Kamis, 12 April 2012

The Raid dan The Used

THE RAID
Sutradara : Gareth Evans
Produser : Ario Sagantoro
Penulis : Gareth Evans
Pemeran : Iko Uwais, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian, Pierre Gruno, Tegar Satrya
Musik oleh : Fajar Yuskemal, Aria Prayogi (asli); Mike Shinoda, Joseph Trapanese (edisi Amerika)
Sinematografi : Matt Flannery
Penyunting : Gareth Evans
Studio : PT Merantau Films, XYZ Films
Distributor : Celluloid Nightmares (Seluruh dunia), Sony Pictures Classics (Amerika)
Tanggal rilis : 8 September 2011 (TIFF), 21 Maret 2012 (Indonesia), 22 Maret 2012 (Australia), 23 Maret 2012 (Amerika)
Durasi : 101 menit
Bahasa : Indonesia

The Raid (sebelum diedarkan: Serbuan Maut) adalah film aksi seni bela diri dari Indonesia yang disutradarai oleh Gareth Evans dan dibintangi oleh Iko Uwais. Pertama kali dipublikasi pada Festival Film Internasional Toronto (Toronto International Film Festival, TIFF) 2011 sebagai film pembuka untuk kategori Midnight Madness, para kritikus dan penonton memuji film tersebut sebagai salah satu film aksi terbaik setelah bertahun-tahun sehingga memperoleh penghargaan The Cadillac People's Choice Midnight Madness Award. Terpilihnya film ini untuk diputar pada beberapa festival film internasional berikutnya, seperti Festival Film Internasional Dublin Jameson (Irlandia), Festival Film Glasgow (Skotlandia), Festival Film Sundance (Utah, AS), South by Southwest Film (SXSW, di Austin, Texas, AS), dan Festival Film Busan (Korea Selatan), menjadikannya sebagai film komersial produksi Indonesia pertama yang paling berhasil di tingkat dunia.

Produksi
Film ini adalah kerja sama kedua antara Evans dan Uwais setelah film aksi pertama mereka, Merantau, yang diluncurkan pada tahun 2009. Dengan proyek ini, mereka hendak menonjolkan seni bela diri tradisional Indonesia, pencak silat, dalam tata laga mereka. Penata laga untuk The Raid adalah Iko Uwais dan Yayan Ruhian, sama seperti pada Merantau, dengan sejumlah ide dari Gareth Evans sendiri. Hak distribusi internasional dipegang oleh Nightmare Distribution. Pada saat showcase di Festival Film Cannes 2011, Sony Pictures Classic Worldwide Acquisition membeli hak pendistribusian film ini untuk kawasan Amerika Serikat dan Amerika Latin. Untuk kepentingan mempertinggi popularitas, Sony Pictures meminta Mike Shinoda (anggota Linkin Park) bersama Joseph Trapanese untuk menciptakan musik latar bagi film versi mereka ini. Akibat permasalahan hak cipta dan rencana pembuatan trilogi, film ini dirilis di Amerika Utara oleh Sony Pictures dengan judul The Raid: Redemption. Hak pendistribusian untuk negara-negara lainnya juga telah dijual kepada Alliance (untuk Kanada), Momentum (Inggris), Madman (Australia dan Selandia Baru), SND (kawasan berbahasa Prancis), Kadokawa (Jepang), Koch (kawasan berbahasa Jerman), HGC (Cina), dan Calinos (Turki). Kesepakatan juga telah dibuat dengan para distributor dari Russia, Skandinavia, Benelux, Islandia, Italia, Amerika Latin, Korea Selatan, dan India ketika film ini sedang dipertunjukkan pada Festival Film Internasional Toronto (TIFF), Toronto, Kanada pada September 2011.

Sinopsis
Di jantung daerah kumuh Jakarta berdiri sebuah gedung apartemen tua yang menjadi markas persembunyian para pembunuh dan bandit yang berbahaya. Sampai saat ini, blok apartemen kumuh tersebut telah dianggap tidak tersentuh, bahkan untuk perwira polisi yang paling berani sekalipun. Diam-diam di bawah kegelapan dan keheningan fajar, sebuah tim elit polisi penyerbu berjumlah 20 orang ditugaskan untuk menyerbu apartemen persembunyian tersebut untuk menyergap gembong narkotik terkenal yang menguasai gedung tersebut. Tapi ketika sebuah pertemuan dengan seorang pengintai membuka rencana mereka dan berita tentang serangan mereka mencapai sang gembong narkotik, lampu dalam gedung tiba-tiba padam dan semua pintu keluar diblokir. Terdampar di lantai enam dan tanpa jalan keluar, satuan khusus tersebut harus berjuang melawan penjahat-penjahat terburuk dan terkejam untuk bertahan hidup dalam misi penyerbuan tersebut.  

Pemeran
Iko Uwais sebagai Rama, anggota tim Polisi elit penyerbu dan tokoh utama dalam film.
Donny Alamsyah sebagai Andi, tangan kanan dan otak bisnis narkoba Tama.
Pierre Gruno sebagai Letnan Wahyu, senior kepolisian yang memerintahkan operasi penyerbuan.
Ray Sahetapy sebagai Tama Riyadi, gembong narkotik kejam, penguasa gedung apartemen dan antagonis utama.
Yayan Ruhian sebagai Mad Dog ("anjing gila"), tangan kanan dan tukang pukul Tama yang berkeahlian silat tinggi.
Joe Taslim sebagai Sersan Jaka, pemimpin operasi penyerbuan.
Tegar Satrya sebagai Bowo, anggota tim Polisi elit penyerbu yang keras kepala.
Eka "Piranha" Rahmadia sebagai Dagu, anggota tim Polisi elit penyerbu.
Verdi Solaiman sebagai Budi, anggota tim Polisi elit penyerbu.
Ananda George sebagai Ari.  

Penghargaan
The Cadillac People's Choice Midnight Madness Award, TIFF 2011
Salah satu dari 11 film yang menjadi Spotlight dalam Festival Film Sundance 2012
Terpilih menjadi penutup sesi FrightFest dalam Festival Film Glasgow 2012
Audience Award dan Dublin Film Critics Circle Best Film dalam Festival Film Internasional Dublin Jameson 2012 Prix du Public dalam 6ème Festival Mauvais Genre di Tours, Prancis

SUMBER
THE USED - VULNERABLE
Released : March 26, 2012
Recorded : 2010–2011
Genre : Post-hardcore, alternative rock, electronic rock
Length : 43:45
Label : Hopeless, Anger
Producer : John Feldmann

Vulnerable is the fifth studio album by American alternative rock band The Used. It was released on March 26 2012, under their new record label, Hopeless Records. The album was produced by John Feldmann, who also produced the band's first three studio albums.

Background
The first single, "I Come Alive", was released digitally on January 10, 2012. "Hands and Faces" became the second single, and was released digitally on February 21, 2012, through the band's website and on iTunes. In the days leading up to the release of the album, the band streamed many tracks from Vulnerable through a variety of music websites. On March 20, 2012, "Shine" and "Put Me Out", were released to stream online. On March 21, 2012, another track, "Now That You're Dead", was also made available to stream online, followed by the tracks "Kiss It Goodbye", "Moving On", and "Hurt No One", the latter were all made available to stream on March 22, 2012. On March 24 The Used posted another song, "Give Me Love" on the Kerrang! website.  

Track listing
All songs written and composed by The Used, except where noted.
1. "I Come Alive"
2. "This Fire" (The Used, John Feldmann)
3. "Hands and Faces" (The Used, John Feldmann)
4. "Put Me Out" (The Used, John Feldmann)
5. "Shine" (The Used, Evan Taubenfeld)
6. "Now That You're Dead" (The Used, John Feldmann)
7. "Give Me Love"
8. "Moving On"
9. "Getting Over You" (The Used, Martin Johnson)
10. "Kiss It Goodbye" (The Used, John Feldmann)
11. "Hurt No One" (The Used, John Feldmann)
12. "Together Burning Bright" (The Used, John Feldmann)

SUMBER
The Raid merupakan film action asli Indonesia ( saya tidak berani menambahkan “asli” karena pada faktanya film The Raid merupakan film hasil gabungan orang Indonesia dan juga orang asing ) yang saya pikir paling hebat, paling mampu untuk kita banggakan dan sama sekali tidak berada di bawah film-film action yang telah diproduksi oleh Hollywood sana. Saya pribadi, bila saya ingat-ingat kembali, telah terlalu lama rasanya tidak pernah lagi menonton film-film buatan dalam negeri yang berasal dari sineas Indonesia, bila saya tidak salah dan itu berarti benar, terakhir kali saya menonton film Indonesia adalah ketika saya duduk di bangku SMA ketika masa-masa menunggu pengumuman hasil dari Ujian Nasional dan film yang waktu itu saya tonton adalah berjudul Perjalanan Terakhir dan itu pun bila saya tidak salah. 

Saya tidak anti dengan film Indonesia dan ini sungguh bukan berarti saya tidak cinta Indonesia tapi hal itu memang terjadi karena pada kenyataannya tidak ada film Indonesia yang sesuai dengan selera dan kesukaan saya dan bahkan rata-rata, hmmm….tidak rata-rata tapi semua film yang diproduksi Indonesia merupakan film abal-abal, sama sekali tak ada kualitas dan tidak sedikit pun bernilai seni apalagi edukasi. Entah apa yang mereka cari, film-film yang ada justru hanya film perusak moral dan membodohi masyarakat dan parahnya adalah masyarakat kita dengan sangat terbuka mau untuk dirusak moralnya dan dibodohi akalnya oleh setiap film yang ada dengan dalih rasa penasaraan dan cinta produk lokal. Bayangkan saja, film-film Indonesia masih terus disesaki dan menjejali masyarakat kita dengan sebuah tema sama nan kuno yaitu hantu, telah berbagai macam varisasi judul yang mereka sematkan tapi tetap dengan garis besar jalan cerita yang sama bilapun bukan cerita hantu, atau horror biasa kita menyebutnya, maka jenis film yang ada adalah jenis film komedi yang sama sekali tidak untuk mengundang tawa tapi hanya membuat panas otak kita karena penuh dengan adegan pengumbar nafsu. Dan memang pada umumnya apapun jenis atau genre film yang dibuat oleh Indonesia maka dapat kita pastikan film tersebut dipenuhi dengan banyaknya adegan seksi cenderung mengarah pada perbuatan seks, sungguh merusak! 

Di dalam gelapnya malam selalu ada cahaya bulan yang datang menerawang, begitu juga dalam kehidupan per-film-an Indonesia. Indonesia masih beruntung memilki orang-orang yang benar-benar cinta Indonesia, orang-orang negarawan yang memikirkan jauh kedepan, tidak teraniaya oleh hasutan materi, berani untuk mengambil resiko demi untuk sesuatu yang postif sehingga mereka mau untuk membuat film-film berkualitas, penuh dengan seni dan edukasi serta juga menghibur. Salah satu diantaranya adalah The Raid ( meskipun untuk unsur edukasi, sepertinya The Raid belum mampu untuk memenuhinya ). Akan tetapi The Raid menjadi sangat fenomenal, karena sampai dengan saat ini, belum ada film genre action yang diproduksi oleh Indonesia yang benar-benar berkualitas dan setara dengan aksi-aksi film barat. Alasan kenapa jarang sineas Indonesia yang enggan membuat film ber-genre action adalah karena film action pasti akan menelan biaya produksi yang sangat mahal dibandingkan dengan film yang bertemakan percintaan ataupun kehidupan. Sehingga ketika The Raid muncul ke permukaan dengan kualitas yang benar-benar lebih dari cukup maka masyarakat Indonesia, mayarakat pecinta film yang ada di Indonesia pun bersorak riang, mengembuskan nafas penuh kelegaan dan segala dahaga dalam tenggorakan pun serasa hilang. Tidak hanya di dalam negeri, film The Raid pun mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi dan positif di kancah perfilman mancanegara, tidak hanya Amerika, tapi benar-benar mancanegara. 

Bila harus jujur, haru kita akui, secara jalan ceritanya sebenarnya film The raid merupakan film action yang sangat sederhana dengan alur cerita yang juga sangat sederhana dan terlampau mudah untuk ditebak akan tetapi apa yang membuat film ini menuai begitu banyak pujian dan penghargaan adalah karena film ini menghadirkan aksi-aksi koreografi teknik berkelahi yang sangat menawan, efek yang juga sangat hebat ditunjang dengan musik penggiring yang dengan sangat baik mengiringi setiap jalannya laga. Kekuatan inti dari film ini adalah aksi dari setiap pemeran itu sendiri dan efek yang diberikan oleh sang sutradara. 

Sunggguh film ini sangat tidak disarankan bagi mereka yang mudah pusing ataupun mempunyai jantung yang lemah karena sepanjang film ini anda akan dipaksa untuk selalu melihat aksi perkelahian atapun adu tembak yang sangat kejam, sadis dan brutal. Film ini memang merupakan film yang saya pikir merupakan film yang sangat ( bahkan terlampau ) sadis, setiap gerakan berbahaya, mampu untuk ditampilkan secara nyata dan cepat oleh kamera, dimulai dari adegan peluru menembus tengkorak, pisau menancap tajam dalam tangan dan seribu gerakan sadis lainnya. Entahlah! Saya pun sempat dibuat gusar dengan segala adegan sadis tersebut, saya pikir hal itu terlalu berlebihan untuk ditampilkan secara gamblang. 

Satu-satunya koreksi yang ingin saya hadirkan di sini adalah saya takut apabila seluruh adegan-adegan brutal yang ditampilkan secara gamblang tersebut ditangkap dan dimaknai lain oleh para penonton, harus kita akui ada sebuah fenomena, film-film yang menampilkan adegan-adegan brutal nan sadis semisal Saw, Final Destination, dsb, merupakan film-film yang laku keras di pasaran, dan begitu juga sekarang dengan The Raid, akan menjadi sesuatu hal yang sangat mengerikan apabila kemudian para penonton yang sering melihat adegan brutal dan sadis seperti itu, apalagi kepada meraka yang jelas-jelas merupakan penyuka dari jenis film seperti itu kemudian akan bersikap apatis pada dunia nyata dan menjadi seorang pribadi yang menganggap santai dan biasa terhadap segala hal yang berbau sadisme seperti itu. 

***

 The Used merupakan band rock, post-hardcore atau lebih dikenal dengan band emo ternama dan bagi saya pribadi The Used merupakan band yang pertama kali memperkenalkan saya pada musik yang penuh dengan emosi, nada cepat, teriakan khas dan lirik penuh keputusasaan tapi tetap dibalut dengan secercah harapan, mengungkapkan emosi diri secara lugas dan sedramatisir mungkin. Bahkan dalam mengemukakan sebuah cinta yang seharusnya menjadi indah tapi mereka curahkan melalui sebuah kata-kata keji nan anarki, membuat semuanya terasa sangat dalam sulit untuk terselami, romantis tapi sungguh sangat realistis. Ya, itulah The Used dan itu-lah emo. Dan dari segi penampilan pun The Used sungguh sangat jauh dari kata mengecewakan, penampilan meraka mendukung dan sesuai dengan genre musik yang mereka tampilkan. Tidak ada kepura-puraan semuanya nyata dan tidak sama sekali untuk sekedar mencari reputasi untuk mendapatkan sensasi. 

Akhirnya setelah hampir 3 tahun menunggu, The Used merilis juga album kelima mereka, yang berjudul Vulnerable. Perubahan itu terasa dan memang mulai terlihat ketika mereka merilis album keempat yaitu Artwork. Tapi ciri khas dan nadi utama The Used tetap teguh bertahan, tak akan hilang. Ciri khas itu bisa temui dari single pertama yang mereka keluarkan, yaitu “I Come Alive”. “I Come Alive” single pertama dan juga ditempatkan sebagai lagu pembuka dalam album Vulnerable. Sebagai sebuah lagu pembuka dan single pertama dari sebuah album baru, “I Come Alive” memang menghadirkan sebuah hal yang baru, tidak monoton, tidak membuat bosan, tapi tetap sebuah lagu yang sangat The Used. Diawali dengan distorsi gitar yang kelam dan ketukan drum yang rendah kemudian lagu itu menghentak secara musikalitas dan juga lirik! It’s so damn THE USED!! 

 “I Come Alive” merupakan lagu yang bercerita tentang seseorang yang selalu teraniaya tapi tetap mampu untuk bangkit dan bahkan melawan segala apa yang membuatnya jatuh, dia tetap bangkit dan dia tetap hidup. Lagu yang kelam dan lirik yang juga kelam tapi tetap menyimpan sebuah harapan kemudian mereka visualisasikan ke dalam sebuah video clip dan memang sudah menjadi sebuah ketentuan, entah tertulis maupun tidak tertulis, sebuah single harus digambarkan dalam sebuah video clip. Dan disini-lah letak kekecewaan saya atupun kekagetan saya. Video Clip “ I Come Alive” sungguh penuh berisi dengan gambar-gambar ataupun adegan yang sangat sadis dan kejam, penuh dengan gerakan berbahaya dan darah yang bercucuran kemana-mana dan semua itu semakin terlihat miris karena pelaku utama yang digambarkan dalam video clip itu adalah seorang anak kecil. 

Memang secara jalan ceritanya, video clip itu sangat menggambarkan apa yang ada dalam lirik lagu tersebut tapi sungguh visualisasi itu terasa terlalu gamblang, gambar-gambar pemukulan terlihat begitu brutal dan bahkan akhir dari video clip sungguh sangat tragis ketika si anak yang menjadi pemeran utama menggorok leher ayahnya secara sadis! Damn! 

*** 

Apa yang menjadi kekhawatiran saya adalah saya takut apabila kemudian dengan semakin banyaknya adegan-adegan ataupun tayangan seperti itu, berisi dengan sejuta visualisasi brutal dan sadis, maka hal itu akan membuat hati, rasa dan pikiran dari setiap mereka yang menontonnya menjadi keras dan menganggap segala hal itu adalah hal yang biasa apabila terjadi dalam dunia nyata sekalipun. Hal itu menjadi sangat mengerikan karena sebenarnya manusia itu mempunyai insting atau naluri untuk merasakan sesuatu hal yang sakit itu sakit untuk kemudian mereka dapat segera mengatasi kesakitan itu, mengetahui batasan bagi mereka dalam bertindak, mempunyai sikap empati dan simpati dan rasa iba sehingga bisa saling menolong dan membantu satu sama lainnya. Tanpa adanya sikap seperti itu maka kita, manusia, hanya akan menjadi sekelompok manusia yang apatis, tidak peka terhadap masalah sosial. 

Hal lain yang juga tidak kalah mengerikan apabila terjadi adalah ketika tayangan-tayangan itu, yang merupakan tayangan untuk dewasa, untuk mereka yang telah mampu untuk berpikir rasional dan utuh, bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang asli dan mana yang rekayasa serta mana yang bisa ditiru dan mana yang cukup kita lihat saja. Akan tetapi di era komunikasi seperti ini, di zaman globalisasi sekarang ini, saya, anda dan siapa pun tidak akan pernah bisa menjamin bahwa anak-anak di bawah umur yang belum layak dan pantas untuk menyaksikan tayangan itu, mampu untuk mengakses dan melihat tayangan tersebut. Efek buruknya adalah, segala tayangan tersebut akan mempengaruhi keadaan psikologis mereka dan efek yang paling buruknya adalah mereka akan kemudian meniru dan memperagakan segala adegan dan tindakan yang mereka lihat itu, karena kemampuan otak mereka belum mampu untuk mencerna dan membedakan segala perbedaan yang ada. 

Di sisi lain, saya pun sangat menyukai segala hal yang berbau seni akan tetapi saya sangat tidak setuju apabila kemudian seni berada di atas segalanya, seni harus tetap berada di bawah norma dan aturan yang ada. Karena seni itu merupakan dunia khayal yan apabila dibiarkan terlalu bebas berkeliaran maka hal itu akan sangat berbahaya, menjadikan kita pribadi yang hidup di dunia lain, tidak berpijak pada bumi tapi senantiasa terbang dalam awang-awang, mimpi indah tanpa ada realisasi nyata. 

Setiap pribadi yang memiki inovasi harus mampu menahan diri dan taat serta patuh terhadap segala peraturan ataupun norma yang berlaku karena bukankah hiburan itu ada untuk menghilangkan segala perasaan stress? Dan bukankah tayangan-tayangan brutal seperti itu hanya justru membuat kita takut? Dan bukankah takut itu merupakan penyebab awal dari munculnya stress?

Rabu, 11 April 2012

Takut Primordial

“Istilah Primordialisme berasal dari bahasa latin yaitu Primus yang artinya pertama, dan Ordiri yang artinya tenunan atau ikatan. Dengan demikian, Primordial dapat berarti ikatan-ikatan utama seseorang dalam kehidupan sosial, dengan hal-hal yang dibawanya sejak lahir seperti suku bangsa, ras, klan, asal-usul kedaerahan, dan agama.” 

Definisi 'primordialisme' 
1. perasaan kesukuan yg berlebihan: ia melihat beberapa kelompok masyarakat masih menganalisis permasalahan yg dihadapi dr sudut -- dan nilai ajaran lain 

Bila anda pernah membaca tulisan saya yang lalu, yang telah lama berlalu, berkenaan dengan apapun, dengan judul manapun, maka mungkin bila anda jeli, teliti, sekaligus memahami maka anda akan menemukan di beberapa tulisan saya itu bahwa saya merupakan pribadi yang selalu berusaha untuk tidak pernah takut atau alergi dengan sebuah perubahan karena saya pribadi sangat yakin dengan sangat sadar bahwa apapun yang ada di dunia ini pasti akan berubah, kecuali perubahan itu sendiri.

"Semua bisa berubah sejalan dengan kejadian yang kita alami, entah musibah ataupun anugerah. Persepsi kita, cara pandang kita, opini kita, pengalaman kita, semuanya bisa berubah. Tapi, satu hal yang jangan berubah adalah : Aqidah kita, kepercayaan kita terhadap Allah, terhadap semua kekuasaan-Nya dan pilihan-Nya." 

Sehingga menjadi tak ada alasan sedikitpun bagi saya untuk berusaha melawan perubahan itu, saya tidak akan pernah takut dan akan dengan sangat senang hati mengikuti dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, tapi tentu dengan sebuah syarat, cukup satu syarat. Perubahan itu harus mampu menuju atau mengarah pada suatu jalan yang jauh lebih baik, jauh lebih berkualitas dan terjadi sebuah peningkatan positif tidak justru merupakan sebuah degradasi karena apabila yang terjadi adalah sebuah perubahan yang justru menjerumuskan kita pada sebuah jurang keburukan maka yakin-lah dan lihat-lah bahwa saya akan menjadi orang pertama sekaligus terdepan yang melawan itu semua, menentang dan menghujat semua perubahan itu. Akan tetapi juga harus saya akui, saya bukanlah orang yang selalu mau untuk menerima sebuah tantangan kaitannya dengan sebuah perubahan. Saya merupakan orang yang akan selalu berat apabila harus berjalan menjauh dari daerah atau ruang nyaman saya. Karena apabila stagnan itu juga bernilai positif dan dengan sebuah hal yang baru itu sungguh tidak menambah nilai baik maka saya akan lebih memilih untuk menjadi stagnan daripada harus menjalani sesuatu yang belum saya ketahui, ya saya akan cenderung untuk bermain aman tapi harus juga saya tegaskan, ini tidak selalu harus saya lakukan dan tidak selamanya saya seperti itu, hanya pada umumnya dan kebiasaan yang ada. Bukan suatu keharusan!

Perubahan itu sepertinya akan segera saya alami khususnya dan 99 rekan-rekan saya satuan Madya Praja IPDN Kampus Kalimantan Barat karena sesaat lagi kami akan kedatangan adik-adik kami, junior kami, Muda Praja angkatan XXII ( baca : Selayang Pandang IPDN, Kampus Daerah dan Semangat Perubahan ). Dan jujur sejujurnya, ada perasaan takut dalam diri ini, saya sungguh sangat menyadari kedatangan adik-adik kami itu pasti sedikit banyaknya akan merubah banyak hal dalam kampus Kalimantan Barat, terutama dari segi pola hidup. Sejujurnya, saya telah sangat nyaman dengan kondisi yang ada sekarang, iklim persahabatan serta persaudaraan yang ada dan terbangun di kampus ini. Suatu iklim yang saya pikir positif walaupun tidak sempurna tapi jauh lebih baik ( saya yakin ). Dan saya akan menjadi sangat terusik, sangat sedih, apabila hal-hal yang postif itu harus berubah, tidak menjadi lebih baik tapi justru menjadi menurun dan terjerumus jatuh ke dalam lubang kesalahan yang sama yang sebenarnya sudah mampu kami tinggalkan.

Hal itu sangat saya sadari dengan jelas karena kami sebagai angkatan pertama di kampus ini, belum mampu untuk menanamkan suatu fondasi yang kokoh terutama dalam hal budaya yang ada di kampus sehingga segala sesuatunya masih labil masih rentan untuk berubah terutama oleh faktor eksternal, terutama lagi oleh kedatangan Muda Praja.

Bila anda kemudian bertanya situasi seperti apa memang yang saya takutkan nantinya bisa berubah, berubah kembali menjadi seuatu hal yang kurang benar??
Maka akan terlebih dahulu saya akan coba jelaskan sedikit tentang suasana, kondisi serta iklim yang ada di kampus ini, secara garis besar, secara sangat umum sehingga anda bisa mengerti tapi sungguh hanya sedikit, hanya menyentuh permukaan ( baca : The Big Family of IPDN ). IPDN memang mempunyai sebuah kelebihan yang akan sulit untuk disamai oleh perguruan tinggi manapun karena hanya di IPDN peserta didiknya benar-benar mampu untuk belajar mengerti serta memahami berbagai karakteristik serta watak dari setiap manusia yang ada di Indonesia secara nyata dan secara utuh. Karena di IPDN peserta didiknya merupakan perwakilan langsung dari 33 provinsi yang ada di Indonesia, yang juga merupakan perwakilan dari setiap kabupaten atau kota sehingga sudah dapat kita pastikan semua peserta didik yang ada akan membawa ciri khasnya masing-masing, adat istiadatnya masing-masing, dan semua itu menjadi satu terintegrasi dalam sebuah kampus bernama IPDN, dididik untuk menjadi seorang manusia utuh berwawasan nusantara yang memilki jiwa nasionalisme kuat.

Hal seperti itu merupakan hal yang sangat bagus akan tetapi memang segala sesuatunya pasti selalu terdapat celah, celah untuk ketidaksempurnaan, penyelewengan dan begitu halnya dengan sistem yang ada di IPDN dengan metode perwakilan masing-masing provinsi. Akibat buruk dari hal itu adalah kemudian muncul fenomena kontingenisasi, rasa-rasa primordialisme, yang justru semakin memperbesar fragmentasi dan menjadi api dalam sekam, yang setiap saat siap untuk meledak, membakar segalanya, rentan untuk terpecah dan terprovokasi karena masih kentalnya rasa kedaerahan. Itu semua dimungkinkan untuk terjadi karena dengan peserta didik yang merupakan perwakilan dari setiap provinsi maka setiap provinsi itu pun sering untuk melakukan kumpul, konsolidasi, ingin selalu menunjukan mereka yang terbaik, rasa kebangsaan yang seharunya terwujud justru terkalahkan oleh sifat-sifat kedaerahan, kepentingan Negara dan bangsa harus terkalahkan oleh kepentingan kelompok, golongan dan daerah masing-masing.

Saya sungguh sama sekali tidak ada masalah dengan perasaan cinta dan bangga terhadap daerah sendiri, justru saya berpendapat bahwa rasa-rasa seperti itu wajib untuk dimilki setiap manusia. Karena saya percaya ketahanan nasional, rasa nasionalisme, serta wawasan kebangsaan tak akan pernah bisa terwujud tak akan pernah bisa ada secara utuh dan benar tanpa terlebih dahulu kita mencintai dan memahami daerah kita terlebih dahulu. Lokal, regional, nasional dan kemudian internasional sebuah tahapan yang tak akan bisa untuk kita balik dan bahkan loncati. Kita harus terlebih dahulu merangkak sebelum akhirnya kita mampu berjalan, segala hal yang besar bermula dari yang kecil. Sehingga tidak mungkin rasanya bagi kita mampu untuk mengerti Indonesia tanpa kita mengerti daerah kita. Tapi kemudian yang menjadi permasalahnnya adalah ketika rasa cinta daerah itu muncul dan ada terlalu berlebihan sehingga memandang sebelah mata segala yang berada di luar daerahnya. Ego daerah terus tumbuh dan apabila itu terjadi maka tak akan pernah bisa ada sebuah kesatuan bangsa bagi Indonesia. Semua hanya akan hidup sendiri, terpisah dan terkotak-kotak.

IPDN sebagai sebuah lembaga pendidikan pasti tidak pernah menginginkan hal itu untuk terjadi dan sungguh pihak lembaga pun telah melakukan berbagai macam tindakan preventif untuk mengatasi dan menaggulangi masalah tersebut, berbagai kebijakan dan program serta doktrin telah dilakukan lembaga, yang salah satunya adalah dengan dibukanya IPDN Kampus Daerah. Karena di kampus daerah jumlah setiap kontingen yang ada sangat kecil, sangat tidak efektif apabila dilakukan sebuah kumpul masing-masing kontingen dan secara langsung saya merasakan hal itu, di sini, di kampus daerah ini, saya mampu untuk bersosialisasi secara baik dan secara penuh dengan setiap orang dari setiap provinsinya, fragmentasi itu tidak terasa, proses integrasi itu berjalan dengan baik tapi di sisi lain kita pun masih bisa untuk tetap berkonsilidasi masing-masing provinsi tapi dengan porsi yang sangat pas, sangat sesuai, tidak berlebihan.

Lalu ketika Muda Praja itu datang, yang tidak lain merupakan adik-adik kami, junior kami, maka saya takut kontingenisasi itu kembali menyeruak muncul bahkan kembali pada porsi yang berlebihan sehingga akhirnyaa kami pun akan kemballi terkotak-kotak. Karena otomatis jumlah setiap perwakilan dari setiap provinsi akan bertambah, adrenalin sebagai seorang senior pun akan muncul, keinginan untuk dikenal oleh juniornya, disanjung, dipuja serta dipuji akan dengan sendirinya muncul bahkan hasrat untuk melindungi mereka, junior-junior, pun akan datang mengkitu dan apabila hal itu sudah terjadi maka sudah dipastikan hal pertama yang akan selalu kami utamakan dan terlintas dalam otak adalah permasalahan tentang kontingen. Saya takut kedepannya suasana yang ada, justru hanya akan menjadi suasana yang kaku, karena semua orang menjadi orang-orang yang ingin terlihat berwibawa, saling menjaga image-nya, menjadi sangat mudah tersinggung karena tidak ada seorang pun yang ingin dipermalukan atau dipandang sebelah mata oleh juniornya dan saya takut waktu kami berasama harus semakin menghilang karena semakin terkurasnya oleh sebuah kegiatan bernama kumpul kontingen.

Well, itu-lah ketakutan saya, salah satu ketakutan saya, rasa takut saya teradap sebuah perubahan, perubahan yang saya pikir tidak bernilai baik, salah satu ketakutan saya dari beberapa ketakutan saya apabila nanti Muda Praja itu benar datang ke sini.
hmmm….let’s wait and see.