Minggu, 29 Juni 2014

Filippo Inzaghi (bukan) Panasea bagi Milan

MINGGU, 29 JUNI 2014
13.37 WIB


Saya tidak akan menulis tentang Piala Dunia yang sekarang telah memasuki babak 16 besar ataupun mengenai Pemilihan Presiden Indonesia yang beberapa hari lagi akan segera kita laksanakan atau tentang perbedaan awal Ramadhan yang harus kembali tersaji di bumi pertiwi ini.

Tidak, saya tidak akan membahas itu semua ataupun salah satu diantaranya. Saya hanya ingin menulis atau lebih tepatnya menuliskan kembali atau mem-posting ulang sebuah tulisan dari saudara Deny Adi Prabowo pada tanggal 10 Juni 2014.

Saya tertarik untuk kembali mem-posting ulang tulisannnya, karena dia menulis pendapatnya tentang penunjukan Filippo Inzaghi sebagai pelatih Milan. Dan yang terpenting adalah saya sependapat dengan apa yang dia kemukakan atau secara sederhananya, segala apa yang saya pikirkan telah mampu untuk tercurahkan melalui tulisannya bahkan mampu untuk tertuliskan dengan sangat baik.

Oleh karena itu tanpa harus berpanjang kata, silahkan anda menikmati setiap kata yang telah dia tuliskan menjadi sebuah tulisan indah berjudul Filippo Inzaghi bukan Panasea untuk krisis Milan.

Peristiwa yang sudah tak bisa dielakkan lagi akhirnya terjadi. Clarence Seedorf menjadi tumbal, "Yesus" baru bernama Filippo Inzaghi pun diangkat, tapi Pippo sendiri bukanlah panasea (obat) yang bisa menyembuhkan kanker yang menggerogoti Milan.

Silvio Berlusconi menggila, Seedorf yang dipilihnya sendiri hanya boleh bertahan di kursi manajemen San Siro kurang dari setengah tahun. Sebelum dipecat, kapabilitas pria Belanda dalam mengontrol ruang ganti pemain Milan bahkan disamakan dengan orang tua penderita alzheimer yang ditemuinya saat melakukan kerja sosial di rumah panti jompo, karena Silvio terbukti mengemplang pajak.

Entah apa yang ada di pikiran Silvio, apakah ia bermaksud membuat Maurizio Zamparini (Presiden Palermo yang kerap gonta-ganti pelatih timnya) terangsang atau apakah ia bermaksud ingin merebut titel dari Zamparini? Entahlah yang pasti Silvio kebingungan ketika ditanya soal bagaimana Il Diavolo Rosso di masa depan dan sekarang Filippo Inzaghi ikut kejatuhan getahnya. Berangkat dari pengalamannya sebagai manajer tim Primavera, pria yang berasal dari Piacenza itu dianugerahi skuad Milan paling buruk dalam 20 tahun terakhir ditambah kondisi keuangan yang seadanya. 

Berikut ini tiga masalah utama yang harus dihadapi Inzaghi sebagai manajer anyar Milan.

1. Proyek Masa Depan Milan.

Berbeda halnya dengan pesaing-pesaingnya, Milan termasuk salah satu klub besar yang menargetkan sedang membangun proyek baru. Salah satu kunci menyongsong masa depan adalah pembangunan stadion baru tetapi target itu ibarat pepesan kosong. Roma punya James Pallotta, pebisnis yang punya banyak uang dan melek soal cara memutar uang. Internazionale punya Erick Thohir dengan dana segarnya, Juventus punya Andrea Agnelli, salah satu anggota direksi FIAT dan Exor. Udinese sudah punya proyek berjangka soal pembangunan stadion.

Bagaimana dengan Milan? Mereka memang punya desain bagaimana rupa stadion baru, tetapi negosiasi manajemen untuk pembangunan stadion yang direncanakan di daerah Rho, barat laut dari kota Milan mentok lantaran mereka harus menyetor 300 juta euro klaim Gazzetta dello Sport. Lha wong, Milan saja "kikir" ketika harus mengeluarkan uang demi pemain baru (pengeluaran paling terbesar Milan terjadi saat membeli Mario Balotelli dengan harga 20 juta euro setahun yang lalu), apalagi harus mencari uang sebegitu banyak untuk stadion baru?

Kalau memang juara Serie A 18 kali itu memang serius dalam mengusung proyek masa depan dengan memilih Pippo sebagai juru selamat mereka, pembangunan stadion yang berpotensi melancarkan perputaran uang klub harus segera direalisasikan. Pippo bukan manajer bodoh, lambat laun ia harus membuat skuad versinya sendiri dan itu butuh uang. Pembangunan Milan Casa sendiri bisa menjadi satu langkah baik untuk meraih pemasukan. Tetapi bila krisis ini tak segera tak teratasi dengan solusi ampuh, bukan tak mungkin untung tak kunjung diraih, Pippo bisa jadi Seedorf kedua. Solusi cepatnya, Milan bisa mengikuti saudaranya, Inter yang menjual mayoritas saham klub demi mendapat dana segar.

2. Moral Pemain Yang Keburu Anjlok.

Semakin merosotnya prestasi Milan pasca meraih Scudetto tiga tahun silam praktis berdampak kepada suasana ruang ganti pemain. Para pemain tampaknya hanya bermain semata karena mereka digaji, jarang sekali terlihat mereka tampil kesetanan demi membela martabat klub. Mario Balotelli bahkan pernah dapat kritik keras dari Zvonimir Boban saat Super Mario ogah-ogahan turun menghadapi Napoli, Februari lalu. Bisa jadi sumber "kemalasan" Balotelli dan teman-temannya karena mereka kebingungan menebak arah mana yang hendak dituju Milan.

Juventus pernah mengalami hal serupa (bahkan lebih buruk) sebelum ditangani Antonio Conte.Terpuruk di posisi tujuh selama dua tahun berturut-turut, pria yang lahir di Lecce itu didapuk sebagai manajer tim. Mengutip dari kutipan dalam biografinya, ia bertemu dengan Gigi Buffon cs untuk pertama kalinya di sesi latihan pra-musim.

"Cukup sudah dengan omong kosong ini. Kalian tak meraih satu gelar pun dalam dua tahun. Kalian mau Scudetto? Anda semua harus muntah darah sampai laga terakhir untuk bisa mendapatkannya!," cetusnya.

Inzaghi dihadapkan dengan apa yang dihadapi Conte tiga tahun silam. Lantas apakah ia bisa menirunya? Saya sangat yakin bisa. Alasannya, Pippo Inzaghi bukan manajer biasa. Dia adalah manajer yang sangat dicintai oleh timnya, anda pecinta Milan tentu ingat ketika bagaimana ia "ditumpuk" pemainnya saat Milan muda meraih juara Torneo di Viareggio beberapa bulan lalu.

Pria 40 tahun itu juga menulis tesis dengan judul Mentalitas Seorang Pemenang. Tesis yang diajukannya untuk mendapatkan lisensi kepelatihan. Tesis buatannya membuat calon pelatih lainnya terlihat seperti seorang amatiran. Dalam karya ilmiah setebal 60 halaman itu, ia menjelaskan secara detil bagaimana mentransfer jiwa pemenang kepada anak asuhnya, mulai dari sisi psikologis, komunikasi, pemaksimalan potensi pemain sampai detil sesi latihan tim selama satu minggu penuh.

Inzaghi dan Seedorf memang bukan dua pribadi yang berbeda 180 derajat, mereka berdua memang sama-sama pemain yang sudah merasakan indahnya mereguk juara. Bedanya, Inzaghi punya konsep pembangunan skuad yang sangat jelas plus pengalamannya sebagai manajer Milan Primavera. Perkataannya yang berbunyi "Saya menangis ketika saya menang, bukan ketika saya kalah" menggambarkan seperti apa sosok Inzaghi.

Kini tinggal manajemen Milan mengikuti petuah Inzaghi, bukan sebaliknya niscaya kejayaan Merah Hitam bisa lagi berkibar.

3. Ego Berlusconi
 
Pemecatan Seedorf oleh Milan memang bukan suatu hal yang luar biasa. Di Italia pecat-memecat sudah jadi hal yang lumrah. Kalau bisa mengambil contoh, Zamparini (red: baca paragraf dua) memecat 27 pelatih semenjak tahun 2002. Giuseppe Vialli bahkan menganalogikan kalau saja David Moyes (yang kala itu masih menjadi manajer Manchester United) menangani tim Italia, ia sudah dipecat empat kali.

Meramu sebuah tim juara memang gampang-gampang susah, butuh kebesaran hati yang teramat besar dari pemilik klub tetapi itu nyaris tak ada lagi dalam jiwa Silvio Berlusconi yang menelepon Carlo Ancelotti di medio 2001 dan berkata: "Halo, ini dengan Carlo Ancelotti? Begini... Saya ingin membangun tim yang akan meraih semua gelar yang ada di Eropa," (kutipan diambil dari biografi Ancelotti The Beautiful of an Ordinary Genius)

Tak hanya masalah kelegowoan hati, fulus Silvio pun tak sekencang dulu. Uangnya dibayar untuk membayar pengacara demi membersihkan tuduhan menyewa prostitusi di bawah usia, penggelapan pajak plus kampanye partai kepunyaannya. Perhatiannya kepada Milan juga tak sehangat dulu, saking lamanya ia tak "blusukan" melihat situasi klub, ia jadi tak menyadari apa yang dibutuhkan timnya.

Semua menjadi rumit lantaran mantan Perdana Menteri Italia harus melakukan kerja sosial atas apa yang dilakukannya (red: baca paragraf satu). Solusinya, Berlusconi harus mengingat-ingat momen pertama kali ia membeli Milan, momen membangun tim yang pernah merajai Eropa dan itu harus ditularkannya kepada tangan kanan dan kirinya yakni Barbara Berlusconi dan Adriano Galliani. Dengan mengenang apa yang sudah dilakukannya, setidaknya tensi darah Silvio tak cepat naik hanya karena Milan kalah dalam beberapa pertandingan. Ujungnya, Inzaghi pelan tapi pasti bisa membangun dengan tenang tanpa merasa seperti tokoh Damocles dalam cerita The Sword of Damocles.

Kesimpulan :

Saat diangkat menjadi manajer, Inzaghi melontarkan semua pujian untuk elemen klub. Bagaimana rasanya dipercaya Silvio Berlusconi, bagaimana Milan menjadi separuh hidupnya, bagaimana Milan menjadi tempat berbagi kebahagiaan dan momen tak terlupakan. Akan tetapi kembali saya tegaskan kalau Inzaghi bukanlah panasea kanker yang terjadi di Milan.

Bila ingin sembuh, setiap bagian dari tubuh klub harus mencari panasea masing-masing karena seampuh-ampuhnya panasea bernama Filippo Inzaghi apalah artinya jika hanya ada satu sektor klub yang waras. Ancelotti pernah berkata :
"Pippo selalu menjadi layaknya binatang. Dia bukan pemain yang komplit namun di dalam kotak penalti, tidak ada pemain di dunia ini yang bisa bersaing dengannya."

Sekarang Pippo tinggal menerapkan apa yang ditulis dalam tesisnya sehingga ia tak hanya menjadi predator di kotak penalti seperti halnya ketika ia masih aktif bermain, tapi menjadi predator pinggir lapangan.

Tentu itu membutuhkan waktu Silvio.

#weareacmilan

Selasa, 10 Juni 2014

Awake

SELASA, 10 JUNI 2014
13.51 WIB


Tak seperti biasanya, tulisan ini saya tulis dengan iringan beberapa musik. Biasanya saya selalu menyendiri, tanpa ada suara apapun untuk bisa mencurahkan segala yang saya rasakan ke dalam bentuk tulisan.

Tapi kali ini entah kenapa saya bisa untuk menulis dengan adanya suara latar yang mengiringi. Terasa dramatis memang, tapi juga terasa sulit. Karena otak disibukan juga dengan mengolah lirik dari musik yang saya dengar. Terlebih karena musik yang saya putar berisikan lirik yang mampu menyentuh hati. Ahh, terlalu melankolis sepertinya!

Jadi, tulisan ini saya niatkan untuk “melawan” tulisan saya sebelumnya. Tulisan sebelumnya, 3,586, saya tulis penuh emosi dan berakhir menjadi sebuah keluhan. 

Maka setelah butuh beberapa saat, setidaknya 10 hari, akhirnya saya mampu untuk mencerna semuanya dan berpikir jauh lebih rasional dan mungkin lebih positif.

Maka tak adil rasanya ketika emosi negatif mampu untuk saya kelola menjadi tulisan lalu kenapa emosi positif itu tak juga saya curahkan?

Oleh karenanya, saya coba untuk juga tuliskan dalam tulisan ini. Sekedar berbagi pengalaman.

Kesadaran diri ini muncul setelah seorang teman atau sebut saja sahabat atau entah saya pun sulit untuk mendefinisikannya, tapi untuk mempermudah situasi mari kita sebut dia adalah sahabat saya.

Belum lama kami saling mengenal tapi kami telah mampu untuk menjadi akrab. Dia, dengan karakternya yang begitu ramah sehingga membuat siapapun nyaman untuk menjadi sahabatnya. Dia tak malu atau sungkan untuk memulai pembicaraan sehingga tak sulit bagi kita untuk akhirnya bisa saling mengenal.

Singkat cerita, dia mampu untuk menyadarkan saya dengan sebuah kalimat. Seperti ini mungkin kalimatnya :

Tak ada gunanya bila kita terus menyalahkan orang lain atas kegagalan yang kita peroleh. Dan tak akan ada gunanya juga bila kita terus mengutuk serta menghina diri sendiri atas ketidakmampuan untuk mencapai segala harapan yang telah dengan indah kita tetapkan.

Hal yang terbaik yang seharusnya kita lakukan ketika kita mendapati diri berada dalam situasi seperti itu adalah melakukan introspeksi diri secara menyeluruh dengan terlebih dahulu menerima segala sesuatunya.

Bagaimana caranya kita mampu menerima segala sesuatunya ketika itu tak sejalan dengan harapan kita?

Sebenarnya tak sulit untuk kita menerima apapun yang terjadi, baik atau buruk, kita hanya harus percaya dengan sepenuh hati bahwa hal itu adalah yang terbaik menurut Tuhan, Allah Swt. Bahwa segala apapun yang terjadi, tidak akan mungkin bila itu bukan yang terbaik menurut-Nya. Ya, dalam hal ini terlihat jelas kadar keimanan seseorang.

Dan dalam hal ini, melihat reaksi yang saya tunjukan bahkan tertulis dalam sebuah tulisan, saya masih belum memiliki keimanan yang kuat, saya masih lemah, mudah goyah.

Kemudian secara lebih jauh, dia pun secara tidak langsung mengatakan bahwa mungkin ini adalah hukuman yang diberikan-Nya untuk saya.

Hukuman? Ya, sebuah hukuman. Hukuman bagi saya yang kini tak lagi dekat dengan-Nya.

Jujur kalimat itu-lah yang kemudian paling menusuk relung hati saya yang paling dalam. 

Saya kemudian kembali mencoba mengingat bahwa “dulu” saya pernah begitu dekat dengan-Nya. Bahwa dulu saya begitu sangat sering untuk sholat berjamaah di masjid, dan bahkan menjalankan beberapa sunah Rasul dalam ibadah. Saya kemudian mengingat itu semua, bahwa saya pernah seperti itu. Pernah sedekat itu dengan-Nya.

Bahkan saya yang dulu begitu rajin untuk beribadah, masih belum Dia percaya untuk sepenuhnya menggapai segala harapan yang saya idamkan. 

Lalu apa logika dan argumen bagi saya ketika kini saya yang telah jauh dengan-Nya mengharapkan untuk juga bisa mendapatkan semua harapan yang saya miliki?

Sungguh sebuah ego yang bodoh!

Saya tak akan menyalahkan keadaan, ini murni karena saya yang memang belum mampu untuk menjadi seseorang yang baik juga konsisten dalam menjalankan kebaikan itu.

Saya pun begitu menyadari bahwa tak perlu waktu lama bagi saya untuk berubah dari seseorang yang setidaknya sedikit bermanfaat menjadi seseorang yang sepenuhnya tak berguna.

Sholat berjamaah apalagi di masjid tak lagi saya lakoni, semua ibadah sunah benar-benar saya lupakan. Kehidupan saya benar-benar berubah 180 derajat, tak ada bekas sedikitpun dari hal-hal baik yang sebenarnya telah lama saya lakukan. Saya hanya begitu saja menyerah pada keadaan. Takluk dan tak mau lagi untuk sekedar mengusahakan.

Bila begitu bukankah wajar apabila saya mendapatkan “hukuman” dari-Nya? Bukankah justru sangat masuk akal bagi-Nya untuk tidak mempercayai saya menggapai semua harapan yang telah saya inginkan?

Ya, ini-lah yang terbaik untuk seseorang yang hanya beribadah alakadarnya. Ini-lah kehidupan yang lebih dari cukup untuk seseorang yang melupakan cara beribadah yang baik pada-Nya. Kenapa saya harus meminta lebih?

Dan ya, kalimat-kalimat itu yang kemudian menyadarkan saya. Bahwa mempersiapkan mental melalui ibadah adalah hal yang terbaik yang harus juga kita persiapkan ketika kita juga berusaha maksimal dalam menggapai segala harapan yang kita buat.

Bahwa ikhlas menerima segala sesuatunya itu tidak akan muncul tanpa melalui ibadah kita kepada-Nya.

Pemikiran yang sebenarnya sederhana itu, setidaknya cukup untuk membuat saya sadar dan mulai untuk kembali mengulang segala yang pernah saya lakukan di “waktu itu”, di kala saya masih bisa untuk menjadi seseorang yang “bermanfaat”.

Sedikit demi sedikit saya lakoni lagi itu. Dengan niatan tidak untuk sesuatu hal yang khusus, tapi benar-benar atas kesadaran saya bahwa saya membutuhkan-Nya lebih dari saya membutuhkan segala harapan saya menjadi nyata.

Bahwa dengan saya mendekatkan diri kepada-Nya maka ketenangan hati itu akan muncul dan apapun yang terjadi nantinya tak akan lagi menjadi sebuah beban bagi saya.

Bahwa ketika nanti saya mulai lagi untuk bermimpi besar, saya pun tak akan takut untuk kembali kecewa sangat dalam, karena saya mempunyai Dia, karena toh saya telah dan selalu dekat dengan-Nya. Apalagi yang harus saya takutkan?

Saya telah berusaha, dan saya pun telah berdoa, lalu bisa apa saya setelah itu?

Tulisan ini kemudian saya akhiri dengan sebuah harapan bahwa jangan sampai saya yang kini telah sedikit menyadari harus kembali masuk ke dalam ketidaksadaran, saya berharap bisa untuk sepenuhnya sadar serta terus mampu untuk konsisten dalam menjalani kesadaran ini.

Hell yeah, that #PMA is back!

oh iya, terima kasih juga untuk dia, yang saya sebut sebagai sahabat..

Senin, 02 Juni 2014

3,586

SENIN, 2 JUNI 2014
14.33 WIB


Jujur, entah dari hal apa saya harus menuliskan tulisan ini. Karena pada akhirnya tulisan ini akan menjadi sebuah tulisan penuh keluhan.

Pada akhirnya, sehebat apapun saya mengolah kata dan mengatur tata letak kalimat, akan terbaca seperti sebuah tulisan yang ditulis penuh dengan emosi dan rasa iri.

Hanya akan menunjukan sisi negatif sebentuk ketidakmampuan untuk menerima kenyataan dan mensyukuri segala apa yang ada dan terjadi. Padahal sungguh, setiap yang telah terjadi adalah segala yang terbaik menurut Tuhan, Allah Swt.

Bilapun tidak begitu tulisan ini akan bernada sama dengan tulisan saya terdahulu semisal, Tentang Nilai apakah relevan?, Air mata ini bukan untuk kalian, (masih) D4 atau S1, D4 atau S1, Dengarkan curhatku, Proses yang benar atau Hasil yang baik, dan Realistis bukan pesimistis.

Tulisan-tulisan tersebut merupakan perpaduan antara ego, kesombongan, dan juga kebodohan. 

Saya sebut kumpulan ego karena saya menulis murni menuruti apa yang benar dalam hati serta otak sendiri tanpa mau melihat ke sekitar atau sekedar mencoba untuk membandingkannya. 

Lalu sebuah kesombongan karena memang tulisan itu didasari oleh keyakinan bahwa saya ini mampu dan “lebih” dari orang-orang yang ada di sekitar. 

Tapi juga sebuah kebodohan karena pada kenyataan, berdasarkan hasil yang telah ditetapkan dan diakui oleh kebanyakan orang, saya itu tak lebih dari seorang yang hanya mampu berkata-kata tapi tak memiliki makna, tak memiliki sebuah kecerdasan dibandingkan orang lain.

Saya katakan itu karena itu adalah senyatanya apa yang terjadi. Karena hal itu terus terjadi berulang kali. Bila hanya terjadi untuk sekali atau dua kali, saya masih mampu mengatakan bahwa itu sebuah kebetulan atau ketidakberuntungan. Tapi bila terus terjadi setiap waktu, maka saya harus segara bangun dan berintropeksi diri.

Sehingga itu-lah yang yang terjadi sekarang ini.

Di akhir masa pendidikan selama 4 (tahun) di kampus ini. Sebelum nantinya saya melangkahkan kaki dan hidup di dunia nyata, saya harus terlebih dahulu menyadari siapa sebenarnya diri ini.

Ya, predikat untuk diri ini telah secara resmi dikeluarkan oleh lembaga pendidikan sehingga saya tak bisa lagi untuk mengelak atau mencari-cari sejuta alasan. 

Tak ada lagi pembenaran bahwa saya sebenarnya “lebih”. Kini saya harus sadar dengan segala kesadaran yang ada, bahwa saya hanya “biasa”. Nilai itu telah lebih dari cukup membuktikan.

Saya harus kembali menata diri, melakukan konsolidasi diri. Melakukan segala pembenahan untuk setiap mimpi dan pemikiran yang ada terhadap diri sendiri. Bukan dalam artian takut untuk bermimpi, tapi dalam artian bermimpi dalam batas kemampuan yang saya miliki. Kemampuan yang diakui oleh kebanyakan orang di negeri ini bukan oleh standar yang hanya dipahami sendiri!

Cukup bagi saya untuk berharap tinggi hanya didasari oleh kesombongan diri, mulai saatnya kini saya untuk jangan lagi kecewa karena kemudian segala harapan itu tak mampu terwujud menjadi sebuah kenyataan. 

Itu bukan kesalahan harapan, tapi kesalahan itu terletak pada orang yang membuat harapan.

Maksud saya adalah memang tidak ada yang tak mungkin di dunia ini, tapi segala yang tak mungkin itu tetap harus kita teliti dari segala kemungkinan yang sesuai dengan kondisi yang kita miliki. Seperti misalnya, seseorang yang berharap untuk bisa terbang, tentu harus segera merevisi harapannya itu karena dia sangat mungkin untuk kecewa.

Contoh seperti itu harus segera saya terapkan, cukup saya menjadi manusia yang kecewa karena harapan yang terlalu tinggi dan tak sesuai dengan kemampuan itu hanya di sini, di lembaga ini. 

Sesaat setelah nanti saya menginjakan kaki meninggalkan segala yang ada di kampus ini, saya harus benar-benar menjadi seseorang yang realistis. Tak harus melulu optimis, cukup realistis. Kalaupun optimis tetap dalam lingkaran realistis.

Dan kini, saya harus menghadapi malu terhadap diri sendiri dan mungkin beberapa orang yang juga telah saya “jejali” segala harapan yang saya miliki. 

Bahwasanya saya tak mampu untuk mewujudkan segala harapan itu dan bahwasanya orang-orang itu akan melihat secara nyata siapa saya sebenarnya. 

Karena seseorang itu bukan berdasarkan harapan yang dia miliki tapi seseorang itu adalah tentang apa yang mampu yang dia capai secara nyata. Harapan itu hanya harapan.

Melihat segala harapan yang saya telah miliki, dan kenyataan yang sekarang telah terjadi, maka pantas bagi saya untuk menyematkan diri ini sebagai pecundang. Tak ada kebanggaan, tak ada harga diri.

Sekian dan tak ada #PMA.