Rabu, 15 Februari 2012

Valentine's Day pt. II



*catatan : sebaiknya dan sudah semestinya anda terlebih dahulu membaca Valentine's Day, sebelum akhirnya membaca Valentine's Day pt. II ini.
Enjoy!


Okay, hari ini ( kemarin tepatnya ), Selasa, tanggal 14, bulan Februari, tahun 2012, dan kalian tau ada apa pada hari ini? Maaf, bukan pada hari ini, maksud saya adalah pada tanggal 14 di bulan Februari, anda tau ada apa dengan tanggal itu? hmm….saya yakin dan percaya, kecil kemungkinan bagi anda semua, terutama anak muda atau remaja, yang tidak tau ada apa dengan tanggal tersebut karena pada tanggal 14 di bulan Februari adalah hari kasih sayang, hari valentine kita biasa menyebutnya.

Tapi akan berbeda kemudian jawabannya apabila saya kembali bertanya kepada anda semua mengenai apa sebenarnya sejarah yang menyertai di balik adanya hari valentine yang jatuh pada tanggal 14 di bulan Februari. Ya, saya yakin dan percaya, sedikit saja diantara anda semua, terutama anak muda atau remaja, yang tau dan mengerti sejarah di balik hari kasih sayang ini.

Sebenarnya semenjak saya duduk di bangku SMP, saya sudah sering diberitahu mengenai sejarah dari hari kasih sayang itu tapi kemudian semua hal itu justru membuat saya agak sedikit bingung, karena ternyata setelah saya teliti dan pelajari, dari saya SMP hingga SMA, semua sejarah itu ternyata berbeda dan banyak versi yang menyertainya. Hal itu sedikit banyaknya membuat saya susah untuk memahami secara benar dari sejarah hari kasih sayang itu. Berikut beberapa sejarah mengenai Hari Valentine :




tanbihul_ghafilin.tripod.com




versi : http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/valentineday.html

Valentine sebenarnya adalah seorang martyr ( dalam Islam disebut 'Syuhada' ) yang karena kesalahan dan bersifat 'dermawan' maka dia diberi gelaran Saint atau Santo.
Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya ( pertelingkahan ) dengan penguasa Romawi pada waktu itu yaitu Raja Claudius II (268 - 270 M). Untuk mengagungkan dia (St. Valentine), yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cubaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai 'upacara keagamaan'.
Tetapi sejak abad 16 M, 'upacara keagamaan' tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi 'perayaan bukan keagamaan'. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.

Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani ( Kristian ), pesta 'supercalis' kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai 'hari kasih sayang' juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropah bahwa waktu 'kasih sayang' itu mulai bersemi 'bagai burung jantan dan betina' pada tanggal 14 Februari.

Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang berarti 'galant atau cinta'. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Dengan berkembangnya zaman, seorang 'martyr' bernama St. Valentino mungkin akan terus bergeser jauh pengertiannya ( jauh dari arti yang sebenarnya ). Manusia pada zaman sekarang tidak lagi mengetahui dengan jelas asal usul hari Valentine. Di mana pada zaman sekarang ini orang mengenal Valentine lewat ( melalui ) greeting card, pesta persaudaraan, tukar kado ( bertukar-tukar memberi hadiah ) dan sebagainya tanpa ingin mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1700 tahun yang lalu.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa moment ( hal/saat/waktu ) ini hanyalah tidak lebih bercorak kepercayaan atau animisme belaka yang berusaha merosak 'akidah' muslim dan muslimah sekaligus memperkenalkan gaya hidup barat dengan kedok percintaan ( bertopengkan percintaan ), perjodohan dan kasih sayang.










dianribut.blogspot.com




versi : http://dianribut.blogspot.com/2011/02/sejarah-hari-valentine-kasih-sayang.html

Asal Mula Hari Valentine
Hari Valentine atau yang lebih sering disebut Valentine's Day berasal dari nama seorang pendeta zaman romawi pada abad ketiga yang bernama St. Valentine. Tanggal perayaan hari Valentine sendiri, yaitu tanggal 14 Februari diambil dari tanggal kematian sang pendeta, St. Valentine.

St. Valentine hidup pada masa kaisar Claudius yang terkenal kejam. Kaisar Claudius berkeinginan untuk memiliki sebuah pasukan tempur atau angkatan perang yang besar dan kuat,dan untuk memenuhi ambisinya tersebut. Dia menginginkan semua pria di kerajaannya untuk bergabung dengan pasukannya. Namun,semua tak berjalan sesuai dengan keinginannya. Para pemuda tidak mau bergabung dengan angkatan perangnya karena tidak rela meninggalkan keluarga dan kekasih yang dicintainya.

Mendapat tanggapan yang tak sesuai keinginannya. Kaisar Claudius kemudian mengeluarkan larangan bagi para pemuda untuk menikah. Karena dia berpikir,jika para pemuda tidak menikah mereka akan mau bergabung dengan pasukan tempurnya. Tentu saja hal yang dipandang tidak manusiawi ini ditentang oleh para pasangan muda dan para pendeta, termasuk St. Valentine sendiri.

Meskipun sudah dilarang,St. Valentine sebagai seorang pendeta tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta,yaitu menikahkan pasangan yang saling jatuh cinta, meskipun itu secara sembunyi-sembunyi. Sampai pada akhirnya, kegiatan rahasianya ini diketahui oleh sang kaisar, sehingga dia ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara,juga divonis hukuman mati,dipenggal kepalanya.

Meskipun dipenjara,orang-orang tetap mendukung dan bersimpati kepadanya. Salah satu orang yang percaya padanya adalah seorang gadis, putri kepala penjara yang rutin mengunjunginya.

Pada hari hukuman matinya,tanggal 14 Februari. Dia sempat mengirimkan pesan kepada sang gadis putri kepala penjara atas semua dukungan, bantuan, dan perhatian yang telah diberikannya semasa di penjara. Di akhir pesan itu,dia menuliskan ''Dengan Cinta, dari Valentinemu''.

Sejak saat itulah,tanggal 14 Februari dirayakan sebagai hari valentine,hari kasih sayang. Untuk mengenang St. Valentine,yang memperjuangkan cinta.











ugiq.blogspot.com




versi : http://ugiq.blogspot.com/2010/01/sejarah-hari-valentine-mitos-valentine.html

Asal Muasal Hari Valentine :
Perayaan hari Valentine termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis (penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka semenjak lebih dari 17 abad silam. Perayaan valentine tersebut merupakan ungkapan dalam agama paganis Romawi kecintaan terhadap sesembahan mereka.

Perayaan Valentine's Day memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka. Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus (pendiri kota Roma) disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang megah. Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.

Sejarah hari valentine I :
Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-lari di jalanan kota Roma sambil membawa potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai dijalan. Sebagian ahli sejarah mengatakan ini sebagai salah satu sebab cikal bakal hari valentine.

Sejarah Valentine's Day II :
Menurut Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda yaitu dibawah ini:
1. pastur di Roma
2. uskup Interamna (modern Terni)
3. martir di provinsi Romawi Afrika.

Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak jelas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Sejarah hari valentine III :
Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sastrawan Inggris Pertengahan bernama Geoffrey Chaucer. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa:

For this was sent on Seynt Valentyne's day ( Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus ) When every foul cometh thier to choose his mate ( Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya )

Pada jaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari valentine dan memanggil pasangan Valentine mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi naskah British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada jaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:

Sore hari sebelum santo Valentinus akan mati sebagai martir (mati syahid), ia telah menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis "Dari Valentinusmu".

Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka diam-diam.
Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Sejarah Valentines Day IV :
Kisah St. Valentine
Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.

Namun sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.

Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.

St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para
pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.

Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya.

Bukannya dihina oleh orang-orang, St. Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara dimana dia ditahan.

Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar.

Pada hari saat ia dipenggal alias dipancung kepalanya, yakni tanggal 14 Februari St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara tadi, ia menuliskan Dengan Cinta dari Valentinemu.

Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.







Tidak menutup kemungkinan masih banyak lagi berbagai sejarah mengenai Hari Valentine, tapi saya pun lebih condong untuk mempercayai sejarah Hari Valentine yang langsung saya dengar dari teman saya, Teresa Irmina Nangameka. Kenapa saya lebih mempercayai keterangan dari teman saya itu? Alasannya sederhana saja, karena saudari Teresa adalah pemeluk agama Katolik sehingga untuk saat ini, saya berpendapat keterangan yang Teresa berikan itu lebih mampu untuk dipertaanggungjawabkan karena langsung dari sumber yang secara langsung merayakan acara itu. Dan ini-lah sejarah Hari Valentine menurut Teresa sebagai seorang yang beragama Katolik :




Teresa Irmina Nangameka




Keterangan Teresa Irmina Nangameka

Setiap tanggal 14 Februari, kami, pemuda-pemudi Katolik yang berada dalam naungan suatu perkumpulan yang disebut Mudika-Muda Mudi Katolik, memperingati hari kasih sayang atau yang biasa kita kenal dengan sebutan hari Valentine. Alasan Mengapa tanggal 14 Februari dijadikan sebagai simbol hari kasih sayang itu sebenarnya banyak versi, hanya saja yang sering sekali menjadi landasan kami merayakan hari valentine adalah untuk memperingati Santo Valentine yang semasa hidupnya adalah seorang pastor. Pastor Valentine menjadi sangat dikenal di abad ketiga di Roma karena usahanya yang gigih melawan kebijakan Kaisar Claudius II yang melarang setiap tentara muda untuk menikah. Kaisar menilai bahwa menikah hanya membuat pikiran para tentara tidak terfokus pada perang yang dampaknya sangat berpengaruh pada kualitas diri tentara itu sendiri. Mereka menjadi lemah karena konsentrasi mereka yang terpecah.

Namun, Pastor Valentine berpendapat lain, bahwa setiap orang, tidak terkecuali seorang tentara pun berhak untuk menikah. Beliau banyak menikahkan para tentara muda tanpa sepengetahuan Kaisar Claudius. Sayang, kegigihannya terhadap sesuatu yang dia anggap benar harus dibayar dengan hukuman penjara. Pastor Valentine ditangkap dan dihukum gantung. Bukan hanya karena perbuatannya yang melanggar perintah Kaisar, tetapi juga karena Pastor Valentine menolak untuk mencela nama Kristus. Sejak itulah, konon, mengapa Gereja mengangkat Pastor Valentine sebagai Santo sekaligus simbol kasih sayang.

Terlepas dari paradigma masyarakat bahwa kasih sayang tidak perlu dirayakan untuk suatu hari yang spesial, karena kodratnya bahwa kasih itu rutinitas, bukan sebuah isidental yang hanya tanggal 14 Februari saja, Gereja Katolik memang merayakan khusus hari Valentine untuk menghormati Santo Valentine. Itu sudah merupakan bagian dari liturgi Gereja Katolik yang memperingati orang-orang kudus Katolik pada hari diangkatnya mereka menjadi Santo & Santa.

Jadi, adalah sesuatu yang lumrah bagi Gereja Katolik khususnya kaum Muda untuk merayakan hari Valentine. Selain untuk memperingati Santo Valentine, dengan adanya hari kasih sayang kami diingatkan kembali, bahwa kasih itu adalah substansi kehidupan manusia yang paling menakjubkan. Sesuatu yang universal dan tidak lekang oleh waktu. Senjata mutakhir untuk melawan kejahatan, sehingga perlu penghargaan khusus terhadapnya yaitu Valentine Day.






Lalu apa sebenarnya tujuan saya menulis hal ini? susah payah mengumpulkan beberapa data? Tujuan saya tidak lebih dan tidak kurang agar kita semua, terutama saya pribadi, belajar menjadi seseorang yang tidak mudah untuk terprovokasi, seseorang yang bertindak atau bereaksi setelah benar-benar memahami suatu permasalahan secara utuh, logis dan komprehensif. Tidak bertindak bodoh, reaktif, menggebu-gebu tapi kosong, tidak sedikit pun memahami masalahnya atau sekedar menyentuh permukaannya saja, atau Generasi Ompong seperti halnya yang dituliskan oleh Bambang Pamungkas dalam situs pribadinya. Ya, hal-hal tersebut hanya justru akan memecah belah, berpotensi mencipatakan konflik diantara kita semua.

“Dan janglah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”.
(Surah Al-Isra : 36)

Dan atas dasar itu-lah saya ingin benar-benar memahami terlebih dahulu apa itu sejarah dari Hari Valentine, sebelum akhirnya saya menentukan sikap untuk nantinya bersikap sehari-harinya.

Satu hal yang pasti walaupun banyak versi mengenai sejarah Hari Valentine, satu hal yang mendasar dan paling utama adalah semua sejarah yang ada bukan berasal dari sejarah atau budaya Islam, semuanya murni atau kebanyakan berasal dari sejarah para pemeluk agama non-Islam sehingga sudah menjadi jelas, teramat terang, untuk menjunjung tinggi toleransi antar setiap umat beragama maka semua umat Islam tidak diperkenankan untuk ikut merayakan hari kasih sayang itu, karena baik secara syar’i ataupun kultural historis, perayaan hari Valentine bukan-lah warisan Islam. Tak ada alasan bagi kita untuk merayakan acara tersebut.

“Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum ( agama ) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Hadis Rasulullah SAW.

Karena sekali-kali konsep toleransi yang baik adalah bukan kita harus ikut bersama-sama merayakan setiap perayaan dari masing-masing agama yang ada, tapi toleransi yang baik itu adalah mampu untuk tidak mencampuri urusan ritual atau ibadah dari masing-masing agamanya, tapi tetap untuk bekerjasama secara baik dan optimal dalam urusan dunia. ( baca : Perlukah Membela Tuhan ? )

Dan sikap kedua yang muncul ketika saya telah memahami hal ini adalah saya pun ingin menghimbau kepada rekan-rekan saya, teman-teman saya yang merayakan acara ini, Hari Valentine ini, tentunya yang beragama non-Islam, untuk tetap merayakannya sesuai dengan porsi yang ada. Tidak! Saya tidak bermaksud mencampuri urusan agama teman-teman sekalian, saya hanya miris melihat perayaaan Hari Valentine yang selalu diidentikan dengan Free Sex dan hura-hura lainnya. Saya pikir dan percaya bukan itu hakikat dari perayaan Hari Valentine, iya kan? Itu hanya propaganda kaum barat yang berusaha untuk meruntuhkan moral setiap bangsa yang beradat Timur, yang mengedepankan sopan santun.

Kaum barat yang tidak bertanggung jawab berusaha untuk mengidentikan Hari Valentine itu dengan Free Sex dan sejuta hal negatif nan konsumtif lainnya, hanya untuk kepentingan komersil sekaligus merusak moral setiap manusia. Ya, oleh karena itu sekali lagi saya memohon dengan sangat kepada semua teman-teman saya yang merayakan Hari Valentine ( sekali lagi untuk non-Islam tentunya ) agar tetap bisa membatasi diri pada hal-hal yang sewajarnya dan tetap pada porsi yang ada.

Jangan sampai Hari Valentine itu justru menjadi sebuah hari pembenaran untuk kita melakukan maksiat dan hal-hal negatif lainnya.
Karena kasih sayang itu tidak bisa sehari untuk selamanya, tapi harus tetap terus dijaga agar tumbuh setiap saat.

Rasulullah SAW. bersabda :
“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cintanya kepada diri sendiri”.

2 komentar:

  1. nice share, sepertinya anak MAP nih. :)

    BalasHapus
  2. @Accilong : izin kak, izin bertanya kakak purna praja angkatan berapa. terima kasih banyak sudah mau mengeunjungi blog saya tapi izin kak saya tidak masuk unit MAP.

    BalasHapus