Kamis, 27 Oktober 2011

Penghormatan Rossi untuk Simoncelli



*Berita ini saya ambil dari koran Tribun Pontianak edisi hari Kamis, tanggal 27, bulan Oktober, tahun 2011. Berita ini terdapat di halaman 23 pada kolom sport hot news. ( baca : Marco Simoncelli 1987-2011 )

Pakai Nomor 58
Penghormatan Rossi untuk Simoncelli


Valentino Rossi identik dengan nomor 46, yang merupakan warisan dari ayahnya, Graziano Rossi. Namun, untuk mengenang dan menghormati rekan senegaranya, mendiang Marco Simoncelli yang tewas di Sepang, juara dunia MotoGp tujuh kali ini siap mengganti nomor 46 jadi nomor 58, yang identik dengan nomor milik Simoncelli.

Keinginannya memakai nomor 58 pada motornya masih jangka panjang, dan paling mungkin direalisasikan musim 2012 mendatang. Untuk jangka pendek, The Doctor akan memakai nomor 58 pada helm terbarunya pada balapan sesi terakhir di Valencia 6 November mendatang.

Tak sekedar memasang nomor 58 di helmnya, sejumlah gambar maupun warna yang biasa identik dengan helm Simoncelli pun akan dilebur dengan helm Rossi nanti.

Helm baru itu didesain oleh Aldo Drudi, desainer Italia yang juga membuat helm khusus untuk Simoncelli. Di antara desain yang disiapkan adalah warna merah putih, serta gambar cakar kaki harimau – keduanya identik dengan helm Simoncelli -, dipadukan dengan simbol matahari yang biasa dipakai Rossi dibagian belakang helmnya.

Kubu Ducati juga menyatakan tak menolak jika Rossi memang akan menggunakan nomor 58 di motor Ducati Desmosedici GP 11 untuk balapan musim depan.

Dengan sentimentil, Rossi lantas memajang di twitter miliknya @ValeYellow46 foto dirinya yang sedang saling menyalip di tikungan dengan Simoncelli di Sirkuit Misano lalu. (Tribunnews/mba)




Rossi dan Simoncelli di Misano














Rossi: Simoncelli Sudah Seperti Adik Saya




Kecelakaan Tragis Marco Simoncelli di Sepang
Rossi: Simoncelli Sudah Seperti Adik Saya

24/10/2011 03:08:00
Wisnu Nova Wistowo

Hilangnya nyawa Marco Simoncelli jelas menjadi pukulan telak bagi dunia balap Motogp. Hal serupa juga turut dirasakan Valentino Rossi.

Insiden yang menyebabkan meninggalnya Simoncelli menggemparkan dunia balap motor dunia. Tak disangka kecelakaan yang dialami pebalap Honda Gresini tersebut berujung duka. Cedera parah di kepala, leher, dan dada akhirnya merenggut nyawa Supersic, Minggu (23/10) petang WIB.

Rossi yang terlibat langsung dalam tragedi tersebut merasa begitu kehilangan sosok pebalap dengan talenta besar. Selain itu, Simoncelli bukan saja sosok pebalap yang sama-sama berasal dari Italia di mata Rossi, tapi juara dunia tujuh kali itu sudah menganggap pebalap berambut kribo ini sebagai adik yang mungkin mampu menjadi penerusnya untuk mengharumkan Italia di dunia balap Motogp.

Melalui akun twitter resminya, senin (24/10) waktu Malaysia, Rossi melontarkan kata-kata pertamanya yang ditujukan kepada mendiang Simoncelli. Dari perkataannya, tersirat duka yang turut dirasakan The Doctor atas kepergiannya.

"Sic sudah seperti adik bagi saya. Dia sangat tangguh di lintasan dan sangat manis dalam kehidupan normal. Saya akan sangat merindukannya," ungkap Rossi.

SUMBER





Selasa, 25 Oktober 2011

Hiduplah Pada Hari Ini

“Ketahuilah, bahwa kehidupan pada batas-batas hari ini bukanlah berarti sama sekali tidak memikirkan masa yang akan datang atau tidak mempersiapkan diri buat masa depan. Karena menaruh perhatian dan memikirkan hari esok adalah pertanda akal sehat.”
Dr. Muhammad Al-Ghazaly


Hiduplah pada hari ini merupakan salah satu judul bab dari buku yang berjudul Perbarui Hidupmu ( Jaddid Hayatak ) karya Muhammad Al-Ghazaly. Buku yang menurut saya merupakan sebuah buku motivasi, yang memberikan kita banyak petuah tentang bagaimana sebaiknya dan seharusnya kita menjalani hidup ini sebagai seorang manusia, seorang muslim sesuai dengan fitrahnya. Buku ini juga mencoba memberikan jalan keluar bagi setiap muslim atau siapa saja yang membacanya untuk mengatasi segala problem kehidupan yang dihadapi sehari-hari.

Dalam buku Perbarui Hidupmu, seperti yang dikemukakan oleh al-Ghazaly dalam bab Mukadimah, dia menyebutkan bahwa buku ini mengemukakan perbandingan antara ajaran-ajaran Islam sebagaimana yang telah sampai kepada kita dan kebudayaan barat yang paling benar dan paling bersih yang juga sampai kepada kita tentang adab jiwa dan tingkah laku. Antara keduanya terdapat kemiripan dan kemiripan bahkan persamaan itu menimbulkan kekaguman. Adapun dalam hal ini al-Ghazaly mencoba membandingkan ajaran Islam dengan isi dari buku karya Dale Carnegie yang berjudul How To Stop Worriying and Start Living.

Selain sebagai sebuah buku motivasi, perbandingan yang dilakukan oleh al-Ghazaly juga bermaksud untuk membuktikan kebenaran segala firman Allah Swt. Dan sabda Rasulullah Saw. karena ternyata Islam itu memang mengajarkan cara hidup yang paling baik sehingga konsep kehidupan yang baik hasil dari pemikiran seorang non-Islam, yang sama sekali tidak mengenal atau mengetahui firman Allah dan sabda Rasul pun ternyata sangat menyerupai konsep kehidupan yang diajarkan oleh Islam. Dan dalam buku ini al-Ghazaly dengan sangat cerdas membuktikan itu semua.

Akan tetapi dalam akhir Mukadimah, al-Ghazaly pun mengatakan, “tetapi bukan maksud kami untuk membandingkan agama Allah dengan usaha manusia, hanya saja usaha yang terpuji itu dimaksudkan untuk menjadi contoh atas kaidah-kaidah yang telah dibentangkan Islam sebelumnya.”

Buku Perbarui Hidupmu sebenarnya sampai dengan hari ini, Selasa, tanggal 25, bulan Oktober, tahun 2011 sampai dengan saat ini saya menulis tulisan ini belum saya baca sepenuhnya. Saya ( hingga detik ketika saya menulis tulisan ini ) baru membaca buku ini sampai dengan bab XVIII, masih ada enam bab lagi yang harus saya baca. :)
Dan sedikit informasi juga, buku ini sebenarnya bukanlah milik saya, bahasa halusnya, saya masih berstatus meminjam, walaupun sebenarnya lebih mirip dengan mencuri. Singkatnya, saya telah meminjam buku ini dari teman saya, Irfan Azka Maula, saat kami duduk di bangku SMA kelas XII, akan tetapi karena satu dan lain hal saya belum bisa selesai membaca keseluruhan isi dari buku tersebut. Hingga setiap kali Irfan menagih buku tersebut saya selalu berkelit dengan alasan lupa dan itu terus berlanjut hingga akhirnya sekarang ini.
Hehehehe....
maaf ya Loer! ;)

Dari 28 bab yang telah saya baca, bab II berjudul Hiduplah Pada Hari Ini merupakan bab yang sangat saya sukai, setidaknya penafsiran saya terhadap isi di bab tersebut sesuai dengan konsep hidup yang saya yakini. Ya, secara umum, Hiduplah Pada Hari Ini berarti kita harus fokus untuk jalani saja apa yang harus kita jalani pada hari ini, tidak usah khawatir dengan segala apa yang telah lalu dan cemas terhadap apa yang akan terjadi nanti di masa depan. Karena kita hidup itu pada hari ini, tidak di hari kemarin dan tidak juga di masa depan. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita akan hidup di masa depan apalagi bisa mengulang ke masa lalu.

Karena terkadang kita dengan sombongnya selalu menunda-nunda suatu pekerjaan atau kesempatan untuk merubah hidup ini menjadi lebih baik lagi. Kita selalu menunggu datangnya suatu moment besar untuk merubah hidup atau bahkan untuk sekedar melakukan tugas. Sekali lagi itu terlalu angkuh untuk kita lakukan. Karena apabila kita menunggu datangnya suatu peristiwa, suatu moment untuk kita jadikan alasan atau semangat untuk kita berubah atau bergerak, maka kita tidak lain hanya berharap pada sesuatu hal yang semu, yang tidak jelas. Karena pada hakikatnya apa yang kita bayangkan serta rencanakan di masa depan adalah sesuatu hal yang semu, lebih semu dari kehidupan itu sendiri dan kita telah menjadi sombong karena dengan begitu, berarti kita telah yakin bahwa kita akan hidup untuk waktu yang lama dan apabila segala pikiran itu yang kita punyai maka kita akan sangat dekat dengan sikap lalai.

Hal yang pasti bagi kita tidak lain adalah hari ini, saat ini, jam ini, menit ini dan detik ini. Sedangkan detik nanti, menit nanti, jam nanti, saat nanti dan hari nanti adalah semu. Tak ada jaminan bagi kita untuk tetap bisa bernafas dan hidup di bumi ini. Sehingga kenapa kita harus risau dan cemas dengan hari esok yang belum pasti? Yang belum tentu datang apalagi terjadi. Bukankah jauh lebih baik untuk kita fokus dan dengan penuh semangat menjalani hari ini, di saat kita tau bahwa darah itu masih mengalir dalam nadi, nafas itu masih kita hirup dan jantung ini masih setia berdetak.

Akan tetapi konsep hidup seperti ini sering kali disalah artikan oleh sebagian orang sebagai suatu konsep hidup yang penuh dengan sikap pesimis, yang mengekang mimpi dan segala cita-cita. Sungguh suatu pemikiran yang keliru!
Mimpi dan cita-cita itu wajib kita miliki karena tanpa itu kita tidak lebih dari sebongkah mayit yang hidup. Mimpi dan cita-cita adalah penyemangat hidup kita, karena dengan mereka lah kita bersemangat untuk menjalani hari ini. Tapi yang harus kita garis bawahi di sini adalah kita harus membedakan antara menaruh perhatian pada masa depan dan cemas memikirkannya, antara mempersiapkan diri bagi masa depan dan hanya tenggelam di dalamnya. ( baca : Realistis, bukan Pesimistis, Piala Dunia 2022 dan Mimpi Indonesia )

Saya akan mencoba memberikan pada anda sebuah contoh sederhana. Ada seseorang yang bermimpi serta bercita-cita untuk menjadi seorang yang kaya raya, apabila dia menaruh perhatian dan mempersiapkan diri untuk masa depan, untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang yang kaya maka dia akan bekerja keras pada hari ini, menjalani apa yang menjadi pekerjaannya hari ini dengan penuh semangat, sembari hidup hemat rajin menabung dan menjauhi segala bentuk pemborosan. Beda halnya dengan seseorang yang hanya memikirkan menjadi seorang yang kaya, dia hanya sibuk dengan segala angan tentang apa saja yang akan dia lakukan apabila dia telah menjadi kaya nanti, terus liar memikirkan semua itu hingga dia terlena dengan hidup pada hari ini, dia disibukan dengan pemikiran segala bayangan besar di masa depan, tapi meninggalkan hal kecil yang ada dan seharusnya dia kerjakan pada hari ini. Dan sungguh hal itu sangat merugi!

Jadi, kita semua memang harus menggantungkan mimpi dan cita-cita itu setinggi mungkin karena itu merupakan motivasi bagi diri kita. Tapi sesaat kemudian kita harus sadar dan kembali ke dunia nyata dengan cara mewujudkan segala mimpi yang lebih kecil dulu dengan cara menjalani hari ini dengan penuh semangat. Jangan pernah kita merasa cemas dengan segala hal yang belum terjadi atau yang telah terjadi karena kita hidup pada hari ini, jadi mari HIDUPLAH PADA HARI INI!

“Kenapa anda begitu semangat dengan apa yang akan terjadi di masa depan padahal itu semua belum pasti? Dan anda justru menjadi lalai dengan segala apa yang harus anda lakukan pada hari ini, padahal itu sungguh sedang terjadi?”

“Disini terdapat perbedaan antara menaruh perhatian pada masa yang akan datang dan cemas memikirkannya. Antara mempersiapkan diri bagi masa depan dan hanya tenggelam di dalamnya. Antara kesadaran menggunakan hari ini dan ketakutan yang samar-samar yang adakalanya berguna buat hari esok. “
Dr. Muhammad Al-Ghazaly

Minggu, 23 Oktober 2011

Inilah Saya dan Itulah Anda!



Saya dan anda jelas berbeda, tidak akan mungkin kita sama identik tapi diantara kita berdua mungkin akan ada beberapa hal yang sama. Tapi pada hakikatnya saya dan anda itu adalah manusia yang sangat berbeda.

Saya dan anda tentu memiliki kemampuan serta kekurangan yang juga berbeda dan apabila kita menyepakati satu atau beberapa tujuan yang sama maka kita akan akan melaksanakan suatu kerja sama dan apabila kerja sama itu berjalan dengan baik, kita pun akan mampu untuk saling melengkapi. Anda mengisi dan menutupi segala kekurangan yang saya miliki dan begitu juga sebaliknya.

Lalu terkadang dalam sesuatu hal, dalam satu bidang tertentu, satu bidang yang sama. Sebenarnya anda jauh lebih mampu dan jauh lebih hebat dari saya, saya mungkin juga hebat tapi hanya kecil kehebatan itu. Tapi yang membedakan saya dengan anda adalah walaupun dengan kehebatan serta kemampuan yang kecil itu, saya berani untuk menunjukannnya pada dunia, saya coba untuk menutupi kemampuan yang kurang mumpuni itu dengan kerja keras tanpa lelah diiringi doa di setiap hela nafas. Ya, sekali lagi, saya berani untuk memulai, saya berani untuk berbuat dan menambil serta memanfaatkan kesempatan yang ada sekecil apapu itu ( baca : Selamat Datang, kawan! ). Karena saya percaya pada proses bukan hasil ( baca : Proses atau Hasil ? ). Sehingga apabila setelah saya berbuat maka saya akan mendapatkan feedback, pujian untuk membuat saya tetap semangat, cacian untuk saya semakin kuat dan kritikan untuk saya jadikan sebuah koreksi diri. Apapun segala macam bentuk feedback yang saya terima atau dapatkan harus saya liat dari sudut pandang yang positif dan sesegera mungkin mengambil segala pelajaran yang ada di dalamnya. Saya jadikan itu semua sebagai sebuah masukan berarti agar menjadi lebih baik lagi di kemudian hari.

Sekali lagi walaupun sebenarnya jika anda yang melakukan sesuatu hal itu, saya yakin anda akan mampu dan jauh lebih baik, tapi perbedaan kita hanya lah terletak pada kerja keras, keberanian saya untuk mengambil resiko dan siap salah, karena tidak mungkin saya akan belajar untuk berbuat benar apabila saya tidak berbuat salah. Serta keyakinan saya bahwa Allah itu menilai sebuah proses bukan hasil.

Ya, inilah saya dan itulah anda. Anda mungkin hebat, tapi anda biarkan kehebatan itu diam dan tidak pernah anda coba keluarkan apalagi untuk anda kembangkan sehingga bagaimana mungkin anda akan berhasil.
Sedangkan saya hanya lah manusia yang dilahirkan terlalu biasa, tapi dengan berani selalu mengeluarkan segala yang ada, segala yang saya punya dan miliki, sehingga semua itu membuat kemampuan saya terus terlatih dan akhirnya saya pun mampu berkembang, orang-orang lambat laun akan melihat perkembangan itu sehingga saya pun semakin dekat dengan keberhasilan.
Dan apabila hal itu yang terjadi, saya mohon anda jangan iri ( baca : Meratapi Nasib Penuh Rasa Iri ). Karena semua yang kita dapatkan pada dasarnya akan sesuai dengan apa yang telah kita uasahakan walaupun apa yang kita usahakan tidak akan serta merta mendapatkan hasil yang ingin kita dapatkan ( baca : Proses yang benar atau Hasil yang Baik ? ). Karena hasil adalah urusan Allah, dan Dia yang lebih tau apa yang kita butuhkan , apa yang terbaik untuk hidup kita.

Catatan : Saya = Adima Insan Akbar Noors ( noorzmilanello )
Anda = semua orang dengan sejuta potensi dan kehebatan diri tapi enggan untuk berbuat, enggan untuk menunjukan potensinya itu untuk sesuatu hal yang baik serta semua orang di seluruh dunia yang hanya terpaku dalam diam. ( marilah kita berbuat, berkontribusi positif bagi perkembangan segala hal yang baik di dunia ini sesuai dengan bidang kemampuan serta profesi yang sedang kita jalani )

Marco Simoncelli 1987-2011






MARCO SIMONCELLI




Marco Simoncelli (lahir di Cattolica, Rimini, Italia, 20 Januari 1987 – meninggal di Sepang, Malaysia, 23 Oktober 2011 pada umur 24 tahun) adalah salah satu pembalap MotoGP yang berasal dari Italia, dan cukup terkenal dengan karakter balapnya yang cukup garang. Gaya garangnya ini terlihat ketika seri terakhir MotoGP musim 2010, saat ia nyaris membuat Jorge Lorenzo terjatuh dan gagal meraih kemenangan di seri terakhir musim itu.

Simoncelli mengawali karirnya di dunia balap motor profesional, ketika ia menginjak usia 9 tahun di ajang Italian Minimoto Championship. Tahun 2001 ia pun hengkang ke ajang European 125cc dan mengamankan titel juara di tahun 2002.

Pada tahun 2002 ia kemudian memulai karirnya di ajang MotoGP. Selama tiga tahun ia kemudian berlaga di kelas 125cc, namun ia hanya mampu meraih hasil terbaik di posisi kelima pada tahun 2005. Naik ke kelas 250cc ia menjadi satu-satunya pembalap tim Gilera yang mampu menunjukkan hasil terbaik di ajang ini. Yaitu menjadi juara dunia di tahun 2008.

Hasil ini membuat tim Gresini Honda tertarik untuk merekrutnya di ajang MotoGP pada tahun 2010 lalu. Ia pun mampu memperlihatkan hasil yang bagus sebagai pembalap rookie. Hasil terbaik yang bisa ditorehkan oleh pembalap asal Italia itu, adalah posisi keempat di MotoGP Portugal 2010.

SUMBER

Race Track-Record

2000: 1st Italian Minibike Championship
2001: 125cc Honda Trophy
2002: 1st 125cc European Championship
2003: 21st 125cc World Championship - Aprilia
2004: 11th 125cc World Championship - Aprilia
2005: 5th 125cc World Championship - Aprilia
2006: 10th 250cc World Championship - Gilera
2007: 10th 250cc World Championship - Gilera
2008: 1st 250cc World Championship - Gilera
2009: 3rd 250cc World Championship - Gilera









Kecelakaan Hebat, MotoGP "Restart"




Kecelakaan Hebat, MotoGP "Restart"
Minggu, 23 Oktober 2011 15:10 WIB

SEPANG, Kompas.com - Balapan MotoGP di Sirkuit Sepang, Malaysia, Minggu (23/10/11), terganggu dan harus dilakukan restart. Pasalnya, terjadi kecelakaan serius ketika memasuki lap kedua, yang melibatkan Marco Simoncelli, Colin Edwards, dan Valentino Rossi, sehingga bendera merah dikibarkan.

Pada awal lomba, empat pebalap Honda langsung berada di depan setelah lampu merah padam. Stoner, yang start dari urutan kedua, berhasil mendahului Pedrosa, selaku pemegang pole position, disusul Andrea Dovizioso, dan Simoncelli. Hanya satu lap saja, Stoner, yang akhir pekan lalu sudah memastikan diri menjadi juara dunia MotoGP 2011, sudah unggul lebih dari 1 detik atas Pedrosa.

Namun di posisi keempat, terjadi pertarungan seru antara Simoncelli dengan pebalap Rizla Suzuki, Alvaro Bautista. Mereka saling mendahului dalam beberapa kesempatan, sebelum kecelakaan horor menimpa Simoncelli, yang terlibat dalam benturan antara dirinya dengan pebalap Yamaha Tech 3, Colin Edwards, dan pebalap Ducati, Valentino Rossi.

Saat keluar dari Tikungan 11, Simoncelli sudah jatuh dan motornya mendorong Edwards dan Rossi. Kecelakaan mengerikan tak terhindarkan.

Alhasil, bendera merah langsung dikibarkan karena Simoncelli terlihat terkapar di atas trek dengan helm sudah terlepas dari kepalanya, sedangkan Edwards jatuh di luar trek dan bangun sambil memegang pergelangan tangan. Sementara itu Rossi tetap bisa menguasai motornya, dan hanya terpental ke luar lintasan dan motornya mengalami kerusakan.

SUMBER









Kecelakaan Horor, GP Malaysia Resmi Dibatalkan




Kecelakaan Horor, GP Malaysia Resmi Dibatalkan
Minggu, 23 Oktober 2011 15:52 WIB

SEPANG, Kompas.com - GP Malaysia musim 2011 ini resmi dibatalkan, setelah terjadi kecelakaan horor yang menimpa pebalap Gresini Honda, Marco Simoncelli, Minggu (23/10/11). Sebelumnya, usai kecelakaan yang terjadi pada lap kedua tersebut, sempat dinyatakan akan dilakukan restart pada pukul 16.45 waktu setempat atau pukul 15.45 WIB.

Balapan di Sirkuit Sepang tersebut berlangsung cukup ketat, usai lampu merah padam tanda balapan dimulai. Tetapi saat memasuki lap kedua di Tikungan 11, Simoncelli jatuh dan melibatkan pebalap Yamaha Tech 3, Colin Edwards,dan pebalap Ducati, Valentino Rossi.

Kecelakaan horor itu menyebabkan Simoncelli terkapar di trek dengan helm terlepat dan dia sama sekali tidak bergerak, sedangkan Edwards terseret keluar trek dan mengalami dislokasi bahu. Sementara itu Rossi selamat, karena mampu menguasai motor sehingga hanya melebar ke luar trek dan Ducati GP11.1 tunggangannya hanya mengalami kerusakan ringan.

Usai kecelakaan tersebut, marshal langsung mengibarkan bendera merah tanda balapan dihentikan. Tetapi, rupanya keadaan tak memungkinkan untuk melakukan balapan pada hari Minggu ini, karena tim medis konsentrasi memperhatikan kondisi Simoncelli - belum ada keterangan resmi kondisi pebalap Italia itu, dan trek pun tak siap untuk gelar balapan, sehingga panitia mengumumkan tak bisa menggelar lomba seri ke-17 ini.

Dengan demikian, pada akhir pekan ini terjadi sejumlah insiden di Sirkuit Sepang. Di kelas Moto2 pun terjadi kecelakaan pada latihan bebas hari Jumat, yang membuat Marc Marquez jatuh dan tidak fit untuk ikut balapan hari Minggu ini.

SUMBER









Simoncelli Akhirnya Meninggal Dunia




Simoncelli Akhirnya Meninggal Dunia
Minggu, 23 Oktober 2011 16:22 WIB


SEPANG, KOMPAS.com
- Pebalap MotoGP Gresini Honda asal Italia, Marco Simoncelli akhirnya meninggal setelah kecelakaan di Sirkuit Sepang, Malaysia, Minggu (23/10/11). Demikian pengumuman resmi seperti dikutip AFP. "Ini resmi. Dia sudah meninggal. Dia menyerah," ujar seorang pejabat dari Dorna yang merupakan perusahaan pemegang hak siar MotoGP.

Kecelakan yang melibatkan Marco Simoncelli, Colin Edwards, dan Valentino Rossi, juga membuat GP Malaysia musim 2011 secara resmi dibatalkan.

Pada awal lomba, empat pebalap Honda langsung berada di depan setelah lampu merah padam. Stoner, yang start dari urutan kedua, berhasil mendahului Pedrosa, selaku pemegang pole position, disusul Andrea Dovizioso, dan Simoncelli. Hanya satu lap saja, Stoner, yang akhir pekan lalu sudah memastikan diri menjadi juara dunia MotoGP 2011, sudah unggul lebih dari 1 detik atas Pedrosa.

Namun di posisi keempat, terjadi pertarungan seru antara Simoncelli dengan pebalap Rizla Suzuki, Alvaro Bautista. Mereka saling mendahului dalam beberapa kesempatan, sebelum kecelakaan horor menimpa Simoncelli, yang terlibat dalam benturan antara dirinya dengan pebalap Yamaha Tech 3, Colin Edwards, dan pebalap Ducati, Valentino Rossi.

Saat memasuki lap kedua di Tikungan 11, Simoncelli jatuh dan melibatkan pebalap Yamaha Tech 3, Colin Edwards,dan pebalap Ducati, Valentino Rossi.

Kecelakaan horor itu menyebabkan Simoncelli terkapar di trek dengan helm terlepat dan dia sama sekali tidak bergerak, sedangkan Edwards terseret keluar trek dan mengalami dislokasi bahu. Sementara itu Rossi selamat, karena mampu menguasai motor sehingga hanya melebar ke luar trek dan Ducati GP11.1 tunggangannya hanya mengalami kerusakan ringan.

Usai kecelakaan tersebut, marshal langsung mengibarkan bendera merah tanda balapan dihentikan. Tetapi, rupanya keadaan tak memungkinkan untuk melakukan balapan pada hari Minggu ini, karena tim medis konsentrasi memperhatikan kondisi Simoncelli - belum ada keterangan resmi kondisi pebalap Italia itu, dan trek pun tak siap untuk gelar balapan, sehingga panitia mengumumkan tak bisa menggelar lomba seri ke-17 ini.

SUMBER









Inilah Kronologis Kecelakaan Simoncelli




Inilah Kronologis Kecelakaan Simoncelli
Minggu, 23 Oktober 2011 16:46 WIB

SEPANG, KOMPAS.com - Marco Simoncelli tak mampu melawan cedera parah yang menimpanya, akibat kecelakaan di Sirkuit Sepang, Malaysia, Minggu (23/10/11). "Supersic" akhirnya mengembuskan nafas terakhir pada pukul 16.56 waktu setempat atau 15.56 WIB, meskipun sempat mendapat perawatan di medical centre sirkuit.

Kecelakaan mengerikan itu terjadi pada lap kedua di Tikungan 11. Simoncelli, yang sedang bertarung dengan Alvaro Bautista dalam perebutan posisi keempat, tak mampu mengendalikan motornya ketika menikung ke kanan, sehingga tergelincir.

Saat jatuh itu, dia dan motornya melintasi sirkuit dan masuk ke jalur milik pebalap Yamaha Tech 3, Colin Edwards, dan pebalap Ducati, Valentino Rossi. Kecelakaan horor itu pun tak terhindarkan, karena motor Edwards melindas Simoncelli, tepatnya di kepala.

Edwards pun jatuh di luar trek dengan cedera dislokasi bahu, dan Rossi masih mampu mengendalikan motornya meskipun terpental ke luar lintasan dan Desmosedici GP11.1 tunggangannya mengalami kerusakan. Akan tetapi, Simoncelli menggelepar di atas trek dengan helm sudah terlepas dari kepala (setelah dilindas), dan dia sama sekali tidak bergerak.

Bendera merah langsung dikibarkan usai kecelakaan tragis tersebut. Setelah menunggu beberapa saat, panitia lomba mengumumkan bahwa balapan GP Malaysia itu resmi dibatalkan, karena tim medis fokus untuk menyelematkan Simoncelli, yang akhirnya meninggal pada pukul 16.56.

SUMBER






Kabar yang sangat mengejutkan, mengusik ketenangan hati di sore hari, di hari minggu yang cukup tenang dan cukup berjalan dengan lambat ini. Ya, sekitar pukul 17.10 WIB, sesaat setelah saya selesai mandi, diri ini telah rapih berpakaian, tiba-tiba teman satu wisma saya mengabarkan suatu kabar duka yang menimpa pebalap Marco Simoncelli. Dia meninggal dunia di atas sirkuit setelah tertabrak oleh Collin Edwards dan Vale. Rossi di lap kedua di Sirkuit Sepang, Malaysia. Tragis, kata yang cukup untuk menggambarkan setiap pebalap yang harus tewas tertabarak ataupun terjatuh, terpental apapun istilahnya, yang akhirnya harus merenggut nyawa mereka. Semakin terasa tragis karena SuperSic, sebutannya, merupakan pebalap muda potensial, yang seharusnya di usianya yang baru 24 tahun, dia bisa menjadi pebalap besar di masa depan nanti. Tapi apa boleh buat, kematian memang tidak ada yang tau, dan saat kematian itu datang, tak akan ada yang bisa unuk mengelak. ( baca : KH. Siddiq Amin Berpulang, Di Saat Terakhir )

Dan saya akui saya cukup sedih, agak terpukul memang. Karena saya cukup meyukai SuperSic, ya..saya merupakan salah satu fans dari SuperSic. Tapi, harus saya akui juga, saya memang bukan merupakan penggemar berat dari olahraga MotoGp, saya hanya menikmati olahraga itu sebagai sebuah hiburan semata, tidak lebih dan juga tidak kurang. Saya menyukai olahraga tersebut karena olahraga tersebut mampu untuk membuat saya sebagai penonton mengeluarkan adrenalin ketika melihat setiap pebalap dengan segala kemampuan yang mereka miliki mengendalikan motornya dan saling salip, saling susul menyusul di lintasan. Hal lain yang membuat saya jatuh cinta kepada MotoGp adalah karena saya sangat menyukai sosok dari seorang Valentino Rossi, dia merupakan pebalap sekaligus entertainer sejati. Dia tau bagaimana caranya membuat balapan itu hidup, entah disengaja atau tidak, tapi setiap kemenangan yang dia raih mampu dia lewati dengan sebuah perjuangan hingga lap terakhir. Dan dalam merayakan sebuah kemenangan yang mampu dia raih, dia pun tidak merayakannya dengan cara sederhana, tapi dia mampu untuk merayakannya dengan sebaik mungkin, menjadi sebuah perayaan yang penuh makna, sesuai dengan tema yang dia kehendaki. Ya, sekali lagi dia merupakan sosok yang melegenda di ajang MotoGp ini. Sehingga harus saya akui, saya menonton MotoGp karena pengaruh atau kehadiran dari Rossi. Tapi, setelah saya menjadi seorang mahasiswa, saya pun semakin jarang untuk menonton secara langsung balapan MotoGp karena memang tidak ada fasilitas Tv itu sendiri, dan juga dengan fakta bahwa semakin menurunnya performa dari Rossi.

SuperSic sendiri mulai saya kagumi ketika dia masih di kelas 250cc, saya masih ingat betul bagaimana dengan motornya dia seringkali melakukan manuver yang sangat berbahaya, dan sejak saat itu pula saya jatuh cinta padanya. Dan ternyata, dia pun mempunyai perawakan yang mirip dengan Rossi, sehingga semakin pas lah saya mengagumi dirinya.

Saya terus berlanjut mengikuti sepak terjangnya hingga akhirnya dia mampu promosi ke kelas utama, yaitu kelas MotoGp, dan di kelas ini gaya membalapnya yang urakan itu semakin terlihat jelas, dan tidak jarang memang membahayakan nyawa pebalap lainnya. Tapi, saya pribadi berpendapat, itu meruapakn ciri khas masing-masing dari setiap pebalap, toh selama dia tidak melanggar aturan balapan, saya pikir hal itu masih sangat wajar, dan di saat dia dianggap melakukan suatu pelanggaran dan terkena hukuman, dia dengan penuh tanggung jawab mengakui itu semua dan tidak malu utnuk meminta maaf. Tapi, sekali lagi, bila manuver yang dia lakuakan sebahaya apapun itu, apabila itu tidak menyalahi aturan balapan, maka saya pikir hal itu harus dihormati setiap pebalap lainnya.

Akan tetapi ternyata karirnya tidak bisa bertahan lama, ternyata takdir dan ajalnya telah datang menjemput. Saya pun tidak tau harus berkata apa lagi, karena saya meyakini bahwa setiap profesi setiap pekerjaan yang kita lakukan memiliki resikonya masing-masing, yang apabila kita telah memilih untuk menekuni dan menjalani suatu pekerjaan atau profesi itu maka tentunya kita harus siap dengan segala resiko yang menyertainya, termasuk kematian itu sendiri. Karena pada hakikatnya juga, setiap yang bernyawa itu pasti akan mati. Jadi, jalani saja. Adapun penyebab kematian sudah cukup jelas bahwa itu adalah murni kecelakaan, tak ada sedikit pun faktor kesengajaan. Hal itu sekali lagi meruapakan suatu resiko nyata dari setiap pebalap. Walaupun dari video, terlihat SuperSic seperti seorang yang pingsan sebelum akhirnya dia tertabrak, akan tetapi hal itu tidak mempunyai dasar yang kuat, karena apabila ada yang berteori bahwa dia sudah meninggal sebelum dia tertabrak tentu pihak kesehatan atau tim medis tidak akan bersusah payah melakukan suatu perawatan intensif selama satu sejam setelah kecelakaan tersebut. Saya sendiri lebih menduga, bahwa SuperSic terjepit, tidak pingsan apalagi meninggal sebelum kecelakaan itu terjadi. Jadi, saya tetap meyakini bahwa SuperSic meninggal karena kecelakaan, resiko dari profesinya sebagai seorang pebalap.

Hmm...setelah Rossi menua dan performanya pun semakin menurun, dilanjutkan dengan fakta telah tiadanya Simoncelli untuk selama-lamanya. Sepertinya sudah tidak ada lagi alasan bagi saya untuk tetap menonton MotoGp atau mengikuti setiap perkembangannya. damn!!

SO LONG SuperSic!
so long #58!




[UPDATE]
Dan semua semakin terasa tragis karena ternyata Marco Simoncelli adalah seorang Milanisti! Mengetahui hal itu maka Ac. Milan pun melakukan penghormatan khusus bagi mendiang dan di saat Gattuso melakukan konferensi pers mengenai cedera mata yang sedang dialaminya, Milan dengan sangat jelas menempatkan baju Milan yang bernama Simoncelli tepat di atas mic yang digunakan di saat konferensi pers itu berlangsung.


Prof. Dr. Syarif Ibrahim Alqadrie, M.Sc.,




BIOGRAFI SINGKAT




1. Nama : Syarif Ibrahim Alqadrie
2. TTL : Pontianak, 1 September 1946
3. Status : Kawin
4. Nama Isteri : Onga Hermina Roosen
5. Anak-anak : 4 ( empat ) orang
a. Roosie Wiedya Nusantara ( pr );
b. Edwien Radietya Roossiandrie ( lk );
c. Roosandra Dian Viejaya ( pr );dan
d. Zul Anugrah Noviandrie ( lk ).
6. Nama orang tua
a. Ayah : Achmad Muhammad Al-Qadrie ( alm. )
b. Ibu : Maimunah Thahir ( alm. )
7. Alamat Rumah : Jalan Sintang P4, Kompleks Kampus Universitas Tanjungpura ( UNTAN ), Imam Bonjol, Pontianak, Kalbar. Telpon : ( 0561 ) 745368 HP. 0811562192 Faks. ( 0561 ) 571753 E-mail : salqadrie@yahoo.com






Alqadrie adalah Professor Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ( FISIP ) Universitas Tanjungpura ( UNTAN ), Pontianak. Sarjana Dua (S2) (M.Sc) tahun 1987 dan Sarjana Tiga (S3) (Ph.D) tahun 1990 diperolehnya masing-masing dalam Jurusan Sosiologi Pertanian, Pedesaan dan Kehutanan ( Agricultural, Rural and Forestry Sociology ), dan Jurusan Sosiologi Politik dan Etnisitas ( Political Sociology and Ethnicity ) pada University of Kentucky, Lexington, AS.

IPDN Kampus Daerah Kalbar seperti yang telah saya sebutkan beberapa kali dalam beberapa tulisan saya yang terdahulu ( baca : Takkan Terhenti Disini ), sampai sekarang ini masih menempati kampus atau bangunan sementara. Sekarang kampus IPDN Kalbar ini menggunakan bangunan bekas tempat panti sosial milik dinas sosial Pemprov Kalbar, akan tetapi bangunan ini sungguh cukup representatif untuk dijadikan sebuah kampus, bila ukurannnya adalah sebuah kampus sementara tentunya. Dan apabila tidak ada aral melintang, maka pembangunan kampus IPDN daerah Kalbar ini akan dilakukan pada tahun 2012 dan direncanakan akan selesai satu kali tahun anggaran. Ya, semoga saja semuanya bisa berjalan seperti apa yang telah direncanakan. Amin!

Entah memang berhubungan dengan hal itu atau bahkan tidak ada korelasinya sama sekali, tapi kondisi bangunan yang sementara itu ternyata juga berdampak pada pejabat-pejabat yang ada di IPDN Kampus Daerah Kalbar, walaupun sebenarnya pejabat-pejabat itu telah resmi dilantik, akan tetapi sampai sekarang ternyata posisi atau status mereka masih juga belum jelas dan bahkan karena ketidakjelasan itu 4 orang pejabat telah resmi mengundurkan diri dari jabatannya di IPDN Kampus Daerah Kalbar. Sehingga kini pejabat yang berwenang, yang ada dengan setia membina kami disini hanyalah Direktur, Pudir 1, Pudir 3, Kabag Akademik dan Kerjasama, Kabag Administrasi Keprajaan, Kabag TU, dan Kasubbag Pengasuhan dan Ekstrakulikuler. Dan begitu pula kondisi perkuliahan serta pelatihan kami disini, IPDN Kampus Kalbar masih banyak menggunakan tenaga dosen serta pelatih dari luar, karena sampai saat ini belum ada satu orang dosen atau pelatih tetap yang diberikan oleh Kampus Pusat. Ya, mungkin ini lah sebuah masa transisi dan semoga ini bukanlah sebuah transisi yang tiada akhir atau bahkan berakhir dengan tragis tapi merupakan suatu transisi menuju suatu kebaikan.

Dalam tulisan ini saya akan berfokus untuk membahas tentang perkuliahan yang saya serta teman-teman saya lainnya dapatkan di IPDN Kampus Daerah Kalbar ini. Untuk menyiasati kekurangan tenaga dosen yang ada, memang sejak awal IPDN telah berkejasama dan membuat suatu nota kesepahaman dengan Universitas Tanjungpura ( UNTAN ) agar bisa memberbantukan dosen-dosennya untuk mengajar di IPDN Kampus Daerah Kalbar. Dan hal itu sampai saat ini memang berjalan sangat baik dan bahkan UNTAN dengan sangat dermawan memberikan semua dosen-dosen terbaik yang mereka miliki, itu dibuktikan dengan hampir memberbantukan Guru Besar ( Professor ) di setiap mata kuliah yang diajarkan di IPDN ini. Dan karena IPDN Kampus Daerah Kalbar ini mendapatkaan amanah untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi kedinasan Fakultas Manajemen Pemerintahan dengan Program Studi Manajemen Sumber Daya Aparatur, sehingga dosen yang diberbantukan adalah dosen-dosen yang ada di lingkungan FISIP serta FE.

Gebrakan lain yang dilakukan oleh IPDN Kalbar adalah dalam sistem pengajaran dan pelatihan ini menggunakan metode tim dosen, sehingga di setiap mata kuliah akan ada Dosen Koordinator dan dosen anggota, konsekuensi logis dari hal ini adalah apabila ada satu dosen berhalangan hadir, maka kelas yang dia ajar tidak bisa serta merta menjadi kosong, tapi digabungkan ke dalam kelas lain, karena setiap harinya setiap kelas mempunyai jadwal kuliah yang sama. Itu membuat kami semua tidak pernah lagi mengenal waktu kosong saat kuliah, berbeda dengan saat kami kuliah di IPDN Kampus Pusat sana.

Seperti yang telah saya singgung di atas, UNTAN memang telah dengan sangat baik memberikan dosen-dosen terbaiknya untuk mengajar di kampus kami, dan salah satu dosen terbaik itu adalah Prof. Dr. Syarif Ibrahim Alqadrie, M.Sc., yang di semester tiga ini beliau mendapatkan tugas untuk mengajar mata kuliah Sistem Politik Indonesia. Sebenarnya beliau bukanlah dosen kelas saya, yaitu kelas A3, akan tetapi karena kebijakan kelas gabungan itu, maka saya pun sempat diajar oleh beliau.

Pada semester dua yang lalu, Prof. Syarif ini memang cukup ramai dibicarakan oleh para praja terlebih oleh kelas A1, karena beliau memang mengajar di kelas itu, beliau ramai dibicarakan karena memang trackrecord beliau yang tanpa cacat sebagai seorang dosen dan juga seorang Guru Besar, pengalaman mengajar beliau yang telah melanglang buana hingga ke mancanegara memang membuat kami silau. Dan hal itu mampu dibuktikan beliau dengan bukti nyata beliau yang walaupun memang sudah berumur, tapi tetap mampu untuk mengajar dengan penuh semanagat, ilmu yang dalam serta argumentasi yang tajam. Beliau juga mampu untuk menjadi seorang dosen yang baik dalam artian, mengajar tidak monoton dan tidak memonopoli pengajaran, beliau dengan sangat baik hati selalu memberikan kami para praja untuk bertanya dan menjawab pertanyaan, beliau pun tidak pernah menyalahkan segala jawaban yang praja berikan. Beliau hanya mengenal sistem penilaian good, very good dan excellent, tidak ada bad apalagi wrong answer!
Hal lain yang menyebabkan beliau menjadi cukup sering praja bicarakan adalah tentunya karena beliau selalu memberikan tugas yang bisa dibilang memang berjumlah cukup banyak, dan ya...peserta didik manapun akan selalu mengeluh akan hal itu, sesuatu hal yang sangat manusiawi.

Hal-hal itu setidaknya membuat saya cukup penasaran dengan sosok professor yang satu ini, dan karena pada semester dua yang lalu kelas saya belum sempat sekalipun mendapatkan kelas gabungan dengan beliau, rasa penasaran itu terus tumbuh di hati ini. Hingga akhirnya pada hari Kamis tanggal 29, bulan Sepember, tahun 2011 dan juga pada hari ini Kamis, tanggal 20, bulan Oktober, tahun 2011, saya bisa juga bersua dengan beliau dan merasakan bagaimana rasanya diajar oleh beliau.

Dan ya, saya angkat topi untuknya, beliau memang mengajar dengan sangat baik, segala materi yang dia sampaikan mampu dengan jelas beliau kemukakan, argumentasinya dalam. Hmm...dia benar-benar seorang professor, sehingga hampir tak ada celah bagi saya untuk berkomentar buruk tentang penguasaan beliau terhadap materi dan cara beliau menyampaikan materi itu.
Tapi, satu hal yang saya rasa perlu saya kritisi disini adalah saya tidak terlalu suka dengan gaya beliau mengoreksi atau bahkan memotivasi kami. Kelas gabungan bagaimanapun juga tidak akan pernah kondusif karena memang terlalu banyak praja yang ada, terlebih bila kelas gabungan itu diselenggarakan di Aula. ( Baca : GMM ) Hal itu semakin diperparah dengan sikap diantara kami yang memang sangat tidak terpuji sama sekali tidak menunjukan sebagai seorang peserta didik di sebuah perguruan tinggi kedinasan yang katanya unggul dalam sikap disiplin, respect serta loyalitas. Tapi apa yang kami tunjukan memang sangat jauh dari semua hal itu, kami malah asyik dan disibukan oleh obrolan kami masing-masing, bermain laptop dan bahkan tertidur. Dan tentu saja hal itu sangat tidak diterima oleh beliau, sikap yang kami tunjukan itu jelas merupakan suatu sikap yang sangat tidak menghormati dosen yang sedang mengajar.

Sehingga sangat saya maklumi dan sangat saya setujui juga apabila kemudian beliau memarahi sebagian dari kami yang melakukan tindakan tidak terpuji itu, dan terus mengoreksi kami. Akan tetapi koreksi yang beliau kemukakan secara tersirat dapat saya artikan sebagai sebuah koreksi yang terlalu menyudutkan, beliau mengoreksi kami dengan membandingkan kami dengan perbandingan yang dilakukan secara umum, dan menilai bangsa Indonesia secara keseluruhan dan kemudian membandingkan itu semua secara bulat dengan kondisi masyarakat yang ada di luar negeri, tapi hanya membandingkan dengan sisi yang positif yang ada di masyarakat di luar negeri tersebut. Beliau sepertinya terlalu bangga dengan apa yang ada di luar negeri dan memandang hampir semua yang dilakukan oleh warga Indonesia ini dengan sudut pandang yang negatif. Harus saya tekankan disini, beliau mengemukakan semua koreksi itu dengan sangat jelas, dan bahkan memang benar adanya, sekali lagi benar adanya.

Karena yang beliau kemukakan merupakan sebuah kondisi real yang ada di lapangan. Akan tetapi untuk ukuran saya, untuk karakter saya yang tidak terlalu suka apabila suatu hal jelek itu dikemukakan secara berlebihan, secara terlalu apa adanya dan kemudaian men-judge, memukul rata kesemuanya, saya menjadi tidak terlalu suka dengan cara beliau mengoreksi kami.

Karena pada hakikatnya kita selalu tidak mau dan tidak bisa menerima apabila seseorang itu mengungkapkan semua kejelekan, semua kesalahan yang sebenarnya memang secara nyata terjadi dan kita lakukan, secara gamblang, secara terlalu apa adanya.
Terkadang kita sulit untuk menerima kenyataan bahwa kita ini salah dan mereka itu benar, walaupun sebenarnya kita dengan sadar menyadari hal itu.
Damn!!

Rabu, 19 Oktober 2011

Reshuffle KIB jilid Dua






Definisi 'reshuffle'




English to Indonesian
mengubah


Indonesian to English

reshuffling

English to English
noun
1. a redistribution of something
there was a reshuffle of cabinet officers

2. shuffling again
the gambler demanded a reshuffle

verb
3. shuffle again
So as to prevent cheating, he was asked to reshuffle the cards

4. reorganize and assign posts to different people
The new Prime Minister reshuffled his cabinet

SUMBER









Kabinet Indonesia Bersatu jilid Dua





Menteri Koordinator :

1. Menko Politik, Hukum, dan Keamanan: Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian: Hatta Rajasa
3. Menko Kesra: Agung Laksono

Menteri :
4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi
5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi
6. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa
7. Menteri Pertahanan: Purnomo Yusgiantoro
8. Menteri Hukum dan HAM: Patrialis Akbar
9. Menteri Keuangan: Sri Mulyani ( sekarang : Agus D.W. Martowardojo )
10. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Darwin Zahedy Saleh
11. Menteri Perindustrian: MS Hidayat
12. Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu
13. Menteri Pertanian: Suswono
14. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan
15. Menteri Perhubungan: Freddy Numberi
16. Menteri Kelautan dan Perikanan: Fadel Muhammad
17. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar
18. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto
19. Menteri Kesehatan: Endang Rahayu Sedyaningsih
20. Menteri Pendidikan Nasional: M Nuh
21. Menteri Sosial: Salim Assegaf Aljufrie
22. Menteri Agama: Suryadharma Ali
23. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik
24. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring
25. Menneg Riset dan Teknologi: Suharna Surapranata
26. Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM: Syarifudin Hasan
27. Menneg Lingkungan Hidup: Gusti Moh Hatta
28. Menneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar
29. Menneg Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: EE Mangindaan
29. Menneg Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faisal Zaini
31. Menneg PPN/Kepala Bappenas: Armida Alisjahbana
32. Menneg BUMN: Mustafa Abubakar
33. Menneg Perumahan Rakyat: Suharso Manoarfa
34. Menneg Pemuda dan Olahraga: Andi Mallarangeng

Pejabat Negara:
1. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan: Kuntoro Mangkusubroto
2. Kepala BIN (Badan Intelijen Negara): Jenderal Pol Purn Sutanto
3. Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal): Gita Wirjawan

Wakil Menteri :
1. Wakil Menteri Pertahanan : Sjafrie Sjamsoeddin
2. Wakil Menteri Perindustrian : Alex Retraubun
3. Wakil Menteri Perhubungan : Bambang Susantono
4. wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional : Lukita Dinarsyah Tuwo
5. Wakil Menteri Keuangan : Anny Ratnawati
6. Wakil Menteri Pekerjaan Umum : Hermanto Dardak
7. Wakil Menteri Pendidikan : Fasli Djalal
8. Sekretaris Kabinet : Dipo Alam









KIB jilid Dua ( Reshuffle )




Menteri Koordinator
1. Menko Polhukam: Djoko Suyanto (tetap)
2. Menko Perekonomian: Hatta Rajasa (tetap)
3. Menko Kesra: Agung Laksono (tetap)

Menteri :
4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi (tetap)
5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi (tetap)
6. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa (tetap)
7. Menteri Pertahanan: Purnomo Yusgiantoro (tetap)
8. Menteri Hukum dan HAM: Amir Syamsuddin (baru)
9. Menteri Keuangan: Agus Martowardojo (tetap)
10. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Jero Wacik (baru)
11. Menteri Perindustrian: MS Hidayat (tetap)
12. Menteri Perdagangan: Gita Wirjawan (baru)
13. Menteri Pertanian: Suswono (tetap)
14. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan (tetap)
15. Menteri Perhubungan: EE Mangindaan (baru)
16. Menteri Kelautan dan Perikanan: Sharif Cicip Sutardjo (baru)
17. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar
18. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto (tetap)
19. Menteri Kesehatan: Endang Rahayu Setyaningsih (tetap)
20. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan: M Nuh (tetap)
21. Menteri Sosial: Salim Segaf Al Jufrie (tetap)
22. Menteri Agama: Suryadharma Ali (tetap)
23. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Mari Elka Pangestu (baru)
24. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring (tetap)
25. Menteri Negara Riset dan Teknologi: Gusti Muhammad Hatta (baru)
26. Menteri Negara Koperasi dan UKM: Syarief Hasan (tetap)
27. Menteri Negara Lingkungan Hidup: Berth Kampbuaya (baru)
28. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar (tetap)
29. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Azwar Abubakar (baru)
30. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faishal Zaini (tetap)
31. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas: Armida Alisjahbana (tetap)
32. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara: Dahlan Iskan (baru)
33. Menteri Negara Perumahan Rakyat: Djan Faridz (baru)
34. Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga: Andi Mallarangeng (tetap)

Setingkat Menteri :
1. Kepala BIN : Letjen. TNI Marciano Norman

Wakil-Wakil Menteri :
1. Wakil Menteri Pertanian : Rusman Heriawan
2. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan : Wiendu Nurianti
3. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Bidang Pendidikan : Musliar Kasim
4. Wakil Menteri PAN dan Reformasi Birokrasi : Eko Prasodjo
5. Wakil Menteri Keuangan : Mahendra Siregar
6. Wakil Menteri Perdagangan : Bayu Krisnamurthi
7. Wakil Menteri BUMN : Mahmuddin Yasin
8. Wakil Menteri Kesehatan : Ali Gufron Mukti
9. Wakil Menteri Luar Negeri : Wardana
10. Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif : Sapta Nirwandar
11. Wakil Menteri ESDM : Widjajono Partowidagdo
12. Wakil Menteri Agama : Nasaruddin Umar
13. Wakil Menteri Hukum dan Ham : Denny Indrayana






Reshuffle atau perombakan kabinet itu akhirnya benar-benar dilaksanakan oleh Presiden SBY. Indonesia yang menganut sistem pemerintahan presidensil, sesuai dengan amanat UUD 1945 Pasal 17 dan juga UU No. 39 tahun 2008 tentang Kementerian Negara, memang memberikan suatu hak penuh untuk presiden mengangkat serta memberhentikan menterinya sehingga menjadi suatu hak preogratif bagi seorang presiden di Indonesia dan bahkan seluruh negara yang menggunakan sistem pemerintahan presidensil untuk dapat merombak kabinetnya kapan pun dia mau apabila memang hal itu yang dia rasa perlu untuk dilakukan, tanpa ada suatu campur tangan ataupun intervensi dari pihak manapun atas nama kepentingan apapun juga. ( baca : Struktur Ketatanegaraan di Indonesia )

Presiden SBY melakukan langkah ini karena menurut penilaian beliau ada beberapa menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid Dua bentukannya ini, yang tidak bekerja secara optimal sehingga dia rasa perlu untuk diganti atau digeser ke posisi yang dia pikir lebih pas dan diperkirakan akan lebih mampu untuk bekerja lebih baik lagi. Isu kinerja yang kurang memuaskan yang menjadi alasan utama untuk Presiden SBY merombak susunan kabinetnya ini memang diamini hampir oleh seluruh politisi, praktisi bahkan rakyat Indonesia. Bahkan jauh sebelum akhirnya Presiden SBY berkata akan merombak susunan kabinetnya, sudah sejak jauh-jauh hari pula isu reshuffle kabinet ini dihembuskan oleh berbagai kalangan yang secara jelas dan nyata menyuarakan pendapatnya akan kurang optimalnya kinerja beberapa menteri di dalam KIB jilid Dua ini.

Harus diakui memang, pemerintahan Presiden SBY untuk periode kedua ini kurang berjalan mulus atau setidaknya berjalan lancar seperti pada periode pertama yang lalu. Berbagai masalah silih datang mengganggu kestabilan pemerintahan Presiden SBY kali ini. Bila dulu pemerintahan Presiden SBY periode pertama mendapat banyak apresiasi mendapat begitu banyak sanjungan karena keberhasilannya memberantas korupsi dengan cukup signifikan dengan lembaga bentukannya yang menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) tapi kini itu semua justru menjadi berbalik menyerang Presiden SBY. Justru banyak kasus korupsi pada masa pemerintahan Presiden SBY saat ini yang dilakukan oleh orang-orang dekat Presiden SBY, entah itu kader-kader Partai Demokrat ( partai yang dia dirikan dan juga kendaraan politik Presiden SBY ), korupsi di lingkungan kementerian, dan bahkan kasus yang terjadi di lingkungan lembaga hukum itu sendiri.

Kasus-kasus itu semakin diperparah dengan tidak stabilnya kondisi atau situasi politik di pemerintahan pusat saat ini. Seperti yang kita ketahui, Partai Demokrat sebagai kendaraan politik Presiden SBY berkoalisi dengan Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), bahkan belakangan Partai Golkar ( PG ) pun merapat masuk ke dalam partai koalisi pendukung pemerintah. Secara hitungan matematis, dengan koalisi yang dibentuk oleh Partai Demokrat ini telah jauh dari kata cukup untuk membentuk suatu kestabilan pemerintahan, karena dengan koalisi seperti itu, maka suara di DPR telah sepenuhnya atau mayoritas menjadi milik pemerintah. Sehingga secara logika sederhananya, seharusnya pemerintahan Presiden SBY kali ini dapat berjalan lebih kondusif dan setiap program yang direncanakan oleh pemerintah dapat mulus berjalan secara efektif dan efisien. Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian, partai-partai yang tergabung dalam koalisi itu ternyata tidak sepenuhnya mendukung pemerintahan Presiden SBY, mereka terlalu sering untuk berteriak vokal dan menentang segala apa yang dilakukan oleh pemerintah, koalisi itu menjadi percuma karena pada faktanya hanya kaum elite politiknya saja yang setia mendukung pemerintahan akan tetapi jauh ke dalam tubuh dan anggota partai politik yang tergabung dalam koalisi itu ternyata justru bertindak seperti partai oposisi.

Berpengaruh atau tidak, tapi hal-hal itu sedikit banyaknya membuat Presiden SBY menjadi seorang yang peragu, menjadi seorang pemimpin yang lambat dalam mengambil keputusan dan pada saat Presiden SBY mengambil suatu keputusan pun keputusan yang dia buat itu terkesan mengambang, dan tidak mengena kepada substansi permasalahannya. Ya, pada pemerintahan Presiden SBY kali ini terlihat jelas bahwa karakter kepemimpinan Presiden SBY itu kalem, cenderung konservatif dan mengambil jalan aman. Tidak mau terlalu banyak mengambil resiko, segala sesuatunya harus benar-benar diterima oleh masyarakat luas dan seminimal mungkin tidak terlalu mempengaruhi kondisi kondusif masyarakat banyak. ( baca : Menganalisis Pemerintahan yang Sedang Berjalan )

Dan karena hal itu pula, Presiden SBY menjadi banyak dikritik orang. Tapi, saya pun mencoba untuk mengerti kondisi dan situasi yang sedang dialami oleh beliau sekarang. Dalam artian sejak awal, sejak dibentuknya koalisi dan akhirnya dibentuknya Kabinet Indonesia Bersatu jilid Dua, disitu terlihat jelas bahwa karakter atau gaya kepemimpinan dari seorang Presiden SBY adalah sebisa mungkin untuk bisa mengakomodir kepentingan semua pihak, sebisa mungkin menciptakan suatu kestabilan dan suasana yang kondusif. Itu terlihat dengan gemuknya KIB jilid Dua yang berjumlah 34 menteri, jumlah maksimal sesuai dengan UU. No. 39/2008 Pasal 15. Jumlah yang banyak itu salah satu alasannya jelas adalah untuk bisa mengakomodir jatah partai koalisi dan juga jatah orang-orang praktisi nonpartai atau dari kalangan profesional.

Tapi, sekali lagi, akhirnya kesemua itu justru menjadi sebuah senjata makan tuan bagi pemerintahan Presiden SBY kali ini, hal itu justru balik menekan Presiden SBY sehingga pada akhirnya dia tidak bisa dengan leluasa bergerak menjalankan pemerintahannya.
Dan hal itu pula, yaitu mengenai gaya kepemimpinan yang coba juga Presiden SBY rubah, sehingga momentum reshuffle kabinet ini menjadi sebuah moment bagi pemerintahan Presiden SBY untuk merubah gaya lambat dan kurang cepat itu. Ya, setidaknya itu lah alasan kedua, selain masalah kinerja yang telah dia kemukakan.

Reshuffle telah dilaksanakan, tapi ternyata kritik itu justru datang lebih keras. Orang-orang baru atau pun orang lama yang digeser ke pos baru memang cukup membuat kalangan praktisi diam, tapi hal lain yang membuat para praktisi itu geram bukan main adalah keputusan Presiden SBY untuk juga mengangkat 13 Wakil Menteri bahkan ada kementerian yang memiliki dua wakil menteri sekaligus! KIB jilid Dua pada awalnya dulu juga menjadi kabinet pertama dalam era reformasi ( koreksi jika saya salah ) yang menggunakan “jasa” wakil menteri di dalam sebuah kementerian, hal itu bukan merupakan sebuah pelanggaran karena telah sesuai dengan UU. No. 39/2008 Pasal 10. Dan hal itu pun menjadi tidak terlalu dipermasalahkan oleh banyak kalangan karena pada waktu itu hanya 6 orang saja yang ditunjuk sebagai wakil menteri. Tapi, sekarang jumlah itu meningkat drastis menjadi 13 wakil menteri, kenaikan yang sangat signifikan dan jelas memang akan membebani keuangan negara. Sesuai dengan aturan perundang-undangan jabatan wakil menteri itu diisi oleh jabatan karir ( PNS ) yang setara dengan eselon IA. Maka dengan 34 menteri ditambah dengan 13 wakil menteri, jelas keuangan negara sangat terbebani dan semakin tepat lah negara Indonesia ini menjadi negara yang pengeluarannya paling banyak dihabiskan untuk biaya belanja pegawai.

Analisis saya kenapa Presiden SBY sampai dengan begitu sangat beraninya mengangkat 13 wakil menteri dengan tetap mempertahankan komposisi 34 menterinya, tidak lain dan tidak bukan sebagai sebuah bentuk kompromi. Karena beliau menyadari dengan sangat jelas, bahwa pos menteri sangat sulit untuk dilepasakan dari lobby-lobby politik juga sebagai cara beliau untuk membuat senang semua pihak yang telah mendukungnya, dalam hal ini tentu saja partai koalisi walaupun dalam reshuffle ini jumlah menteri dari PKS dan PD berkurang satu, tapi saya pikir itu tidak terlalu signifikan. Menyadari hal itu, menurut hemat saya, Presiden SBY “mengakali” kondisi seperti itu dengan cara mengangkat wakil menteri yang notabene merupakan suatu jabatan karir sehingga dimungkinkan untuk diisi oleh kalangan-kalangan praktisi yang secara jelas kompoten dan memiliki kemampuan dalam bidangnya. Tidak seperti para Menteri yang lebih kepada posisi pilitik, yang banyak diisi oleh kader-kader partai politik yang mungkin secara akademisi kurang begitu menguasai bidang kerjanya.

Hmm..entah lah, tapi itu lah sekelumit analisis saya, hasil dari pendidikan yang saya miliki, yang saya akui secara jelas dan sangat sadar jauh dari kata mumpuni. Tapi setidaknya saya mempunyai keberanian untuk mengungkapkan itu semua sehingga dimungkinkan untuk mendapat sebuah koreksi dan masukan berarti untuk berkembang menjadi lebih baik lagi. ( baca : Selamat Datang, kawan )

Dan akhirnya saya ingin berucap sedikit berpesan, agar setiap pihak, setiap orang, setiap praktisi dan semua orang yang berkepentingan bila berkesempatan atau dimintai memberikan sebuah komentar atau pendapat, untuk bisa mengkritik dengan bijak, memberikan suatu penilaian secara utuh, memberikan sebuah masukan sebagai sebuah solusi. Jangan justru hanya berkoar memanaskan suasana, memecah keheningan menjadi sebuah keributan. Begitu pula untuk semua media massa di Indonesia, cetak maupun elektronik, untuk benar-benar memposisikan sebagai sebuah sarana pemberi berita, biarkan opini itu dibentuk oleh masyarakat itu sendiri, jangan justru media massa itu menjadi sebuah tempat pembentuk opini, menjadi lebih kejam daripada sebuah berita gossip.
Ya, beritakan lah apa yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk, jangan mendramatisir segala berita yang ada. Bertindak profesional dan bersikap proporsional.

Kamis, 13 Oktober 2011

Keluarga Besar IPDN

Sekali lagi harus saya tekankan, IPDN merupakan sebuah perguruan tinggi kedinasan yang saya pikir mempunyai suatu budaya yang teramat khas yang hampir tidak akan kita temukan di perguruan tinggi kedinasan lainnya apalagi perguruan tinggi pada umumnya.

Sebaiknya dan saya pikir sudah seharusnya, sebelum anda membaca tulisan ini, saya sarankan anda terlebih dahulu membaca tulisan saya yang terdahulu mengenai perguruan tinggi kedinasan pencetak kader-kader aparatur pemerintahan dalam negeri ini, agar sedikit banyaknya anda semua bisa mempunyai sedikit bayangan mengenai perguruan tinggi kedinasan ini dan sedikit banyaknya juga, apa yang nanti hendak saya tuliskan bisa tidak terlalu sulit untuk anda pahami. Karena syarat utama agar pesan atau makna dari segala apa yang akan kita sampaikan bisa sampai kepada lawan bicara kita adalah kita harus dalam tahap persepsi dan pola pikir atau sudut pandang yang sama dan kalaupun berbeda, perbedaan itu tidak terletak pada sesuatu hal yang prinsip dan anda pun rela, ikhlas serta mau untuk selalu membuka hati serta pikiran anda terhadap segala yang berbeda itu. Dan apabila syarat itu telah mampu kita penuhi, maka pembicaraan kita pun akan berlangsung dengan sangat nyaman. ( baca : Ko-teks Vs. Konteks )

Jadi, ini adalah daftar tulisan saya yang telah lalu mengenai IPDN, sebagai pembuka dari tulisan yang akan sesegera mungkin saya tulis ini :

1. IPDN 2010/2011
2. KAMPUS DAERAH DAN SEMANGAT PERUBAHAN
3. Takkan Terhenti Disini
4. Penerimaan Capra IPDN T.A. 2011/2012
5. Pertanyaan di Acara Kunker Ibu Sekjen Kemendagri
6. PL I/PPL
7. Selayang Pandang IPDN

Suatu sikap lambat laun akan berubah menjadi sebuah kebiasaan, terbentuk karena suatu kultur, sistem dan prosedur yang ada dan sedang kita jalani. Seperti apa yang pernah Pak Syamsu ( Plt. Kabag Pengasuhan IPDN Kampus Pusat Jatinangor ) katakan :
"Berhati-hatilah dgn pikiran anda karena pikiran anda akan menjadi perkataan anda. Berhati-hatilah dgn perkataan anda karena perkataan anda akan menjadi perbuatan anda. Berhati-hatilah dgn perbuatan anda karena perbuatan anda akan menjadi akhlak anda. Dan berhati-hatilah dgn akhlak anda karena akhlak anda akan menentukan nasib akhir anda."

Dan inilah yang terjadi di IPDN, di lembaga pendidikan ini, terbentuk suatu budaya, bahwa senioritas menjadi sesuatu hal yang penting di atas asas kekeluargaan yang sangat kuat. Bila kita telah masuk ke dalam sistem ini, menjadi bagian dari Korps Praja, maka kita telah menjadi sebuah keluarga besar, saudara yang tidak satu darah tapi merupakan saudara satu perjuangan, satu almamater. Hal ini mampu tertanam dengan jelas dalam setiap benak serta sanubari setiap praja dan bahkan purna praja APDN/STPDN/IPDN.
Hal ini dimungkinkan untuk terjadi karena IPDN menerapkan sistem asrama dalam naungan atau bimbingan Bagian Pengasuhan yang mengharuskan setiap peserta didiknya hidup di dalam kampus, berinteraksi dan bersosialisasi secara terbatas di dalam kampus dengan wajah yang sama setiap harinya.

Tapi untuk saya pribadi, hal itu bukanlah menjadi penyebab utama kenapa rasa persaudaraan dan rasa memiliki di setiap praja dan purna praja bisa begitu kuat tercipta, faktor utama yang saya pikir mendasari itu semua adalah faktor senioritas yang sempat saya singgung di atas tadi. Tidak, tidak, saya tidak akan membahas senioritas dalam perspektif negatif, atau mencoba mengungkit lagi setiap kejadian tragis masa lalu akibat dari suatu senioritas yang melampaui batas, cukup sudah, cukup itu menjadi sebuah masa lalu yang kita ambil pelajaran di dalamnya dan tidak kita ulangi lagi di masa kini. Karena segala sesuatu itu harus berubah, dinamis mengikuti perkembangan zaman, menyesuaikan segala sesuatunya agar bisa tetap eksis dengan selalu mengoreksi diri menjadi lebih baik lagi. Cukup bagi saya menganalisis masalah itu secara singkat dalam tulisan saya yaitu KAMPUS DAERAH DAN SEMANGAT PERUBAHAN.
Ya, faktor senioritas di IPDN memang harus tetap dipertahankan, dalam artian senioritas yang positif tentunya. Hal ini harus tetap dipertahankan karena IPDN merupakan suatu perguruan tinggi kedinasan yang output peserta didiknya sudah secara jelas dipersiapkan untuk menjadi seorang birokrat pemerintahan, yang sangat erat dengan suatu sistem hierarki dalam setiap pelaksanaan tugasnya sehari-hari. Sehingga mau tidak mau peserta didik di IPDN harus secara nyata dan dilatih untuk selalu dihadapkan dengan situasi di lapangan nantinya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil, yang sekali-kali tidak hanya dituntut mempunyai pemahaman mengenai disiplin ilmu yang baik tapi yang lebih penting lagi harus mempunyai suatu sikap dan moral yang baik dalam setiap pelaksanaan tugasnya. Dan erat kaitannya dengan sistem hierarki yang memang dianut oleh birokrasi pemerintahan kita, maka sikap utama yang diharuskan ada dalam setiap diri PNS itu adalah sikap respect, loyal, disiplin serta cerdas generalis. Hal itu tak akan bisa dilatih hanya dengan teori belaka dan sekedar tatap muka di dalam kelas saja, tapi harus selalu ada implementasi nyata sehari-hari sehingga dengan sendirinya sifat-sifat itu bisa terinternalisasi dalam diri setiap praja.

Senioritas juga masih sangat diperlukan karena sesuai dengan tujuan pendidikan kedinasan ini untuk membentuk seorang pamong praja yang handal. Pamong praja secara sederhananya dapat kita artikan sebagai seseorang yang dipercaya untuk menyelenggarakan pemerintahan atau negara dan harus selalu mengayomi dan memberikan suri tauladan yang baik kepada setiap yang dipimpinnya. Sifat-sifat itu sekali lagi tidak akan mungkin tumbuh dengan sendirinya atau dengan pemahaman teori semata, tapi harus selalu ada praktek nyatanya. Dan dengan senioritas itu maka dengan sendirinya seorang senior belajar untuk selalu mengayomi juniornya, dengan cara memberikan nasihat serta koreksi yang membangun dan apabila senior itu telah mampu untuk memberikan suatu koreksi pada juniornya maka dengan sendirinya akan muncul suatu rasa malu baginya apabila dia sendiri yang justru melakukan suatu kesalahan itu, akan ada suatu dorongan batin yang kuat yang membuat si senior itu dengan sangat alamiah ingin memberikan sebuah teladan yang baik. Dan si junior pun lambat laun akan belajar menjadi seorang “bawahan” yang baik serta taat kepada setiap perintah yang datang menghampiri dirinya.

Dan ya, bagian pengasuhan serta senioritas adalah ujung tombak dalam pembentukan sifat-sifat tadi. Dengan senioritas itu juga maka kami para praja mengenal suatu istilah yang dinamakan doktrin. Doktrin disini berarti suatu wejangan atau bahkan perintah tentang tata cara kita bertingkah laku dalam pergaulan sebagai seorang praja dan nantinya setelah lulus menjadi seorang purna praja, dan setiap doktrin yang ada memang tidak semuanya baik, tidak sedikit yang saya pikir cenderung menyesatkan.

Salah satu doktrin yang hendak saya bahas disini adalah doktrin bahwa setiap praja itu saudara, satu keluarga, menghormati yang lebih tua ( dalam pengertian yang luas tidak terbatas oleh faktor umur ), menghargai yang lebih muda serta harus mampu menjaga putri/wanita satu angkatan, karena wanita adalah adik kita yang harus selalu kita jaga. Segala hal yang terjadi pada putri angkatan kita maka kita lah para praja putra yang harus bertanggung jawab dan menangung segala resikonya.

Konsekuensi logis dari doktrin ini adalah semua junior harus memanggil “kakak” atau sebutan lain yang mempunyai arti sama sesuai dengan bahasa daerahnya masing-masing ( Jabar “Akang-Teteh”, DKI “Abang-Mpok”, Jatim dan Jateng “Mas-Mba”, dsb. ), serta memanggil “adik” atau juga sebutan lainnya yang mempunyai arti sama kepada putri seangkatan kami dan juga kami harus menjaga mereka secara sangat baik, bahkan cenderung memanjakan mereka. Sehingga dalam bahasa lainnya kami dengan rekan-rekan seangkatan secara tidak langsung menjadi berubah statusnya tidak sebagai seorang rekan, teman atau sahabat, tapi menjadi sebuah hubungan kekelurgaan, kakak-adik, dengan putra secara otomatis menjadi seorang kakak dan putri menjadi seorang adiknya.

Perlu saya jelaskan disini, doktrin ini bukan merupakan doktrin “resmi” dari Bagian Pengasuhan, tapi merupakan doktrin turun temurun dari hasil sebuah senioritas itu tadi dan perlu saya jelaskan doktrin ini berjalan atau hidup dari lingkup kontingen terlebih dahulu kemudian akhirnya hidup membesar menjadi lingkup satu angkatan. Karena sistem penerimaan Praja IPDN menggunakan sistem kuota per-Provinsi, sehingga ada perwakilan dari setiap provinsi di seluruh Indonesia yang juga merupakan perwakilan dari setiap kabupaten/kota dari Provinsi tersebut.
Saya ambil contoh Kontingen Jawa Barat asal pendaftaran saya sendiri. Angkatan XXI, angkatan saya total berjumlah 1500 orang dari 33 Provinsi dan Jawa Barat sendiri berjumlah 92 orang yang merupakan perwakilan dari 26 kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat. Dan saya merupakan perwakilan dari Kabupaten Bandung Barat, angkatan saya yang juga berasal dari KBB ( Kabupaten Bandung Barat ) berjumlah 6 orang, dengan 5 lainnya putri.
Sudah menjadi tradisi pula, bahwa yang pertama kali memberikan doktrin dan mengurusi suatu kontingen adalah tentu senior yang berasal dari kontingen yang sama. Sehingga saya yang berasal dari Jawa Barat maka yang pertama kali mengurusi saya dan memberikan doktrin tentu adalah senior saya yang berasal dari Jawa Barat. Dan bentuk implementasi dari doktrin mengenai menghormati ke yang lebih tua ( senior ) dan menghargai ke yang lebih muda, maka kami diharuskan memanggil “kang” kepada setiap senior putra yang berasal dari Jawa Barat dan “kakak” kepada senior putra/putri yang bukan dari Jabar serta “teteh” kepada senior putri Jabar dan memanggil “neng” kepada putri seangkatan dan putri seangkatan pun sebaliknya harus memanggil putra seangkatannya yang tentunya berasal dari Jabar dengan sebutan “kang”.

Okay, doktrin ini seperti halnya doktrin-doktrin lainnya yang senior berikan kepada saya, tidak bisa secara serta merta saya terima. Terlepas dari fakta bahwa bibir ini terasa berat untuk memanggil “neng” serta telinga ini terasa geli ketika harus mendengar ada yang memanggil saya “akang”, saya pun tidak terlalu menyukai konsekuensi logis yang ditimbulkan dari hubungan kekeluargaan ini. Ya, saya diharuskan untuk menjaga mereka, memanjakan mereka, dan semua hal itu sangat terasa bagi saya, karena daerah tempat asal saya mendaftar yaitu KBB, hanya saya lah seorang putra, dan lima orang lainnya adalah putri, sehingga dengan doktrin ini maka saya menjadi memiliki lima orang adik perempuan!
Wow!!

Sekali lagi saya tidak akan berbohong, masa-masa awal di IPDN terasa sungguh berat memang, masa-masa bagi saya untuk beradaptasi dengan situasi dan kondisi kehidupan yang serba baru, termasuk hubungan “akang-neng” seperti ini. Segala logika ini belum mampu untuk menerima segala budaya tersebut, diri ini pada awalnya terus melawan. Bagaimana bisa saya harus “dipaksa” menjaga putri-putri tersebut? Ketika hubungan darah pun tak ada, ketika kenal pun baru di saat pendidikan ini??
Terus lama saya coba melawan doktrin itu, terus lama saya belum mampu untuk menerima doktrin itu, sehingga membuat saya menjaga sangat cuek terhadap putri-putri Jabar bahkan putri-putri KBB itu sendiri, saya belum mampu untuk bersikap. Diri ini masih mencari-cari argumentasi serta pembenaran yang bisa membuat saya mengerti untuk akhirnya bisa menerima segala doktrin yang ada.

Dan memang, sebuah kultur yang terbangun oleh suatu sistem terlalu kuat untuk saya lawan, lambat laun tapi sangat pasti, saya mulai bisa menyadari dan mengerti segala doktrin itu. Otak saya mulai menemukan sebuah pembenaran yang telah lama saya cari, dan saya mungkin terlambat akan tetapi saya bersembunyi di balik sebuah pepatah nan bijak bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali? ;)
Saya melihat betapa indah hubungan kekeluargaan itu, saya melihat secara langsung bagaimana kontingen lain bisa begitu akrab, begitu indah dalam kebersamaan, si putra dengan sabar menjaga si putri dan si putri pun menghormati si putra. Indahnya, pikir saya dalam hati. Ada sebuah hubungan timbal balik yang saling menguntungkan saling melengkapi dan di sini saya mulai sangat sadar bahwa setiap doktrin yang ada itu tidak muncul dengan sekonyong-konyong tanpa sebuah sebab tanpa sebuah filosofi yang kuat. Semua ada karena memang harus ada untuk sebuah alasan yang kuat. ( baca : Sebab-akibat ) Begitu juga doktrin ini, saya mulai sadar bahwa doktrin ini muncul karena memang pada hakikatnya putri itu harus selalu ada dalam perlindungan putra, putra bagaimana pun juga dituntut untuk selalu menjadi kuat menadi seorang pemimpin karena sekecil-kecilnya, seburuk-buruknya putra pasti akan menjadi seorang pemimpin, minimalnya pemimpin di dalam rumah tangga dan sebaliknya putri, sepintar-pintarnya mereka, sekuat-kuatnya mereka, mereka harus tetap tunduk pada hakikat awal mereka sebagai seorang wanita seutuhnya yang harus taat dan patuh kepada pria. ( baca : Jangan Pernah Berubah )
Ya, dengan logika sederhana itu saya pun mulai menyadari bahwa doktrin itu memang benar adanya, terlebih lagi dengan fakta bahwa dengan diwajibkannya kita hidup di dalam kampus, di dalam asrama, maka kita pun secara otomatis menjadi jauh dengan saudara kandung kita di daerah sana sehingga secara otomatis pula keluarga terdekat kita adalah tentunya teman-teman, sahabat-sahabat kita yang ada di kampus ini. Karena yang pertama kali akan menolong di saat kita susah, sebagaimana pun hebatnya orang tua kita di sana, tetap yang akan pertama kali menolong dan membantu kita adalah rekan-rekan kita yang ada di kampus ini. Sekali lagi kedua hal itu merupakan sebuah logika yang sangat sederhana, yang saya pikir sudah sangat mampu untuk menjelaskan secara logis doktrin tersebut.
Dan saya pun kini mulai dengan sangat nyaman menjalani posisi itu, menjalani semua doktrin itu. Justru sekarang saya melaksanakan semua doktrin itu tidak karena terpaksa, tidak karena takut kepada senior, tapi semuanya benar-benar saya lakukan ikhlas dari hati, saya lakukan dengan benar-benar sepenuh hati karena telah mampu melihat segala doktrin itu dari suatu perspektif yang positif. Kini saya benar-benar memiliki rasa memiliki itu, rasa tanggung jawab bahwa saya harus mampu menjaga semua adik-adik saya dengan baik, sebuah tanggung jawab yang saya yakin akan saya pertanggung jawabkan kelak.

Di saat saya menyadari itu semua, saya pun mulai untuk semakin akrab dengan adik-adik ( neng-neng) kabupaten saya, yang secara kebetulan memang semuanya putri sehingga saya harus mampu untuk menjadi lebih dewasa menjaga mereka. Lalu setelah itu saya mulai untuk mencoba untuk juga mengakrabkan diri dengan rekan-rekan serta neng-neng satu kares ( wilayah ) Bandung Raya ( Kota Cimahi, Kab. Bandung, Kota Bandung, KBB ), lalu satu kontingen se-Jawa Barat, satu regional Kampus Daerah Kalbar, satu angkatan XXI dan pada akhirnya satu almamater IPDN.

Ya, ini lah satu budaya kekeluargaan yang saya pikir menjadi sangat khas yang akan sangat sulit untuk ditemukan di perguruan tinggi lainnya. Espirit de corps kami telah terbentuk jauh sebelum kami terjun ke lapangan dan semangat yang melandasinya pun adalah sebuah semangat satu keluarga besar sehingga ikatan batin yang tercipta diantara kami, saya yakinkan kepada anda semua SANGAT KUAT, TERLAMAPAU KUAT UNTUK DAPAT ANDA HANCURKAN!

Semangat dan kompak selalu KBB, BANRAY, JABAR, REG. KALBAR DAN ANGKATAN KU ANGKATAN XXI!
Damn, i love u so!!

Minggu, 02 Oktober 2011

Kahlil Gibran






Profil Singkat Kahlil Gibran




Khalil Gibran ( nama lahir : Gibran Khalil Gibran, lahir di Lebanon, 6 Januari 1883 – meninggal di New York City, Amerika Serikat, 10 April 1931 pada umur 48 tahun) adalah seorang seniman, penyair, dan penulis Lebanon Amerika. Ia lahir di Lebanon (saat itu masuk Provinsi Suriah di Khilafah Turki Utsmani) dan menghabiskan sebagian besar masa produktifnya di Amerika Serikat.

Khalil Gibran lahir di Basyari, Libanon dari keluarga katholik-maronit. Bsharri sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak memengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.

Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Beirut, di mana dia belajar di College de la Sagasse sekolah tinggi Katholik-Maronit sejak tahun 1899 sampai 1902.

Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Kesultanan Usmaniyah yang sudah lemah, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.

Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.

Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, "Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan diterbitkan di New York City, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang menyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronit. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.

Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.

Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.

Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.

Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.

Sebelum tahun 1912 "Broken Wings" telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.

Pengaruh "Broken Wings" terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama "Broken Wings" ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.

Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Suriah yang tinggal di Amerika.

Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.

Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, "The Madman", "His Parables and Poems". Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam "The Madman". Setelah "The Madman", buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah "Twenty Drawing", 1919; "The Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.

Sebelum terbitnya "Sang Nabi", hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.

Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca "Sang Nabi". Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.

Gibran menyelesaikan "Sand and Foam" tahun 1926, dan "Jesus the Son of Man" pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, "Lazarus" pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan "The Earth Gods" pada tahun 1931. Karyanya yang lain "The Wanderer", yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain "The Garden of the Propeth".

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hepatis dan tuberkulosis, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village.

Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.

Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Mar Sarkis, sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah.

Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."

Beberapa karya populernya antara lain: Sang Pralambang (1920), Sang Nabi (1923), Pasir dan Buih (1926), Taman Sang Nabi (1933), Jiwa-Jiwa Pemberontak (1948), Suara Sang Guru (1958), Potret Diri (1959) dan Sayap-sayap patah.

SUMBER









Karya-karya Kahlil Gibran




In Arabic:

* Nubthah fi Fan Al-Musiqa (Music, 1905)
* Ara'is al-Muruj (Nymphs of the Valley, also translated as Spirit Brides and Brides of the Prairie, 1906)
* al-Arwah al-Mutamarrida (Spirits Rebellious, 1908)
* al-Ajniha al-Mutakassira (Broken Wings, 1912)
* Dam'a wa Ibtisama (A Tear and A Smile, 1914)
* al-Mawakib (The Processions, 1919)
* al-‘Awasif (The Tempests, 1920)
* al-Bada'i' waal-Tara'if (The New and the Marvellous, 1923)

In English, prior to his death:

* The Madman (1918)
* Twenty Drawings (1919)
* The Forerunner (1920)
* The Prophet, (1923)
* Sand and Foam (1926)
* Kingdom of the Imagination (1927)
* Jesus, The Son of Man (1928)
* The Earth Gods (1931)

Posthumous, in English:

* The Wanderer (1932)
* The Garden of the Prophet (1933, Completed by Barbara Young)
* Lazarus and his Beloved (Play, 1933)

Collections:

* Prose Poems (1934)
* Secrets of the Heart (1947)
* A Treasury of Kahlil Gibran (1951)
* A Self-Portrait (1959)
* Thoughts and Meditations (1960)
* A Second Treasury of Kahlil Gibran (1962)
* Spiritual Sayings (1962)
* Voice of the Master (1963)
* Mirrors of the Soul (1965)
* Between Night & Morn (1972)
* A Third Treasury of Kahlil Gibran (1975)
* The Storm (1994)
* The Beloved (1994)
* The Vision (1994)
* Eye of the Prophet (1995)
* The Treasured Writings of Kahlil Gibran (1995)

Other:

* Beloved Prophet, The love letters of Khalil Gibran and Mary Haskell, and her private journal (1972, edited by Virginia Hilu)





Inilah salah satu dari banyak kekurangan yang saya miliki, lebih dari sekedar bukti nyata akan ketidaksempurnaan diri ini. Saya memang mampu untuk mengingat segala apa kejadian yang terjadi di masa lampau, terlebih untuk segala kejadian yang menurut saya penting dan mempunyai kesan tersendiri dalam hati, entah itu suka maupun duka. Saya mampu untuk mengingatnya bahkan terkadang mengingat segala detail kecil dari apa yang telah terjadi itu akan tetapi beda halnya bila saya harus menyebutkan kapan segala peristiwa itu terjadi di masa lampau, saya terkadang dan bahkan sering untuk tidak mampu mengingat detail hari, tanggal, tahun serta waktu dari segala kejadian yang terjadi di masa lalu dan itu memang sering membuat saya pribadi sedikit rancu dalam mengurutkan segala peristiwa yang telah saya alami atau untuk sekedar menuliskan kembali itu semua dalam sebentuk sebuah kalimat diari.
Tapi, sudahlah, saya pikir itu bukan suatu masalah yang cukup besar, yang terpenting saya mampu untuk mengambil pelajaran dari segala apa yang telah saya alami daripada harus bersusah payah mengingat segala tanggal yang memang sudah tak mampu saya ingat hanya untuk sekedar membuat sistematis segala cerita yang ingin saya tuliskan.
I’m not a goddamn writer anyway, I’m just an ordinary man who loves to write!

Dan itu lah alasan kenapa pada tulisan ini, saya pun lagi-lagi tak mampu untuk memberikan suatu keterangan waktu yang lengkap tapi cerita ini bermulai ketika ( bila saya tidak salah ) saya duduk di bangku kelas XI di SMA Negeri 1 Sumedang, masa-masa SMA memang menjadi suatu masa-masa penuh dengan sesuatu yang baru bagi saya, titikbalik yang sedikit banyaknya berpengaruh dalam membentuk kepribadian saya seperti yang ada sekarang ini. Sehingga kini, tak begitu banyak perubahan yang saya alami karena dasarnya telah terbentuk agak kuat ketika di SMA dulu. Di saat itu lah saya mulai menyukai untuk menulis, dan di saat itu juga saya mulai semakin suka untuk membaca, tapi hingga saya duduk di bangku kelas XI, kegemaran saya untuk membaca masih sangat terbatas pada bacaan olahraga dan berita-berita nasional pada umumnya, belum begitu tertarik pada bacaan sastra. Walaupun memang saya mulai sedikit sering membaca novel-novel yang dimiliki oleh kakak saya. Dan dalam hal menulis pun sebenarnya saya sudah sedikit berlagak dengan sok membuat puisi-puisi, yang tak jelas aturannya. hehehe.... ( bisa anda liat dalam label Poetic Tragedy )
Tapi sekali lagi, saya belum benar-benar tertarik pada dunia sastra, dalam hal ini syair-syair berbentuk puisi, dsb. Dan hal itu berubah drastis ketika sahabat saya, saudara saya, Damarra Rezza menawarkan sebuah buku berjudul “Sayap-sayap Patah” karya dari seorang sastrawan bernama Kahlil Gibran. Ya, nama Kahlil Gibran tidak asing bagi saya, karena saya sering membaca kutipan-kutipan kata-kata mutiara miliknya dan sesaat setelah saya mendengar bahwa buku itu merupakan karya Kahlil Gibran saya dengan berani menebak bahwa buku itu akan berisi atau bertemakan mengenai Cinta, karena sejauh yang saya tau kata-kata mutiara yang sering saya baca hasil dari kutipan setiap tulisan Kahlil Gibran bercerita banyak tentang cinta.
Entah karena apa, saya pun tertarik dan akhirnya setuju untuk meminjam buku itu, sekali lagi saya katakan entah ada apa hingga akhirnya saya mau untuk membaca buku itu. Beberapa hari saya pinjam buku itu, tapi dalam beberapa hari itu belum sedikit pun saya membacanya. Dan pada suatu hari saya pun mulai memberanikan diri membuka selembar halaman dari buku berjudul “Sayap-sayap Patah” itu, terus saya baca halaman demi halamannya, terus saya saya hayati dan tanpa tersadar saya telah terhipnotis jauh ke dalam lautan kata-kata yang ada dalam buku itu. Kurang lebih dua jam adalah waktu yang saya perlukan untuk akhirnya mampu membaca habis kesemua halamannya, saya memang terkagum tapi sungguh saya belum terlalu paham apa yang sebenarnya menjadi makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga saya pun mengulanginya, membaca lagi dari awal semua halamannya.

Dan akhirnya sedikit banyaknya saya mulai memahami apa yang menjadi tema besar dalam buku itu, dan tak memerlukan waktu lama bagi saya untuk jatuh cinta terhadap setiap kata yang ada di buku itu, dan akhirnya sejak saat itu pun saya mulai berani berkata dengan lantang bahwa saya telah jatuh cinta pada dunia sastra.

Orang lain mungkin akan berkata bahwa setiap satrawan itu hanya melebih-lebihkan segala apa yang terjadi, mereka terlalu menghambur-hamburkan setiap kata hanya untuk melukiskan sebuah benda yang sebenarnya terlihat biasa. Tapi justru itu lah yang membuat saya menjadi sangat menyukai setiap tulisan dari seorang satrawan, mereka mampu untuk menyusun kata-kata menjadi sebentuk kalimat panjang nan indah. Sebuah benda biasa mampu mereka lukiskan dengan sangat tepat, semua keindahan mereka tumpahkan secara lebih indah dan semua kesedihan juga mampu mereka ceritakan dengan lebih tragis. Ya, itu lah satrawan, karena bila tak lebay bukan sastrawan namanya. ( lebay yang bermakna tentunya )

Begitu juga seorang Kahlil Gibran, damn! I’m speechless! He’s just so great, so damn great! Semua kata-katanya mempunyai makna yang terlampau dalam, analoginya maut dan kiasannya tajam. Cerita cinta dan kehidupan mampu ia lukiskan secara nyata, membuat bayangan kita melayang tak terbatas, dia benar-benar membuat setiap orang yang membaca setiap karya-karyanya mabuk kepayang.
Saya kagum dan cinta terhadap karya-karyanya ( sejauh ini saya sudah membaca Sayap-sayap Patah, Jiwa-jiwa Pemberontak dan Tembang Keagungan ). Pemikirannya yang terkandung dalam setiap karyanya sedikit banyak memang telah mempengaruhi jalan pikiran saya, mempengaruhi sudut pandang yang saya gunakan untuk menjalani hidup ini, terlebih dalam mengarungi lautan cinta yang memang penuh dengan ombak besar.
Kahlil Gibran juga lah yang membukakan hati ini untuk jatuh cinta dan semakin haus untuk membaca setiap karya sastra lainnya. ( Taufik Ismail adalah salah satu sastrawan yang kemudian juga saya kagumi juga cintai )

Kahlil Gibran mampu untuk melihat segala sesuatunya dengan hati, dia tidak ingin suatu keindahan hanya semu terlihat oleh matanya. Dia juga mampu untuk berkata-kata melalui hati, dia tidak ingin mengungkapkan keindahan hanya sekedar terbatas oleh perkataan bibir semata. Dan dia juga mampu untuk mendengar melalui hati, dia tidak ingin hanya mendengarkan segala suara keindahan hanya terbatas oleh pendengaran telinga saja. Dia memaknai segala sesuatunya secara lebih, lebih indah ataupun lebih kelam. Dia ungkapkan segala jeritan jiwa serta cintanya melalui sindiran dan kiasan yang indah juga keras.

mmm...Sepertinya saya harus sesegera mungkin mengakhiri tulisan ini, karena segala pujian yang saya tuliskan ini justru hanya menjadi sebuah “hinaan” bagi seorang Kahlil Gibran, karena karya-karya nya sungguh tak mampu untuk kita puji oleh sekedar kata-kata fana belaka.

The end.