Senin, 27 Februari 2012

Tidak Lagi Di Bawah Radar



Munafik dan sangat bohong, apabila saya berkata bahwa saya ini tidak menginginkan sebuah eksistensi yang terbungkus rapih dalam balutan popularitas ataupun sekedar mampu untuk dikenal luas. Pada dasarnya dan pada hakikatnya, saya percaya dan saya juga yakin, bahwa setiap manusia normal dan yang memilki kadar ego yang juga dalam batas wajar, pasti haus akan sebuah popularitas, ingin untuk selalu dipuja dan dipuji luas, dielu-elukan namanya tanpa batas, disponsori oleh merk kelas atas sekelas adidas, dan lain sebagainya. Ingat, hanya untuk manusia normal dengan kadar ego yang juga wajar, jadi bagi mereka manusia yang tidak normal ataupun tidak memilki kadar ego yang wajar ( introvert, dan yang sejenisnya ) tentu tidak haus ataupun lapar dengan sebuah popularitas. Saya mohon anda jangan berusaha untuk mengelak ataupun memberikan sebuah argumentasi menolak, terima saja kenyataan itu, karena apabila benar kita semua ini tidak membutuhkan yang namanya popularitas tentu Facebook, Twitter, Myspace, dan bla…bla…bla…yang ada dalam dunia maya penuh tanda tanya, akan collapse, bangkrut entah kemana. ( baca : GET REAL, PLEASE! )

Dan sialnya, saya ini adalah seorang manusia yang normal dan juga memilki kadar ego yang juga wajar sehingga ya…saya menginginkan sebuah popularitas. Tapi beruntungnya saya, saya masih diberikan kemampuan untuk berpikir rasional dan juga masih mampu untuk sadar akan kemampuan serta situasi kondisi yang saya hadapi. Keinginan saya untuk mendapatkan sebuah popularitas itu, masih mampu saya kendalikan sehingga tidak untuk menjadi melewati batas dan bahkan menghalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan sebuah popularitas itu. Saya masih dianugerahi rasa malu, rasa malu sehingga saya hanya mau untuk menjadi populer karena hal-hal postif nan konstruktif hasil buatan dan karya sendiri, tidak menjadi populer karena segala hal yang anarki, destruktif nan negatif, hasil dari sebuah tindakan kontroversi atau sensasi yang mengundang perdebatan tiada henti. Tidak, tidak sama sekali!

Karena saya sekali-kali tidak akan pernah menggadaikan prinsip serta privasi hanya untuk mengejar sebuah popularitas belaka!


Sehingga untuk mampu mencapai itu, mendapatkan sebuah popularitas karena sesuatu hal yang positif, saya pun mulai untuk mencoba menulis dan mem-posting setiap tulisan yang saya buat dalam sebuah blog sederhana cenderung ketinggalan zaman, yaitu noorzandhislife.blogspot.com. Kenapa saya memilih untuk menulis?? Karena saya percaya, setidaknya hingga saat ini, saya hanya mempunyai potensi dalam merangkai kata, di saat orang lain membunuh waktu jenuh mereka dengan bermain games, maka saya lebih suka untuk memainkan jemari ini di atas keyboard laptop ataupun keypad hape, mengkritisi dan mengkomentari segala hal yang mengganggu otak dan hati ( baca : Selamat Datang, Kawan! )

Ide awal saya menulis hanya untuk menyalurkan sebuah hoby, tapi kemudian terus berkembang dan hmmm…agaknya dan akan jauh lebih baik lagi, saya tidak harus kembali mengungkapkan alasan saya menulis dan membuat blog, karena seingat saya, saya telah dan pernah menulis tentang hal itu. Jadi, sebelum kemudian anda meneruskan membaca tulisan saya yang satu ini, saya sarankan anda untuk terlebih dahulu membaca tulisan saya yang terdahulu berkenaan dengan alasan saya menulis dan membuat blog. ( baca : Milestone )

Lalu kenapa di awal tulisan ini saya menyebutkan, bahwa saya ini munafik apabila tidak tertarik pada yang namanya popularitas? Karena selain saya ini adalah seorang manusia yang normal dengan kadar ego yang juga wajar, saya pun tidak hanya selesai dalam menulis dan mem-posting-nya dalam blog ini, tapi kemudian setelah saya selesai mem-posting sebuah tulisan dalam blog, saya sesegera mungkin mempromosikan tulisan itu melalui akun Facebook dan Twitter saya, yaa..terkesan agak narsis, tapi itu-lah sebuah usaha, setidaknya saya berusaha dalam batas-batas postif, sehingga bukan merupakan sebuah hal yang harus saya rahasiakan atau bahkan membuat saya malu. Sebenarnya, tujuan utama saya sampai bersusah payah, menuliskan link alamat blog saya dalam sebuah status FB ataupun tweet di Twitter, hanya agar orang-orang bisa tau dan akhirnya meluangkan sedikit waktu untuk membaca tulisan itu, sehingga pesan dalam tulisan yang telah saya buat itu mampu untuk tersebar luas, mampu untuk merasuki orang banyak, mampu untuk menjadi referensi lebih bagi mereka, kemudian saya pun mampu untuk mendapatkan feedback, entah itu pujian, cacian, kritikan atau masukan, yang dari semua feedback itu saya selalu yakin akan mampu untuk semakin menambah dan memperluas ilmu yang saya miliki. Adapun popularitas, walaupun memang saya inginikan itu, tapi itu bukan-lah sebuah tujuan utama dari semua hal ini, saya selalu berusaha menanamkan dalam diri, bahwa popularitas itu merupakan sebuah bonus, akan mengikuti kita dari belakang apabila kita terus konsisten menekuni dan mengerjakan segala hal yang baik, tetap berpegang teguh pada prinsip yang kita yakini.

Karena ya, seorang Adima Insan Akbar Noors a.k.a. noorz58mmilanello, memang ingin mendapatkan sebuah popularitas tapi saya tidak pernah menjadikan popularitas itu segalanya dan menjadikannya sebagai sebuah tujuan utama dalam bertindak, terutama menulis. Saya menulis, karena ini memang hobi dan mungkin potensi yang saya miliki. Saya menulis karena saya ingin meninggalkan jejak postif dalam hidup ini, sebuah bukti bahwa Adima itu memang pernah dan nyata ada dan saya menulis karena saya memang ingin untuk menulis, bila saya tidak ingin menulis maka saya tidak akan pernah membuat tulisan ini dan tulisan-tulisan yang lainnya. It’s so simple, right?

Popularitas itu hanyah sebuah bonus, hanyalah sebuah keinginan dan kebutuhan wajar karena konsekuensi logis saya terlahir sebagai manusia yang normal dan memilki ego yang wajar. Pada akhirnya daripada mendapatkan sebuah popularitas, saya lebih suka untuk mendapatkan sebuah apresiasi. Karena apresiasi itu ada dalam berbagai bentuk dan apabila kita mendapatkan banyak apresiasi maka sebuah popularitas hanya akan tinggal menunggu waktu sedangkan apabila kita mendapatkan sebuah popularitas belum tentu akan banyak orang yang mengapresiasi karya kita, well…setidaknya itu-lah pendapat saya.

Popularitas bagi saya berarti mendapatkan ketenaran, sedangkan apresiasi bagi saya berarti orang-orang itu mengharagi karya yang kita buat, bentuk menghargai itu ada dalam berbagai bentuk. Buat saya, mengharagi tidak semata dibatasi dengan sebuah pujian semata, tapi dengan adanya orang yang sekedar membaca tulisan saya pun itu sudah merupakan bentuk apresiasi bagi saya, terlebih apabila kemudian orang itu memberikan feedback bagi saya, apapun jenis feedback tersebut, itu sudah merupakan sebuah apresiasi yang tinggi buat saya, untuk seorang Adima.

Dan setelah hampir 2 tahun menulis dan mem-posting berbagai tulisan dalam blog ini, setelah hamper 140-an tulisan yang saya buat/posting, akhirnya datang juga sebuah apresiasi tinggi, yang saya pikir hanya akan terjadi di alam mimpi, tapi benar nyata ada dalam reality. Ya, tulisan saya akhirnya bisa masuk atau dimuat ke dalam sebuah koran dan masuknya tulisan saya itu menjadi sangat spesial karena direkomendasikan oleh seorang Guru Besar, seorang Professor ternama di seantero Kalimantan Barat.

Benar-benar sebuah apresiasi yang lebih dari yang saya harapkan, tidak disangka tulisan saya yang berisi komentar saya terhadap beliau, terhadap seorang Prof. Syarif Ibrahim Alqadrie, M.Sc,. bisa mengantarkan nama saya tertulis manis di atas koran, walaupun hanya sebuah koran lokal, tapi tetap merupakan sebuah kebanggaan buat saya pribadi. Karena penghargaan paling tinggi buat saya adalah dengan adanya orang yang mau untuk mengapresiasi tulisan saya, terlebih dari seorang Guru Besar.

Tulisan saya yang berjudul, Prof. Syarif Ibrahim Alqadrie, M.Sc., dimuat di harian Borneo Tribune, edisi Sabtu, 25 Februari 2012. Tulisan, yang kemudian menjadi berjudul, IPDN Kampus Kalbar dan Sang Professsor, merupakan tulisan saya berkenaan dengan pandangan serta penilaian saya terhadap sosok Guru Besar tersebut, cenderung berisi sebuah kritikan dan ternyata beliau mampu untuk menerima kritikan itu dengan sangat bijak sangat terbuka dan bahkan ( sekali lagi ) mengapresiasi dengan sangat postif cenderung berlebihan, karena secara jujur harus saya akui, sebenarnya tulisan yang saya buat masih sangat jauh untuk bisa ditampilkan dalam sebuah koran masih banyak kesalahan di sana-sini, sehingga saya pun sangat berterima kasih kepada beliau untuk mau terlebih dahulu mengkoreksi tulisan saya itu, merubah dan menambahkan beberapa kata tapi sungguh tidak merubah isi dari tulisan tersebut, sehingga tulisan tersebut menjadi layak untuk terpampang dalam sebuah koran lokal. Tapi satu hal yang sangat mengganjal adalah lagi-lagi nama saya harus salah tertulis. Dalam koran tersebut, nama yang seharusnya Adima Insan Akbar Noors, tapi kemudian menjadi tertulis Adimas Insan Akbar Noors, ya…hampir sama dengan kejadian ketika Kunker Ibu Sekjen Kemendagri tahun lalu di IPDN Kampus Kalbar.

Tapi, tidak apa, itu hanya-lah sebuah kesalahan kecil bila dibandingkan dengan apresiaisi besar yang saya terima. Saya sungguh sangat berterima ksih kepada Prof. Syarif yang sudah mau untuk mengapresiasi tulian yang saya buat, bahkan mengapresiasi terlampau tinggi, yang saya pikir tidak sebanding dengan kualitas tulisan yang saya buat itu.

Akan tetapi segala sesuatu memang ada harganya, dan begitu pula hal ini, saya harus membayar mahal harga dari sebuah apresiasi tinggi ini, karena konsekuensi logis saya sebagai seorang peserta didik dalam sebuah perguruan tinggi kedinasan maka saya pun diatur atau diikat oleh sebuah aturan yang tegas. Walaupun memang tulisan itu, tulisan yang dimuat di Koran tersebut, merupakan sebuah tulisan kritikan saya terhadap Prof. Syarif, akan tetapi sesuai dengan kebiasaan saya, entah itu buruk atau baik, tapi dalam kasus ini jelas ini merupakan sebuah kebiasaan yang buruk yaitu pasti saya akan sedikit melenceng dan akhirnya juga membahas sebuah topik lain padahal sebenarnya tulisan itu tidak sedang membahas topik tersebut, ya …kebiasaan itu selalu muncul ketika saya menulis paragrap awal atau di pertengahan paragrap sebuah tulisan. Dan akhirnya pada tulian itu pun, terdapat beberapa kalimat atau kata, yang danggap merusak nama baik atau setidaknya berpotensi merusak nama baik lembaga pendidikan kedinasan yang saya ada di dalamnya.

Saya tidak melakukan pembelaan, karena bagaimanapun juga saya ini bukan seorang mahasiswa biasa, saya terikat oleh aturan yang sangat ketat, dan itu secara nyata saya sadari, sehingga saya pun sadar saya ini tidak mempunyai ruang berkelakar seluas selayaknya mahasiswa di luar sana. Terlebih dengan kondisi lembaga ini yang belum terlalu mapan, setiap sedikit saja salah kata atau salah dalam penyampaian, maka berpotensi akan menjadi sebuah boomerang yang menghancurkan dan meluluhlantahkan eksistensi dari lembaga pendidikan kedinasan ini.

Sekali lagi, saya secara sangat sadar sangat mengetahui hal itu, dalam blog ini, seperti apa yang telah saya singgung dalam Selamat Datang, Kawan ataupun Milestone, berisi murni tentang segala yang terjadi dalam kehidupan saya dan semua kehidupan yang ada di sekitar saya, semua saya ungkapkan apa adanya dengan pendapat serta opini saya sendiri, tanpa ada muatan politis apapun. Tapi dalam waktu yang bersamaan, saya tetap mengetahui batas-batas serta aturan yang harus selalu saya junjung dan taati, saya masih dan akan selalu tau mana sekiranya hal yang pantas untuk diceritakan dan ditulis dalam sebuah blog, walaupun ini merupakan sebuah blog pribadi, tapi ini sudah terletak dalam dunia maya, yang semua orang bisa saja mengaksesnya, berbeda halnya bila saya menulisnya dalam sebuah buku harian pribadi yang saya simpan rapi dalam laci.

Saya tau saya mempunyyai hak uuntuk berkespresi tapi saya juga lebih mengetahui bahwa hak saya untuk berkespresi itu juga memilki batasan dan aturan yang mengikatnya. Saya hanya belum mengetahui secara pasti batasan itu, saya pikir apa yang saya yang tulis dan kritisi beserta segala solusi yang saya tulis berkenaan dengan lembaga pendidikan kedinasan ini masih dalam tahap sebuah kewajaran, masih belum bertentangan dengan aturan yang ada, saya pikir saya masih menulis secara proporsional dan sesuai dengan kapasitas saya serta situsi dan kondisi saya sebagai seorang peserta didik. Karena sejauh yang saya tau, saya hanya menulis segala hal itu secara keselurahan, apabila baik saya katakana baik dan apabila buruk saya katakan buruk dan pendekatan yang saya berikan pun pendekattan normatif aturan jarang saya menggunakan pendekatan objektif perasaaan, kalaupun iya saya menggunakan pendekatan atau penilaian objektif maka saya pun secara jantan mengakui dan menyebutkannya.

Ya, saya pikir semua hal yang saya tulis itu masih dalam tahap “wajar”, hingga akhirnya sekarang saya tau bahwa ternyata apa yang saya tulis itu sudah melewati batas “wajar” tersebut. Dan ya, sebagai seorang peserta didik dalam sebuah perguruan tinggi kedinasan, saya tidak akan pernah melakuakan sebuah perlawanan. Tapi satu hal yang membuat saya kecewa adalah penlaian itu hanya dilakukan oleh satu tulisan saja, oleh tulisan yang bahkan sebenarnya isi dari tulisan itu tidak saya maksudkan untuk mengkritisi lembaga ini. Tapi kemudian saya dinilai sebagai seorang pengkhianat yang berusaha untuk menghancurkan lembaga ini, padahal saya tidak pernah bermaksud seperti itu. Saya memang sering mengkritisi, tapi sesering itu pula saya memuji, logika sederhanaya, saya hanya mencoba untuk menjadi orang yang jujur dan bersikap apa adanya, bila saya mengkritisi berarti memang ada sesuatu hal yang salah di sana, tapi bila ada sesuatu hal yang benar maka saya pun akan memuji, dan bila saya menulis tentang sebiah kritikan, maka saya pun menulis suatu tulisan tentang pujian. Saya tidak ingin menjadi generasi ompong, saya selalu berusaha untuk bersikap adil dan proporsional dan mencerna serta menjelaskan segala sesuatunya secara rasional komprehnesif. Jadi, kenapa harus kemudian men-judge saya hanya oleh sebuah tulisan? Yang itu pun sebenarnya tidak saya tujukan untuk mengkritisi lembaga ini? Kenapa tidak terlebih dahulu membaca semua tulian saya dan baru-lah nilai siapa saya.

Kekecewaan saya yang kedua adalah, tulisan itu adalah tulisan saya, sehingga saya-lah yang bertanggung jawab penuh terhadap segala apa yang diakibatan oleh tulisan itu dan seluruh tulisan yang saya buat. Tidak harus kemudian juga membuat orang lain seakan-akan ikut menanggung kesalahan tersebut dan bahkan ikut menggiring semua orang beropini sama dan memaksa orang untuk ikut mengartikan tulisan itu sama seperti anda mengartikannnya. Cukup arahkan moncong senjata itu tepat di depan muka saya, dan biarkan-lah orang lain itu hanya sebagai sekumpulan penonton yang apabila mereka tidak ikut serta maka jangan pernah libatkan mereka dan apabila mereka memang mendukung saya atau membenci saya, maka jangan buat mereka jadi berpikiran sebaliknya. Biarkan mereka menginterpretasikan tulisan saya dengan akal dan logika mereka sendiri dan biarkan saya menjelakan isi dalam tulisan itu karena itu tulisan saya maka saya-lah yang paling mengerti isi dari setiiap tulisan yang saya buat.

Tapi apapun itu, sekali lagi, bila memang lembaga telah mengatakan dan mengetuk palu bahwa apa yang telah saya tuliskan berkenaan dengan lembaga ini adalah telah melewati batas “wajar” dan menyalahi aturan karena tidak terlebih dahulu meminta izin, maka saya siap menanggung segala sanksi yang mungkin lembaga akan berikan kepada saya, saya siap untuk mentaati setiap arahan yang lembaga berikan kepada saya, saya mengaku salah dan saya tidak mempunyai sedikit pun pembelaan untuk hal ini. Dengan segala kerendahan hati, saya benar-benar memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada lembaga dan semua orang yang dirugikan oleh setiap kata dalam setiap tulisan yang saya buat dan saya posting dalam blog ini. Karena sesuai dengan status saya sebagi seorang peserta didik, maka saya sungguh masih merupakan seseorang yang butuh untuk diajar sehingga tidak kurang ajar. Saya mohon maaf.

Ini-lah harga yang harus saya bayar, bahwa sekarang saya ini tidak lagi di bawah radar, harga dari sebuah apresiasi, sebuah popularitas diri. Ya, kini aku diperhati, kanan-kiri diawasi ( Bunkface – Panik ), Tanda-tanda itu sebenarnya sudah tercium, sudah saya rasakan akan terjadi sesuatu hal yang tidak saya inginkan, saya sudah mulai merasa bahwa diri ini sudah tidak lagi “tidak kelihatan” tapi sudah mulai terdeteksi, sehingga terlihat jelas dalam layar sebuah radar, sebuah bulatan putih berkedip cepat, ketika pimpinan membahasakan tentang sebuah blog yang “ramai” dibicarakan dosen-dosen dan beliau mengatakan dengan penuh bijak bahwa menulis itu memang bagus, tapi tetap harus hati-hati dan puncaknya adalah ketika beliau kembali mengungkit masalah itu dan kemudian berpesan “kalau laju jangan mendahului, kalau pintar jangan menggurui, kalau tajam jangan melukai” dan ternyata tanpa disangka dan dinyana ternyata yang beliau maksud sedari dulu adalah tulisan-tulisan yang saya muat dalam blog ini.

Well, I’m sorry…and truly I’m shocked, and yes I’m afraid…so I’ll be off for a while, till my head feels better and everything under control..

Minggu, 26 Februari 2012

Menutup Aurat



sumber gambar : tausyah.wordpress.com

Sejauh yang saya tau, hingga detik ini, saat saya menulis tulisan ini, muslim itu wajib untuk menutup auratnya ( baca : AURAT ) dan sejauh yang saya tau juga, aurat lelaki dan wanita muslim itu berbeda. Lelaki memiliki aurat yang harus ditutup yaitu dari pusar hingga lutut sementara wanita auratnya adalah seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan. Jadi, dengan pemahaman seperti itu, meyakinkan saya bahwa memakai jilbab/kerudung bagi wanita muslim itu bukan-lah sebuah pilihan tapi merupakan sebuah kewajiban tapi dewasa ini, entah mengapa dan entah ada apa, apa mungkin karena propaganda barat atau mungkin memang kurangnya pemahaman muslim itu sendiri, memakai kerudung/jilbab bagi seorang wanita muslim yang telah balig/dewasa seakan-akan atau bahkan memang berubah menjadi sebuah pilihan hidup, diidentikan dengan sebuah budaya suatu kaum belaka, atau hanya mereka gunakan pada saat tertentu saja dan mereka menggunakannya saat mereka merasa telah siap, aneh ‘kan?

Dan atas keanehan itu-lah saya mencoba untuk mengeluarkan segala argumen yang saya miliki, walaupun lagi-lagi dengan keterbatasan ilmu yang saya punyai tapi hal itu tidak akan pernah menyurutkan saya untuk selalu melaksanakan kewajiban saya sebagai seorang manusia, terlebih sebagai seorang muslim untuk selalu menyampaikan yang hak itu benar dan yang bathil itu salah, walaupun hanya sedikit yang saya ketahui, tapi sungguh tak ada batasan ilmu bagi kita untuk saling menasihati dalam hal kebenaran, sepanjang kita “tau” tentang hal yang akan kita bicarakan itu karena siapa tau dengan kita menegur, menasihati dan saling mengingatkan satu sama lainnya, maka akan terjadi sebuah diskusi diatara kita, antara si penegur dan yang ditegur dan dengan diskusi tersebut-lah akan terjadi tukar menukar pendapat serta argumen sehingga jelas bertambah-lah ilmu dan khazanah pemikiran otak kita, ya…intinya adalah selalu berkhusnudzan dengan segala apa yang terjadi, yang telah terjadi dan akan terjadi dalam hidup ini. Karena hanya dengan khusnudzan/berpikiran positif maka segala sesuatunya mampu untuk kita renungi dan ambil hikmahnya. Intinya orang yang menegur itu tidak selalu berarti dia “lebih” dari orang yang ditegur, dan begitu pun saya dalam hal ini, saya tidak sekali-kali merasa lebih dalam urusan agama, saya belum hapal Al-Quran, bahkan Juz 30 yang berisi surat-surat pendek pun belum mampu saya hapal semuanya dan apalagi hapal hadits, saya belum menjadi orang yang seperti itu. Tapi jangan juga anda salah mengartikan, bahwa saya ini bangga dengan ketidakhapalan saya, tidak sama sekali. Saya menuliskan fakta itu hanya untuk menunjukan bahwa saya juga masih merupakan seseorang yang belajar dan perlu untuk mendapatkan masukan, bukan seorang pemuka agama dan juga agar anda tidak salah paham terhadap siapa saya sebenaranya, agar anda tidak berekspektasi lebih terhadap saya.
I’M JUST AN ORDINARY MAN WHO TRY TO BE A GOOD MOESLIM AND HUMAN.
Woow, I’m sorry, dudes, looks I’m too far away from the main topic that I would like to share to u guys, my bad! Hehehe….


Okay, fasten your sitbelt, and here we go …

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memeliara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum negerti tentang aurat wanita.”
( QS. An-Nur ayat 31 )


“Ada dua golongan di antara para penghuni neraka yang tidak pernah kulihat keduanya. Yaitu suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, yang dengan cambuk itu mereka memukul orang-orang dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang menarik perhatian orang dan berjalan dengan berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta. Mereka tidak akan masuk surge dan tidak akan mencium aromanya. Padahal aroma surge itu bisa tercium sejauh perjalanan segini dan segini.”
( HR. Imam Muslim )


Saya tidak mengerti dan belum bisa untuk memahami, kenapa menutup aurat, khususnya bagi kaum wanita muslim/muslimah masih mereka anggap sebagai sebuah pilihan hidup atau sebuah pilihan yang bisa mereka tentukan kapanpun mereka siap. Padahal sudah secara jelas dan nyata bahwa memakai/menutup aurat itu wajib bagi setiap muslim yang telah dewasa atau balig. Saya memilih untuk menggunakan istilah "menutup aurat” karena istilah tersebut saya pikir lebih mampu untuk menunjukan makna yang saya ingin sampaikan daripada menggunakan istilah Jilbab atau Kerudung, yang terkadang masih banyak orang yang mendefinisikan kedua istilah itu dengan definisi yang berbeda atau bahkan ada logika berpikir yang setelah saya pikir-pikir masuk akal juga, bahwa memakai kerudung atau jilbab itu tidak selamanya menutup aurat itu sendiri. So, apapun caranya dan apapun namanya, yang terpenting bagi setiap muslim, muslimah khususnya adalah untuk menutup aurat mereka masing-masing.

Saya pikir dengan dasar hukum yang telah sangat jelas tersebut, yaitu Al-Qur’an, yang tak perlu kita pertentangkan lagi kebenarannya, maka tidak ada satu pun argumen penolakan untuk kita melawan kenyataan bahwa menutup aurat itu adalah wajib hukumnya, tidak untuk dipilih apalagi ditinggalkan. Berbeda halnya apabila dengan Hadits, yang masih bisa untuk kita perdebatkan berkaitan dengan kualitas hadits tersebut, apakah Shahih atau Dhaif. ( baca : Berawal dari Nisfu Syaban )
Sehingga menjadi sangat tidak masuk akal bagi saya ketika banyak wanita yang tidak mau untuk menutup auratnya dengan berbagai alasan yang dia kemukakan dan bahkan menjadi sangat aneh bagi saya adalah ketika ada wanita yang menutup aurat di satu waktu tapi kemudian di satu waktu yang lain membuka dan mempertontankan auratnya itu.
Pada zaman ini, zaman globalisasi, zaman komunikasi atau terserah anda mau menyebut apa pun terhadap zaman yang sedang kita lalui ini, banyak kaum hawa yang lebih takut terhadap sanksi manusia atau hukum yang dibuat oleh sesama manusia atau dengan kata lainnya banyak diantara kita, wanita khususnya, yang lebih taat terhadap perintah dari sesama manusia daripada perintah dari Allah Swt., Tuhan Yang Mahakuasa, yang menciptakan kita semua dan bahhkan meremehkan sanksi serta hukuman yang Dia ancamkan kepada kita. Hal itu bisa saya liat secara langsung dan nyata dengan mata kepala serta jiwa raga saya sendiri, ketika saya duduk di bangku SMA, di SMA saya, setiap ada pelajaran Agama dan hari Jumat, maka setiap muslimah diwajibkan untuk menutup auratnya, dan hal itu memang benar dilakukan oleh setiap muslimah yang ada di SMA saya tapi sungguh ironis di luar dua waktu tersebut, mayoritas wanita di SMA saya menanggalkan dan memperlihatkan auratnya itu. Contoh lainnya adalah di perusahaan atau di setiap instansi baik itu pemerintah maupun swasta, banyak kini yang mewajibkan setiap karyawatinya untuk menutup auratnya dan hal itu memang mereka lakukan dengan sangat baik, tapi lagi-lagi menutup aurat bagi mereka hanya dilakukan saat mereka pergi bekerja. Sudah sangat jelas bahwa hal itu membuktikan wanita sekarang ini lebih takut terhadap hukuman yanag di buat oleh manusia daripada Hukum yang diciptakan oleh Penciptanya sendiri, mereka menganggap bahwa hukuman di dunia itu lebih nyata daripada hukuman Allah yang mereka pikir semu karena belum langsung mereka rasakan, padahal sungguh kehidupan dunia itu hanya sementara dan akhirat itu selama-lamanya. Sungguh sebuah fenomena yang mengiris hati dan sangat miris, sangat ironi.

Fenomena lain yang hampir serupa adalah ketika wanita sudah dengan anggun menutup auratnya, tapi di waktu lain wanita itu tetap dengan bangga menunjukan dirinya dengan tidak menutup auratnya kepada setiap orang yang bukan mahramnya dalam bentuk foto, video ataupun hal lainnya, atau pada moment-moment tertentu yang sebenarnya tidak dibenarkan secara agama.
Ya, secara garis besarnya adalah fenomena saat ini yang terjadi di kehiupan kita sehari-hari, yang tak bisa untuk kita pungkiri, masih banyak kaum wanita yang belum mampu untuk mematuhi perintah menutup aurat, adapun bila mereka menutup aurat hal itu hanya mereka lakukan karena terpaksa, karena aturan dunia, karena untuk alasan gaya, karena sedang trend ( pada saat Bulan Ramdhan, dsb ), karena takut kulit mnejadi hitam dan segala alasan dunia yang ada, sedangkan di waktu yang lain, di suatu moment yang lain, mereka dengan bangga dan tanpa malu menampakan aurat yang mereka miliki, di luar waktu yang telah ditetapkan oleh agama.

Hal lain, yang juga menjadi perhatian saya adalah ada suatu pemikiran yang terbentuk di kalangan masyarakat luas, bahwa setiap wanita yang menutup auratnya maka wanita tersebut merupakan wanita baik dan sholehah. Menutup aurat di kalanagan wanita diidentikan dengan suatu image wanita Islami dan wanita yang sudah bertaubat, sehingga ketika ada wanita yang mmengikuti persidangan mendadak menutup auratnya, ketika memasuki Bulan Ramadhan mereka berlomba-leomba untuk sebagus mungkin menutup auratnya, dan begitu seterusnya. Hal itu merupakan sebuah pemikiran yang keliru, walaupun tidak sepenuhnya salah, karena tidak setiap wanita yang menutup auratnya itu adalah sholehah dan tidak semua wanita yang tidak menutup auratnya itu seorang pendosa, kita tidak bisa untuk men-generalisasi seperti itu atau langsung berpikiran seperti itu, karena berkaitan dengan sikap maka hal itu kembali kepeda kepribadiannya masing—masing dan hanya bisa kita nilai dari tingkah laku setiap masnuisa setiap waktunya, tidak dengan tampilan fisik yang kita lihat.
Karena menutup aurat itu adalah perintah Allah Swt., jadi wajib untuk kita lakukan, tidak hanya diwajibkan untuk orang baik saja atau tidak juga hanya menjadi wajib hanya ketika kita telah baik saja. ( baca : Perlukah Tuhan Dibela ? )
Tapi kita boleh saja menggunakan logika berpikir seperti ini dalam menilai seorang wanita, tentu wanita yang telah taat patuh terhadap perintah Allah Swt. Untuk menutup auratnya jauh lebih baik dan sholehah dibandingkan dengan wanita yang belum menutup auratnya atau hanya menutup auratnya pada suatu waktu saja karena terpaksa, ya..apabila kita menilainya hanya dari ukuran ketaatannya kepada perintah Allah Swt. Maka jelas wanita yang menutup auratnya jauh lebih baik daripada yang tidak, tapi itu tidak bisa kita terapkan untuk keselurahan sikap dari wanita tersebut.

Jadi, setelah cukup panjang lebar saya berkata-kata, saya akan mencoba menyimpulkan beberapa hal atau intisari dari tulisan saya ini :
1. Saya tidak ingin berdebat dengan adanya sebagian orang yang membedakan istilah Jilbab dan Kerudung, bagi saya kedua istilah itu sama saja, tapi untuk menghindari perdebatan itu, maka dalam tulisan ini saya memutuskan untuk menggunakan istilah yang umum yaitu Menutup Aurat, terserah dengan apapun namanya, yang terpenting adalah menutup aurat.
2. Menutup aurat itu wajib bagi setipa muslim, lelaki dan wanita dewasa.
3. Fenomena di zaman sekarang, kaum hawa hanya menutup auratnya dalam satu waktu tapi di waktu yang lain yang sebenarnya tidak dibenarkan oleh agama, banyak wanita yang tidak menutup auratnya.
4. Menutup aurat, dalam hal ini secara sangat spesifiknya memakai jilbab/kerudung, bukan merupakan suatu tanda bahwa sikap dan tingkah laku seorang wanita itu baik sepenuhnya.

Dan pada akhir tulisan ini, saya sangat memohon kepada setiap muslimah untuk lebih mengerti lagi tentang permasalahan aurat ini, sungguh menutup aurat bagi wanita itu tidak sedikit pun mengurangi kecantikan yang mereka miliki tapi justru menambah kecantikan itu dan lebih mampu untuk menjaga kehormatan mereka sebagai seorang wanita.

NB :
Tulisan ini teruntuk makhluk terindah di bumi ini, WANITA…
Ditulis oleh pengagum keindahanmu, ADIMA…
didasari oleh sebentuk rasa, KECEWA...
karena sikap dan tingkah laku kalian di alam, DUNIA...
padahal sungguh kita ini tinggal tidak lama, SEMENTARA...
dan akhirat itu kekal sungguh, SELAMANYA...
jadi kenapa kita harus melawan perintah-Nya, AGAMA...

Minggu, 19 Februari 2012

Tuan Raja

Gaya selayaknya seorang bos, seorang pemimpin tinggi kelas atas, duduk dengan emas menjadi alas, merasa bahwa dunia ia-lah yang punya dan ia jua-lah yang memberi batas.


Bertindak semaunya sendiri, membuat aturan mandiri, dan melanggar aturan yang telah gagah berdiri, sehingga menjadi lemah itu aturan ia pecundangi, karena saking hebatnya ego yang ia miliki atau mungkin karena memang dia itu anak hebat pemilik ini bumi.

Ia selalu ingin dilayani, ingin terus disuapi, disuguhi setiap hari, padahal bukan-lah anak mami, bukan juga anak yang terlahir tunggal sendiri, dan bahkan dengan penuh percaya diri dia mengklaim sebagai anak yang mandiri, mampu untuk hidup sendiri tanpa ada bantuan dari orang tua dan sanak family, tapi sikapnya sungguh tidak sedikit pun bisa untuk menghargai tapi ironinya ingin selalu untuk dihormati dan menang sendiri, menyuruh bila sedang dilanda sesuatu hal yang dia ingin penuhi dengan mimik muka anak bayi, polos tanpa dosa sangat suci.

Ketika ditolak ataupun diberi tau dan dinasihati, justru melawan balik melakukan serangan dengan kata-kata khas anak manja yang ingin selalu dituruti segala apa yang ia ingini, melakukan berbagai macam pembelaan dengan argumentasi di atas nama persahabatan sejati dan tolong menolong antar sesama makhluk bumi.

Oh, Tuhan, sungguh aku sangat muak, ingin untuk teriak dengan sejuta kata-kata menolak, tapi tak bisa karena mereka teman-teman ku semua, ku coba untuk terus mengingatkan, tapi tetap saja mereka menjadi bebal, ukuran teman sejati yang berikan adalah untuk selalu menolong dalam segala keadaan.

Terkadang saya heran bertanya-tanya sendiri, bisa-bisanya mereka hidup tenang seperti itu melanggar setiap aturan bumi dan bahkan aturan yag ada dalam agama yang mereka yakini.

Ketika ku datang megoreksi sekedar untuk saling mengingati, mereka justru malah marah membenci dan berujar penuh caci bahwa aku ini sok suci ataupun hanya tersenyum pasi dan menggerutu dalam hati karena tak enak sebagai seorang teman yang katanya sejati. Mereka bilang toh tidak sedang diawasi, toh libur ini hari, dan mumpung masih muda berenergi, mencari pengalaman untuk cerita saat tua nanti.

Ya, hidup anda maka hak anda untuk mengaturnya mau seperti apa, tapi tolong hargai dan hormati juga orang-orang yang ada di sekitar anda, hormati dan hargai aturan yang mengikat anda, jangan selalu ingin dihargai dan dihormati sendiri saja.

Padahal kita ini sedang menempuh sebuah pendidikan untuk menjadikan seorang pegawai negeri, dibiayai penuh oleh negeri, kita hanya tinggal membayar uang tingkah laku kita sendiri.

Seorang pegawai itu berarti harus melayani, tidak untuk dilayani apalagi memperkaya diri sendiri, tapi mereka belum mengerti, menganggap sikap yang baik itu bisa tumbuh sendiri secara cepat tanpa perlu dibiasakan dan dilatih sehari-hari.

Sungguh sebuah pemahaman yang sangat keliru, karena sikap itu perlu untuk kita biasakan agara nantinya bisa untuk terlembaga dengan baik dan terjaga walau penuh goncangan datang menghampiri.



Rabu, 15 Februari 2012

Valentine's Day pt. II



*catatan : sebaiknya dan sudah semestinya anda terlebih dahulu membaca Valentine's Day, sebelum akhirnya membaca Valentine's Day pt. II ini.
Enjoy!


Okay, hari ini ( kemarin tepatnya ), Selasa, tanggal 14, bulan Februari, tahun 2012, dan kalian tau ada apa pada hari ini? Maaf, bukan pada hari ini, maksud saya adalah pada tanggal 14 di bulan Februari, anda tau ada apa dengan tanggal itu? hmm….saya yakin dan percaya, kecil kemungkinan bagi anda semua, terutama anak muda atau remaja, yang tidak tau ada apa dengan tanggal tersebut karena pada tanggal 14 di bulan Februari adalah hari kasih sayang, hari valentine kita biasa menyebutnya.

Tapi akan berbeda kemudian jawabannya apabila saya kembali bertanya kepada anda semua mengenai apa sebenarnya sejarah yang menyertai di balik adanya hari valentine yang jatuh pada tanggal 14 di bulan Februari. Ya, saya yakin dan percaya, sedikit saja diantara anda semua, terutama anak muda atau remaja, yang tau dan mengerti sejarah di balik hari kasih sayang ini.

Sebenarnya semenjak saya duduk di bangku SMP, saya sudah sering diberitahu mengenai sejarah dari hari kasih sayang itu tapi kemudian semua hal itu justru membuat saya agak sedikit bingung, karena ternyata setelah saya teliti dan pelajari, dari saya SMP hingga SMA, semua sejarah itu ternyata berbeda dan banyak versi yang menyertainya. Hal itu sedikit banyaknya membuat saya susah untuk memahami secara benar dari sejarah hari kasih sayang itu. Berikut beberapa sejarah mengenai Hari Valentine :




tanbihul_ghafilin.tripod.com




versi : http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/valentineday.html

Valentine sebenarnya adalah seorang martyr ( dalam Islam disebut 'Syuhada' ) yang karena kesalahan dan bersifat 'dermawan' maka dia diberi gelaran Saint atau Santo.
Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya ( pertelingkahan ) dengan penguasa Romawi pada waktu itu yaitu Raja Claudius II (268 - 270 M). Untuk mengagungkan dia (St. Valentine), yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cubaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai 'upacara keagamaan'.
Tetapi sejak abad 16 M, 'upacara keagamaan' tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi 'perayaan bukan keagamaan'. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.

Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani ( Kristian ), pesta 'supercalis' kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai 'hari kasih sayang' juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropah bahwa waktu 'kasih sayang' itu mulai bersemi 'bagai burung jantan dan betina' pada tanggal 14 Februari.

Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang berarti 'galant atau cinta'. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Dengan berkembangnya zaman, seorang 'martyr' bernama St. Valentino mungkin akan terus bergeser jauh pengertiannya ( jauh dari arti yang sebenarnya ). Manusia pada zaman sekarang tidak lagi mengetahui dengan jelas asal usul hari Valentine. Di mana pada zaman sekarang ini orang mengenal Valentine lewat ( melalui ) greeting card, pesta persaudaraan, tukar kado ( bertukar-tukar memberi hadiah ) dan sebagainya tanpa ingin mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1700 tahun yang lalu.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa moment ( hal/saat/waktu ) ini hanyalah tidak lebih bercorak kepercayaan atau animisme belaka yang berusaha merosak 'akidah' muslim dan muslimah sekaligus memperkenalkan gaya hidup barat dengan kedok percintaan ( bertopengkan percintaan ), perjodohan dan kasih sayang.










dianribut.blogspot.com




versi : http://dianribut.blogspot.com/2011/02/sejarah-hari-valentine-kasih-sayang.html

Asal Mula Hari Valentine
Hari Valentine atau yang lebih sering disebut Valentine's Day berasal dari nama seorang pendeta zaman romawi pada abad ketiga yang bernama St. Valentine. Tanggal perayaan hari Valentine sendiri, yaitu tanggal 14 Februari diambil dari tanggal kematian sang pendeta, St. Valentine.

St. Valentine hidup pada masa kaisar Claudius yang terkenal kejam. Kaisar Claudius berkeinginan untuk memiliki sebuah pasukan tempur atau angkatan perang yang besar dan kuat,dan untuk memenuhi ambisinya tersebut. Dia menginginkan semua pria di kerajaannya untuk bergabung dengan pasukannya. Namun,semua tak berjalan sesuai dengan keinginannya. Para pemuda tidak mau bergabung dengan angkatan perangnya karena tidak rela meninggalkan keluarga dan kekasih yang dicintainya.

Mendapat tanggapan yang tak sesuai keinginannya. Kaisar Claudius kemudian mengeluarkan larangan bagi para pemuda untuk menikah. Karena dia berpikir,jika para pemuda tidak menikah mereka akan mau bergabung dengan pasukan tempurnya. Tentu saja hal yang dipandang tidak manusiawi ini ditentang oleh para pasangan muda dan para pendeta, termasuk St. Valentine sendiri.

Meskipun sudah dilarang,St. Valentine sebagai seorang pendeta tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta,yaitu menikahkan pasangan yang saling jatuh cinta, meskipun itu secara sembunyi-sembunyi. Sampai pada akhirnya, kegiatan rahasianya ini diketahui oleh sang kaisar, sehingga dia ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara,juga divonis hukuman mati,dipenggal kepalanya.

Meskipun dipenjara,orang-orang tetap mendukung dan bersimpati kepadanya. Salah satu orang yang percaya padanya adalah seorang gadis, putri kepala penjara yang rutin mengunjunginya.

Pada hari hukuman matinya,tanggal 14 Februari. Dia sempat mengirimkan pesan kepada sang gadis putri kepala penjara atas semua dukungan, bantuan, dan perhatian yang telah diberikannya semasa di penjara. Di akhir pesan itu,dia menuliskan ''Dengan Cinta, dari Valentinemu''.

Sejak saat itulah,tanggal 14 Februari dirayakan sebagai hari valentine,hari kasih sayang. Untuk mengenang St. Valentine,yang memperjuangkan cinta.











ugiq.blogspot.com




versi : http://ugiq.blogspot.com/2010/01/sejarah-hari-valentine-mitos-valentine.html

Asal Muasal Hari Valentine :
Perayaan hari Valentine termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis (penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka semenjak lebih dari 17 abad silam. Perayaan valentine tersebut merupakan ungkapan dalam agama paganis Romawi kecintaan terhadap sesembahan mereka.

Perayaan Valentine's Day memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka. Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus (pendiri kota Roma) disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang megah. Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.

Sejarah hari valentine I :
Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-lari di jalanan kota Roma sambil membawa potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai dijalan. Sebagian ahli sejarah mengatakan ini sebagai salah satu sebab cikal bakal hari valentine.

Sejarah Valentine's Day II :
Menurut Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda yaitu dibawah ini:
1. pastur di Roma
2. uskup Interamna (modern Terni)
3. martir di provinsi Romawi Afrika.

Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak jelas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Sejarah hari valentine III :
Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sastrawan Inggris Pertengahan bernama Geoffrey Chaucer. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa:

For this was sent on Seynt Valentyne's day ( Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus ) When every foul cometh thier to choose his mate ( Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya )

Pada jaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari valentine dan memanggil pasangan Valentine mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi naskah British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada jaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:

Sore hari sebelum santo Valentinus akan mati sebagai martir (mati syahid), ia telah menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis "Dari Valentinusmu".

Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka diam-diam.
Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Sejarah Valentines Day IV :
Kisah St. Valentine
Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.

Namun sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.

Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.

St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para
pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.

Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya.

Bukannya dihina oleh orang-orang, St. Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara dimana dia ditahan.

Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar.

Pada hari saat ia dipenggal alias dipancung kepalanya, yakni tanggal 14 Februari St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara tadi, ia menuliskan Dengan Cinta dari Valentinemu.

Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.







Tidak menutup kemungkinan masih banyak lagi berbagai sejarah mengenai Hari Valentine, tapi saya pun lebih condong untuk mempercayai sejarah Hari Valentine yang langsung saya dengar dari teman saya, Teresa Irmina Nangameka. Kenapa saya lebih mempercayai keterangan dari teman saya itu? Alasannya sederhana saja, karena saudari Teresa adalah pemeluk agama Katolik sehingga untuk saat ini, saya berpendapat keterangan yang Teresa berikan itu lebih mampu untuk dipertaanggungjawabkan karena langsung dari sumber yang secara langsung merayakan acara itu. Dan ini-lah sejarah Hari Valentine menurut Teresa sebagai seorang yang beragama Katolik :




Teresa Irmina Nangameka




Keterangan Teresa Irmina Nangameka

Setiap tanggal 14 Februari, kami, pemuda-pemudi Katolik yang berada dalam naungan suatu perkumpulan yang disebut Mudika-Muda Mudi Katolik, memperingati hari kasih sayang atau yang biasa kita kenal dengan sebutan hari Valentine. Alasan Mengapa tanggal 14 Februari dijadikan sebagai simbol hari kasih sayang itu sebenarnya banyak versi, hanya saja yang sering sekali menjadi landasan kami merayakan hari valentine adalah untuk memperingati Santo Valentine yang semasa hidupnya adalah seorang pastor. Pastor Valentine menjadi sangat dikenal di abad ketiga di Roma karena usahanya yang gigih melawan kebijakan Kaisar Claudius II yang melarang setiap tentara muda untuk menikah. Kaisar menilai bahwa menikah hanya membuat pikiran para tentara tidak terfokus pada perang yang dampaknya sangat berpengaruh pada kualitas diri tentara itu sendiri. Mereka menjadi lemah karena konsentrasi mereka yang terpecah.

Namun, Pastor Valentine berpendapat lain, bahwa setiap orang, tidak terkecuali seorang tentara pun berhak untuk menikah. Beliau banyak menikahkan para tentara muda tanpa sepengetahuan Kaisar Claudius. Sayang, kegigihannya terhadap sesuatu yang dia anggap benar harus dibayar dengan hukuman penjara. Pastor Valentine ditangkap dan dihukum gantung. Bukan hanya karena perbuatannya yang melanggar perintah Kaisar, tetapi juga karena Pastor Valentine menolak untuk mencela nama Kristus. Sejak itulah, konon, mengapa Gereja mengangkat Pastor Valentine sebagai Santo sekaligus simbol kasih sayang.

Terlepas dari paradigma masyarakat bahwa kasih sayang tidak perlu dirayakan untuk suatu hari yang spesial, karena kodratnya bahwa kasih itu rutinitas, bukan sebuah isidental yang hanya tanggal 14 Februari saja, Gereja Katolik memang merayakan khusus hari Valentine untuk menghormati Santo Valentine. Itu sudah merupakan bagian dari liturgi Gereja Katolik yang memperingati orang-orang kudus Katolik pada hari diangkatnya mereka menjadi Santo & Santa.

Jadi, adalah sesuatu yang lumrah bagi Gereja Katolik khususnya kaum Muda untuk merayakan hari Valentine. Selain untuk memperingati Santo Valentine, dengan adanya hari kasih sayang kami diingatkan kembali, bahwa kasih itu adalah substansi kehidupan manusia yang paling menakjubkan. Sesuatu yang universal dan tidak lekang oleh waktu. Senjata mutakhir untuk melawan kejahatan, sehingga perlu penghargaan khusus terhadapnya yaitu Valentine Day.






Lalu apa sebenarnya tujuan saya menulis hal ini? susah payah mengumpulkan beberapa data? Tujuan saya tidak lebih dan tidak kurang agar kita semua, terutama saya pribadi, belajar menjadi seseorang yang tidak mudah untuk terprovokasi, seseorang yang bertindak atau bereaksi setelah benar-benar memahami suatu permasalahan secara utuh, logis dan komprehensif. Tidak bertindak bodoh, reaktif, menggebu-gebu tapi kosong, tidak sedikit pun memahami masalahnya atau sekedar menyentuh permukaannya saja, atau Generasi Ompong seperti halnya yang dituliskan oleh Bambang Pamungkas dalam situs pribadinya. Ya, hal-hal tersebut hanya justru akan memecah belah, berpotensi mencipatakan konflik diantara kita semua.

“Dan janglah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”.
(Surah Al-Isra : 36)

Dan atas dasar itu-lah saya ingin benar-benar memahami terlebih dahulu apa itu sejarah dari Hari Valentine, sebelum akhirnya saya menentukan sikap untuk nantinya bersikap sehari-harinya.

Satu hal yang pasti walaupun banyak versi mengenai sejarah Hari Valentine, satu hal yang mendasar dan paling utama adalah semua sejarah yang ada bukan berasal dari sejarah atau budaya Islam, semuanya murni atau kebanyakan berasal dari sejarah para pemeluk agama non-Islam sehingga sudah menjadi jelas, teramat terang, untuk menjunjung tinggi toleransi antar setiap umat beragama maka semua umat Islam tidak diperkenankan untuk ikut merayakan hari kasih sayang itu, karena baik secara syar’i ataupun kultural historis, perayaan hari Valentine bukan-lah warisan Islam. Tak ada alasan bagi kita untuk merayakan acara tersebut.

“Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum ( agama ) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Hadis Rasulullah SAW.

Karena sekali-kali konsep toleransi yang baik adalah bukan kita harus ikut bersama-sama merayakan setiap perayaan dari masing-masing agama yang ada, tapi toleransi yang baik itu adalah mampu untuk tidak mencampuri urusan ritual atau ibadah dari masing-masing agamanya, tapi tetap untuk bekerjasama secara baik dan optimal dalam urusan dunia. ( baca : Perlukah Membela Tuhan ? )

Dan sikap kedua yang muncul ketika saya telah memahami hal ini adalah saya pun ingin menghimbau kepada rekan-rekan saya, teman-teman saya yang merayakan acara ini, Hari Valentine ini, tentunya yang beragama non-Islam, untuk tetap merayakannya sesuai dengan porsi yang ada. Tidak! Saya tidak bermaksud mencampuri urusan agama teman-teman sekalian, saya hanya miris melihat perayaaan Hari Valentine yang selalu diidentikan dengan Free Sex dan hura-hura lainnya. Saya pikir dan percaya bukan itu hakikat dari perayaan Hari Valentine, iya kan? Itu hanya propaganda kaum barat yang berusaha untuk meruntuhkan moral setiap bangsa yang beradat Timur, yang mengedepankan sopan santun.

Kaum barat yang tidak bertanggung jawab berusaha untuk mengidentikan Hari Valentine itu dengan Free Sex dan sejuta hal negatif nan konsumtif lainnya, hanya untuk kepentingan komersil sekaligus merusak moral setiap manusia. Ya, oleh karena itu sekali lagi saya memohon dengan sangat kepada semua teman-teman saya yang merayakan Hari Valentine ( sekali lagi untuk non-Islam tentunya ) agar tetap bisa membatasi diri pada hal-hal yang sewajarnya dan tetap pada porsi yang ada.

Jangan sampai Hari Valentine itu justru menjadi sebuah hari pembenaran untuk kita melakukan maksiat dan hal-hal negatif lainnya.
Karena kasih sayang itu tidak bisa sehari untuk selamanya, tapi harus tetap terus dijaga agar tumbuh setiap saat.

Rasulullah SAW. bersabda :
“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cintanya kepada diri sendiri”.

Jumat, 10 Februari 2012

Maafkan Aku, Sobat!



Apa benar bahwa tak akan pernah ada dalam hidup ini teman sejati ? karena hanya kepentingan-lah yang abadi ?

Ya, ketika sebuah pertemanan, persahabatan yang telah indah terbangun, dengan segala candaan bodoh dan lelucon konyol menyertai dan menghiasi hubungan itu, yang walaupun chemistry telah terjalin tercipta dan bersinergi dengan hebatnya, tapi seketika harus hancur lebur luluh lantah terhantam oleh kepentingan yang ada membelenggu erat masing-masing hati, membentuk sebuah ego khas lelaki, maka semua chemistry, semua tawa, canda yang pernah ada menjadi tak berarti, hilang lenyap sekejap termakan api dan habis menjadi abu dan berasimilasi dengan udara menyatu merusak atmosfer bumi, karena tak akan mungkin untuk seorang lelaki menghancurkan harga diri serta kehormatannya dalam sebentuk ego dan prinsip untuk akhirnya mengalah dan membiarkan segala kepentingannya itu kalah.

Tidak, itu tidak untuk mewakili semua persahabatan yang ada. Ini hanya kisah yang saya alami baru-baru ini, persahabatan saya dan dia, yang sebenarnya telah indah ada, tapi harus secara cepat menjadi renggang belum untuk menjadi hancur, hanya karena perbedaan kepentingan, perbedaan sudut pandang dalam memahami suatu permasalahan. Ya, ego saya terlalu tinggi padahal mudah saja bagi saya untuk mengalah karena toh ini bukan suatu hal yang besar dan prinsip, tapi itu-lah ego, tak semudah itu untuk bisa dimengerti.

Saya sebenarnya merasakan sesuatu hal yang kurang, ketika diri ini hilang seorang teman yang biasa untuk bersama-sama membuat segala tawa dari segala hal yang penting hingga tak penting sekalipun, seseorang yang selalu bisa untuk kita ajak bercerita serius ataupun tolol, seseorang yang selalu bisa membuat saya senang tersenyum lepas menertawakan dunia, manusia, dan tentunya diri ini. Sejenak melupakan segala persoalan, mengisi waktu dengan percuma dan sia-sia, tapi sungguh bahagia. seseorang yang selalu bisa melepaskan sisi liar, konyol dalam diri ini, seseorang yang selalu mengerti dengan setiap canda yang saya keluarkan.

Ya, kita ini, saya dan dia, merupakan sepasang sahabat gila, sahabat yang saling melengkapi hingga akhirnya tiba malam itu, ketika ego saya merasa tertindas olehnya, ketika kepentingan saya rasa terlalu jauh dia tampar, sehingga terlalu berat rasanya diri ini untuk sekedar menanggalakan ego dan kepentingan itu untuk akhirnya dapat kembali biasa seperti biasa dengan dirinya.

Sungguh sebenarnya ini hanya-lah sebuah hal kecil, tapi saya-lah yang terlalu menjadi anak kecil dan tidak dewasa. Dalam setiap tahapan, dalam setiap tingkatan, yang terbatasi oleh dunia pendidikan, saya selalu bisa menemukan teman sejati yang selalu bisa mengalah untuk kepentingan abadi yang saya miliki, mereka entah dengan terpaksa atau tidak entah karena cinta atau justru karena benci, selalu mau untuuk mengalah dan membiarkan ego ini menang sehingga perteman kami, persahabatan kami bisa terus terjaga dan terjalin mesra hingga saat ini.

Dan pada tingkatan ini, sepertinya persahabatan saya dengan dia tidak bisa lagi seperti saya dengan semua sahabat-sahabat saya yang lain.
saya dan dia sepertinya terlalu kuat urat malu untuk menjaga kepentingan yang ada, sehingga persahabatan indah harus dipertaruhkan, suatu hal yang tak pernah ingin saya lakukan terlebih dengan fakta bahwa saya dan dia telah mampu untuk membangun sebuah rasa persahabatan yang saya pikir cukup kuat seperti halnya rasa persahabatan saya dengan sahabat-sahabat saya lainnya.

apa mungkin harus saya yang mengalah?
dan memulai lagi semuanya dari awal?atau setidaknya dari ketika masalah ini muncul?
let's wait and see...

Barangkali di antara ungkapan yang paling baik mengenai "adab persaudaraan" itu adalah apa yang dikatakan oleh pengarang kitab QUUTUL QULUUB berikut ini :

"Sahabatmu itu haruslah orang yang apabila engkau melayaninya ia akan melindungimu; dan apabila engkau tidak mampu mencari makan, ia akan memberi kepadamu; dan apabila engkau membentangkan kedua belah tanganmu dengan kebaikan, ia akan membantumu; dan apabila ia melihat kebaikan daripadamu ia akan menghargainya; dan apabila ia melihat keburukan daripadamu, ia akan menutupinya; dan apabila engkau meminta kepadanya, ia akan memberimu; dan apabila engkau diam, ia akan mulai berbicara denganmu; dan apabila engkau ditimpa musibah, maka ia akan menghiburmu; dan apabila engkau berkata-kata, ia akan membenarkan perkataanmu; dan apabila kamu berdua berselisih, ia akan mendahulukanmu."

Sesungguhnya teman sejatimu itu ialah orang yang menutupi kebutuhanmu, merahasiakan kesalahan-kesalahanmu, dan menerima alasan-alasanmu.

Dan hak seorang sahabat atasmu adalah supaya engkau memaafkannya dalam tiga perkara : dari kemarahanyya, kekeliruannya dan kelancangannya!

-Dr. Muhammad al-Ghazaly-