Rabu, 26 Mei 2010

No Roads Left

Now everything's clear, so crystal clear.
the line from my favourite song become real,
it says :
"Well you're never gonna find it If you're looking for it Won't come your way yeah"

The dream is over now, the reality is ready from now on.
I'm running out of spirit,
i need a distraction.
i need a stupid joke with my friends.
i wanna laught so hard, don't care with my heart!
cause, i wanna feel this pain, with a different taste.

and this is a song, a song of my condition rite now..

Standing alone with no direction
How did I fall so far behind?

Why Am I searching for perfection?

Knowing it's something I won't find


In my fear and flaws

I let myself down again

All because


[Chorus]

I run

Till the silence splits me open

I run

Till it puts me underground

Till I have no breath

And no roads left but one


When did I lose my sense of purpose?

Can I regain what's lost inside?

Why do I feel like I deserve this?

Why does my pain look like my pride?


In my fear and flaws

I let myself down again

All because

I let myself down

In my fear and flaws


[Chorus]

I run

Till the silence splits me open

I run

Till it puts me underground

Till I have no breath

And no roads left but one

No roads left but one


In my fear and flaws

I let myself down again

All because


I run

And the silence splits me open

I run

And it puts me underground

But there's no regret

And no roads left to run


LINKIN PARK
"No Roads Left"
Minutes to Midnight (Bonus Track)

Kamis, 20 Mei 2010

Api-Asap, Sebab-Akibat

Mendekati pertengahan tahun, biasanya para remaja, anak-anak dan orang tua disibukan dengan sebuah masalah, yaitu masalah pendidikan, untuk melanjutkan pendidikan mereka. Satu hal yang selalu menjadi pembicaraan hangat adalah tentang bagaimana lulusan SMA/MA/SMK dan yang sederajat untuk bisa masuk Perguruan Tinggi/PT yang sesuai dengan keinginan mereka atau mungkin keinginan orang tua mereka.

Ini selalu menjadi topik utama setiap tahunnya, terutama bagi mereka yang secara pribadi memang sedang atau akan mengalaminya. Seiring perkembangan zaman, meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dalam hal ini meneruskan pendidikan di PT, yang memang merupakan impian setiap orang, bukanlah suatu perkara mudah. Zaman berganti diiringi dengan jumlah populasi yang semakin membludak dan ketika jumlah populasi tinggi maka sebuah persaingan adalah sebuah kenyataan yang tak bisa kita tolak atau hindari. Bisa dipahami memang alasan kenapa orang begitu ngotot untuk bisa masuk PT, terlebih masuk PTN/Perguruan Tinggi Negeri favorit yang jelas-jelas telah mempunyai reputasi besar dan nama baik. Ada harapan dan cita-cita yang mereka pertaruhkan di sana, ada sebuah masa depan yang coba mereka rangkai dan persiapkan di sana, walaupun tak sedikit ada gengsi dan harga diri yang coba mereka pertahankan atau bahkan mereka tingkatkan di sana. Terlepas dari apapun alasan mereka, persaingan adalah sesuatu hal yang harus mereka hadapi.

600 RIBU UNTUK 2,4 JUTA
Secara statistik/data, aroma persaingan sudah sangat terasa ketika Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mengeluarkan data bahwa sekitar 2,6 juta siswa SMA/MA/SMK dan yang sederajat yang ada di Indonesia telah dinyatakan lulus dan siap untuk meneruskan pendidikan mereka. Tapi di lain pihak, PTN dan PTS yang merupakan tujuan dari kebanyakan siswa tersebut hanya menyediakan tempat sebanyak 600 ribu. Okay, angka-angka tersebut memang bukan angka pasti, masih merupakan hitungan kotor yang belum memperhitungkan segala faktor lainnya. Tapi sekali lagi, data tersebut sudahlah cukup bagi kita untuk tau betapa persaingan itu sangatlah nyata dan kita harus bersiap untuk itu.

BERSAING ?
Ya, mau tidak mau, bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi memang harus menyiapkan dirinya sebaik mungkin untuk menghadapi kerasnya persaingan. Tapi sebenarnya, bila kita mau jujur, persaingan yang ada sekarang adalah sebuah persaingan karena banyaknya peminat yang tidak terfasilitasi dengan banyaknya tempat yang disediakan. Terkadang antara kuota dan pendaftar sangatlah tidak rasional. Lalu munculah sebuah fakta atau sebuah akibat dari persaingan itu yang sebenarnya tidak terlalu mengenakan karena ternyata dan bahkan sudah menjadi rahasia umum, sebuah persaingan memasuki sebuah PT untuk meneruskan pendidikan, bisa dilalui dengan cara di luar pendidikan, yang ironinya justru memakai nama "Pendidikan", yaitu atas nama "Sumbangan Pendidikan". Mari kita coba ilustrasikan : Misalnya di sebuah PT hanya menyediakan 10 tempat saja, tapi pendaftar yang ingin memasukinya mencapai 100 orang. Itu berarti secara kasar, 1 tempat diperebutkan oleh sekitar 10 orang. Bagi mereka yang mempunyai kepintaran di atas rata-rata bukanlah hal yang sulit untuk bisa mendapatkan nilai sempurna, untuk dapat meraih peringkat tertinggi dan masuk PT tersebut dengan mudah. Tapi bagi mereka yang tak benar-benar pintar, kemungkinan mereka untuk mendapat nilai yang sama satu sama lainnya sangatlah besar dan ketika banyak orang yang memilki atau mendapatkan nilai yang sama, apa yang terjadi selanjutnya?bagaimana cara memutuskannya? Ada orang yang menyebutkan faktor "Lucky" bermain di sana, ada yang mencoba menerapkan kata "Kolusi", dan ada pula yang memakai besarnya "Sumbangan Pendidikan".

Yupz, kita tidak bisa menyalahkan siapa pun, karena tak akan ada asap bila tak ada api, tak akan ada akibat tanpa adanya sebab. Fakta ini menunjukan pendidikan kita hanya ramah untuk mereka yang Benar-benar Pintar atau Benar-benar Kaya.
PEACE and CHEERS!

Rabu, 19 Mei 2010

Menara Loji

*Artikel atau tulisan ini, saya buat/kerjakan untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Sejarah, tentang Kearifan Lokal di SMA Negeri 1 Sumedang tahun ajaran 2009-2010

ADIMA I.A. NOORS
XII IPA 2
KEARIFAN LOKAL
(sumber http://jatinangorpisan.blogspot.com/2008/01/menara-loji-saksi-sejarah-yang.html)

Jatinagor merupakan daerah pendidikan, setidaknya pernyataan itu didukung oleh fakta bahwa terdapat empat perguruan tinggi negeri yang berdiri megah di sana. Keempat perguruan tinggi itu adalah : UNPAD, UNWIM, IKOPIN dan IPDN. Tak hanya itu, Jatinagor pun menyimpan sebuah bukti sejarah yang sebenarnya belum terlalu dikenal oleh masyarakat luas dan bahkan oleh penduduk asli Sumedang sekalipun. Bangunan yang dimaksud adalah sebuah menara bergaya neo gothic berwarna putih yang biasa disebut sebagai Menara Loji. Menara ini terletak di sebelah Utara UNPAD. Menara, yang dibangun pada tahun 1800-an ini, merupakan bukti sejarah penjajahan Belanda di Indonesia dan di Jatinangor khususnya.

Dalam sejarahnya, pada masa penjajahan Belanda, Jatinangor adalah areal perkebunan pohon karet, yang luasnya mencapai 962 hektar. Perkebunan karet ini didirikan pada tahun 1841 hasil kerjasama perusahaan swasta milik Belanda dengan seorang pria berkebangsaan Jerman bernama Baron Baud. Perkebunan ini membentang dari tanah IPDN hingga Gunung Manglayang. Untuk mengontrol perkebunannya yang luas itu, Baron Baud membangun sebuah menara. Menara ini dilengkapi dengan sebuah lonceng yang terletak di puncak menara dan tangga untuk sampai ke puncaknya.

Menara Loji memiliki dua fungsi utama. Pertama, untuk mengawasi para penyadap karet yang ia pekerjakan. Kedua, sebagai penanda waktu kerja bagi para penyadap karet. Pada pukul 05.00, lonceng dibunyikan, tanda bagi pekerja untuk mulai menyadap karet. Lonceng kembali berbunyi pada pukul 10.00, yang berarti sudah saatnya bagi pekerja untuk mengambil mangkuk-mangkuk yang telah terisi getah karet. Terakhir, lonceng dibunyikan lagi pada pukul 14.00, yang artinya para pekerja diperbolehkan untuk pulang.
Terlepas dari penderitaan yang mungkin dirasakan oleh para pekerja pada waktu itu, ada satu hal menarik yang bisa kita ambil dari sudut pandang yang berbeda. Ada satu kearifan lokal disitu, yang dalam hal ini berarti suatu ikatan pengetahuan yang dimiliki oleh kelompok masyarakat untuk memahami perubahan budaya yang ada di sekitarnya. Dalam konteks pembicaraan ini, kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya tertentu, dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu. Disini kita bisa menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia pada zaman pendudukan termasuk orang-orang yang memiliki budaya berdisiplin tinggi dan juga budaya malu untuk melakukan hal yang salah.
Sekali lagi, kita kesampingkan dulu faktor penjajahan yang ada pada waktu itu, tapi mari kita coba renungkan tentang bagaimana para pekerja bisa bekerja dengan penuh disiplin dan tepat pada waktu yang telah ditentukan hanya dengan sebuah lonceng? Bayangkan, apakah mungkin bunyi lonceng itu akan terdengar jelas di area seluas 962 hektar? Sekali lagi, fakta-fakta itu menunjukan bahwa masyarakat pada zaman penjajahan memilki budaya berdisiplin yang sangat tinggi. Hal lain yang perlu kita renungkan adalah budaya malu untuk melakukan hal-hal yang salah. Karena walaupun setiap harinya ada orang-orang yang mengawasi mereka untuk bekerja, tapi orang itu hanya mengawasi para pekerja dari kejauhan, dari sebuah sebuah menara. Jadi, bisa kita bayangkan bahwa sebenarnya ada banyak waktu untuk para pekerja untuk berleha-leha, bermalas-malasan dan mungkin untuk mengambil karet untuk keuntungan mereka sendiri. Tapi, semua tindakan itu tidak mereka lakukan bukan semata-mata karena mereka takut, tapi mereka juga menyadari bahwa itu bukanlah hal yang baik untuk dilakukan dan bukanlah termasuk budaya mereka.

Itu semua merupakan suatu kearifan lokal yang sebenarnya patut kita kita tiru dan lakukan pada era globalisasi seperti sekarang ini. Dengan menanamkan budaya disiplin dan budaya malu kita pasti bisa untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Kita akan menjadi orang-orang yang penuh dedikasi dan tanggung jawab dengan apa yang sedang kita kerjakan sekarang. Jadi, masa penjajahan memang tidak selalu identik dengan hal yang mengerikan, Karena sebenarnya ada banyak kearifan lokal yang terdapat di dalamya, apabila kita mau untuk melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang berbeda.

Senin, 17 Mei 2010

THE BEST, THE WORST

Seperti jutaan orang lainnya,
aku pun mempunyai sebuah impian.
Seperti jutaan orang lainnya,
aku pun berusaha 'tuk mewujudkannya.

Tapi aku bukanlah orang yang benar-benar kaya,
ataupun orang yang benar-benar pintar.
Aku hanya orang biasa,
yang selalu mencoba 'tuk berusaha diiringi do'a.

Dulu...mimpiku indah,
terasa mudah..
teras dekat..

Diriku mantap melangkah,
meninggalkan semua pilihan yang ada
karena yakin dengan hati
yang telah memilih sebuah tempat 'tuk berpijak, di hari nanti.

Saat hari itu tiba,
aku terhenyak!
Semua tak seindah bayangan..
semua tak semudah harapan.
ternyata...
hidup lebih kejam dari yang telah ku persiapkan.

Dulu...aku mampu tersenyum penuh harapan,
melihat sekolah impian.

Tapi kini...diriku takut 'tuk sekedar melihat,
ku tersenyum takut memandangnya.
yang ada bukan lagi bangunan megah nan mewah,
tapi bayangan mimpi ku yang hancur, jatuh ke dasar tanah.

Semua hal itu menakutiku,
membuatku terlupa dengan masa kini.
Semua itu menghantuiku,
membuatku terlupa 'tuk mempersiapkan diri.

Semua hal itu adalah semua hal yang belum pasti..
Hal-hal yang hanya ada dalam pikiran dan hati..

Mmm...
Disinilah aku tersadar,
bahwa hidup jangan terlena dengan hanya mimpi-mimpi belaka,
tanpa adanya implementasi nyata,
dalam kehidupan kita, realita!

Fokuskan diri untuk apa yang ada di depan kita,
untuk setiap yang kita lakukan.

Dan biarkan segala apapun hasilnya,
hanya Allah yang mengaturnya.

"HOPE FOR THE BEST, PREPARE FOR THE WORST"

Sabtu, 15 Mei 2010

Benar-benar Pintar atau Benar-benar Kaya!

Ada dua kisah berbeda
dari dua anak manusia.
Yang berbeda tentunya.

Kisah ini tentang pendidikan mereka
tentang bagaimana mereka menggapainya

Pertama mari kita mulai
dari seorang teman
bukan teman dekat memang
Tapi cukup dekat untuk tau betapa pintarnya dia.

Tak ada yang meragukan itu
semua mengangguk setuju
karena itulah kenyataannya
tapi sayang memang
Dia bukan terlahir dari keluarga berada
dan ayahnya pun telah tiada
berpulang untuk selamanya..

Tapi dia tidak jatuh
dia tetaplah teguh
menjalani beratnya hidup
bermodalkan ilmu yang lebih dari cukup

Dan syukur Alhamdulillah,
sekarang dia mendapat beasiswa
dari perguruan tinggi ternama
mmm...dia memang pantas.
Dia memang benar-benar cerdas!

Kembali ke awal,
dengan kisah yang sedikit beda
Masih tentang tema yang sama
tapi dengan cara yang berbeda.

Masih salah satu dari teman,
dan lagi-lagi bukanlah teman dekat.
tapi cukup dekat untuk tau betapa beradanya dia.

Terlahir dan dibesarkan di keluarga mapan
hingga segala sesuatunya terkesan gampang
Cukup gampang karena dia memiliki apa yang menjadi impian setiap orang...
Uang...

Semuanya coba dia hargai,
hingga sampai pada sebuah titik
dimana pendidikan mampu dia beli.

Ini dimulai ketika suatu waktu
dimana dia harus menjalani sebuah seleksi masuk
sebuah perguruan tinggi termahsyur
guna untuk menambah ilmu

Tak ada yang istimewa
dia mengerjakan soal seperti kebanyakan orang
tapi ketika sampai di sebuah kolom
tertulis angka cukup menohok
400 juta rupiah, atas nama sebuah sumbangan
sumbangan pendidikan katanya...

Hari berganti
dan dia pun berhasil melewati
seleksi ketat, mengalahkan yang lain..
mmm...dia memang pantas
Dia memang benar-benar kaya!