Selasa, 22 Juli 2014

Ibadalana uliy ba’sin syadid

Selasa, 22 Juli 2014
22.00 WIB

Saya akan menampilkan atau mem-posting tulisan dari Bapak Usep Romli, Pengasuh Pesantren Budaya "Raksa Sarakan" Garut. Tulisan ini merupakan tulisan di kolom Opini, harian Republika yang diterbitkan pada hari Selasa, 22 Juli 2014.

Beliau menulis tentang (satu-satunya) cara untuk bisa mengalahkan zionis Israel. sehingga tulisannya pun diberi judul, Mengalahkan Zionis Israel.

Berikut ini tulisannya saya tampilkan penuh tanpa ada sedikit pun saya kurangi atau tambahkan.

"Mengalahkan Zionis Israel"

Hari-hari ini, bangsa Palestina di Jalur Gaza sedang dibombardir pasukan Zionis-Israel. Nyaris tak ada perlawanan sama sekali, karena Palestina tak punya tentara. Hanya ada beberapa kelompok sipil bersenjata yang berusaha bertahan seadanya. Negara-negara Arab yang tergabung dalam Liga Arab tak berdaya. Begitu pula negara-negara berpenduduk mayoritas Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), tak dapat berbuat apa-apa. Sehingga, Zionis Israel tampak gagah perkasa. Tak ada yang mampu menandingi. Apakah memang Zionis Israel tak akan ada yang mengalahkan. Sebetulnya ada. Menurut Syekh Bayuth at-Tamimi, Imam Besar Masjidil Aqsa, Jerusalem, tahun 1960-an, dalam bukunya Israil wal Quran (1975), yang akan mampu mengalahkan Zionis Israil adalah “Ibadalana uliy ba’sin syadid”. Hamba-hamba Kami (Allah SWT), yang memiliki fisik kuat, mental sehat, dan intelektual hebat (QS al-Isra : 5).

Tapi, Zionis Israel telah lebih dulu waspada. Mereka segara menerapkan strategi pencegahan, agar generasi yang akan mengalahkan mereka, tidak lahir segera. Mereka giring generasi muda Islam agar fisiknya lemah (karena sering begadang malam di tempat-tempat hiburan), mentalnya sakit (dicekoki film-film porno, musik-musik bersyair kelas kambing, dll), otaknya bodoh (dijauhkan dari perpustakaan, majelis ilmu, dsb).

Kapan generasi umat “ibadalana uliy ba’sin syadid” pengahancur kekejaman Zionis Israel akan lahir? Tergantung kesiapan pembentukan dan pembinaan generasi itu sekarang.

Jika generasi itu sudah lahir, tak ada istilah umat Islam kalah oleh Yahudi Zionis Israel, baik dalam perang militer maupun perang pemikiran dan perang budaya. Sejarah masa lalu mencatat, beberapa kali Bani Israil (sebutan untuk kaum Yahudi) menyerang umat Islam, selalu menemui kegagalan.

Pada tahun 5 Hijriah Yahudi Bani Quraidzah, berkomplot dengan Musyrikin Makkah dan kelompok-kelompok penentang “Nubuwah” Muhammad SAW, membentuk pasukan “multinasional”. Mereka mengepung Madinah berhari-hari. Tapi, tak dapat masuk ke dalam kota, karena pasukan umat Islam menggunakan pertahanan parit (khandak). Sehingga peristiwa itu dinamakan perang Khandak.

Suatu malam, hati para pasukan pengepung dihinggapi rasa takut luar biasa, sehingga mereka melarikan diri. Mereka meninggalkan tenda, perbekalan, dan senjata. Sebagian dari mereka tewas terbunuh, sebagian lagi ditawan (QS al-Ahzab : 26).

Puncaknya adalah perang Khaibar. Perang besar diikuti langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Setara dengan perang-perang Badar, Uhud, Khandak, Hunain, dll. Terjadi pada 9 Hijriah, setahun setelah kaum Muslimin berhasil menundukan Makkah (Futuh Makkah).

Khaibar adalah nama permukiman bangsa Yahudi, kurang lebih 30 km sebelah timur laut Madinah. Mereka sudah hidup berkembang biak di sana, selama ratusan tahun. Mereka tinggal di benteng-benteng yang kokoh-kuat. Diperkuat cadangan makanan untuk dua tahun dan persenjataan terhebat yang belum pernah ada dalam sejarah peperangan masa itu.

Tapi, ketika benteng-benteng Khaibar diserang pasukan umat Islam, yang dikomandani Ali bin Abi Thalib, hanya memerlukan waktu singkat saja untuk merebutnya. Benteng Khaibar didobrak. Penghuninya kucar-kacir. Sebagian besar terbunuh dan ditawan. Sisanya melarikan diri. Tamatlah riwayat Yahudi di seluruh Jazirah Arab.

Kekalahan Yahudi di benteng-benteng Khaibar yang kuat itu, dikisahkan dalam QS al-Hasyr. Pada ayat 14 dinyatakan, umat Yahudi (Khaibar) seperti bersatu-padu (dalam lindungan benteng), padahal hati mereka terpecah belah sehingga mereka kalah.

Oleh Yahudi Zionis Modern, kekalahan nenek moyang mereka di Khaibar dijadikan bahan kajian. Diolah sedemikian rupa. Faktor kekalahan, yaitu watak dan sikap Yahudi Khaibar waktu itu tidak kompak. Mereka saling merasa punya pendapat paling benar. Maka, merkea segera koreksi diri dan meninggalkan watak dan sifat itu. Lalu mereka menyingkirkan segala perbedaan dan mengikat semua bangsa Yahudi menjadi kesatuan kuat (Zionisme Internasional).

“Wabah Khaibar” ditransfer kepada umat Islam. Sehingga, tercerai-berai dalam berbagai firqah, mahzab, aliran pemikiran, partai politik, dan aneka warna pandangan serta kepentingan lain. Maka, Zionis Yahudi mampu membalaskan dendam leluhur mereka di Khaibar. Mengalahkan umat Islam di segala bidang. Termasuk dalam beberapa kali perang melawan negara-negara Arab. Dan sekarang mereka sedang meluluhlantahkan Jalur Gaza di Palestina.

Selama umat Islam berwatak seperti Yahudi Khaibar, 15 abad yang lalu, selama itu pula umat Islam akan selalu kalah melawan Zionis Yahudi. Juga sebelum umat Islam mampu melahirkan dan mencetak generasi yang berfisik kuat, bermental sehat, dan berintelektual kuat. Wallahu’alam.

Saya sungguh berharap anda semua (terutama umat Islam) yang menyempatkan membaca tulisan beliau, bisa meresapi setiap kata yang dituliskannya serta mengambil pesan utama dari apa yang beliau sampaikan.

Saya tak mengajak untuk kita begitu saja mempercayai apa yang beliau tuliskan. Saya tentu berharap kita semua mampu untuk menjadi seorang pembaca yang cerdas yang tidak begitu saja menelan apa yang telah kita baca.

Akan jauh lebih bermakna apabila kemudian kita terus menelaahnya. Dan apabila kita dapati apa yang beliau sampaikan itu memang benar adanya, tentu kita harus mampu juga untuk menyetujui serta melaksanakan apa yang benar.

Hilangkan ego yang ada dalam diri.

Maka bila begitu, masihkah kita percaya bahwa peristiwa ini bukan tentang Agama?

Ini selalu berkaitan dengan Agama, dan juga harus diselesaikan dengan cara Agama. Bersatu padu dalam Agama, Islam tentunya.

Stay #PMA, folks!

1 komentar: