Kamis, 10 Desember 2015

Mutasi

RABU, 9 DESEMBER 2015
13.00 WIB

Di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 55 Tahun 2015 tentang Pedoman Mutasi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), disebutkan bahwa Mutasi adalah perubahan suatu jenis atau status kepegawaian seorang PNS dalam satuan organisasi.

Pengertian tersebut merupakan definisi Mutasi secara luas dan berbeda dengan pengertian yang biasanya diterapkan di dalam praktek birokrasi. Karena istilah mutasi di kehidupan sehari-hari birokrasi memiliki makna sempit yakni berkenaan dengan perpindahan tempat kerja seorang PNS. 

Padahal apabila kita melihat secara seksama pengertian Mutasi berdasarkan Permendagri Nomor 55 Tahun 2015, maka ketika seseorang diangkat menjadi Calon PNS, kemudian menjadi PNS, mengalami kenaikan pangkat, kenaikan gaji berkala, impassing, pensiun, termasuk perpindahan itu sendiri semua itu termasuk ke dalam mutasi. Karena telah terjadi perubahan jenis dan status kepegawaian seorang PNS.

Berkenaan dengan status dan jenis PNS ada satu hal menarik yang yang layak untuk dibicarakan.

Di dalam Undang-undang (UU) Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, PNS terdiri dari PNS Pusat dan PNS Daerah sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 ayat (2). 

Akan tetapi seperti yang telah diketahui bersama, UU Nomor 43 Tahun 1999 sudah dinyatakan tidak berlaku setelah ditetapkannya UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Sehingga tidak lagi dikenal istilah PNS Pusat dan PNS Daerah, karena pada Pasal 135 UU Nomor 5 Tahun 2014 menyebutkan bahwa PNS Pusat dan PNS Daerah disebut sebagai Pegawai ASN.

Pada Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Angka (1) disebutkan bahwa "Pegawai Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disebut Pegawai ASN adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan."

Seharusnya perbedaan istilah juga berpegaruh kepada aturan pelaksana serta filosofi yang mendasari. Dengan menghilangnya penyebutan atau istilah PNS Pusat dan Daerah menjadi Pegawai ASN membuat tidak ada lagi diskriminasi atau perbedaan yang terlampau jauh diantara Pegawai Negeri yang ada di Indonesia, apakah itu berkenaan dengan kesejahteraan ataupun dalam kaitan pengembangan karir.

Dalam hal pengembangan karir maka akan berhubungan erat dengan perpindahan tempat kerja. Walaupun pada kenyataannya perpindahan tempat kerja bagi Pegawai Negeri memiliki alasan yang sangat beragam. Dan salah satunya adalah untuk mendapatkan pengalaman baru serta mengembangkan karir.

Tidak adanya istilah Pegawai Pusat dan Daerah, saya sungguh berharap perpindahan pegawai tak akan lagi terhalang oleh jalur birokrasi yang panjang. Karena seharusnya perpindahan pegawai hanya didasari oleh kemampuan dan kebutuhan organisasi, bukan juga ditentukan oleh kedekatan.

Sehingga pegawai yang berkarir di daerah dan berprestasi memiliki kesempatan yang sama untuk menduduki jabatan di instansi pusat. Begitu juga sebaliknya, pegawai yang mengawali karir di instansi pusat memiliki kesempatan untuk berkarir di instansi daerah. Intinya adalah tak ada lagi "halangan" karena status Pegawai Daerah atau Pegawai Pusat. Semua pegawai di instansi manapun dia bekerja, harus memiliki akses yang sama untuk mengembangkan karir.

Akan tetapi apabila dilihat pada ketentuan Pasal 73 UU Nomor 5 Tahun 2015 ayat (1) s.d. (8) berkenaan dengan perpindahan pegawai tidak jauh berbeda dengan ketentuan yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang, pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian PNS Jo. PP Nomor 63 Tahun 2009 tentang Perubahan atas PP Nomor 9 Tahun 2003. Sehingga jalur birokrasi yang harus ditempuh tetap sama, tetap panjang seperti yang sekerang ini telah dijalani.

Aturan pelaksana dari UU Nomor 5 Tahun 2014 memang belum ada sampai dengan saat ini sehingga harapan kemudahan dalam perpindahan tempat kerja bagi Pegawai ASN masih ada. 

#PMA

Jumat, 27 November 2015

Sudah rapikah anda hari ini?

SELASA, 13 OKTOBER 2015
10.27 WIB


Bukan lagi sebuah hal yang memalukan ketika dewasa ini seorang lelaki memperhatikan tentang penampilan. Salah satu indikatornya adalah sekarang telah banyak produk perawatan tubuh yang khusus dibuat untuk lelaki.

Untuk sebagian orang, lelaki yang gemar merawat tubuh belum bisa diterima dan sebagian orang itu cenderung untuk merasa risih lalu menyematkan sebutan “banci” bagi setiap lelaki yang merawat tubuhnya secara konsisten selayaknya wanita.

Tapi untuk sebagian lainnya, lelaki yang melakukan perawatan terhadap tubuhnya seperti kebanyakan wanita adalah sesuatu hal yang wajar, terlebih toh kini lelaki pun menggunakan produk perawatan yang memang secara khusus dibuat untuk kaum adam.

Pro dan kontra memang akan selalu ada hadir ke permukaan. Selama sudut pandang yang digunakan dalam melihat suatu perkara berbeda maka pihak yang pro dan pihak yang kontra akan selalu tersaji indah di meja perdebatan.

Saya pribadi berpendapat bahwa perbedaan sudut pandang dan perbedaan nilai yang pada akhirnya menuntun umat manusia pada pro dan kontra bukan merupakan sesuatu hal yang perlu dibesarkan. Akan tetapi perbedaan sudut pandang itu harus berkenaan dengan selera, bukan tentang benar atau salah.

Saya akan maklum terhadap perbedaan ketika itu berkenaan dengan estetika, tapi bila itu berkenaan dengan benar atau salah, maka tak boleh ada perbedaan. Karena benar atau salah adalah mutlak.

Dan secara aturan (koreksi bila saya salah) tidak ada yang membenarkan bahwa lelaki harus berdandan atau pun sebaliknya. Dan tidak ada juga aturan yang menyatakan bahwa berdandan hanya hak kaum wanita. Jadi, ketika ada lelaki yang memilih untuk berdandan atau pun tidak, bukan sesuatu hal yang melanggar aturan. Tapi mungkin masih bertentangan untuk sebagian pola pikir manusia. Mungkin.

Saya pun termasuk orang yang menganggap wajar ketika lelaki memilih untuk menjaga dan merawat penampilannya. Selama niatnya murni untuk menjaga kebersihan dan kerapihan diri. Bahkan faktanya, baik lelaki ataupun wanita, harus meniatkan dalam merawat penampilannya bukan untuk mendapatkan pujian dari manusia tapi karena memang Islam menganjurkan seseorang untuk berperilaku bersih, rapih dan suci.

Saya tidak mengada-ngada, dasar hukumnya jelas tertera dalam Hadits Baihaqi yakni “Agama Islam itu adalah agama yang bersih atau suci, maka hendaklah kamu menjaga kebersihan. Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang suci”.

Sehingga sebenarnya, terlepas dari anggapan bahwa berdandan itu adalah hak wanita dan lelaki itu urakan, kebersihan, suci dan kerapihan adalah tuntutan dari agama.

Jadi pembahasan yang menurut saya lebih layak untuk diperbincangkan adalah berkenaan dengan batasan wajar dalam berdandan itu sendiri. Bukan pembahasan tentang apakah pria boleh atau tidak untuk berdandan. Karena hal itu jelas tidak dilarang oleh aturan.

Lalu apa batasan wajar bagi seorang, lelaki dan perempuan, dalam berdandan?

Batasan ini sangat relatif, karena berlebihan menurut saya bisa saja menjadi biasa bagi anda, pun sebaliknya. Oleh karena itu setiap pribadi memiliki batasannya masing-masing seberapa wajar dan normal ketika dia harus berdandan.

Bagi saya, ketika berdandan tanpa merubah (baca:melakukan operasi) terhadap bentuk tubuh semula padahal tidak ada cacat secara medis ataupun hasil dari kecelakaan, maka saya pikir belum berlebihan. Begitu juga ketika biaya yang dikeluarkan tidak melebihi penghasilan pokok yang mampu dia dapatkan. Maka berdandan yang dia lakukan masih dalam tahap wajar.

Setidaknya itu adalah definisi berlebihan yang mampu saya yakini hingga sekarang ini. Argumen saya adalah berdasarkan H.R Muslim No : 3966, yaitu "Allah melaknat wanita-wanita yang mentato dan yang meminta untuk ditatokan, yang mencukur (menipiskan) alis dan yang meminta dicukur, yang mengikir gigi supaya kelihatan cantik dan merubah ciptaan Allah."   

Penekanan ada pada kalimat “keliatan cantik” dan “merubah ciptaan Allah”. “Keliatan Cantik” adalah permasalahan niat setiap pribadi manusia. Tidak ada yang bisa menilai atau menghakimi niat seseorang karena niat adalah perkara hati. Hanya Allah dan orang yang bersangkutan yang mengetahui tentang niat. Walaupun niat itu diucapkan secara lantang di hadapan jutaan orang, tetap tak mampu untuk menjadi ukuran bahwa itu adalah niat yang sesungguhnya.

Akan tetapi permasalahan “merubah ciptaan Allah” bisa untuk terlihat dan dinilai secara nyata. Karena “merubah ciptaan Allah” berarti merubah sesuatu hal yang berupa fisik. Ketika dua kalimat ini menjadi satu rangkaian seperti yang terdapat dalam Hadits maka jelas itu menjadi sesuatu yang berlebihan dan tidak boleh untuk dilakukan. Karena berarti pada diri seseorang itu tidak terdapat suatu keadaan yang mendesak, ataupun berbahaya bagi kesehatannya.

Berdasarkan argument diatas saya termasuk ke dalam kelompok yang setuju bahwa lelaki harus merawat dan menjaga penampilannya, bahkan saya pun termasuk orang yang senantiasa untuk berpenampilan serapih mungkin setiap harinya. Ini pembahasan secara umum yang harus tertunda cukup lama, di tulisan selanjutnya saya berharap untuk bisa membahas penampilan dalam skala yang lebih kecil, yakni rambut!

#PMA

Minggu, 11 Oktober 2015

Transisi

RABU, 7 OKTOBER 2015
08.42 WIB


Tak ada nasihat baik tanpa realisasi. Karena semua hal yang baik sesungguhnya belum menjadi baik apabila belum nyata terlihat dalam kehidupan. Seseorang boleh saja telah melahap berpuluh bahkan beratus buku dalam hidupnya atau telah mendatangi banyak majelis ilmu sepanjang waktunya, tapi bila dia tak mampu melaksanakan apa yang telah dia baca dan dengar, dia tak lantas mendapatkan segala kebaikan. Semua bergantung pada aksi yang mampu dilakukan.

Saya pun setali tiga uang dengan situasi tersebut. Saya sadari saya hanya mampu membaca, mendengarkan, dan mengucapkan segala nasihat baik yang saya dapatkan. Saya belum mampu menjalankannya.

Berbagai alasan tumpah terlampirkan, mencoba melakukan serangkaian pembenaran. Telahaan telah dilakukan, berusaha memperbaiki karena jelas itu sebuah kesalahan. Sekarang pun demikian, setelah saya selesai membaca buku Tasawuf Modern karya Prof. Buya Hamka dan Habits tulisan Ustadz Felix Siaux.

Kedua buku tersebut sungguh penuh makna. Buku yang sangat inspiratif dan memberi banyak motivasi. Pengingat sekaligus menyindir diri pribadi yang membaca. Sindiran agar menjadi seseorang yang jauh lebih baik. Tapi, semua itu hanya untaian kata tersusun menjadi kalimat bila tanpa aksi nyata dari setiap orang yang telah membaca, termasuk saya.

Menurut pendapat saya, terlebih ketika disandingkan dengan kehidupan yang kini sedang saya jalani, isi kedua buku itu sangat relevan. Tasawuf Modern mengajarkan tentang kebahagiaan hakiki dalam hidup dan Habits bercerita berkenaan membiasakan segala hal yang benar dalam keseharian hidup.

Saya katakan relevan dengan kehidupan karena sekarang saya sedang menjalani (lagi) sebuah masa transisi. Ketika setahun kemarin saya harus melakukan transisi dari kehidupan kampus ke kehidupan dunia kerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan status Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). 

Kini saya sedang menjalani transisi untuk bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dengan segala penyesuaian kehidupan di Ibu Kota Jakarta.

Ini transisi yang cukup melelahkan secara jiwa dan raga. Bukan sebuah transisi yang berjalan mulus. Karena proses perpindahan dan penempatan menjadi PNS Kemendagri serta penyesuaian hidup di Ibu Kota tidak semudah dan sesederhana yang dibayangkan. Prosesnya cukup rumit dan berbelit.

Saya pikir proses penyesuaian hidup di Ibu Kota akan memakan banyak porsi tapi nyatanya justru proses administrasi legalitas kepegawaian yang justru menyita banyak perhatian.

Saya tak bisa untuk secara gamblang bercerita berkenaan dengan proses birokrasi tentang administrasi kepegawaian. Karena saya pikir tidak semua orang akan memahami permasalahan tersebut dan hal ini bukan merupakan konsumsi publik yang layak saya curahkan dalam tulisan. Setidaknya sebuah tulisan yang nantinya akan terpampang umum di dunia maya.

Tapi saya mencoba untuk memahami semua proses yang ada sebagai konsekuensi terhadap pilihan yang telah saya tentukan. Saya sudah sangat beruntung masih diberikan kesempatan untuk bisa memilih dimana saya akan ditempatkan, dan saya secara sadar memilih pilihan untuk berkarir menjadi PNS Pusat. Itu pilihan. Dan saya harus mampu dengan penuh tanggung jawab menjalani setiap resiko yang menyertainya.

Bila boleh saya tarik kebelakang sebelum akhirnya saya kemukakan alasan kenapa saya memilih untuk menjadi seorang PNS Pusat, akan jauh lebih sederhana proses transisi yang akan dijalani seandainya saya tetap berkarir sebagai PNS Daerah. Akan tetapi sebuah alasan kemandirian, finansial, dan pengalaman, membuat saya memilih mencoba peruntungan menjadi PNS Pusat.

Alasan kemandirian pada intinya adalah saya tidak ingin bekerja di lingkungan yang kental bumbu “kekeluargaan”. Ketika kekuasaan dengan sangat jelas dipegang. Saya mungkin bisa saja memiliki karir yang cepat di daerah karena alasan “kekuasaan” dan “kekeluargaan” tapi apabila kemudian orang-orang disekitar tak melihat itu sebagai sebuah prestasi hanya melihat sebagai sebuah “keberuntungan politis” maka ceritanya akan menjadi berbeda di kemudian hari, ketika “kekuasaan” dan “kekeluargaan” itu menghilang.

Adapun finansial menjadi alasan klasik nan pragmatis yang telah meracuni otak karena saya tak bisa untuk munafik. Gaji pokok sebagai seorang PNS belum bisa saya katakan cukup. Butuh penghasilan tambahan di luar itu. Penghasilan lain yang sah bagi PNS salah satunya bisa didapat dari tunjangan, apapun bentuk serta nama tunjangannya.

Di daerah (kabupaten/kota), khususnya di mayoritas daerah Provinsi Jawa Barat belum memberikan jumlah yang “layak”, cenderung kecil. Sehingga perhitungan rasional penghasilan yang sah/legal apabila saya menjadi PNS Daerah belum cukup meyakinkan saya untuk bisa menata kehidupan ideal seperti yang saya impikan.

Lalu pengalaman, erat kaitan dengan tugas pokok dan fungsi yang nantinya akan saya dapatkan. Pengalaman saya ketika setahun bekerja di Pemerintah Provinsi Jawa Barat, mengajarkan bahwa wawasan yang saya dapatkan sangat luas mencakup keseluruhan satu Provinsi Jawa Barat. Tidak terbatas pada satu daerah. Sehingga ketika saya bekerja sebagai seorang PNS Pusat bisa dipastikan saya akan mempunyai wawasan yang jauh lebih luas karena berkenaan dengan seluruh daerah di Indonesia.

Pengalaman berbeda dengan ilmu pengetahuan. Ilmu Pengetahuan bisa didapat dengan membaca tapi pengalaman hanya akan bisa didapat secara langsung dan nyata dari keseharian.

Akan tetapi setelah hampir 3 (tiga) minggu bekerja dan tinggal di Jakarta, saya merasakan bahwa semua tak seindah seperti apa yang diharapkan. Saya tersadar ketika mendasari sebuah pilihan bahkan kehidupan secara keseluruhan hanya berdasar kepada argumen duniawi penuh teori yang berasal dari ahli serta materi, semua itu rapuh dan cenderung membuat kita kecewa. Karena pada dasarnya saya dan mungkin anda akan selalu meminta untuk sesuatu yang lebih. Selalu melihat lebih jauh ke atas.

Ketika dasar pikiran dan tujuan bukan bersandar pada sesuatu yang kekal, maka kekecewaan akan selalu siap menunggu menghantam telak.

Prof. Buya Hamka dalam Tasawuf Modern menjelaskan secara rinci bahwa kebahagiaan yang hakiki bukan terletak di dunia. Kebahagiaan itu ada pada agama. Semakin kita taat semakin kita bahagia. Tapi bila kita jauh dari-Nya, maka jangan harap kebahagiaan akan datang memeluk kita dengan erat.

Hal itu kemudian semakin kuat ketika saya melanjutkan membaca buku Habits karya Ustadz Felix Siauw. Disebutkan bahwa 95 % dari respon manusia terjadi secara otomatis. Otomatis berarti semuanya bergerak berdasarkan habits atau kebiasaan. Angka 95 % berarti menunjukan kita sangat bergantung dengan kebiasaan yang telah kita buat. Sehingga kepribadian kita sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang kita miliki.

Skemanya adalah kepribadian dihasilkan dari kebiasaan, kebiasaan berasal dari aksi/sikap, dan sikap kita merupakan hasil dari buah pemikiran. Jadi, intinya ada pada pemikiran. Pemikiran adalah pangkal dari kebiasaan yang 95 % akan menentukan respon kita dalam menjalani kehidupan.

Disini-lah relevansi itu mulai terlihat. Ketika pemikiran hanya terbatas pada dunia. Maka kepribadian yang muncul hasil dari sebuah kebiasaan tentu sangat duniawi. Bergantung pada hal-hal yang nisbi. Hasil akhirnya adalah kekecewaan karena sungguh hidup penuh dengan ketidakadilan.

Tapi bila pemikiran kita murni hanya pada agama sehingga kebiasaan yang muncul adalah kebiasaan yang sesuai dengan tuntunan agama maka kepribadian yang akan dihasilkan adalah sebuah akhlakul karimah. Pribadi yang senantiasa penuh syukur karena tau bahwa hidup di dunia hanya sementara, hanya sebagai persiapan kehidupan kekal di akhirat nanti.

Itu-lah yang terjadi, alasan saya memilih untuk berkarir menjadi PNS Pusat sangat duniawi. Sehingga wajar bila kini saya menjadi kecewa. Bila saja dari awal saya meniatkan segala sesuatunya murni untuk agama, beribadah dan mencari ridho-Nya, tentu saya tak akan pernah merasa kecewa. Saya akan selalu bersyukur dan melihat segalanya dari sudut pandang yang baik.

Akan tetapi meratapi waktu yang telah berlalu tak akan memberikan dampak positif. Toh belum terlambat untuk berbenah. Saya bukan orang suci yang jauh dari dosa dan kesalahan. Tapi setidak-tidaknya saya tak menjadikan itu alasan untuk tidak berusaha menjadi orang yang setiap harinya bertambah baik.

Jadi, dengan sepenuh hati saya akan menjalani pilihan yang telah saya tentukan. Mensykuri dan meniatkan segala sesuatunya karena ibadah. Semoga semua transisi dengan niat yang baru ini tak sebatas pada niatan atau tulisan. Tapi mampu saya realisasikan sehingga berdampak nyata pada kehidupan. Saya tau ini tak mudah, tapi tak ada yang bilang bahwa hidup dengan agama menjadi sandaran adalah sesuatu hal yang mustahil untuk dilakukan.

#PMA

Senin, 14 September 2015

"IPDN harus dibubarkan?"

KAMIS, 10 SEPTEMBER 2015
10.50 WIB


Gubernur DKI Jakarta, Pak Basuki Tjahaja Purnama, atau biasa disapa Pak Ahok, kembali melontarkan pernyataan kontroversi. Kali ini pihak yang harus terkena kritik pedas minim substansi, adalah sekolah tinggi atau institusi pendidikan kedinasan pencetak kader Pamong Praja bernama Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Saya tak harus menulis atau mengutip apa yang Pak Ahok ucapkan, terlebih di zaman sekarang, ketika dunia digital telah sangat menguasai. Jadi segala macam bentuk berita akan sangat mudah anda temukan.

Jauh sebelum kontoversi kali ini yang menyinggung IPDN, beberapa kali atau bisa saya katakan sering, Pak Ahok terlalu mudah mengeluarkan kalimat yang sebenarnya tidak pantas diucapkan di depan publik melalui media massa dalam kapasitasnya sebagai seorang Gubernur. 

Bahkan bila Pak Ahok bukan seorang Gubernur, saya pikir setiap yang beliau ucapkan tidak harus dilontarkan melalui kalimat yang terlampau kasar. Kritik akan lebih mampu diterima serta dipahami apabila diucapkan dengan susunan kalimat yang anggun penuh sopan santun.

Salah satu contoh kasus yang juga telah saya komentari melalui media sosial Instagram (@noors58) adalah berkenaan dengan ucapan beliau yang akan melegalkan prostitusi.

Saya mungkin salah hanya menyimpulkan kepribadian Pak Ahok dari apa yang saya dengar dan baca di media massa tapi hanya itu yang mampu saya liat. Saya bukan sahabat, anak buah langsung, saudara atau kenal secara pribadi dengan Pak Ahok. Jadi saya tidak mengetahui secara komprehensif kepribadian Pak Ahok.

Maka dengan kontroversi yang sekarang kembali diucapkan oleh Pak Ahok, terlebih menyinggung almamater saya, saya semakin bulat menyimpulkan bahwa Pak Ahok bukan tipe seorang pemimpin ideal bagi bangsa ini. Beliau mungkin tegas tapi dalam artian yang kasar. 

Kontroversi Pak Ahok sepertinya akan menjadi sebuah pembicaraan panjang. Karena beliau secara tegas melakukan kritikan minim substansi pada sebuah institusi pendidikan, lebih khusus lagi sebuah sekolah tinggi kepamongprajaan yang telah ada dan berdiri berpuluh tahun lamanya.

Rasa korps atau kekeluargaan antar alumni IPDN pun sangat kuat karena dididik dalam balutan disiplin ala militer. Sehingga ketika kini almamater IPDN terkritisi dalam kalimat yang tak mengenakan, maka alumni IPDN yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (IKAPTK) mulai banyak melakukan “serangan balik”, tentu dengan cara yang elegan.

Inti kritikan yang Pak Ahok sampaikan adalah berkenaan dengan ketidaksukaan beliau terhadap alumni IPDN karena menurut penilaiannya alumni IPDN tidak berkinerja baik, tanpa memberikan indikator kinerja yang dapat dipertanggungjawabkan. Pak Ahok pun mempunyai pendapat bahwa PNS bisa diisi dari swasta, Polisi, atau TNI, sehingga Pak Ahok mengatakan IPDN seharusnya dibubarkan.

“IPDN seharusnya dibubarkan” menjadi persoalan utama dari kritik yang beliau sampaikan. Sebenarnya bukan pada kalimat “dibubarkan” yang kemudian menjadi kontroversi. Tapi seperti apa yang telah saya sebutkan di awal paragraf, Pak Ahok selalu menyampaikan kalimat kritik menggunakan susunan kata yang cenderung kasar tanpa disertai argumen faktual yang bisa diandalkan.

Apabila kalimat “IPDN seharusnya dibubarkan” bisa dikemas melalui kalimat argumentatif dengan bahasa yang sopan, saya pikir kontroversi ini tak akan sampai berlarut dan menjadi pembahasan hangat di beberapa media mainstream.

Bukan, saya tak lantas berpihak dan sependapat dengan Pak Ahok, saya hanya mencoba mengomentari kalimat yang Pak Ahok ucapkan secara berimbang. Karena faktanya Pak Ahok bukan tokoh nasional pertama dan satu-satunya yang menyuarakan agar IPDN dibubarkan. Akan tetapi tokoh-tokoh nasional lainnya mampu untuk mengutarakan pendapatnya dengan baik, dengan pemilihan waktu dan tempat yang juga baik.

Dan apakah memang IPDN harus dibubarkan?

Saya akan mencoba untuk menuliskan pendapat saya berkenaan pertanyaan di atas. Dalam kapasitas apa saya menjawab pertanyaan itu? Entah, tapi sebut saja ini sabagai salah satu bentuk perhatian terhadap sekolah yang telah dengan sabar mendidik saya menggunakan uang rakyat Indonesia. 

Jangan lantas membandingkan tulisan ini dengan tulisan-tulisan lainnya yang kini telah banyak berserakan di dunia maya. Tulisan lain tentu lebih pantas untuk dijadikan acuan atau referensi, berdasarkan atau mengutip ucapan para ahli dan teori-teori yang telah diuji secara pasti serta diakui oleh semua akademisi. 

Salah satu tulisan yang patut untuk dibaca yakni tulisan dari Pak Muhadam Labolo dosen IPDN sekaligus Alumni STPDN, dengan judul Merespon Ahok, Mengapa IPDN Tak Perlu Dibubarkan, Tinjauan Historis, Filosofis, Normatif dan Relevansi Kekinian. 

Saya pribadi mulai ragu dengan eksistensi IPDN. Bukan ragu dalam arti skeptis kemudian pesimis dan berakhir pada pemikiran yang selalu berpuruk sangka. Hal itu telah saya tuliskan dalam tulisan saya terdahulu yang berjudul RUU ASN dan Eksistensi IPDN.

Pada tulisan ini saya akan mencoba untuk menelaah dan memberikan jawaban pada pertanyaan “apakah IPDN seharusnya dibubarkan?” dalam sudut pandang aturan yang sekarang sedang berlaku dan dijadikan pijakan.

Dasar hukum IPDN adalah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 1 tahun 2009 tentang Perubahan atas Kepres Nomor 87 tahun 2004 tentang Penggabungan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) ke Institut Ilmu Pemerintahan (IIP). Perpres tersebut kemudian ditindaklanjuti dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 36 tahun 2009 tentang Statuta Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Permendagri No. 36/2009 merupakan dasar hukum berdirinya dan berjalannya sekolah kedinasan pencetak kader Pamong Praja. Di dalam Permendagri tersebut disebutkan bahwa IPDN adalah sekolah bagi kader Pamong Praja yang profesional. Esensi pendidikan di IPDN yaitu untuk mendidik calon-calon birokrat pemerintahan.

Birokrat pemerintahan di Indonesia dikenal dengan nama Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan sekarang PNS yang bekerja di instansi pemerintah disebut dengan Pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN), seiring dengan telah diberlakukannya Undang-undang (UU) Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.

Saya mengartikan “mendidik calon-calon birokrat pemerintahan” sebagai indikator bahwa lulusan IPDN akan menjadi seorang Pegawai ASN. Dalam kalimat lain berarti IPDN adalah sekolah bagi orang yang ingin menjadi Pegawai ASN. Karena birokrat pemerintahan berarti Pegawai ASN.

Oleh karena itu saya kemudian melihat UU No. 5/2014 mengenai manajeman Pegawai ASN. Akan tetapi sejauh saya mampu membaca UU No. 5/2014, tidak ada disebutkan secara spesifik berkenaan dengan sekolah kepamongprajaan. Bahkan istilah Pamong Praja tak mampu saya temukan di dalam UU tersebut.

Lalu apa Pamong Praja? 

Pamong Praja adalah orang  yang dipercaya untuk membina, mengasuh, mengawasi negara atau pemerintahan. Akan tetapi penekanan Pamong Praja ada pada istilah pamong, yang berasal dari kata “emong” yang artinya orang yang diberi kepercayaan untuk mengasuh, membimbing, dan memberitahu. 

Jadi Pamong adalah orang yang dituakan dan dipercaya karena pengetahuannya, kedewasaannya serta kematangan emosinya untuk mendidik, mendampingi orang yang lebih muda, lebih kecil dan belum berpengalaman. Hubungan antara pamong dan yang diemong bersifat hierakhis.

Pamong Praja dalam konteks diatas lebih erat dengan PNS yang mempunyai jabatan sebagai Camat. Sehingga IPDN sebagai sekolah pamong praja memiliki citra sekolah bagi calon-calon Camat.

Akan tetapi di dalam Pasal 13 UU No. 5/2014 disebutkan bahwa Jabatan ASN terdiri dari Jabatan Administrasi, Jabatan Fungsional, dan Jabatan Pimpinan Tinggi. Tidak ada secara spesifik menyebutkan jabatan Camat. Adapun Camat disamakan dengan Jabatan Administrasi karena termasuk ke dalam jabatan esselon III.

Pada Pasal 25 UU No. 5/2014 pun menyebutkan bahwa instansi yang memiliki kewenangan dalam ranah kepegawaian ASN adalah Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (Kemenpan), Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), Lembaga Administrasi Negara (LAN), dan Badan Kepegawaian Negara (BKN). Tak ada menyebutkan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang notabene merupakan pemilik dari IPDN.

Jadi pertanyaan yang kemudian muncul adalah kenapa Kemendagri tetap bersikukuh untuk terus menyelenggarakan sekolah kepamongprajaan bernama IPDN? 

Bukankah menerima Praja (sebutan mahasiswa IPDN) sama saja dengan melakukan penerimaan Pegawai ASN karena pada akhirnya setiap Praja IPDN akan diangkat menjadi Pegawai ASN?

Karena bukankah di dalam UU No. 5/2014 Kemendagri tidak mempunyai kewenangan apapun dalam ranah kepegawaian?

Tetapi kemudian di dalam UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah saya kemudian menemukan sebuah harapan bagi eksisnya sekolah kepamongprajaan. Pada Pasal 208 ayat (2) disebutkan bahwa Perangkat daerah diisi oleh Pegawai ASN. Lalu di Pasal 223 ayat (2) menjelaskan bahwa Bupati atau Walikota wajib mengangkat Camat (akhirnya jabatan Camat ada disebutkan) dari PNS yang menguasai pengetahuan teknis pemerintahan.

Kemudian pada Pasal 233 ayat (2) juga kembali menyinggung “kompetensi pemerintahan” yang disusul pada ayat (4) menjelaskan bahwa kompetensi pemerintahan ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.

Nah, walaupun di dalam UU No. 5/2014 tak ada secara tersurat menyebutkan sekolah kepamongprajaan atau sekolah pemerintahan. Akan tetapi di dalam UU 23/2014 secercah harapan itu mulai terlihat. Setidaknya bagi Pegawai ASN yang akan mengabdi di perangkat daerah harus memiliki kompetensi pemerintahan yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri.

Berdasar pada “kompetensi pemerintahan” yang harus ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri sesuai dengan amanat Pasal 223 dan Pasal 233 UU No. 23/2014, sekolah kepamomngprajaan masih sangat relevan untuk tetap diselenggarakan, terlebih IPDN berada di bawah naungan Kementerian Dalam Negeri. Walaupun pertanyaan selanjutnya yang masih sangat mungkin untuk diperdebatkan adalah berkenaan definisi kompetensi pemerintahan. Apakah kompetensi pemerintahan tersebut harus didapatkan dengan secara khusus bersekolah di IPDN? Ataukah bisa didapatkan dalam sebentuk kursus/diklat? Lalu bagaimana dengan jurusan Ilmu Pemerintahan di universitas lainnya, apakah lulusan jurusan itu bisa juga untuk mendapatkan “komptensi pemerintahan”?

Maka saya berpendapat bahwa secara keilmuan, terlebih ditinjau secara filosofis, Pegawai ASN di Perangkat Daerah, khususnya yang berkenaan langsung dengan pelayanan masyarakat (Kecamatan, Kelurahan) perlu untuk dididik dalam sekolah tinggi kepamongprajaan. Sehingga apa yang tercantum di dalam UU 23/2014 sangat relevan dan berdasar. Tetapi hal itu kemudian tidak selaras dengan pengaturan di dalam UU 5/2014 sebagai dasar hukum kepegawaian di Indonesia. 

Jadi kesimpulannya apa?

Secara filosofis dan keilmuan, pendidikan kepamongprajaan masih sangat relevan dan penting akan tetapi regulasi yang mendukung eksistensi sekolah kepamongprajaan itu masih sangat minim. Bukan terbatas pada regulasi untuk berdirinya sebuah sekolah kepamongprajaan tetapi regulasi berkenaan dengan kejelasan karir lulusan sekolah kepamongprajaan tersebut. Bukan sekedar disebutkan sebagai syarat yag masih bersifat umum dalam UU, tapi saya berharap aturan turunan dari UU No. 5/2014 tentang ASN mampu untuk mengakomodir dan memberi kejelasan karir bagi Pegawai ASN yang secara khusus dididik dalam sekolah kepamongprajaan.

Atau saya sangat mengaharapkan kejelasan tata kelola Pegawai ASN di Indonesia secara nasional. Semua aturan dibuat saling berkaitan tanpa adanya tumpang tindih. Amin.

#PMA

Sabtu, 22 Agustus 2015

Kolaborasi TnR, Cam's, dan GDP : Kenapa Plastik?

SABTU, 22 AGUSTUS 2015
06.39 WIB
 

“Dalam rangka menyambut 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia kami menuangkan rasa bangga kami pada Bangsa ini dengan membuat satu set produk tata rambut buatan Indonesia. Produk ini merupakan suatu proyek kolaborasi yang melibatkan Toar & Roby, Cam’s, Grease Day Pomade, dan Quiff.”

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk turut serta memeriahkan hari ulang tahun Republik Indonesia, yang tahun ini telah menginjak usia 70 tahun. Dan beberapa brewer (sebutan atau istilah untuk produsen pomade) memilih untuk memperingatinya dengan cara mengeluarkan produk penata rambut edisi khusus kemerdekaan Indonesia.

Adalah brewer merk Toar & Roby (TnR), Cam’s, dan Grease Day Pomade (GDP) yang berinisiatif untuk mengeluarkan satu set produk penata rambut untuk ikut serta berpartisipasi dalam menyemarakan hari ulang tahun Kemerdekaan Indonesia.

Produk hasil kolabari ketiga brewer tersebut dan dibantu juga oleh Quiff Store, hanya diproduksi secara terbatas (limited/LTD), yakni sebanyak 70 set. Harga yang ditawarkan untuk setiap set pun sangat “Indonesia”, Rp. 170845,-.

Dikutip dari postingan Instagram @greaseday_id, disebutkan bahwa setiap set terdiri dari krim rambut beraroma herbal menyegarkan dengan daya kilau sedang, minyak rambut beraroma vanilla coklat dengan daya set sedang, dan pasta rambut beraroma rum buah dengan daya set sedang.

Saya yang akhir-akhir ini mulai tertarik untuk mengoleksi pomade tentu tak mau untuk melewatkan kesempatan memiliki satu set produk penata rambut yang hanya diproduksi sebanyak 70 set. Karena tentu bagi seorang kolektor, semakin langka barang yang dimiliki akan semakin memberikan kepuasan tersendiri.

Sebelumnya sedikit saya akan membahas pilihan saya untuk memutuskan menjadi seorang kolektor pomade, walaupun dari segi kualitas dan kuantitas saya masih belum pantas untuk disebut sebagai seorang “kolektor”.

Hal ini sedikit banyak telah disinggung dalam tulisan saya sebelumnya yang berjudul, Pomade-Review.

Pertama, bagi saya pomade pantas untuk dikoleksi karena pomade merupakan produk penata rambut yang memiliki sejarang cukup panjang. 
 
Pomade bukan sebuah produk yang dibuat “tiba-tiba” secara pragmatis, sesuai kebutuhan pasar. Pomade faktanya adalah jenis pertama produk penata rambut yang lazim digunakan oleh pria. Pomade yang kemudian menginspirasi berbagai jenis produk penata rambut khusus pria yang kini sangat beragam.

Kedua, mayoritas produsen pomade tidak dilakukan secara massal di dalam pabrik, akan tetapi mayoritas membuat pomade secara manual di rumah atau katakana-lah ruang kerja pemiliknya, atau lazim disebut dengan homebrewed
 
Hal itu berarti lebih bagi saya karena menandakan bahwa pomade dihasilkan penuh dengan keseriusan dan kehati-hatian sehingga pomade bisa dikategorikan sebagai salah satu karya seni.

Butuh inovasi serta kreasi bagi para brewer untuk mengolah racikannya sehingga layak untuk dipakai di rambut setiap pria. Lalu butuh ide dan inspirasi bahkan filosofi bagi mereka untuk kemudian membungkus setiap pomade yang berhasil mereka ciptakan ke dalam sebuah wadah yang enak dipandang.
Hal itu menjadi istimewa karena langsung dibuat secara manual oleh tangan-tangan mereka.

Jadi atas dasar 2 (dua) alasan tersebut saya memilih untuk mengoleksi pomade. Dan ya, dalam memilih sebuah pomade karena titik beratnya saya ingin agar pomade tersebut mampu untuk saya pajang, maka saya selalu subjektif.

Saya hanya akan membeli pomade berdasarkan presentasi yang mampu memikat hati. Sehingga tidak semua pomade saya miliki, saya pun hanya fokus pada pomade dengan daya set kuat/heavy hold. Kenapa? Karena saya merasa rambut saya hanya cocok dengan pomade berjenis heavy hold. Subjektif 'kan?

Pengecualian saya berikan kepada pomade yang hanya diproduksi secara terbatas/LTD.

Kembali kepada pembahasan utama yakni berkenaan dengan produk penata rambut hasil kolaborasi TnR, Cam’s, dan GDP. Alhamdulillah saya mampu untuk memiliki produk tersebut walaupun sempat kesulitan karena pemesanan hanya bisa dilakukan melalui akun FB.

Jujur, saya sangat antusias ketika produk penata rambut LTD tersebut mampu saya miliki akan tetapi sesaat setelah saya secara detail melihat kemasan yang ditampilkan oleh ketiga produk tersebut, saya kecewa.


Bayangan saya untuk sebuah produk LTD apalagi hasil kolaborasi adalah selayaknya The Based Pomade atau Houston Based Pomade. Sebuah produk yang dikemas secara apik dalam wadah glass jar dengan wangi yang menawan. 
 
Tapi apa yang saya dapatkan dari produk ini adalah produk penata rambut yang hanya dikemas dalam plastic tube. Bahkan sialnya, untuk produk minyak rambut, saya harus menerima dengan ikhlas bahwa wadah tersebut saya terima dalam kondisi menciut atau penyok.


Kondisi penyok/menciut ini sebenarnya sungguh di luar dugaan karena berdasarkan keterangan pada kolom komentar di salah satu postingan pada akun Instagram @greaseday_id menyebutkan bahwa “…karena pomade cam’s hot process jadi tube plastic yg kepanasan menciut, maka dari itu yg menciut saya ambil dan keep karena bentuknya tidak enak dipandang,…”

Membaca keterangan itu saya pikir jar yang akan saya dapatkan semuanya akan pada kondisi yang mulus akan tetapi hal itu ternyata salah. Kenyataannya saya harus menjadi orang yang tidak beruntung karena harus memiliki jar yang menciut dan tidak enak untuk dipandang.

Menurut pendapat saya, untuk sebuah produk LTD, agak mengherankan ketika justru sang brewer memilih plastic tube daripada glass jar sebagai wadah hasil karyanya. Karena toh ini produk LTD bukan produk yang akan diproduksi terus menerus secara konstan.

Titik beratnya seharusnya pada filosofi dan idealisme kenapa produk tersebut dibuat bukan pada hitungan keuntungan semata. Bila memang hanya sekedar ingin mendapatkan keuntungan, saya pikir tak usah bersusah payah untuk menghasilkan produk LTD.

Saya hanya mampu untuk berkomentar panjang lebar dari segi presentasi yang mungkin akan banyak menimbulkan kontroversi karena sungguh sangat subjektif, tergantung dengan selera hati. 
 
Saya tak bisa untuk berkomentar apapun mengenai isi dari penata rambutnya karena memang untuk beberapa waktu kedepan saya belum bisa untuk menggunakan penata rambut apapun.

Hal itu dikarenakan karena kini rambut saya masih terlalu pendek untuk menggunakan jenis penata rambut apapun, mungkin 1 (satu) atau 2 (dua) bulan kedepan saya baru bisa untuk menggunakannya.

Tapi sekali lagi, wadah plastik yang diberikan sungguh sangat mengurangi estetika dari satu set penata rambut LTD tersebut. Padahal sticker yang tertempel di wadahnya mampu untuk divisualisasikan dengan baik dan mencerminkan semangat kemerdekaan.

Akan tetapi, di luar kesialan saya yang harus mendapatkan plastic tube penyok dan kekecewaan karena ternyata satu set produk penata rambut ini tidak menggunakan glass jar seperti yang saya bayangkan, saya sangat mengapresiasi kolaborasi ini dan sangat mengharapkan di masa depan akan semakin banyak produk-produk LTD buatan Indonesia.

Tentu, bukan hanya dari segi kuantitas yang bertambah tapi juga dari kualitas harus semakin baik. 
 
Pomade tidak dipandang hanya sebatas komoditi tapi sebuah karya seni sehingga nyaman untuk digunakan dan enak untuk dipandang dijadikan pajangan.
 
#PMA

Sabtu, 01 Agustus 2015

Younger Dreams

SABTU, 1 AGUSTUS 2015
16.16 WIB


Pada akhirnya arti sebuah lirik dalam lagu hasil karya musisi tak akan pernah bisa ketahui secara pasti. 

Kenapa? Karena lagu termasuk lirik yang ada menyertainya adalah sebuah seni. Adapun seni berkenaan dengan estetika. Dan estetika itu sangat erat serta terikat kedalam perasaan. 

Tak ada nilai absolut di dalamnya. Bisa menjadi benar dan bisa juga menjadi salah. Terlebih manusia memiliki ilmu, pengalaman, dan suasana hati yang sangat berbeda. Sungguh beragam.

Tidak, jangan anda kemudian bayangkan lirik lagu cinta yang terdapat di mayoritas lagu pop yang ada di Indonesia. Saya katakan mayoritas karena faktanya masih ada sebagian kecil musisi Indonesia yang mampu untuk melahirkan lagu beserta lirik yang sangat mendalam.

Jadi, apabila si pencipta lagu tidak memberikan definisi spesifik terhadap lagu yang diciptakannya. Saya berpendapat wajar dan sangat bisa bagi siapapun yang mendengarkan hasil karyanya itu untuk kemudian memberikan definisi sesuai suasana hati, ilmu dan pengalaman yang kita miliki.

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya akan mencoba memberikan interpretasi pribadi mengenai lagu dari Our Last Night dan Twenty One Pilots.


Saya merasa tertarik untuk membahas salah satu lagu dari Our Last Night dan juga Twenty One Pilots karena sejauh yang saya dapat artikan, berdasarkan suasana hati, ilmu, dan pengalaman yang saya miliki saat ini, lagu Our Last Night yang berjudul Younger Dreams dan Stressed Out dari Twenty One Pilots memiliki arti yang kurang lebih sama.

Menariknya lagi kedua lagu tersebut merupakan lagu dari album terbaru mereka yang rilis di tahun 2015 ini.

Secara keseluruhan kedua lagu tersebut saya artikan sebagai sebuah "keluhan". Bukan keluhan yang mengharuskan kita untuk meratapi apa yang telah terjadi tapi sebuah keluhan tentang perbandingan hidup saat ini dengan apa yang mereka alami ketika kecil atau setidak-tidaknya ketika "semangat" dan "idealisme" masih mereka pegang.

Mereka seolah ingin mengatakan bahwa zaman sekarang ini seperti sengaja untuk "membunuh" jiwa-jiwa muda penuh semangat dan idealisme. Zaman ini telah menjadi "gila" bila dibandingkan dengan zaman dulu.

Mari kita cermati potongan lirik yang ada dalam lagu Younger Dreams : "...Times ticking and I can't escape The pin pulled on a hand grenade White flags start to raise / I wonder how it got this way I swear it felt just like yesterday We were fearless and unafraid / Take me back to younger dreams When times were easy and we believed Take me back to revive my memory I'm digging deep but I am scared that I have los My younger dreams."

Dan potongan lirik dari lagu Stressed Out milik Twenty One Pilots : "...Wish we could turn back time, to the good ol' days, When our momma sang us to sleep but now we're stressed out. Wish we could turn back time, to the good ol' days, When our momma sang us to sleep but now we're stressed out. / We used to play pretend, give each other different names, We would build a rocket ship and then we'd fly it far away, Used to dream of outer space but now they're laughing at our face, Saying, "Wake up, you need to make money."

Pada lagu Younger Dreams penekanan itu berada pada semangat yang di zaman sekarang mulai tertekan keadaan dan cenderung menghilang dan di lagu Stressed Out digarisbawahi bahwa zaman sekarang cenderung mendorong orang untuk mengutamakan materi di atas segalanya.

Saya pribadi setuju dengan pesan yang terdapat dalam kedua lagu tersebut (setidaknya pesan sesuai dengan apa yang saya artikan). Saya sangat setuju bila kemudian zaman dulu jauh lebih baik daripada zaman sekarang ini.

Indikator yang saya miliki dari semangat dan kebersamaan yang mampu ditawarkan dan diberikan oleh lingkungan di zaman dulu. Tidak, bukan artinya saya skeptis dengan zaman sekarang karena saya adalah produk tahun 90-an atau karena saya anti perubahan. Tidak sama sekali.

Tapi sejauh memori saya mampu mengingat, di zaman dahulu atau sebut saja (dan jadikan ini sebagai batasan) tahun 90-an, lingkungan masih sangat ramah bagi anak-anak dalam masa perkembangan. Kita masih diberikan kesempatan untuk lebih banyak waktu bermain secara "nyata" di alam bebas.

Merasakan keringat dan belajar kebersamaan. Tertawa dan bahkan menangis bersama alam. Kita belajar untuk peka dan bersosialisasi dengan banyak orang. Sehingga kita memiliki semangat dan impian tinggi di masa depan.

Lalu apa yang ditawarkan oleh masa kini, saya pikir tak cukup nyaman dan kondusif untuk perkembangan anak-anak.

Gadget dengan segala bentuknya telah "merampas" kesempatan bagi mereka untuk bermain secara nyata di lingkungan. Teralihkan sehingga kepekaan itu memudar dan lambat laun menurukan kemampuan mereka untuk berempati dengan sesama.

Gadget tak mampu untuk didapatkan secara murah atau gratisan selayaknya bermain petak umpet atau galah asin. Perlu biaya untuk bisa memilikinya sehingga secara tak langsung mereka pun dididik untuk senantiasa mengejar materi untuk bisa mendapatkan "kebahagian".

Ya, pikiran seperti itu saya dapatkan ketika saya mendengarkan lagu Younger Dreams dan Stressed Out. Maaf apabila kemudian ternyata apa yang saya asrtikan jauh dari arti sebenarnya yang coba diberikan oleh Our Last Night dan Twenty One Pilots. 

Semoga mimpi-mimpi kita di saat kita muda tak bisa dengan mudah hilang hanya karena stres akibat dari kehidupan yang ditawarkan zaman sekarang ini. 

Ingat, kita adalah subjek dari segala perubahan yang ada, jadi mari kita atur segala perubahan itu untuk tetap memberikan efek positif dan seimbang.

#PMA

Kamis, 16 Juli 2015

Mohon Maaf.

KAMIS, 16 JULI 2015
15.55 WIB

Informasi terakhir yang saya dapatkan dari media online, berdasarkan pernyataan dari Kepala LAPAN, Lebaran tahun ini berpeluang jatuh pada hari Jumat, tanggal 17, bulan Juli, tahun 2015.

Akan tetapi pengumuman serta pernyataan sekaligus sikap resmi Pemerintah Indonesia, yang dalam hal ini, Kementerian Agama Republik Indonesia, baru akan dikeluarkan setelah terlebih dahulu dilaksanakan sidang itsbat.

Sidang Itsbat itu sendiri akan dilakukan pada pukul 17.00 WIB di Gedung Auditorium H.M. Rasjidi, Gedung Kementerian Agama, Jakarta.

Sidang tersebut direncanakan akan dihadiri oleh  150 orang perwakilan ormas Islam seluruh Indonesia. Adapun pengumuman resmi akan dilakukan setelah pelaksanaan Sholat Maghrib. Sehingga diharapkan sebelum pukul 19.00 WIB telah didapatkan kejelasan mengenai 1 Syawal 1436 H.

Akan tetapi bukan itu yang akan saya bahas dalam tulisan ini.

Kali ini saya akan mencoba untuk bercerita atau sekedar berbagi pengalaman untuk kemudian memberikan gambaran mengenai sikap saya berkenaan dengan fenomena ucapan selamat Idul Fitri disertai dengan permohonan maaf melalui media sosial.

Perkembangan teknologi tentu diharapkan bisa untuk memudahkan manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Akan tetapi kehadiran teknologi di kehidupan manusia walaupun mampu untuk membantu dan bahkan mempermudah sebuah pekerjaan, seharusnya tak lantas mengurangi dan menghilangkan esensi/susbtansi utama dari sebuah pekerjaan atau kebiasaan.

Dari sekian banyak teknologi yang ada, media sosial adalah yang paling banyak dipuji serta dicaci secara bersamaan. Media sosial lengkap dengan koneksitas tak terbatas yang ada sekarang jelas mampu untuk menghilangkan permasalahan jarak dan waktu dalam berkomunikasi.

Tapi di sisi lain, media sosial juga menyebabkan beberapa orang acuh terhadap orang-orang yang secara nyata ada di sekitarnya. Ketenaran dan kenalan di dunia maya dalam media sosial menjadi lebih penting (bagi sebagian orang) daripada harus berbicara dan bersosialisasi secara nyata dengan orang-orang yang di sekitarnya.

Tentu esensi komunikasi dalam kasus seperti yang saya sebutkan di atas telah hilang. Harusnya kehadiran teknologi itu mendekatkan kita yang terpisah jarak bukan justru menjauhkan kita yang secara jarak telah dekat. Tapi kenyataannya kini sebagian orang terlampau nyaman dengan dunia dalam media sosial.

Saya sungguh tak mengerti akan akibat jangka panjang apabila hal itu terus terjadi dan bahkan dilakukan oleh semua orang yang ada di dunia ini.

Koreksi jika saya salah, tapi sekali lagi, menurut saya, esensi dari komunikasi adalah bertatap muka, berbicara secara langsung, berinteraksi secara nyata. Ada emosi. 

Lalu apa hubungannya dengan ucapan selamat Idul Fitri dan permohonan maaf yang dilakukan melalui perantara media sosial?

Sebelum menjawab itu tentu harus diketahui terlebih dahulu esensi utama dari ucapan Selamat Idul Fitri dan permohonan maaf.

Ucapan Selamat Idul Fitri dan apalagi permohonan maaf tentu bersifat secara pribadi ke pribadi, terkecuali memang ucapan khusus dari sebuah korporasi dan tentu disampaikan secara umum ke khalayak luas. Mari kita fokus pada ucapan selamat idul fitri dan permohonaan maaf secara individu bukan korporasi.

Sehingga esensinya harus ditulis/diucapkan secara langsung dari satu orang ke orang lain, karena toh kesalahan kita ke A akan berbeda dengan kesalahan kita ke B, dan begitu seterusnya. Karena hakikatnya kita ingin meminta segala kesalahan kita dimaafkan oleh orang lain. 

Jadi, seharusnya pesan tersebut diketik secara khusus atau setidak-tidaknya tidak dilakukan dalam bentuk pesan berantai atau sekedar meng-copy paste

Karena apabila kita hanya sekedar mengirimkan pesan berantai atau sekedar meng-copy paste, akan sangat sulit untuk bisa dikatakan bahwa kita benar-benar berniat untuk meminta maaf. 

Maaf, saya tau bahwa niat adalah urusan langsung dengan Tuhan tapi coba-lah kita renungkan secara baik dan mendalam, ketika kita hanya mengirimkan pesan berantai atau meng-copy paste ucapan selamat idul fitri dan permohonan maaf ke semua kontak yang kita miliki, apakah kita benar-benar serius meminta maaf? Bahkan kita pun tak tau kepada siapa saja pesan itu terkirim. Kita hanya mengirimkannya ke "semua kontak" yang kita miliki.

Sekali lagi ini hanya cara pandang saya secara pribadi sehingga sangat layak anda tidak menyetujui.

Apapun itu, kepada semua yang menyempatkan untuk membaca tulisan ini, saya ucapkan Selamat Idul Fitri 1436 H, Taqabbalahu Minna Wa Minkum.

#PMA

Sabtu, 04 Juli 2015

Pomade-review

SABTU, 4 JULI 2015
13.05 WIB


Saya masih akan berbicara mengenai pomade walaupun di tulisan sebelumnya saya telah panjang lebar berbicara tentang pomade.

Kali ini saya akan mencoba untuk menuliskan tentang pomade-review atau ulasan tentang sebuah pomade.

Pomade-review memang sesuatu yang tak akan bisa dilepaskan dari fenomena pomade yang kini tengah menanjak. Selayaknya produk lainnya, sebuah ulasan atau penilaian atau opini sangat diperlukan.

Diperlukan bagi konsumen untuk mencari referensi dan juga diperlukan untuk produsen sebagai salah satu upaya promosi. 

Oleh karena itu, dengan ekspansi media sosial yang masif, sangat menjamur pomade-review di sana-sini. 

Fenomena pomade, lalu pomade-review, akhirnya melahirkan pomade-reviewer

Pomade-reviewer adalah orang yang memberikan penilaian terhadap sebuah pomade.

Pomade-reviewer, seperti yang telah saya sebutkan diatas, dengan semakin banyaknya bentuk media sosial, membuat dewasa ini ada banyak pomade-reviewer. Sehingga banyak pilihan bagi kita, selaku konsumen, untuk bisa mencari referensi sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah pomade.

Akan tetapi kuantitas pomade-reviewer tidak berbanding lurus dengan kualitas pomade-review yang ada. 

Saya memang tak sempat untuk membaca setiap ulasan dari masing-masing pomade-reviewer, akan tetapi dari beberapa pomade-reviewer yang telah saya baca, saya bisa menyebutkan bahwa tidak semua dari mereka mengerti atau paham dengan apa yang sedang mereka lakukan.

Atau bahkan sebagian pomade-reviewer hanya berada di satu sisi, yakni sebagai salah satu upaya promosi. Mereka memberikan ulasan tidak berada dalam posisi netral, tapi mereka berada dalam posisi untuk "mempromosikan" pomade tersebut, yang kemudian dibungkus dalam sebuah tulisan pomade-review.

Atau ada juga pomade-reviewer yang "terpaksa" harus memberikan penilaian positif karena mereka mendapatkan pomade tersebut secara gratis. Walaupun mereka tidak secara khusus diminta untuk mempromosikan akan tetapi mereka akan merasa tidak nyaman apabila mereka harus berkata "sejujurnya" ketika mereka mendapatkan pomade-nya secara gratis.

Tiga kemungkinan itu sangat mungkin untuk kita dapati dari setiap ulasan yang kita temui. Sehingga kita tidak boleh langsung mempercayai satu ulasan begitu saja, terus mencari perbandingan adalah cara yang paling aman bagi kita untuk akhirnya bisa untuk menyimpulkan.

Akan tetapi bagi saya pribadi, penilaian pomade sebagai sebuah minyak rambut tidak akan pernah cukup hanya dengan sekedar membaca atau menonton sebuah video pomade-review

Pada akhirnya kualitas sebuah pomade akan sangat tergantung dengan jenis rambut dan selera yang kita miliki.

Ada kalanya sebuah pomade yang di mayoritas pomade-reviewer mendapat penilaian yang baik, akan menjadi sebuah produk yang tidak cocok kita gunakan, atau bahkan sebaliknya.

Karena cara terbaik untuk mengetahui apakah pomade itu bagus atau tidak, cocok atau tidak, adalah dengan langsung mencoba produk yang ada. 

Oleh karena itu, sebuah pomade-review tak boleh lebih kita jadikan hanya sebagai sebuah referensi. Tak lebih dan tak kurang.

Beberapa pomade-reviewer yang saya ketahui adalah The Pomp, The Pomade Rev, A Street Car Named Bacon, Camerona145, Ini Billy, Indo Greaser, Fuckjri, Tommy Gimbal, dan masih banyak lagi.

Dari beberapa pomade-reviewer yang saya sebutkan di atas, saya memberikan apresiasi lebih kepada The Pomp.

James Bui a.k.a. The Pomp, menurut pendapat saya, merupakan pomade-reviewer profesional. Saya katakan profesional karena dia mampu memberikan ulasan sebuah pomade baik dalam bentuk video ataupun tulisan, secara baik.

Dia mengulas sebuah pomade secara komprehensif. Setiap aspek mampu dia jabarkan secara lugas melalui bahasa yang saya rasa cukup berat.

Saya bahkan tak menyangka, sebuah produk minyak rambut, mampu untuk dia ulas sebegitu dalam dengan begitu banyak aspek yang menyertainya.

Setidaknya hal itu mengindikasikan bahwa dia tidak sekedar memberikan sebuah ulasan. Tapi dia begitu mendalaminya.

Anda bisa melihat blog/website yang dia kelola. Tampilan dan isi yang dia berikan sungguh tak bisa kita katakan "biasa". Pun dengan video yang dia upload di youtube. Video-video yang sungguh rapih dan nyaman untuk kita tonton.

Karena kebanyakan pomade-reviewer sepertinya hanya menggunakan kamera handphone dan proses editing seadanya. Akan tetapi The Pomp menampilkan semuanya dengan sangat baik atau mungkin saya katakan, sempurna!

The Pomp juga menjadi bukti lain bahwa di Amerika sana atau bahkan negara-negara maju lainnya, sebuah hal/kegiatan yang sebenarnya sangat sederhana menjadi sesuatu yang bisa untuk memberikan penghasilan.

Perasaan menghargai dan apresiasi masyarakat di sana sangat besar sehingga setiap orang berusaha untuk serius mendalami apa yang menjadi hobi baginya.

Sehingga tidak jarang, orang-orang yang berada di negara maju sangat enggan untuk bersikap mengikuti arus. Mereka selalu ingin "keluar" dari arus dan serius dengan hal itu. 

Berbeda halnya di negara kita, Indonesia, sebagai sebuah negara berkembang, mayoritas masyarakat kita masih belum memberikan apresiasi tinggi bagi sebuah hobi.

Oleh karenanya wajar apabila kemudian masyarakat kita cenderung nyaman mengikuti arus yang ada.

Mari kembali ke pembahasan awal. Berbeda dengan pomade-reviewer lainnya yang muncul setelah pomade mulai mendapatkan tempat di hati orang banyak. The Pomp memulai pomade-review jauh sebelum pomade menjamur seperti sekarang ini.

The Pomp tercatat pertama kali meng-upload video di situs youtube dengan judul How to Style a Pompadour with Thin & Straight Hair pada 4 Juni 2013.

Adapun fenomena pomade mulai menanjak pada awal tahun 2014 sampai sekarang ini.

Well, saya meminta maaf apabila beberapa data tidak tersajikan sesuai fakta yang ada. Setidaknya apa yang saya tulis ini berdasarkan pengetahuan yang saya miliki sampai dengan saat ini.

Oh iya, sebenarnya saya pun tertarik untuk juga memberikan review terhadap sebuah pomade akan tetapi bila kemudian sekarang saya memilih untuk melakukannya, saya khawatir saya hanya menjadi seseorang yang mengikuti trend semata. Dan saya pun merasa belum cukup "ilmu" untuk me-review sebuah pomade.

Saya mungkin akan me-review sebuah pomade dalam beberapa tahun kedepan setelah pomade tak lagi terkenal seperti sekarang ini.

#PMA

Senin, 15 Juni 2015

Panjang lebar tentang Pomade

SENIN, 15 JUNI 2015
16.17 WIB

Sebut saja ini sebuah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul Pomade : Identitas atau Trend? .

Saya merasa perlu untuk kembali menulis tentang pomade karena ternyata kini pomade telah menjadi sebuah fenomena, menjadi sebuah hal yang sangat umum (mainstream) di kalangan remaja Indonesia dewasa ini, terutama lelaki.

Sehingga saya tertarik untuk bercerita lebih banyak lagi mengenai pomade. Terlebih banyak fakta baru yang saya temukan.

Akan tetapi jauh lebih baik apabila anda meluangkan waktu terlebih dahulu untuk membaca sejarah pomade, yang dari sekian banyak sumber (menurut saya), tulisan di bawah ini lebih bisa untuk dipertanggungjawabkan.

SEJARAH POMADE:
Sejarah Pelicin Rambut Paling Fenomenal

Windratie, CNN Indonesia
Jumat, 03/10/2014 12:13 WIB
http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20141003121329-277-5159/sejarah-pelicin-rambut-paling-fenomenal/

Jakarta, CNN Indonesia -- Minyak rambut atau yang saat ini tren disebut sebagai pomade adalah benda serbaguna dari semua produk penataan rambut laki-laki. Pomade berbeda dari gel dan hair spray.

Perbedaannya adalah pomade tidak kering, memberikan kesan mengilap dan tampak basah, gaya klimis rambut yang sangat populer sekarang. Namun, banyak yang tidak tahu asal-usul pomade. Minyak ini tidak sekadar kosmetik rambut yang muncul belakangan.

Jauh sebelumnya, kelahiran pomade dapat ditelusuri. Istilah Bahasa Inggris pomade berasal dari Bahasa Perancis pommade, yang artinya 'salep'. Pomade modern saat ini mengandung bahan wewangian.

Pemakaian pomade bermula sejak tahun 1800-an. Selama abad ini, lemak beruang adalah item yang paling umum digunakan. Di awal abad ke-20, bahan lainnya seperti petroleum jelly, lilin lebah, dan lemak babi menggantikan lemak beruang.

Pomade dulunya lebih populer daripada saat ini. Untuk menciptakan model rambut klimis pada laki-laki, beragam produk dan merek pomade yang dipasarkan. Di pertengahan abad ke-20 tren pomade begitu populer.

Contoh paling umum gaya rambut yang cocok menggunakan pomade adalah pompadour, rambut tersapu tinggi ke atas seperti gaya rambut Madame de Pompadour istri King Lous XV. Selebriti yang memakai model ini adalah Elvis Presley.

Model rambut lain yang pas dengan pomade adalah quiff. Model ini menggabungkan model pompadour pada 1950-an dan gaya mohawk. Cirinya adalah rambut di bagian depan kepala disikat ke atas.

Lalu model duck tail yang populer di era 50-an dengan gaya rambut disisir ke belakang, seperti rambut John Trovolta di film populer Grease di pada '78.

Berlimpahnya laki-laki memakai pomade melahirkan sebutan khusus bagi mereka, yaitu ‘greasers’.

Pada masa itu laki-laki memakai pomade yang sangat banyak untuk menahan rambut tidak berubah bentuk. Dalam perkembangannya, terutama dalam budaya urban dewasa ini, laki-laki memakai pomade untuk bergaya.

Pomade dipakai untuk menciptakan model spike seperti paku yang berdiri kaku di kepala. Pomade juga seringkali dipakai untuk membuat beberapa gaya rambut klasik. Juga mengesankan tampilan basah pada rambut, meskipun kenyataannya rambut tetap kering.

Ratusan produk berbeda bertebaran di pasar saat ini. Masing-masing memiliki jumlah minyak yang berbeda, biasanya petroleum jelly, lilin lebah, dan zat aditif untuk memberikan aroma. Laki-laki yang ingin rambutnya kaku lebih lama, disarankan memakai produk dengan kandungan lilin yang lebih tinggi.

Namun jika hendak bergaya dengan rambut bersinar dan tidak terlalu kaku, produk pomade yang mengandung minyak atau lemak lebih banyak dengan lilin sedikit adalah yang terbaik.

Berbagai pilihan pomade banyak ditawarkan sehingga memilih pomade rambut pun sangat tergantung pada pilihan gaya pribadi masin-masing lelaki.

Merek-merek pomade

Di awal abad ke-20 contoh merek pomade paling dicari adalah Murray's Superior Pomade. Minyak rambut Murray beredar di pertengahan era 1920-an. Lalu muncul Brylcreem yang diperkenalkan pada 1928.

Royal Crown Hair Dressing yang keluar pada 1936, dan Dixie Peach Hair Pomade yang digandrungi oleh remaja laki-laki di Amerika Serikat dari Perang Dunia II dan melewati pertengahan 1960-an.

Pomade digunakan tidak sebatas pada rambut di kepala. Dia juga dipakai untuk rambut kumis, jambang, dan jenggot. Kesan lebih gelap, klimis, dan mengilap diasosiasikan dengan model rambut klimis laki-laki di awal pertengahan abad ke-20.

Karena pomade mengandung unsur minyak dan lilin, rambut jadi sulit untuk dibersihkan. Rambut baru akan bersih seluruhnya dari pomade setelah beberapa kali keramas. Memberikan minyak zaitun dan mencuci dengan air hangat juga dapat menghapus pomade.

Seringkali terjadi salah kaprah antara pomade dan lilin rambut (hair wax). Mudahnya, pomade memberikan kesan rambut yang licin dan lebih mengilat, sementara lilin rambut tidak.

Namun belakangan perbedaan antara pomade dan wax rambut jadi agak ambigu. Terutama karena banyak pomade berat mengandung lilin lebah. Hair wax dan pomade sering dipasarkan tidak memakai nama tersebut. Seringkali yang tertera adalah 'paste', 'putty', 'glue' atau 'whip'.

Seperti apa yang telah saya sebutkan di atas, fenomena pomade di Indonesia kini telah menjadi "ramai". Tak hanya menjadi sebuah ciri khas bagi kaum tertentu (kustom kulture), akan tetapi pomade telah menjadi sebuah gaya bagi semua kalangan lelaki. Salah satu yang menjadi indikatornya adalah mulai terbentuknya sebuah komunitas pecinta pomade, Indonesia Pomade Enthusiast, yang saat ini telah memiliki banyak pengikut.

INDONESIA POMADE ENTHUSIAST:
Indonesian Pomade Enthusiast, Komunitas Pencinta Pomade
 
Written by Budi Yanto
Tuesday, 03 February 2015
Mereka yang berasal dari generasi Koes Plus, Panbers, dan seangkatannya, atau yang sekarang sudah termasuk ABG (Angkatan Ba’da Gocap – berusia lebih dari 50 tahun), pasti akan tercengang kalau mengetahui bahwa saat ini ada komunitas pencinta pomade. Soalnya, mereka tentulah pernah mengenal ‘minyak rambut’ alias pomade ini, yang antara lain Tancho – yang masih ada dan banyak dijual hingga kini, Lavender Pomade tjap Pompa, Lavender Happy Pomade, Old English Rita Lavender, dan masih banyak lagi merek-merek pomade lainnya. Itu semua bisa dibilang sebagai warisan dari nenek moyang, yang riwayatnya pastilah bermula dari penggunaan minyak kelapa – dengan berbagai formula campurannya – sebagai minyak rambut. Sebab pomade, pada mulanya, juga merupakan produk yang berbahan dasar minyak.

Berkat kemajuan teknologi, pomade yang tadinya terkesan jadul itu, bisa bermetamorfosa menjadi produk yang seolah-olah baru, baik yang berupa bahan penata rambut sejenis wax, cream, maupun yang berupa minyak atau oil. Cara pengolahan baru, bahan-bahan baru, dan kemasan baru, maka jadilah produk baru yang seolah tak berhubungan dengan produk sejenis di zaman lampau. Padahal, efek yang ingin dicapai bisa dibilang sama saja, yaitu penampilan rambut yang klimis dan rapih.

Jadi kalau Anda suka berpenampilan rapih dengan rambut klimis, yang otomatis harus menggunakan minyak rambut, baik dalam bentuk pomade, wax, cream, gel, dan sejenisnya, ada bagusnya Anda bergabung dengan orang-orang yang punya pandangan sama, yaitu yang tergabung dalam komunitas Indonesian Pomade Enthusiast. Bersama mereka dalam lingkup komunitas, Anda pasti akan memperoleh banyak masukan yang berkaitan dengan bahan penata rambut, dan juga model-model rambut yang lagi jadi trend.

Indonesian Pomade Enthusiast (IPE) ini didirikan pada bulan puasa dua tahun silam, Agustus 2013, di sebuah restoran di Kemang, Jakarta Selatan, dengan tujuan untuk menjadi wadah bagi para pencinta dan pengguna pomade di Indonesia. Salah seorang pendirinya, Giovanni Widjaja, yang juga merupakan Ketua IPE, menuturkan, “Saya lupa tanggal berapa IPE didirikan, yang saya ingat, saat itu bulan puasa. Yang hadir dalam acara itu adalah beberapa pomadeshop terbesar di Jakarta.”

Giovanni melanjutkan, “Saat itu, saya hadir sebagai POMIKADO Pomade Shop. Dalam acara itu, atas dukungan rekan-rekan pomade store yang lain, saya lalu ditunjuk untuk menjadi Ketua IPE. Tujuan mendirikan IPE ini, kami bersama-sama ingin membentuk suatu wadah baru, dimana dapat mewakili aspirasi kawan-kawan, dan juga dapat menjadi tempat ‘nongkrongnya’ para pomade enthusiasts di Indonesia, supaya bisa menjadi wadah aktivitas trade, discuss, sharing, asking, dan sebagainya.”

Sejak didirikan hingga saat ini, member komunitas ini di media sosial Facebook, yang menjadi forum pertama komunitas ini, mencapai kurang lebih 15.000 orang. Chapternya sendiri sudah ada di beberapa kota di Indonesia. “Untuk regional jabodetabek saja sudah ada 5 lebih. Mungkin ada 20 lebih regional di seluruh Indonesia,” ungkap Giovanni. “Kecenderungan yang ada sekarang, justru banyak member yang sebelumnya pasif mulai angkat bicara, yang selumnya silent reader mulai ikut post, review, dan sebagainnya. Ini yang harus diacungi jempol,” tambah Giovanni, mengenai antusias para membernya.

Selain para membernya aktif di dalam media sosial facebook, mereka juga mengadakan kegiatan seperti gathering dan kopi darat, untuk menjalin kebersamaan antar sesama pengguna pomade. Seperti yang dikatakan oleh Giovanni, “Jadi, kegiatan utama kita kalau sedang gathering adalah saling sharing, mengenai pomade terbaru yang ada di pasaran Indonesia dan luar negeri. Lalu, kalau ada yang memang mau trade dipersilahkan, sembari kita ngobrol santai, berbagi suka dan tawa.”

“Harapan saya adalah ‘merakyatkan’ pomade. Karena menurut kami, pomade ini adalah produk terobosan dalam dunia head essential and male grooming. Merakyatkan pomade, artinya kami ingin bahwa masyarakat kelas bawah pun, atau proletar, juga dapat menggunakan atau tahu tentang apa itu pomade, serta mengapa bisa se-massive ini pergerakannya di Indonesia,” tutur Giovanni, mengakhiri pembicaraan dengan TNOL.

Nah, sekarang Anda mengerti mengapa Anda layak bergabung dengan komunitas ini, bukan? Silakan segera bergabung....

Lalu apa tujuan saya menulis tulisan ini?

Lebih jauh dari apa yang saya katakan di awal, tulisan ini bertujuan lebih dari sekedar "lanjutan" atau "tambahan" dari tulisan saya sebelumnya.

Tapi saya ingin kembali menegaskan sikap saya dalam berpenampilan sehari-hari, terlebih karena saya juga termasuk salah satu dari pengguna pomade. 

Pomade saat ini telah menjadi barang yang lumrah digunakan sehingga tulisan ini saya harapkan bisa menjadi penegas apakah saya hanya seseorang yang menggunakan pomade karena pomade sedang naik daun atau saya menyukai pomade karena memiliki alasan yang jauh lebih dalam daripada sekedar "ikut-ikutan". Terlebih bahwa saya bukanlah orang dengan gaya berpenampilan kustom kulture, sehingga sebuah alasan kuat harus mampu saya berikan.

Saya pribadi tak ingin untuk disebut sebagai seseorang yang hanya jadi "pengikut" tanpa mempunyai "sikap" atau "prinsip". Ya, ini hanya permasalahan minyak rambut, tapi perkembangan selanjutnya hal ini tidak terhenti hanya tentang minyak rambut.

Di tulisan sebelumnya  , saya lebih banyak bercerita tentang "sejarah" dan "alasan" ketertarikan saya untuk menggunakan pomade. Sembari sedikit berceloteh (mencuri tulisan Jrx SID) tentang apa sebenarnya pomade. Di dalam tulisan itu pun saya menegaskan bahwa saya memakai pomade lebih dari sekedar alasan "ikut trend" semata.

Waktu itu saya hanya sekedar pengguna, tak lebih dari itu. Tapi kini, setelah banyak membaca dan juga melihat video mengenai pomade-review, saya pun secara berangsur-angsur mulai menyukai untuk mengoleksi pomade.

Bagi saya, pomade menjadi sesuatu hal yang layak untuk dikoleksi, karena pomade bisa dikatakan adalah generasi pertama minyak rambut bagi kaum pria. Pomade juga menjadi satu-satunya minyak rambut yang cocok bagi kaum pria karena pomade tidak membuat rambut mengering dan bisa untuk ditata sepanjang hari.

Akan tetapi pomade pun bukan sebuah komoditi yang bisa digunakan secara masif dan diterima oleh semua kalangan karena pomade cenderung untuk memberikan ketidaknyamanan bagi para pemakainya.

Ketidaknyamanan yang saya maksud disini adalah karena pomade tidak bisa dihilangkan hanya dengan satu kali keramas. Butuh sebuah perjuangan ketika pengguna pomade ingin menghilangkan pomade. Beberapa kali keramas dan menggunakan konditioner adalah beberapa langkah yang harus ditempuh untuk bisa 100% menghilangkan pomade dari rambut.

Sehingga menggunakan pomade bukan sesuatu hal yang praktis. Oleh karena itu, saya berpendapat, bahwa mereka yang memilih untuk menggunakan pomade dengan segala hal ketidaknyamanannya adalah mereka yang memiliki dedikasi.

Mereka rela untuk mengorbankan kenyamanannya untuk mendapatkan penampilan yang optimal. Dalam konteks itu, saya setuju apabila kemudian pengguna pomade memiliki sebuah komunitas.

Bisa ditata sepanjang hari adalah alasan kuat saya memilih untuk menggunakan pomade dan juga mengoleksinya. Dan alasan lain yang semakin menguatkan saya untuk menjadi seseorang yang konsisten menggunakan pomade yakni karena pomade tidak mudah untuk dicuci menggunakan air. Hal yang sebenarnya memberikan ketidaknyamanan bagi kebanyakan orang justru menjadi kelebihan bagi saya.

Kenapa? Karena sebagai seorang Muslim yang mempunyai kewajiban untuk melaksanakan Sholat di 5 (lima) waktu, saya diharuskan untuk terlebih dahulu mengambil wudhu. Wudhu harus menggunakan air dan salah satu anggota tubuh yang harus dibasuh menggunakan air adalah rambut.

Dulu ketika saya masih menggunakan gel, saya kesulitan dalam berwudhu karena secara otomatis apabila terkena air, gel yang ada di rambut saya akan menghilang dan rambut saya tidak bisa lagi ditata seperti semula. 

Akan tetapi hal itu tidak lagi saya dapatkan ketika menggunakan pomade. Saya bisa tetap mengambil wudhu dengan sempurna tanpa harus khawatir pomade di rambut saya akan hilang.

Sekarang ini, pomade pun mengalami perkembangan, dilatarbelakangi oleh "ketidaknyamanan" seperti yang saya sebutkan dia atas. Kini ada dua jenis pomade yang dikenal di pasaran, yakni pomade oilbased (pomade yang pertama kali ada dan menjadi cikal bakal jenis minyak rambut lainnya) dan pomade waterbased. 

Secara sangat sederhana perbedaan mendasar antara pomade oilbased dan pomade waterbased adalah bahan dasarnya. Oilbased berbahan dasar petroleum oil atau yang sejenisnya sedangkan waterbased tentu berbahan dasar air. Sehingga waterbased akan sangat mudah digunakan dan mudah juga untuk dicuci dari rambut. Permasalahan ketidaknyamanan mampu diatasi oleh inovasi pomade waterbased.

Akan tetapi, pomade waterbased memberikan efek rambut menjadi kering dan kaku, sehingga secara keseluruhan pomade waterbased tidak jauh berbeda dengan gel. Sehingga kelebihan pomade yang saya "elu-elu"-kan tadi menjadi hilang. Saya pribadi menjadi agak rancu ketika jenis waterbased masih masuk kedalam pomade.

Bagi saya pomade itu adalah sesuai atau senada dengan produk/varian yang pertama kali ada dan diperkenalkan ke khalayak luas, yakni sebuah produk yang membuat rambut terlihat basah sepanjang hari, tidak mengering, tidak kaku, dan bisa untuk ditata ulang. Itu pomade bagi saya.

Ketika kemudian ada produk yang memiliki nama "pomade" akan tetapi membuat rambut kering dan tak bisa untuk ditata ulang, bagi saya itu adalah gel.

Waterbased yang perlu untuk dikembangkan bukan waterbased yang justru menyerupai gel tapi waterbased yang mampu mengeliminir ketidaknyamanan tapi tetap mampu untuk ditata ulang sepanjang hari. Apakah itu hal yang mustahil? Nope!

Pomade waterbased yang saya maksud adalah seperti yang coba ditawarkan oleh (maaf saya harus menyebutkan merk) O'douds Waterbased. Well, silahkan anda baca dan liat sendiri review mengenai pomade tersebut dan akan menjadi sangat relevan bila kemudian anda mencoba langsung pomade tersebut.

Bila semua jenis waterbased mampu untuk seperti apa yang diberikan oleh O'douds Waterbased maka saya pribadi tak berkeberatan apabila embel-embel pomade masih melekat.

Tetapi, ini hanya opini saya belaka karena sepertinya bodoh apabila kita memperdebatkan masalah itu. Akhirnya ini semua berkenaan dengan selera setiap orang masing-masing. Jadi, bergaya-lah sesuka yang anda mau tapi tolong jangan bodoh!

Dan sepertinya tujuan tulisan ini sudah terpenuhi dan bahkan terlampau banyak melenceng kesana kemari. Jadi, saya sudahi ini semua dan terima kasih bila ternyata anda berkenan membaca tulisan ini hingga akhir.

Oh iya, kesimpulan besarnya adalah saya menggunakan pomade bukan karena saya adalah pecinta gaya kustom kulture atau bahkan sekedar mengikuti trend belaka. Saya menggunakan pomade karena pomade mampu untuk memenuhi harapan saya tentang sebuah minyak rambut. Sekian.

#PMA