Senin, 15 Juni 2015

Panjang lebar tentang Pomade

SENIN, 15 JUNI 2015
16.17 WIB

Sebut saja ini sebuah lanjutan dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul Pomade : Identitas atau Trend? .

Saya merasa perlu untuk kembali menulis tentang pomade karena ternyata kini pomade telah menjadi sebuah fenomena, menjadi sebuah hal yang sangat umum (mainstream) di kalangan remaja Indonesia dewasa ini, terutama lelaki.

Sehingga saya tertarik untuk bercerita lebih banyak lagi mengenai pomade. Terlebih banyak fakta baru yang saya temukan.

Akan tetapi jauh lebih baik apabila anda meluangkan waktu terlebih dahulu untuk membaca sejarah pomade, yang dari sekian banyak sumber (menurut saya), tulisan di bawah ini lebih bisa untuk dipertanggungjawabkan.

SEJARAH POMADE:
Sejarah Pelicin Rambut Paling Fenomenal

Windratie, CNN Indonesia
Jumat, 03/10/2014 12:13 WIB
http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20141003121329-277-5159/sejarah-pelicin-rambut-paling-fenomenal/

Jakarta, CNN Indonesia -- Minyak rambut atau yang saat ini tren disebut sebagai pomade adalah benda serbaguna dari semua produk penataan rambut laki-laki. Pomade berbeda dari gel dan hair spray.

Perbedaannya adalah pomade tidak kering, memberikan kesan mengilap dan tampak basah, gaya klimis rambut yang sangat populer sekarang. Namun, banyak yang tidak tahu asal-usul pomade. Minyak ini tidak sekadar kosmetik rambut yang muncul belakangan.

Jauh sebelumnya, kelahiran pomade dapat ditelusuri. Istilah Bahasa Inggris pomade berasal dari Bahasa Perancis pommade, yang artinya 'salep'. Pomade modern saat ini mengandung bahan wewangian.

Pemakaian pomade bermula sejak tahun 1800-an. Selama abad ini, lemak beruang adalah item yang paling umum digunakan. Di awal abad ke-20, bahan lainnya seperti petroleum jelly, lilin lebah, dan lemak babi menggantikan lemak beruang.

Pomade dulunya lebih populer daripada saat ini. Untuk menciptakan model rambut klimis pada laki-laki, beragam produk dan merek pomade yang dipasarkan. Di pertengahan abad ke-20 tren pomade begitu populer.

Contoh paling umum gaya rambut yang cocok menggunakan pomade adalah pompadour, rambut tersapu tinggi ke atas seperti gaya rambut Madame de Pompadour istri King Lous XV. Selebriti yang memakai model ini adalah Elvis Presley.

Model rambut lain yang pas dengan pomade adalah quiff. Model ini menggabungkan model pompadour pada 1950-an dan gaya mohawk. Cirinya adalah rambut di bagian depan kepala disikat ke atas.

Lalu model duck tail yang populer di era 50-an dengan gaya rambut disisir ke belakang, seperti rambut John Trovolta di film populer Grease di pada '78.

Berlimpahnya laki-laki memakai pomade melahirkan sebutan khusus bagi mereka, yaitu ‘greasers’.

Pada masa itu laki-laki memakai pomade yang sangat banyak untuk menahan rambut tidak berubah bentuk. Dalam perkembangannya, terutama dalam budaya urban dewasa ini, laki-laki memakai pomade untuk bergaya.

Pomade dipakai untuk menciptakan model spike seperti paku yang berdiri kaku di kepala. Pomade juga seringkali dipakai untuk membuat beberapa gaya rambut klasik. Juga mengesankan tampilan basah pada rambut, meskipun kenyataannya rambut tetap kering.

Ratusan produk berbeda bertebaran di pasar saat ini. Masing-masing memiliki jumlah minyak yang berbeda, biasanya petroleum jelly, lilin lebah, dan zat aditif untuk memberikan aroma. Laki-laki yang ingin rambutnya kaku lebih lama, disarankan memakai produk dengan kandungan lilin yang lebih tinggi.

Namun jika hendak bergaya dengan rambut bersinar dan tidak terlalu kaku, produk pomade yang mengandung minyak atau lemak lebih banyak dengan lilin sedikit adalah yang terbaik.

Berbagai pilihan pomade banyak ditawarkan sehingga memilih pomade rambut pun sangat tergantung pada pilihan gaya pribadi masin-masing lelaki.

Merek-merek pomade

Di awal abad ke-20 contoh merek pomade paling dicari adalah Murray's Superior Pomade. Minyak rambut Murray beredar di pertengahan era 1920-an. Lalu muncul Brylcreem yang diperkenalkan pada 1928.

Royal Crown Hair Dressing yang keluar pada 1936, dan Dixie Peach Hair Pomade yang digandrungi oleh remaja laki-laki di Amerika Serikat dari Perang Dunia II dan melewati pertengahan 1960-an.

Pomade digunakan tidak sebatas pada rambut di kepala. Dia juga dipakai untuk rambut kumis, jambang, dan jenggot. Kesan lebih gelap, klimis, dan mengilap diasosiasikan dengan model rambut klimis laki-laki di awal pertengahan abad ke-20.

Karena pomade mengandung unsur minyak dan lilin, rambut jadi sulit untuk dibersihkan. Rambut baru akan bersih seluruhnya dari pomade setelah beberapa kali keramas. Memberikan minyak zaitun dan mencuci dengan air hangat juga dapat menghapus pomade.

Seringkali terjadi salah kaprah antara pomade dan lilin rambut (hair wax). Mudahnya, pomade memberikan kesan rambut yang licin dan lebih mengilat, sementara lilin rambut tidak.

Namun belakangan perbedaan antara pomade dan wax rambut jadi agak ambigu. Terutama karena banyak pomade berat mengandung lilin lebah. Hair wax dan pomade sering dipasarkan tidak memakai nama tersebut. Seringkali yang tertera adalah 'paste', 'putty', 'glue' atau 'whip'.

Seperti apa yang telah saya sebutkan di atas, fenomena pomade di Indonesia kini telah menjadi "ramai". Tak hanya menjadi sebuah ciri khas bagi kaum tertentu (kustom kulture), akan tetapi pomade telah menjadi sebuah gaya bagi semua kalangan lelaki. Salah satu yang menjadi indikatornya adalah mulai terbentuknya sebuah komunitas pecinta pomade, Indonesia Pomade Enthusiast, yang saat ini telah memiliki banyak pengikut.

INDONESIA POMADE ENTHUSIAST:
Indonesian Pomade Enthusiast, Komunitas Pencinta Pomade
 
Written by Budi Yanto
Tuesday, 03 February 2015
Mereka yang berasal dari generasi Koes Plus, Panbers, dan seangkatannya, atau yang sekarang sudah termasuk ABG (Angkatan Ba’da Gocap – berusia lebih dari 50 tahun), pasti akan tercengang kalau mengetahui bahwa saat ini ada komunitas pencinta pomade. Soalnya, mereka tentulah pernah mengenal ‘minyak rambut’ alias pomade ini, yang antara lain Tancho – yang masih ada dan banyak dijual hingga kini, Lavender Pomade tjap Pompa, Lavender Happy Pomade, Old English Rita Lavender, dan masih banyak lagi merek-merek pomade lainnya. Itu semua bisa dibilang sebagai warisan dari nenek moyang, yang riwayatnya pastilah bermula dari penggunaan minyak kelapa – dengan berbagai formula campurannya – sebagai minyak rambut. Sebab pomade, pada mulanya, juga merupakan produk yang berbahan dasar minyak.

Berkat kemajuan teknologi, pomade yang tadinya terkesan jadul itu, bisa bermetamorfosa menjadi produk yang seolah-olah baru, baik yang berupa bahan penata rambut sejenis wax, cream, maupun yang berupa minyak atau oil. Cara pengolahan baru, bahan-bahan baru, dan kemasan baru, maka jadilah produk baru yang seolah tak berhubungan dengan produk sejenis di zaman lampau. Padahal, efek yang ingin dicapai bisa dibilang sama saja, yaitu penampilan rambut yang klimis dan rapih.

Jadi kalau Anda suka berpenampilan rapih dengan rambut klimis, yang otomatis harus menggunakan minyak rambut, baik dalam bentuk pomade, wax, cream, gel, dan sejenisnya, ada bagusnya Anda bergabung dengan orang-orang yang punya pandangan sama, yaitu yang tergabung dalam komunitas Indonesian Pomade Enthusiast. Bersama mereka dalam lingkup komunitas, Anda pasti akan memperoleh banyak masukan yang berkaitan dengan bahan penata rambut, dan juga model-model rambut yang lagi jadi trend.

Indonesian Pomade Enthusiast (IPE) ini didirikan pada bulan puasa dua tahun silam, Agustus 2013, di sebuah restoran di Kemang, Jakarta Selatan, dengan tujuan untuk menjadi wadah bagi para pencinta dan pengguna pomade di Indonesia. Salah seorang pendirinya, Giovanni Widjaja, yang juga merupakan Ketua IPE, menuturkan, “Saya lupa tanggal berapa IPE didirikan, yang saya ingat, saat itu bulan puasa. Yang hadir dalam acara itu adalah beberapa pomadeshop terbesar di Jakarta.”

Giovanni melanjutkan, “Saat itu, saya hadir sebagai POMIKADO Pomade Shop. Dalam acara itu, atas dukungan rekan-rekan pomade store yang lain, saya lalu ditunjuk untuk menjadi Ketua IPE. Tujuan mendirikan IPE ini, kami bersama-sama ingin membentuk suatu wadah baru, dimana dapat mewakili aspirasi kawan-kawan, dan juga dapat menjadi tempat ‘nongkrongnya’ para pomade enthusiasts di Indonesia, supaya bisa menjadi wadah aktivitas trade, discuss, sharing, asking, dan sebagainya.”

Sejak didirikan hingga saat ini, member komunitas ini di media sosial Facebook, yang menjadi forum pertama komunitas ini, mencapai kurang lebih 15.000 orang. Chapternya sendiri sudah ada di beberapa kota di Indonesia. “Untuk regional jabodetabek saja sudah ada 5 lebih. Mungkin ada 20 lebih regional di seluruh Indonesia,” ungkap Giovanni. “Kecenderungan yang ada sekarang, justru banyak member yang sebelumnya pasif mulai angkat bicara, yang selumnya silent reader mulai ikut post, review, dan sebagainnya. Ini yang harus diacungi jempol,” tambah Giovanni, mengenai antusias para membernya.

Selain para membernya aktif di dalam media sosial facebook, mereka juga mengadakan kegiatan seperti gathering dan kopi darat, untuk menjalin kebersamaan antar sesama pengguna pomade. Seperti yang dikatakan oleh Giovanni, “Jadi, kegiatan utama kita kalau sedang gathering adalah saling sharing, mengenai pomade terbaru yang ada di pasaran Indonesia dan luar negeri. Lalu, kalau ada yang memang mau trade dipersilahkan, sembari kita ngobrol santai, berbagi suka dan tawa.”

“Harapan saya adalah ‘merakyatkan’ pomade. Karena menurut kami, pomade ini adalah produk terobosan dalam dunia head essential and male grooming. Merakyatkan pomade, artinya kami ingin bahwa masyarakat kelas bawah pun, atau proletar, juga dapat menggunakan atau tahu tentang apa itu pomade, serta mengapa bisa se-massive ini pergerakannya di Indonesia,” tutur Giovanni, mengakhiri pembicaraan dengan TNOL.

Nah, sekarang Anda mengerti mengapa Anda layak bergabung dengan komunitas ini, bukan? Silakan segera bergabung....

Lalu apa tujuan saya menulis tulisan ini?

Lebih jauh dari apa yang saya katakan di awal, tulisan ini bertujuan lebih dari sekedar "lanjutan" atau "tambahan" dari tulisan saya sebelumnya.

Tapi saya ingin kembali menegaskan sikap saya dalam berpenampilan sehari-hari, terlebih karena saya juga termasuk salah satu dari pengguna pomade. 

Pomade saat ini telah menjadi barang yang lumrah digunakan sehingga tulisan ini saya harapkan bisa menjadi penegas apakah saya hanya seseorang yang menggunakan pomade karena pomade sedang naik daun atau saya menyukai pomade karena memiliki alasan yang jauh lebih dalam daripada sekedar "ikut-ikutan". Terlebih bahwa saya bukanlah orang dengan gaya berpenampilan kustom kulture, sehingga sebuah alasan kuat harus mampu saya berikan.

Saya pribadi tak ingin untuk disebut sebagai seseorang yang hanya jadi "pengikut" tanpa mempunyai "sikap" atau "prinsip". Ya, ini hanya permasalahan minyak rambut, tapi perkembangan selanjutnya hal ini tidak terhenti hanya tentang minyak rambut.

Di tulisan sebelumnya  , saya lebih banyak bercerita tentang "sejarah" dan "alasan" ketertarikan saya untuk menggunakan pomade. Sembari sedikit berceloteh (mencuri tulisan Jrx SID) tentang apa sebenarnya pomade. Di dalam tulisan itu pun saya menegaskan bahwa saya memakai pomade lebih dari sekedar alasan "ikut trend" semata.

Waktu itu saya hanya sekedar pengguna, tak lebih dari itu. Tapi kini, setelah banyak membaca dan juga melihat video mengenai pomade-review, saya pun secara berangsur-angsur mulai menyukai untuk mengoleksi pomade.

Bagi saya, pomade menjadi sesuatu hal yang layak untuk dikoleksi, karena pomade bisa dikatakan adalah generasi pertama minyak rambut bagi kaum pria. Pomade juga menjadi satu-satunya minyak rambut yang cocok bagi kaum pria karena pomade tidak membuat rambut mengering dan bisa untuk ditata sepanjang hari.

Akan tetapi pomade pun bukan sebuah komoditi yang bisa digunakan secara masif dan diterima oleh semua kalangan karena pomade cenderung untuk memberikan ketidaknyamanan bagi para pemakainya.

Ketidaknyamanan yang saya maksud disini adalah karena pomade tidak bisa dihilangkan hanya dengan satu kali keramas. Butuh sebuah perjuangan ketika pengguna pomade ingin menghilangkan pomade. Beberapa kali keramas dan menggunakan konditioner adalah beberapa langkah yang harus ditempuh untuk bisa 100% menghilangkan pomade dari rambut.

Sehingga menggunakan pomade bukan sesuatu hal yang praktis. Oleh karena itu, saya berpendapat, bahwa mereka yang memilih untuk menggunakan pomade dengan segala hal ketidaknyamanannya adalah mereka yang memiliki dedikasi.

Mereka rela untuk mengorbankan kenyamanannya untuk mendapatkan penampilan yang optimal. Dalam konteks itu, saya setuju apabila kemudian pengguna pomade memiliki sebuah komunitas.

Bisa ditata sepanjang hari adalah alasan kuat saya memilih untuk menggunakan pomade dan juga mengoleksinya. Dan alasan lain yang semakin menguatkan saya untuk menjadi seseorang yang konsisten menggunakan pomade yakni karena pomade tidak mudah untuk dicuci menggunakan air. Hal yang sebenarnya memberikan ketidaknyamanan bagi kebanyakan orang justru menjadi kelebihan bagi saya.

Kenapa? Karena sebagai seorang Muslim yang mempunyai kewajiban untuk melaksanakan Sholat di 5 (lima) waktu, saya diharuskan untuk terlebih dahulu mengambil wudhu. Wudhu harus menggunakan air dan salah satu anggota tubuh yang harus dibasuh menggunakan air adalah rambut.

Dulu ketika saya masih menggunakan gel, saya kesulitan dalam berwudhu karena secara otomatis apabila terkena air, gel yang ada di rambut saya akan menghilang dan rambut saya tidak bisa lagi ditata seperti semula. 

Akan tetapi hal itu tidak lagi saya dapatkan ketika menggunakan pomade. Saya bisa tetap mengambil wudhu dengan sempurna tanpa harus khawatir pomade di rambut saya akan hilang.

Sekarang ini, pomade pun mengalami perkembangan, dilatarbelakangi oleh "ketidaknyamanan" seperti yang saya sebutkan dia atas. Kini ada dua jenis pomade yang dikenal di pasaran, yakni pomade oilbased (pomade yang pertama kali ada dan menjadi cikal bakal jenis minyak rambut lainnya) dan pomade waterbased. 

Secara sangat sederhana perbedaan mendasar antara pomade oilbased dan pomade waterbased adalah bahan dasarnya. Oilbased berbahan dasar petroleum oil atau yang sejenisnya sedangkan waterbased tentu berbahan dasar air. Sehingga waterbased akan sangat mudah digunakan dan mudah juga untuk dicuci dari rambut. Permasalahan ketidaknyamanan mampu diatasi oleh inovasi pomade waterbased.

Akan tetapi, pomade waterbased memberikan efek rambut menjadi kering dan kaku, sehingga secara keseluruhan pomade waterbased tidak jauh berbeda dengan gel. Sehingga kelebihan pomade yang saya "elu-elu"-kan tadi menjadi hilang. Saya pribadi menjadi agak rancu ketika jenis waterbased masih masuk kedalam pomade.

Bagi saya pomade itu adalah sesuai atau senada dengan produk/varian yang pertama kali ada dan diperkenalkan ke khalayak luas, yakni sebuah produk yang membuat rambut terlihat basah sepanjang hari, tidak mengering, tidak kaku, dan bisa untuk ditata ulang. Itu pomade bagi saya.

Ketika kemudian ada produk yang memiliki nama "pomade" akan tetapi membuat rambut kering dan tak bisa untuk ditata ulang, bagi saya itu adalah gel.

Waterbased yang perlu untuk dikembangkan bukan waterbased yang justru menyerupai gel tapi waterbased yang mampu mengeliminir ketidaknyamanan tapi tetap mampu untuk ditata ulang sepanjang hari. Apakah itu hal yang mustahil? Nope!

Pomade waterbased yang saya maksud adalah seperti yang coba ditawarkan oleh (maaf saya harus menyebutkan merk) O'douds Waterbased. Well, silahkan anda baca dan liat sendiri review mengenai pomade tersebut dan akan menjadi sangat relevan bila kemudian anda mencoba langsung pomade tersebut.

Bila semua jenis waterbased mampu untuk seperti apa yang diberikan oleh O'douds Waterbased maka saya pribadi tak berkeberatan apabila embel-embel pomade masih melekat.

Tetapi, ini hanya opini saya belaka karena sepertinya bodoh apabila kita memperdebatkan masalah itu. Akhirnya ini semua berkenaan dengan selera setiap orang masing-masing. Jadi, bergaya-lah sesuka yang anda mau tapi tolong jangan bodoh!

Dan sepertinya tujuan tulisan ini sudah terpenuhi dan bahkan terlampau banyak melenceng kesana kemari. Jadi, saya sudahi ini semua dan terima kasih bila ternyata anda berkenan membaca tulisan ini hingga akhir.

Oh iya, kesimpulan besarnya adalah saya menggunakan pomade bukan karena saya adalah pecinta gaya kustom kulture atau bahkan sekedar mengikuti trend belaka. Saya menggunakan pomade karena pomade mampu untuk memenuhi harapan saya tentang sebuah minyak rambut. Sekian.

#PMA

0 komentar:

Posting Komentar