Rabu, 11 April 2012

Takut Primordial

“Istilah Primordialisme berasal dari bahasa latin yaitu Primus yang artinya pertama, dan Ordiri yang artinya tenunan atau ikatan. Dengan demikian, Primordial dapat berarti ikatan-ikatan utama seseorang dalam kehidupan sosial, dengan hal-hal yang dibawanya sejak lahir seperti suku bangsa, ras, klan, asal-usul kedaerahan, dan agama.” 

Definisi 'primordialisme' 
1. perasaan kesukuan yg berlebihan: ia melihat beberapa kelompok masyarakat masih menganalisis permasalahan yg dihadapi dr sudut -- dan nilai ajaran lain 

Bila anda pernah membaca tulisan saya yang lalu, yang telah lama berlalu, berkenaan dengan apapun, dengan judul manapun, maka mungkin bila anda jeli, teliti, sekaligus memahami maka anda akan menemukan di beberapa tulisan saya itu bahwa saya merupakan pribadi yang selalu berusaha untuk tidak pernah takut atau alergi dengan sebuah perubahan karena saya pribadi sangat yakin dengan sangat sadar bahwa apapun yang ada di dunia ini pasti akan berubah, kecuali perubahan itu sendiri.

"Semua bisa berubah sejalan dengan kejadian yang kita alami, entah musibah ataupun anugerah. Persepsi kita, cara pandang kita, opini kita, pengalaman kita, semuanya bisa berubah. Tapi, satu hal yang jangan berubah adalah : Aqidah kita, kepercayaan kita terhadap Allah, terhadap semua kekuasaan-Nya dan pilihan-Nya." 

Sehingga menjadi tak ada alasan sedikitpun bagi saya untuk berusaha melawan perubahan itu, saya tidak akan pernah takut dan akan dengan sangat senang hati mengikuti dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, tapi tentu dengan sebuah syarat, cukup satu syarat. Perubahan itu harus mampu menuju atau mengarah pada suatu jalan yang jauh lebih baik, jauh lebih berkualitas dan terjadi sebuah peningkatan positif tidak justru merupakan sebuah degradasi karena apabila yang terjadi adalah sebuah perubahan yang justru menjerumuskan kita pada sebuah jurang keburukan maka yakin-lah dan lihat-lah bahwa saya akan menjadi orang pertama sekaligus terdepan yang melawan itu semua, menentang dan menghujat semua perubahan itu. Akan tetapi juga harus saya akui, saya bukanlah orang yang selalu mau untuk menerima sebuah tantangan kaitannya dengan sebuah perubahan. Saya merupakan orang yang akan selalu berat apabila harus berjalan menjauh dari daerah atau ruang nyaman saya. Karena apabila stagnan itu juga bernilai positif dan dengan sebuah hal yang baru itu sungguh tidak menambah nilai baik maka saya akan lebih memilih untuk menjadi stagnan daripada harus menjalani sesuatu yang belum saya ketahui, ya saya akan cenderung untuk bermain aman tapi harus juga saya tegaskan, ini tidak selalu harus saya lakukan dan tidak selamanya saya seperti itu, hanya pada umumnya dan kebiasaan yang ada. Bukan suatu keharusan!

Perubahan itu sepertinya akan segera saya alami khususnya dan 99 rekan-rekan saya satuan Madya Praja IPDN Kampus Kalimantan Barat karena sesaat lagi kami akan kedatangan adik-adik kami, junior kami, Muda Praja angkatan XXII ( baca : Selayang Pandang IPDN, Kampus Daerah dan Semangat Perubahan ). Dan jujur sejujurnya, ada perasaan takut dalam diri ini, saya sungguh sangat menyadari kedatangan adik-adik kami itu pasti sedikit banyaknya akan merubah banyak hal dalam kampus Kalimantan Barat, terutama dari segi pola hidup. Sejujurnya, saya telah sangat nyaman dengan kondisi yang ada sekarang, iklim persahabatan serta persaudaraan yang ada dan terbangun di kampus ini. Suatu iklim yang saya pikir positif walaupun tidak sempurna tapi jauh lebih baik ( saya yakin ). Dan saya akan menjadi sangat terusik, sangat sedih, apabila hal-hal yang postif itu harus berubah, tidak menjadi lebih baik tapi justru menjadi menurun dan terjerumus jatuh ke dalam lubang kesalahan yang sama yang sebenarnya sudah mampu kami tinggalkan.

Hal itu sangat saya sadari dengan jelas karena kami sebagai angkatan pertama di kampus ini, belum mampu untuk menanamkan suatu fondasi yang kokoh terutama dalam hal budaya yang ada di kampus sehingga segala sesuatunya masih labil masih rentan untuk berubah terutama oleh faktor eksternal, terutama lagi oleh kedatangan Muda Praja.

Bila anda kemudian bertanya situasi seperti apa memang yang saya takutkan nantinya bisa berubah, berubah kembali menjadi seuatu hal yang kurang benar??
Maka akan terlebih dahulu saya akan coba jelaskan sedikit tentang suasana, kondisi serta iklim yang ada di kampus ini, secara garis besar, secara sangat umum sehingga anda bisa mengerti tapi sungguh hanya sedikit, hanya menyentuh permukaan ( baca : The Big Family of IPDN ). IPDN memang mempunyai sebuah kelebihan yang akan sulit untuk disamai oleh perguruan tinggi manapun karena hanya di IPDN peserta didiknya benar-benar mampu untuk belajar mengerti serta memahami berbagai karakteristik serta watak dari setiap manusia yang ada di Indonesia secara nyata dan secara utuh. Karena di IPDN peserta didiknya merupakan perwakilan langsung dari 33 provinsi yang ada di Indonesia, yang juga merupakan perwakilan dari setiap kabupaten atau kota sehingga sudah dapat kita pastikan semua peserta didik yang ada akan membawa ciri khasnya masing-masing, adat istiadatnya masing-masing, dan semua itu menjadi satu terintegrasi dalam sebuah kampus bernama IPDN, dididik untuk menjadi seorang manusia utuh berwawasan nusantara yang memilki jiwa nasionalisme kuat.

Hal seperti itu merupakan hal yang sangat bagus akan tetapi memang segala sesuatunya pasti selalu terdapat celah, celah untuk ketidaksempurnaan, penyelewengan dan begitu halnya dengan sistem yang ada di IPDN dengan metode perwakilan masing-masing provinsi. Akibat buruk dari hal itu adalah kemudian muncul fenomena kontingenisasi, rasa-rasa primordialisme, yang justru semakin memperbesar fragmentasi dan menjadi api dalam sekam, yang setiap saat siap untuk meledak, membakar segalanya, rentan untuk terpecah dan terprovokasi karena masih kentalnya rasa kedaerahan. Itu semua dimungkinkan untuk terjadi karena dengan peserta didik yang merupakan perwakilan dari setiap provinsi maka setiap provinsi itu pun sering untuk melakukan kumpul, konsolidasi, ingin selalu menunjukan mereka yang terbaik, rasa kebangsaan yang seharunya terwujud justru terkalahkan oleh sifat-sifat kedaerahan, kepentingan Negara dan bangsa harus terkalahkan oleh kepentingan kelompok, golongan dan daerah masing-masing.

Saya sungguh sama sekali tidak ada masalah dengan perasaan cinta dan bangga terhadap daerah sendiri, justru saya berpendapat bahwa rasa-rasa seperti itu wajib untuk dimilki setiap manusia. Karena saya percaya ketahanan nasional, rasa nasionalisme, serta wawasan kebangsaan tak akan pernah bisa terwujud tak akan pernah bisa ada secara utuh dan benar tanpa terlebih dahulu kita mencintai dan memahami daerah kita terlebih dahulu. Lokal, regional, nasional dan kemudian internasional sebuah tahapan yang tak akan bisa untuk kita balik dan bahkan loncati. Kita harus terlebih dahulu merangkak sebelum akhirnya kita mampu berjalan, segala hal yang besar bermula dari yang kecil. Sehingga tidak mungkin rasanya bagi kita mampu untuk mengerti Indonesia tanpa kita mengerti daerah kita. Tapi kemudian yang menjadi permasalahnnya adalah ketika rasa cinta daerah itu muncul dan ada terlalu berlebihan sehingga memandang sebelah mata segala yang berada di luar daerahnya. Ego daerah terus tumbuh dan apabila itu terjadi maka tak akan pernah bisa ada sebuah kesatuan bangsa bagi Indonesia. Semua hanya akan hidup sendiri, terpisah dan terkotak-kotak.

IPDN sebagai sebuah lembaga pendidikan pasti tidak pernah menginginkan hal itu untuk terjadi dan sungguh pihak lembaga pun telah melakukan berbagai macam tindakan preventif untuk mengatasi dan menaggulangi masalah tersebut, berbagai kebijakan dan program serta doktrin telah dilakukan lembaga, yang salah satunya adalah dengan dibukanya IPDN Kampus Daerah. Karena di kampus daerah jumlah setiap kontingen yang ada sangat kecil, sangat tidak efektif apabila dilakukan sebuah kumpul masing-masing kontingen dan secara langsung saya merasakan hal itu, di sini, di kampus daerah ini, saya mampu untuk bersosialisasi secara baik dan secara penuh dengan setiap orang dari setiap provinsinya, fragmentasi itu tidak terasa, proses integrasi itu berjalan dengan baik tapi di sisi lain kita pun masih bisa untuk tetap berkonsilidasi masing-masing provinsi tapi dengan porsi yang sangat pas, sangat sesuai, tidak berlebihan.

Lalu ketika Muda Praja itu datang, yang tidak lain merupakan adik-adik kami, junior kami, maka saya takut kontingenisasi itu kembali menyeruak muncul bahkan kembali pada porsi yang berlebihan sehingga akhirnyaa kami pun akan kemballi terkotak-kotak. Karena otomatis jumlah setiap perwakilan dari setiap provinsi akan bertambah, adrenalin sebagai seorang senior pun akan muncul, keinginan untuk dikenal oleh juniornya, disanjung, dipuja serta dipuji akan dengan sendirinya muncul bahkan hasrat untuk melindungi mereka, junior-junior, pun akan datang mengkitu dan apabila hal itu sudah terjadi maka sudah dipastikan hal pertama yang akan selalu kami utamakan dan terlintas dalam otak adalah permasalahan tentang kontingen. Saya takut kedepannya suasana yang ada, justru hanya akan menjadi suasana yang kaku, karena semua orang menjadi orang-orang yang ingin terlihat berwibawa, saling menjaga image-nya, menjadi sangat mudah tersinggung karena tidak ada seorang pun yang ingin dipermalukan atau dipandang sebelah mata oleh juniornya dan saya takut waktu kami berasama harus semakin menghilang karena semakin terkurasnya oleh sebuah kegiatan bernama kumpul kontingen.

Well, itu-lah ketakutan saya, salah satu ketakutan saya, rasa takut saya teradap sebuah perubahan, perubahan yang saya pikir tidak bernilai baik, salah satu ketakutan saya dari beberapa ketakutan saya apabila nanti Muda Praja itu benar datang ke sini.
hmmm….let’s wait and see.

4 komentar:

  1. sangat kritis dan inspirasional, mantap kang ! ^__^

    BalasHapus
  2. @anonim : betul, saya setuju.

    @Iqbal Fauzi : hhe...htur nhun dulur! :)

    BalasHapus
  3. waahhh adek saya gak ada ni kang.. hahahaaa

    BalasHapus