Jumat, 31 Mei 2013

HARI TANPA TEMBAKAU

STOP MEROKOK ?

HARI TANPA TEMBAKAU SEDUNIA
Hari Tanpa Tembakau Sedunia
http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Tanpa_Tembakau_Sedunia

Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati di seluruh dunia setiap tahun pada tanggal 31 Mei. Gerakan ini menyerukan para perokok agar berpuasa tidak merokok (mengisap tembakau) selama 24 jam serentak di seluruh dunia. Hari ini bertujuan untuk menarik perhatian dunia mengenai menyebarluasnya kebiasaan merokok dan dampak buruknya terhadap kesehatan. Diperkirakan kebiasaan merokok setiap tahunnya menyebabkan kematian sebanyak 5,4 juta jiwa. Negara-negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencetuskan Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini pada tahun 1987. Dalam satu dasawarsa terakhir, gerakan ini menuai reaksi baik berupa dukungan dari pemerintah, aktivis kesehatan, dan organisasi kesehatan masyarakat, ataupun tentangan dari para perokok, petani tembakau, dan industri rokok.

WHO dan Hari Tanpa Tembakau
Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah salah satu dari banyak hari peringatan yang terkait dengan upaya peningkatan kesadaran masyarakat akan kesehatan, termasuk diantaranya Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Hari AIDS Sedunia, Hari Donor Darah Sedunia, dan lain-lain.
Pada 1987, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengesahkan Resolusi WHA40.38, menyerukan tanggal 7 April 1988 sebagai "hari tidak merokok sedunia". 7 April 1988 bertepatan dengan ulang tahun ke-40 WHO. Tujuan hari ini adalah mendesak para pecandu tembakau agar berpuasa tidak merokok selama 24 jam, sebuah tindakan yang diharapkan dapat mendorong mereka untuk berusaha berhenti merokok.
 
Pada 1988, Resolusi WHA42.19 disahkan oleh Majelis Kesehatan Dunia, menyerukan dirayakannya Hari Tanpa Tembakau Sedunia setiap tanggal 31 Mei. Sejak saat itu WHO senantiasa mendukung hari Tanpa Tembakau Sedunia tiap tahunnya, mengaitkan tiap tahun dengan tema khusus terkait tembakau.
 
Pada 1998, WHO membentuk Inisiatif Bebas Tembakau (Tobacco Free Initiative/TFI), sebuah upaya untuk memusatkan perhatian dan upaya internasional kepada masalah kesehatan global tentang tembakau. Inisiatif ini memberikan bantuan untuk menciptakan kebijakan kesehatan publik dunia, mendorong mobilisasi antar masyarakat, dan mendukung Konvensi WHO untuk Kerangka Pengendalian Tembakau (FCTC).
 
FCTC WHO adalah traktat kesehatan publik global yang diterapkan sejak 2003 oleh berbagai negara di dunia sebagai kesepakatan untuk menerapkan kebijakan yang mengarah kepada penghentian kebiasaan merokok.
 
Pada 2008, pada malam Hari Tanpa Tembakau Sedunia, WHO menyerukan seluruh dunia agar melarang semua bentuk iklan, promosi, dan sponsor tembakau. Tema tahun itu adalah Pemuda Bebas Rokok; karena itulah inisiatif ini secara khusus menyoroti iklan rokok yang ditujukan pada remaja. Menurut WHO, industri rokok kini tengah berupaya meremajakan pasarnya yang sekarat; menggantikan para perokok dewasa yang tengah berupaya berhenti merokok atau sedang sakit-sakitan, dengan kaum muda sebagai perokok potensial. Karena hal itulah strategi pemasaran rokok umumnya membidik berbagai hal yang menarik perhatian kaum muda, seperti film, musik, olahraga, internet, bilboard, dan majalah. Penelitian menunjukkan bahwa makin terpaparnya remaja pada iklan rokok, makin besar kemungkinan mereka untuk merokok.
 
Tiap tahun, WHO menentukan tema untuk Hari Tanpa Tembakau Sedunia untuk menciptakan kesatuan pesan global anti rokok. Tema ini menjadi komponen utama agenda WHO terhadap tembakau di tahun berikutnya. WHO mengawasi penciptaan, penyebaran, dan penyiaran materi terkait tema ini termasuk brosur, selebaran, poster, situs web, dan rilis untuk pres.
 
Pada 2008 untuk tema Pemuda Bebas Tembakau, video Youtube diciptakan sebagai upaya peningkatan kesadaran kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dalam tema Hari Tanpa Tembakaunya, WHO menekankan gagasan mengenai “kebenaran.” Tema seperti “Tembakau dapat Membunuh, jangan terkecoh” (2000) dan “Tobacco: mematikan dalam berbagai wujudnya” (2006) menunjukan keyakinan WHO bahwa keyakinan pribadi mengenai sifat asli tembakau dapat disesatkan; rasional tema 2000 dan 2008 menyoroti strategi pemasaran dan “ilusi” yang diciptakan oleh industri tembakau sebagai penyebab utama kebingungan ini.
 
Materi penyuluhan WHO menjadi pemahaman alternatif dilihat dari fakta dari perspektif kesehatan publik global. Materi publikasi gerakan anti tembakau ini menyajikan penafsiran resmi paling mutakhir atas riset terkait tembakau dan data statistik untuk memberi landasan argumen anti tembakau di seluruh dunia.

HARI BERHENTI MEROKOK
Mungkin sebagian besar orang Indonesia belum banyak yang mengetahui hari tanpa tembakau sedunia ini, hanya segelintir orang saja yang mengetahui. Kalau anda tidak percaya, bisa anda coba bertanya dengan orang-orang di sekitar anda. Sebagian besar akan menjawab "TIDAK TAHU".

Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini di peringati setiap tanggal 31 Mei.  Berbagai wacana di usung untuk memeriahkan Hari Tembakau Sedunia ini, berbagai media masa seperti Radio, Televisi maupun media cetak mengulas tentang pro dan kontra di balik Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini.
 
Seremonial Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang seharusnya bisa disadari oleh semua pihak ternyata jauh dari yang diharapkan. Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini sama halnya dengan TIDAK MEROKOK. Identiknya tembakau dengan rokok sudah sama-sama kita sadari. Bagaiman hebatnya devisa yang didapat dari rokok ini dan malahan fakta terbaru bahwa INDONESIA MENDUDUKI PERINGAT KE-3 DI DUNIA sebagai NEGARA PALING BANYAK PEROKOKNYA.
 
Banyak yang menyuarakan bahwa dilarang merokok, jangan merokok atau berbagai hal lain yang melarang produksi tembakau ini. Namun hanya sebuah wacana.
Kebiasaan merokok di Indonesia memang sudah menjadi sesuatu yang begitu menghawatirkan. Bagaimana anak-anak sekolah di negeri ini PASTI DAN PASTI ADA YANG MEROKOK. TIDAK PERCAYA. Coba anda berkunjung ke sekolah-sekolah. Dan lihat faktanya.
 
Hari Tanpa Tembakau Sedunia, bisa dimaknai dari 3 sisi yakni dari sisi pemakai, dari pabrik yang memproduksi tembakau dan tentu saja dari pemerintah sendiri.
1.    Sebagai pemakai
Pemakai tembakau memang kebanyakan kaum perokok atau orang-orang yang begitu suka merokok. Berbagai peraturan yang sudah dirancang agar tidak merokok di tempat umum, tidak boleh merokok di dekat anak-anak sekolah atau mengharamkan merokok bagi kaum pelajar. Tentu berbagai peraturan ini tidak akan berarti apa-apa apabila kebanyakan masyarakat tidak menyadari bahaya di balik rokok ini.
2.    Pabrik Tembakau
Tentu saja dari pihak pabrik seharusnya mengurangi pasokan produksi tembakau ini. Kalau di tutup mungkin akan banyak memakan korban, bagaimana ribuan karyawan ada di sana. Namun pengurangan produksi rokok ini mudah-mudahan sedikit bisa mengurangi dampak dari rokok ini.
3.    Pemerintah
Dari sisi pemerintah ya seharusnya jelas. Harusnya bagaimana, kalau pemerintah masih beranggapan bahwa devisa benar-benar dari rokok. Pemerintah seharusnya mulai berfikir bahwa masih banyak hal yang bisa menyumbangkan selain devisa dari rokok. Mengurangi produksi rokok dengan berbagai peraturan pemerintah seharusnya mulai di tegaskan kembali sehingga seremonial hari tanpa tembakau sedunia bukan sekedar wacana mengambak bak asap rokok he he he he
 
Jadi Selamat Hari Tembakau Sedunia. Mari maknai sebagai HARI BERHENTI MEROKOK

TEMBAKAU

Tembakau adalah produk pertanian yang diproses dari daun tanaman dari genus Nicotiana. Tembakau dapat dikonsumsi, digunakan sebagai pestisida, dan dalam bentuk nikotin tartrat dapat digunakan sebagai obat. Jika dikonsumsi, pada umumnya tembakau dibuat menjadi rokok, tembakau kunyah, dan sebagainya. Tembakau telah lama digunakan sebagai entheogen di Amerika.
 
Kedatangan bangsa Eropa ke Amerika Utara memopulerkan perdagangan tembakau terutama sebagai obat penenang. Kepopuleran ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat bagian selatan. Setelah Perang Saudara Amerika Serikat, perubahan dalam permintaan dan tenaga kerja menyebabkan perkembangan industri rokok. Produk baru ini dengan cepat berkembang menjadi perusahaan-perusahaan tembakau hingga terjadi kontroversi ilmiah pada pertengahan abad ke-20.
 
Dalam Bahasa Indonesia tembakau merupakan serapan dari bahasa asing. Bahasa Spanyol "tabaco" dianggap sebagai asal kata dalam bahasa Arawakan, khususnya, dalam bahasa Taino di Karibia, disebutkan mengacu pada gulungan daun-daun pada tumbuhan ini (menurut Bartolome de Las Casas, 1552) atau bisa juga dari kata "tabago", sejenis pipa berbentuk y untuk menghirup asap tembakau (menurut Oviedo, daun-daun tembakau dirujuk sebagai Cohiba, tetapi Sp. tabaco (juga It. tobacco) umumnya digunakan untuk mendefinisikan tumbuhan obat-obatan sejak 1410, yang berasal dari Bahasa Arab "tabbaq", yang dikabarkan ada sejak abad ke-9, sebagai nama dari berbagai jenis tumbuhan. Kata tobacco (bahasa Inggris) bisa jadi berasal dari Eropa, dan pada akhirnya diterapkan untuk tumbuhan sejenis yang berasal dari Amerika.

ROKOK

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lainnya.
 
Rokok biasanya dijual dalam bungkusan berbentuk kotak atau kemasan kertas yang dapat dimasukkan dengan mudah ke dalam kantong. Sejak beberapa tahun terakhir, bungkusan-bungkusan tersebut juga umumnya disertai pesan kesehatan yang memperingatkan perokok akan bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan dari merokok, misalnya kanker paru-paru atau serangan jantung (walaupun pada kenyataannya itu hanya tinggal hiasan, jarang sekali dipatuhi).
 
Manusia di dunia yang merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam.
 
Telah banyak riset yang membuktikan bahwa rokok sangat menyebabkan ketergantungan, di samping menyebabkan banyak tipe kanker, penyakit jantung, penyakit pernapasan, penyakit pencernaan, efek buruk bagi kelahiran, dan emfisem.

Jenis rokok
Rokok dibedakan menjadi beberapa jenis. Pembedaan ini didasarkan atas bahan pembungkus rokok, bahan baku atau isi rokok, proses pembuatan rokok, dan penggunaan filter pada rokok.

Rokok berdasarkan bahan pembungkus.

    Klobot: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun jagung.
    Kawung: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun aren.
    Sigaret: rokok yang bahan pembungkusnya berupa kertas.
    Cerutu: rokok yang bahan pembungkusnya berupa daun tembakau.

Rokok berdasarkan bahan baku atau isi.

    Rokok Putih: rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
    Rokok Kretek: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
    Rokok Klembak: rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau, cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.

Rokok berdasarkan proses pembuatannya.

    Sigaret Kretek Tangan (SKT): rokok yang proses pembuatannya dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu sederhana.
    Sigaret Kretek Mesin (SKM): rokok yang proses pembuatannya menggunakan mesin. Sederhananya, material rokok dimasukkan ke dalam mesin pembuat rokok. Keluaran yang dihasilkan mesin pembuat rokok berupa rokok batangan. Saat ini mesin pembuat rokok telah mampu menghasilkan keluaran sekitar enam ribu sampai delapan ribu batang rokok per menit. Mesin pembuat rokok, biasanya, dihubungkan dengan mesin pembungkus rokok sehingga keluaran yang dihasilkan bukan lagi berupa rokok batangan namun telah dalam bentuk pak. Ada pula mesin pembungkus rokok yang mampu menghasilkan keluaran berupa rokok dalam pres, satu pres berisi 10 pak. Sayangnya, belum ditemukan mesin yang mampu menghasilkan SKT karena terdapat perbedaan diameter pangkal dengan diameter ujung SKT. Pada SKM, lingkar pangkal rokok dan lingkar ujung rokok sama besar.

Sigaret Kretek Mesin sendiri dapat dikategorikan kedalam 2 bagian :

    Sigaret Kretek Mesin Full Flavor (SKM FF): rokok yang dalam proses pembuatannya ditambahkan aroma rasa yang khas. Contoh: Gudang Garam International, Djarum Super dan lain-lain.
    Sigaret Kretek Mesin Light Mild (SKM LM): rokok mesin yang menggunakan kandungan tar dan nikotin yang rendah. Rokok jenis ini jarang menggunakan aroma yang khas. Contoh: A Mild, Clas Mild, Star Mild, U Mild, L.A. Lights, Surya Slims dan lain-lain.

Rokok berdasarkan penggunaan filter.

    Rokok Filter (RF): rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus.
    Rokok Non Filter (RNF): rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat gabus.

Dilihat dari komposisinya :

    Bidis: Tembakau yang digulung dengan daun temburni kering dan diikat dengan benang.Tar dan karbon monoksidanya lebih tinggi daripada rokok buatan pabrik. Biasaditemukan di Asia Tenggara dan India.
    Cigar: Dari fermentasi tembakau yang diasapi, digulung dengan daun tembakau. Adaberbagai jenis yang berbeda di tiap negara. Yang terkenal dari Havana, Kuba.
    Kretek: Campuran tembakau dengan cengkeh atau aroma cengkeh berefek mati rasa dan sakit saluran pernapasan. Jenis ini paling berkembang dan banyak di Indonesia.
    Tembakau langsung ke mulut atau tembakau kunyah juga biasa digunakan di AsiaTenggara dan India. Bahkan 56 persen perempuan India menggunakan jenis kunyah. Adalagi jenis yang diletakkan antara pipi dan gusi, dan tembakau kering yang diisap denganhidung atau mulut.
    Shisha atau hubbly bubbly: Jenis tembakau dari buah-buahan atau rasa buah-buahanyang disedot dengan pipa dari tabung. Biasanya digunakan di Afrika Utara, TimurTengah, dan beberapa tempat di Asia. Di Indonesia, shisha sedang menjamur seperti dikafe-kafe

Bahan kimia yang terkandung dalam rokok

Berikut adalah beberapa bahan kimia yang terkandung di dalam rokok:

    Nikotin, kandungan yang menyebabkan perokok merasa rileks.
    Tar, yang terdiri dari lebih dari 4000 bahan kimia yang mana 60 bahan kimia di antaranya bersifat karsinogenik.
    Sianida, senyawa kimia yang mengandung kelompok cyano.
    Benzene, juga dikenal sebagai bensol, senyawa kimia organik yang mudah terbakar dan tidak berwarna.
    Cadmium, sebuah logam yang sangat beracun dan radioaktif.
    Metanol (alkohol kayu), alkohol yang paling sederhana yang juga dikenal sebagai metil alkohol.
    Asetilena, merupakan senyawa kimia tak jenuh yang juga merupakan hidrokarbon alkuna yang paling sederhana.
    Amonia, dapat ditemukan di mana-mana, tetapi sangat beracun dalam kombinasi dengan unsur-unsur tertentu.
    Formaldehida, cairan yang sangat beracun yang digunakan untuk mengawetkan mayat.
    Hidrogen sianida, racun yang digunakan sebagai fumigan untuk membunuh semut. Zat ini juga digunakan sebagai zat pembuat plastik dan pestisida.
    Arsenik, bahan yang terdapat dalam racun tikus.
    Karbon monoksida, bahan kimia beracun yang ditemukan dalam asap buangan mobil.

Jumat, 31 Mei 2013
10.00 WIB


Pagi hari ketika saya awali untuk membuka jejaring sosial saya, twitter, terlihat begitu banyak tweet yang menghiasi Timeline saya dengan berbagai macam redaksi kata dengan satu substansi utama : HARI ANTI TEMBAKAU!

Dahi saya seketika mengerut diikuti dengan decakan oleh mulut. Saya tidak anti dengan semua itu. Saya pun tidak skeptis.

Saya hanya melihat setiap argumen yang mereka berikan untuk memaknai atau sekedar ikut “memeriahkan” hari anti-tembakau dengan kalimat yang terlalu provokatif. Saya pikir tidak holistik.

Ketika tembakau itu kemudian memang diidentikan dengan rokok, ya begitu-lah adanya. Bahkan penyebutan istilah Hari Anti Tembakau saya pikir hanya sebuah usaha pemilihan redaksi kata yang berkonotasi baik, tidak vulgar juga radikal. Karena pesan utamanya adalah hari tidak merokok. Tapi entah kenapa kemudian kalimat Hari Anti Tembakau yang lebih populer disebutkan.

Lalu ketika merokok itu memang sangat tidak baik untuk kesehatan juga begitu-lah adanya. Akan tetapi satu yang sepertinya dilupakan oleh orang-orang yang ikut serta dalam kampanye anti-tembakau (atau setidaknya yang saya lihat di Timeline), terlalu bersemangat untuk mencaci para perokok.

Saya katakan, bahwa merokok itu pada akhirnya adalah sebuah hak dan pilihan hidup setiap pribadi manusia. Kenapa saya katakan seperti itu? Karena pada kenyataannya ketika kita berbicara mengenai benar atau salah, maka kita harus hadapkan itu semua pada aturan yang ada. Kebenaran itu mutlak, tidak nisbi.

Ketika tak ada aturan yang mengatur tentang sesuatu hal, maka mau tidak mau kita tidak bisa untuk  menghakimi seseorang atas apa yang diperbuatnya. Lantas benar menurut siapa dan apa? Ya jelas benar dan salah menurut aturan. Aturan apa? Nah disini yang mungkin akan menjadi sebuah perbincangan yang agak hangat.

Saya akan mengutip dan menjadikan pedoman apa yang disampaikan oleh Ilhami Bisri, S.H., M.Pd., dalam bukunya yang berjudul Sistem Hukum Indonesia. Saya setuju bahwa kehidupan manusia merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Karena apakah ada diantara kita yang meminta untuk dilahirkan? Lahir itu bukan pilihan, iya ‘kan? “tiba-tiba” saja kita ada di dunia ini dan sesaat setelah itu “mau atau tidak” kita harus berjalan menjalani kehidupan.

Oleh karena itu setiap manusia harus menjalaninya berdasarkan aturan kehidupan yang lazim disebut norma. Apa itu norma? Norma adalah istilah yang sering digunakan untuk menyebut segala sesuatu yang bersifat mengatur kehidupan manusia.

Kenapa manusia harus diatur? Karena dimana ada masyarakat maka disitu ada hukum (Ubi societas Ibi Ius, Cicero). Ini sebuah keniscayaan, tanpa ada aturan maka tak akan ada ketertiban, keadilan, kepastian, dan kemanfaatan. Bahkan di hutan sekalipun ada aturan, karena bukankah hukum rimba juga berarti aturan?

Perumpaan yang diberika oleh Ilhami Bisri adalah sistem norma bagi manusia bagaikan pakaian hidup yang membuat manusia merasa aman dan nyaman dalam menjalani tugas hidupnya.

Apa saja sistem norma itu? Sistem norma yang berlaku bagi manusia sekurang-kurangnya terdiri atas 4 (empat) unsur, yakni : norma moral, agama, sopan-santun, dan hukum.

Norma moral adalah sistem aturan yang berlaku bagi manusia yang bersumber dari setiap hati manusia yang bekerja atas dasar kesadaran setiap manusia. Norma agama adalah sistem aturan berdasarkan ajaran agama yang dianutnya. Norma sopan-santun bersumber dari kesepakatan-kesepakatan yang diciptakan oleh dan dalam suatu komunitas masyarakat suatu wilayah tertentu Dan norma hukum adalah sistem aturan yang diciptakan oleh lembaga kenegaraan yang ditunjuk melalui mekanisme tertentu.

Bagi saya pribadi dikarenakan keempat norma kehidupan tersebut harus berjalan secara sistematik, simultan, dan komplementer, maka saya mengurutkan norma-norma tertsebut ke dalam tingkatan : 1) norma agama; 2) norma hukum; 3) norma moral;dan 4) norma sopan-santun. 

Kenapa seperti itu? Karena saya meyakini bahwa saya ada karena Sang Pencipta, maka jelas saya harus berjalan sesuai dengan apa yang Sang Pencipta kehendaki. Lalu norma hukum karena selain makhluk individu saya adalah juga makhluk sosial dan sebagai makhluk sosial yang hidup bermasyarakat saya terikat dalam sebuah Negara yang dijalankan oleh hukum.

Norma moral saya tempatkan pada urutan ketiga, karena ini berkaitan dengan apa yang hati saya katakan, setelah saya memahami dan tau dengan apa yang telah Tuhan dan Negara atur, maka sepenuhnya semua ada di tangan saya, apakah menaati atau justru melangkahi.
Tentu saya pun telah menyadari konsekuensi apa yang akan saya hadapi. Ini masalah pemahaman dan keyakinan.

Dan norma sopan-santun di urutan terkahir karena hal ini sangat bersifat relatif. Kita hanya tinggal beradaptasi hidup secara dinamis.

Mari kita kembali ke permasalahan utama. Lalu apa korelasinya ini dengan tembakau? Ini berkaitan dengan “tujuan” saya untuk membela dan balik menyerang mereka yang saya rasa terlalu radikal mencaci para perokok. Sekaligus sebagai upaya saya untuk meyakinkan bahwa merokok itu (sampai detik hingga saya menuliskan ini) adalah sebuah hak dan pilihan hidup.

Saya mengajak kalian semua berputar terlebih dahulu karena memang saya ingin menggiring anda pada satu opini bahwa kita tidak bisa mencaci para perokok secara membabi-buta karena memang para perokok itu tidak salah.

Kenapa tidak salah? Karena mereka tidak menyalahi aturan!

Mari kita lihat sesuai dengan norma yang telah saya sebutkan secara panjang dan mungkin lebar. 

Di dalam agama, setau saya (koreksi jika saya salah walaupun saya juga mengetahui pendapat lain) rokok itu tidak diharamkan! Rokok itu hanya makruh.

Dilihat dari norma hukum, tidak ada aturan perundang-undangan di Indonesia yang menyebutkan secara spesifik bahwa setiap warga Negara Indonesia dilarang untuk merokok. 

Ya, pengaturan secara lebih spesifik dalam bentuk tempat dan umur memang (mungkin) ada, tapi secara mutlak keselurahan, saya rasa tidak ada.

Sejauh yang saya tau, di dalam UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, di dalam Bagian Ketujuh Belas pasal 113 s.d. 116 hanya menyebutkan kata “pengamanan” bukan “pelarangan”. Lalu ditegaskan dalam salah satu ayatnya bahwa merokok itu hanya dilarang pada tempat-tempat tertentu dan setiap daerah wajib memiliki kawasan tanpa rokok.

Tidak ada larangan untuk merokok juga ada pada Peraturan Pemerintah Nomor 109 tahun 2012. Bahkan kita sudah bisa melihat itu dari nama Peraturan Pemerintah itu sendiri yang berbunyi “Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan.” Pengamanan bukan pelarangan!

Aturan tersebut tidak melarang merokok secara mutlak tapi lebih kepada membatasi segala bentuk peredarannya. Larangan yang termuat pasti dalam aturan itu hanya-lah larangan untuk menjual rokok kepada anak di bawah usia 18 tahun, perempuan hamil, dan menggunakan mesin layan diri (pasal 25).  Selebihnya adalah bentuk aturan kepada produsen rokok itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan norma moral dan sopan-santun? Saya pikir kedua norma ini sangat dipengaruhi oleh norma agama dan hukum itu sendiri. Kenapa begitu? Karena kedua norma ini bersifat mengatur ke dalam dan berupa kesepakatan tidak tertulis.

Jadi, argumen saya bahwa merokok itu pilihan dan hak, sudah cukup terbukti ‘kan? Sepanjang tidak ada aturan yang melarang secara mutlak bahwa merokok itu dilarang maka tolong hormati-lah para perokok.

Akan tetapi apabila kemudian yang diajukan adalah hak asasi manusia orang-orang yang tidak merokok. Maka perdebatan ini bisa kembali kita buka.

Karena saya pun setuju kita harus membasmi para perokok yang dengan sangat angkuhnya merokok di sekitar orang yang tidak merokok atau di tempat umum yang secara jelas dan terang dilarang untuk merokok.

Tapi terlepas dari itu semua, mari kita saling menghargai. Karena konsekuensi dari anjuran adalah ya jangan marah atau kesal ketika orang yang anda anjurkan tidak mengikuti apa yang telah anda katakan. Karena anjuran bukan perintah, iya ‘kan?

Tapi kampanye untuk hidup sehat atau segala hal positif lainnya tentu tidak bisa serta merta dihentikan. Argumen saya ini bukan untuk menghentikan kegiatan itu atau tidak setuju dengan segala bentuk kampanye positif.  Karena kita manusia harus saling memberi nasihat dalam kebaikan dan kesabaran.

Dosa apabila kita hidup apatis, tak peduli dengan orang yang ada di sekitar kita, bila begitu untuk apa kita hidup bermasyarakat?

Tapi kita pun tidak bisa untuk memaksakan, yang terpenting adalah kita telah saling mengingatkan secara optimal.

Saya menulis ini bukan karena saya (memang) seorang perokok ( baca : KELAM, PENGAKUAN ) tapi saya hanya ingin adanya equal respect diantara kita semua. Semua saling menghargai dan menghormati terhadap setiap pilihan dan selera yang berbeda yang tidak menyalahi norma.

Terakhir, setelah banyak kalimant “membela” perokok, maka kritikan saya bagi para perokok adalah silahkan anda (saya) merokok tapi yang terpenting dari sekedar melihat aturan yang ada, anda (atau kita) jangan sampai membunuh akal sehat.

Ya, satu akal sehat telah terbunuh karena kita merokok padahal merokok itu merusak kesehatan. Jadi, jangan akal sehat yang lain pun lantas kita bunuh. Akal sehat apa? Akal sehat bahwa lebih baik merokok daripada makan. Membeli rokok walaupun penghasilan pas-pas-an dan tetap merokok walaupun nafas kita sudah terengah-engah kehabisan. Serta merokok di tempat dan situasi yang jelas melarang kita untuk merokok penuh keramaian.

Ahh, masih banyak kok akal sehat lainnya. Tapi akal sehat yang utama sih ya akal sehat yang menyatakan bahwa kenapa harus merusak tubuh sempurna yang telah diciptakan Tuhan? 
Nah lho!

#PMA all day, guys!

Senin, 27 Mei 2013

NEVER GIVE UP


Senin, 27 Mei 2013
10.00 WIB


Lagi dan lagi saya akan mencoba menampilkan sebuah tugas. Tugas hasil karya sendiri berbentuk sebuah tulisan, mencoba ilmiah sebagai konsekuensi seorang peserta didik dalam dunia akademisi. Segalanya harus bisa untuk dipertanggungjawabkan. Mengenyampingkan segala kebenaran intuisi, mengutamakan data yang faktual, valid, bisa untuk diselidiki.
 

Kenapa saya jadi begini? Begitu bernafsu dengan segala macam yang berbentuk ilmiah?
Karena saya sungguh malu, saya telah mengikuti sebuah lomba penulisan karya tulis ilmiah, tapi apa yang saya lakukan masih jauh dari metode ilmiah. 

Apa yang saya tulis masih sangat mengalir, tanpa ada kerangka berpikir. Tidak mendalam, tidak ada fokus dan lokus yang jelas. Sangat normatif dengan bahasa bombastis, tak begitu baku.
 
Ahh, saya berlindung di bawah ketiak “pengalaman pertama”, awalnya begitu. 

Tapi saya pun lantas menyadari, tak bijak rasanya selalu mencari pembenaran ketika kita sepenuhnya salah. Tak baik sepertinya selalu mencari alasan ketika kesalahan itu murni kita berbuat sendiri.
 
Mencoba membesarkan hati, mencoba menelan ludah tanpa tersedak, mencoba menahan emosi, dan mencoba tetap merasionalkan akal. Saya pun dengarkan segala masukan/kritikan yang datang mengalir deras. Ada yang mencoba membungkusnya dengan bahasa halus, ada juga yang menumpahkannya dengan bahasa apa adanya. Semua sama, substansi sama, hanya redaksi kata yang berbeda.

Lalu apa selanjutnya? 

Mata, kepala, dan hati saya lebih terbuka. Bahwa saya senang untuk menulis memang benar adanya, tapi ketika tulisan saya itu telah benar adalah perkara lain. 

Saya ternyata terlalu terbuai dengan pujian, saya terlalu sering mendengar pujian atau pujian itu yang terlalu sering menampakan dirinya ke permukaan atau saya selalu beruntung menampilkan “tulisan” ketika orang-orang memang ingin memuji saya.

Akibatnya saya merasa bahwa saya telah hebat. Ukuran “tau diri dan tau batas” yang saya pegang menjadi tinggi. Sehingga ketika ada sebuah moment, saya ambil moment tersebut karena merasa mampu dan saya pun mau. ( baca : kemampuan dan kemauan ) tapi ternyata saya belum mampu, saya belum “tau diri dan tau batas”.

Saya seharusnya lebih banyak mendengar masukan atau kritikan atau cacian atau hujatan. Atau seharusnya saya tidak selalu beruntung menampilkan ”tulisan” sehingga kritikan-lah yang akan datang. Atau seharusnya hewan bernama kritikan, cacian, hujatan itu sering untuk keluar dan memangsa saya. Adakah umpan untuk itu?
 
Tapi saya yakinkan disnini : saya tidak menyerah!! 

Walau beberapa kali sepertinya “meyerah” menjadi sebuah pilihan yang manis untuk dilakukan. Terlihat begitu menggoda dengan bentuk yang memunculkan nafsu mengakhiri semua.
 
Tapi akal sehat saya berkata lain dan segera untuk mengambil alih semua. Saya justru merasa terpacu untuk lagi, lagi, lagi, dan lagi menulis karya lain yang lebih menampilkan ke-ilmiahan-nya. 

Hasrat saya bulat dan penuh : saya ingin mendapatkan label penulis. Saya ingin orang bisa mengakui apa yang saya tuliskan. Saya ingin apa yang saya tuliskan bisa menjadi sebuah referensi.
 
Jadi ... 
terima kasih banyak kritikan, cacian, hujatan. 
terima kasih banyak telah datang, dan merobek kepercayaan diri saya. 

Saya akan mengalahkan kalian semua, mungkin tidak sekarang tapi yakin-lah itu akan ada di suatu masa, di masa depan.

Semua orang ada massanya, semua massa ada orangnya.

#PMA all day, guys!

Rabu, 22 Mei 2013

Jangan Bedakan Kaya atau Miskin!

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/10/24/1441387620X310.jpg

Rabu, 22 Mei 2013
14.15 WIB


*catatan : Ini hanya sebuah tugas tapi saya pikir cukup relevan untuk saya posting di dalam blog. 
Sekedar berbagi sedikit ilmu tentang Strategi Pelayanan Publik serta kondisi yang ada di lingkungan saya sekarang ini berada. 
Bisa juga menjadi sebuah berita. Terserah-lah anda mau menyebut ini apa. 
Tapi saya harap, setidak-tidaknya ini bisa memberikan manfaat bagi anda semua. 
Memberikan pemahaman bahwa kita harus selalu "memperhatikan" apa yang telah, sedang, dan akan Pemerintah lakukan. 
Tidak apatis, tidak skeptis. Tapi tidak juga pesimistis.

Jadi, selamat membaca.
#PMA all day, guys! :)

Salah satu artikel yang terdapat/dimuat di Koran Tribun Pontianak edisi Sabtu, 27 April 2013, dengan judul Midji : Jangan Bedakan Kaya dan Miskin, memberitakan tentang peresmian instalasi rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarief Muhamad Al Kadrie, yang dilakukan oleh Walikota Pontianak, Sutarmidji. Pada sambutannya, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, menyampaikan bahwa didirikannya RSUD Sultan Syarief Muhamad Al Kadrie merupakan salah satu wujud nyata dari penjabaran visinya dalam bidang kesehatan yaitu orang yang berobat ke sini datang meringis, pulang tersenyum. Karena di RSUD ini tidak mengenal sistem kelas dalam perawatannya sehingga diharapkan tidak akan ada diskriminasi terhadap pasien yang datang untuk berobat.
 
RSUD Sultan Syrief Muhamad Al Kadrie memang dirancang tanpa kelas sehingga sangat berbeda dengan rumah sakit umum lainnya. Pada prakteknya nanti, rumah sakit ini hanya akan memperlakukan pasien sesuai dengan jenis penyakit yang dideritanya. Sehingga tidak akan ada perbedaan perlakuaan pasien berdasarkan kaya atau miskin serta ruangan yang ditempatinya. Walikota menegaskan dan juga memberikan sebuah arahan langsung kepada seluruh pegawai yang ada di lingkungan RSUD untuk tidak pernah membedakan antara pasien kaya atau miskin.
 
Seperti yang telah kita ketahui bersama, fungsi dasar pemerintah mencakup 3 (tiga) hal, yaitu : Pelayanan, Pemberdayaan, dan Pembangunan (Prof. Ryas Rasyid). Kaitannya dengan artikel ini maka Pemerintah Kota Pontinak telah menjalankan salah satu fungsinya sebagai pemerintah yaitu melaksanakan fungsi pelayanan, yang dalam hal ini adalah pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan merupakan pelayanan dasar yang harus diutamakan dan menjadi prioritas dalam pemenuhannya. Karena tanpa tingkat kesehatan yang baik, maka tidak akan mungkin masyarakat bisa menjalankan aktifitasnya dengan lancar bahkan kesehatan masuk ke dalam 3 (tiga) penilaian Indeks Pertumbuhan Manusia (IPM) selain dari pendidikan dan pendapatan.
 
Pemerintah dalam menjalankan fungsi pelayanan setidak-tidaknya didasari oleh 3 (tiga) paradigma, yaitu OPA, NPM, dan NPS. Ketiga paradigma ini tentu memiliki kelebihan serta kekurangannya masing-masing akan tetapi sesuai dengan karakteristik masing-masing paradigma tersebut, masing-masing paradigma itu akan pas atau sesuai apabila diterapkan pada salah satu bidang tertentu. 

Pelayanan kesehatan yang termasuk ke dalam sektor atau bidang kesejahteraan masyarakat maka akan cocok atau sesuai apabila menggunakan paradigma NPS atau New Public Service. Secara garis besarnya NPS berarti memperlakukan masyarakat sebagai warga Negara (citizen) , untuk mewujudkan nilai-nilai demokrasi. Sehingga menurut paradigma ini masyarakat mempunyai hak dan memang wajib untuk dilayani sebaik mungkin serta seoptimal mungkin tanpa adanya sebuah diskriminasi.
 
Di samping itu, pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah memang harus didasari oleh niat untuk menciptakan atau mencari sebanyak mungkin manfaat (benefit) bukan justru mencari sebuah keuntungan. Karena pelayanan publik yang dilakukan oleh institusi pemerintah harus bermotifkan sosial sesuai dengan visi dan misi serta mencari dukungan penuh dari masyarakat. Sehingga apa yang telah dilakukan oleh pemerintah Kota Pontianak di bawah kepemimpinan Sutarmidji dengan membangun RSUD berkonsep tanpa kelas jelas merupakan sebuah jalan yang sangat baik dilihat dari strategi pelayanan publik dalam sektor kesehatan.
 
Strategi seperti itu telah menjadi sebuah strategi yang bersifat teknis dan langsung bisa dirasakan oleh masyarakat. karena dengan tidak adanya kelas maka besar harapan serta kemungkinan pelayanan kesehatan yang diterima masyarakat akan sama tanpa ada perbedaan harga. Akan tetapi, pemerintah kota Pontianak tetap harus melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya dan juga melakukan evaluasi berkaitan dengan tarif yang dibebankan kepada masyarakat tidak mampu yang menderita penyakit yang memerlukan perawatan mahal. Tidak menutup kemungkinan akan ada masyarakat miskin yang menderita penyakit yang harus mendapatkan perawatan yang cukup mahal.
 
Seperti yang disebutkan di dalam berita tersebut, Wali Kota menjamin tidak akan ada diskriminasi terhadap pasien kaya atau miskin berdasarkan ruangan. Pasien hanya akan diberlakukan sesuai dengan jenis penyakitnya dan juga RSUD ini tidak akan memberikan pengobatan gratis. Berdasarkan dua pernyataan itu, dikhawatirkan masyarakat miskin memang tidak akan mendapatkan diskriminasi dalam hal ruangan tetapi mereka justru akan berat untuk membayar tagihan yang nantinya mereka terima.
 
Akan tetapi secara keseluruhan, ide dan konsep RSUD tanpa kelas memang merupakan sebuah strategi pelayanan publik yang sangat baik untuk setidaknya bisa meminimalisir terjadinya diskriminasi terhadap pasien kaya atau miskin. Dengan adanya konsep ini setidaknya masyarakat miskin sudah bisa terjamin akan mendapatkan sebuah pelayanan kesehatan yang sesuai dengan jenis penyakit yang mereka derita walaupun belum ada jaminan bagi mereka mampu membayar tagihan yang nantinya harus mereka bayar setelah mereka dinyatakan sembuh.

Senin, 20 Mei 2013

Kultur

SUBEDJO IPDN KAMPUS KALBAR

Senin, 20 Mei 2013
15.57 WIB


Saya yang takut primordialisme (baca : Takut Primordialisme), seharusnya berada di garda terdepan untuk memeranginya. Tapi saya justru masih sering untuk melakukannya, walau dalam takaran dan bentuk yang berbeda. Kecil dan sederhana.
 
Saya hanya meyakini bahwa perubahan yang hakiki itu adalah evolusi bukan revolusi. Karena dengan revolusi akan selalu ada darah berjatuhan dan nyawa yang terbuang. Tak sia-sia memang, tapi tak manusiawi rasanya.
 
Tapi dengan cara evolusi, dengan cara yang santun bukan keras. Maka perubahan itu akan meresap dan terlembaga dalam hati setiap manusia. Mereka mengerti dan memahami dengan keteladanan yang utama.
 
Terlebih ini masalah budaya (kultur di tempat saya lebih terkenal disebutnya). Ya, struktur dan prosedurnya memang telah lama dibenahi. Diperbaiki dan disesuaikan dengan perubahan serta tuntutan perkembangan zaman. Semua telah direformasi. Restorasi. Bahkan mungkin revolusi.
 
Semua berubah sungguh kearah yang lebih baik, tapi kultur? Ini masalah lain, tidak akan serta merta bisa dengan mudah merubahnya. Perlu banyak waktu, apalagi masih terdapat generasi yang hidup dengan struktur dan prosedur yang membuat kultur itu. Sehingga generasi tersebut akan lebih mudah untuk “mengajarkan” kultur yang telah mereka mengerti dan pahami secara kaffah, daripada menjalankan kultur yang baru.
 
Kenapa begitu? Apakah orang-orang itu anti-perubahan? Saya rasa tidak, tapi ini lebih kepada bahwa kenyataan yang menyebutkan bahwa kultur itu tidak tercipta dalam waktu singkat. Kultur itu hasil karya, karsa, dan cipta suatu masyakarat. Kultur itu sistem nilai. Kultur itu yang kemudian mempengaruhi perilaku manusia.
 
Sedangkan struktur dan prosedur itu hanya alat. Betul bahwa struktur dan prosedur itu adalah salah satu alat atau cara untuk juga membentuk kultur yang baru. Akan tetapi perlu waktu serta komitmen yang tinggi dari setiap orang yang ada di dalamnya. Dan terpenting adalah komitmen dari pimpinan yang ada di dalamnya.
 
Apabila secara struktur dan prosedur sudah berubah tapi kemudian pada tataran impelemntasi untuk membentuk kultur yang baru itu masih dijalankan setengah hati maka jangan harapkan akan muncul sebuah kultur baru, sesuai dengan apa yang dicita-citakan.
 
Dan begitu-lah sekiranya apa yang ada di sini. Struktur dan kultur sudah dibenahi begitu sangat indahnya. Tetapi pada tataran implementasi masih terdapat beberapa “keraguan” sehingga kultur lama pun masih dengan nyamannya dilaksanakan dan diturunkan.
 
Pada kenyataanya tidak semua kultur di sini bernilai jelek. Kultur kekeluargaan dan mengutamakan keluarga sendiri dalam arti asal pendaftaran, saya pikir tidak sepenuhnya bernilai jelek. Karena logikanya, kita harus terlebih dahulu mengenal saudara sendiri sebelum kita bisa melangkah maju dan bersama mereka yang jauh.
 
Kultur yang mengajarkan seorang kakak untuk “mencampuri” urusan adiknya serta membina adiknya, saya pikir juga bukan sebuah kultur yang harus dengan serta merta dihilangkan. Karena jiwa seorang pamong yang harus mampu mengayomi serta memberi tauladan kepada orang lain tidak bisa tercipta hanya dengan mempelajari teori, harus dilaksanakan dan dilatih secara terus menerus.
 
Bagaimana kita belajar memimpin dan dipimpin. Bagaimana kita belajar mengurus dan diurus orang lain. Bagaimana kita menyelesaikan sebuah masalah dan memberikan sebuah solusi. Hal-hal praktis yang harus dilatih.
 
Sehingga apa yang harus dirubah bukan kultur itu secara penuh, tapi cara dalam menjalankan kultur tersebut. Karena sepanjang seragam itu masih dikenakan lengkap dengan atribut serta tanda pangkat yang tersemat. Maka kultur senior-junior, kakak-adik, akan tercipta. Permasalahannya adalah bagaimana cara menjalankan senior-junior dan hubungan kolegial kakak-adik tersebut.
 
Tapi mungkin dunia memang benar-benar telah berubah. Demokrasi memang benar-benar telah dipahami secara utuh atau mungkin cenderung bebas. Setiap orang memang memiliki hak untuk berpendapat dan hidup dengan pendapatya.
 
Ketika pendapatnya itu tidak bertentangan hukum atau aturan hanya sedikit tidak sesuai etika serta estetika, maka siapa yang bisa menyalahkan?
 
Saya yang tidak suka untuk memaksa orang lain dalam hal pendapat apalagi selera, apalagi dengan zaman yang telah demokrasi bukan lagi otoriter maka lebih memilih untuk mundur secara teratur.
 
Ya, dalam masalah ini, pesta demokrasi ini, semua kembali kepada angkatan kalian wahai adik-adik saya tercinta. Tapi, kami hanya ingin mengarahkan kalian, kami tak ingin acuh terhadap kalian. Terlebih dengan situasi yang ada, maka apakah bijak bagi kami untuk melepas kalian begitu saja?

Kami tidak memupuk lagi primordialisme, tapi kami hanya mendorong kalian dalam satu lingkup keluarga. Bila kalian telah memilki pemikiran bahwa ini adalah urusan angkatan kalian sehingga kami tak layak mencampurinya, maka apakah itu bukan artinya kalian menyuruh kami untuk bersikap apatis pada kalian?

Apakah memang struktur dan prosedur yang sekarang ini mengajarkan kita untuk bersikap seperti itu? Apakah memang atas nama hak asasi kalian tidak lagi memilki keinginan untuk bermusyawarah, bermufakat? Apakah tak ada lagi nilai-nilai kebersamaan untuk kebaikan?
 
Saya tak tau apabila memang ternyata seperti itu sehingga maafkan saya. Dan bila begitu, pantas-lah kalian tak lagi menghormati kami, tak ada lagi rasa sedikit untuk menghargai kami bahkan segan terhadap kami sebagai kakak kalian.

Saya tidak tau kalau kultur menghormati, menghargai, dan segan terhadap seorang kakak sudah tidak lagi relevan di zaman ini.
Bila begitu, tolong maafkan saya.

ahh! #PMA all day…

Selasa, 14 Mei 2013

Pancasilais atau Sekularis ?

Selasa, 14 Mei 2013
16.07 WIB

http://www.themuslimtimes.org/wp-content/uploads/2012/01/Teks-pancasila-.jpg
Di dalam Bab I pasal 1 ayat (3) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disebutkan bahwa Negara Indonesia adalah Negara hukum. Hal ini menegaskan bahwa Indonesia bukan merupakan Negara kekuasaan (Machstaat).
 
Konsep Negara hukum atau Negara yang  berdasarkan hukum berawal dari ungkapan yang dilontarkan oleh Cicero yang berbunyi “Ubi Societas Ibi Ius” atau secara sederhananya dapat kita artikan sebagai dimana ada masyarakat disitu ada hukum.

Pernyataan Cicero itu bermakna bahwa ketika manusia hidup secara bermasyarakat maka mau tidak mau, disadari atau tidak, maka akan selalu tercipta sebuah hukum diantara mereka.

Berawal mula dari sebuah pernyataan sederhana, konsep Negara hukum mengalami perkembangan yang signifikan terutama setelah munculnya juga pendapat dari Plato dan Aristoteles. Plato dalam karyanya yang berjudul “Nomoi” (The Law), mengatakan bahwa suatu Negara sebaiknya berdasarkan atas hukum dalam segala hal.

Sedangkan Aristoteles mengungkapkan bahwa suatu Negara yang baik adalah Negara yang diperintahkan oleh konstitusi dan berkedaulatan hukum.

Pada intinya apa yang bisa saya pahami dari konsep Negara hukum adalah suatu Negara yang berusaha menjalankan segala kekuasaan yang dimilikinya berdasarkan asas legalitas atau segala sesuatunya jelas tertulis sehingga tidak ada penyalahgunaan kekuasaan.

Karena seperti apa yang telah diungkapkan oleh Lord Acton bahwa kekuasaan itu cenderung untuk disalahgunakan dan kekuasaan mutlak pasti akan disalahgunakan (Power tends to corrupt but absolute power corrupts absolutely).

Jadi ketika suatu Negara dijalankan berdasarkan kekuasaan maka dikhawatirkan penguasa yang sedang memegang atau memiliki kekuasaan itu akan menjadi sewenang-wenang. Dia berada di atas segalanya sehingga akan muncul istilah The King Can Do No Wrong.

Indonesia pun pernah terjebak pada situasi seperti itu ketika hukum tak berdaya dan berada di bawah ketiak penguasa. Sehingga di dalam amandemen ketiga, di dalam UUD 1945, konsitusi kita, dicantumkan salah satu ayat yang berbunyi bahwa negera Indonesia adalah Negara hukum.

Permasalahan yang ada kini, yang ingin saya soroti di sini adalah berkenaan dengan Negara hukum seperti apa sebenarnya Indonesia itu.

Secara teori, ada tiga pendapat mengenai unsur-unsur suatu Negara hukum yang ada di dunia.

Pertama Negara hukum berdasarkan Rechtstaat (Frederich Yulius Stahl), yaitu terdiri dari : 1) pengakuan dan perlindungan HAM; 2) pembatasan kekuasaan; 3) Pemerintahan berdasarkan aturan hukum; dan 4) Peradilan administrasi.

Kedua, unsur-unsur Negara hukum dalam The Rule of Law, yaitu : 1) Supremacy of Law; 2) Equality Before the law;dan 3) Individual Rights.

Dan yang ketiga adalah unsur-unsur Negara hukum berdasarkan socialist Legality, yakni : 1) Manifestation of Socialism; 2) The law as a tool of socialism;dan 3) Push on social right than individual right.

Dari ketiga teori diatas, teori kedua terlihat sangat dekat dengan unsur-unsur Negara hukum yang ada di Negara liberal dan teori ketiga sangat dekat Negara yang menggunakan sistem komunisme.

Sedangkan pada teori yang pertama merupakan ciri-ciri atau unsur-unsur Negara hukum yang lebih bersifat universal.

Indonesia sendiri yang di dalam UUD 1945 disebutkan bahwa kedaulatan itu berada di tangan rakyat jelas amat dekat dengan sistem demokrasi dalam melaksanakan sistem politiknya. Terlebih lagi dengan adanya pemilihan pemimpin politik yang langsung dilaksanakan oleh rakyat sebagai wujud nyata kedaulatan rakyat maka jelas Indonesia memang menggunakan sistem politik demokrasi.

Lalu Negara hukum seperti apa Indonesia itu? Apakah liberal?atau sosialis?

Tentu Indonesia bukan merupakan Negara Liberal, bukan juga Negara sosialis, Indonesia adalah Negara Pancasila seperti yang telah disebutkan dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat.

Indonesia tidak berada di sisi Liberal ataupun Sosial, Indonesia dengan gagahnya berani berdiri di kaki ideologinya sendiri. Ideologi terbuka yang memang benar-benar digali dari masyarakat Indonesia itu sendiri. Dan ideologi itu kemudian dirumuskan ke dalam 5 (lima) sila yang disebut dengan Pancasila.

Konsekuensinya adalah Indonesia sebagai Negara hukum jelas memiliki unsur-unsur yang berbeda dari Negara hukum yang lainnya karena memang menggunakan ideologi yang juga berbeda serta memiliki karakteristik tersendiri.

Menurut F.M. Hadjon Negara Hukum Pancasila itu adalah : 1) keserasian hubungan antara rakyat dan pemerintah berdasarkan kerukunan; 2) Hubungan fungsional yang proporsional antar kekuasaan Negara; 3) penyelesaian sengketa melalui musyawarah dan peradilan merupakan sarana terakhir;dan 4) keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Lalu M. Tahir Azhary memberikan pendapat lain atau menurut hemat saya, justru pendapat ini melengkapi dari apa yang telah disebutkan oleh F.M Hadjon, yakni : 1) adanya hubungan erat antara agama dan Negara; 2) bertumpu pada Ketuhanan Yang Maha Esa; 3) kebebasan beragama dalam artian positif; 4) atheism tidak dibenarkan dan komunisme tidak diprkenankan;dan 5) berdasarkan asas kekeluargaan dan kerukunan.
 
Intisari dari dua pendapat tadi adalah bahwa Negara hukum Pancasila atau sesuai dengan apa yang Indonesia pegang saat ini berarti merupakan sebuah Negara hukum yang mengutamakan atau didasari oleh Ketuhahan Yang Maha Esa serta keseimbanagan antara Hak dan Kewajiban yang mendahulukan musyawarah mufakat berdasrkan asas kekeluargaan, kerukunan yang proporsional.

Hal yang ingin saya garis bawahi di sini adalah berarti sebagai Negara Hukum Pancasila, Indonesia juga dengan sangat tegas bukan merupakan sebuh Negara sekuler atau Negara yang memisahkan urusan agama dan urusan penyelenggaraan Negara.

Saya menjadi sangat ingin membahas hal ini karena saya meihat sekulerisme telah sedikit demi sedikit masuk kedalam pemikiran dari banyak rakyat Indonesia. Kemudian semua ini menjadi bertambah parah karena setiap kali ada orang yang ingin meluruskan pemikiran sekuler justru kemudian dicap sebagai orang yang tidak Pancasilais. What?!
 
Ini semua mengingatkan saya pada sebuah pepatah lama dari seorang diktator di zamanya yaitu Adolf Hitler. Dia berkata bahwa kebohongan yang diucapkan berulang kali akan menjadi sebuah kebenaran.

Kaitanya dengan ini adalah sebuah kebohongan bahwa Indonesia sebagai Negara Pancasila tidak memperkenankan Negara untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tapi karena ini terus diucapkan maka seakan hal itu menjadi benar.

Dan dengan argumen seperti yang telah saya sebutkan di atas, masihkah ada yang berpendapat Negara hukum Pancasila itu adalah sebuah Negara sekuler?

Maka salah dan tidak Pancasilais ketika ada orang yang berkata dan berpendapat bahwa urusan agama itu adalah urusan pribadi setiap manusia dengan Tuhan maka tak perlu Negara mengintervensi di dalamnya. Sekali lagi ini salah, dan teramat sangat salah!

Apabila kita ingin konsekuen sebagai Negara Pancasila maka mari kita amalkan setiap sila dalam Pancasila dan dalam sila tersebut terdapat sila Ketuhanan Yang Maha Esa sehingga menjadi kewajiban bagi Negara untuk mengatur urusan agama setiap masyarakatnya, tanpa terkecuali, apakah itu Muslim, Nasrani, Hindu, Budha atau Katolik. Semua harus negara atur dan perhatikan.

Tapi dewasa ini, entah karena euphoria demokrasi atau Hak Asasi, Negara seperti enggan untuk terlibat dalam urusan agama. Negara seperti acuh tak acuh terhadap segala bentuk penyimpangan rakyatnya terhadap agama yang mereka anut.

Lalu permasalahan lain muncul dengan adanya phobia terhadap agama Islam. Karena pada dasarnya Muslim yang taat akan selalu mencampuri urusan agama setiap saudaranya maka banyak diantara rekan-rekan muslim yang kemudian dicap sebagai ekstrimis.

Satu kesalahan yang kemudian merambat pada kesalahan yang lainnya. Dan hal ini jelas harus segera untuk dibenahi.

Bagaimana caranya? caranya adalah pertama dan yang utama, pola pikir masyarakat terhadap apa itu Negara Pancasila tentu harus mendapat penyegaran dan kembali pada hakikat utamanya. Paham tentang demokrasi dan Hak Asasi juga harus diselaraskan dengan kondisi Indonesia. Tidak dan bukan justru mengikuti penuh seperti apa yang telah diterapkan di dunia Barat karena jelas secara kultur dan ideologi sangat berbeda.

Paham, sistem, dan prosedur Demokrasi serta Hak Asasi haru disesuaikan dengan Konsep Negara Pancasila karena memang idelogi kita adalah Pancasila.

Upaya yang memang tidak akan bisa dilakukan dalam waktu sekejap apalagi dengan globalisasi seperti dewasa ini. Tapi sekali lagi, hal ini perlu untuk diluruskan agar perkembangan politik bangsa Indonesia bisa berjalan seiring dengan perkembangan ekonomi juga kehidupan beragama sehingga kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia tidak lagi hanya menjadi sebuah impian semata.

Karena tak cukup cerdas secara knowledge, ataupun skill, kita pun  harus mampu cerdas secara attitude.

Stay #PMA
:)

Sabtu, 11 Mei 2013

The Chronicle of My Birthday

Sabtu, 11 Mei 2013
22.04 WIB

tradisi
Ahh, ulang tahun.
Hal yang selalu memberikan sebuah ironi. Di satu sisi kita bahagia karena umur kita bertambah. Kita pun bahagia karena masih mampu untuk bernafas dan melihat indah serta buruknya kehidupan. Tapi di sisi yang lain, kita juga dipaksa untuk bersedih. Kita bersedih karena umur kita berkurang.
 
Kita semakin bertambah tua dan semakin dekat dengan kematian, tapi tanpa ada jaminan kedewasaan, kebijaksanaan, dan bertambahnya kebaikan dalam kehidupan ini. Dan karena itu kita pun menjadi bersedih.
 
Normalnya hal-hal seperti itu akan kita rasakan. Dan karena saya selalu merasakan dua perasaan serta logika yang bertentangan seperti itu maka saya pun selalu bimbang dan ragu dalam memberikan respon ketika saya harus bertemu kembali dengan tanggal saat saya (katanya) dilahirkan.
 
Bijaknya dan sebaiknya, tentu kita harus menyikapi itu semua dengan penuh rasa syukur diiringi sebuah intropeksi yang dalam. Setelah itu lantas kita membuat sebuah resolusi untuk memperbaiki segala yang salah serta terus mengembangkan segala hal baik. It sounds simple, right? But believe me, it is hard to do.
 
Saya tidak akan berdebat mengenai bagaimana hukum merayakan sebuah ulang tahun karena jelas dalam agama saya, tak ada ritual seperti halnya bernyayi, tiup lilin, dan hal-hal lain yang identik dengan perayaan hari ulang tahun.
 

Tapi saya pun tidak anti. Saya mencoba untuk menyikapinya dengan sudut pandang yang holistik.
 
Saya memang tidak menyetujuinya, tapi saya pun tidak pernah atau belum bisa untuk menolaknya. ( baca : 19th ) Jadi, mari sejenak kita tinggalkan perdebatan itu.
 
Bagi saya pribadi, saya selalu berusaha untuk tidak terlalu bahagia dan juga bersedih ketika saya mampu untuk menginjakan kaki di tanggal saya (katanya) dilahirkan. Saya mencoba untuk tetap tenang. Saya mencoba untuk lebih banyak memupuk rasa syukur dalam hati. Sembari terus mengevaluasi hal-hal apa yang telah saya kerjakan di dalam umur yang telah Allah berikan.
 
Setelahnya, lantas saya pun mencoba untuk membuat beberapa catatan pada diri saya sendiri kemudian menumbuhkan dan menciptakan beberapa harapan baru atau sekedar menghidupkan kembali harapan-harapan yang telah mati.
 
Akan tetapi hal yang selalu membuat saya mati kata (speechless) dan selalu salah dan bertingkah adalah ketika ada orang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya atau bahkan memberikan hadiah kepada saya. Saya menjadi kehabisan kata dan salah dalam bertingkah karena bagi saya tindakan-tindakan yang mereka lakukan jelas merupakan sebuah bentuk perhatian dan kebaikan yang sangat tinggi terhadap saya.

me + present

Saya selalu khawatir saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan yang telah mereka berikan. Karena selalu menjadi beban rasanya, ketika saya tidak pernah mampu membalas kebaikan orang lain walaupun sebenarnya orang-orang yang berlaku baik pada saya itu tak pernah mengharapkan balasan apapun.
 
Saya yang meyakini bahwa dunia ini pasti akan selalu mencari titik kesimbangannya, selalu ada sunatullah atau hukum alam atau hukum karma di dunia. Maka saya selalu yakin ketika saya berbuat baik maka saya pun akan mendapat kebaikan begitu juga sebaliknya. Ketika saya ingin dihargai maka saya harus terlebih dahulu menghargai orang lain. Dan hal-hal sebab-akibat lainnya.
 
Oleh karena itu, ketika saya mendaptkan kebaikan dan saya tidak bisa untuk membalasnya, maka saya khawatir orang-orang itu akan menjadi jahat kepada saya. Orang-orang itu akan meninggalkan saya!
 
hadiah

hadiah
hadiah

hadiah
Mereka yang telah dengan sudi meluangkan sedikit waktu untuk mengucapkan selamat ulang tahun lantas dengan ikhlas (saya harap) mendoakan segala hal baik kepada saya, bukankah orang-orang itu adalah orang yang sangat baik hatinya? Lalu balasan saya apa?
Saya bahkan tak ingat kapan mereka berulang tahun, saya bahkan jarang mengucapkan dan memberikan doa ketika mereka berulang tahun. Jadi, pantas lah kemudian saya khawatir!
 
Saya hanya mampu untuk kemudian mengucapkan terima kasih. Ya, hanya terima kasih. Bisa apa lagi saya? Damn!
 
Karena sekali lagi, ini bukan tentang pamrih atau tidaknya, ini masalah saling menghargai dan saling memberi serta hubungan timbal balik. Akal sehat saya mengatakan, tidak mungkin kita mendapatkan buah mangga apabila kita menanam bibit jambu! Tidak mungkin orang lain akan terus tersenyum kepada kita apabila kita selalu memalingkan muka darinya.
 
Dan ya, hal itu pun kini terjadi lagi di tahun ini, di saat ini, keluarga, sahabat, teman, semua kembali menunjukan kebaikannya. 

Dan dalam tulisan ini, sekali lagi saya memohon maaf karena hanya mampu untuk membalas dengan ucapan terima kasih. Saya memohon maaf karena belum mampu membalas lebih dari itu. Saya pun lantas memohon maaf saya belum bisa untuk menjadi keluarga, sahabat serta teman yang baik selayaknya anda-anda semua berbuat baik kepada saya.
 
Tapi saya juga mohon, jangan pernah kalian semua meninggalkan saya. Tak ada artinya saya tanpa keluarga, sahabat dan teman.
Terima kasih, terima kasih dan terima kasih.

Always #PMA ;)

Minggu, 05 Mei 2013

Secarik harapan


http://www.seniorcarectrs.com/wp-content/uploads/2013/04/its-may.png

Minggu, 5 Mei 2013 
07.02 WIB 

Tak ada hal khusus yang akan saya tuliskan di sini. Bukan karena tak ada hal yang sedang saya rasakan. Tak berarti juga hal-hal yang sedang, telah, atau bahkan yang akan terjadi semuanya berjalan lancar (lancar menurut sudut pandang saya tentunya). 

Hal ini lantas tak juga berarti semua hal yang berlalu tak menggelitik nurani dan hati saya. Tidak, karena memang tidak seperti itu. 

Faktanya dan rasanya, banyak hal atau beberapa hal atau sedikit hal memang sedang saya pikirkan. Tak sedikit atau bahkan banyak yang tak sesuai dengan harapan (harapan saya tentunya). Banyak atau hanya sedikit hal yang sebenarnya ingin saya kritisi. 

Tapi, (nah disini masalahnya) saya sedang tak bisa untuk mengemukakannya. 

Kenapa? Tak ada waktu? Saya selalu yakin waktu itu selalu ada, tinggal bagaimana kita menggunakannya. Kita tidak akan terlalu sibuk atau terlalu santai bila kita bisa mengatur waktu kita dengan baik juga seimbang. 

Jadi dimana letak masalahnya? Masalah itu ada dalam motivasi. Masalah itu ada dalam keinginan. Ya, masalah itu ada dalam dorongan diri. Karena tak ada tuntutan, karena tak ada paksaan, karena tak ada suatu keterpaksaan, karena bila tak melakukan tak akan berdampak apa-apa, maka saya tak memiliki suatu keharusan untuk senantiasa dengan rutin menulis. Toh, ini hanya sebuah hobi. 

Lalu apa yang akan saya tuliskan di sini? Saya hanya akan menuliskan secarik harapan dan mungkin sedikit prediksi atau asumsi terhadap apa yang akan terjadi di bulan Mei. 

Maaf saya lupa, seharusnya saya ucapkan dulu “Selamat datang bulan Mei”. Begitu special kah bulan ini? Sebenarnya tidak juga, tapi di bulan ini-lah memang saya dilahirkan di dunia. 

Harapan saya jelas, agar saya bisa terus berkembang menjadi seseorang yang jauh dan jauh dan jauh dan jauh lagi lebih baik! Sejalan dengan semakin bertambahnya umur, maka saya pun ingin bisa untuk mendekati bentuk kedewasaan. Bukan dewasa dalam arti tak pernah tertawa. Tapi dewasa dalam hakikatnya. 

Seperti apa bentuk dewasa itu? Saya pribadi lebih mengartikannya sebagai seseorang yang mampu menjalani kehidupan ini dengan seimbang. Menempatkan diri sesuai dengan tempatnya. Bijak, sabar, dan kuat dalam menjalani hidup. Berusaha untuk mendapatkan segala bentuk sikap positif dalam diri sembari mencoba menghilangkan segala bentuk sikap negatif dalam diri. 

Sesuai dengan jadwal yang ada (apabila tak ada perubahan) maka di bulan ini saya harus menghadapi Ujian Tengah Semester VI. Saya akan tetap menghadapinya dengan semangat mengutamakan proses daripada hasil. Saya tetap akan mengejar pemahaman, tidak akan pernah mengejar sebuah nilai. Apabila kita paham maka nilai itu akan datang mengikuti. Saya akan tetap berusaha untuk senantiasa jujur dan mudah-mudahan berprestasi. 

Di bulan ini juga saya berencana untuk mengikuti sebuah lomba Karya Tulis Ilmiah. Well, untuk yang satu ini saya tak ingin dulu banyak bercerita. Saya malu, malu ketika nanti tak jadi. Jadi, saya hanya berharap niat saya ini bisa sejalan dengan implementasinya nanti. 

Niat saya sungguh penuh untuk mengikuti perlombaan itu. Karena hadiahnya dan karena saya sangat ingin mendapat “pengakuan” bahwa saya memang seorang penulis

Selebihnya, saya harapkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Sebagaimana mestinya di sini berarti sesuai dengan aturan dan tujuan yang telah ditetapkan atau direncanakan. 

Pada intinya dan akhirnya perubahan menjadi lebih baik dan terus berkembang adalah harapan utama dari segala apa yang telah, sedang, dan akan terjadi! 
Amin! 

Tapi setidaknya saya telah mampu mengawali bulan ini dengan sebuah pencapain, yang menurut saya tidak bisa untuk dianggap sebelah mata, dalam sebuah seminar internasional

Hmmm semoga itu (walau hanya satu hal) menjadi sebuah pembuka yang baik di bulan ini. 

So, May, here I am! 

Stay #PMA :)