Kamis, 29 Oktober 2009

PROSES atau HASIL ?



Hmm...saya pernah mendengar sebuah ungkapan yang saya pribadi kurang begitu tahu dari mana dan siapa yang menggabungkan beberapa kalimat itu menjadi sebuah ungkapan, yang tak asing di telinga orang banyak umumnya dan para remaja khususnya. Kurang lebih ungkapan itu berbunyi : "Sebuah vas bunga yang telah pecah, walaupun diperbaiki sedemikian rupa tak akan bisa dan tak akan pernah bisa seindah dulu lagi".

Well..diantara kita mungkin akan mempunyai penafsiran yang berbeda dari ungkapan tersebut, karena seperti yang kita ketahui bersama, sebuah penafsiran setiap orang pada dasarnya memang akan berbeda tergantung sudut pandang dan persepsi yang mereka miliki, yang sangat berkaitan dengan pengalaman dan pendidikan yang mereka jalani. Tapi, yang paling sering kita dengar, biasanya ungkapan tadi sering digunakan bagi orang-orang atau mereka yang tak ingin kembali lagi terhadap mantan kekasihnya, yang menurut mereka telah menyakitinya dan tak ada kata maaf untuk itu.

Saya pribadi, termasuk orang yang kurang begitu setuju dengan ungkapan di atas. Ungkapan tadi seakan-akan lebih mementingkan sebuah hasil daripada sebuah proses. Padahal kehidupan yang kita semua jalani ini, bukanlah tentang hasil tapi tentang seberapa kuat dan kerasnya kita dalam menjalani sebuah proses kehidupan guna mencapai hasil itu sendiri. Bila kita lebih mementingkan hasil, maka kita akan cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil tersebut. Kita lambat laun akan dikuasai oleh hawa nafsu dan rasa egois dalam diri kita. Dan yang terjadi selanjutnya adalah kita tak lagi mengenal kata moral dan kelak agama hanya lah sebagai topeng belaka. Sayangnya, ruang dan waktu yang kita jalani sekarang membentuk kita seperti itu, membentuk kita untuk mendapatkan hasil yang instant.

Apa yang perlu kita sadari adalah Allah telah mengatur semuanya untuk kita. Kita semua telah mempunyai jalan cerita dan takdir nya masing-masing. Tak ada yang perlu kita takutkan lagi, karena Allah telah menyiapkan segalanya untuk kita. Kita hanya tinggal menjalani semuanya dengan sikap tawakal, sabar dan tak kenal putus asa. Kita sebagai manusia hanya berkewajiban untuk melakukan ikhtiar semaksimal mungkin dan berdo'a seraya beribadah yang sebenar-benarnya kepada Allah untuk mendapatkan ridho-Nya. Dan sisanya biarkanlah Allah yang mengaturnya untuk kita. Karena sesungguhnya, Allah lebih mengetahui mana yang terbaik bagi manusia. Karena Allah lah pencipta kita.

Mungkin memang, sebuah vas yang retak bahkan hancur berkeping-keping, tak akan seindah awalnya walaupun telah kita perbaiki. Tapi, pernahkah kita bayangkan sebelumnya, bagaimana sebuah proses yang sangat indah memperbaiki vas itu? Bagaimana kita menahan segala emosi kita dan mencoba untuk bersabar dalam merekatakan setiap kepingan vas yang ada dan di setiap belahan yang kita pegang menyadarkan akan kesalahan kita yang mengakibatkan vas tersebut rusak, dengan begitu kita akan berintrosprksi diri dan mencoba berubah menjadi yang lebih baik lagi.

Hmmm...sebuah proses yang indah :)

Minggu, 18 Oktober 2009

Sepak bola : Our Live In A Small Version



Sepakbola, Football, Soccer, ya..ada banyak cara untuk menyebut permainan ini. Sebuah olahraga yang sangat mendunia dan paling populer dewasa ini. Tak terkecuali, di negara kita tercinta ini, Indonesia, sepakbola (begitu biasa kita menyebutnya) adalah permainan sekaligus olahraga yang paling digemari. Secara sederhana, olahraga ini adalah sebuah permainan yang dilakukan oleh dua tim, yang masing-masing tim berjumlah sebelas orang. Dilakukan di sebuah lapangan, menggunakan sebuah bola dan setidaknya ada tiga orang wasit yang mengatur jalannya pertandingan. It's simple, isn't it?

Dan seiring perkembangan zaman, olahraga ini telah berkembang menjadi sebuah industri olahraga yang sangat menggiurkan bagi para pengusaha, bahkan untuk mereka yang tidak menegerti tentang sepak bola sekalipun. Dan, tentu saja wajah pesepakbolaan kini tak sesederhana dulu, kini telah banyak aturan yang mengatur sebuah sistem ini, entah itu yang berhubungan langsung dengan teknis sepak bola itu sendiri ataupun aturan untuk mengatur bisnis dibalik dan diluar masalah permainan ini.

Mungkin, kita bertanya-tanya mengapa sepak bola bisa begitu digemari di dunia. Tak ada jawaban pasti untuk masalah ini, karena faktor subjektifitas sangat kental di dalamnya. Tapi, saya pribadi yang secara langsung adalah penggemar berat dari olahraga sepak bola itu sendiri, mempunyai pendapat bahwa sepak bola adalah olahraga yang paling dekat dengan kehidupan kita semua. Olahraga yang sangat murah dan sangat mudah untuk dilakukan begitu pula untuk kita pahami. Dan lebih jauh lagi, Sepak bola adalah potret kehidupan kita.

Kita semua bisa mengambil banyak pelajaran dalam olahraga ini. Sepak bola mengajarkan kita agar tidak bersikap individulistis dalam menjalani hidup ini. Karena, sepak bola adalah permainan kolektif dan begitu juga hidup kita. Kita tak akan pernah lepas dari orang lain, karena disadari atau tidak, kita akan selalu membutuhkan orang lain.

Kehidupan ini bukanlah tentang hasil, tapi tentang proses yang kita lalui. Kita lihat bagaimana sepak bola begitu sangat menghargai sebuah proses daripada sebuah hasil. Itulah mengapa sepak bola menggunakan format liga, dimana sang juara didapatkan melalui waktu yang lama. Lalu, di dalam menjalani sebuah proses itu, kita harus selalu semangat, pantang menyerah walau di saat paling terakhir sekalipun. Banyak fakta, yang telah saya lihat dalam sepak bola, bagaimana sebuah tim bisa memenangkan pertandingan dan mengubah atau membalikan skor akhir, hanya dalam hitungan menit bahkan detik sekalipun!

Masih banyak pelajaran hidup ataupun potret kehidupan kita yang tersaji dalam sebuah olahraga yang bernama, Sepak Bola. Sepak bola lebih dari sekadar olahraga, sepak bola adalah sebuah pertarungan gengsi dan harga diri dengan jutaan orang sebagai saksinya. Well, ini hanyalah pendapat saya berdasarkan pemikiran dan persepsi yang saya miliki dan pengetahuan yang saya dapatkan. Tak ada paksaan, terlebih bagi anda yang tidak menyukai sepak bola. Pesan saya, bila memang anda tidak menyukai olahraga ini, jangan buat persaan tidak suka itu menjadi perasaan benci terhadap olahraga ini. Itu hak anda untuk suka ataupun tidak, tapi tetaplah melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang positif. Agar, bila ada hal yang positif atau berguna, anda bisa mengambil pelajaran dari itu semua.

Kamis, 08 Oktober 2009

Shaum, bukan Puasa.

*Artikel ini telah saya tulis pada tanggal 27 Agustus 2009, di www.sman1sumedang.com.

Shaum secara etimologi bermakna menahan diri dari sesuatu, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Sedangkan menurut definisi ahli fikih, shaum adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan intim (seks) pada siang hari disertai dengan niat.

Bagi kita sebagi siswa apalagi sebagi seorang muslim, pengertian itu bukanlah hal yang aneh. Kita semua sudah sangat paham akan hal itu. Tapi, ada satu permasalahan menarik dalam hal Shaum ini. Bukan mengenai perbedaan pendapat tentang pengertiannya, tapi justru istilah untuk menyebut shaum itu sendiri.

Banyak atupun hampir mayoritas muslim Indonesia menyebut ibadah ini dengan sebutan Puasa. Bagi orang awam, sepertinya masih bisa untuk kita maklumi, tapi sebagai seorang yang terpelajar, agak aneh bila masih menyebut ibadah ini sebagai Puasa.

Kenapa?
itulah mungkin reaksi pertama, karena mungkin banyak dari kita yang berpikir, bahwa ini hanya lah masalah pelafalan. Iya, ini memang hanya masalah istilah dan pelafalan, tapi ini juga menyangkut benar dan salah. Hal yang harus kita pahami adalah bahwa puasa bukanlah berasal dari istilah Islam, melainkan berasal dari agama Hindu. Asal katanya adalah Upawasa, yang berarti pendekatan kepada Hyang Maha Esa. Dan, menurut pengertian ini, puasa bermakna tidak makan dan tidak minum selama sehari penuh.

Lalu kenapa sebutan puasa lebih populer daripada shaum?
Itu karena Agama Hindu lebih dahulu masuk ke Indonesia dan mempengaruhi kehidupan luas masyarakat Indonesia. Dan ketika Islam datang, para cendikiawan Islam pada saat itu, sengaja menggunakan istilah Hindu ataupun Budha dalam melakukan dakwahnya, agar lebih mudah diterima, dicerna dan dipahami oleh masyarakat pada zaman itu. Karena, seperti yang kita ketahui, masyrakat pada zaman itu, bukanlah kaum terpelajar. Tapi, sayangnya, perjalanan dakwah mereka belum benar-benar selesai karena banyak faktor, diantaranya adalah tentu saja faktor umur.

Oleh karena itu, kita sebagai kaum yang terpelajar, wajib meneruskan dakwah para pendahulu kita dan marilah kita mulai dengan menggunakan istilah-istilah yang benar dan sesuai dengan ajaran Islam. Bila kita masih ragu, silahkan kita buka Al-Qur'an ataupun Hadits tentang Shaum, maka kita akan membaca "SHAUM" bukan "PUASA".

Jadi, di bulan Ramadhan ini, mari kita laksanakan ibadah Shaum dan semoga Allah SWT. menerima segala amal ibadah kita. Amin...

Sabtu, 03 Oktober 2009

Gempa, Media dan Pemerintah.



Musibah memang mutlak kekuasaan Allah, manusia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahan itu semua. Tak ada yang bisa kita perbuat kecuali melewati semua cobaan itu dengan sikap tawakal dan sabar. Hmm...belum hilang dari ingatan kita, belum hilang ketakutan kita tentang gempa yang terjadi di Tasikmalaya, yang saya pribadi pun ikut merasakan guncangan akan "kemarahan" alam tersebut. Kita semua, bangsa Indonesia dikagetkan dengan gempa yang terjadi di kawasan Sumatera Barat pada hari Rabu (30/09/10). Gempa pertama terjadi pada pukul 17:16, lokasi 57km barat laut Pariaman, kedalaman 71km dan berkekuatan 7,6 Skala Ritcher. Gempa yang merupakan gempa tektonik itu, ternyata bukan gempa terakhir yang terjadi pada hari itu. Tepatnya, pada pukul 17:38, gempa susulan terjadi di 22km barat daya Pariaman dengan kedalaman 110km, dan kekuatannya mencapai 6,2 Skala Ritcher. Saya pribadi miris mendengar akan hal itu, tak bisa saya bayangkan bagaimana guncangan yang terjadi, perasaan para korban dan tak bisa saya bayangkan bagaimana guncangan bumi pada hari kaimat nanti...

Dampak gempa pun sangat luar biasa, bisa dibilang inilah gempa terbesar yang terjadi di Indonesia, hampir menyerupai gempa di Aceh, tapi tanpa tsunami tentunya. Secara umum gempa menghancurkan infrastruktur yang ada di kawasan Sumatera Barat dan aliran listrik se-Sumbar pun padam. Korban jiwa, berdasarkan data pada hari Jum'at (2/10/09), korban meninggal : 518, luka berat : 90, dan luka ringan : 1590.

Betapa besar akibat yang ditimbulkannya, kita sebagai manusia harus tetap sabar dan kita sebagai sesama manusia tentunya harus mampu dan berusaha menolong saudara-saudara kita di sana, secara moral ataupun materil. Aapalagi, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk itu. Saya pikir, pembirataan media massa, entah itu televisi ataupun koran, sangat keterlaluan bila hati kita tidak terketuk untuk ikut menolong saudara kita di sana. Khusus untuk berita yang ada di televisi, saya pikir mereka sudah melewati moral yang ada, dalam artian mereka terlalu membesar-besarkan peristiwa yang terjadi. Sebenarnya, telah sejak lama media massa pertelevisian kita, melenceng dari tujuan awalnya. Seharusnya, sebagai media massa, mereka hanya berkewajiban untuk menyampaikan fakta yang terjadi di lapangan, tapi apa yang terjadi sekarang, mereka kini telah menjadi media pembentuk opini rakyat. Mereka ramai-ramai menggiring rakyat untuk berpendapat pada satu pendapat tertentu. Tak jadi masalah, bila para jurnalis menyisipkan opini mereka, tapi tentunya tanpa merubah fakta yang ada, apalagi merubah fakta itu sendiri untuk kepentingan tertentu. Ada kesan, Bad News Is A Good News For Them.

Dan apa yang terjadi dalam hal pemberitaan gempa yang terjadi di Sumbar ini pun sangat tidak manusiawi, apalagi di televisi, gambar-gambar dan video-video darah, luka para korban, potongan tubuh, mereka ekspos dengan jelas dan terkesan mengeksploitasi itu semua dan menakuti masyarakat pada umumnya. Jika memang mereka ingin mengetuk hati kita semua, saya pikir tidak perlu berlebihan seperti itu. Saya mengharapkan agar para jurnalis lebih peduli tentang permasalahan ini, lebih mementingkan dalam menyampaikan fakta daripada mengedepankan opini. Jangan mengeksploitasi kesedihan, tapi berilah harapan bagi kita semua, bagi para korban.
Kita semua telah bersedih, jadi jangan ingatkan kita tentang kesedihan itu.

Banyak cara untuk menghibur mereka semua, dan cara itu tentu saja dengan memberi mereka bantuan. Pemerintah dalam hal ini, telah memberi bantuan dana darurat sebesar Rp. 250 miliar untuk hampir 200 ribu korban jiwa. Saya pikir itu jumlah yang tidak kecil, tapi menjadi ironi, karena hampir dalam waktu yang berdekatan dana pelantikan anggota DPR/DPD untuk "hanya" 692 orang, menelan biaya sebesar Rp. 46,049 Miliar. Betapa mereka para wakil kita, belum juga bekerja nyata telah menghabiskan begitu banyak uang disaat sedang terjadi musibah. Dan, yang perlu kita ingat, dana bantuan yang ada dari Pemerintah pun belum sepenuhnya tersalurkan, karena lagi-lagi masalah sepele, yaitu masalah birokrasi yang ada. Begitu ironi memang nasib negara kita...

Pada akhirnya, terjadinya suatu musibah, hanya ada karena 2 kemungkinana, yaitu karena Allah ingin mengingatkan kita agar berintrospeksi diri dan senantiasa mengingat-Nya atau karena Allah mengazab kita semua karena kita telah terlalu jauh melanggar segala hal yang telah Dia tentukan bagi kita. Semoga musibah yang terjadi di Indonesia, bukanlah karena alasan yang kedua. Dan, sekarang kita hadapi semua cobaan ini dengan rasa sabar dan sikap tawakal, jadikan cobaan ini sebagai jalan agar kita semakin dekat kepada Allah Swt. .

Kamis, 01 Oktober 2009

What Is Magic ?



What Is Magic?

Bukanlah sebuah pertanyaan biasa, tapi lebih dari itu kata-kata tadi adalah acara sulap paling terbaru dari ilusionis dan endurance artist terkenal asal Amerika, yaitu David Blaine. Sebenarnya acara itu tidak bisa dibilang baru, karena telah diproduksi atau dibuat pada tahun 2008. Tapi, untuk kawasan Asia, khususnya Indonesia, acara itu baru ditayangkan pada tanggal 24 September 2009 di AXN, chanell tv yang hanya bisa dilihat orang-orang yang berlangganan Tv berbayar. Main Show dari acara yang diberi judul : davidblaine:What Is Magic ?, adalah The Bullet Catch. The Bullet Catch adalah trik yang cukup terkenal di Amerika sana dan David Blaine sendiri bukanlah orang yang pertama dalam melakukan trik berbahaya itu. Sederhananya, The Bullet Catch adalah usaha sang pesulap untuk menangkap sebuah peluru, dengan sebuah cangkir baja yang disimpan di dalam mulutnya. Yupz, sedikit kesalahan saja bisa membuat si pesulap kehilangan nyawanya! dan seperti yang telah saya duga, David Blaine berhasil melewati tantangan itu dengan sukses.

David Blaine adalah pesulap favorit saya, karena dia lebih dari seorang pesulap. Dia juga merupakan orang dengan ketahanan tubuh di atas rata-rata orang pada umumnya. Banyak dari aksi-aksinya yang dapat membuktikan itu semua, diantaranya:

1. Buried Alive, April 5, 1999 : David dikubur secara hidup-hidup selama 7hari dan hanya minum tanpa makan.


2. Frozen in Time, November 27, 2000 : David berdiri dengan ditempel oleh balok es yang sangat tebal selama 63 jam, 42 menit and 15 detik.


3. Vertigo, May 22, 2002 : David berdiri tegak di sebuah pilar atau tiang di kawasan Bryant Park, New York City. Dengan tinggi 30 m dan lebar tiang hanya 0.56 m. David melakukan aksi ini selama 35 jam.


4. Above the Below, September 5, 2003 : David tinggal selama 44hari tanpa makanan dan hanya minum 4,5 liter air per harinya, di sebuah Plexiglass yang diangkat dengan ketingian 9m.


5. Drowned Alive, May 1, 2006 : David tinggal di sebuah bola raksasa yang penuh dengan air selama 7 hari 7 malam.


6. Dive of Death, September 18, 2008 : Inilah aksi yang membuat dia dijuluki "The Upside Down Man". Dia digantung dengan keadaan terbalik selama 60jam.


Yupz...itulah sederat aksi-aksi berbahaya dari seorang David Blaine yang menggabungkan sulap dan ketahanan tubuh. Tapi, apakah sulap itu benar-benar ada? Hmmm...sebuah pertanyaan yang sering kita dengar ketika kita selesai menonton sebuah acara sulap. Wajar memang, tapi mari kita sama-sama selidiki.

Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, karangan Indrawan WS, sulap berarti permainan atau pertunjukan kecepatan tangan atau dengan bantuan roh sehingga menakjubkan penonton. Dari pengertian ini, kita sebagai muslim tentunya, bisa berkesimpulan bahwa sulap tidak lah ada dan hanya trik belaka, tanpa roh, jin atau ilmu ghaib lainnya. Kenapa? Karena untuk masalah atau hal-hal yang ghaib, Allah telah dengan jelas berfirman bahwa itu hanyalah urusan Allah dan manusia hanya sedikit saja diberitahu tentang itu.

Lalu bagaimana dengan para pesulap yang mampu mempertunjukan sebuah ilusi-ilusi yang bisa dibilang mustahil untuk dilakukan? Sekali lagi itu hanyalah buah dari pemikiran dan kecerdikan dari pesulap itu sendiri. Apalagi dewasa ini, telah banyak orang yang berani mempertunjukan rahasia sulap yang ada, contohnya saja, acara Breaking The Magician Code. Si pesulap yang menggunakan topeng dengan blak-blakan memperlihatkan dan memberitahu kita bagaimana caranya melakukan sebuah trik sulap, dari yang sederhana sampai yang paling rumit sekalipun.

Tapi, bagaimana dengan perkataan dari pesulap itu sendiri yang amat begitu meyakinkan ? Pendapat saya, para pesulap dalam hal ini tak lebih dan tak jauh beda dari seorang aktor dan aktris dalam sebuah film, yang berpura-pura menjadi orang lain dan menghayati itu semua, agar kita bisa percaya akan hal itu.

Hemat saya, daripada kita terus membuat bingung pikiran kita sendiri, akan lebih baik kita menikmati mereka para pesulap sebagai sebuah hiburan bagi kita. Selayaknya kita menonton sebuah film, kita tahu bahwa itu semua tidak nyata tapi kita tidak memperdulikannya dan tetap menikmatinya saja. Dan tak jauh beda dari film, agar bisa laku keras dan digemari orang banyak, mereka berusaha keras untuk meyakinkan kita dan membuat itu senyata mungkin, dan begitu juga acara sulap. Tapi, pada akhirnya, itu semua tak lebih dari sebuah trik belaka.

Pada akhirnya, ayo kita nikmati sulap dengan para pesulapnya, seperti hal nya saya menggemari seorang David Blaine. Tapi, tak lebih hanya sebagai sebuah hiburan.
SO, WHAT IS MAGIC ?

DAVID BLAINE - THE BULLET CATCH
http://www.youtube.com/watch?v=ZdKujIUFrwc