Jumat, 4 Syaban 1447 H / 23 Januari 2026
08.19 WIB
Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah
Saya yang sedang duduk di sofa rumah, tetiba dihampiri oleh Abang (Abdullah, anak pertama yang kini berusia tujuh tahun). Dengan mimik muka serius dia kemudian menyampaikan sebuah kalimat, "Abun, nanti kalau Abang udah besar, kayaknya Abang mau jadi tukang (kuli) aja deh".
Apakah saya terkejut mendengar pernyataan itu? Alhamdulillah tidak, karena itu bukan yang pertama dia berkata yang semisal dengannya. Kebetulan tetangga rumah memang sedang dalam proses membangun, sehingga saat ini anak-anak saya, terutama Abang, sering melihat pemandangan para tukang yang sedang membangun rumah.
Di kesempatan yang lain, sudah banyak cita-cita yang dia sampaikan. Dan semua itu masih sangat tergantung dengan hal-hal yang sedang rutin dia lihat. Respon yang saya berikan, selalu dalam nada yang sama. Saya dan istri, mencoba untuk konsisten menyampaikan nasihat dan merespon pernyataan seperti itu dengan kalimat yang tidak menghakimi.
Kami tidak ingin fokus pada satu profesi. Kami hanya menekankan pada seluruh anak kami bahwa menjadi apapun mereka nantinya di masa depan, mereka harus pastikan itu adalah pekerjaan yang halal dan bisa mengantarkan mereka untuk masuk ke Surga. Sehingga kami hanya menegaskan bahwa intinya mereka harus memiliki bekal ilmu agama, selanjutnya silahkan pilih profesi atau pekerjaan sesuai dengan modal ilmu agamanya.
Ya, tentu mereka tidak akan memahami secara utuh maksud dari ucapan itu. Tapi setidaknya, mereka bisa merasakan bahwa kami, selaku orang tua, tidak pernah memaksakan sebuah profesi atau pekerjaan. Yang kami "paksakan" adalah agar mereka memiliki semangat belajar dan semangat mengamalkan ilmu dan adab.
Karena tujuan akhirnya adalah masuk surga bersama-sama, bukan menjadi kaya di dunia semata. Semoga Allah mudahkan.
Wallahu'allam.
Selesai ditulis pada hari Jumat, 4 Syaban 1447 H yang bertepatan dengan tanggal 23 Januari 2026 pukul 08.46 WIB.

Komentar
Posting Komentar