Sabtu, 22 Februari 2014

Bila tak lulus TKD

JUMAT, 21 Februari 2014
21.34 WIB


Saya pun tak mau tau aturan apa yang akhirnya memaksa kami harus tetap melaksanakan TKD (tes kemampuan dasar) untuk bisa ditetapkan menjadi seorang Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Sejauh yang saya tau, ketika saya diterima menjadi seorang Praja, masuk melangkahkan kaki dan menempuh pendidikan di kampus ini, maka pada akhirnya saya akan mendapatkan status sebagai seorang CPNS.

Proses panjang juga sulit untuk saya bisa memasuki kampus ini, dalam artian menempuh pendidikan di dalamnya, dan butuh sejuta kesabaran serta kecerdasan bagi saya untuk menyelesaikan segala jenis pendidikan yang disyaratkan di dalamnya. Tidak serta merta negara kemudian memberi kami segala fasilitas dalam menjalani pendidikan di dalamnya.

Uang saku yang saya terima setiap bulan, makanan dan asrama yang juga telah negara persiapkan secara percuma. Itu tentu dengan sebuah harapan dan tujuan untuk mempersiapkan saya menjadi seorang CPNS yang baik.

Lalu bila kini semua itu tetap harus ditentukan oleh sebuah TKD? Untuk apa negara membayar mahal itu semua?

Saya masih belum mengerti dan memahami itu semua.

Saya takut, ya. Bila kemudian ada argumen yang mengatakan bahwa tidak seharusnya saya takut menjalani itu semua toh saya telah dipersiapkan. Maka saya jawab itu dengan sebuah pernyataan, lalu bukankah saya selama 3 (tiga) tahun ini juga telah disiapkan untuk menjadi CPNS? Maaf, tapi saya tidak dipersiapkan untuk menjalani TKD. Tapi kami dipersiakan untuk menjadi CPNS dan nantinya PNS.

Ketika saya menjalani seleksi untuk masuk ke kampus ini maka saya mengikuti seleksi untuk dipersiapkan menjadi CPNS dan ketika saya berhasil melewati serangkaian tes itu, berarti saya telah layak. Lalu untuk mematangkannya saya harus terlebih dahulu menjalani pendidikan selama 4 (empat) tahun.

Bila kini kemudian saya harus kembali menjadi TKD, seolah-olah semua seleksi masuk ke kampus ini dan pendidikan yang saya jalani menjadi percuma, karena toh saya harus ditentukan oleh TKD, tak peduli seberapa baik saya menjalani pendidikan selama ini.

Ketika saya mampu untuk sampai dengan sekarang masih bertahan, apakah itu belum menjadi cukup bukti bahwa saya memang layak menjadi CPNS?

Bila skenario TKD itu hanya untuk dijadikan standar dalam penempatan atau tes terakhir menentukan peringkat saya selama ini di kampus, itu tak masalah. Tapi bila kemudian ternyata TKD itu adalah syarat mutlak saya untuk menjadi CPNS, sekali lagi saya bertanya, untuk apa serangkaian tes panjang masuk ke kampus ini? Untuk apa saya menjalani pendidikan selama ini?

Saya tak mengerti, sangat jauh dari logika yang saya miliki.

Kecuali memang sedari dulu masuk ke lembaga ini tidak ada jaminan sedikit pun untuk menjadi seorang CPNS maka ya saya pun mengerti. Tapi karena memang sedari awal, janji-janji itu telah dihembuskan bahkan tertuang jelas dalam sebuah peraturan, maka wajar bila kemudian saya menuliskan segala keresahan ini.

Sekali lagi, saya belum dan tak akan mnegerti kebijakan ini. Ini sangat menyiksa!

Tapi saya pun tetap optimis dalam ranah pemikiran realistis. Saya pun mulai berpikir apa jadinya ketika saya harus gagal dalam melaksanakan TKD dan keluar dari kampus ini tanpa sebuah status CPNS.

Jadi apa saya?

Segala macam bentuk beban saya sudah bayangkan akan hadir di pundak ini. Terberat tentu cibiran orang tentang ekspektasi yang sedari dulu telah mereka miliki terhadap saya.

Lalu akan jadi apa saya?

Entah, tapi sepertinya saya akan menepi dari segala bentuk pemerintahan, bentuk kekecewaan. Mungkin, ini sekedar mungkin, rencana abstrak dari sebuah pepatah “hope for the best but prepare for the worst”, saya akan mencoba untuk terus menggali kemampuan saya dalam menulis. Apa lagi? Apa lagi kemampuan yang saya punya?

Mendalami ilmu jurnalistik adalah hal paling logis yang bisa saya pikirkan saat ini. Terus menulis dan menulis.

Ahh, tapi itu jelas bukan yang saya harapkan
 
Saat ini, keluhan serta amarah sudah seharusnya saya transformasikan kepada sebuah semangat untuk mempersiapkan diri mengahadapi TKD. Karena itu telah ditetapkan, kebijakan itu telah dikemukakan. Saya rakyat jalata, seorang peserta didik hanya bisa untuk menjalani. Menjalani sebaik mungkin dan berdoa sekhusyu mungkin. Apa lagi?

Saya tau, mereka, para pembuat kebijakan, tidak begitu saja memutuskannya, mereka tentu berharap untuk segala yang terbaik bagi birokrasi negeri ini. Dan mungkin saya hanya berada pada kelompok transisi.

Ya ya ya, demi kebaikan negeri ini, kebaikan negeri ini.

Please, pray for me and the rest of my friends!
#PMA ??

Minggu, 09 Februari 2014

Hercules dan Moral

The Legend of Hercules

Minggu, 9 Februari 2014
10.10 WIB


Cukup lama saya tidak menonton sebuah film di bisokop. Untuk sebagian orang, hal ini merupakan sebuah pemborosan karena kondisi yang ada di Indonesia memungkinkan kita untuk bisa menonton sebuah film dengan harga yang jauh lebih murah. 

Di Indonesia kita masih bisa untuk mendapatkan sebuah DVD dengan harga yang sangat murah, sekitar 6 (enam) ribu rupiah (bajakan tentunya tapi dengan kualitas gambar yang cukup baik), bandingkan dengan harga yang harus dikeluarkan apabila kita menonton sebuah film di bioskop, sekitar 25 ribu – 50 ribu rupiah tergantung bioskop yang kita pilih.

Saya pun menyadari hal itu tapi saya tentu juga memiliki alasan. Terlepas dari alasan idealis yang sebenarnya juga masih saya miliki, alasan utama yang ingin saya kemukakan disini adalah bahwa menonton sebuah film di bioskop bagi saya adalah sebuah penyegaran, sebuah hobi untuk melepas penat dan mendapatkan lagi beberapa semangat.

Ya, hobi. Mungkin itu adalah kata yang tepat kenapa akhirnya saya rela untuk mengeluarkan uang lebih untuk menonton sebuah film di bioskop.

Dan film pertama yang saya tonton di bioskop pada tahun 2014 ini adalah The Legend of Hercules

Pada dasarnya, saya menyukai semua jenis film. Saya tipikal orang yang tidak terlalu saklek  pada sebuah selera. Terkadang tanpa ada alasan jelas, bahkan bertentangan dengan prinsip yang saya yakini, saya bisa begitu saja menyukai sesuatu dan begitu juga sebalinya. Pragmatis tapi bisa juga menjadi sangat idealis. Well, that is me! So damn moody!
 
Tapi itu setidaknya membuktikan bahwa rasa suka, cinta, dan sayang itu memang sangat relatif, tidak pernah mempunyai ukuran yang pasti.

Di samping itu, saya memang menyukai film-film yang diangkat dari komik atau cerita kartun. Ini erat kaitannya dengan masa kecil saya, yang sejauh saya ingat, tumbuh besar bersama banyak cerita kartun Walt Disney, semisal Beauty and The Beast, Cinderalla, Pinochio, Peter Pan, Lion King, Anatasia, Mulan, Hercules, dan masih banyak kartun lainnya. Saya ingat betul film-film itu sangat menarik bagi saya, sangat cocok dengan karakter saya sebagai anak kecil dan juga diselingi dengan lagu-lagu yang juga sangat indah terdengar. Ahh, masa kecil yang menyenangkan!

Dan mungkin itu juga penyebab ketika saya melihat film The Legend of Hercules, atau Hercules dalam penggambaran masa kekinian versi asli, sangat jauh dari bayangan yang ada dalam benak saya.

Inti cerita dari Hercules itu memang masih sama dan tidak mungkin untuk berubah, yakni Hercules yang merupakan anak Zeus dan diasuh oleh manusia biasa. Tapi perwujudan Hercules sebagai seorang anak Zeus dan untuk apa dia ada dunia ditampilkan dengan sangat berbeda. Dan jujur saya menyukai versi yang ada dalam kartun.

Satu hal yang pasti Hercules ketika saya masih kecil dan Hercules dalam bentuk The Legend of Hercules diciptakan dalam masa yang sangat berbeda. Dan alasan kenapa The Legend of Hercules ditampilkan dalam wujud manusia asli menandakan bahwa The Legend of Hercules tidak semata-mata diperuntukan bagi anak kecil. Bahkan dengan melihat setiap adegan yang ada dalam film tersebut, saya pikir film itu pun bukan untuk konsumsi semua umur, film itu untuk dewasa, dengan adegan perkelahian dan percintaan yang bertaburan di sana-sini.

Saya ingat betul ketika saya menontonya di bioskop, saya melihat orang tua yang membawa anaknya menonton film tersebut sibuk untuk menutup mata anak mereka ketika harus ditampilkan adegan perkelahian yang cukup sadis dan beberapa adegan antara pria dan wanita dewasa.

Saya pun tak menyalahkan sepenuhnya orang tua yang membawa anaknya menonton film itu karena superhero atau orang-orang dengan kemampuan hebat terlebih sebuah karakter yang berawal dari film kartun amat dekat dengan imajinasi anak kecil. Jadi siapa yang menyangka bahwa The Legend of Hercules akan bertranformasi menjadi film yang sebenarnya tidak cocok dengan karakter anak kecil, terutama anak kecil yang hidup di budaya Timur seperti Indonesia.

Hal itu yang kemudian menjadi sedikit mengusik pribadi saya dan mulai melihatnya dalam skala yang cukup jauh.

Kehidupan anak kecil sekarang dengan ketika saya masih kecil dulu sangat berbeda. Ya, zama memang berubah tapi haruskah nilai-nilai baik itu juga ikut berubah?

Yang perlu saya tegaskan disini, negara-negara yang sekarang mampu untuk menjadi negara maju adalah mereka dengan masyarakat yang mampu konsisten dengan moral. Moral itu berkaitan dengan nilai. Negara-negara Barat (sebagai indikator negara maju) sangat kuat dengan hal ini, itu-lah kenapa penyimpangan jarang terjadi di sana dan negara bisa berkembang dengan leluasa.

Karena penerapan nilai di negara mereka telah berjalan optimal sehingga moral bergerak dengan sangat baik.

Kembali ke Indonesia, nilai-nilai kehidupan kita didasarkan pada adat ketimuran yang dipenuhi dengan nilai yang terkandung dalam agama. Itu-lah kita, masyarakat yang beragama. Tapi sayangnya penerapan nilai itu belum berjalan optimal sehingga moral masyarakatnya pun belum baik.

Buktinya apa? Berapa banyak aturan yang dimililiki Indonesia tapi berapa banyak juga yang melanggarnya.

Lalu kaitannya dengan masa kecil adalah karena di dalam masa kecil-lah penerapan nilai itu paling bisa dilakukan dengan baik dan bisa berjalan dibandingkan dengan setelah manusia itu dewasa.

Lalu saya pun yang hidup di masa kecil yang saya pikir masih sangat kondusif. Saya masih bisa bermain di luar rumah, bersosialisasi nyata dengan teman-teman, memupuk kerja sama dengan banyaknya permainan tradisional dan bahkan menonton film yang memang sesuai dengan kondisi anak kecil, pun masih belum bisa menjadi generasi yang baik. Moral itu belum maksimal terlaksana.

Lalu apa jadinya dengan kondisi masa kecil anak zaman sekarang? Ketika sosialisasi mereka kini sudah terbatas pada dunia maya. Anak-anak kecil sudah berpikiran praktis dengan segala bantuan teknologi. Tak lagi tau rasanya hidup di luar, di bawah terik matahari, bermain bersama dengan teman memupuk kerja sama. Sekarang mereka hidup di lingkungan individualis.

Dan kaitannya dengan film, kini mereka “dipaksakan” juga untuk tumbuh besar dengan film-film yang sebenarnya tidak sesuai dengan perkembangan psikis mereka. Film dengan penuh adegan sadisme, percintaan, dan hal-hal dewasa lainnya.

Bila begitu moral apa yang akan mereka miliki?

Saya menulis seperti ini karena berkeyakinan bahwa nilai-nilai yang harus tertanam dan terinternalisasi dalam setiap masyarakat Indonesia adalah nilai-nilai Ketuhanan, Persatuan, Kemanusiaan, Musyawarah Mufakat, dan Keadilan bukan nilai-nilai liberal.

Tapi saya pun sadar bahwa hal-hal seperti ini tidak cukup hanya sekedar menulis opini, butuh tindakan nyata, tindakan perubahan. 

Dan pembelaan yang saya kemukakan, ini merupakan tindakan yang bisa saya lakukan, menulis berharap mampu menggugah melalui kata.

Stay #PMA