Kamis, 27 Maret 2014

Pomade : Identitas atau Trend ?


KAMIS, 27 MARET 2014
10.22 WIB

 

for your information :
Tulisan ini didasari oleh beberapa tulisan yang terdapat dalam situs, http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_rambut, http://kustomfest.com/magic-ink-magz-konten-kustom-kulture/, http://id.wikipedia.org/wiki/Rockabilly, http://en.wikipedia.org/wiki/Pomade, http://aghamisme.blogspot.com/2014/02/pomade-gaya-rambut-klasik-tetep-asik.html, jadi bila ada kesamaan kata atau kalimat hal itu jelas merupakan kesengajaan dan dalam hal ini saya berada dalam posisi “mengutip”, bukan “menjiplak”. 
Terima kasih.

Saya mungkin bukan orang yang mengetahui banyak hal tentang segala sesuatu yang ada di dunia ini. Terkadang saya hanya tau sedikit dan bahkan seringnya saya tak tau sama sekali. Tapi setidaknya saya selalu berusaha mencari tau, terus belajar, terus banyak mendengar dan bertukar pendapat, sehingga pada akhirnya saya bisa untuk menjadi tau, mengerti, dan memahami.

Saya selalu berusaha untuk tidak menutup diri, membuka pikiran dan hati saya untuk segala ilmu dan pengetahuan, dari siapapun dan apapun itu.

Hal sederhana untuk merealisasikan itu adalah dengan memulai dari hal yang sederhana. Oleh karenanya, saya memulai dengan selalu mencari tau segala sesuatu yang sedang, akan, dan telah saya lakukan.

Saya tak ingin bodoh, dan tak ingin juga dibodohi. Saya tau kemampuan saya terbatas tapi itu bukan alasan untuk selalu menjadi pengikut dengan loyalitas tanpa batas. 

Saya harus tau apakah itu benar, apakah itu salah, apakah itu pantas untuk dikerjakan, apakah itu pantas untuk diikuti. Karena pada akhirnya diri kita sendiri yang akan bertanggung jawab dengan apa yang kita tentukan.

Maka walaupun itu berkenaan dengan hal sederhana bahkan tak penting sekalipun, saya harus tau. Karena sekali lagi saya tak ingin menjadi bodoh!

Kaitannya dengan itu, akhir-akhir ini saya melakukan sedikit pencarian mengenai sebuah “gaya” dalam berpenampilan yang mulai saya sukai.

Sebuah gaya dalam menata rambut, sebuah gaya menggunakan pomade.

Bila ditarik lagi ke belakang, saya tak asing dalam menata rambut menggunakan minyak rambut. Dulu, ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya merupakan orang yang selalu menata rambut menggunakan minyak rambut jenis gel. Tapi hal itu kemudian saya tinggalkan setelah saya duduk di bangku SMA.

Dan hal itu kembali mengundang minat saya ketika saya melihat gaya rambut yang digunakan oleh salah satu kakak senior saya yang kini telah bekerja di salah satu pemerintah daerah di Indonesia. Sebuah gaya rambut klimis nan rapi.

Awalnya saya mengira bahwa itu hanya merupakan penggunaan minyak rambut yang tak jauh berbeda dari yang saya gunakan ketika SMP. Tapi ternyata itu bukan merupakan minyak rambut jenis gel, melainkan minyak rambut jenis pomade.

Well, what the hell is pomade?

Pomade secara sederhana merupakan salah satu jenis dari minyak rambut yang ada sekarang ini. Minyak rambut bisa berupa minyak, gel, krim dan pomade itu sendiri.

Perbedaan mendasar antara pomade dan ketiga jenis minyak rambut lainnya adalah terletak dari bahan dasar yang digunakan. Pomade berbahan dasar minyak kelapa, lanolin, wax, dan parfum serta tidak mengandung alkohol sementara gel cenderung menggunakan alkohol. Adapun minyak (hair tonic) berbentuk cair, sedangkan krim (hair cream) memiliki krim berzat enteng dan tidak kaku.

Bahan dasar yang dimiliki pomade membuat gaya rambut khas pomade adalah rapih dan tersisir. Pomade juga membuat rambut tampak keras, berminyak, dan mengkilap. Salah satu kekurangan pomade adalah pomade agak sulit untuk dihilangkan dari rambut karena seperti yang telah disebutkan di awal, pomade berbahan dasar oil atau minyak.

Pomade berasal dari bahasa Perancis yang berarti Pommade "salep", itu sendiri timbul dari pomum Latin ("buah, apel") melalui Pomata Italia dari pomo, yang berarti "apel", karena resep salep asli berisi apel tumbuk.

Satu hal yang membuat pomade berbeda dengan jenis minyak rambut lainnya adalah ternyata pomade memiliki sejarah yang cukup unik sehingga akhirnya bisa menjadi sebuah gaya menata rambut yang terus bertahan hingga sekarang ini.

Sejarah seperti apa?

Sejarah pomade yang bisa saya temukan adalah seperti yang dituliskan oleh satu pentolan grup musik asal Bali, Superman Is Dead (SID), Jrx. 

Jrx mengatakan bahwa semenjak Elvis dan berakhirnya era 50-an, satu-satunya skena yang loyal mempertahankan pomade sebagai identitas mereka adalah skena rockabilly dan kustom-kulture. Ditengah gempuran flower-generation/hippies (60-70 an), masivnya era glam-rock 80-an serta alternative rock 90-an, mereka (skena rockabilly/kustom-kulture) tetap loyal dengan pomade.

Paragraf tersebut berarti bahwa gaya rambut pomade merupakan gaya rambut yang identik atau pertama kali dipopulerkan oleh rockabilly dan kustom-kulture.

Rocakabilly merupakan salah satu gaya paling awal dan paling berpengaruh dalam musik rock n' roll yang muncul pada tahun 1950-an.

Rocakabilly merupakan jenis musik dengan irama blues dengan beat country serta lirik berisi luapan emosi secara terang-terangan. Musik rockabilly disukai remaja karena lekat dengan citra pemberontak, seksualitas, dan kebebasan dari belenggu formalitas yang diciptakan orang tua dan tokoh masyarakat. Dan gaya rambut pomade merupakan lambang untuk itu semua, sebuah gaya rock ‘n roll.

Adapun kustom-kultur adalah neologisme (kata bentukan baru), digunakan untuk menggambarkan karya seni, kendaraan, gaya rambut, dan mode dari mereka yang menyetir dan membangun mobil kustom dan sepeda motor di Amerika Serikat di mulai tahun 1950 sampai hari ini.

Melalui perkembangan-nya kustom-kultur terbagi-bagi, diantaranya hot rod, rat rod, custom bike, chopper, pinstriper, lowrider, lobrow, punk rock, rockabilly, barber, skateboard, bmx  dan juga tattoo, dan masih banyak yang lain.

Berdasarkan argumen tersebut bisa dikatakan bahwa sebenarnya rockabilly dewasa ini merupakan bagian dari kustom-kultur.

Sehingga sejarah pomade bisa disimpulkan merupakan sebuah identitas dari music rockabilly, sebuah gaya rock ‘n roll. Bukan sebuah gaya menata rambut yang timbul dengan sendirinya, atau hanya ada seiring berjalannya trend. Lebih dari itu pomade merupakan sebuah identitas.

Melihat sejarah seperti itu maka kritikan dilontarkan Jrx terhadap perkembangan pomade dewasa ini. 

Jrx berujar bahwa ketika pomade menjadi trend seperti saat ini, orang-orang, termasuk beberapa produsen pomade lokal tidak menghargai "proses" kenapa pomade bisa sepopuler sekarang. Mereka tahunya cuma "oh, ini trend baru untuk terlihat keren". Dangkal sekali. Dengan attitude seperti itu, ketika trend ini berakhir, mereka akan ganti gaya dengan mudahnya. Tipikal sekali.
 
Dengan adanya indikasi popstars mainstream yg mulai di-endorse pomade lokal, dua tahun dari sekarang, anak-anak muda mungkin akan berpikir pomade dipopulerkan oleh band-band Melayu kacangan. Dimana loyalitasnya? Dimana penghargaan untuk perjuangan skena rockabilly/kustom-kulture yang membuat pomade se-populer sekarang? Hargai proses, bukan hasil. Berhentilah menjadi generasi instan yang gak mau tahu sejarah. Dangkal itu menjijikkan.

Hal itu bisa terjadi karena, masih menurut Jrx, di era 80-an perlahan culture rockabilly/kustom-kulture memasuki ranah punkrock, mulai-lah beberapa punkrockers memakai pomade dan berambut klimis.

Lalu diawal 2000-an, di California mulai dibuka beberapa tattoo shop dengan konsep barber shop yang merupakan perpaduan dari kultur rockabilly, kustom-kulture dan punkrock. Rupanya, konsep baru (barber and tattoo shop) ini menjadi fenomena hingga akhirnya menjamur di negara-negara lain seperti Eropa, Jepang dan terakhir Asia. Dari sana muncul-lah akhirnya trend baru dimana semua orang mulai menganggap pomade, barber shop dan getleman's look adalah the "new cool".

Saya setuju bahwa pemahaman dangkal itu menjijikan dan merubah sejarah itu lebih menjijikan. Saya pun sangat setuju kita harus sangat teramat menghargai proses dan tidak pernah berusaha untuk menjadi generasi instant.

Maka saya pun sangat memahami perasaan Jrx, karena apabila untuk hal sesederhana ini, sejarah pomade, masyarakat kita bisa dengan begitu saja melupakan oleh sekedar mengikuti perkembangan zaman dan trend masa kini. Bayangkan untuk hal-hal besar dan rumit lainnya!

Bagi saya pribadi, saya memang bukan merupakan rocakabilly atau bagian dari kustom-kultur. Saya hanya seseorang yang menyukai dengan tampilan rapih, klimis dan berkelas tapi dengan tidak menghilangkan kesan garang.

Hal itu saya pikir bisa saya dapatkan ketika saya menggunakan pomade dalam menata rambut yang saya miliki. Maka dengan alasan itu, saya akan menggunakan pomade. Terlepas dari apakah pomade itu sebuah trend atau tidak lagi menadi sebuah trend, selama itu mendukung prinsip yang saya miliki dan sukai, maka saya akan tetap menggunakannya.

So, tentukan gayamu, tidak berdasarkan apa yang sedang ada sekarang ini, tapi dasari-lah itu semua dengan prinsip yang kita miliki.

Stay #PMA!

Senin, 24 Maret 2014

Cerita berjudul Pak Jokowi Nyapres

SENIN, 24 MARET 2014
10.00 WIB


Saya mungkin terlambat untuk menuliskan tentang ini, tentang pencapresan Pak Jokowi tapi tak apa-lah toh saya juga tak memiliki tuntutan apapun. Jadi walaupun hal ini tak lagi menjadi hits pembicaraan, izinkan saya untuk tetap menuliskannya. 
“Berikut ini 19 janji Jokowi saat kampanye pemilihan gubernur DKI Jakarta dulu seperti yang dimuat oleh situs resmi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tertanggal 24 September 2012. Di mana, situs ini memuat hasil catatan dari Harian Terbit selama Jokowi berkampanye.

1. Tidak memakai Voorijder untuk merasakan juga kemacetan

2. Hanya 1 jam di kantor. Selebihnya, meninjau pelayanan publik di lapangan.

3. Tidak tersinggung dengan pertanyaan wartawan yang menyudutkan pihaknya

4. Tidak memberikan pentungan dan perlengkapan yang memungkinkan Polisi Pamong Praja memukul warga.

5. Menambah 1.000 unit bus Transjakarta

6. Memberikan honor tambahan kepada Ketua RT/ RW di Jakarta sebanyak Rp 500 ribu per bulan, dan asuransi kesehatan.

7. Memberikan asuransi kesehatan kepada semua anggota RT/RW.

8. Akan memimpin Jakarta selama lima tahun. Tidak menjadi kutu loncat dengan mengikuti Pemilu 2014. (Jumpa pers di rumah Megawati Soekarnoputri, 20 September 2012)

9. Membangun perkampungan yang sehat dan layak huni. Hunian di bantaran Sungai Ciliwung di desain menjadi kampung susun. Melakukan intervensi sosial untuk merevitalisasi pemukiman padat dan kumuh tanpa melakukan penggusuran. (Debat Calon Gubernur DKI Jakarta, 14 September 2012)

10. Mengatasi banjir dengan melakukan pembangunan embung/folder untuk menangkap dan menampung air hujan di setiap kecamatan dan setiap kelurahan. Mengintegrasikan seluruh saluran drainase agar terkoneksi dengan kanal-kanal pembuangan air.

11. Memperbanyak armada angkutan umum, terutama bus TransJakarta di koridor-koridor yang tetap dipertahankan sebagai jalur bus khusus. Merintis MRT/subway. Busway diubah menjadi railbus yang berkapasitas lebih besar. Dengan demikian yang bergerak warga bukan mobil.

12. Membangun Mal PKL, Ruang Publik & Revitalisasi Pasar Tradisional sehingga tidak mengganggu pengguna jalan. (Jakarta, 18 September 2012)

13. Membangun kebudayaan warga kota berbasis komunitas. Merevitalisasi dan melengkapi fasilitas kawasan Old Batavia.

14. Membenah birokrasi bersih dan profesional agar pemerintahan berjalan bersih, transparan, dan profesional.

15. Memberikan pendidikan gratis Kartu melalui kartu Jakarta Pintar. Dengan kartu ini maka warga Jakarta dapat merasakan pendidikan gratis dari SD hingga SMA. Program ini telah berhasil diterapkan di Solo selama 5 tahun. (Kampanye di Kampung Sawah, Gandaria Selatan, Jakarta Selatan, 29 Juni 2012).

16. Melegalkan tanah-tanah yang sebelumnya tidak diakui oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta atau tanah ilegal. (Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, 15 September 2012)

17. Melakukan redesain total dengan membangun Jakarta dari kampung-kampung. (Menteng Dalam, 14 September 2012).

18. Setiap kampung punya ruang publik, ruang hijau, serta drainase memadai dan punya tangki pembuangan komunal. (Menteng Dalam, 14 September 2012)

19. Melanjutkan program Kanal Banjir Timur serta pembangunan tanggul di tiap kecamatan.”

Well, pro dan kontra saya pikir merupakan sebuah keniscayaan. Itu semua akan selalu ada dalam dinamika kehidupan, terlebih sebuah perhelatan politik penuh kepentingan dan kekuasaan yang dipertaruhkan.

Sehingga ketika pencapresan Pak Jokowi kemudian juga menuai pro dan kontra, itu sungguh hal yang biasa. Sangat biasa!

Tapi bila boleh saya menilai, secara kasar dan kasat mata seorang mahasiswa, melihat alakadarnya reaksi serta komentar teman-teman yang ada di sekitar dan sedikit banyak juga pemberitaan yang ada di media masa serta juga respon yang ditunjukan dari segala segi yang berhubungan dengan kondisi negara, saya pikir pencapresan Pak Jokowi lebih banyak menuai pro daripada mereka yang kontra.

Ya, dulu, ketika Pak Jokowi mampu terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, Pak Jokowi memang seperti telah mempunyai tempat tersendiri di hati rakyat banyak Indonesia.

Gaung dukungan Pak Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta melebihi dari sekedar hanya dari masyarakat yang ada di wilayah Jakarta, tapi hampir di setiap wilayah yang ada di Indonesia.

Mungkin saya berlebihan tapi saya juga meyakini bahwa fakta penduduk dengan keturunan Jawa banyak tersebar di Indonesia, hal itu membuat banyak wilayah juga ikut terpengaruh untuk kemudian mendukung Pak Jokowi.

Pun dengan trackrecord beliau sebagai Walikota Solo sangat terkenal harum dan indah di kalangan banyak masyarakat Indonesia, bahkan kabarnya dunia!

Tak bisa dipungkiri, Pak Jokowi yang kemudian membuat gaya “blusukan” itu kembali terkenal dan menjadi gaya kepimimpinan “wajib” setiap pimpinan yang ada di Indonesia.

Seberapa pun keras dan kuat argumen yang dikemukakan bahwa gaya “blusukan” bukan-lah gaya kepemimpinan baru yang ditunjukan oleh pemimpin yang ada di Indonesia, kenyataannya kini ketika “blusukan” itu disebut maka telah identik dengan Pak Jokowi.

Terima kasih harus benar-benar diucapkan Pak Jokowi kepada media masa. Karena media masa seperti menjadi teman bagi Pak Jokowi, hampir setiap hari dan di setiap waktu pemberitaan, selalu ada Pak Jokowi di dalamnya. Pak Jokowi seperti menjadi “jualan” utama berita Indonesia, dan sialnya hal itu terus terjaga baik sampai saat ini, sehingga rakyat terus “hapal” dengan Pak Jokowi, bahkan “jatuh cinta” kepadanya.

Ahh, ini logika cinta sangat sederhana, bila terus bersua setiap saat, lama-lama cinta itu tumbuh juga!

Jadi, wajar ketika kemudian, banyak suara rakyat melalui banyak cara mereka kemukakan, untuk memberi dukungan pada Pak Jokowi untuk kemudian menjadi Presiden RI.

Tapi bagi mereka yang kontra, maka banyak serangan yang kemudian mereka lakukan.

Serangan besar dan utama adalah mengatakan Pak Jokowi bukan seorang yang negarawan. Dasar argumen itu yakni janji yang diucapkan sendiri oleh Pak Jokowi pada saat berkampanye pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Pada saat itu Pak Jokowi berujar bahwa dia tak akan menjadi kutu luncat pada saat Pilpres 2014.

Argumen lainnya adalah seharusnya dan sebaiknya Pak Jokowi fokus dan menyelesaikan dengan baik tugasnya sebagai Gubenur DKI Jakarta dan setelah itu baru-lah dia boleh menjadi Calon Presiden. 

Karena toh apabila Pak Jokowi mampu menjalankan tugas sebagai Gubernur DKI Jakarata dengan baik maka masyarakat Indonesia dengan sendirinya akan tetap memilih dia sebagai Presiden RI.

Bila Pak Jokowi terus maju pada pemilihan kali ini maka dia terlihat benar-benar memanfaatkan popularitasnya sekarang. Tidak memanfaatkan kinerjanya!

Dan disini-lah saya akan memulai mengajukan beberapa argument.

Isu tentang negarawan menjadi menarik untuk diperbincangkan. Jadi sebenarnya apa itu negarawan?

Menurut Luthfi Assyaukanie dalam tulisannya yang ada di http://www.indonesia-2014.com/read/2012/12/11/mencari-negarawan#.Uy-bLM7iOPY, menyebutkan bahwa dalam bahasa Inggris, negarawan disebut statesman. Menurut kamus Merriam-Webster, negarawan adalah ”orang yang aktif mengelola pemerintahan dan membuat kebijakan-kebijakan” (one actively engaged in conducting the business of a government or in shaping its policies). Lebih spesifik lagi, Merriam-Webster mendefinisikan negarawan sebagai ”seorang pemimpin politik yang bijak, cakap, dan terhormat” (a wise, skillful, and respected political leader). Sedangkan menurut Plato, negarawan harus memiliki kecakapan khusus dalam mengelola negara, sehingga dia bisa berlaku adil dan mengetahui apa yang diinginkan rakyatnya.

Pendapat lain dikemukakan oleh Mafmud Md yang dikutip dalam http://kampus.okezone.com/read/2014/02/03/95/935533/antara-negarawan-dan-politisi, beliau mengatakan bahwa “Dalam undang-undang, tidak ada definisi negarawan, tetapi hanya disebutkan hakim konstitusi adalah negarawan. Namun, keberadaan negarawan bisa diukur dari akal sehat masyarakat.”

Adapun menurut Drs. HMS. Suhary AM, MA seorang Direktur Pusat Studi Islam dan Politik Kenegaraan (PSIPK) Serang-Banten di dalam http://www.dakwatuna.com/2012/07/19/21679/siapakah-negarawan-rabbani-itu/#ixzz2wqQEtQ00, beliau berpendapat bahwa negarawan adalah seorang pemimpin kenegaraan atau orang yang memiliki komitmen yang tinggi (high commitment) terhadap negara dan rakyat serta berintegrasi dengan permasalahan kenegaraan.

Berdasarkan 3 (tiga) definisi tersebut maka sebenarnya tidak ada pengertian spesifik mengenai apa itu negarawan. Kita, masyarakat awam, mengenal istilah negarawan untuk menyebut seseorang yang tidak hanya berpikir untuk hari esok, tapi mampu untuk berpikir jauh kedepan.

Ternyata pada tataran akademis, negarawan tak lebih hanya seseorang dengan kemampuan yang baik untuk mengelola negara. Maka bila ukurannya seperti itu, jelas argumen bahwa Pak Jokowi bukan seorang negarawan adalah salah.

Tapi ketika kita menambahkan bahwa negarawan itu adalah memiliki komitmen yang tinggi terhadap negara dan rakyat maka Pak Jokowi bisa dikatakan tidak negarawan. Kenapa? Karena beberapa janji yang dia ucapkan ketika kampanye dan bahkan janjinya untuk memerintah Jakarta selama 5 (lima) tahun harus dia langgar.

Walaupun kemudian ada argumen yang mengatakan bahwa pilihan Pak Jokowi cukup bijak karena ini merupakan kepentingan negara, sehingga lebih besar dari sekedar Jakarta dan bahwa ini adalah amanah rakyat.

Maka saya katakan, bahwa ketika Pak Jokowi juga terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta bukankah itu juga amanah rakyat? Dan Jakarta juga bagian dari Indonesia? 

Dan sesungguhnya tak akan maju Indonesia tanpa majunya setiap provinsi yang ada di dalamnya, iya ‘kan? Bukankah Indonesia telah sepakat dengan otonomi daerah? Jadi bukankah daerah yang harus diperkuat bukan pusat? Bukankah dengan otonomi, maka prinsipnya adalah daerah yang menguatkan pusat bukan justru pusat yang menguatkan daerah?

Pada akhirnya, jujur harus saya akui, saya berada di pihak yang kontra dalam pencapresan Pak Jokowi. Karena bagi saya, seperti argumen yang telah saya kemukakan di atas, bila saat ini Pak Jokowi maju sebagai Capres maka hal itu terlihat sangat memanfaatkan momentum popularitasnya.

Tapi akan berbeda ketika dia mencalonkan menjadi Presiden setelah 5 (lima) tahun menjadi Gubernur DKI, maka hal itu jelas pencapresan dengan dasar kinerja. Karena kita semua, telah mampu melihat bagaimana Pak Jokowi memimpin Jakarta, cerminan kecil Indonesia. Karena Jakarta adalah Ibu Kota Indonesia.

Be a smart one, folks and always #PMA!

Jumat, 21 Maret 2014

Malcolm X


KAMIS, 20 Maret 2014
20.40 WIB


Yas Budaya, eks-vokalis Alone at Last*, yang berjasa mengenalkan saya pada seseorang yang dikenal dengan nama Malcolm X. Berkat posting-an dia di media sosial, Instagram, dengan sedikit banyak penjelasan singkat mengenai siapa Malcolm X. Seketika saja saya pun tertarik mengenal lebih jauh siapa sebenarnya sosok Malcolm X.

Beruntung bagi saya ternyata kisah hidup seorang Malcolm X telah dituangkan dalam sebentuk buku Otobiografi. Sebuah jenis buku yang sangat saya sukai, bahkan mungkin satu-satunya jenis buku yang saya baca sampai dengan saat ini!

Tak perlu waktu lama dan akhirnya saya mampu untuk menemukan dan membeli buku yang berjudul “Otobiografi MALCOLM X : Sang Negro yang Merevolusi Dunia Islam & Kemanusiaan.”

Buku dengan cover close-up wajah Malcolm X setebal 675 halaman yang terdiri dari 19 Bab itu merupakan sebuah otobiografi yang sangat menyenangkan ketika dibaca.

Semangat dan perjuangan seorang Malcolm X mampu dengan jelas saya terima dan bahkan rasakan. Saya pun bisa mengerti kenapa Yas Budaya mendapatkan inspirasi darinya karena saya pun bisa mendapatkan itu!

Lalu siapa Malcolm X?
 
Judul yang terdapat di cover buku otobiografi itu sebenarnya telah menjelaskan siapa dia dan kenapa dia begitu sangat diperhatikan di zamannya bahkan di masa kini setelah beberapa tahun kepergiannya sehingga pantas untuk kisah hidupnya di tuangkan dalam sebuah buku.

Secara garis besar, saya dapat memberikan anda gambaran bahwa Malcolm X adalah pejuang bagi kaum kulit hitam yang ketika itu (atau bahkan juga di zaman dewasa ini) mendapatkan diskriminasi yang sangat tidak layak dari kaum kulit putih di Amerika dan bahkan di belahan dunia manapun atas dasar pembenaran yang sangat tidak manusiawi.

Kaum kulit hitam atau biasa disebut dengan istilah Negro, diperlakukan rendah bak seekor binatang. Kaum kulit hitam tak ubahnya seperti sebuah property yang bebas untuk dimanfaatkan oleh setiap kaum kulit putih.

Mereka bertindak dan hidup hanya apabila kaum kulit putih memberikan kehidupan pada mereka. Kaum kulit hitam entah kenapa seperti berada jauh di bawah kaum kulit putih.

Hal seperti itu terus dicekcok-kan kepada setiap kaum kulit hitam yang ada sehingga pada akhirnya mereka pun mempercayai bahwa mereka memang diciptakan untuk selalu ada di bawah kaum kulit putih.

Mulanya, Malcolm X juga merupakan bagian dari kaum kulit hitam yang “harus” mempercayai semua doktrin diskriminasi yang ditanamkan oleh mereka ke dalam otak setiap kaum kulit hitam.

Tapi satu keuntungan yang dimiliki dan mungkin menjadi sebuah penyelamat awal bagi Malcolm X adalah dia dibesarkan dengan sebuah kepekaan cukup tinggi terhadap diskriminasi yang sebenarnya telah ada dan terinternalisasi di setiap lapisan masyarakat di Amerika ketika itu.

Hal itu terjadi karena Malcolm X adalah anak dari seorang Ayah yang telah lama berjuang untuk kaum kulit hitam untuk memiliki derajat yang sama dengan kaum kulit putih. Bahkan atas sikap radikalnya itu, Ayah Malcolm X harus dibunuh. Pembunuhan itu pun yang pada akhirnya menjadi sesuatu yang harus juga Malcolm X alami.

Seiring perjalanan waktu Malcolm X berkembang tidak jauh berbeda dengan banyak kaum kulit hitam lainnya. Berakhir di kehidupan jalanan, menjadi pedagang gelap, mucikari, dan perampok bersenjata.

Kehidupan seperti itu yang kemudian menuntun seorang Malcolm X berakhir di penjara. Tapi mungkin itu adalah skenario terbaik Tuhan bagi Malcolm. Karena dengan kehidupannya di penjara, Malcolm perlahan mulai menemukan arti kehidupan dan titik balik serta pencerahan yang di kemudian hari mampu untuk merubah hidupnya bahkan hidup jutaan ribu kaumnya dan pola pikir manusia kulit putih pada umumnya.

Hal besar yang merubah hidupnya adalah mulai tumbuhnya semangat membaca serta mulai menghinggapnya ajaran agama Islam di kehidupan Malcolm X.

Oh iya, saya lupa untuk menyebutkan dari awal, bahwa alasan lain kenapa saya pun tertarik untuk membaca buku otobiografi Malcolm X adalah karena ternyata Malcolm X merupakan seorang Mualaf.

Bagi saya, yang merupakan seorang Muslim, penting rasanya untuk mendahulukan mengenal lebih jauh mengenai pahlawan-pahlawan yang memang memiliki keyakinan sama dengan saya. 
Ini karena ketika kita membaca sebuah otobiografi ataupun biografi, secara tidak kita sadari, segala pola tingkah laku penulis akan sedikit banyaknya mempengaruhi saya.

Dan meskipun saya belum menjadi Muslim yang taat, saya tetap ingin agar sikap saya senantiasa berada dalam koridor moral Islam.

Tapi membaca bab-bab awal dan pertengahan buku otobiografi Malcolm X, saya atau bahkan pembaca Muslim lainnya akan dibuat bingung dan mulai berhati-hati membacanya.

Karena Islam yang diajarkan dan dianut (pada awalnya) oleh Malcolm X bukan Islam yang sebenar-benarnya Islam. Islam Malcolm X (pada saat awal) adalah Islam kelompok Bangsa Islam di bawah kepemimpinan Elijah Muhammad.

Bangsa Islam atau ajaran Islam yang disebarkan oleh Elijah Muhammad bisa dikatakan salah karena Islam Elijah Muhamad hanya mengekslusifkan pada sebuah agama bagi kaum kulit hitam dan terlalu mensucikan peran dari Elijah Muhammad itu sendiri.

“Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Yang Mulia Elijah Muhammad adalah Utusan dan Nabi Allah.”
(Malcolm, 315)

Elijah Muhammad memperayai dan mengatakan kepada pengikutnya bahwa dirinya adalah “Utusan Tuhan.” Dan hal itu jelas tidak bisa saya terima. Hal itu jujur sedikit banyak membuat saya agak kurang tertarik untuk meneruskan membaca buku itu.

Semakin jauh saya membaca, semakin banyak kekeliruan yang saya temukan. Perjuangan seorang Malcolm X seperti sebuah perjuangan yang salah karena dia yang berjuang untuk menghilangkan rasisme tapi sebenarnya dia juga melakukan rasisme!

Agama Islam tak lebih menjadi sebuah kedok dan alat untuk perjuangan kaum kulit hitam. Tapi terus saya membaca akhirnya saya pun mengerti bahwa ternyata Malcolm X pun pada akhirnya mengerti dia telah meyakini sesuatu hal yang salah.

Hal itu, pemahaman Malcolm X, sepertinya juga telah diketahui oleh Elijah Muhammad, sehingga di saat akhir Malcolm X “dikeluarkan” atau dalam bahasa Malcolm X dia mengundurkan diri dari organisasi Bangsa Islam.

Titik balik kedua dalam hidup Malcolm X kemudian terjadi ketika dia pergi ke negara-negara Timur Tengah dan menunaikan ibadah Haji di tanah suci. Di sana-lah dia mendapatkan pencerahan bahwa ajaran Elijah Muhammad salah dan Islam bukan agama ekslusif bagi kaum kulit hitam dan musuh itu tidak selalu terwujud dalam warna kulit putih. 
Bahwa apapun warna kulit seseorang tidak pernah menjadi sebuah masalah tapi masalah itu terletak dari sikap yang ditunjukan oleh setiap orang dengan warna kulit itu.

“Saya bilang kepadanya bahwa Islam yang saya percaya sekarang adalah Islam yang diajarkan di Mekah, yaitu tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad bin Abdullah yang hidup di Kota Suci Mekkah seribu empat ratus tahun yang lalu adalah Utusan Terakhir Allah.”
(Malcolm, 548-549)

Pemahaman Malcolm X seperti itu ternyata semakin menguatkannya dalam terus berjuang menegakan persamaan hak bagi kaum kulit hitam dan juga semakin menambah banyak orang yang menginginkan dia mati.

Bangsa Islam di bawah pimpinan Elijah Muhammad berada dalam daftar teratas yang menginginkan Malcolm X meninggal. 
Malcolm X pun telah menyadari hal itu tapi tak sedikit pun dia menurunkan semangat untuk terus bicara menyampaikan segala hal yang benar dan patut untuk disampaikan kepada banyak orang.

Ya, pada akhirnya, sebelum segala yang diperjuangkan itu mampu untuk benar-benar terwujud, pembunuhan harus mengakhiri kehidupan Malcolm X. Bahkan dia pun belum sempat untuk melihat terbitan pertama buku otobiografi ini. 
Tragis, tapi sepertinya kehidupan seperti itu memang selalu menjadi takdir setiap pejuang yang ada di dunia ini, terlebih pejuang dengan keyakinan Islam yang kuat.

Ahh, kalian harus benar-benar harus membaca buku ini.

Untuk saya pribadi, banyak hal yang mampu saya pelajari dari buku ini, kepribadian keras tapi dengan pikiran yang selalu terbuka khas Malcolm X merupakan hal yang harus saya teladani.

Hasrat membaca yang tak pernah putus dan kemampuan dalam berorasi yang sangat baik sehingga mampu untuk menghipnotis banyak orang, bukan dengan bersilat lidah tapi benar-benar dengan mengatakan segala kebenaran yang tersampaikan dengan baik dan sesuai dengan pendengar yang ada di hadapannya.

Kepekaan jiwa yang juga harus kita miliki sehingga kita mampu untuk melihat segala situasi dari beragam sudut pandang. Tak melulu melihat dari satu perspektif yang memungkinkan salah penafsiran dan akhirnya tak mampu untuk mencapai tujuan hakiki.

Sekali lagi, seorang Malcolm X adalah seorang Muslim yang sangat patut untuk teladani.

#PMA always..

Selasa, 11 Maret 2014

Ini menyakitkan.

Bagaimana rasanya bila memiliki seorang pendamping tapi tak selalu ada di samping?
Bagaimana rasanya bila kau telah menyayanginya tapi dia hanya sekedar menjawab, "iya"?

Apakah memang ada sebentuk perhatian dalam keheningan?
Apakah memang bisa saling mengenal tanpa suatu percakapan?
Apakah memang bisa muncul rasa sayang dalam kesunyian?
Apakah memang aku keterlaluan ketika meminta sebongkah kepedulian?

Aku mencari keseimbangan.
Aku meminta keadilan.
Aku mengharapkan balasan.
Aku menginginkan bukti nyata terlihatkan.
Aku membutuhkan lebih dari sekedar ucapan atau tindakan spontan tanpa keberlanjutan.

Sabtu, 01 Maret 2014

March on, dude!

SABTU, 01 MARET 2014
16.40 WIB


March on!
Apa yang dimiliki Maret tahun ini?
Well this is dude :
 
  • 1 – 29 Maret 2014 Penyelesaian Penulisan Laporan Akhir
  • 10 – 15 Maret 2014 Ujian Kesamaptaan

Tidak bermaksud untuk mengenyampingkan apalagi menganggap remeh ujian kesamaptaan tapi izinkan saya untuk memberikan perhatian lebih pada penyelesaian penulisan Laporan Akhir karena tepat pada tanggal 1 – 4 April 2014 merupakan jadwal pengumpulan Laporan Akhir.

Di dalam penulisan artikel yang terdahulu (#dramaLA) saya telah sedikit menjelaskan mengenai laporan akhir. Jadi sebaiknya dan sudah seharusnya, anda terlebih dahulu membaca artikel itu sebelum melanjutkan membaca artikel ini.

Sebagai perbandingan, saya telah bertanya kepada salah satu teman saya yang saat ini melanjutkan sekolah di Universitas Semarang (UNES). Saya bertanya kepadanya tentang berapa lama waktu minimal yang dibutuhkan atau ditentukan di universitasnya dalam penulisan karya tulis di akhir kuliah sebelum akhirnya bisa dinyatakan lulus.

Dia berkata bahwa waktu minimal yang dibutuhkan atau waktu tercepat yang paling masuk akal untuk melakukan penyelesaian penulisan sebuah karya tulis adalah 5 (lima) bulan. Lalu ketika saya kemudian memberikan informasi kepadanya tentang waktu penulisan yang kini telah ditentukan oleh lembaga adalah hanya 1 (satu) bulan, respon yang kemudian teman saya berikan adalah, “itu nulis laporan akhir atau makalah, Dim?!”.

Apa yang ingin saya sampaikan dari sebuah perbandingan sederhana itu adalah bahwa pada akhirnya lembaga pendidikan kedinasan tempat saya menuntut ilmu ini memang belum sepenuhnya pro-akademis. Program akademis yang dijabarkan dalam bentuk kalender akademik, yang seharusnya merupakan sebuah rencana pendidikan yang telah diatur dengan matang untuk jangka waktu satu tahun kedepan, karena apapun terutama sebuah pendidikan tidak akan mungkin menghasilkan output apalagi impact yang optimal apabila tidak didahului oleh sebuah perencanaan yang baik, bisa dengan cepat dan begitu saja berubah.

Hal itu sangat dipengaruhi atau bahkan terlalu dipengaruhi oleh kondisi politik dan kebijakan pimpinan yang ada di atasnya. Lembaga ini sebagai sebuah pencetak kader aparatur pemerintahan, bekerja dalam dunia birokrasi. Terlalu sangat birokratis. Sehingga untuk urusan pendidikan pun lembaga ini masih saja memposisikan sebagai sebuah “pelaksana keinginan penguasa”.

Penjelasan resmi yang saya dengar adalah segala perubahan jadwal yang pada akhirnya membuat kami hanya memiliki waktu 1 (satu) bulan dalam menulis laporan akhir dan kurang dari 30 hari dalam melaksanakan penelitian/magang, karena menyesuaikan dengan jadwal serta keinginan Presiden yang direncanakan akan melantik serta mengukuhkan kami dalam sebuah upacara pelantikan Pamong Praja Muda pada tanggal 25 Juni 2014.

Bila memang lembaga ini konsisten dengan ucapannya bahwa akan berubah menjadi lebih pro terhadap bidang akademis karena memang itu-lah yang dibutuhkan oleh aparatur sipil negara saat ini, tidak seharusnya lembaga merubaha secara drastis kalender akademik yang telah jauh-jauh hari mereka tentukan. Terlebih untuk keperluan penulisan laporan akhir yang merupakan karya tulis ilmiah sebagai syarat untuk dinyatakan lulus dari lembaga ini.

Tapi saya pribadi tidak terlalu risau karena memang loyal adalah sikap yang telah lama ditanamkan disini. Apapun itu, saya mencoba untuk menerimanya dan melaksanakan dengan sangat baik. Tapi yang kemudian ingin saya kritisi disini adalah beberapa orang di dalam lembaga ini mempunyai ekspektasi sangat tinggi terhadap kualitas dari laporan akhir yang kami tulis tanpa melihat persiapan dan waktu yang kami miliki.

Saya kemudian tidak menyebutkan bahwa dengan singkatnya waktu adalah sebuah alasan bagi kami atau saya pribadi untuk membuat laporan akhir alakadarnya atau bahkan asal. Itu bukan sebuah pembenaran.

Tapi saya hanya ingin mengajak kita semua untuk berpikir realistis, jangan terlalu berharap lebih terhadap laporan akhir yang nantinya akan kami serahkan. Karena sebagus-bagusnya laporan akhir kami nantinya merupakan laporan akhir yang hanya dibuat dalam jangka waktu penelitian kurang dari 30 hari dan penulisan yang hanya diberikan selama 1 (satu) bulan.
Jadi tolong-lah realistis!

Untuk saya yang mempunyai tugas laporan akhir, mungkin tidak terlalu mengalami kesulitan karena hanya menggunakan satu variable. Tapi bayangkan dengan rekan-rekan saya yang harus menulis skripsi dan menggunakan 2 (dua) variable. 
 
Saya pikir mereka memang tetap akan mampu untuk merampungkannya tapi tentu tidak akan semaksimal seharusnya.

Pada akhirnya selalu ada blessing in disguise. Segala perubahan ini membuat kami dalam waktu 4 (empat) bulan kedepan akan segera keluar dari kampus ini dan menyandang gelar S.STP serta S.IP
 
So, please pray for us dude!
#PMA