Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Episode Kesembilan: Berbicara tentang Perasaan, Logika, Syariat hingga Kasus NPD Taubat

Rabu, 9 Syaban 1447 H / 28 Januari 2026 08.38 WIB Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah EPISODE KESEMBILAN https://youtu.be/A3gQcAAckQw Perasaan tidak boleh mengalahkan logika dan logika tidak boleh mengalahkan syariat. Sebuah kalimat yang coba kami implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena bagi kami, perasaan dan logika harus dibingkai dalam ikatan syariat.  Dalam kondisi normal maka respon awal kita terhadap suatu kejadian selalu menghadirkan perasaan terlebih dahulu. Idealnya perasaan tersebut kemudian duduk manis berdiskusi dengan logika. Sehingga "keinginan" bisa berubah menjadi "kebutuhan".  Ya, bila boleh kami analogikan, perasaan itu akan menghasilkan "keinginan". Maka tanpa hadirnya logika, keinginan tersebut tak bisa untuk kemudian mengerucut menjadi "kebutuhan". Logika dalam hal ini berfungsi sebagai filter, dia memilah dan memilih dengan berbagai pertimbangan logis, sehingga muncul "kebutuhan". Dan sesaat...

Cita-cita

Jumat, 4 Syaban 1447 H / 23 Januari 2026 08.19 WIB Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah Saya yang sedang duduk di sofa rumah, tetiba dihampiri oleh Abang (Abdullah, anak pertama yang kini berusia tujuh tahun). Dengan mimik muka serius dia kemudian menyampaikan sebuah kalimat, "Abun, nanti kalau Abang udah besar, kayaknya Abang mau jadi tukang (kuli) aja deh". Apakah saya terkejut mendengar pernyataan itu? Alhamdulillah tidak, karena itu bukan yang pertama dia berkata yang semisal dengannya. Kebetulan tetangga rumah memang sedang dalam proses membangun, sehingga saat ini anak-anak saya, terutama Abang, sering melihat pemandangan para tukang yang sedang membangun rumah. Di kesempatan yang lain, sudah banyak cita-cita yang dia sampaikan. Dan semua itu masih sangat tergantung dengan hal-hal yang sedang rutin dia lihat. Respon yang saya berikan, selalu dalam nada yang sama. Saya dan istri, mencoba untuk konsisten menyampaikan nasihat dan merespon pernyataan seperti itu ...

Episode Kedelapan: Tidak Menjadi Hakim bagi Kehidupan Orang Lain

Rabu, 2 Syaban 1447 H / 21 Januari 2026 12.45 WIB Bissmillah wa sallatu wa sallam ala rasulillah EPISODE KEDELAPAN https://youtu.be/IkiCluxMtFc?si=FL5W2c4N0konx3pv Dewasa ini, semua dari kita merasa layak untuk berbicara. Memberikan penilaian terhadap segala fenomena. Bila itu tersimpan rapi sendiri, tidak kemudian dibagi sehingga ramai terkonsumsi, ya silahkan saja karena tak akan menjadi kontroversi. Tapi bagi kami, prinsipnya sama saja, jangan pernah menjadi hakim bagi orang lain. Cukuplah kita beri udzur dan mengambil pelajaran darinya tanpa harus ditambah bumbu apapun didalamnya. Cukup kita sikapi potongan cerita yang datang menghampiri, sesuai dengan kadarnya. Bila itu keliru, menyalahi kaidah syariat dan normatif aturan yang ada, kita ingkari dan nasihati sesuai kemampuan dengan adab yang mulia.  Tak perlu kemudian terlalu tajam mengomentari hingga tak ada faidah yang mampu kita ambil. Untuk apa? EPISODE KEDELAPAN https://youtu.be/IkiCluxMtFc?si=FL5W2c4N0konx3pv Wallahu'all...

Tipe Pemimpin

AHAD, 29 RAJAB 1447 H / 18 JANUARI 2026 09.29 WIB Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah Dalam sebuah artikel berjudul Seni Persuasi yang ditulis oleh Eileen Rachman dan Emilia Jakob (Experd - HR Consultant/Konsultan SDM) ( KOMPAS, 17/01/2026 ), disebutkan empat tipe pemimpin yang biasanya ada dalam sebuah organisasi. Konteks tulisan tersebut sedang membahas bagaimana cara menghadapi pemimpin sesuai dengan tipenya masing-masing. Kita harus bisa terlebih dahulu memetakan tipe seperti apa pimpinan kita sehingga selanjutnya kita bisa lebih mudah untuk menyesuaikan cara menghadapi mereka. Hal itu menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan ketika kita ingin menawarkan sebuah perubahan atau sekadar menghadirkan ide baru dalam organisasi tempat kita bekerja. Karena pada akhirnya sebagus apapun ide yang kita miliki, tanpa kita bisa meyakinkan pimpinan maka ide tersebut tak akan pernah bisa dilaksanakan. Pertama, tipe pemimpin "si paling tahu" . Cirinya, cenderung tampil s...

Asimetris

Selasa, 24 Rajab 1447 H / 13 Januari 2025 10.49 WIB Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah Di dalam KBBI , Asimetris artinya adalah tidak setangkup atau tidak simetris. Berdasarkan beberapa definisi yang bisa kami lihat di dalam google , asimteris konteks awalnya berkenaan dengan bentuk. Sederhananya, asimetris bermakna suatu bentuk atau objek yang tidak simetris atau tidak memiliki sisi yang sama. Tapi kita tidak akan fokus pada bentuk, makna asimetris coba kita dekatkan dalam ranah aturan. Dalam bahasa yang ringkas, peraturan asimetris merupakan sebuah aturan/kebijakan/hukum yang tidak menerapkan prinsip one size fits all (satu ukuran untuk semua), tapi mencoba untuk melakukan pendekatan yang berbeda antara satu kasus dengan kasus lainnya. Sehingga ada perlakukan yang berbeda. Konkritnya adalah dalam ranah penyelenggaraan pemerintah daerah di Indonesia. Secara umum seluruh pemerintah daerah (provinsi, kabupaten dan kota) tunduk dan diatur sebagaimana ketentuan yang tercantu...

Episode Ketujuh: Parent-Think I

Rabu, 25 Rajab 1447 H / 14 Januari 2025 14.20 WIB Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah EPISODE KETUJUH https://youtu.be/nNppu1umDpY?si=GpYXWa7-AyN4wwIU Salah satu nasihat yang kami ingat dari para asatiz yaitu punya anak banyak itu Sunnah dan mendidiknya adalah Wajib. Tapi sayangnya, tidak ada pendidikan khusus untuk menjadi seorang Ayah dan Ibu. Dengan begitu rumit permasalahannya, menjadi sosok ayah dan ibu, mayoritas dari kita hanya berbekal nekat. Allahul musta'an . Bagi kami, memiliki anak adalah bagian dari rezeki. Dan sebagaimana rezeki berupa materi, maka sudah menjadi sunnatullah , ada yang diberi rezeki melimpah dan ada juga yang serba kekurangan. Maka dengan logika dan pendekatan yang sama, begitu juga dengan memiliki anak. Tidak serta setiap pasangan yang menikah harus mempunyai anak, sebagaimana tidak akan otomatis orang yang bekerja akan kaya raya. Intinya, anak itu anugerah dan amanah. Di dunia kerja, semakin tinggi jabatan dan karir yang kita capai maka a...

Catatan tentang Mens Rea

Jumat, 20 Rajab 1447 H / 9 Januari 2026 07.26 WIB Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah PENDAHULUAN Di awal, kami akan tegaskan terlebih dahulu bahwa saat ini kami berusaha untuk menjalankan keyakinan untuk hidup sedekat mungkin dengan syariat Islam sesuai dengan pemahaman salafus shalih . Walhamdulillah , sependek pemahaman kami, di negara Indonesia saat ini, prinsip hidup yang coba kami jalankan, tidak bertentangan dengan hukum positif apapun. Bahkan secara ideologi negara yang berlaku, sebagaimana yang tercantum di Pancasila, dan bahkan ditegaskan ulang di dalam UUD 1945, Indonesia sangat menjamin kehidupan beragama. Oleh karena itu, komentar atau catatan kami tentang pertunjukan stand up comedy dari Pandji Pragiwaksono, sedikit banyaknya akan didasari oleh prinsip hidup yang coba kami terapkan, tentu dengan penuh kekurangan di sana-sini. ISI Mens Rea adalah judul pertunjukan stand up comedy Pandji Pragiwaksono. Dan Mens Rea merupakan pertunjukan kesepuluh yang telah d...

Episode Keenam: Kaum Mendang Mending bicara Fashion Branded

Rabu, 18 Rajab 1447 H / 7 Januari 2026 14.33 WIB Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah EPISODE KEENAM https://youtu.be/KtuQCbGH5d8?si=CWuWpZ0Gxk4SfBTm    Kaum mendang-mending adalah golongan orang-orang yang senang membandingkan sesuatu dengan hal lain yang lebih rasional. Istilah ini populer di media sosial, yang intinya merujuk pada perilaku orang yang selalu membandingkan segala sesuatunya dengan harapan mendapatkan yang terbaik diantara yang baik.    Adapun kami, memaknai kaum mendang-mending sebagai sebuah bentuk representasi dari keadaan atau kondisi keuangan yang "pas" , walhamdulillah ada "sedikit lebih" sehingga bisa meluangkan memenuhi "keinginan" setelah semua "kebutuhan" terpenuhi. Tapi, karena "lebihnya" itu hanya sedikit, sehingga akhirnya butuh banyak pertimbangan ketika akan menggunakannya. Berdasarkan situasi itu, maka muncul tahapan "membandingkan" .   Dewasa ini, menjadi kaum mendang-mending ad...

Langkah Awal

Senin, 9 Rajab 1447 H / 29 Desember 2025 15.53 WIB Bissmillah wa shallatu wa sallam ala rasulillah Di akhir tulisan Dua Kisah Satu Cerita , kami menuliskan kalimat, Pada akhirnya "Dua Kisah Satu Cerita" memberikan inspirasi bagi kami untuk juga mendokumentasikan setiap gerak usaha kami dalam menyekolahkan anak kami ke Pesantren. Kami akan mencoba untuk menuliskan setiap cerita yang kami lalui bersama anak-anak kami, khususnya yang berkenaan langsung dengan dunia pesantren. Terlebih perjuangan itu akan panjang kami lalui, karena kini anak kami yang pertama masih berusia 6 tahun, dan baru akan masuk jenjang SD pada bulan Juni/Juli tahun ini (2025). Oleh karena itu, kami akan memiliki banyak kisah yang bisa untuk dituliskan tentang usaha dan proses Panjang kami "merayu" anak kami untuk masuk ke Pesantren. Semoga Allah mudahkan. Dan beberapa usaha telah kami lakukan, yaitu:  Pertama: Komitmen.  Kami dan istri, selaku orang tua, telah bersepakat bahwa anak-anak yang Alla...