulillah, realita di lapangan, kami juga sambil mempersiapkan mental Abdurrahman.
Itulah beberapa hal yang kami sedang lakukan di tahap awal ini, insyaallah masih panjang jalan yang akan kami lalui. Semoga Allah mudahkan segala niat baik ini.
Wallahu'allam.
Selesai ditulis pada tanggal 15 Rajab 1447 H yang bertepatan dengan tanggal 4 Januari 2025 pukul 05.22 WIB.
Komentar
Posting Komentar