Minggu, 11 Oktober 2015

Transisi

RABU, 7 OKTOBER 2015
08.42 WIB


Tak ada nasihat baik tanpa realisasi. Karena semua hal yang baik sesungguhnya belum menjadi baik apabila belum nyata terlihat dalam kehidupan. Seseorang boleh saja telah melahap berpuluh bahkan beratus buku dalam hidupnya atau telah mendatangi banyak majelis ilmu sepanjang waktunya, tapi bila dia tak mampu melaksanakan apa yang telah dia baca dan dengar, dia tak lantas mendapatkan segala kebaikan. Semua bergantung pada aksi yang mampu dilakukan.

Saya pun setali tiga uang dengan situasi tersebut. Saya sadari saya hanya mampu membaca, mendengarkan, dan mengucapkan segala nasihat baik yang saya dapatkan. Saya belum mampu menjalankannya.

Berbagai alasan tumpah terlampirkan, mencoba melakukan serangkaian pembenaran. Telahaan telah dilakukan, berusaha memperbaiki karena jelas itu sebuah kesalahan. Sekarang pun demikian, setelah saya selesai membaca buku Tasawuf Modern karya Prof. Buya Hamka dan Habits tulisan Ustadz Felix Siaux.

Kedua buku tersebut sungguh penuh makna. Buku yang sangat inspiratif dan memberi banyak motivasi. Pengingat sekaligus menyindir diri pribadi yang membaca. Sindiran agar menjadi seseorang yang jauh lebih baik. Tapi, semua itu hanya untaian kata tersusun menjadi kalimat bila tanpa aksi nyata dari setiap orang yang telah membaca, termasuk saya.

Menurut pendapat saya, terlebih ketika disandingkan dengan kehidupan yang kini sedang saya jalani, isi kedua buku itu sangat relevan. Tasawuf Modern mengajarkan tentang kebahagiaan hakiki dalam hidup dan Habits bercerita berkenaan membiasakan segala hal yang benar dalam keseharian hidup.

Saya katakan relevan dengan kehidupan karena sekarang saya sedang menjalani (lagi) sebuah masa transisi. Ketika setahun kemarin saya harus melakukan transisi dari kehidupan kampus ke kehidupan dunia kerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan status Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). 

Kini saya sedang menjalani transisi untuk bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dengan segala penyesuaian kehidupan di Ibu Kota Jakarta.

Ini transisi yang cukup melelahkan secara jiwa dan raga. Bukan sebuah transisi yang berjalan mulus. Karena proses perpindahan dan penempatan menjadi PNS Kemendagri serta penyesuaian hidup di Ibu Kota tidak semudah dan sesederhana yang dibayangkan. Prosesnya cukup rumit dan berbelit.

Saya pikir proses penyesuaian hidup di Ibu Kota akan memakan banyak porsi tapi nyatanya justru proses administrasi legalitas kepegawaian yang justru menyita banyak perhatian.

Saya tak bisa untuk secara gamblang bercerita berkenaan dengan proses birokrasi tentang administrasi kepegawaian. Karena saya pikir tidak semua orang akan memahami permasalahan tersebut dan hal ini bukan merupakan konsumsi publik yang layak saya curahkan dalam tulisan. Setidaknya sebuah tulisan yang nantinya akan terpampang umum di dunia maya.

Tapi saya mencoba untuk memahami semua proses yang ada sebagai konsekuensi terhadap pilihan yang telah saya tentukan. Saya sudah sangat beruntung masih diberikan kesempatan untuk bisa memilih dimana saya akan ditempatkan, dan saya secara sadar memilih pilihan untuk berkarir menjadi PNS Pusat. Itu pilihan. Dan saya harus mampu dengan penuh tanggung jawab menjalani setiap resiko yang menyertainya.

Bila boleh saya tarik kebelakang sebelum akhirnya saya kemukakan alasan kenapa saya memilih untuk menjadi seorang PNS Pusat, akan jauh lebih sederhana proses transisi yang akan dijalani seandainya saya tetap berkarir sebagai PNS Daerah. Akan tetapi sebuah alasan kemandirian, finansial, dan pengalaman, membuat saya memilih mencoba peruntungan menjadi PNS Pusat.

Alasan kemandirian pada intinya adalah saya tidak ingin bekerja di lingkungan yang kental bumbu “kekeluargaan”. Ketika kekuasaan dengan sangat jelas dipegang. Saya mungkin bisa saja memiliki karir yang cepat di daerah karena alasan “kekuasaan” dan “kekeluargaan” tapi apabila kemudian orang-orang disekitar tak melihat itu sebagai sebuah prestasi hanya melihat sebagai sebuah “keberuntungan politis” maka ceritanya akan menjadi berbeda di kemudian hari, ketika “kekuasaan” dan “kekeluargaan” itu menghilang.

Adapun finansial menjadi alasan klasik nan pragmatis yang telah meracuni otak karena saya tak bisa untuk munafik. Gaji pokok sebagai seorang PNS belum bisa saya katakan cukup. Butuh penghasilan tambahan di luar itu. Penghasilan lain yang sah bagi PNS salah satunya bisa didapat dari tunjangan, apapun bentuk serta nama tunjangannya.

Di daerah (kabupaten/kota), khususnya di mayoritas daerah Provinsi Jawa Barat belum memberikan jumlah yang “layak”, cenderung kecil. Sehingga perhitungan rasional penghasilan yang sah/legal apabila saya menjadi PNS Daerah belum cukup meyakinkan saya untuk bisa menata kehidupan ideal seperti yang saya impikan.

Lalu pengalaman, erat kaitan dengan tugas pokok dan fungsi yang nantinya akan saya dapatkan. Pengalaman saya ketika setahun bekerja di Pemerintah Provinsi Jawa Barat, mengajarkan bahwa wawasan yang saya dapatkan sangat luas mencakup keseluruhan satu Provinsi Jawa Barat. Tidak terbatas pada satu daerah. Sehingga ketika saya bekerja sebagai seorang PNS Pusat bisa dipastikan saya akan mempunyai wawasan yang jauh lebih luas karena berkenaan dengan seluruh daerah di Indonesia.

Pengalaman berbeda dengan ilmu pengetahuan. Ilmu Pengetahuan bisa didapat dengan membaca tapi pengalaman hanya akan bisa didapat secara langsung dan nyata dari keseharian.

Akan tetapi setelah hampir 3 (tiga) minggu bekerja dan tinggal di Jakarta, saya merasakan bahwa semua tak seindah seperti apa yang diharapkan. Saya tersadar ketika mendasari sebuah pilihan bahkan kehidupan secara keseluruhan hanya berdasar kepada argumen duniawi penuh teori yang berasal dari ahli serta materi, semua itu rapuh dan cenderung membuat kita kecewa. Karena pada dasarnya saya dan mungkin anda akan selalu meminta untuk sesuatu yang lebih. Selalu melihat lebih jauh ke atas.

Ketika dasar pikiran dan tujuan bukan bersandar pada sesuatu yang kekal, maka kekecewaan akan selalu siap menunggu menghantam telak.

Prof. Buya Hamka dalam Tasawuf Modern menjelaskan secara rinci bahwa kebahagiaan yang hakiki bukan terletak di dunia. Kebahagiaan itu ada pada agama. Semakin kita taat semakin kita bahagia. Tapi bila kita jauh dari-Nya, maka jangan harap kebahagiaan akan datang memeluk kita dengan erat.

Hal itu kemudian semakin kuat ketika saya melanjutkan membaca buku Habits karya Ustadz Felix Siauw. Disebutkan bahwa 95 % dari respon manusia terjadi secara otomatis. Otomatis berarti semuanya bergerak berdasarkan habits atau kebiasaan. Angka 95 % berarti menunjukan kita sangat bergantung dengan kebiasaan yang telah kita buat. Sehingga kepribadian kita sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang kita miliki.

Skemanya adalah kepribadian dihasilkan dari kebiasaan, kebiasaan berasal dari aksi/sikap, dan sikap kita merupakan hasil dari buah pemikiran. Jadi, intinya ada pada pemikiran. Pemikiran adalah pangkal dari kebiasaan yang 95 % akan menentukan respon kita dalam menjalani kehidupan.

Disini-lah relevansi itu mulai terlihat. Ketika pemikiran hanya terbatas pada dunia. Maka kepribadian yang muncul hasil dari sebuah kebiasaan tentu sangat duniawi. Bergantung pada hal-hal yang nisbi. Hasil akhirnya adalah kekecewaan karena sungguh hidup penuh dengan ketidakadilan.

Tapi bila pemikiran kita murni hanya pada agama sehingga kebiasaan yang muncul adalah kebiasaan yang sesuai dengan tuntunan agama maka kepribadian yang akan dihasilkan adalah sebuah akhlakul karimah. Pribadi yang senantiasa penuh syukur karena tau bahwa hidup di dunia hanya sementara, hanya sebagai persiapan kehidupan kekal di akhirat nanti.

Itu-lah yang terjadi, alasan saya memilih untuk berkarir menjadi PNS Pusat sangat duniawi. Sehingga wajar bila kini saya menjadi kecewa. Bila saja dari awal saya meniatkan segala sesuatunya murni untuk agama, beribadah dan mencari ridho-Nya, tentu saya tak akan pernah merasa kecewa. Saya akan selalu bersyukur dan melihat segalanya dari sudut pandang yang baik.

Akan tetapi meratapi waktu yang telah berlalu tak akan memberikan dampak positif. Toh belum terlambat untuk berbenah. Saya bukan orang suci yang jauh dari dosa dan kesalahan. Tapi setidak-tidaknya saya tak menjadikan itu alasan untuk tidak berusaha menjadi orang yang setiap harinya bertambah baik.

Jadi, dengan sepenuh hati saya akan menjalani pilihan yang telah saya tentukan. Mensykuri dan meniatkan segala sesuatunya karena ibadah. Semoga semua transisi dengan niat yang baru ini tak sebatas pada niatan atau tulisan. Tapi mampu saya realisasikan sehingga berdampak nyata pada kehidupan. Saya tau ini tak mudah, tapi tak ada yang bilang bahwa hidup dengan agama menjadi sandaran adalah sesuatu hal yang mustahil untuk dilakukan.

#PMA