Jumat, 03 Agustus 2012

Memperindah Rohani

Saya teringat ketika di suatu saat pada satu masa ( seperti biasa dan akan terus terbiasa seperti ini, saya selalu tidak mampu untuk mengingat secara pasti dan tepat suatu tanggal dalam almanak tentang satu kejadian atau peristiwa dalam hidup, saya hanya mampu untuk teringat rasa serta emosi yang ada pada saat semua itu terjadi ), saya dengan sangat angkuhnya berkata sembari menengadahkan kepala bahwa saya tidak akan pernah membutuhkan kata-kata bijak dari seorang motivator karena saya pikir sehebat apapun kata-kata itu tak akan pernah mampu untuk membantu sedikitpun bila diri seseorang itu telah mati. Ya, motivasi itu sangat tergantung dengan kemauan dan kemampuan dalam diri setiap manusia itu sendiri. Di sisi lain saya pun lebih memilih untuk mendengarkan ceramah atau tausiyah dari seorang Ustadz daripada kalimat indah nan bijak dari seribu motivator. 

Saya tidak anti dengan para motivator tapi saya hanya lebih suka serta nyaman mendengarkan ceramah dari seorang Utadz karena bagi saya pribadi ketika ada seorang Ustadz yang menyampaikan ceramahnya, mengemukakan yang hak itu benar dan yang bathil itu salah maka di dalam setiap perkataan Ustadz itu pasti akan selalu terdapat kata-kata pembangkit motivasi dan bahkan setiap kata yang beliau ucapkan adalah kata-kata motivasi bagi setiap mereka yang mendengarnya untuk mampu senantiasa memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih berkualitas. Dan satu nilai lebih yang tidak akan pernah mampu untuk di dapatkan ketika kita mendengar seorang motivator biasa adalah apa yang disampaikan dan disarankan oleh seorang Ustadz merupakan suatu jalan yang telah jelas hukumnya sedangkan apa yang dikatakan oleh seorang motivator terkadang tidak terlalu terang dasar hukumnya, mereka hanya berlandaskan semangat dalam hidup. Sehingga bagi saya seorang Ustadz atau sebutan lainnya untuk mereka-mereka yang telah mendalami ilmu agama Islam adalah juga seorang motivator, terlebih ketika mereka menyampaikan kisah-kiasah teladan Rasulullah, sahabat dan tabiin. 

Akan tetapi saya pun harus jujur mengakui tidak semua ceramah yang disampaiikan oleh seorang Ustadz mampu saya terima dan implementasikan dengan baik, terkadang ada beberapa Ustadz yang dalam penyampaiannya, menurut saya, sangat membosankan sehingga tak mampu diri ini tertarik dibuatnya. Memang hal ini sedikit subjektif karena seharusnya dan sewajibnya kita tidak melihat siapa dan dengan apa sesutu hal itu datang tapi kita harus melihat apakah sesuatu hal itu benar atau salah. Kita harus melihat isi dan substansi bukan kemasannya. Tapi itu-lah manusia, termasuk saya, tidak mudah menerima sesutau hal meskipun hal itu baik dan benar bila tidak disampaikan dengan cara yang menarik. 

Bagi saya, Ustadz yang menarik adalah Ustadz yang mampu untuk benar-benar menyampaikan yang hak itu benar dan yang bathil itu salah tanpa suatu tendensi apalagi terkotak-kotak oleh sebuah kelompok dan kepentingan, mampu untuk menghidupkan suasana, dinamis serta fleksibel dalam penyampaian tapi tetap fokus pada tema yang disampaikan, interaktif, lugas, tegas tapi juga tetap menyelipkan joke-joke segar serta terbuka dengan setiap pertanyaan dan memberikan argumen yang kuat, sistematis beserta contoh-contoh nyata yang mudah untuk terpahami. Tidak semua Ustadz memang mampu untuk seperti itu karena bagaimanapun mereka mempunyai gayanya tersendiri dalam setiap ceramah yang mereka sampaikan tapi toh dengan kriteria pribadi seperti itu, saya tetap mampu untuk menemukan Ustadz-ustadz yang menurut saya mampu untuk menarik hati ini serta menggugah jiwa ini untuk senantiasa berubah kearah yang lebih baik. 

Di bulan Ramadhan 1433 H ini, beruntung bagi saya, saya bisa untuk dengan konsisten menerima ceramah setiap malamnya karena ROHIS IPDN Kalbar membentuk sebuah program tausiyah sebelum pelaksanaan shalat sunah tarawih dan witir atau setelah pelaksanaan shalat wajib Isya. Memang di setiap malamnya tidak selalu diisi oleh seorang Ustdaz tapi dengan semangat pembelajaran yang dicanangkan oleh ROHIS dan keyakinan bahwa kebenaran dan ilmu itu bisa datang dari siapa saja tanpa memandang umur maupun jabatan maka dari pihak peserta didik juga pejabat di Kampus pun mendapat giliran untuk menyampaikan ceramah atau nasihat mengenai kehidupan beragama. 
Sungguh saya pun tidak pernah ingin menjadi seseorang yang sombong, saya selalu ingin untuk mampu mengambil setiap kebenaran dan ilmu darimanapun kebenaran dan ilmu itu datang. Sehingga setiap malamnya saya selalu antusias dan bersemangat untuk mendengar ceramah, nasihat atau apapun itu namanya, siapapun yang menyampaikannya. Bahkan ketika peserta didik yang mendapat giliran untuk menyampaikan ceramah terkadang hal itu menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi saya dan juga teman-teman saya yang lainnya, karena mereka menyampaikan dengan gaya meraka yang khas dengan berbagai candaan yang juga khas. 
Akh, sungguh momen yang tak terlupakan! 

Di malam Jumat atau hari Kamis, tanggal 2, bulan Agustus, tahun 2012, sesuai dengan jadwal yang telah disusun oleh teman-teman aktivis ROHIS maka yang akan menyampikan ceramah adalah seorang Ustadz, bukan peserta didik bukan juga pejabat, beliau adalah Ustadz Badaruddin. Saya pribadi telah beberapa kali mendengar beliau berceramah, yaitu ketika acara Mabit yang juga diselenggarakan oleh ROHIS dan juga saat pelaksanaan shalat Jumat. Dan beliau menurut saya pribadi, merupakan Ustadz yang mampu menarik hati setiap pendengarnya ketika penyampaian ceramah sehingga ya, saya pun antusias untuk bisa cepat mendapat ceramah dari beliau. Dan memang saya pun benar-benar puas dengan apa yang telah disampaikan oleh beliau pada malam itu, beliau seperti yang telah saya perkirakan juga seperti pada saat ceramah-ceramah sebelumnya, mampu untuk menarik hati saya pribadi sehingga khusyuk mendengarkkan apa yang beliau sampaikan. Benar-benar merasuk ke dalam sukma dan sungguh menggugah jiwa. 
Tenang rasanya… 

Pada malam itu beliau mengambil tema mengenai rohani manusia. 
Kenapa tema itu? 
Karena kita semua sering terlupa juga terlena dengan keadaan fisik jasmaniah kita sebagai manusia dan karena kita terlupa kita pun sering tak adil dalam memperlakukan rohani kita, kita terlampau sering untuk mendandani dan memperindah fisik jasamani tapi kita jarang bahkan tak pernah untuk sedikit pun memperdulikan rohani. 
Hei, bukankah rohani itu tak tampak serta abstrak? 
Jadi kenapa juga kita harus repot-repot mempercantiknya? 
Itu-lah sebuah pemahaman yang salah, sungguh sangat salah cenderung menyesatkan bahkan. 
Kenapa? 
Karena sungguh yang kekal itu adalah rohani, kelak yang akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban, merasakan siksanya neraka atau indahnya surga adalah roh kita. Jasad kita, fisik kita, jasmani kita hanya-lah cangkang, hanya sebuah wadah, sebuah benda yang pasif, yang tak akan mampu untuk bergerak maupun bertindak tanpa adanya roh. Segala apa yang kita kerjakan dan lakukan semua berasal dari rohani kita. Untuk kita sebagai seorang muslim, pemahaman ini tidak akan menjadi terlalu sulit untuk kita pahami karena sudah sangat teramat jelas tertulis dalam kitab kita, kitab suci Al-Qur’an, ketika Allah Swt., menyeru jiwa kita, roh kita untuk taat kepada-Nya. Allah Swt. tidak pernah menyeru kepada jasad kita. 

Rohani terletak di dalam Qolbu atau hati, dan ini pun sesuatu hal yang abstrak tapi jelas ada. Jangan sempitkan pikiran kita dengan mengasosiasikan Qolbu dengan jantung maupun liver. Dan pada dasarnya Allah Swt. ketika meniupkan rohani masuk ke dalam jasad, Allah Swt. telah dengan sangat baik juga menganugerahkan empat potensi atau empat bekal untuk Qolbu kita berkembang dan bertindak nantinya di kemudian hari. Keempat potensi itu adalah : sifat-sifat ketuhanan yang terbatas dan sesuai dengan manusia, moralitas/akhlak, pengetahuan dan kemauan/keinginan. Empat hal itu merupakan potensi dasar dan Allah Swt. bagi adil juga rata kepada seluruh umat manusia yang ada, tapi lantas kenapa tak semua mampu untuk bertindak baik? 
Kenapa? 
Ada apa? 
Karena semua itu sungguh sangat tergantung dengan apa yang di dapatkan oleh manusia itu dalam tahapan selanjutnya dalam kehidupan, semua yang terlahir itu fitrah dan lingkungan-lah yang akhirnya akan membentuk Qolbu itu seperti apa. 

Lalu bagaimana caanya untuk kita mampu untuk senantiasa memperindah rohani kita? 
Jawabannya hanya satu, yaitu dzikrullah, selalu dan selalu kita mengingat kepada Allah, beribadah dan bertindak dalam setiap segi kehidupan seolah-olah dan percaya bahwa Allah melihat kita tanpa pernah terlewat sedikti pun. Hanya dengan cara seperti itu-lah kita akan mampu untuk mempercantik rohani kita. 

Jadi, mari bersama-sama kita mulai bersikap adil pada diri kita sendiri, mari mulai kita seimbangkan dalam hidup ini, tidak hanya kita sibuk untuk memperindah jasmani kita tapi mari kita juga sibukan diri ini untuk selalu memperindah rohani kita. Insya Allah, rohani yang indah maka jasamani kita pun akan dengan sendirinya terlihat indah dan memancarkan cahaya terang. 
Mari kita pahami dalam otak, resapi dalam hati dan implementasikan dalam sikap. 
Kalau bukan saat ini kapan lagi kawan?

3 komentar: