Kamis, 08 Desember 2016

Ibnu Qayyim bicara Cinta

RABU, 8 RABI’UL AWWAL 1438 H / 7 DESEMBER 2016
09.20 WIB


“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman : ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An-Nuur : 30-31)

“Tidak ada fitnah yang lebih berbahaya sepeninggalku bagi seorang laki-laki selain dari (fitnah) wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
 ***
 
Adakah yang tidak mengetahui nama sekaliber Ibnu Qayyim Al Jauziyah? Ada?

Ibnu Qayyim Al Jauziyah, mempunyai nama lengkap Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’ad bin Hariiz bin Maki Zainuddin az-Zura’I ad-Dimasyqi al-Hanbali. Dari beberapa sumber yang saya dapatkan dari internet, dikatakan bahwa nama Ibnu Qayyim Al Jauziyah diberikan karena ayah beliau adalah penjaga (qayyim) di sebuah sekolah lokal yang bernama Al-Jauziyyah.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah dilahirkan di Damaskus, Suriah pada tanggal 4 Februari 1292 dan meninggal pada 23 September 1350. Beliau adalah seorang cendekiawan Islam yang hidup pada abad ke-13. Selain dikenal sebagai ahli Tafsir, ahli hadits, penghafal Al-Quran, ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam, sekaligus seorang mujtahid, beliau pun tak diragukan lagi dalam bidang kedokteran dan psikologi.

Oleh karena itu, salah satu karya tulis beliau di luar bidang ilmu syariat yang cukup fenomenal adalah buku yang berjudul Raudhatul Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqin. Buku tersebut kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul Taman Orang Jatuh Cinta Tamasya Orang yang Terbakar Rindu (Semua Hal Mengenai Cinta).

Di dalam Mukadimah buku Raudhatul Muhibbin wan Nuzhatul Musytaqin, Ibnu Qayyim menjelaskan secara panjang lebar bahwa di dalam setiap jiwa manusia terdapat nafsu dan akal. Idealnya nafsu dan akal harus saling melengkapi satu sama lainnya dengan aturan yang telah digariskan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. 
 
Secara lebih speisifik, Ibnu Qayyim mengatakan bahwa nafsu memang terlahir lebih “kuat” daripada akal. “Allah Swt. telah menjadikan nafsu dapat mengendalikan jiwa, memerintah kepada keburukan, hawa nafsu menerkam dan menjadi penyakit bagi jiwa yang tenang, dan tidak ada obatnya kecuali dengan menentangnya.”

Karena kecenderungan kuatnya hawa nafsu dan kecenderungan kekuatan tersebut mengarahkan setiap manusia pada keburukan, maka manusia harus dengan sekuat tenaga mampu melawan hawa nafsu yang ada dalam hatinya. Hal itu dikarenankan, “Surga dijadikan terhalangi oleh berbagai ketidaksenangan sebagai bentuk perlindungan dari nafsu-nafsu dunia yang hanya melahirkan kehinaan.” 
 
Maka Ibnu Qayyim berupaya untuk menyusun sebuah kitab yang beliau khususkan untuk memberikan nasihat guna menyeimbangkan antara nafsu dan akal yang berlandaskan pada ketentuan Allah Ta’ala. Aturan Allah Azza wa Jalla perlu untuk dijadikan prioritas karena di setiap perintah yang Dia gariskan pasti memiliki kebaikan dan kemaslahatan, begitu juga sebaliknya dalam setiap larangan-Nya adalah sebagai bentuk pemeliharaan dan penjagaan dari-Nya untuk manusia. Karena Dia adalah Sang Khaliq.

Bagi saya secara pribadi, mengetahui bahwa ada ulama besar yang secara khusus menuliskan sebuah kitab yang membahas seluk beluk tentang cinta adalah sesuatu yang sangat menggembirakan sekaligus melegakan. Itu berarti ada nasihat-nasihat tentang permasalahan cinta yang sesuai dengan tuntutan ajaran Islam. Karena urusan cinta adalah masalah atau bahkan “musibah” psikis yang sering saya hadapi.
***

Sebagian orang-orang salaf menafsirkan ayat, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.” (QS. Al-Baqarah : 286) Bahwa yang dimaksud beban yang tidak sanggup dipikul dalam ayat tersebut adalah al-‘Isyqu (cinta buta). Hal ini tidak mereka maksudkan sebagai kekhususan, tetapi yang mereka maksud adalah tamtsil. Karena pada kenyataannya, cinta itu tidak akan sanggup untuk dipikul. Yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah beban yang terkait dengan takdir, bukan yang berhubungan dengan hukum syari’at.

Rasa-rasanya saya sering memikul beban yang dimaksudkan oleh tafsiran sebagain orang salaf di atas. Terutamanya kini, ketika keinginan untuk menikah itu sangat menggebu. Saya justru tertarik atau diberikan rasa dengan wanita yang secara teori memang akan sulit untuk bersama.

Dimulai dengan wanita yang telah memiliki pemahaman agama lebih dari saya sehingga dia tak bisa menerima beberapa kesalahan masa lalu yang terbawa hingga sekarang. Akibat dari pemahaman agama yang dangkal di masa lalu, maka beberapa keputusan kehidupan pun saya sandarkan pada bodohnya ilmu agama. Jadi ya, ada beberapa yang harus saya tanggung sampai dengan beberapa tahun kedepan. Dan jatuh cinta pada wanita yang telah sangat memahami agama tentu sulit untuk terbalaskan.

Yang terjadi selanjutnya pun tak masuk di akal. Saya tak lagi mencari wanita dengan pemahaman agama yang telah matang. Saya menjatuhkan perasaan pada wanita yang masih berusaha menjadikan agama sebagai prioritas. Dan tawaran pun kembali tak terbalas karena agama yang belum dia jadikan sebagai landasan maka urusan pernikahan belum mendapatkan skala prioritas dalam hidupnya.

Hari berganti hari, nasihat ulama tentang keutamaan pernikahan tak bisa saya pungkiri. Saya tak bisa berpura-pura tak punya birahi. Terlebih di zaman penuh fitnah, syubhat dan syahwat bertebaran di sana-sini. Terbayangi oleh beberapa masa lalu yang cukup keji. Maka pernikahan telah wajib bagi saya secara pribadi. 
 
Karena klaim “hijrah” belum sempurna tanpa pernikahan. “Siapa yang menikah berarti telah menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu bertaqwalah kepada Allah untuk setengah yang kedua.” Makna hadis ini bahwa nikah akan melindungi orang dari zina. Sementara menjaga kehormatan dari zina termasuk salah satu yang mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surga. Beliau mengatakan, ‘Siapa yang dilindungi Allah dari dua bahaya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, yaitu dilindungi dari dampak buruk mulutnya dan kemaluannnya.’ (Tafsir al-Qurthubi, 9/327) https://konsultasisyariah.com/26085-makna-hadis-menikah-menyempurnakan-setengah-agama.html

Belajar dari 2 (dua) pengalaman, saya pun “berusaha” untuk menahan rasa tak terjatuh pada wanita yang sekiranya sulit untuk bersama. Tapi apa mau dikata, rasa selalu saja datang tak disangka. Rasa itu muncul pada seorang wanita yang memang bila dilihat dari agama tak banyak berbeda dengan saya. Dia sepertinya mulai meniti jalan “hijrah” tapi kami terpisah jarak. Tapi itu-lah rasa, terus melaju dan akhirnya tak juga terbalas. Dia sulit meninggalkan kampungnya karena kesehatan orang tua jadi penyebabnya.

Seakan belum puas dengan 3 (tiga) kali penolakan dalam kurun waktu 6 (enam) bulan, perasaan itu kembali menuntun saya menawarkan sebuah perkenalan untuk pernikahan (ta’aruf) kepada wanita. Tapi lagi, lagi, dan lagi tertolak. Kali ini dengan alasan dia telah ber-ta’aruf dengan lelaki lain.

Itu-lah alasannya kenapa saya merasakan bahwa tafsiran beberapa orang salaf terhadap salah satu firman Allah Ta’ala yang telah saya sebutkan di atas, sangat sesuai dengan kondisi saya saat ini. 
 
Kenapa saya dianugerahi sebuah perasaan yang tak bisa untuk terbalaskan? Dan justru situasi ini berada di saat saya benar-benar ingin mengenal wanita sesuai syariat Islam dan menyegerakan pernikahan. 
 
Ketika dulu, saya mendekati wanita dengan mengacuhkan segala aturan-Nya dan tanpa pemikiran untuk menikah dalam waktu dekat, semua rasa itu selalu bisa terbalaskan. Allahuakbar!

Tapi pertanyaan saya kemudian terjawab tuntas oleh Ibnu Qayyim. Beliau dengan sangat cerdas memberikan nasihat bahwa perkara rasa, apakah sekedar suka, cinta atau sayang, memang bukan sebuah pilihan. Perasaan muncul atas kehendak Allah Ta’ala karena Dia yang membolak-balikan hati manusia. Tapi semua perasaan itu bisa datang dengan cara yang tercela atau terpuji, bisa datang bertubi-tubi atau seimbang, sungguh kita yang bisa menentukan. Karena perasaan adalah sebuah hasil yang diawali oleh pandangan!

Analogi Ibnu Qayyim adalah seperti keadaan mabuk minuman keras. Ketika kita meminum minuman keras maka menjadi mabuk bukan sebuah pilihan. Kita tak bisa lantas memilih menjadi mabuk atau tidak, bila telah meminum minuman keras. 
 
Tapi kita bisa memilih untuk tidak meminum atau meminum minuman keras. Maka dalam perkaras rasa, bila pandangan tak bisa kita jaga dengan baik, kita umbar pandangan menuruti hawa nafsu, maka jelas rasa akan muncul dengan sangat cepat tanpa bisa dikendalikan. “Tidak dapat kita sangkal bahwa mengumbar pandangan dan terlena dengan pikiran sama kedudukannya dengan orang mabuk karena minum arak. Yaitu dicela karena sebab yang diperbuatnya. Apabila cinta tersebut ada karena sebab yang tidak dicela maka tentu cinta itu tidak akan dicela.”

"..., dapat kita katakan bahwa benih-benih cinta serta sebab pemicunya merupakan hal yang bersifat ikhtiyari (pilihan) yang keberadaannya di bawah kewajiban yang dibebankan. Pandangan, pikiran dan kehendak untuk mencintai adalah urusan yang bersifat ikhtiyari. Dan apabila ada sebab, maka hal yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang tidak ikhtiyari lagi, seperti disebutkan dalam untaian sya’ir :
Ia larut dalam gelombang cinta yang membara
Dan ketika cintanya surut, ia tak lagi berdaya
Gelombang ombak ia tak sangka sebagai riak
Saat menggulung, ia tenggelam berteriak
Dia berharap dosanya tersisir
Namun dia tak sanggup lagi untuk berpikir"


Untaian argumen atau nasihat dari ulama sekaliber Ibnu Qayyim seperti menampar saya sangat keras. Saya tak bisa menyalahkan siapapun dari hadirnya rasa ke dalam hati selain diri saya sendiri. Saya yang mungkin belum bisa menjaga pandangan dengan sangat baik, maka saya pun harus merasakan akibatnya. Saya bingung dengan banyaknya rasa yang harus saya rasakan. Rasa yang harus dengan tragis tak terbalaskan. “Wahai Ali, jangan engkau perturutkan pandangan dengan pandangan selanjutnya. Bagimu hanya pandangan pertama (yang tidak disengaja), sedangkan tatapan kedua dan seterusnya adalah bukan hakmu.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)

“Pandangan adalah anak panah iblis yang beracun. Barangsiapa yang dapat menahan pandangannya dari keelokan perempuan maka hatinya akan dianugerahi kenikmatan di alam hatinya, yang akan dia rasakan sehingga hari pertemuan dengan-Nya.” (HR Hakim dan Thabrani)
***

Berkenaan dengan pertanyaan atau keanehan saya tentang penolakan yang datang secara simultan, padahal apa yang saya tawarkan adalah sebuah konsep syariat dan kepastian. 
 
Tapi dulu ketika yang saya berikan menyalahi aturan dan tidak ada kepastian, rasa itu terbalas dan jiwa itu saling bertautan. Maka itu pun erat berkaitan dengan dosa-dosa yang sepertinya masih saya rutinkan. 
 
Pembahasan yang telah saya uraikan pada tulisan Musibah, juga setali tiga uang dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim. “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq : 2-3) Dengan ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa apabila seseorang bertakwa, lalu meninggalkan cara yang tidak halal, maka Allah akan memberikan rezeki padanya dengan jalan yang tidak disangka-sangka. Demikian halnya dengan seorang pezina, seandainya dia mau meninggalkan zina yang diharamkan syariat, niscaya Allah Ta’ala akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dan halal."

Maka Allah Ta’ala belum memberikan saya sebuah hubungan yang halal, karena mungkin saya masih merutinkan beberapa perbuatan yang melanggar syariat-Nya. 
 
Ya, saya tak bisa begitu saja meminta kebaikan bila ternyata masih ada keburukan yang saya kerjakan. Saya harus terlebih dahulu memperbaiki diri sebaik-baiknya, dan meluruskan serta mengikhlaskan niat bahwa semua yang saya kerjakan memang benar untuk mengharapkan ridho dan rahmat-Nya, bukan untuk kepentingan dunia yang hina dan fana.

Well, mendengarkan atau membaca nasihat ulama yang berlandas pada Al-Qur’an dan Hadits memang selalu menenangkan jiwa. Agama Islam memang sebuah solusi bagi segala keruwetan hidup. 
 
Semoga kita semua selalu diberikan hidayah untuk terus mencari dan mengamalkan setiap ilmu. Dan semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan bagi saya dan kita semua yang belum menikah, untuk menemukan wanita sholehah dan menyegerakan pernikahan. Aamiin.
 
#PMA

Jumat, 02 Desember 2016

Musibah

KAMIS, 2 RABI'UL AWWAL 1438 H / 1 DESEMBER 2016
17.15 WIB

"Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."
As-Syura, ayat 30 

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahwa musibah yang menimpa kalian tidak lain adalah disebabkan karena dosa yang kalian dahulu perbuat. Dan Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kalian tersebut. Dia bukan hanya tidak menyiksa kalian, namun Allah langsung memaafkan dosa yang kalian perbuat."

"Kalau anda melihat seseorang didzalimi/disakiti oleh manusia, lalu dia tidak mengembalikan kasus itu kepada dirinya sendiri, tidak mengevaluasi diri, tidak mengaudit diri dan tidak menyalahkan kesalahan/dosa-dosanya kemudian tidak ber-istigfar, maka ini-lah musibah yang sesungguhnya."
Ucapan Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah rahimahullah yang dinukil oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri pada kajian/ceramah Islam, dengan judul "Ketika Pesona Taman Surga Mulai Memudar"

***

Apa sih musibah?

Saya akan kemukakan dua pendapat untuk memberikan gambaran apa yang dimaksud dengan musibah. Berdasarkan Tafsir Al Qurthubi, musibah adalah segala sesuatu yang menyusahkan/menyakiti seseorang yang menimpa dirinya.

Adapun menurut KBBI, musibah diartikan sebagai kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa dan malapetaka (bencana).

Dari dua definisi di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa musibah pada hakikatnya adalah segala bentuk peristiwa yang tidak sesuai dengan keinginan/harapan.

Respon yang kemudian biasa muncul adalah kecewa. Bila hanya sekedar kecewa, itu hal yang sangat manusiawi. Tapi bila kekecewaan itu diiringi oleh beberapa sikap negatif, semisal marah, menyalahkan orang lain, dan berbagai ekspresi yang semisalnya, maka musibah yang terjadi menjadi sebuah pintu gerbang bagi keburukan.

Lho? Memangnya musibah bisa mendatangkan kebaikan?

Ya, Insya Allah sebuah musibah justru bisa menjadi awal dari banyaknya kebaikan. Hal itu bisa didapatkan apabila kita konsisten dalam menjadikan Islam sebagai pedoman hidup serta menempatkan Islam sebagai prioritas dalam kehidupan.

Di dalam konsep Islam (koreksi dan maafkan saya bila ada kekeliruan/kesalahan), setiap musibah baik yang bersifat fisik ataupun psikis, harus dijadikan sebagai sarana untuk menginstropeksi atau evaluasi diri.

Karena konsep Islam menyatakan bahwa kita akan memetik buah dari setiap perilaku yang telah kita tanam. Tak peduli apakah perilaku itu kita lakukan secara sadar atau tidak, semuanya akan mendapatkan konsekuensi. Sehingga Islam "memaksa" umatnya untuk senantiasa peka, tanggap, dan mawas diri dengan apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan.

Berkaitan dengan musibah, maka Islam tidak pernah merekomendasikan umatnya untuk menyalahkan orang lain atau marah, Islam justru menginginkan kita untuk berpikir dan memeriksa secara utuh menyeluruh apa yang telah kita lakukan. Konsep seperti itu mengajari untuk bersikap ksatria. Kita-lah yang menjalani kehidupan jadi kita yang harus mengambil tanggung jawab secara penuh terhadap semua yang terjadi di dalamnya.

Jadi kebaikan yang akan didapat ketika musibah datang adalah kita bisa menjadikan moment tersebut untuk mengevaluasi diri. Karena mungkin saja tanpa adanya musibah kita terlena begitu saja menjalani kehidupan. Kita lupa untuk menginstropeksi diri, mungkin ada dosa yang kita rutinkan atau beberapa sikap yang melukai orang lain. Atau bahkan bila tanpa datangnya musibah kita terlalu nyaman menjalani kehidupan dan meninggalkan beberapa perintah Allah Ta'ala.

Maka dengan adanya musibah kita pun bisa menyadari betapa lemahnya kita sebagai manusia dan Allah Ta'ala adalah sandaran yang selalu bisa kita andalkan. 
Wallahu'alam.

***

Saya katakan di awal, konsep hidup di atas tak akan bisa diterima bila Islam belum melekat di dalam hati. Karena dalam keadaan tertekan ketika musibah datang, maka sebuah konsep berpikir menyalahkan diri sendiri adalah sebuah konsep yang tak masuk di akal.

Bagaimana mungkin kita yang sedang disakiti oleh seseorang, dan kita harus menyalahkan diri sendiri? Bukankah telah jelas pelakunya?

Ya, bila mengedepankan rasa dan akal manusia, maka tak akan bisa diterima. Tapi bila indahnya Iman dan nikmatnya Islam telah menggenggam erat seluruh jiwa raga, wahyu Allah Ta'ala di dalam Al-Qur'an serta sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, walaupun tidak bisa kita mengerti secara akal atau bahkan bertentangan dengan realitas yang ada, Sami'na Wa Athona.  

Demi Allah, Al-Qur'an tidak akan pernah salah dan Hadits Shahih tidak mungkin bohong! 

Bila dilihat dalam sudut pandang yang lebih luas, maka sebenarnya Islam mengajarkan sebuah pola hidup positif. Islam mengajak manusia untuk hidup secara optimis. Islam tidak ingin manusia salah dalam bersikap terutama dalam kondisi yang tidak sesuai dengan harapan.

Bahwa berpikir dan mencari solusi adalah hal yang harus dikedepankan bukan sibuk mencari dan menyalahkan orang lain atau menumpahkan emosi. Karena mari kita renungkan bersama, apakah dengan melempar tanggung jawab, mengeluh, marah, dan berbagai ekspresi yang semisalnya, kemudian sebuah musibah itu akan selesai?

Kita tentu akan sepakat mengatakan bahwa musibah tak akan bisa menghilang atau reda bila hanya dihadapi dengan emosi. Dan itu-lah sikap yang diinginkan oleh Islam.

Hanya saja manusia ketika berada dalam posisi tertekan, berada dalam situasi yang tidak dia inginkan maka nafsu seketika menguasainya. Dan sungguh tak ada hukum bagi mereka yang emosi.

Sehingga sebelum emosi mengambil alih kewarasan, maka Islam masuk didalamnya, mengatur sedemikian rupa hingga kita menyadari bahwa emosi itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. 

***

Sungguh menulis rangkaian kalimat ini lebih mudah saya lakukan daripada  mengimplemntasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Hakikat ilmu dan berbagai nasihat dari guru adalah untuk menghilangkan kebodohan dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Bukan untuk dijadikan retorika di berbagai macam media sosial.

Berkenaan dengan itu, saya yang masih sangat bodoh dan masih sangat membutuhkan banyak nasihat memutuskan untuk me-reset beberapa media sosial yang saya miliki (Line, Twitter, dan Instagram).

Karena sekali lagi hakikat ilmu adalah implementasi, bukan publikasi. Semoga Allah Ta'ala memudahkan kita semua untuk mencari dan mendapatkan ilmu serta mengamalkan apa yang telah kita dapatkan. Aamiin.

#PMA