Kamis, 28 Maret 2013

Blogiveaway - Noorz's Point of View



Well this is my first competition that I'm in! :) 

Entah kenapa tapi saya begitu tertarik dengan "kompetisi" ini, seketika setelah saya membaca postingan yang ada di blog BlogS of Hariyanto dan Blog Sing Biasane, saya begitu sangat ingin mengikutinya. 
Jelas, saya tak munafik bahwa faktor hadiah yang begitu menggiurkan sehingga saya pun tak bisa mengelak untuk mencoba peruntungan. Tapi saya pun cukup tau diri dengan tidak begitu banyak berharap karena tak banyak tulisan yang saya miliki yang bisa dikategorikan sebagai sebuah tulisan review, tapi bukankah manusia itu hanya wajib untuk berusaha? :) 

I won't give up easily but I know myself better, so just Stay #PMA always! :D 

dan ini-lah beberapa tulisan yang saya anggap bisa untuk masuk dalam kategori review












Selasa, 26 Maret 2013

I’m not complaining, I’m just saying


Karena bagi saya sebuah beban ketika tak mampu untuk bekerja maksimal sesuai dengan tugas, pokok dan fungsi yang telah saya miliki. 
Sebuah rasa salah ketika telah melingkar tanda talikur di pundak kanan serta sebuah mangkuk tanda jabatan di dada ini, saya tak mampu untuk memberikan sebuah teladan atau sesuatu hal yang patut dikenang, untuk kemudian dijadikan dasar serta fondasi setiap kegiatan yang nantinya akan dilakukan di masa depan. 
Saya yakin perasaan ini tak hanya saya yang merasakan tapi juga dirasakan oleh setiap teman serta sahabat saya yang juga termasuk dalam organisasi keprajaan di kampus ini.  

Bagi saya pribadi khususnya, setelah berada pada posisi atau jabatan ini kurang lebih 1 (satu) tahun ( periode 2011-2012, saya dilantik pada tanggal 16-12-2011 dan untuk periode 2012-2013 dilantik pada tanggal 1-12-2012 ), saya harus dengan sangat jujur mengakui bahwa belum ada kegiatan atau acara yang mampu untuk kami banggakan dalam lingkup/skala luar kampus. Hampir semua kegiatan/acara yang telah mampu kami laksanakan hanya berkisar atau melibatkan hanya sivitas akademika kampus ini. Terkecuali untuk organisasi kerohanian Islam ataupun Nasrani yang mungkin sampai saat ini masih senantiasa konsisten menyelenggarakan berbagai macam kegiatan, baik secara ektern maupun intern, untuk memperingati setiap hari-hari besar keagamaan ( ritual keagamaan maupun sekedar hiburan semata ) walaupun harus juga diakui bahwa kegiatan yang diselenggarakan juga relatif stagnan atau monoton dan kalaupun dianggap sebuah keberhasilan, saya tak bisa untuk meng-klaim bahwa itu adalah hasil dari kerja keras saya atau setidaknya bisa mengatakan bahwa saya juga ikut serta dalam setiap kegiatan organisasi keagamaan tersebut karena saya memang tidak terlibat di dalamnya, sekalipun organisasi keagamaan itu “seharusnya” berada di bawah koordinasi saya atau kami, organisasi keprajaan. Tapi, sampai dengan detik ini, kami belum mampu untuk melaksanakan secara “kaffah” aturan organisasi yang telah dibuat, baik secara hierarkinya maupun koordinasinya. 

Seperti juga yang telah saya kemukakan dalam tulisan Bukan Permainan, kelemahan utama dan mendasar, atau lebih tepatnya pembelaan saya dari segala kekurangan organisasi keprajaan di kampus ini, berdasarkan murni apa yang saya rasakan serta perhatikan langsung adalah karena kurangnya dukungan serta pembinaan secara intensif dan menyeluruh dari Pembina ( Pengasuh biasa kami menyebutnya ). Tidak, saya tidak berarti menginginkan sebuah intervensi, karena bagaimanapun kami sudah berada pada level mahasiswa sehingga tak elok rasanya bila untuk urusan “kami sendiri”-pun kami masih harus digerakan oleh lembaga, tapi yang saya maksud di sini adalah pembinaan dalam arti mengarahkan dan memberi masukan serta arahan kepada kami dalam menjalankan organisasi keprajaan agar sesuai dengan segala aturan serta kebijakan lembaga dan juga Pembina yang ada. Sehingga apa yang menjadi keinginan dari kami tidak akan bertentangan dengan apa yang telah menjadi program serta kebijakan yang telah juga ditetapkan oleh para Pembina. 
Kami, selaku peserta didik, bagaimanapun juga harus taat dengan segala struktur, kultur, dan prosedur yang ada di lembaga tempat kami berada, dan karena kami adalah peserta didik, kami tak akan pernah tau “dapur” lembaga secara utuh dan disitu-lah saya pikir peran penting Pembina untuk kami, khususnya, yang berada dalam organisasi keprajaan, untuk bisa senantiasa berbuat, bertindak serta merencanakan suatu program kegiatan/acara yang sesuai dengan struktur, kultur dan prosedur lembaga. 

Ini penting karena kami bukan murni sekelompok mahasiswa, kami berseragam senantiasa terikat oleh segenap aturan. Ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman, tumpang tindih kegiatan, atau segala jenis tindakan tidak terkoordinasi lainnya. 

Jujur dengan kedaan kami yang seperti ini, dalam artian tidak “sebebas” mahasiswa pada umumnya, terkadang membuat kami atau saya khususnya menjadi ragu dalam bertindak dalam kaitannya untuk mengeksekusi sebuah rencana kegiatan yang telah tertuang dalam proposal kegiatan, terlebih untuk mencari setiap kekurangan dana yang kami butuhkan. 
Ya, kami mungkin kurang inisiatif, tapi ini bukan sepenuhnya karena kesalahan kami, atau sepenuhnya kami yang tidak kreatif serta inovatif, tapi sedikit banyaknya ini juga dikarenakan tidak ada pembinaan yang telah saya sebutkan pada paragraf sebelumnya. 

Pembinaan secara menyeluruh juga intensif, karena apabila pembinaan itu mampu untuk dilakukan secara baik dan terus menerus maka kami pun akan dengan sendirinya tau serta mengerti tindakan apa yang pertama kali harus kami lakukan ketika kami memeliki sebuah perencanaan kegiatan. Kami akan lebih mampu untuk bertindak sistematis serta realistis. 
Hal itu terlihat jelas ketika kami membuat sebuah kegiatan yang murni merupakan ide dari kami sendiri maka seringkali tindakan kami salah atau dianggap kurang tepat oleh Pembina karena memang kami tidak pernah diberitahu tahapan tindakan yang yang harus kami lakukan ketika kami mempunyai sebuah rencana kegiatan, tak ada prosedur resmi yang ditetapkan. Kemudian semua itu berbalik 180 derajat ketika ide itu ada di tangan Pembina dan kami hanya merupakan alat pelaksana, setiap kegiatan itu seperti lancar untuk terlaksanan karena memang Pembina telah mengetahui “cara” agar setiap kegiatan/acara bisa terlaksana dengan baik. 

Saat ini, setelah untuk kesekian kalinya, rencana kegiatan yang telah kami rencanakan tak bisa lagi untuk terlaksana, bahkan setelah kami juga membentuk panitia besar melibatkan setiap unsur yang ada di kampus ini, rencana kegiatan itu tak bisa untuk mendapatkan sebuah kepastian tapi pemandangan berbeda kemudian terlihat ketika sebuah ide kegiatan/acara yang sepenuhnya merupakan ide dari Pembina untuk memperingati suatu hari di bulan April, sungguh mulus terasa! 

Saya sungguh kecewa, tapi juga cepat berhenti untuk menyalahkan orang lain. Pun mengakui kesalahan serta menerima sendiri cacian dari ketidakmampuan menjalankan organisasi dengan baik, tak akan juga mampu membuat keadaan lebih baik. 

Well, at least four months left for me in this place, what can I do next? 

Belum ada kegiatan/acara yang mampu terkenang sepanjang masa, saya atau kami baru bisa sebatas berkoar menjanjikan serangkaian acara/kegiatan besar, mengumpulkan dalam sebentuk rapat panitia dan segala diskusi perencanaan lainnya, tapi saya masih miskin inisiatif masih juga belum mampu untuk menjabarkan segala perencanaan itu menjadi sebuah kegiatan/acara nyata di kampus ini. 

Saya tak bisa memungkiri, saya malu dengan kondisi ini dan saya minta maaf untuk setidaknya setiap janji kegiatan/acara yang tak mampu kami penuhi. Dan untuk kalian yang nantinya akan menggantikan setiap posisi yang kini kami tempati, sungguh kalian harus bisa lebih baik dari kami saat ini. Jangan pernah menjadikan patokan atau ukuran setiap ketidakberhasilan yang telah kami ukir di sini, tapi jadikanlah setiap impian serta misi besar kami yang belum terpenuhi itu sebagai juga semangat untuk kalian kelak nantinya. 
Ketika nanti kalian jauh lebih baik dari kami, sebisa mungkin saya tak akan kemudian iri hati pada kalian atau bahkan bersombong hati mengatakan bahwa kalian-lah hasil didikan kami, tidak, saya sendiri cukup tau diri, bila kalian lebih berhasil dari kami maka itu memang kalian yang berpotensi untuk itu. 

Saya mencoba untuk lebih mampu mengikhlaskan diri dengan segala kebaikan yang orang lain dapatkan juga ciptakan, sepanjang saya telah berusaha maksimal serta optimal. 

Sorry and stay #PMA..
please...

Jumat, 22 Maret 2013

#ThnksFrThMmrs



Saya selalu yakin dengan kalimat yang berkata bahwa, “ semua ada saatnya, semua akan indah pada waktunya”. 
Bagi saya segala sesuatu itu akan menjadi indah, akan terasa nilai manfaatnya apabila dalam kedaaan terbatas dan sesuai dengan porsi yang telah ditetapkan. Tidak melebihi, apalagi mengurangi. Saya mengartikan kalimat tadi sungguh sangat luas tapi tetap pada cakupan bahwa hidup itu memang butuh kesabaran, segala hal yang telah, sedang, dan akan terjadi itu tidak perlu untuk kita percepat, tak perlu juga kita perlambat, biarkan semua itu terjadi pada waktu yang memang telah ditetapkan untuknya. 
Tapi jangan juga kita mengartikan ini semua dengan perspektif yang salah, yaitu tidak mau berusaha maksimal dan hanya berpangku tangan. Tidak demikian, apa yang ingin saya sampaikan adalah kita tak bisa untuk memiliki surat izin mengemudi sebelum kita menginjak usia 17 tahun tapi itu tidak berarti kita tak boleh belejar mengemudi, iya ‘kan?  

Begitu halnya dengan apa yang sekarang ini sedang saya jalani, bukan saya tidak sedang bicara tentang pendidikan tapi saya hanya membicarakan tentang pelaksanaan praktek lapangan yang sedang dan akan segera berakhir ini. *take a deep breathe 

( bila anda masih belum terlalu memahami apa yang dimaksud dengan praktek lapangan maka ada baiknya anda terlebih dahulu membaca postingan saya terdahulu yang berbicara banyak tentang apa itu praktek lapangan atau pl

1 (satu) bulan, terhitung mulai tanggal 20 Februari s.d. 21 Maret 2013 merupakan suatu perjalanan waktu yang cukup lama apabila dilihat dari sudut pandang praktek ( bukan magang ) bagi peserta didik di tingkat 3 (tiga), yang bukan merupakan tingkat terakhir. Usia kami yang rata-rata masih berusia pada kisaran 20-an, disiplin ilmu yang juga masih begitu umum, serta tingkat pengalaman yang belum juga banyak membuat kami was-was untuk menjalani praktek lapangan ini, terlebih tempat kami praktek adalah satuan kerja perangkat daerah (skpd) di lingkungan pemerintah daerah kabupaten Pontianak. Pemilihan kab. Pontianak menjadi tempat Praktik Lapangan III bagi satuan Nindya Praja angkatan XXI IPDN Kampus Kalimantan Barat tentu bukan tanpa alasan dan tujuan tertentu. Selain karena memang kesediaan dari pihak pemda juga masyarakat, tapi bagi IPDN dengan dipilihnya Kab. Ptk sebagai tempat PL ini juga berfungsi untuk lebih mendekatkan, memasyarakatkan IPDN kepada masyarakat juga pemda Kab. Ptk tentang keberadaan IPDN Karena Kampus definitif IPDN di pulau Kalimantan, Provinsi Kalimantan Barat khususnya, akan dibangun di wilayah Kab. Ptk, Sungai Purun tepatnya. Sehingga dengan begitu pembangunan kampus IPDN kelak mampu untuk berjalan lancar tanpa ada suatu masalah apapun. 

Terlepas dari alasan politis itu, kami, saya, selaku peserta didik yang akan terjun langsung melaksanakan PL ini, tetap menyimpan beberapa kekhawatiran. 2 (dua) PL yang telah kami lewati, kami rasakan mampu untuk terlaksana dengan baik walaupun tak juga terlalu mulus. Permasalahan yang kentara dalam pelaksanaan PL terdahulu adalah sulitnya bagi lembaga dan juga pemda untuk mencari induk semang. Pada pelaksanaannya pun, apa yang saya, kami, rasakan, tanggapan dari pemda maupun masyarakat sungguh sangat biasa dan tak terlalu antusias. Tidak, saya tidak bermaksud untuk diperlakukan istimewa hanya karena saya berseragam. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kami ini masih dalam proses pendidikan, tanpa adanya lingkungan yang kondusif, penuh semangat, mana bisa kami belajar beradaptasi dengan baik? 
Terserah apabila anda menyebut ini sebagai sebuah pembenaran alasan bual belaka. 

Saya tak akan berbicara apa yang teman-teman saya rasakan karena saya yakin semua orang punya cerita dan kisahnya sendiri dengan segala versi “menarik” sesuai selera yang mereka miliki. Tapi, ini-lah yang saya rasakan, semua yang ada, semua respon yang mereka berikan sungguh sangat luar biasa. Bahkan saya merasa malu dan berdosa dengan semua itu karena saya merasa saya tidak melakukan apa-apa, saya tidak lantas memberikan sebuah perubahan positif pada tempat yang saya naungi, saya bukan juga pembawa tawa sehingga orang tertawa bahagia, atau pembawa solusi sehingga orang terbebas dari masalah hidup yang meracuni. Tidak, saya sama sekali tidak seperti itu. Saya sungguh biasa, bahkan terlalu sangat biasa. 

Saya sangat bersyukur dengan keluarga asuh (induk semang) yang saya dapatkan disini. Beliau sungguh baik, tak bisa untuk kemudian saya jelaskan terperinci. Semua itu semakin terlengkapi dengan keluarga besar beliau, sahabat serta seluruh warga yang ada dan tinggal di sekitar rumah beliau. Semua sangat ramah menerima saya dengan senyuman mengembang di wajah. 

Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan tempat kerja Praktik di Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten Pontianak. Di awal pengumuman sempat saya bergumam dan berpikir apa korelasinya ilmu yang saya dapatkan di kampus dengan tempat yang bernama dinas sosial, tenaga kerja, dan transmigrasi. Sempat saya begitu iri dengan teman-teman saya yang mendapatkan tugas di BKD dan juga SETDA yang menurut hemat saya begitu sesuai dengan apa yang saya pelajari. Tapi kemudian semua itu berubah 180 derajat ketika saya mendapatkan tugas untuk berada di bidang Hubinwasnaker. Sebuah suasana kerja yang santai, penuh canda tawa, tapi sama sekali tidak mengenyampingkan pelaksanaan tupoksi yang dimiliki oleh setiap orang di dalamnya. Saya tak pernah menyangka bisa begitu akrab dengan pegawai yang secara umur berada jauh di depan saya, saya begitu akrab. Mereka sangat ramah sehingga tak perlu waktu lama untuk saya bisa kemudian berbaur di dalam kantor itu. 

Penerimaan dan sambutan dari pemerintah daerah, baik purna praja maupun pegawai lainnya, juga dari masyarakat umum sungguh sangat di luar apa yang saya bayangkan, mereka sungguh menerima kami dengan sangat tangan terbuka. 
Ini mungkin klise, mungkin terdengar seperti gombal, tapi saya jatuh cinta dengan kota ini, walau memang kota ini seperti kota mati. Saya suka suasana seperti ini ketika bersepeda masih bisa dilakukan dengan begitu sangat nyamannya. Ketika malam datang menghampiri semua sunyi menemani lelapnya hari. Maka tak heran bila kemudian saya berat untuk harus melangkah pergi melanjutkan lagi pendidikan dalam sebuah siklus kehidupan. 

Akhirnya saya hanya mampu untuk merangkai kata ucapan Terima kasih banyak kepada : bang rudi beserta keluarga besar dan seluruh budak nusa indah lainnya ( bang ipin, bang very, bang buan, pak din, bang hen, dkk. ) terima kasih telah menjadi saudara baru bagi saya. 
Terima kasih banyak pada seluruh pegawai di dinas sosial, tenaga kerja, dan transmigrasi Kab. Pontianak, khususnya Pak Burhan, Bu Tri, Bu Linda, Bu Tin, Bu Heni, Bang Zaka, Bang Hari, Bang Eko, Bang Eko ( Tinggi ), Bang Ruslan, Bang Tata, terima kasih banyak atas canda tawa dan keramahan serta pengalaman kerja maupun hidup yang telah secara langsung maupun tidak langsung diajarkan kepada saya. 

Well, semua ini berkesan karena waktu kita terbatas, bila lantas tak terbatas saya tak yakin semuanya akan membekas. Saya hanya berharapa kita akan bertemu lagi, entah kapan, entah dimana, maafkan karena saya tak akan pernah bisa mampu untuk membalas segala kebaikan yang telah diberikan. 
Saya hanya memohon agar bapak/ibu/abang/kakak/adik/rekan semua di mempawah tidak lantas melupakan saya walaupun banyak alasan bagi kalian untuk kemudian bisa melupakan saya, ingat-lah saya dengan segala hal apapun kalian bisa mengingat saya. 

So long, mempawah.. 
Thnks fr th mmrs

Jumat, 08 Maret 2013

Broadcast lalu kontroversi

Berawal dari sebuah broadcast message pada hari Jumat, tanggal 8, bulan Maret, tahun 2013, pukul 15.09 WIB, dari seorang teman, yang isinya : 

Meneruskan amanat rekan kita,
Membakar Aset Negara ( Polres OKU diserang 90-100 anggota TNI, kantor polisi dibakar ) 

Salut buat TNI yang gagah berani berjuang membakar asset Negara. Padahal digaji dengan uang Negara. Bukannya menjaga kehormatan, kewibawaan Negara dan mempertahankan teritorial NKRI tapi malah aset Negara dirusak dan dibakar. 
Beda sekali dengan pasukan Kesultanan Sulu yang langsung bereaksi terhadap Malaysia, tapi belum pernah terdengar Jenderal kirim kami ke Malaysia untuk mengutuk hinaan ini!. Kecuali langkah diplomasi. Sementara dengan POLISI republik ini ( yang katanya saudara bungsumu) engkau tidak lakukan diplomasi (mediasi damai) ketika ada masalah, tapi langsung kau serang seolah-olah POLISI ini adalah musuhmu yang telah mengancam Negara ini. 
Saya tidak kecewa dengan tindakan brutalmu, jika kau imbangi dengan usahamu menegakan kehormatan, kewibawaan serta mempertahankan NKRI. Tapi sayangnya kamu hanya berani kepada saudara dan negaramu sendiri. Sementara terhadap bangsa asing, Kami belum melihat keberanianmu.. 
Yang setuju lanjutkan… 

*Suara Hati Kami Yang Masih Menyayangi POLRI”  

Cukup provokatif, bukan? 
Dan seketika itu juga, tanpa terlebih dahulu mendalami apa pokok masalahnya, saya dengan begitu saja kemudian meneruskan broadcast itu keseluruh kontak yang saya miliki. Sungguh sesuatu hal yang sebenarnya di luar prinsip yang saya yakini, melanggar hal yang telah saya tulis sendiri di banyak tulisan di blog ini. 

Saya sering mengatakan bahwa kita harus bersikap setelah terlebih dahulu kita benar-benar memahami pokok masalahnya, setelah terlebih dahulu melihat segala sesuatunya secara menyeluruh dari berbagai macam sudut pandang sehingga ketika nantinya kita kemudian memberikan suatu komentar atau bahkan penghakiman maka komentar dan penghakiman itu bisa untuk dipertanggungjawabkan, bukan justru menyulut permasalahan baru. 
But in the end, I’m just an ordinary man well it is my best excuse. I can’t undo my mistake, sorry dude! 

Maka tak perlu waktu lama setelah saya meneruskan broadcast itu ke seluruh kontak di ponsel saya, maka mulai-lah berdatangan beberapa pesan menunjukan respon dan reaksi mereka terhadap pesan yang telah saya kirimkan itu. 

Well, walaupun itu bukan pesan yang saya buat, tapi saya dengan sangat sadar telah ikut menyebarkan pesan itu maka saya juga ikut termasuk ke dalam orang yang menyulut kontroversi baru atau bahkan suatu api permasalahan baru yang justru akan memperkeruh suasana. 

Setidaknya ada tujuh pesan yang masuk ke ponsel saya ( hingga saya menuliskan tulisan ini ), tujuh pesan dari tujuh orang yang berbeda itu dua diantaranya benar-benar menunjukan reaksi yang keras nan kritis. Sempat terjadi suatu perdebatan karena walaupun jauh di lubuk hati dan otak paling rasional yang saya miliki saya telah menyadari bahwa saya ini salah, saya tidak begitu saja menyerah dalam perdebatan itu, saya pun tetap ngotot dengan segala pembenaran yang saya kemukakan. 
Tidak, saya tidak dengan emosi melakukan debat kata-kata melalui pesan dengan mereka, saya lakukan itu dengan santai tapi tetap dengan ego yang tinggi hingga akhirnya saya pun mengaku “kalah” tapi tetap dengan kata-kata yang berlagak “diplomatis” bukan suatu kata lugas apa adanya. 
Well, sorry again, my friend! 

Saya tidak mendukung POLISI atau juga fans dari TNI, saya pun sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan permasalahan yang terjadi di Sumatera Selatan itu. Saya hanya tidak pernah setuju dan suka dengan segala bentuk kekerasan, main hakim sendiri, pengrusakan, dan segala macam bentuk tindakan destruktif lainnya, yang secara jelas dan nyata telah melanggar segala hukum positif yang ada, terlebih oleh oknum pegawai bersegaram yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat.  

Saya mungkin konservatif, tapi aturan itu ada untuk kita taati, untuk memberikan dan menciptakan ketertiban dalam hidup kita sehari-hari. Kita tidak lagi cukup bodoh untuk hidup di dunia dengan menggunakan hukum rimba, kita semua punya agama dan hidup di suatu Negara, semua tentu ada aturan mainnya. Tapi saya pun tidak cukup gila untuk selalu berusaha menegakan aturan atau kebijakan tanpa adanya suatu kebijaksanaan, bukankah kita juga mengenal istilah Tampung Tantra dalam sistem pemerintahan? 
Pada akhirnya, hukum memang tidak boleh lebih tinggi dari manusia itu sendiri. Tapi sepanjang aturan itu untuk menciptakan ketentraman, ketertiban serta keteraturan, lantas mengapa harus kita langgar? 
Segala sesuatu itu menjadi indah, dan berguna apabila terbatas dan dibatasi oleh aturan. 
Bukankah segala sesuatu itu ada saatnya? Ada porsinya? Semua indah pada waktunya. Dan adil itu menempatkan segala halnya sesuai dengan porsinya 'kan? 

Cobalah kita renungkan, misalnya aturan agama, hukum alam atau sunatullah yang membatasi pendengaran kita, bayangkan bila pendengaran kita tidak memiliki batasan suara dalam mendengar segala sesuatu yang ada di dunia ini? Apakah kemudian kita mampu untuk tertidur pulas di malam hari? 
Kaitannya dengan hukum dunia, ketika lampu merah kita harus berhenti lantas kita tidak mengindahkannya, apa jadinya lalu lintas yang ada? 
Kemudian dengan masalah TNI dan POLISI ini, yang katanya TNI menuntut keadilan dan kejelasan mengenai kelangsungan proses hukum terhadap oknum POLISI yang menembak mati rekan mereka, maka bukankah Indonesia itu punya aturan tentang itu semua? 
Saya pikir TNI apalagi POLISI lebih mengerti tentang hal itu. Lantas apabila mereka ( TNI ) merasa kurang puas dengan proses hukum yanga ada, apakah memang harus dengan cara destruktif seperti itu? 
Apakah itu tidak justru menambah permasalahan baru? Niat yang baik tak akan menjadi baik tanpa dilakukan dengan cara yang baik dan juga benar. 
Apabila seperti itu, untuk apa kemudian hukum itu dibuat? Bila seperti itu maka biarkan saja mereka yang kuat berkuasa. Kita tak mau seperti itu, iya 'kan? 

Maka satu-satunya alasan kenapa saya kemudian meneruskan broadcast itu keseluruh kontak yang saya miliki hanya berlandaskan satu alasan bahwa saya pikir segala bentuk perbuatan destruktif apalagi yang menggangu ketentraman dan ketertiban dalam suatu kehidupan masyarakat, apapun alasan yang melatarbelakanginya, tak bisa untuk kemudian kita benarkan apalagi budayakan. 
Ayolah, apa keuntungan dari segala perbuatan itu, kawan? 
Tapi saya kemudian menjadi salah karena meneruskan broadcast itu, yang memang setelah saya cermati lebih lanjut, dengan segala masukan, kritikan dari beberapa teman yang saya miliki, memang lebih akan menyebabkan fitnah, provokasi, daripada pesan anti-tindakan destruktif yang ingin saya sampaikan. Dan ini adalah contoh lain dari niat yang sebenarnya baik tapi tidak terimplementasikan melalui cara yang baik apalagi benar. 

Memang hanya tujuh teman yang memberikan respon langsung kepada saya, tapi mungkin lebih dari itu banyak lagi teman-teman saya yang akan memberikan respon dan tafsir yang berbeda terhadap pesan yang telah saya sampaikan itu. 

Setidaknya beberapa kesalahan informasi yang ada di broadcast itu, kesalahan mendasar yaitu bahwa bukan hak atau wewenang TNI untuk melakukan “serangan” terhadap pihak luar atau Negara lain, karena sesuai dengan UUD 1945, Pasal 10, Presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas AD, AL, dan AU lalu kemudian pada Pasal 11 disebutkan bahwa Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain. Maka jelas secara konstitusi, bukan salah TNI ketika TNI tidak bergerak ketika banyak Negara lain yang menganggu kehormatan atau keutuhan Negara kita, karena TNI hanya alat, mereka hanya menunggu untuk digerakan oleh Presiden RI. Sehingga argumen yang ada dalam broadcast itu jelas salah, dan sangat beresiko untuk menimbulkan fitnah. 
Well, as I said earlier, I can’t undo my mistake. 

Saya salah, saya akui, saya lakukan klarifikasi, tapi saya tak akan lari dari konsekuensi. 
Ini jelas pelajaran berharga untuk saya di kemudian hari untuk benar-benar melaksanakan apa yang telah menjadi prinsip saya, apalagi telah saya tuliskan di beberapa tulisan saya terdahulu, yaitu hanya bertindak ketika memang telah melihat secara menyeluruh dan memahami benar apa yang yang menjadi pokok permasalahan, secara substansi maupun redaksi, apabila tidak maka diam itu akan menjadi emas. 

Maaf untuk segala pihak yang merasa tersakiti, I mean it! 

Peace, Cheers, Enjoy, and #PMA! ;)

Minggu, 03 Maret 2013

Bukan Permainan



Permendagri No. 36 tahun 2009 tentang Statuta
IPDN BAB XIX 
ORGANISASI PRAJA DAN DEWAN KEHORMATAN PRAJA /MAHASISWA 
Pasal 65 
(1) Di IPDN dibentuk Organisasi Praja sebagai wadah pengembangan minat, bakat, dan kepemimpinan Praja. 
(2) Ketentuan mengenai organisasi dan tata kerja organisasi praja diatur dengan peraturan Rektor. 
Pasal 66 
(1) Di IPDN dapat dibentuk Dewan Kehormatan Praja/Mahasiswa sebagai satuan organisasi independen yang bertugas memberikan pertimbangan kepada Rektor atas pelanggaran tata kehidupan praja. 
(2) Ketentuan mengenai organisasi dan tata kerja Dewan Kehormatan Praja dan Mahasiswa diatur dengan Peraturan Rektor. 

LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI Nomor : 46 TAHUN 2009 Tanggal : 29 September 2009 Tentang : KEGIATAN PENGASUHAN PRAJA INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI 
4.Organisasi Keprajaan dan Dewan Kehormatan Praja 
a.Organisasi Keprajaan 
1) organisasi Keprajaan, adalah organisasi senat kemahasiswaan perguruan tinggi kedinasan bagi praja, yang diselenggarakan dari, oleh, dan untuk praja di lingkungan institut pemerintahan dalam negeri dan mempunyai tugas pokok menyelenggarakan kegiatan kemahasiswaan dalam meningkatkan kreativitas, minat, bakat, seni dan kemampuan olah organisasi; 
2) organisasi Keprajaan praja bertujuan 
a) Memberikan gambaran dan kesempatan praktek berorganisasi guna mengembangkan kepemimpinan, kepelayanan dan kenegaraan; 
b) sebagai wadah dan penyalur aspirasi, potensi serta kegiatan praja yang bermanfaat dan mendukung tercapainya tujuan pendidikan; dan 
c) untuk memberi kesempatan menjalin hubungan sosial dengan lembaga pendidikan atau instansi lain di luar ipdn, baik di dalam maupun di luar negeri setelah memperoleh ijin tertulis dari rektor ipdn. 
3) struktur Organisasi Korps Praja dan tata kerja ditetapkan dengan peraturan Rektor.  

Saya setuju dengan sebuah statement yang mengatakan bahwa kecerdasan emosional seseorang akan terbentuk dengan sangat baik juga matang seiring dengan kemampuan orang tersebut bersosialisasi dengan orang lain dalam sebuah komunitas atau organisasi. Tapi walaupun memang sudah lama saya setuju dengan argument seperti itu pada kenyataannya saya baru terlibat aktif, benar-benar berpartisipasi dalam sebuah organisasi ketika saya telah menjadi seorang mahasiswa ( praja ). Ketika saya masih duduk di bangku SMP dan juga SMA saya benar-benar tidak melihat suatu hal yang menarik dalam organisasi yang ada pada waktu itu walaupun secara nyata saya telah setuju dengan argument yang saya kemukakan di awal tadi. 
Ironi, bukan? 
Tapi semua hal baik tentang berpartisipasinya kita dalam sebuah organisasi tak mampu untuk saya rasakan secara penuh sekarang ini. Dalam bayangan saya ketika saya masih duduk di bangku SMP ataupun SMA, ketika saya melihat banyak teman saya yang aktif di dalam organisasi, mereka sungguh sangat sibuk, mempunyai keterampilan lebih dalam berkomunikasi dengan banyak orang, mempunyai pengalaman dalam melakukan koordinasi, membuat kegiatan, mengadakan rapat, evaluasi, dan segala hal lainnya yang tak mungkin untuk didapatkan dalam mata pelajaran sehari-hari dalam kelas. Walaupun memang harga yang harus mereka bayar ketika mereka aktif dalam organisasi mereka harus dengan besar hati agak meninggalkan pelajaran dalam kelas, mereka agak tertinggal, tapi sungguh hanya sedikit saja. 

Hal-hal seperti itu yang semakin memotivasi saya, semakin memantapkan hati ini untuk aktif dalam organisasi yang ada di perguruan tinggi tempat sekarang ini saya menuntut ilmu, terlebih dengan kenyataan bahwa masa depan saya telah terukir ( hampir ) pasti untuk masuk ke dalam sebuah sistem pemerintahan Indonesia yang penuh dengan budaya organisasi yang tak akan mungkin kita akan mengerti apabila kita tidak membiasakan dengan budaya tersebut. 
Apalagi organisasi kemahasiswaan di Perguruaan tinggi ini telah diselaraskan dengan struktur, kultur, dan prosedur yang ada dalam organisasi pemmerintahan tempat kita kerja nantinya sehingga tak ada alasan lagi bagi saya untuk mengelak dan tidak ikut berpartispasi dalam sebuah organisasi. 

Jauh api dari panggang, ya saya pikir pribahasa itu yang pantas untuk menggambarkan apa yang terjadi dalam organisasi kemahasiswaan yang ada di tempat ini. 
Bagaimana tidak? 
Aturan telah ada, semuanya saya pikir telah jelas tertera di dalamnya, acuan ataupun contoh nyatanya pun telah jelas terpampang dalam pemerintahan yang ada di Indonesia tapi entah kenapa dalam implementasinya yang saya rasakan, ( murni pendapat saya pribadi ) organisasi ini tak lebih baik dari organisasi yang ada ketika saya duduk di bangku SMP atau SMA. Semuanya absurd
Apa yang ada di sini hanya unggul terlihat dari segi penampilan dengan segala atribut yang ada menyertainya, tapi dari segi pelaksanaan organisasi saya pikir sungguh sangat tidak mencerminkan kelas atau standar sekelompok orang mahasiswa. Ketika dengan sangat jelas pemerintahan kita menganut sebuah asas legalitas dalam menjalankan pemerintahannya justru kader-kader aparatnya dididik tidak terbiasa dengan asas legalitas. Saya pikir organsiasi ini bukan sebuah organisasi main-main, tapi sangat jelas telah diatur bahkan oleh sebuah peraturan menteri yang kemudian dijabarkan lebih lanjt dalam peraturan rektor. Tapi sekali lagi kita menunjukan bahwa kita sangat baik dalam membangun komitmen tapi buruk dalam pelaksanaan konsistensi. 

Ini masalahnya : jenjang pendidikan bukan tanpa alasan dibuat dengan cara berjenjang, bertingkat, dan berkelanjutan, tentu itu semua menyesuaikan dengan tingkat kemampuan peserta didik di dalamnya. Jadi ketika di SMP atau di SMA bayangan sebuah organisasi itu mampu uuntuk begitu sibuknya, begitu sangat hebatnya dalam menjalin koordinasi dan membuat sebuah kegiatan besar, maka seharusnya organisasi yang ada dalam perguruan tinggi bisa bahkan harus lebih dari itu. Tapi yang ada adalah semua berjalan hanya berdasarkan perintah lisan yang setiap orang, setiap harinya bisa berubah dengan cepat, tak ada mekanisme atau tahapan yang jelas bagi pengurus organisasi ketika akan menjalankan sebuah kegiatan sehingga ketika pada satu titik pengurus organisasi itu berinisitaif untuk membuat kegiatan/acara, mereka justru dipersalahkan. 

Lalu dalam kesempatan ini pun saya akan mengemukakan ketidaksetujuan saya terhadap kalimat yang mengatakan bahwa yang terpenting dalam merencanakan dan menjalankan sebuah program/kegiatan atau acara adalah kreatifitas, damn what a bullshit!! 
Ya, itu penting, tapi tolong lihat realita, kreatifitas tanpa adanya dana dalam sebentuk uang, maka juga tak akan berarti apa-apa. Dan itu juga yang kami alami di sini, ketika rencana itu mampu untuk tersusun sistematis tapi harus hancur berlebur sangat berantakan dalam tahapan pelaksanaan karena tak ada dana untuk menjalankanyya. Tapi hal yang terpedih dari semua itu, lebih pedih dari tidak adanya dana untuk menunjang jalannya suatu kegiatan adalah ketika tak ada dukungan positif, tak ada antuasiasme dari segenap unsur yang ada dalam tempat akan diselenggarakannya acara/kegiatan itu. 

Bila semua itu tak ada? Untuk apa organisasi itu ada?
damn!

but whatever, just enjoy it and keep PMA! :)