Jumat, 28 September 2012

( masih ) D4 atau S1 ?

Ini masih tentang permasalahan yang sama, tentang tema lama yang kini kembali menghangat sehingga patut dan wajar untuk kembali saya perbincangkan. ( baca : D4 atau S1 ?, Munafik ?

Tulisan ini juga merupakan salah satu upaya saya untuk “membenarkan” teori serta pemikiran yang saya miliki berkenaan dengan D4 dan S1. 
Ini adalah upaya saya untuk semakin memantapkan hati, terus teguh terhadap idealisme yang saya miliki, berusaha untuk tidak tergerus oleh doktrin maupun pandangan umum masyarakat luas lainnya, mencoba untuk tetap yakin walau sendiri melawan dunia karena tak akan menjadi masalah untuk saya menjadi minoritas yang tertindas diantara banyaknya mayoritas berkelas, sejauh saya berada di jalur yang benar. 

Keyakinan saya adalah D4 dan S1 itu adalah dua hal yang berbeda, berbeda dalam jalur serta jenjang pendidikan, berbeda dalam hal tujuan serta hasil pendidikan yang dihasilkan. 
Jadi kenapa harus juga dipertentangkan? 
Kenapa kemudian harus ada pemahaman bahwa S1 itu setingkat lebih baik daripada D4? 
Kenapa D4 harus diidentikan dengan orang-orang yang tidak jauh lebih pintar atau cerdas daripada orang-orang yang masuk ke dalam S1? 
Kenapa? 

Pertanyaan itu dan segala pertanyaan yang sejenis itu, sungguh sangat mengganggu logika serta nurani saya, orang lain mungkin menganggap hal itu bukan suatu permasalahan yang besar, tapi bagi saya hal itu adalah suatu pembunuhan terhadap logika berpikir dan dalam pemikiran saya, segala hal yang mampu untuk membunuh logika berpikir manusia atau tidak sejalan dengan rasional serta nurani manusia maka hal itu wajib untuk dikritisi, dibenahi untuk kemudian mampu menjadi sesuai dengan logika dan nurani. 

Dan ini adalah argumen itu : 
- Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, program sarjana, program magister, program doktor, dan program profesi, serta program spesialis, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia. ( Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 UU No. 12 tahun 2012 tentang PT ) 
- Pendidikan akademik merupakan Pendidikan Tinggi program sarjana dan/atau program pascasarjana yang diarahkan pada penguasaan dan pengembangan cabang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. ( Pasal 15 ayat (1) UU No. 12 tahun 2012 tentang PT ) 
- Pendidikan vokasi merupakan Pendidikan Tinggi program diploma yang menyiapkan Mahasiswa untuk pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu sampai program sarjana terapan. ( Pasal 16 ayat (1) UU No. 12 tahun 2012 tentang PT ) 
- Program sarjana merupakan pendidikan akademik yang diperuntukkan bagi lulusan pendidikan menengah atau sederajat sehingga mampu mengamalkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui penalaran ilmiah. ( Pasal 18 ayat (1) UU No. 12 tahun 2012 tentang PT ) 
- Program sarjana menyiapkan Mahasiswa menjadi intelektual dan/atau ilmuwan yang berbudaya, mampu memasuki dan/atau menciptakan lapangan kerja, serta mampu mengembangkan diri menjadi profesional. ( Pasal 18 ayat (2) UU No. 12 tahun 2012 tentang PT ) 
- Program diploma merupakan pendidikan vokasi yang diperuntukkan bagi lulusan pendidikan menengah atau sederajat untuk mengembangkan keterampilan dan penalaran dalam penerapan Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi. ( Pasal 21 ayat (1) UU No. 12 tahun 2012 tentang PT ) 
- Program diploma menyiapkan Mahasiswa menjadi praktisi yang terampil untuk memasuki dunia kerja sesuai dengan bidang keahliannya. ( Pasal 21 ayat (2) UU No. 12 tahun 2012 tentang PT ) 
- Program diploma terdiri atas program : a. diploma satu; b. diploma dua; c. diploma tiga; dan d. diploma empat atau sarjana terapan. ( Pasal 21 ayat (3) UU No. 12 tahun 2012 tentang PT ) 

Setelah membaca poin-poin di atas, setelah memahami itu semua, dengan segala logika dan nurani yang anda miliki, masihkah layak kita semua berpikir bahwa S1 itu lebih baik dariapada D4? 

Lalu bagaimana dengan keinginan saya? Mana yang akan saya pilih? D4 atau S1? 
Entah, secara idealisme, saya ingin mendapatkan jenjang pendidikan diploma 4 karena memang itu-lah tujuan awal saya masuk ke IPDN, saya ingin mendapatkan ilmu terapan pemerintahan. Apalagi kemudian saya juga memilki hasrat untuk bisa aktif dan berpartisipasi dalam Organisasi Keprajaan yang ada di IPDN Kampus Pusat. 
Tapi apabila nantinya ternyata saya masuk ke program S1 maka saya pun tidak akan melakukan resistensi walau hal itu tidak sesuai dengan keinginan saya, saya akan jalani dan mencoba loyal terhadap segala apa yang diputuskan oleh lembaga. 
Saya hanya ingin segala pemahaman yang salah berkenaan dengan D4 dan S1 itu bisa hilang dan lembaga pun bisa berada di garda terdepan untuk meluruskan segala pemahaman itu.

Selasa, 25 September 2012

Munafik ?

Dan apakah saya ini seorang yang munafik?  

Sebuah pertanyaan yang seketika menyeruak muncul ke permukaan, tak terlontar oleh mulut, cukup berbisik hangat dalam hati, seakan terdapat dua manusia yang berbeda, mereka saling berbincang saling melempar tanya, pertanyaan yang sama, apakah saya ini munafik? 

Banyak teori yang telah saya pelajari, sialnya saya ini bermulut besar, saya hanya tak bisa untuk tinggal diam, selalu ingin terlibat dalam segala hal, selalu ingin mencampuri segalanya, selalu ingin mengatur semuanya sesuai dengan apa yang ideal dalam pemikiran saya, sehingga ya akhirnya saya pun banyak berucap, mengoceh kesana kemari tentang segala hal yang sangat ideal. 

Saya seperti itu sungguh sangat sadar, saya tau konsekuensi yang harus saya terima, saya pun tak ingin menjadi orang yang tak bisa untuk konsisten jadi ketika saya berucap A maka tindakan saya pun akan A atau setidak-tidaknya berusaha untuk menjadi A. 

Saya selalu berusaha untuk konsisten, kuat pendirian, tak mudah untuk goyah, menyelaraskan apa yang saya ucapkan dengan apa yang saya lakukan. 
Sesederhana itu. 

Tapi kali ini sungguh berbeda, silahkan kalian semua liat dan telaah terlebih dahulu tulisan ini D4 atau S1 ?, setelah itu silahkan kalian simpulkan sendiri apa yang saya maksudkan dalam tulisan itu. 

Dan sekarang, ketika tanpa ada angin, tanpa ada sedikit pun pertanda, tiba-tiba muncul sebuah kabar, kabar yang jujur saya akui sedikit banyaknya mengganggu kenyamanan otak serta rasa ini. 
Secara teori, secara pemikiran ideal dalam diri ini, saya tidak berkeberatan bahkan tidak terlalu memperdulikan akan mendapat gelar apa saya ini nantinya, tapi kemudian semua itu sekarang sedikit berbalik, entah karena saya telah termakan oleh doktrin yang ada bahwa mereka yang terpilih itu adalah mereka orang-orang yang pintar, orang-orang cerdas yang walaupun secara teori yang saya pahami hal itu sungguh sangat tidak benar tapi siapa di dunia ini yang tak ingin mendapat label positif? siapa? siapa?! 

Semua orang ingin di-cap orang baik walaupun tingkah lakunya tidak sedikit pun menunjukan orang baik. 
Ironi! 

Mereka bangga dengan segala label positif walaupun mereka tau mereka tidak sedikit pun mendekati label postif itu atau bahkan untuk sekedar mampu mempertanggungjawabkannya. Kita masih senang dengan kemasan yang indah daripada kualitas yang terdapat dalam kemasan itu. 
Tapi mau bagaimana? 
ini-lah dunia, walaupun pemikiran saya ini benar tapi apa pedulinya orang di luar sana?

Minggu, 23 September 2012

Melawan Malas

Saya sungguh membenci situasi seperti ini, situasi yang tidak sering untuk terjadi tapi sering kali setiap dia datang menghampiri maka dia akan mengganggu kenyamanan hidup ini.

Entah karena malas atau entah karena masalah apa, sebuah sebab yang selalu rancu, samar, tak pernah saya ketahui secara pasti sehingga tak bisa juga saya selesaikan secara menyeluruh karena ketika masalah itu tak mampu untuk terdefinisi maka solusi pun tak akan pernah mampu untuk menanggulangi. 

Padahal akibat yang ditimbulkannya sudah mampu untuk saya ketahui. 
damn! 

Saya pun curahkan itu semua dalam sebentuk status dalam akun jejaring sosial milik saya, curahan itu pun bukan murni ide dari saya pribadi tapi juga merupakan sebuah caduran dari sebuah blog indah, sebuah bloh sungguh sangat inspiratif, Bumi Accilong
Dan ini-lah curahan itu : 

"Kepala saya sedang tidak berdamai dengan waktu. Ide sepertinya terbang menjauh satu per satu, dan jejari motorik rasanya begitu malas menari indah di atas papan ketik atau meliuk indah melukiskan kata di atas kertas walau hanya secarik. Ya, kertas itu tak bermakna tanpa kata, ide itu tak berbekas tanpa terlukis oleh kuas. Hidup itu harus berpikir, hidup itu harus merasa, hidup itu kemudian harus bertindak dan hidup itu harus bicara. Hidup tidak diam. Jadi, ketika kita hidup tanpa ada jejak, tanpa ada bukti bahwa anda itu pernah berpikir, pernah merasa, pernah mempunyai ide, pernah melakukan tindakan dan juga pernah bicara, apa benar kita ini telah hidup? Maka tolong, kembali lah wahai kemampuan untuk menulis, dekap lagi erat tubuh dan jiwa ini." 

Ya, saya kehiilangan "daya magis" untuk kembali menulis. 
Hal ini menjadi sangat penting untuk saya, karena hidup bagi saya berarti tidak diam, harus berbekas, harus juga meninggalkan jejak. 
Saya harus mempunyai sebuah bukti bahwa seorang Adima Insan Akbar Noors itu pernah ada, eksistensi seorang saya harus mampu untuk terbuktikan nyata, terlebih juga harus mampu untuk memberikan sebuah masukan positif bahkan juga untuk menginspirasi. 
hmmm... 

dan bukankah bukti nyata seorang akademisi adalah membaca dan menulis?

Minggu, 16 September 2012

This Is War!

Status Ustadz felix Siauw : saat Rasululah dihina | minimal seorang Muslim harus marah, dan sampaikan ketidaksukaannya sampai berhenti penghinaan itu logikanya begini | bila Allah aja bershalawat kepada Nabi, maka kita harusnya lebih bershalawat kan ? | nah, Allah larang Nabi dihina, kita? tapi ya itu-lah, di kondisi sekarang, orang banyak berlindung dibalik HAM dan demokrasi untuk menghina agama | katanya freedom of speech, lha kalo Muslim malah alasan ini dan itu, dan mendiamkan penghinaan itu | kita wajib bertanya-tanya, nyisa nggak tuh iman di hati? nggak usah Nabi deh, ibu kita aja deh | kalo dihina sama orang dan difitnah ? minimal harus ada rasa nggak suka kan ? ini Nabi loh ? dulu saya masih inget, pas baru Muslim, ada penghinaan terhadap Nabi | saya turun ke jalan, ikutan gelar aksi protes, harus ada suara ada org kafir bilang begini "Nabi mah nggak usah dibela, dia bisa bela diri kali" | saya jawab, "beda denganmu yg nggak peduli sama nabimu!" org kafir, di barat yesus jadi bulan-bulanan karikatur, jokes, segala macem hinaan lain, santai aja | Muslim nggak, mereka cinta Nabinya Rasul nggak akan marah kalo dirinya dihina | tapi shahabat? marah besar | dan Rasul diamkan itu, artinya membela Nabi itu adalah perbuatan terpuji zaman dulu, pas Islam masih ada Khilafah, masih ada kekuatan | nggak kebayang orang kafir untuk insult Islam masih inget saat Inggris mau sandiwara ttg Nabi di panggung | Khalifah bilang "kalo masih berani, besok kami serang" | nggak jadi tuh Phillip K. Hitti dalam “History of Arabs” nulis | "saat itu satu telunjuk khalifah bisa menggerakkan jihad seantero dunia Islam" ulama2 fiqh jelas ngasi hukum terhadap yg menghina Nabi | suruh mereka berhenti, kalo nggak maka layak disukabumi-kan, atau balikpapan-kan bukan kasar, bukan kejam | tapi memang orang kafir itu suka sengaja bikin ribut | kita adem2 aja, eh dia malah nyolot ummat Muslim nggak pernah minta masalah | tapi nggak boleh lari kalo ada masalah | lo jual gue borong kt bang ben jadi sikap minimal adalah marah atas penghinaan thd Nabi | kemudian suarakan itu sampai berhenti penghinaan thd Nabi tapi marah tentu bukan dengan caci maki, apalagi bales hina Nabi agama lain | ada marah yg elegan, ada cara yang disyariatkan tapi kalo sampe santai-santai aja Muslim yg tau Nabinya dihina? | kita doakan aja deh agar kembali ke jalan lurus.. "marah elegan" itu adl marah tanpa balas mencaci, mendidik agar dia berhenti menghina, dan ingatkan konsekuensi kl mereka nggak berhenti "marah elegan" itu ingatkan santun | di dalam Islam ada hukuman mati, bagi yg menghina Nabi dan nggak berhenti saat sudah dinasihati pengalihan isu: "terus pemboman dubes AS gara2 penghinaan nabi? bakar bendera? bener tuh?" | eh, itu nggak kan terjadi kl gak ada penghinaan banyak orang bahas tentang AKIBAT masalah penghinaan terhadap Nabi | tapi abai terhadap PENYEBAB masalahnya adl penghinaan itu sendiri ya kalo nggak mau ada Muslim yg marah | jangan hina Nabi mereka, jangan publikasikan, mudah banget kan? you mention about the killing, flag burning and bombing | but you forgot who started it in the first place kalo kita nggak setuju demokrasi, langsung dicap teroris | mereka hina Nabi, alasan "ini HAM dan demokrasi" | pinter! 


Topik hangat yang kini sedang dan akan terus dibicarakan semua orang, terkhusus bagi mereka yang beragama Islam di seluruh belahan dunia. Tak cukup dengan segala kejadian yang telah lalu, orang-orang kafir itu terus dan terus menghina dan mencaci salah satu agama dan memang pada hakikatnya merupakan satu-satunya agama yang benar dan di-ridhoi oleh Allah Swt. di muka bumi ini. 

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam jadi agamamu." 
(QS. AL-MAIDAH, 5:3) 

Ketika dulu mereka menuduh Muslim itu sebagai teroris, membuat sebuah karikatur Nabi Muhamad Saw., membakar dan mengajak semua orang untuk membakar Al-Qur’an dan kini mereka, orang-orang kafir, itu kembali berulah dengan membuat sebuah film pendek, mereka edarkan luas di situs video ternama di dunia ini, sebuah film yang dengan sangat gamblang, sangat vulgar menghina, mencaci, merendahkan harkat martabat, bukan umat Islam tapi lebih dari itu mereka menghina dan merendahkan Nabi besar, panutan utama umat Islam yaitu Nabi Muhamad Saw. 

Saya pribadi belum mempunyai suatu keberanian untuk melihat dan menonton film itu, saya takut, saya takut ikut terbawa arus provokasi. Tapi itu tidak berarti saya bersikap acuh terhadap segala pemberitaan mengenai hal ini, saya tetap terbuka dan mengikuti setiap perkembangan berita yang ada. Sehingga saya pun ikut dalam barisan penentang dan memang sudah seharusnya setiap umat Islam bersuara keras juga lantang terhadap segala bentuk penghinaan terhadap agama kita! 

Tapi kemudian terbersit dalam benak saya, perlawanan seperti apa yang harus kita lakukan? Jauh dalam benak saya, menurut logika saya, dewasa ini, di zaman ini, sebenarnya semua orang, entah itu Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha atau agama apapun dan bentuk apapun kepercayaan yang ada di dunia pada hakikatnya, pada dasarnya telah dengan sangat sadar memahami atau setidak-tidaknya mengetahui bahwa agama Islam dan umatnya itu tidak pernah sedikit pun mengajarkan suatu kemudharatan apalagi kekerasan. Bahkan segala bentuk cacian yang saya pikir tidak masuk akal seperti halnya penggambaran secara visual maupunn audiovisual terhadap Nabi Muhamad Saw. merupakann suatau hal yang sangat tidak relevan dan saya yakin mereka pun telah mengetahui hal itu. 

Sehingga saya meyakini bahwa tujuan utama mereka membuat hal-hal itu, menghina serta merendahkan agama Islam beserta semua hal yang menyertainya bukan ditujukan untuk merubah pemahaman orang-orang di dunia ini, tapi mereka membuat itu semua hanya untuk memprovokasi umat Islam itu sendiri, membuat suatu kekacauan dan “memaksa” umat Islam untuk senantiasa berbuat anarki dan melakukan serangkain aksi kekerasan lainnya sehingga apabila umat Islam berbuat demikian maka semakin sulit bagi umat Islam untuk bersatu dan akan semakin menguatkan teori yang dibuat oleh orang-orang kafir itu bahwa umat Islam sangat dekat dengan sebuah kekerasan. 

Ya, itu-lah yang mereka harapkan, melakukan serangkaian provokasi yang sangat sistematis dan sangat terencana dengan matang dan sialnya bagi kita umat Islam kita telah terjebak dalam grand design kekecauan yang mereka ciptakan itu. Orang-orang kafir, orang-orang yahudi itu sangat pintar bahkan cerdas, mereka tidak akan bertindak tanpa sebuah pemikiran matang dan perencanaan panjang, mereka tak akan melangkah tanpa terlebih dahulu mengetahui apa yang akan terjadi nantinya ketika mereka melangkan kakinya itu sehingga sebenaarnya di dunia ini telah masuk dalam rancangan besar mereka. Itu karena kita, umat Islam, terjebak dalam respon seperti yang telah mereka pikirkan! 

Lalu bagaiamana kita seharusnya? Protes, marah dan melawan untuk harga diri agama adalah sesuatu hal yang wajib kita lakukan, tapi seperti yang telah Ustadz Felix katakan kita harus mampu untuk bersikap “elegan”, bersikap dan bertindak cerdas juga tuntas serta dimulai dari segala hal kecil karena lawan yang kita hadapi sudah terintegrasi dalam sebentuk sebuah Negara. Sebuah Negara tak akan mampu untuk dilawan hanya oleh sekelompok atau beberapa kelompok, tapi juga harus kita lawan dalam satu kesatuan Negara dan permasalahannya adalah umat Islam itu belum mampu untuk menjadi satu dalam payung sebuah Negara dan oleh karena itu kita masih belum mampu untuk melawan mereka itu secara utuh dan menumpas mereka hingga ke akarnya, sampai pada saatnya nanti kita telah menyatu dalam satu payung hukum atau biasa kita menyebutnya khilafah dan khalifah, maka mereka pun akan terus “berkuasa”. 

Jadi, apa yang bisa untuk sekarang kita lakukan adalah jangan pernah sekalipun kita bersikap acuh apalagi apatis terhadap segala hal yang berkenaan agama kita. Kita harus mampu berjuang sesuai dengan apa yang kita milki, sesuai dengan kemampuan yang kita punyai. Mari bersikap elegan kawan. 

Fight doesn’t mean that we have to raise our weapon! 
Let’s fight with our brain, let’s start a cold war, a psy war and a war of mind.

Kamis, 06 September 2012

Lalu Apa? Lalu Bagaimana?

On The Way to the Parade Field
Yudicium ang. XXI ( madya )

PROSES ATAU HASIL, PROSES YANG BENAR ATAU HASIL YANG BAIK, JUJUR DAN BERPRESTASI, dan DENGARKAN CURHATKU, merupakan tulisan-tulisan saya berkenaan dengan kritik saya terhadap realita dunia pendidikan yang ada di dunia ini, atau mungkin hanya di Indonesia atau bahkan hanya ada di perguruan tinggi kedinasan tempat saya menuntut ilmu sekarang ini. Tulisan-tulisan itu juga mencerminkan sebentuk kekecewaan saya terhadap diri saya pribadi yang belum mampu untuk mendapatkan hasil seperti apa yang saya telah cita-citakan juga rencanakan. Saya masih belum mampu untuk mendapatkan suatu tatanan kehidupan ideal selayaknya teori-teori kehidupan ideal seharusnya serta sejalan dengan logika rasional manusia apa adanya.

Saya tidak akan menjadi sombong dan tak akan mau menjadi seperti itu sehingga sebelum saya berteriak lantang keluar, dengan sangat hati-hati saya terlebih dahulu bercermin secara utuh, melihat diri hingga dalam, mengevaluasi, menganalisis, berintrospeksi diri terhadap segala apa yang terjadi, apa yang telah saya lakukan, apa yang tidak saya lakukakan, tujuan saya melakukan segala hal beserta segala niatan hati yang ada menyertainya, semua dan semua saya coba kembali pikirkan hingga ke hal-hal kecil, detail tak mau sedikit pun saya lewati, saya ingin mendapatkan lengkap segala sesuatunya secara utuh sehingga mampu seimbang apa yang saya simpulkan.

Saya tidak sempurna dan semua orang pun begitu, saya tidak ingin hal itu menjadi pembenaran ketika saya berbuat salah atau pembenaran untuk bersikap pasrah tak mau berubah, tak mau berbenah menjadi lebih baik atau juga pembenaran untuk sikap kita yang nyaman hidup tenang di zona aman. Akh! Itu tindakan orang-orang yang tak berani untuk melihat ke depan, tak siap untuk menerima perubahan, tak mau untuk berdaptasi dengan perubahan sehingga bersembunyi di bailk tameng ketidaksempurnaan.
Saya tidak begitu, ya saya tidak begitu atau setidaknya saya berusaha untuk tidak seperti itu walaupun dalam beberapa kesempatan dalam beberapa pilihan tak jarang saya memilih untuk berdiam di zona yang aman, tapi itu sungguh bukan tanpa alasan.

Saya rasa, selama saya di dunia pendidikan ini, setelah terlepas lepas dari jeratan kehidupan anak remaja berbaju putih-abu, saya selalu terus berusaha untuk berbuat baik, selalu berusaha untuk mengikuti apa yang telah ditetapkan dalam setiap peraturan, bersikap sesuai dengan kondisi yang ada, berpikir untuk jauh ke depan, saya rasakan saya tidak pernah berani untuk berbuat salah atau sedikit saja melenceng dari aturan, saya menjadi orang yang kaku yang segalanya harus bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan, saya rasakan idealisme itu tumbuh dalam diri ini, terfasilitasi oleh keadaan yang ada.
Karena bukankah di dunia pendidikan adalah tempat kita mendapatkan ilmu? Tempat kita untuk berbuat salah untuk kemudian berbenah, tempat kita untuk menjadi orang yang baik dan juga benar, tempat kita menerapkan segala kehidupan ideal yang belum tentu mampu untuk diterapkan utuh dalam dunia nyata, itu-lah dunia pendidikan, iya kan?

Sehingga dengan semua hal itu, bukan maksud hati saya untuk menjadi seorang penjilat, menjadi seorang yang sok idealis, atau label negatif lainnya, saya hanya ingin melatih dan membiasakan diri saya terhadap segala hal yang benar, saya hanya ingin benar-benar memanfaatkan masa pendidikan ini dengan cara yang sebenar-benarnya, jadi ini-lah saya yang sekarang ini seseorang yang selalu berusaha untuk menaati aturan, mencoba untuk menerapkan kehidupan yang ideal.

Di sini-lah letak permasalahan itu muncul, ketika segala rasa ideal itu muncul dalam diri dan mampu untuk terpahami serta terimplementasikan nyata dalam sikap sehari-hari, segala pertentangan pun silih berganti muncul ke permukaan, dan saya pun pernah lelah dibuatnya seperti yang telah saya curahkan dalam PENYESUAIAN.
Ternyata tidak semua orang ( peserta didik ) juga berpikiran dan bersikap ideal selayaknya seorang dalam dunia pendidikan, tidak jarang bahkan kebanyakan dari mereka yang sudah memilih sejak dari dunia pendidikan untuk bersikap pragmatis dalam segala hal. Tak hanya di situ, lembaga pendidikan tempat dunia pendidikan itu diselenggarakan pun seperti memberi celah terhadap segala sikap pragmatis yang ada, sehingga tak ada “keadilan” dan “keseimbangan” di dalamnya.

Pembahasan saya kemudian tidak akan terlalu luas saya liarkan, saya hanya akan mengambil satu contoh nyata, juga satu-satunya contoh yang akan selalu saya perdebatkan, seperti apa yang telah saya tuliskan di dalam tulisan saya yang telah lalu. Seharusnya, peserta didik itu mengejar suatu pemahaman, keterampilan dan perubahan sikap dalam setiap ilmu, mata kuliah, pelatihan yang mereka dapatkan sehingga apabila mereka telah paham, terampil maka nilai bagus pun akan datang mengikuti, akan datang dengan sendirinya.
Tetapi senyatanya di lapangan, peserta didik hanya mengejar nilai bagus semata sehingga pemahaman dan keterampilan tidak terlalu mereka risaukan. Mereka jauh lebih bangga, jauh lebih merasa hebat apabila mendapatkan nilai yang tinggi tapi sebenarnya pemahaman mereka, keterampilan mereka terhadap ilmu tersebut tidak setinggi nilai yang mereka dapatkan.
Lalu bagaimana mungkin mereka mendapatkan nilai yang tinggi tanpa mempunyai pemahaman atau keterampilan yang baik dalam suatu displin ilmu?
Ini-lah yang saya sebut bahwa lembaga pendidikan pun masih bersikap pragmatis terhadap permasalahan ini, lembaga pendidikan masih “mentolerir” hal-hal yang bertentangan dengan sikap-sikap di luar sikap seorang akademisi, lembaga pendidikan masih memberikan “celah” untuk setiap peserta didik yang ada melakukan segala hal “kecurangan” itu. Contohnya? Oh, harus kah saya sebutkan apa tindakan itu? Ayo-lah kita semua telah tau apa yang biasa peserta didik lakukan untuk mendapatkan nilai yang baik tanpa melalui cara-cara yang benar!

Proses dan hasil bukan merupakan pilihan pada hakikatnya, ini merupakan sebuah sebab akibat pada seharusnya. Ketika kita berproses dengan benar maka kita pun seharusnya mendapatkan hasil yang baik dan begitu juga sebaliknya tapi kehidupan mempunyai segala rahasia di dalamnya sehingga 1 + 1 pun tidak serta merta bisa menjadi 2. Ini-lah yang sampai saat ini belum mampu untuk saya pahami serta terima, karena terlebih saya sedang berada dalam dunia pendidikan, bukan di dunia “nyata”. Keadaan ini sungguh telah membuat saya muak juga lelah, sehingga pada akhirnya saya memutuskan untuk benar-benar tidak peduli dengan segala nilai yang saya dapatkan.
Saya pikir sejak UTS semester 4 yang lalu, saya tidak lagi terlalu berhasrat untuk mengetahui nilai apa yang saya dapatkan, saya hanya perlu tau apakah nilai saya keluar atau tidak, apakah saya mempunyai masalah dengan dosen atau tidak, cukup pada hal seperti itu. Terlalu banyak kepalsuan dalam nilai yang ada!
Saya tidak terlalu merisaukan permasalahan nilai ketika saya sadar dan mengetahui bahwa saya memang telah paham atau bahkan menguasai ilmu tersebut karena setiap pribadi manusia dalam lubuk hatinya yang jauh terbebas dari godaan duniawi, kita semua telah tau nilai apa yang pantas diberikan untuk diri kita sesuai dengan apa yang kita usahakan dan kerjakan. Saya pikir kualitas diri saya tidak akan pernah mampu ternilaikan oleh angka maupun huruf semata, kualitas diri ini akan terlihat nyata oleh kinerja yang ada! Cukup dan cukup seperti itu.

Terkadang saya ingin tertawa melihat dan mendengar orang yang dengan marahnya memrotes nilai yang dia dapatkan karena dia nilai kecil atau jelek padahal sungguh kualitas dirinya jauh di bawah nilai yang telah dia dapatkan. Orang-orang kita mungkin telah gila, atau terganggu kewarasannya karena mereka tak mau dilabeli bodoh, bejat tapi sungguh perbuatan mereka sangat bodoh dan bejat, aneh ‘kan?
Hahaha

 Jadi, dengan segala pemikiran itu, menyambut hari esok atau tepatnya hari Jumat, tanggal 7, bulan September tahun 2012, yang insya Allah akan diselenggarakan kenaikan tingkat juga pangkat ( Yudicium ) bagi seluruh satuan praja IPDN, baik yang ada di Kampus Pusat maupun seluruh Kampus Daerah, saya hanya ingin berdoa untuk mampu mendapatkan segala yang terbaik dan sesuai dengan apa yang telah saya usahakan selama setahun saya menjadi Madya Praja dan semoga tak ada satupun diantara kami yang ditahan kenaikan tingkat serta pangkatnya. Saya tidak akan berharap lebih karena sekali lagi kualitas diri ini tak akan pernah mampu terwakili oleh sebuah nilai dalam balutan angka ataupun huruf.
Wish me luck!

Sabtu, 01 September 2012

Apresiasi dan Sanksi

Secara tidak langsung tulisan ini menyambung juga apa yang telah saya tuliskan dalam WEIRDO. Bila mungkin anda semua masih ingat, WEIRDO, saya buat sebagai salah satu upaya saya dalam memaknai hari kemerdekaan Indonesia juga sekaligus sebagai sebuah kritikan terhadap beberapa kebiasaan buruk yang ada dalam masyarakat kita. Sebuah kebiasaan yang semakin menjadi ironi apabila kita lihat dari sudut pandang semangat proklamsi yang ada pada tanggal 17 Agustus juga semangat kejujuran serta keikhlasan yang ada pada bulan Ramadhan. 
Pun dalam tulisan ini saya kembali akan mengangkat tema itu, tema yang berkaitan dengan kebiasaan buruk kita semua, yang telah membudaya, telah melembaga dalam jiwa raga. 

Sudah menjadi sebuah aturan tidak tertulis dalam kehidupan umat manusia apabila sesuatu hal itu telah menjadi sesuatu hal yang biasa, tidak ada yang melarang, tidak ada yang mengoreksi, maka hal itu akan dianggap sebagai suatu hal yang lumrah dan akhirnya bahkan dianggap sebagai suatu hal yang benar. Ya, kita seringkali membenarkan apa yang telah menjadi kebiasaan bukan membiasakan apa yang benar. Aneh ‘kan? 
Kebiasaan yang saya maksud disini adalah kecenderungan kita untuk menganggap biasa apa yang benar dan membesar-besarkan segala hal yang salah, secara sangat umum sebenarnya hal ini telah juga saya bahas pada WEIRDO akan tetapi dalam tulisan ini saya akan mencoba untuk membahasnya secara lebih spesifik dengan kasus yang benar-benar nyata ada dan terjadi. 

Seperti yang telah saya tuliskan dalam INI BUKAN BENTUK PERLAWANAN, HANYA MASUKAN, kampus tempat saya menuntut ilmu ini baru saja memberikan kami, peserta didik, dinas cuti selama kurang lebih dua minggu terhitung mulai tanggal 11 Agustus s.d. 26 Agustus 2012, akan tetapi karena dalam pelaksanaannya terdapat beberapa kontroversi dalam penetapan dinas cuti itu maka kemudian banyak diantara kami yang merasa kecewa dan mereka menunjukan perasaan kecewa itu dengan cara datang terlambat ke kampus atau dengan kata lainnya tidak menaati surat keputusan berkenaan dengan dinas cuti itu. 
Ada banyak alasan yang mereka kemukakan untuk kemudian membenarkan keterlambatannya, bahkan kebanyakan dari alasan yang mereka “gunakan” sangat masuk akal dan bila didengar sekilas bukan seperti sebuah alasan yang mengada-ngada. Tapi, sekali lagi, pada hakikatnya, secara normatif aturan apa yang meraka lakukan secara jelas telah melanggar aturan dan disini-lah letak permasalahan yang ada, yang cukup mengusik ketenangan diri saya pribadi. 

Total dari sekitar 195 peserta didik yang ada di kampus ini, hanya 101 orang yang mampu untuk datang tepat pada waktunya sedangkan selebihnya belum bisa untuk datang sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Dengan fakta bahwa kegiatan di kampus belum efektif karena memang tahun ajaran baru belum bisa dimulai, baru akan dimulai pada tanggal 10 september 2012, maka kami yang telah mampu datang tepat pada waktunya tidak memilki kegiatan seperti yang biasanya, sesuai dengan siklus kehidupan yang seharusnya. 
Permasalahan tidak lantas berhenti hanya pada kekosongan kegiatan yang ada di kampus tapi menjadi juga bertambah pada permasalahan lain, yaitu permasalan psikologis peserta didik yang ada. Kami atau mereka yang telah mampu datang tepat waktu merasa tidak mendapatkan suatu apresiasi tapi di sisi lain sanksi bagi mereka yang datang terlambat pun belum jelas bentuk dan jenisnya. Secara jelas dapat kita lihat ada sebuah ketidakadilan di sini karena ketika prestasi tidak mampu untuk diapresiasi lalu deviasi tidak diberi sanksi, maka bagaimana tatanan ideal itu bisa terwujud? 
Atau seringkali deviasi itu mampu untuk diberi sanksi tapi kemudian prestasi terlupakan untuk diapresiasi, ini pun bukan suatu bentuk yang ideal karena mereka yang berprestasi lambat laun akan merasa bosan, tak ada motivasi, tidak ada dorongan untuk terus berprestasi sehingga prestasi mereka akan stagnan bahkan akhirnya mereka pun akan masuk pada kelompok yang melakukan deviasi. 

Apa yang ingin coba saya sampaikan adalah hal-hal kecil ini terlalu sering untuk kita biarkan dan tanpa disadari hal ini menjadi sebuah virus yang merusak psikologis orang-orang yang telah atau sedang berusaha berbuat baik. Ini bukan tentang permasalahan ikhlas atau tidak ikhlas, pamrih atau tidak pamrih, kewajiban atau hak dalam berbuat baik, tapi diapresiasi, dipuji, dipuja, disanjung ketika seseorang itu berbuat baik merupakan sebuah kebutuhan dalam diri seorang manusia karena manusia itu ingin untuk selalu bisa dianggap “ada”, diperhatikan eksistensinya, ini keniscayaan, ini hukum alam, ini sunatullah. 
Hal ini juga tidak berbeda jauh dengan apa yang dikatakan oleh Maslow, yang membagi kebutuhan dasar manusia atas lima kelompok kebutuhan, yaitu : 1) kebutuhan akan makan, minum dan sex; 2) kebutuhan akan rasa aman baik moril maupun materil; 3) kebutuhan untuk bergaul; 4) kebutuhan untuk dipuji;dan 5) kebutuhan untuk berprestasi. Sehingga sistem reward dan punishment itu memang sangat penting untuk terapkan dalam segala segi kehidupan, diberikan secara berjenjang, bertingkat dan berkelanjutan secara sangat sistematis dengan dasar hukum yang juga jelas dan pasti. 

Ini penting, sekali lagi ini sangat penting, tidak hanya terkhusus untuk di dunia kerja tapi juga harus mulai diterapkan nyata di dalam dunia pendidikan karena ini untuk membiasakan kita semua bahwa setiap apa yang kita kerjakkan mempunyai konsekuensinya tersendiri, ada harga yang harus kita bayar untuk setiap tindakan yang kita lakukan, kita harus mampu dan mau mempertanggungjawabkan setiap apa yang telah kita kerjakan secara sangat sadar. Sistem itu juga berfungsi untuk semakin memotivasi setiap orang yang telah berbuat baik bahkan berprestasi dan memberikan efek jera bagi setiap mereka yang telah berbuat deviasi. 
Karena pada akhirnya, hakikat dari adanya sebuah aturan, sebuah pengaturan adalah agar terciptanya suatu ketertiban, ketentraman, serta keamanan bagi setiap manusia yang ada dan ketika aturan itu tidak mampu untuk ditegakan, atau tidak mampu untuk ditegakan secara tegak seutuhnya, bahkan menjadi sebuah aturan yang “tebang pilih” maka jelas hal itu akan merusak sistem yang ada, tatanan kehidupan ideal atau setidaknya sebuah kehidupan yang baik tak akan pernah mampu untuk terwujud. Walaupun memang aturan itu tidak lebih tinggi dari kemanusiaan akan tetapi tidak bijak rasanya bila atas nama sebuah “kemanusiaan”, atas nama rasa “iba” sebagai sesama manusia, aturan itu tidak mampu untuk ditegakan, tidak, bukan seperti itu seharusnya dunia ini berjalan. Iya ‘kan? 

Dampak dari itu semua, secara lambat tapi pasti, mulai terasa, orang-orang yang telah mampu berbuat baik, telah mampu datang tepat pada waktunya, mulai menunjukan kegelisahannya, mulai memperlihatkan ketidaknyamanannya, mulai sedikit semi sedikit mengeluh dengan situasi yang ada dan akhirnya mulai untuk berkata dan berencana untuk kelak di kemudian hari tidak akan lagi menjadi orang yang baik, orang yang taat dengan aturan karena toh tidak ada bedanya, tidak ada beda secara nyata dan siginifikan antara yang berbuat baik dan yang tidak berbuat baik. 
Hal seperti itu memang bukan sebuah sifat yang baik, tidak memperlihatkan sebuah sifat yang bertanggung jawab, apalagi sifat orang-orang calon pemimpin tapi apabila dilihat dari sudut pandang “keadilan”, apalagi “kemanusiaan”, maka jelas hal itu sangat wajar untuk terjadi, apalagi apabila kita lihat dari kecendeungan manusia yang selalu ingin untuk dipuji atau di apresiasi. Bahkan saya pun pernah merasakan hal seperti itu, pernah merasa menyesal ketika terus berbuat baik atau setidaknya berusaha untuk terus berbuat baik akan tetapi terus “terkalahkan” oleh mereka-mereka yang secara nyata tidak berbuat baik bahkan jelas tidak pernah berusaha untuk berbuat baik akan tetapi lambat laun saya mulai menyadari bahwa itu merupakan kesalahan. 

Saya kembali teringat untuk kemudian kembali termotivasi oleh janji Allah Swt. bahwa Dia hanya akan memberikan pahala untuk setiap kebaikan yang manusia Usahakan dan memberikan azab untuk setiap keburukan yang manusia kerjakan. Dari kalimat Allah Swt. itu secara jelas mampu untuk kita pahami bahwa Allah Swt. hanya mewajibkan kita untuk berusaha dan berdoa seoptimal mungkin, kita tidak sedikit pun berkuasa untuk menentukan sebuah hasil dari setiap apa yang kita usahakan. 

Jadi, ketika kita berbuat baik atau berusaha untuk berbuat baik dan belum bisa untuk mendapatkan apresiasi maka selalu yakin dalam hati bahwa hal itu telah dan akan selalu mampu untuk diapresiasi oleh Allah Swt., Tuhan Yang Mahakuasa. Ketika menjadi orang yang baik pun kita belum tentu bernasib baik lantas bagaimana dengan orang yang tidak berbuat baik? 
Dan memang orang yang bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja tuntas masih akan kalah dengan orang yang beruntung akan tetapi kita tidak akan pernah mampu untuk menjadi orang yang beruntung tanpa pernah bekerja keras, cerda serta tuntas! 
Adapun bagi mereka yang memang belum mampu menaati aturan atau perintah pimpinan yang sebenarnya tidak menyalahi prinsip manpun apalagi agama, maka tolong-lah anda bersikap dewasa, tidak terlalu bangga dengan “ketidaktaatan” anda, jikalau memang anda terbebas dari sebuah sanksi maka jangan juga anda terlalu bersombong diri atau mungkin ketika anda mendapatkan sebuah sanksi jangan juga anda mencoba melakukan sebuah perlawanan, terima itu semua karena sekali lagi ada harga yang harus kita bayar untuk setiap tindakan yang kita lakukakan, tidak ada perbuatan salah dan benar yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan. 
Benar apa yang dikatakan pimpinan kita, sebisa dan sedapat mungkin setiap aturan yang ada jangan selalu serta merta kita pahami dengan otak kiri tapi mari kita pahami dengan otak kanan karena aturan tidak selamanya bisa terlogikan, jadi mari kita nikmati setiap aturan yang ada. 

Berbuat baik itu tidak berarti kita menjadi seorang penjilat tapi niatkan itu semua untuk menunaikan kewajiban kita sebagai mahklkuk Allah Swt., Tuhan Yang Mahakuasa, untuk selalu melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan di muka bumi ini. Apalagi untuk kita yang secara jelas di didik menjadi seorang calon birokrat, calon-calon pemimpin, jadi mari kita biasakan untuk selalu bersikap yang baik, mampu untuk menjadi tauladan. Bahkan bila kuantitas libur yang menjadi masalahnya, coba mari kita sama-sama bayangkan serta renungkan, kelak ketika nanti kita bekerja sebagai seorang egwai dalam lingkungan pemerintahan, kita tidak akan pernah mendapatkan libur yang panjang bahkan di hari raya sekalipun, maksimalnya kita hanya akan mendapatkan lima hari masa libur! 

Jadi, mari kita berpikir panjang, visioner jauh ke depan, sama-sama kita belajar menjadi orang yang bijak juga dewasa, karena kita di masa depan adalah akumulasi dari kita di masa sekarang.