Sabtu, 18 Agustus 2012

A Fresh Start For Something New

http://mawaroren.files.wordpress.com/2010/05/ampun1.gif

Jika ada hamba yang shaum hanya menahan lapar dan haus tapi tetap Engkau rahmati, mohon salah satunya hamba ya Allah..
Jika ada shalat yang tidak khusuk tapi masih saja Engkau beri pahala, mohon salah satunya shalat hamba ya Rob.. 
Jika ada zakat, infak, sodakhoh yang masih terselip riya, tetap Engkau balas dengan kebaikan yang berlipat ganda, mohon salah satunya adalah amalan hamba ya Allah.. 
Jika orang awam masih saja Engkau beri petunjuk mohon salah satunya hamba-Mu yang awam ini ya Allah.. 
Jika ada doa orang lalai masih Engkau kabulkan, mohon salah satunya adalah doa hamba ya Rahim.. 
 Jika masih ada ahli dosa yang Engkau pertemukan dengan Ramadhan tahun depan, dengan segala keberserahan diri mohon salah satunya hamba ya Allah.. 

Hamba hanya orang yang lemah... 
Beri hamba kekuatan ya Muqolibal Khulub..  

Dan di penghujung Ramadhan ini, entah ini yang terakhir atau bukan, sungguh hanya Engkau yang tahu, 
Maka izinkan hamba untuk bisa menjadi jiwa dan jasad yang baru, 
Kembali suci, selayaknya bayi yang lahir di dunia yang hanya milik-Mu, 
Dan jika Allah saja yang Maha Segalanya, pemilik segala sesuatu, 
Mampu dan menerima taubat seorang manusia yang hina dina, 
Lantas alasan apa untuk kita sesama manusia tidak saling memaafkan? 

Jadi.. 
untuk semua kesalahan yang telah hamba perbuat, 
baik lisan, tertulis, ataupun kontak fisik secara nyata 
bahkan segalanya yang tidak tersurat, 
apapun itu yang mampu membuat luka dalam diri, 
Hati, jiwa, nurani dimanapun luka itu bisa berada, 
hamba memohon maaf, ampun dan segala apapun istilah kata untuk menggambarkan permohonan maaf.. 

Maafkan saya, 
walau tangan tak bisa berjabat dan wajah saling bertatap mesra, 

Maafkan saya, maafkan saya, maafkan saya … 

Let’s start a brand new day, 
let’s make a fresh start for something new. 

lapangkan dada, jernihkan pikiran, ikhlaskan hati, dan indahkan perilaku. 
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 H. 

http://1.bp.blogspot.com/-KXJje5DgYG8/T-55hIB3UpI/AAAAAAAABGw/ZD3H3R2tbAg/s1600/kartu+1+lebaran+idul+fitri+1433+h.png 

Jumat, 17 Agustus 2012

WEIRDO





Mengawali tulisan ini izinkan saya untuk terlebih dahulu mengucapkan dengan penuh rasa bangga juga syukur, Selamat Hari Kemerdekaan Negara Indonesia yang ke-67! Ya, Dirgahayu Republik Indonesia!

Acara seremonial untuk memperingati hari bersejarah ini bukan-lah hal utama yang harus kita lakukan juga bukan substansi pokok yang mesti kita kerjakan, hal-hal seperti itu hanya merupakan sebuah protokoler kenegaraan tapi jauh dari itu semua kita harus mampu memaknai hari kemerdekaan ini dengan sebuah semangat kenegaraan yang benar, mampu untuk terus berubah dan berbenah menjadi lebih baik lagi, tidak berhenti hanya pada segala macam seremoni belaka. 

Berbagai macam cara mampu untuk kita lakukan agar kita mampu memaknai kemerdekaan ini dengan cara yang sangat benar sehingga perubahan menuju kearah yang jauh lebih baik itu mampu untuk terwujud. 
Bagaimana caranya? Cara termudah adalah mari kita syukuri kemerdekaan ini dengan menjadi pribadi manusia yang lebih bertaqwa serta beriman kepada Allah Swt., Tuhan Yang Maha Esa serta bertindak, bersikap serta berbuat semaksimal mungkin, se-positif mungkin sesuai dengan status, peran dan jabatan yang sekarang ini sedang kita emban. 

Saya sebagai seorang pelajar/mahasiswa/praja, maka dengan status, peran serta jabatan saya yang seperti itu, saya harus memaknai kemerdekaan ini dengan belajar dengan sungguh-sungguh, sesederhana dan semudah itu. Lalu bila anda yang telah bekerja, apapun pekerjaan anda maka bekerja-lah semaksimal dan seoptimal mungkin. 
Kesalahan utama kita semua adalah kita selalu ingin berlari tanpa terlebih dahulu mencoba untuk berjalan dengan baik dan benar, kita selalu berpikir besar tanpa mau untuk berpikir hal-hal kecil untuk mencapai hal yang besar itu. Kita terlalu sibuk untuk menyesali dan ber-iri hati terhadap hal-hal yang tak bisa untuk kita kerjakan sehingga lalai dan lupa terhadap apa yang harus kita kerjakan atau setidak-tidaknya kita menjadi tidak maksimal dalam melaksanakan hal yang semestinya kita lakukan padahal sungguh apa yang kita lakukan itu juga mampu untuk memaknai kemerdekaan ini. 
Kita terbelenggu oleh pikiran kita sendiri, kita tertahan tak mampu untuk berkembang dan maju ke depan hanya oleh pikiran-pikiran kita yang ada dalam otak. 

Hal seperti itu saya pikir merupakan sebuah masalah, mungkin kecil tapi mempunyai dampak yang cukup besar. Salah satu dampak yang ditimbulkan oleh pikiran-pikiran seperti itu adalah lambat laun akal sehat atau pola pikir rasional akan mati dan hilang. Hal ini menjadi sangat berbahaya karena apabila akal sehat, logika berpikir rasional sudah tidak lagi ada, maka rasa optimis itu akan hilang terganti pasti oleh rasa-rasa pesimis. 
Awalnya saya tidak terlalu memikirkan hal ini tapi kemudian menjadi perhatian saya setelah saya membaca tulisan dari Pak Dahlan Iskan juga semangat yang beliau terus hembuskan. Beliau menyatakan bahwa impian terbesarnya adalah beliau ingin untuk mengembalikan akal sehat karena beliau melihat dewasa ini telah banyak pembunuhan terhadap akal sehat, contoh yang pernah beliau kemukakan adalah sebagai berikut : “Saya minta seorang peserta dialog untuk berdiri. Saya ajukan pertanyaan padanya: baik mana, Anda punya utang Rp 8 juta tapi kekayaan Anda Rp 10 juta atau Anda punya utang Rp 20 juta tapi kekayaan Anda Rp 100 juta. Benar bahwa utang itu meningkat, tapi juga benar kekayaannya meningkat drastis. Inilah yang tidak pernah sampai ke masyarakat. Mungkin memang tidak sampai, mungkin juga sengaja disembunyikan. Peserta dialog yang saya minta berdiri itu rupanya seorang humoris. Dengan nada bergurau dia menjawab, lebih baik kekayaannya meningkat, tapi tidak punya utang! Ini mah mirip khotbah Jumat yang pernah saya dengar: semua orang itu inginnya serbaenak. Waktu kecil dimanja, waktu remaja foya-foya, waktu muda kaya raya, waktu tua sehat bahagia, waktu meninggal masuk sorga! Dari dialog di desa malam itu saya melihat penularan hope kalah cepat dengan penularan pesimisme. Begitu cepat virus pesimisme, sinis, keluh kesah, dan sebangsanya menjalar ke mana-mana. Ini tentu bahaya, mengingat hope adalah salah satu faktor utama untuk kemajuan bangsa. Di sini hope menghadapi persoalan yang sangat berat. Menularkan pesimisme cukup hanya dengan kata-kata. Modalnya pun hanya gombal. Sedangkan membangun hope harus dengan kerja nyata plus hasil yang bisa dirasa. Setiap kesulitan harus diberikan jalan keluar. Setiap kebuntuan harus ada terobosan. Masyarakat yang ada dalam “kuldesak” yang terlalu lama hanya akan membuat virus anti kemajuan merajalela.” ( Tekad Baru: Hidup yang Polos-Polos Saja

Atau anda semua masih ingat dengan tindakan radikal di Pintu Keluar Jalan Tol yang dilakukan oleh Pak Dahlan? 
Ya, hal itu Pak Dahlan lakukan semata-mata karena beliau tidak ingin akal sehat masyarakat itu menjadi mati karena seharusnya menurut akal sehat jalan tol itu adalah bebas hambatan namun ketika justru kemacetan itu terjadi di Jalan Tol maka jelas-lah hal itu merupakan pembunuhan terhadap akal sehat! Dan hal itu harus segera kita benahi. 

Maka dalam tulisan ini saya akan menuliskan beberapa contoh nyata dari beberapa sifat kita, kebiasaan kita yang sungguh sangat ironis, sangat bertentangan dengan akal sehat juga logika, sangat tidak rasional. Saya tidak bermaksud untuk mengeksploitasi kebiasaan buruk, tapi saya hanya ingin menyuguhkan fakta dan berharap kita akan sama-sama merenungkannya dan akhirnya mampu untuk merubah hal-hal negatif itu. 

Inilah beberapa contoh nyata dari sifat atau kebiasaan kita yang sangat jauh dari akal sehat. Sungguh aneh! 

Pertama : Bad News Is A Good News 
Bagaimana orang lebih tertarik terhadap pemberitaan sebuah pesawat yang gagal untuk landing secara mulus daripada berita ribuan pesawat yang mampu untuk landing secara baik dan sangat mulus. Itu hanya sebuah ilustrasi, cenderung hiperbolis terhadap kenyataan masyarakat kita yang haus akan berita tapi sayang mereka hanya haus dan lapar terhadap berita-berita negatif, sensasional, kontroversi serta segala sensasi buruk lainnya. Sebenarnya dalam hal ini masyarakat tidak bisa untuk kita salahkan sepenuhnya karena memang media masa itu sendiri yang menyuguhkan pemberitaan seperti itu akan tetapi media pun tidak akan serta merta melakukan pemberitaan yang penuh dengan kata-kata provokatif apabila masyarakat pun tidak menyukainya. Kenyataannya adalah masyarakat sering kali mengeluhkan terhadap cara dan muatan berita yang mereka terima akan tetapi di sisi lain mereka pun menikmati segala pemberitaan tersebut. 
They don’t agree but they don’t refuse it, bukan-kah hal itu merupakan sebuah ironi? Sangat tidak masuk logika, iya kan? 

Kita sering kali tidak hidup seimbang, kita jarang melakukan apresiasi terhadap prestasi dan menganggap hal yang baik itu adalah sebuah hal yang biasa dan memang wajar terjadi tapi seketika berubah 180 derajat ketika hal-hal yang buruk terjadi, maka kita akan mem-blow up hal itu, menjadi sebuah headline yang bernilai jual tinggi. Lambat laun tanpa kita sadari, kita ini, dewasa ini, menjadi sangat nyaman dengan membuka aib yang kita miliki. Aneh! Iya kan? 
Tidak berhenti hanya di situ, ketika hal buruk itu terjadi, padahal hanya merupakan sebuah kasus dari beberapa oknum tapi dengan sangat angkuhnya dengan kekuatan argumentasi dalam opini serta wacana maka hal buruk itu seolah-olah menjadi sebuah hal yang menyeluruh. Kita mengeneralisir hal buruk itu sehingga seperti semua nya bernilai buruk! 
Ya, saya pun akan menghabisi segala hal yang buruk tapi saya pun tidak akan pernah segan untuk mengapresiasi setinggi langit segala prestasi. Ayo-lah mari kita bertindak seimbang, mari kita berbuat sesuai dengan porsi. Yang baik kita nilai baik dan yang buruk mari kita nilai buruk. 

Kedua : Think Instantly 
Jangan kemudian anda salah mengartikan berpikir instan dengan berpikir cepat. Berpikir instan berarti berpikir untuk kemudian bertindak melewati sebuah proses sedangkan berpikir cepat berarti tetap melewati serangkaian proses akan tetapi mampu untuk melewati proses tersebut dengan cepat. Sehingga yang saya maksud di sini adalah segala pikiran, tindakan, serta kebiasaan kita yang selalu ingin mudah, ingin berlari tanpa terlebih dahulu berjalan, ini yang salah, ini yang aneh dan ini adalah hal yang sangat tidak rasional. 

Adapun ketika kita mampu untuk mendapatkan hasil yang baik tanpa melewati proses yang benar maka yakin-lah ketika saatnya nanti kita jatuh maka kita akan jatuh secara keras tanpa mampu untuk kita redam berbeda halnya ketika kita mampu untuk mendapatkan hasil yang baik dari serangkain proses yang juga benar maka ketika nanti kita harus jatuh maka kita tidak akan jatuh terlalu jauh dan kita masih mampu untuk mengendalikan diri ketika jatuh. 

Contoh lainnya adalah ketika saya berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan, kasir yang ketika itu bertugas mengeluh dengan sangat bahwa kenapa harus banyak orang yang belanja di tempat tersebut. Sungguh aneh, sangat tidak masuk di akal, dia bekerja sebagai seorang kasir maka sudah tugasnya untuk seperti itu dan kenapa dia harus mengeluhkan dengan banyaknya orang yang datang, bukankah ketika tidak ada orang yang datang berbelanja di toko itu maka toko itu kemudian akan bangkrut dan apabila toko itu bangkrut bukankah dia akan kehilangan pekerjaannya? dan bila dia tidak bekerja, dari mana dia mampu untuk mendapatkan uang untuk meneruskan hidup? Aneh! 
Maka hal ini tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang mengeluh dengan ketatnya peraturan ketika dia bersekolah di sebuah sekolah kedinasan, aneh! Pun dengan orang yang ingin kaya tapi justru bekerja sebagai seorang Pegawai Negeri, sangat aneh! 

Dua contoh yang saya sebutkan di atas sungguh hanya merupakan contoh kecil dari banyak sifat serta kebiasaan kita yang sangat jauh dari akal sehat dan sangat dekat dengan pesimisme. Tapi garis besar yang perlu kita cermati di sini adalah hal–hal itu mampu untuk ada dan terjadi karena diri kita yang tak mampu untuk bersyukur. Kita selalu lupa dengan nasihat bahwa ketika kita beribadah maka kita harus berpikir seakan-akan kita tidak akan pernah lagi bertemu dengan hari esok akan tetapi ketika bekerja atau berusaha untuk urusan dunia maka kita harus merasa bahwa kita akan hidup untuk selamanya. Sehingga sebenarnya apabila kita mampu untuk berbuat seperti itu kita akan tenang dalam menjalani hidup senantiasa melihat ke bawah, sehingga kita terus mampu bersyukur. 

Ya, bersyukur itu adalah kunci dari semuanya karena Allah Swt. berjanji dan ketika Allah Swt. berjanji maka jangan sekali-kali kita meragukannya, apabila kita mampu untuk bersyukur terhadap nikmat yang diberikan oleh-Nya maka Dia akan melipatgandakan itu semua. 

Mari kita biasakan yang tidak biasa, untuk diri yang lebih baik lagi untuk Negara Indonesia yang juga jauh lebih baik lagi!

Kamis, 09 Agustus 2012

Ini bukan bentuk perlawanan, hanya masukan

Satu hal yang pasti di Perguruan Tinggi Kedinasan ( PTK ) tempat saya menuntut ilmu saat ini adalah ketidakpastian. Ini bukan sebuah lelucon dan saya pun sungguh tidak sedang dalam mood untuk membuat sebuah lawakan, itu sebuah keniscayaan juga kritikan. Selama ketidakpastian itu adalah sebuah kepastian maka selama itu pula tak akan pernah tercapai sebuah kehidupan yang nyaman apalagi menenangkan. Ketika dalam hitungan detik segala sesuatu itu masih bisa dirubah atau berubah tanpa ada sebuah tanda, ketika rumor/isu itu dibiarkan bebas berkeliaran liar dan seakan memang sengaja untuk dibiarkan sehingga seperti sebuah kebenaran, maka apakah bisa sebuah jiwa seorang manusia yang ada di dalamnya bisa merasa tenang, merasa nyaman? 
Perlu lebih dari kesabaran, kebesaran hati, kelapangan dada untuk mampu menjalani itu semua, menikmatinya, mensyukurinya, melihat dari sudut pandang yang positif sehingga akhirnya mampu untuk merasa tenang serta nyaman dalam kondisi seperti itu. 
Berat, susah, tapi bukan suatu hal yang tak mungkin untuk dilakukan karena bukankah tak ada yang tak mungkin di dunia ini?  

Telah beberapa kali tangan pimpinan itu dalam tanda hitam di atas putih sebuah keputusan merubah segala sesuatunya secara sangat cepat, tapi tidak selalu tepat tanpa ada pratanda ataupun kebijaksanaan yang utuh menyeluruh. Adil itu tidak sama rata tapi menempatkan segala sesuatunya tepat dan benar pada tempatnya. Tidak mudah, karena itu berarti harus berpikir secara komprehensif dan detail juga berani, tapi bukankah itu resiko menjadi seorang pimpinan? 

Perencanaan adalah inti dari segalanya, terlebih untuk sebuah perguruan tinggi, tempat peserta didik menuntut ilmu, terlebih di dalam sebuah PTK yang telah secara jelas dan pasti nantinya akan bekerja untuk menjalankan sebuah roda pemerintahan, mengurusi hajat hidup orang banyak. Perencanaan adalah harga mati, tanpa sebuah perencanaan yang baik juga benar, omong kosong pemerintahan itu dapat berjalan dengan baik dan juga benar. 
Dengan sebuah perencanaan maka kita belajar untuk berpikir jauh kedepan, berpikir luas. 
Dengan sebuah perencanaan maka segala hal mampu untuk kita selenggarakan lebih baik, sistematis, jelas dan tepat tujuannya. 
Dengan perencanaan pula kita mampu untuk bergerak lebih stabil dan pasti, segala rintangan, hambatan mampu kita antisipasi sedini mungkin sehingga kita mampu untuk bersiap menghadapinya sebaik mungkin. Sehingga ada kah yang berani memberikan argumen bahwa perencanaan itu tak penting serta tak perlu untuk kita lakukan? Anyone

Lalu bukankah justru sebuah ironi ketika dalam masa pendidikan, kami, peserta didik telah dihadapkan dengan sebuah perencanaan yang sangat tidak matang, jauh dari kata baik apalagi benar? Betul kita ini selain disiapkan untuk menjadi seorang akademisi, jauh lebih utamanya disiapkan untuk menjadi seorang praktisi, maka ya kami lebih diutamakan untuk langsung dihadapkan pada sebuah praktek nyata menjalankan sebuah roda pemerintahan tapi bukan artinya kami harus dihadapkan dengaan kondisi nyata pemerintahan yang tidak seharusnya juga sebaiknya, karena apabila kami tidak dididik untuk sebuah roda pemerintahan yang ideal, lantas kapan Negara ini akan berubah menjadi lebih baik? 
Atau kah kondisi pemerintahan sekarang ini sudah dianggap baik sehingga tak harus lagi ada sang pembaharu? 
Atau mungkin kah kaum tua itu telah terlalu nyaman dengan kondisi pemerintahan yang sekarang ini sehingga mereka pun mendesain lembaga pendidikannya sedemikian rupa untuk mendukung dan mempertahankan keadaan pemerintahan seperti sekarang ini? Yang menurut saya, sungguh jauh dari kondisi ideal dan jauh dari teori idealnya sebuah pemerintahan. 
Tidak ada teori yang tidak mampu untuk diterapkan terutama apabila itu berkenaan dengan sebuah teori yang baik serta benar! 

Seakan semakin menegaskan ketidakpastian itu, seakan semakin menegaskan ketidakmatangan perencanaan itu, lembaga pendidikan ini kembali membuat sebuah gebrakan, sebuah kontroversi dalam sebentuk cuti akademik dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1433 H/2012 M, kenapa kontroversi? 
Saya pribadi lebih melihat hal ini sebuah kontroversi tidak dalam kuantitas cuti yang akhirnya lembaga berikan akan tetapi lebih kepada latar belakang dari pemberian cuti itu sendiri dan setidaknya, menurut saya pribadi, ada dua alasan kenapa akhirnya saya berani menyebutkan bahwa pemberian cuti akademik kali ini sarat dengan kontroversi. 

Pertama : di perguruan tinggi manapun, jalannya sebuah tahun ajaran akademik ( T.A. ) pasti berdasarkan sebuah kalender akademik, yang di dalamnya pasti telah memuat segala macam tanggal serta waktu pelaksanaan segala hal yang berkaitan dengan kegiatan peserta didik di perguruan tinggi tersebut. Kalender akademik pasti dan harus diterbitkan serta diedarkan luas sebelum sebuah T.A. berjalan karena kalender akademik membantu para peserta didik untuk menyusun perencanaan mereka dalam menjalani masa pendidikan untuk satu tahun kedepannya. Kapan mereka akan menjalani ujian serta cuti tentunya. Kepastian cuti tentu menjadi sebuah hal yang penting, terlebih untuk Perguruan Tinggi Kedinasan ini karena berkaitan dengan pemesanan tiket transportasi menuju daerah asal masing-masing yang telah secara jelas berasal dari seluruh Provinsi yang ada di Indonesia. Tidak semuanya berasal dari keluarga yang berada, sehingga semakin cepat memesan tiket maka semakin murah harga yang bisa didapat dan apakah ada kepastian ketika memesan mendadak tiket itu masih ada? 
Sebenarnya PTK ini juga telah jauh-jauh hari menerbitkan dan mengedarkan Kalender Akademik T.A. 2011-2012, lengkap serta telah jelas di dalamnya mencakup semua jadwal yang harus dilakukan oleh peserta didik selama T.A. 2011-2012 termasuk kapan para peserta didik itu akan mendapatkan cuti. 
Tapi kenapa lantas harus juga berubah? 
Tidak, bagi saya bukan perubahan itu yang menjadi sebuah permasalahannya, tapi apa pantas perubahan itu dilakukan dalam jangka waktu beberapa hari saja sebelum pelaksanaan cuti akademik seperti yang telah terdapat dalam kalender akademik yang terlanjur tersebar luas di kalangan peserta didik, lalu bagaimana dengan perencanaan yang telah kami buat berdasarkan kalender akademik itu?? 

Kedua : perubahan cuti akademik itu tidak diikuti dengan perubahan kalender akademik T.A. 2011-2012 secara keseluruhan. Di dalam kalender akademik T.A. 2011-2012 sebelum perubahan, cuti itu dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus s.d. 31 Agustus 2012, kemudian kenaikan tingkat dilakukan pada tanggal 7 september 2012 sehingga T.A. 2012-2013 efektif akan berjalan pada tanggal 10 september 2012. Dan setelah adanya sebuah perubahan, cuti akademik itu diberikan tanggal 11 Agustus s.d. 26 Agustus 2012 akan tetapi tidak ada sedikitpun perubahan untuk kenaikan tingkat maupun awal dimulainya T.A. 2012-2013 sehingga pertanyaan besarnya, apa yang akan kami lakukan pada rentang tanggal 27 Agustus s.d. 6 September 2012? 
Karena itu sungguh masa-masa kosong, karena kami telah selesai menjalani T.A. 2011-2012, sehingga apa yang akan kami kerjakan? 
Sungguh dalam masa penantian cuti ini pun, salah satu tingkat dari empat tingkat yag ada di PTK tersebut sudah merasakan bagaimana tidak enaknya berdiam diri dalam masa-masa kosong, karena secara de facto-nya T.A 2011-2012 bagi salah satu tingkatan tersebut telah berakhir pada tanggal 17 Juli 2012. 

Tapi apa boleh buat dan apa mau di kata, keputusan itu telah resmi dengan tanda tangan di atas kertas itu. PTK ini kata mereka, tidak murni sebuah perguan tinggi tapi tidak juga seluruhnya penuh birokrasi. PTK ini merupakan gabungan nyata sebuah lembaga pendidikan dan lembaga birokrasi pemerintahan. Apapun alasanya, kami memang harus tunduk dan taat karena itu-lah hakikatnya kami sebagai sekumpulan peserta didik. Respect, loyalitas dan disiplin merupakan tiga sikap utama yang katanya merupakan kelebihan kami bersekolah di PTK ini. Dan tiga sikap itu hanya akan mampu teruji dalam keadaan seperti ini, keadaan yang sama sekali tidak sesuai dengan harapan dari peserta didik. 


Lembaga pendidikan itu tempat kita belajar dan karena nantinya hampir dipastikan kami akan menjadi bagian dari pemerintahan, yang jelas harus tunduk, taat dan patuh pada pimpinan serta aturan maka dari semenjak sekarang pun kami harus belajar seperti itu. Tak akan menjadi manfaat juga bagi kami berkeluh kesah dan menumpahkan segala emosi negatif terhadap keputusan yang telah ditetapkan oleh pimpinan. Manis pahitnya harus kami telan, harus kami cerna. Jalani saja. 

Ini semua tidak lebih dan tidak kurang hanya sebuah tulisan kritikan jug masukan untuk masa depan yang lebih pasti, bukan merupakan sebuah perlawanan kepada pimpinan. karena saya sungguh tidak sedikit pun akan melakukan resistensi, saya terima itu, mencoba mensyukuri apa yang ada dan menimmati untuk kemudian menjalaninya. 
Tidak, tidak untuk mencari muka atau sok idealis dalam bahasa kami, tapi ini semua saya lakukan sebagai bentuk perwujudan usaha saya untuk menjadi seorang muslim yang baik, mengimplementasikan segala ibadah yang telah saya lakukan, aturan itu, keputusan pimpinan itu sama sekali tidak bertentangan dengan aturan agama jadi tak ada alasan bagi saya untuk tidak menaatinya. Iya kan? 

Dan untuk semua teman, rekan, yang masih mau untuk melawan keputusan itu dengan kembali ke kampus tidak tepat pada waktu yang telah ditetapkan, maka saya hanya bisa berkata, sungguh itu hak anda, silahkan anda lakukan apa yang menurut anda benar dan anda yakini benar adanya. Tapi saya hanya mampu berkata bahwa sebagai seorang sahabat juga rekan, akan jauh lebih baik apabila kita mampu untuk terlebih dahulu berusaha untuk kembali ke kampus pada tanggal yang telah ditetapkan, jadikan ini semua pembelajaran sikap loyal kita, kita syukuri setiap apa yang kita terima, melihat ke bawah tidak melihat jauh ke atas. Tapi apabila setelah kita berusaha ternyata kita tetap tak bisa untuk kembali tepat pada waktunya, misalnya kita telah kehabisan tiket ataupun orang tua kita tak mampu untuk membeli tiket seharga pada tanggal yang ada sesuai dengan jadwal maka itu sungguh di luar kuasa kita, kita laporkan itu semua disertai dengan fakta-fakta yang ada dan nyata, bukan dengan cara berbohong ke sana kemari atau sedari awal telah secara jelas berusaha untuk tidak kembali tepat pada waktunya. 

Adapun bila memang anda tetap bersikeras untuk kembali tidak tepat pada waktunya, maka tolong-lah bersikap jantan, jangan menjadi seorang pengecut dengan mencari-cari cara, mencari-cari kebohongan untuk membenarkan keterlambatan anda itu. 
Ayo-lah hadapi resiko itu secara gagah berani! 
Jangan membiasakan diri anda untuk berlari atau bersembunyi dari segala resiko yang seharusnya anda terima karena anda memang secara jelas serta terbukti berbuat suatu kesalahan.

bukankah hidup itu pilihan?

Minggu, 05 Agustus 2012

Filippo Inzaghi, Nomor 9 Terakhir

*catatan : Ya, Filippo "pippo" Inzaghi telah resmi mengundurkan diri dari dunia sepak bola sebagai seorang pemain dan ini merupakan tulisan yang benar-benar mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh seorang Inzaghi, sebuah tulisan yang benar-benar mampu mengelaborasikan apa yang ada dalam otak saya dan ditulis oleh seorang reporter/wartawan sehingga tak perlu lagi untuk ditanyakan kebenaran teorinya. 

Karena sekian lama saya menjadi seorang penggemar dari Inzaghi, masih terlalu banyak orang yang salah melihat dan menilai Inzaghi. Mereka tidak memahami sepak bola secara utuh, sehingga Inzaghi dianggap sebagai "bukan seorang pesepakbola". akh...
 
Dan oleh karena itu tak perlu untuk berpanjang kata lagi, silahkan anda baca, resapi dan pahami! Inzaghi itu seorang pesepakbola, seorang penyerang sejati!
 
 
Filippo Inzaghi, Nomor 9 Terakhir 
Arnoldi 

Filippp Inzaghi akhirnya memutuskan pensiun dari dunia sepak bola setelah kontraknya dengan AC Milan habis 30 Juni 2012. Bersamaan dengan itu, punah pula pemain dengan tipikal penyerang tengah murni alias No 9. Lho, bukannya masih banyak penyerang bernomor punggung 9 lainnya. Misalnya saja Alexis Sanchez di Barcelona atau Mirko Vučinić di Juventus? Memang, namun tidak ada lagi pemain seperti Inzaghi, yang merupakan prototipe penyerang tengah murni. 

Ya, Inzaghi bisa dikatakan merupakan contoh pas untuk menggambarkan seorang penyerang tengah klasik. Ia jarang menggiring bola melewati lawannya, melakukan trik, atau lainnya. Ia lebih sering berlari menuju lini pertahanan lawan atau berdiri di posisi tepat untuk menerima umpan dan mencetak gol. Karena kaharakteristiknya itu, kita sering melihat Inzaghi terperangkap off-side. Sir Alex Ferguson bahkan sempat berkata kalau "Inzaghi dilahirkan off-side". 

Meski demikian, mantan bomber tim nasional Italia itu adalah finisher sejati. Tak ada yang bisa menyaingi ketajaman Inzaghi di kotak penalti. Penyerang berusia 38 tahun itu mempunyai naluri mencetak gol tinggi. Setiap ada bola yang diumpan ke arahnya, baik itu matang atau tidak, asal ia bisa digapai, maka Inzaghi akan menjadikannya gol. Hal itu terbukti dari catatan golnya di Serie A dan Eropa. Selama 21 tahun berkarier di Serie A dan Eropa, Inzaghi talah tampil sebanyak 623 laga. Dari 623 penampilannya itu, Inzaghi menjaringkan 288 gol di segala ajang. Ia bahkan menjadi pencetak gol keempat terbanyak di Italia dengan catatan 318 gol. Torehan gol itupun ia jawantahkan lewat trofi. Dua trofi Liga Champion, tiga Scudeto, satu Club World Cup, satu Intertoto, dua UEFA Super Cup, dua Super Coppa, satu Coppa Italia, dan satu trofi Piala Dunia telah ia persembahkan untuk klubnya dan tim nasional Italia. 

Kini Inzaghi telah pensiun. Bersamaan dengannya, punah pula nomor 9 murni. Inzaghi menjadi penutup era jaya penyerang tengah murni setelah mengikuti Gerd Muller, Gary Lineker, Ruud van Nistelrooy, dan David Trezeguet pensiun. Tak ada lagi penyerang seperti Inzaghi. 

Kini sepak bola memasuki era dimana penyerang harus menjadi pesepak bola komplet. Mereka harus bisa menggiring bola melewati lawan-lawannya, melakukan trik, atau sebagainya semisal yang dilakukan Wayne Rooney, Cristiano Ronaldo, atau Lionel Messi. 

Jika ada pemain bertipikal no 9 murni, maka kebanyakan tim tak lagi bisa mengakomodasinya. Kini klub maupun tim lebih banyak menempatkan satu penyerang di lini depan dan dia harus bisa membuka ruang dan bekerja di luar kotak penalti. Bahkan beberapa tim tak lagi memakai penyerang, contohnya Spanyol di Euro 2012. 

Dengan demikian, pensiunnya Inzaghi merupakan sesuatu yang harus kita peringati karena dunia sepak bola telah kehilangan satu sosok penting. Dunia sepak bola semakin miskin karena tak ada lagi striker murni mumpuni seperti Inzaghi, si nomor 9 terakhir. 
 


Cerita Hahaha

hahaha
ku awali saja dengan tawa
walau tak seluruh lucu juga
tap setelah ku pikir lama-lama,
eh... lucu ternyata.

"masih kah kau teringat?
di satu malam yang pekat
kau dengan senyum yang memikat
memberi ku roti, oh sungguh nikmat!"

lucu apa bodoh ya?

beda tipis soalnya,
kadang hal bodoh itu lucu membuat kita tertawa,
dan kadang hal-hal lucu itu memang bodoh adanya.

tapi memang ada apa sih, dima?
emang yang lucu apa?

"masih kah kau teringat?
di satu malam yang pekat
kau dengan senyum yang memikat
memberi ku roti, oh sungguh nikmat!"


mmm...sebelum lanjut ku bercerita,
kita sepakat ini sebut lucu saja,
jangan bilang bodoh nantinya.
deal ya?

ini lucu karena...
aku yang terlalu pede jadi manusia,
terlalu mengartikan lebih sebuah pesan biasa,
terlalu sok berpikir akan selalu ada makna
yang tersirat dalam setiap kumpulan kata demi kata.
 
dan akhirnya...
yaa...begini lah jadinya...

terjebak oleh perasaan tak terdefinisi,
apalagi tertemani.

malah diri ini jadi senantiasa gelisah,
terus memelas, cemas, hingga lemas.

akh...bodohnya, eh salah! lucu maksudnya!
hahaha


"masih kah kau teringat?
di satu malam yang pekat
kau dengan senyum yang memikat
memberi ku roti, oh sungguh nikmat!"

Jumat, 03 Agustus 2012

Memperindah Rohani

Saya teringat ketika di suatu saat pada satu masa ( seperti biasa dan akan terus terbiasa seperti ini, saya selalu tidak mampu untuk mengingat secara pasti dan tepat suatu tanggal dalam almanak tentang satu kejadian atau peristiwa dalam hidup, saya hanya mampu untuk teringat rasa serta emosi yang ada pada saat semua itu terjadi ), saya dengan sangat angkuhnya berkata sembari menengadahkan kepala bahwa saya tidak akan pernah membutuhkan kata-kata bijak dari seorang motivator karena saya pikir sehebat apapun kata-kata itu tak akan pernah mampu untuk membantu sedikitpun bila diri seseorang itu telah mati. Ya, motivasi itu sangat tergantung dengan kemauan dan kemampuan dalam diri setiap manusia itu sendiri. Di sisi lain saya pun lebih memilih untuk mendengarkan ceramah atau tausiyah dari seorang Ustadz daripada kalimat indah nan bijak dari seribu motivator. 

Saya tidak anti dengan para motivator tapi saya hanya lebih suka serta nyaman mendengarkan ceramah dari seorang Utadz karena bagi saya pribadi ketika ada seorang Ustadz yang menyampaikan ceramahnya, mengemukakan yang hak itu benar dan yang bathil itu salah maka di dalam setiap perkataan Ustadz itu pasti akan selalu terdapat kata-kata pembangkit motivasi dan bahkan setiap kata yang beliau ucapkan adalah kata-kata motivasi bagi setiap mereka yang mendengarnya untuk mampu senantiasa memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih berkualitas. Dan satu nilai lebih yang tidak akan pernah mampu untuk di dapatkan ketika kita mendengar seorang motivator biasa adalah apa yang disampaikan dan disarankan oleh seorang Ustadz merupakan suatu jalan yang telah jelas hukumnya sedangkan apa yang dikatakan oleh seorang motivator terkadang tidak terlalu terang dasar hukumnya, mereka hanya berlandaskan semangat dalam hidup. Sehingga bagi saya seorang Ustadz atau sebutan lainnya untuk mereka-mereka yang telah mendalami ilmu agama Islam adalah juga seorang motivator, terlebih ketika mereka menyampaikan kisah-kiasah teladan Rasulullah, sahabat dan tabiin. 

Akan tetapi saya pun harus jujur mengakui tidak semua ceramah yang disampaiikan oleh seorang Ustadz mampu saya terima dan implementasikan dengan baik, terkadang ada beberapa Ustadz yang dalam penyampaiannya, menurut saya, sangat membosankan sehingga tak mampu diri ini tertarik dibuatnya. Memang hal ini sedikit subjektif karena seharusnya dan sewajibnya kita tidak melihat siapa dan dengan apa sesutu hal itu datang tapi kita harus melihat apakah sesuatu hal itu benar atau salah. Kita harus melihat isi dan substansi bukan kemasannya. Tapi itu-lah manusia, termasuk saya, tidak mudah menerima sesutau hal meskipun hal itu baik dan benar bila tidak disampaikan dengan cara yang menarik. 

Bagi saya, Ustadz yang menarik adalah Ustadz yang mampu untuk benar-benar menyampaikan yang hak itu benar dan yang bathil itu salah tanpa suatu tendensi apalagi terkotak-kotak oleh sebuah kelompok dan kepentingan, mampu untuk menghidupkan suasana, dinamis serta fleksibel dalam penyampaian tapi tetap fokus pada tema yang disampaikan, interaktif, lugas, tegas tapi juga tetap menyelipkan joke-joke segar serta terbuka dengan setiap pertanyaan dan memberikan argumen yang kuat, sistematis beserta contoh-contoh nyata yang mudah untuk terpahami. Tidak semua Ustadz memang mampu untuk seperti itu karena bagaimanapun mereka mempunyai gayanya tersendiri dalam setiap ceramah yang mereka sampaikan tapi toh dengan kriteria pribadi seperti itu, saya tetap mampu untuk menemukan Ustadz-ustadz yang menurut saya mampu untuk menarik hati ini serta menggugah jiwa ini untuk senantiasa berubah kearah yang lebih baik. 

Di bulan Ramadhan 1433 H ini, beruntung bagi saya, saya bisa untuk dengan konsisten menerima ceramah setiap malamnya karena ROHIS IPDN Kalbar membentuk sebuah program tausiyah sebelum pelaksanaan shalat sunah tarawih dan witir atau setelah pelaksanaan shalat wajib Isya. Memang di setiap malamnya tidak selalu diisi oleh seorang Ustdaz tapi dengan semangat pembelajaran yang dicanangkan oleh ROHIS dan keyakinan bahwa kebenaran dan ilmu itu bisa datang dari siapa saja tanpa memandang umur maupun jabatan maka dari pihak peserta didik juga pejabat di Kampus pun mendapat giliran untuk menyampaikan ceramah atau nasihat mengenai kehidupan beragama. 
Sungguh saya pun tidak pernah ingin menjadi seseorang yang sombong, saya selalu ingin untuk mampu mengambil setiap kebenaran dan ilmu darimanapun kebenaran dan ilmu itu datang. Sehingga setiap malamnya saya selalu antusias dan bersemangat untuk mendengar ceramah, nasihat atau apapun itu namanya, siapapun yang menyampaikannya. Bahkan ketika peserta didik yang mendapat giliran untuk menyampaikan ceramah terkadang hal itu menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi saya dan juga teman-teman saya yang lainnya, karena mereka menyampaikan dengan gaya meraka yang khas dengan berbagai candaan yang juga khas. 
Akh, sungguh momen yang tak terlupakan! 

Di malam Jumat atau hari Kamis, tanggal 2, bulan Agustus, tahun 2012, sesuai dengan jadwal yang telah disusun oleh teman-teman aktivis ROHIS maka yang akan menyampikan ceramah adalah seorang Ustadz, bukan peserta didik bukan juga pejabat, beliau adalah Ustadz Badaruddin. Saya pribadi telah beberapa kali mendengar beliau berceramah, yaitu ketika acara Mabit yang juga diselenggarakan oleh ROHIS dan juga saat pelaksanaan shalat Jumat. Dan beliau menurut saya pribadi, merupakan Ustadz yang mampu menarik hati setiap pendengarnya ketika penyampaian ceramah sehingga ya, saya pun antusias untuk bisa cepat mendapat ceramah dari beliau. Dan memang saya pun benar-benar puas dengan apa yang telah disampaikan oleh beliau pada malam itu, beliau seperti yang telah saya perkirakan juga seperti pada saat ceramah-ceramah sebelumnya, mampu untuk menarik hati saya pribadi sehingga khusyuk mendengarkkan apa yang beliau sampaikan. Benar-benar merasuk ke dalam sukma dan sungguh menggugah jiwa. 
Tenang rasanya… 

Pada malam itu beliau mengambil tema mengenai rohani manusia. 
Kenapa tema itu? 
Karena kita semua sering terlupa juga terlena dengan keadaan fisik jasmaniah kita sebagai manusia dan karena kita terlupa kita pun sering tak adil dalam memperlakukan rohani kita, kita terlampau sering untuk mendandani dan memperindah fisik jasamani tapi kita jarang bahkan tak pernah untuk sedikit pun memperdulikan rohani. 
Hei, bukankah rohani itu tak tampak serta abstrak? 
Jadi kenapa juga kita harus repot-repot mempercantiknya? 
Itu-lah sebuah pemahaman yang salah, sungguh sangat salah cenderung menyesatkan bahkan. 
Kenapa? 
Karena sungguh yang kekal itu adalah rohani, kelak yang akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban, merasakan siksanya neraka atau indahnya surga adalah roh kita. Jasad kita, fisik kita, jasmani kita hanya-lah cangkang, hanya sebuah wadah, sebuah benda yang pasif, yang tak akan mampu untuk bergerak maupun bertindak tanpa adanya roh. Segala apa yang kita kerjakan dan lakukan semua berasal dari rohani kita. Untuk kita sebagai seorang muslim, pemahaman ini tidak akan menjadi terlalu sulit untuk kita pahami karena sudah sangat teramat jelas tertulis dalam kitab kita, kitab suci Al-Qur’an, ketika Allah Swt., menyeru jiwa kita, roh kita untuk taat kepada-Nya. Allah Swt. tidak pernah menyeru kepada jasad kita. 

Rohani terletak di dalam Qolbu atau hati, dan ini pun sesuatu hal yang abstrak tapi jelas ada. Jangan sempitkan pikiran kita dengan mengasosiasikan Qolbu dengan jantung maupun liver. Dan pada dasarnya Allah Swt. ketika meniupkan rohani masuk ke dalam jasad, Allah Swt. telah dengan sangat baik juga menganugerahkan empat potensi atau empat bekal untuk Qolbu kita berkembang dan bertindak nantinya di kemudian hari. Keempat potensi itu adalah : sifat-sifat ketuhanan yang terbatas dan sesuai dengan manusia, moralitas/akhlak, pengetahuan dan kemauan/keinginan. Empat hal itu merupakan potensi dasar dan Allah Swt. bagi adil juga rata kepada seluruh umat manusia yang ada, tapi lantas kenapa tak semua mampu untuk bertindak baik? 
Kenapa? 
Ada apa? 
Karena semua itu sungguh sangat tergantung dengan apa yang di dapatkan oleh manusia itu dalam tahapan selanjutnya dalam kehidupan, semua yang terlahir itu fitrah dan lingkungan-lah yang akhirnya akan membentuk Qolbu itu seperti apa. 

Lalu bagaimana caanya untuk kita mampu untuk senantiasa memperindah rohani kita? 
Jawabannya hanya satu, yaitu dzikrullah, selalu dan selalu kita mengingat kepada Allah, beribadah dan bertindak dalam setiap segi kehidupan seolah-olah dan percaya bahwa Allah melihat kita tanpa pernah terlewat sedikti pun. Hanya dengan cara seperti itu-lah kita akan mampu untuk mempercantik rohani kita. 

Jadi, mari bersama-sama kita mulai bersikap adil pada diri kita sendiri, mari mulai kita seimbangkan dalam hidup ini, tidak hanya kita sibuk untuk memperindah jasmani kita tapi mari kita juga sibukan diri ini untuk selalu memperindah rohani kita. Insya Allah, rohani yang indah maka jasamani kita pun akan dengan sendirinya terlihat indah dan memancarkan cahaya terang. 
Mari kita pahami dalam otak, resapi dalam hati dan implementasikan dalam sikap. 
Kalau bukan saat ini kapan lagi kawan?

Rabu, 01 Agustus 2012

Atas Nama Cinta


Atas Nama Cinta, sebuah buku sastra yang berisi lima buah puisi panjang hasil karya dari seorang aktivis sosial, atau yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan LSI-nya, yaitu Denny JA. Denny JA sendiri meng-klaim bahwa puisi yang dituliskan olehnya, yang kemudian dia himpun dalam satu buku bernama Atas Nama Cinta, merupakan sebuah genre baru dalam sastra Indonesia. Denny JA menyebutkan atau memberi nama karyanya ini dengan sebutan Puisi Esai, sebuah nama yang sebenarnya apabila kita pahami secara umum dan sederhana merupakan sebuah nama yang sangat bertentangan satu sama lainnya.  

Saya pribadi merupakan orang yang terlambat dalam mengetahui munculnya Puisi Esai ini. Saya memang seorang yang suka membaca dan membaca sebuah karya sastra, puisi khususnya, merupakan satu dari beberapa jenis bacaan yang saya sukai. Akan tetapi saya pun tidak terlalu mendalami puisi itu sendiri, saya hanya terkhusus menyukai karya satra, yang dalam hal ini berjenis puisi, hanya sebatas pada puisi yang dituliskan oleh Taufik Ismail dan juga satra karya dari penyair ternama Kahlil Gibran. Alasannya sederhana saja, saya tidak terlalu menyukai kata-kata yang memiliki makna terlalu luas dalam sebuah penulisan konotatif ataupun dengan sejuta macam majas lainnya. 
Di sisi lain, saya suka dengan konotasi, saya suka dengan permainan kata juga makna, saya suka majas, akan tetapi apabila itu ditampilkan secara penuh, utuh dan secara keseluruhan dari awal hingga akhir penulisan, otak saya terasa seperti pecah dibuatnya. Terlalu kompleks untuk saya urai! 

Saya lebih menyukai karya sastra yang ditulis dengan lugas dan mudah untuk saya cerna serta pahami dan sejauh itu saya baru menemukan kedua hal itu dalam setiap karya yang dituliskan oleh Taufik Ismail dan Kahlil Gibran. Taufik Ismail menuliskan mayoritas puisinya, saya katakan mayoritas tidak semuanya, dengan gaya penulisan seperti menulis sebuah cerita tapi tetap menjaga rima. Sungguh sangat indah dan juga pesannya mampu untuk tersampaikan dengan cepat dan tepat. Sedang Kahlil Gibran dengan prosa lirisnya, lebih terasa berat dan lebih banyak menggunakan bahasa-bahasa yang konotatif tapi saya pribadi masih mampu untuk memahami itu semua, hal yang paling saya sukai dari setiap karya Kahlil Gibran adalah permainan kata ketika dia mampu untuk menggambarkan satu situasi ke dalam beberapa paragraf dengan sangat baik dan sama sekali tidak melenceng. Indah! 

Saya pernah membaca dan bahkan saya mempunyai salah satu buku kumpulan puisi Chairil Anwar, sungguh indah tapi juga sungguh sulit untuk saya pahami. Perlu beberapa kali saya membacanya hingga akhirnya saya mampu untuk mengerti apa yang dituliskan oleh seorang Chairil Anwar atau setidaknya sedikit saja mengerti tentang itu semua. Jadi ketika ada seorang teman yang memberitahu saya tentang Puisi Esai, saya pun tertarik untuk mengetahuinya lebih lanjut. 

Singkat ceritanya, pada waktu itu, teman saya memberitahu bahwa ada sebuah lomba penulisan Puisi Esai yang diselenggarakan oleh salah satu pihak dan dia berpikir bahwa tidak ada salahnya apabila saya mengikuti perlombaan itu. Dia memberikan saya link atau alamat web untuk saya nantinya mendapatkan informasi lebih banyak lagi mengenai perlombaan itu. Saya pribadi tidak terlalu yakin dengan kemampuan saya dalam menulis terlebih menulis sebuah puisi apabila untuk mengikuti sebuah perlombaan karena saya menulis hanya untuk sebuah hobi dan saya hanya menulis ketika saya memang benar-benar ingin menulis, saya tidak menulis karena dorongan lain kecuali karena memang ingin menulis, tak bisa untuk dipaksakan dan saya pun tidak pernah tau kapan saya akan bisa menulis secara pasti dan spesifik waktu. Tak ada target, semua mengalir begitu saja. 
Sehingga bukan perlombaannya yang menarik hati ini untuk kemudian datang mengunjungi situs web yang diberikan oleh teman saya itu, tapi justru keinginan saya untuk lebih mengetahui apa sebenarnya dan seperti apa yang dinamakan dengan Puisi Esai. 

Akhirnya tak berselang lama setelah saya masuk dan membaca apa yang ada dalam situs itu saya pun memutuskan untuk membeli buku kumpulan puisi esai, yang berjudul Atas Nama Cinta. Ya, saya ingin lebih untuk memahami jenis puisi yang katanya baru. Buku telah mampu saya beli dan kemudian saya baca keseluruhan isi dalam buku tersebut hingga akhirnya saya pun jatuh cinta pada jenis puisi seperti itu. 

Puisi esai mampu untuk memuhi hasrat saya terhadap sastra yang indah tapi tetap lugas dan mudah untuk saya cerna. Puisi esai tetap mampu untuk menghadirkan permainan kata dalam rima tapi sekali lagi sangat mudah untuk saya pahami. Sekilas puisi esai ini mirip dengan puisi-puisi yang ditulis oleh Taufik Ismail tapi apa yang menjadikannya berbeda adalah Puisi Esai ini didasari oleh sebuah semangat dari seorang Denny JA untuk membuat sebuah karya satra yang mampu untuk menggabungkan antara Fakta dan Fiksi atau menghadirkan Fakta dalam sebuah tulisan Fiksi. Karena fiksi dianggap sebagai sebuah medium yang paling tepat dan paling mudah untuk dipahami masyarakat bahkan untuk fakta yang rumit sekalipun. Puisi Esai tetap mengedepankan Fakta, ditulis berdasarkan peristiwa, situasi, serta kondisi yang memang benar-benar terjadi lengkap dengan segala catatan kaki yang menyertainya sebagai bukti berita bahwa memang hal itu ada dan nayata akan tetapi disajikan melalui alur cerita, tokoh yang Fiksi, yang ditampilkan dalam beberapa ( banyak ) babak, dengan menggunakan dan memilih kata yang indah, juga berima sehingga pembaca pun mampu dengan mudah merasakan emosi serta pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Ya, itu-lah pemahaman saya terhadap apa yang dinamakan Puisi Esai. Setidaknya itu merupakan pemahaman yang paling sederhana, dibandingkan dengan pemahaman yang sangat rumit dan berat yang dituliskan oleh Sapardi Djoko Damono, Sutardji Colzoum Bachri dan Ignas Kleden dalam epilog di buku Atas Nama Cinta itu. Epilog yang saya pikir hanya akan mampu untuk terpahami secara utuh oleh mereka-mereka yang mempunyai sarjana dalam ilmu kesusastraan, tidak untuk orang seperti saya. 

Saya menyukai bahkan jatuh cinta pada kemasannya atau jenisnya, yaitu Puisi Esai tapi tidak terhadap isi atau pesan serta semangat yang ingin disampaikan oleh seorang Denny JA. Lima buah puisi esai yang terdapat dalam buku Atas Nama Cinta mempunyai tema utama yang sama yaitu tema tentang diskriminasi. Untuk diskrimansi terhadap kaum Tionghoa dan TKW di luar negeri, saya sangat setuju dan mendukung diskriminasi itu untuk sesegera mungkin dihilangkan akan tetapi untuk tiga diskrimnasi selanjutnya yang dihadirkan oleh Denny JA, yaitu diskriminasi terhadap kaum Ahmadiyah, Homoseks dan Pernikahan Beda Agama, saya sungguh memiliki cara berpikir yang bertolak belakang dengan seorang Denny JA. 
Karena bagi saya agama tetap harus berada di atas apapun, bahkan tidak untuk cinta sekalipun, yang walaupun katanya cinta itu lebih dulu ada dan lebih tua umurnya dari agama. Bagi saya dan seharusnya bagi setiap manusia di dunia, agama merupakan hal utama, yang tak bisa untuk ditawar bahkan disesuaikan, yang ada adalah segala sestau yang terjadi harus tunduk dan disesuaikan dengan agama yang ada! Karena kita ini adalah hasil ciptaan-Nya dan secara logika sangat sederhana sebagai makhkuk yang telah diciptakan, kita harus tunduk pada Dzat yang telah menciptakan kita dan taat serta tunduk patuh terhadap agama merupakan caranya karena dalam agama terdapat segala apa yang diperintah oleh-Nya dan juga segala apa yang telah dilarang oleh-Nya. 
Terkadang hal itu bertentangan dengan logika tapi itu-lah agama, tak akan pernah mampu untuk kita pahami hanya oleh logika semata, butuh lebih dari sekedar logika tapi juga Iman ( kepercayaan dan keyakinan dalam hati ) untuk kita mampu mengerti dan paham tentang agama untuk akhirnya kita akan mampu dengan iklas mengerjakan apa yang telah menjadi ketentuan agama, walaupun hal itu bertentangan dengan nafsu dan hasrat serta rasio kita sebagai seorang manusia. 

Di sisi lain saya pun termasuk orang yang setuju dengan apa yang dinamakan dengan diskriminasi tapi saya hanya setuju apabila diskriminasi itu dilakukan untuk sesuatu hal yang benar. Ketika ada orang yang menyimpang, seperti misalnya menjadi Gay, aliran sesat dan juga menikah beda agama, maka jelas orang-orang itu perlu untuk kita diskriminasi. Tapi ketika diskrimansi itu dilakukan kepada sekelompok orang yang sama sekali tidak salah, yaitu misalnya kaum Tionghoa dan TKW, maka jelas diskriminasi itu harus segera untuk dimusnahkan. Jadi, kita jangan memerangi hanya dalam sekedar tatanan kata diskrimasi itu, tapi kita harus terlebih dulu paham substansi dan materi pokok yang menjadi bahan diskriminasinya. Apabila memang yang menjadi korban diskriminasi itu adalah orang-orang yang telah secara jelas dan nyata bersalah, terlebih dalam aturan agama, kenapa kita masih harus membela mereka? Mau di bawa kemana dunia ini bila tanpa agama dan aturan? 

Kebebasan itu omomg kosong bila tanpa tanggung jawab dan tanggung jawab itu tidak hanya sebatas mau, mampu serta berani mempertanggung jawabkan apa yang telah kita perbuat akan tetapi lebih dari itu kita pun harus mampu menghormati kebebasan orang lain karena hakikat dari kebebasan adalah tidak ada kebebasan yang mutlak karena apabila kebebasan kita laksanakan secara penuh dan mutlak maka yakin-lah kita akan melanggar kebebasan orang lain. Walaupun memang dalam setiap puisi esai yang Denny JA tuliskan, dia berusaha untuk tidak menjadi hakim akan tetapi secara tersirat pesan dan makna itu tetap tidak mampu untuk terelakan. 

Jadi, saya pribadi sangat menyukai genre sastra seperti ini dan sangat mengapresiasi apa yang ditulis oleh seorang Denny JA bahkan saya menjadi berhasrat untuk mampu untuk menulis dan membuat sebuah Puisi Esai dan bila saat itu tiba sungguh hal itu akan menjadi sebuah kebanggan bagi saya akan tetapi dari segi isi atau tema yang dihadirkan serta semangat yang tersirat yang ada dalam lima puisi esai itu, saya tidak sepenuhnya setuju karena bagi saya pribadi dan sudah seharusnya bagi setiap manuisa di dunia ini, agama itu harus berada di atas segala-galanya karena kita ini Makhluk yang diciptakan oleh-Nya dan oleh sebab itu kita harus taat dan patuh terhadap Dia yang telah menciptakan kita. 
Se-simple itu, kawan!