Selasa, 19 Juli 2011

Tanggung Jawab, Status, Jabatan, dan Peran

“Setiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan kamu bertanggung jawab atas kepemimpinan itu”.
(Al-Hadits, Shahih Bukhari – Muslim)

“tanggung jawab adalah siap menerima kewajiban atau tugas”

“Bila ada seorang tukang tambal ban yang tidak mau untuk menambal ban, tentu sudah gila dia !”


Pak Samsu Khoerudin, S.STP., M.Si., (koreksi dan maafkan saya jika salah dalam penulisan nama dan gelar), Kepala Sub Bagian Bimbingan dan Pengawasan (Kasubbag Bimwas) di Bagian Pengasuhan IPDN Kampus Pusat Jatinangor, adalah seorang pembina sekaligus pengasuh yang sangat disegani, dihormati dan bahkan ditakuti walaupun tak sedikit yang membenci, mencibir dan mencaci. Karena beliau merupakan orang yang saya pikir paling bijak dalam bertutur kata, konsisten dalam penegakan aturan, serta tak kenal ampun dalam memberikan suatu hukuman. Kriteria seperti itu memang membuat beliau sangat ideal menjadi seorang pamong pengasuh, yang bertugas untuk membina dan menggembleng sikap, mental, moral serta perilaku dari para praja.

Pak Samsu merupakan sosok ideal dari hasil didikan pendidikan kepamongprajaan IPDN (dulu STPDN). Karena beliau adalah purna praja STPDN angkatan 10. Beliau cerdas, loyal, respect serta disilin dalam bertindak dan bertingkah laku sehari-harinya, sehingga menjadi role model yang pas dari setiap output yang hendak dihasilkan dari pendidikan tinggi kedinasan ini. (terlepas dari kondisi fisik beliau)

Hal lain yang membuat saya kagum dari sosok beliau adalah kemampuannya dalam memberikan setiap doktrin, petuah serta pesan dalam setiap kesempatan beliau mengambil apel. Dia mampu berkata panjang lebar, tapi jelas makna dan tujuannya, bahasa yang akademis terkadang puitis, dibalut dalam sebuah cerita fiksi tak jarang sebuah analogi. Semuanya mampu beliau kemas seindah dan semenarik mungkin. Kata motivasi ataupun koreksi, beliau sampaikan tajam, kritis dan tepat sasaran. Hal lain yang saya kagumi adalah beliau tidak termasuk ke dalam orang-orang yang munafik, orang-orang yang hanya indah di lidah, tapi apa yang beliau kemukakan mampu beliau terapkan dalam kehidupan nyata, konsisten beliau implementasikan dalam realita sehari-hari.

Jujur, saya masih mampu untuk mengingat semua pesan-pesan yang beliau sampaikan ketika saya masih berada di kampus Pusat sana, kurang lebih selama satu semester yang lalu. Dan sekarang, dalam satu kondisi tertentu, saya semakin teringat dengan satu cerita, satu doktrin, satu petuah yang beliau sampaikan. Apel pagi, siang , malam, entah lah saya lupa. Yang jelas pesannya masih terekam manis dalam otak ini dan menyeruak keluar seiring situasi yang terjadi sekarang ini.

Inti dari apa yang beliau sampaikan adalah beliau mengoreksi kepada setiap praja, yang ternyata pada realitanya sangat rendah dalam minat untuk membaca dan belajar. Fakta yang ada, praja masih sedikit dalam memiliki buku referensi kuliah atau sekedar buku bacaan biasa, setiap jam kegiatan belajar mandiri yang khusus dialokasikan dalam siklus kehidupan praja ternyata lebih banyak praja habiskan untuk pergi ke kantin, bermain laptop, dan mengobrol serta kumpul-kumpul bersama teman. Hal itu sangat membuat beliau miris dan kecewa, sehingga dia memberikan suatu cerita kepada kami tentang seorang tukang tambal ban, yang apabila dia tidak mau untuk menambal ban, tentunya tukang atau orang itu sudah gila. Dan ternyata apabila seorang mahasiswa/praja/pelajar enggan untuk belajar, bukankah mahasiswa/praja/pelajar itu juga sudah gila ?

Cerita sederhana, pertanyaan yang juga sangat sederhana, sebuah logika yang juga terlampau sederhana, tapi sangat bermakna dalam. Dalam konteks itu, Pak Samsu hanya berbicara pada permasalahan keengganan praja untuk belajar, akan tetapi dalam tulisan/artikel ini, saya akan mencoba untuk membahasnya ke dalam konteks yang agak luas.

***

Pada cerita tersebut sebenarnya intinya adalah kita harus bertindak sesuai dengan status dan peran yang kita emban dan kita jalani pada saat ini.

Kedudukan ( status ) diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Kedudukan sosial artinya adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya, dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya.
Peranan ( role ) merupakan aspek dinamis kedudukan ( status ). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, dia menjalankan suatu peran. Tak ada peranan tanpa kedudukan atau tak ada kedudukan tanpa peranan.
( Soerjono Soekanto:Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2009) )

Setiap status yang kita pilih atau kita dapatkan atau kita usahakan tentu akan mempunyai suatu peranannya masing-masing atau dengan kata lainnya akan menimbulkan suatu konsekuensi logis yang tak bisa kita elak, tapi harus kita laksanakan. Dan disinilah suatu permasalahan itu muncul, orang-orang banyak yang mengejar suatu status, mengusahakan suatu status, atau mendapatkan suatu status tapi enggan untuk berperan selayaknya status yang dia jalani itu. Orang-orang itu hanya ingin mendapatkan suatu status/jabatan sebagai suatu prestise, suatu gengsi tapi meninggalkan jauh dibelakang dan melupakan tanggung jawab yang melekat pada status/jabatan itu.

Sebelum kita bicara lebih jauh lagi, izinkan saya untuk menyertakan terlebih dahulu pengertian dari tanggung jawab.



Definisi 'tanggung jawab'



1. keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb): fungsi menerima pembebanan, sbg akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain;
ber•tang•gung ja•wab v berkewajiban menanggung; memikul tanggung jawab: menanggung segala sesuatunya (kpd):
me•nang•gung•ja•wabi v mempertanggungjawabkan:
pe•nang•gung ja•wab n orang yg bertanggung jawab;
per•tang•gung•ja•wab•an n perbuatan (hal dsb) bertanggung jawab; sesuatu yg dipertanggungjawabkan;
mem•per•tang•gung•ja•wab•kan v memberikan jawab dan menanggung segala akibatnya (kalau ada kesalahan); memberikan pertanggungjawaban:
http://www.artikata.com/arti-353251-tanggung+jawab.html




Seperti yang telah saya singgung di atas, semua ini bisa terjadi, bisa menjadi suatu permasalahan karena kurangnya pemahaman kita terhadap apa-apa saja yang menjadi suatu tanggung jawab, hak serta kewajiban yang ada pada suatu jabatan atau status tertentu. Kita hanya fokus pada cara untuk mendapatkan suatu status/jabatan itu, sehingga ketika kita berhasil mendapatkannya, berhasil mengusahakannya, kita menjadi bingung sendiri, tak tahu harus berbuat apa, dan akhirnya, pada ujungnya, kita melempar tanggung jawab itu, mendelegasikan semuanya pada orang lain, bawahan kita. Dan kita pun dengan enaknya hanya menikmati segala fasilitas serta segala hal lain yang serba enak dan nyaman dari suatu status/jabatan itu.

Faktor lainnya adalah faktor niat serta tujuan awal dari pengusahaan kita untuk mendapatkan serta menduduki suatu jabatan/status adalah murni hanya untuk mengejar suatu prestise, suatu gengsi penaik harga diri, dan mengejar kepuasaan materi serta pemuas nafsu belaka. Bila itu yang menjadi niat serta tujuannya, sudah jelaslah semua peranan serta tanggung jawab itu akan kita lepas dengan mudahnya. Membuat, menjadikan kita sebagai orang yang melempar batu sembunyi tangan.

Seharusnya, betuk ideal yang seharunya diwujudkan adalah kita harus meniatkan diri untuk mengejar dan mendapatkan suatu jabatan atau status sebagai suatu bentuk pengabdian kita, suatu amanah yang harus kita kerjakan sepenuh hati. Kita pun harus terlebih dahulu mempunyai ilmu yang cukup tentang jabatan/status yang akan, sedang, atau telah kita dapatkan mengenai apa saja hak, kewajiban serta tanggung jawab yang harus kita lakukan dan pertanggung jawabkan nantinya. Sehingga kita mantap untuk bertindak dan mampu untuk berbuat sebaik serta semaksimal mungkin sesuai dengan status serta peranan yang kita emban atau jalani.

Kita harus mampu menjadi orang yang melempar batu dan kemudian dengan jantan mengangkat tangan, dan secara lantang mengakuinya. Secara sportif menerima segala konsekuensi dari setiap apa yang kita telah kita kerjakan. Bukan justru melempar tanggung jawab dan menjadi pengecut yang terus bersembunyi, berbicara di belakang serta secara konstan dan konsisten menyalahkan orang lain.
Hmm...I’m so sad for all of you who do something like that!
Poor you, you son of a motherf***** b****!!

Berani berbuat berani kita harus berani bertanggung jawab, mendapatkan atau mengusahakan suatu status atau jabatan berani kita siap dengan segala tugas serta kewajiban bahkan hak-hak yang menyertainya. Kalaupun anda terpaksa dalam menjalani suatu status atau jabatan, maka pintu keluar dan menyerah selalu terbuka lebar untuk anda. Tapi, berarti anda sudah mundur selangkah ketika yang lain justru maju selangkah.
Yes, It’s your life, It’s your damn choice. But, choice wisely, and please, take all the risk and all the responsibility of every choice you’ve been made! ( baca : Memilih Pilihan )
Be a man, don’t be a such boy!
Grow up, don’t get so childish!!

Jadi, normal kah seorang pelajar yang tidak mau belajar?
Normalkah seorang praja yang tidak mau menjalani siklus kehidupan praja?
Dan normalkah seorang manusia hidup yang tidak mau menjalani kehidupan?

PEACE and CHEERS, My Friends!!

Minggu, 17 Juli 2011

Berawal dari Permasalahan Nishfu Syaban

"Semua Ibadah itu Haram kecuali yang dihalalkan oleh Allah Swt."

"Ibadah itu bukan tentang KUANTITAS, tapi tentang KUALITASNYA!"


Islam adalah satu-satunya agama yang benar di dunia ini dan saya beruntung untuk langsung dilahirkan menjadi seorang muslim, tanpa harus bersusah payah mencari jati diri, mencari-cari agama yang benar-benar hakiki. Tapi situasi seperti ini memang membuat saya pribadi terbuai dan terlena. Saya menjadi seorang muslim yang pasif, yang hanya melakukan segala sesuatunya tanpa ilmu yang cukup karena terbuai dan terlena setelah sekian lama disuapi oleh berbagai ilmu agama yang datang dengan sendirinya dan terlalu merasa cukup dengan fakta bahwa saya ini dilahirkan dalam keadaan sudah menjadi seorang muslim. Sehingga diri ini berpendapat bahwa cukup lah hanya kalangan ustadz, kiai dan para cendekiawan muslim lainnya yang mempelajari dan membedah tentang ilmu agama, saya hanya cukup menjadi seorang pengguna, seorang pengikut saja.

Seiring waktu berjalan hal itu mulai saya sadari merupakan suatu kesalahan yang teramat besar. Karena hal seperti itu hanya akan membuat diri ini menjadi seorang yang terombang-ambing, terbawa oleh arus tanpa ada suatu pendirian, karena tidak memiliki ilmu yang cukup. Segala ibadah yang dilakukan hanya berdasarkan suatu hukum “katanya..”, “menurut ustdaz ini..”, “kata kiai ini...”, “berdasarkan kelompok ini...”, dan sebagainya.
Suatu kebodohan!!

***

Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur segala seluk beluk kehidupan umat manusia. Sumber hukum yang mendasari segala aturan yang berlaku dalam Islam, adalah : Al-Qur’an, Hadits, dan Ijtihad.

Al-Qur’an adalah sumber ajaran pokok dalam agama Islam, yang berisi firman-firman/wahyu Allah Swt. . Al-Qur’an adalah sumber yang dijadikan sebagai landasan nilai bagi umat Islam dalam menentukan hukum suatu tindakan, menunjukan dan menuntunnya kepada jalan menuju tujuannya, dan menjelaskan tentang hakekat kehidupan manusia dalam hubungan dengan sesama, lingkungan dan dengan Tuhannya.

Sumber nilai Islam setelah Al-Qur’an adalah Hadits, yaitu hal-hal yang datang dari Rasullah baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun persetujuan (taqrir). Hadits Tasyri ( berkaitan dengan syara) adalah hadits yang datang dari Nabi dalam kapasitasnya sebagai Rasullah, sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman hukum. Dan ada hadits Ghairu Tasyri ( tidak berkaitan dengan syara) yakni datang dari sifat kemanusian nabi, sehingga tidak dijadikan sebagai pedoman dalam penetapan hukum.

Dasar hukum ketiga setelah Al-Qur’an dan Hadits adalah Ijtihad, yaitu menggunakan akal dalam menetapkan hukum yang belum diatur oleh Al-Qur’an dan Hadits. Tapi tetap melandaskan pada kedua sumber hukum itu, hanya saja dalam operasionalnya menggunakan pendekatan akal.
(dirangkum dari buku Pendidikan Agama Islam untuk perguruan tinggi muatan khusus IPDN oleh Tim Pengajar Subjek Pendidikan Agama Islam)

Al-Qur’an, Hadits dan Itihad merupakan sumber utama umat Islam dalam bersikap, bertindak dan mengatur sebuah aturan dalam hidupnya. Tapi, seiring berkembangnya zaman, dengan bertambahnya populasi manusia dan bertambahnya umat muslim dengan berbagai tingkat pendidikan dan latar belakang budaya yang berbeda maka mulai munculah berbagai perbedaan pandangan dan pemahaman dalam menafsirkan dan mengamalkan segala amalan yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits. Akan tetapi, perbedaan pemahan dalam menafsirkan Al-Qur’an relatif tidak signifikan, perbedaan pemahaman itu mulai terasa signifikan ketika kita melihat atau mencoba menafsirkan sebuah hukum dari Hadits. Karena Hadits ini diturunkan atau diriwayatkan berdasarkan pendengaran, penglihatan dari para sahabat dengan penyampaian mereka masing-masing, sehingga harus diurut betul, diteliti secermat mungkin, apakah yang meriwayatkan itu ada sahabat yang “cacat” atau tidak. Sehingga perlu sangat hati-hati dalam memakai suatu hadits.

Perbedaan ini bisa kita lihat secara jelas, dari banyaknya kelompok agama Islam yang ada di Indonesia, diantaranya, NU, Muhammadiyah, Persis, dll. Kelompok-kelompok itu ada karena perbedaan mereka dalam penfasiran kepada sebuah hadits.

Hadits sendiri bisa dikelompokan menjadi dua macam, yakni hadits yang dilihat dari sedikit dan banyaknya orang yang meriwayatkan dan hadits yang dilihat dari segi kualitasnya.

Hadits yang dilihat dari sedikit dan banyaknya orang yang meriwayatkannya, terdiri dari hadits Mutawir ( diriwayatkan oleh sejumlah orang secara terus menerus tanpa putus dan secara adat para perawinya tidak mungkin bohong), hadits Masyur (diriwayatkan sejumlah orang, tapi tidak mencapai tingkat Mutawir) dan Hadits Ahad (diriwayatkan oleh seorang, dua orang atau lebih tetapi tidak mencapai syarat Masyur dan Mutawir).

Sedangkan hadits berdasarkan segi kualitasnya, yaitu diterima atau ditolaknya sebuah hadits, terdiri dari, hadits Shahih ( sanadnya bersambung;perawinya adil, berpegang teguh kepada agama, baik akhlaknya, jauh dari sifat fasik;perawinya memiliki ingatan yang sempurna dan kuat hapalannya;perawinya tidak ditolak oleh ahli-ahli hadits), hadits Hasan (hadits yang memnuhi syarat hadits Shahih, tetapi perawinya kurang kuat ingatannya atau kurang baik hapalannya) dan hadits Dhaif (hadits yang tidak lengkap syaratnya atau tidak memiliki syarat yang terdapat pada hadits Shahih dan hadits Hasan).

Hadits yang bisa gunakan atau dipakai tentulah hanyalah hadits Shahih, akan tetapi meunculnya berbagai pemahaman dengan berbagai latar belakang pendidikan dan pendekatan budaya yang berbeda, sehingga ada sebagian orang yang masih menggunakan hadits Dhaif untuk mereka jadikan dasar hukum, dan ada pula yang saklek hanya menggunakan hadits Shahih saja.

Memang terkadang perdebatan itu muncul dalam perbedaan pendapat bahwa menurut satu orang/satu kelompok satu hadits ini disebut Shahih, tapi menurut satu orang/kelompok lain hadits itu merupakan hadits Dhaif. Akan tetapi, hal itu sudah jarang terjadi, tapi permasalahan yang ada sekarang adalah ada satu orang/kelompok yang masih menggunakan hadits dhaif untuk dijadikan landasan hukum , karena alasan historis, kultural, maupun pendapat yang menyatakan bahwa walaupun dhaif tetap saja merupakan hadits.

NU, Muhammadiyah, dan Persis merupakan tiga lembaga yang menjadi patron utama dalam kehidupan beragama masyarakat Indonesia. Saking lekatnya image masyarakat terhadap ketiga organisasi masyarakat itu, yang memang memiliki ciri khas teramat jelas dalam pemahaman mereka terhadap suatu hadits sehingga secara buta masyarakat langsung menyebutkan dan menilai salah satu orang/kelompok lainnya dengan sebutan, “Oh, dia Persis”, “Oh, dia NU...”, “Oh, dia Muhamadiyah”, “Oh, kampung ini ada tahlilan berarti ini kampung NU..”, “Oh, kampung ini adzan jumat nya satu kali, berarti ini Kampung Muhamadiyah...”, “Oh, kampung ini shubuhnya gak pake kunut, berarti ini kampung Persis..”, dan begitu seterusnya. Ini jelas suatu pemahaman yang salah, karena NU, Muhammadiyah, Persis itu adalah merupakan suatu organisasi yang apabila ada orang yang masuk atau ikut berkecimpung didalamnya maka akan didata sebagai anggotanya dan memiliki suatu identitas legal sebagai penunjuk bahwa dia adalah bagian dari kelompok tersebut. Tapi, masyarakat dengan begitu saja menilai dan men-judge satu orang /kelompok lainnya secara kasar dan kasat mata lalu mengidentikkannya dengan satu kelompok.

Perbedaan pendapat memang harus dipahami secara utuh dan bijak. Harus disikapi dengan kepala sedingin mungkin dan situasi sekondusif mungkin. Perbedaan juga bukan untuk dibiarkan, karena perbedaan merupakan bibit dari sebuah perpecahan, apalagi perbedaan itu mengenai sesuatu hal tentang benar dan salah, sesuatu yang prinsipil. Jadi, perbedaan itu harus kita diskusikan dan bicarakan, mencari letak perbedaannya dan mencari letak kesamaannya lalu cari solusinya. Solusi yang dihasilkan bisa berupa membenarkan dan meyalahkan salah satu pendapat atau bahkan membentuk suatu kebenaran dengan menggabungkan pendapat-pendapat yang asalnya berbeda itu. Dan ini lah yang seharusnya dilakukan oleh umat Islam yang ada di Indonesia dan bahkan seluruh dunia, dengan banyaknya populasi umat Muslim dengan berbagai kelompoknya, dengan berbagai pemahamnnya sudah saatnya kita menyatukan visi misi serta pendapat kita tentang pemahaman dalam beragama. Menafsirkan secara utuh dan sama makna-makna yang terkandung dalam Al-Qur’an, membukukan dalam satu buku besar segala hadits Shahih. Sehingga Ukhuwah Islamiyah itu bisa benar-benar terbentuk, sehingga masyarakat tidak lagi terpecah-pecah, tidak lagi terjebak ke dalam satu kelompok atau satu pemahaman, tidak hanya terfokus pada ego kelompok semata atau taklid pada sesorang saja. Tapi benar-benar menjadi satu dalam Islam yang satu; Al-Qur’an dan Hadits Shahih!!

***

Saya adalah orang yang berusaha atau ingin menjadi seorang muslim yang beragama dengan berlandaskan pada Al-Qur’an dan hadits ( hadits shahih tentunya ), dan lagi-lagi saya beruntung memiliki dan dibesarkan dari keluarga yang mempunyai semangat seperti itu atau bahkan keinginan saya itu muncul karena hasil didikan itu. Tapi lagi-lagi seiring waktu berjalan, apa yang saya inginkan itu tidak saya tunjang dengan semangat untuk mencari ilmu agama yang dalam dan kondisi lingkungan yang ada. Saya sadari bahwa ternyata menjadi seperti itu, berarti saya menjadi seorang minoritas, dan saya mulai terbiasa dengan sebutan , “Oh, dia Persis/Muhamdiyah..”, dan lambat laun akhirnya saya mulai mengerti semuanya.

Perasaan yang sebenarnya sudah tenang, kembali terusik dengan datangnya Nishfu Syaban beserta segala perayaan dan amalan yang dilakukan di dalamnya, jiwa saya mulai berontak ingin rasanya untuk berdebat. Karena sejauh yang saya ketahui, segala amalan dalam nishfu syaban dasar hukumnya atau hadits yang memerintahkannya adalah dhaif. Tapi, semua itu terbentur oleh kebodohan diri sendiri, yang hanya cukup untuk menjadi seorang pendengar dan pengguna tanpa ingin untuk menjadi seorang peneliti, menjadi seorang ahli. Sehingga diri ini tidak bisa untuk berdakwah, segala sesuatunya hanya mampu dilakukan untuk diri sendiri. Karena permasalahan agama, kita tidak bisa sembarang untuk berdebat, kita harus benar-benar mengerti dan tahu hukumnya secara pasti, bukan katanya dan katanya. (bukan saja untuk agama, tapi untuk semua hal) Tapi, kalau hanya untuk sekedar saling menegur, saling mengingatkan, untuk hal-hal yang pokok itu menjadi sesuatu hal yang wajib dilakukan walaupun dengan ilmu yang sedikit, jangan karena kita tidak tau apa-apa, kita menjadi tidak sama sekali untuk melakukan dakwah dan hanya baik untuk sendiri. Karena apabila kamu tidak bisa melakukan semuanya, maka jangan lah kamu tinggalkan semuanya.

Akhirnya setelah resah mencari, dua orang teman di dunia Facebook datang menyelamatkan, yakni Ratia Hilaliyah (نجمة) ( sebenarnya saya tidak mengenalnya secara personal, bahkan di FB pun kami belum berteman, tapi Sdr. Rully men-tag saya pada tulisan yang Sdri. Ratia share di FB) dan Rully Ginanjar Anggadinata, keduanya mem-posting mengenai permasalahan Nishfu Syaban ini dan keduanya, khususnya Rully merupakan seseorang yang sangat mendalami tentang agama. Sehingga dia, mereka, mampu untuk memposting mengenai permasalahan itu. Dan menjadi tenanglah hati ini setidaknya untuk permasalahan ini, tapi sebenarnya masih mengganjal untuk masalah-masalah lainnya.

Yang jelas, melalui tulisan ini, saya ingin mengajak semua umat muslim di manapun anda berada untuk sama-sama kita mendalami lagi ilmu agama ini, jangan taklid pada seseorang atau satu pemahaman, mari kita buka pikiran dan hati ini seluas-luasnya untuk ilmu lainnya, untuk pendapat baru, referensi baru. Mari kita kembali pada Al-Qur’an dan Hadits Shahih semata, tidak lagi katanya dan katanya, tapi benar-benar harus kita pahami sehingga mantap kita akan berkata bahwa apa yang kita kerjakan adalah berdasarkan Al-Qur’an, surat A, ayat A atau hadits B. Sehingga kita mampu menjadi seorang muslim yang Kaffah, mampu total untuk berdakwah.
Amin!

Dan inilah postingan, tentang lemahnya hadits yang mendasari tentang amalan Nishfu Syaban, silahkan baca dan anda jadikan referensi serta pembanding, sehingga kita mampu untuk berpikir kritis, senantiasa melakukan kroscek.




HUKUM PERAYAAN MALAM NISYFU SYA'BAN




Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman (yang artinya) :

"Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu ".
(QS. Al Maidah : 3).

Dan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam pernah pernah bersabda (yang artinya):

"Barang siapa mengada-adakan satu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak ". (HR. Bukhari Muslim)

dalam riwayat Muslim (yang artinya):

"Barang siapa mengerjakan perbuatan yang tidak kami perintahkan (dalam agama) maka ia tertolak".

______

Masih banyak lagi hadits-hadits yang senada dengan hadits ini, yang semuanya menunjukan dengan jelas, bahwasanya Allah telah menyempurnakan agama ini untuk umat-Nya. Dia telah mencukupkan nikmat-Nya bagi mereka. Dia tidak mewafatkan nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wassallam kecuali setelah beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umat dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun pengamalan.

Beliau menjelaskan segala sesuatu yang akan diada-adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbahkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan ataupun perbuatan, semuanya bid'ah yang tertolak, meskipun niatnya baik. Para sahabat dan ulama mengetahui hal ini, maka mereka mengingkari perbuatan-perbuatan bid'ah dan memperingatkan kita dari padanya. Hal ini disebutkan oleh mereka yang mengarang tentang pengagungan sunnah dan pengingkaran bid'ah seperti Ibnu Wadhah dan Abi Syamah dan lainnya.

Diantara bid'ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang adalah bid'ah mengadakan upacara peringatan malam nisyfu sya'ban dan mengkhususkan hari tersebut dengan puasa tertentu. Padahal tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, memang ada beberapa hadits yang menegaskan keutamaan malam tersebut akan tetapi hadits-hadits tersebut dhaif sehingga tidak dapat dijadikan landasan. Adapun hadits-hadits yang menegaskan keutamaan shalat pada hari tersebut adalah maudhu' (palsu).

_____

Al Hafidz ibnu Rajab dalam bukunya "Lathaiful Ma'arif ' mengatakan bahwa perayaan malam nisfu sya'ban adalah bid'ah dan hadits-hadits yang menerangkan keutamaannya adalah lemah.

Imam Abu Bakar At Turthusi berkata dalam bukunya `alhawadi...ts walbida' : "Diriwayatkan dari wadhoh dari Zaid bin Aslam berkata :"kami belun pernah melihat seorangpun dari sesepuh ahli fiqih kami yang menghadiri perayaan nisyfu sya'ban, tidak mengindahan hadits makhul (dhaif) dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam-malam lainnya".

Dikatakan kepada Ibnu Maliikah bahwasanya Ziad Annumari berkata:

"Pahala yang didapat (dari ibadah ) pada malam nisyfu sya'ban menyamai pahala lailatul qadar.

bnu Maliikah menjawab : Seandainya saya mendengar ucapannya sedang ditangan saya ada tongkat, pasti saya pukul dia. Ziad adalah seorang penceramah.

Al Allamah Syaukani menulis dalam bukunya, fawaidul majmuah, sebagai berikut : Hadits : "Wahai Ali barang siapa melakukan shalat pada malam nisyfu sya'ban sebanyak seratus rakaat : ia membaca setiap rakaat Al Fatihah dan Qulhuwallahuahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala dan seterusnya.

Hadits ini adalah maudhu', pada lafadz-lafadznya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal). Hadits ini diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, kesemuanya maudhu ' dan perawi-perawinya majhul.

Dalam kitab "Al-Mukhtashar" Syaukani melanjutkan : "Hadits yang menerangkan shalat nisfu sya'ban adalah batil" .

Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali : "Jika datang malam nisfu sya'ban bershalat malamlah dan berpusalah pada siang harinya". Inipun adalah hadits yang dhaif.

Dalam buku Al-Ala'i diriwayatkan :

"Seratus rakaat dengan tulus ikhlas pada malam nisfu sya'ban adalah pahalanya sepuluh kali lipat". Hadits riwayat Ad-Dailamy, hadits ini tidak maudhu; tetapi mayoritas perawinya pada jalan yang ketiga majhul dan dho'if.

Imam Syaukani berkata : "Hadits yang menerangkan bahwa dua belas raka' at dengan tulus ikhlas pahalanya adalah tiga puluh kali lipat, maudhu'. Dan hadits empat belas raka'at dst adalah maudhu".

Para fuqoha' banyak yang tertipu oleh hadits-hadits maudhu' diatas seperti pengarang Ihya' Ulumuddin dan sebagian ahli tafsir. Telah diriwayatkan bahwa sholat pada malam itu yakni malam nisfu sya'ban yang telah tersebar ke seluruh pelosok dunia semuanya adalah bathil (tidak benar) dan haditsnya adalah maudhu'.

Al-Hafidh Al-Iraqy berkata : "Hadits yang menerangkan tentang sholat nisfu sya'ban maudhu' dan pembohongan atas diri Rasulullallah Shalallahu’alaihi Wassallam.

Dalam kitab Al-Majmu', Imam Nawawi berkata :"Shalat yang sering kita kenal dengan shalat ragha'ib berjumlah dua belas raka'at dikerjakan antara maghrib dan isya' pada malam jum'at pertama bulan rajab, dan sholat seratus raka'at pada malam nisfu sya'ban, dua sholat ini adalah bid'ah dan mungkar.

Tak boleh seorangpun terpedaya oleh kedua hadits tersebut hanya karena telah disebutkan didalam kitab Qutul Qulub dan Ihya' Ulumuddin, sebab pada dasarnya hadits-haduts tersebut bathil (tidak boleh diamalkan). Kita tidak boleh cepat mempercayai orang-orang yang menyamarkan hukum bagi kedua hadits yaitu dari kalangan a'immah yang kemudian mengarang lembaran-lembaran untuk membolehkan pengamalan kedua hadits tersebut.

Syaikh Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Isma' il Al-Maqdisy telah mengarang suatu buku yang berharga; beliau menolak (menganggap bathil) kedua hadits diatas.

Dalam penjelasan diatas tadi, seperti ayat-ayat Al-Qur'an dan beberapa hadits serta pendapat para ulama jelaslah bagi pencari kebenaran (haq) bahwa peringatan malam nisfu sya' ban dengan pengkhususan sholat atau lainnya, dan pengkhususan siang harinya degan puasa itu semua adalah bid’ah dan mungkar tidak ada dasar sandarannya didalam syari'at Islam ini, bahkan hanya merupakan perkara yang diada-adakan dalam Islam setelah masa hidupnya para shahabat. Marilah kita hayati ayat Al-Qur'an dibawah ini (yang artinya):

"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan Ku-Ridhoi Islam sebagai agamamu".

Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat diatas. Selanjutnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

"Barang siapa mengada-adakan satu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak". (HR. Bukhari Muslim).

Dalam hadits lain beliau bersabda (yang artinya):

"Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam jum 'at dari pada malam-malam lainnya dengan suatu sholat, dan janganlah kamu sekalian mengkhususkan siang harinya untuk berpuasa dari pada hari-hari lainnya, kecuali jika sebelum hari itu telah berpuasa" (HR. Muslim).

Seandainya pengkhususan suatu malam dengan ibadah tertentu itu dibolehkan oleh Allah, maka bukankah malam jum'at itu lebih baik dari pada malam-malam lainnya, karena hari jum'at adalah hari yang terbaik yang disinari oleh matahari ?
Hal ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam yang shohih.

Tatkala Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam telah melarang untuk mengkhususkan sholat pada malam hari itu ini menunjukkan malam yang lainnya lebih tidak boleh lagi. Kecuali jika ada dalil yang shohih yang mengkhususkannya.

Manakala malam lailatul Qadar dan malam¬-malam bulan puasa itu disyari'atkan supaya sholat dan bersungguh-sungguh dengan ibadah tertentu, Nabi mengingatkan dan menganjurkan kepada ummatnya agar supaya melaksanakannya, beliaupun juga mengerjakannya.

Sebagaimana disebutkan didalam hadits yang shohih (yang artinya):

"Barang siapa melakukan sholat pada malam bulan ramadhan dengan penuh rasa iman dan mengharap pahala niscaya Allah akan mengampuni dosanya yang telah lewat. Dan barangsiapa yang melakukan sholat pada malam lailatul Qadar dengan penuh rasa iman niscaya Allah akan mengampuni dosa yang telah lewat" (Muttafaqun 'alahi).

Jika seandainya malam nisfu sya'ban, malam jum'at pertama pada bulan rajab, serta malam isra' mi'raj diperintahkan untuk dikhususkan dengan upacara atau ibadah tertentu, pastilah Rasululah Shalallahu’alaihi Wassallam menjelaskan kepada ummatnya atau menjalankannya sendiri. Jika memang hal ini pernah terjadi, niscaya telah disampaikan oleh para shahabat kepada kita, mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia yang paling banyak memberi nasehat setelah Rasululah Shalallahu’alaihi Wassallam.

Dari pendapat-pendapat ulama tadi anda dapat menyimpulkan bahwa tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam ataupun dari para sahabat tentang keutamaan malam malam nisfu sya'ban dan malam jum'at pertama pada bulan Rajab.

Dari sini kita tahu bahwa memperingati perayaan kedua malam tersebut adalah bidah yang diada-adakan dalam Islam, begitu pula pengkhususan dengan ibadah tertentu adalah bid'ah mungkar; sama halnya dengan malam 27 Rajab yang banyak diyakini orang sebagai malam Isra dan Mi'raj, begitu juga tidak boleh dirayakan dengan upacara-upacara ritual, berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan tadi.

(Diringkas/ disadur dari kitab Tahdzir minul bida' karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Oleh An Nafi'ah dan redaksi).











SEJARAH RITUAL MALAM NISHFU SYA'BAN




Perlu diketahui, orang yang pertama kali menghidupkan shalat Alfiyah ini pada malam Nishfu Sya’ban adalah seseorang yang dikenal dengan Babin Abul Hamroo’. Dia tinggal di Baitul Maqdis pada tahun 448 H. Dia memiliki bacaan Qur’an yang bagus. Suatu saat di malam Nishfu Sya’ban dia melaksanakan shalat di Masjidil Aqsho. Kemudian ketika itu ikut pula di belakangnya seorang pria. Kemudian datang lagi tiga atau empat orang bermakmum di belakangnya. Lalu akhirnya jama’ah yang ikut di belakangnya bertambah banyak. Ketika datang tahun berikutnya, semakin banyak yang shalat bersamanya pada malam Nishfu Sya’ban. Kemudian amalan yang dia lakukan tersebarlah di Masjidil Aqsho dan di rumah-rumah kaum muslimin, sehingga shalat tersebut seakan-akan menjadi sunnah Nabi. (Al Bida’ Al Hawliyah, 299)

Lalu kenapa shalat ini dinamakan shalat Alfiyah? Alfiyah berarti 1000. Shalat ini dinamakan demikian. karena di dalam shalat tersebut dibacakan surat Al Ikhlas sebanyak 1000 kali. Shalat tersebut berjumlah 100 raka’at dan setiap raka’at dibacakan surat Al Ikhlas sebanyak 10 kali. Jadi total surat Al Ikhlas yang dibaca adalah 1000 kali. Oleh karena itu, dinamakanlah shalat alfiyah"

Catatan:
1).Ritual Nishfu Sya'ban terjadi hampir 5 abad setelah Nabi Wafat.
Maka jelas tdk ada Sunnahnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

2).Yg pertama kali mengadakan Ritual Nishfu Sya'ban org yg bernama : Babin Abul Hamro ini, bukanlah seorang Ulama apalagi Ulama Mu'tabar (yg dikenal, diakui dan diikuti) keilmuannya, ttapi hanyalah seorng ahli baca Al Qur'an.

3).Ulama Ulama yg Mu'tabar :
Imam ibnu Jauzi, An Nawawi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Rajab, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar dll telah mengingkari dan membid'ahkan Ritual Nishfu Sya'ban yg memenuhi Kitab2 mrk.

4). Jadi menghidupkan malam nisfu sya'ban dengan ibadah ( do'a, membaca yaasin, kumpul-kumpul dengan do'a barokah untuk air dsb.) bukan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu tetapi amalan Pelaku Bid'ah yg dilestarikan.





Selasa, 12 Juli 2011

Jujur dan Berprestasi

Di Senin pertama di bulan Juli, sekitar seminggu yang lalu atau tepatnya pada tanggal 4, kami semua, Praja IPDN Kampus Daerah Kalimantan Barat melakukan upacara bendera seperti biasanya, sebuah kegiatan wajib setiap hari Seninnya. Ya, kami adalah mahasiswa, tapi kami adalah mahasiswa kedinasan, hidup di biayai dan bahkan diberi uang “jajan” oleh negara setiap bulannya, berkuliah dengan memakai seragam lengkap dengan berbagai atributnya, dan ya..setiap hari Senin dan hari-hari kenegaraan lainnya kami memang diwajibkan untuk mengikuti upacara bendera. Tapi itu bukanlah sesuatu hal yang hendak saya bahas atau bahkan permasalahkan. Di sini, di tulisan/artikel ini, saya akan mencoba membahas amanat dari inspektur upacara pada upacara bendera Senin itu.

Bapak DR. Aloysius Mering, M.Pd., Asisten Direktur I bagian Akademik dan Kerjasama IPDN Kampus Daerah Kalimantan Barat, bertindak selaku inspektur upacara pada senin itu. Beliau, di mata saya pribadi, merupakan orang yang cerdas, pekerja keras, bervisi jelas, dan segala tindakannya seperti sudah beliau rencanakan dan susun secara matang dan sedetail mungkin sehingga apa yang beliau katakan, amanatkan terdengar sungguh bijak, sistematis, dan tepat sasaran. Seperti halnya jabatan yang dia pegang, beliau merupakan orang yang sangat konsekuen dan tegas mengenai akademik, di samping itu beliau juga merupakan seorang guru musik yang sangat handal. Jadi, sejauh ini saya belum menemui sesuatu hal yang “kurang” pada seorang Pak Mering ( begitu biasa beliau dipanggil ) sehingga saya belum bisa menyerang beliau dalam sebuah kata-kata kritikan tajam nan pedas penuh dendam. Saya masih mengagumi beliau dengan segala kelebihan yang beliau miliki, setidaknya hingga saat ini, hingga saat saya menulis tulisan/artikel ini.

That’s enough for the prologue, so now let’s go for the main show!
Awal Juli tahun 2011, merupakan masa-masa menentukan bagi kami semua, Muda Praja IPDN Angkatan XXI, entah itu yang ada di kampus pusat ataupun yang tersebar di berbagai kampus daerah lainnya. ( baca : KAMPUS DAERAH DAN SEMANGAT PERUBAHAN ) Karena pada tanggal 4 – 14 Juli 2011 kami semua akan menghadapi tes tertulis, dengan rincian, tanggal 4 - 8 Juli 2011 Ujian Akhir Semester bidang Pengajaran dan kemudian dilanjut dengan Ujian Akhir Pelatihan pada tanggal 11 - 14 Juli 2011. Semua rangkaian ujian tertulis itu kemudian akan ditutup atau diakhiri dengan tes kesamptaan atau tes ketahanan fisik. Jadi, tidak berlebihan kalau pada akhirnya ada beberapa orang atau mungkin hanya saya pribadi, yang menyebut bahwa bulan Juli adalah bulan penuh tantangan sekaligus bulan Belajar dan bulan Sibuk bagi praja.

Dan karena momentum itu maka Pak Mering selaku inspektur upacara memberikan amanat mengenai permasalahan itu dan secara tidak resmi pula amanat Pak Mering itu menjadi pembuka bagi Ujian yang akan dijalani oleh Muda Praja IPDN Kampus Daerah Kalbar. Panjang lebar beliau berkata dengan kata-kata penuh petuah bermakna dalam yang sangat indah apabila mampu untuk diimplementasikan nyata oleh seganap pihak yang mendengarkannya. Inti dari semua kata-kata yang telah beliau keluarkan tulus ikhlas dari mulutnya adalah beliau berharap ujian yang akan dijalani oleh kami semua ini, merupakan sebuah ujian yang bermottokan dan berlandaskan sebuah prinsip yang kuat nan positif yaitu : Jujur dan Berprestasi.
“Ujian kita berprestasi tapi dengan cara tidak jujur merupakan sesuatu yang tidak berguna. Dan walaupun kita melaksanakan ujian secara jujur tapi ternyata tidak berprestasi. Itu juga sesuatu hal yang tidak berguna.”, begitulah sekiranya beliau menguraikan motto Jujur dan berprestasi yang menjadi harapan beliau dan seluruh stakeholder IPDN dan bahkan seluruh akedemisi dan masyarakat di Indonesia serta seluruh dunia.

Sebuah motto yang klasik tapi selalu mengusik. Betapa tidak, motto yang sangat mudah kita ucapkan, tapi lagi-lagi selalu sulit kita terapkan dalam kehidupan nyata penuh realita dalam balutan intrik dan kepentingan ego manusia. Bisa kita bayangkan bila kita selaku manusia, khususnya seorang akademisi, yang secara jelas dan terang memikul beban berat di pundak untuk pada akhirnya menjadi manusia yang mempunyai kontribusi positif bagi masyarakat, agama, dan negara kita ini. Bahkan praja IPDN menjadi seperti mempunyai beban yang lebih berat lagi, karena secara lebih jelas dan terang lagi, kita akan menjadi seorang administrator, aparatur pemerintahan, birokrat pemerintahan, yang secara nyata bekerja langsung menjalankan pemerintahan, menahkodai kapal bernama Indonesia, dengan cara menentukan segala kebijakan publik dan juga memberi pelayanan pada publik, menjadi seorang pemimpin dan pembantu dalam waktu yang hampir bersamaan. Ya, itu lah kami nantinya. Ditambah dengan fakta bahwa dimulai dari pendidikan kita pun kita sudah dibiyai oleh uang negara, uang rakyat Indonesia, sehingga sudah terlalu jelas lah betapa beratnya beban yang ada di pundak kita ini. Bila saja kita mampu untuk menjalani ujian secara Jujur dan kemudian berprestasi, maka kita akan benar-benar manusia yang “sempurna” secara akademisi dan bahkan akan berdampak nyata pada dunia kehidupan kerja, bermasyarakat dan bernegara nantinya.
Mari kita kupas satu persatu secara lebih mendalam!

Jujur = Jujur jika diartikan secara baku adalah "mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran". Dalam praktek dan penerapannya, secara hukum tingkat kejujuran seseorang biasanya dinilai dari ketepatan pengakuan atau apa yang dibicarakan seseorang dengan kebenaran dan kenyataan yang terjadi. Bila berpatokan pada arti kata yang baku dan harafiah maka jika seseorang berkata tidak sesuai dengan kebenaran dan kenyataan atau tidak mengakui suatu hal sesuai yang sebenarnya, orang tersebut sudah dapat dianggap atau dinilai tidak jujur, menipu, mungkir, berbohong, munafik atau lainnya. ( indonesia.siutao.com )

Intinya jujur meruapakan perwujudan moral atau akhlak baik kita. Kita mampu untuk bertindak sesuai dengan kemampuan, situasi, kondisi, dan perintah yang ada. Kita tidak menyalahi aturan apalagi mencoba mencari-cari celah untuk mengakali suatu aturan atau bahkan secara radikal menerebos segala aturan yang ada. Kita bertindak sesuai jalan yang telah ditentukan, sesuai peta yang telah kita dapatkan. Kita berusaha semaksimal mungkin secara bersih dan putih. Begitu halnya bila kita terapkan itu semua pada sebuah situasi bernama ujian, kita persiapkan diri kita sebaik mungkin, tentunya dengan selalu berlatih, belajar, dan mencoba setiap saatnya, sehingga pada saat ujian itu tiba diri kita ini telah siap dan dengan mudahnya mengisi lembar jawaban yang ada secara pasti dan yakin. Mengisi dengan segala kemampuan sendiri, sesuai waktu yang telah diberi, dan kemudian mengumpulkannya setalah waktu ujian diakhiri. Sederhanya, kita mengsisi dan menjawab setiap pertanyaan yang ada tanpa menyontek, tanpa bertanya ini-itu pada kawan, dan kegiatan lainnya yang jelas-jelas melanggar aturan. Itulah bersikap jujur dalam dunia akdemisi pada saat ujian.

Berprestasi = 1. mempunyai prestasi dl suatu hal (dr yg telah dilakukan, dikerjakan, dsb) (www.artikata.com)

Berprestasi dalam kata lainnya berarrti kita berhasil mencapai sesuatu hal yang telah ditentukan atau bakan melebihi ukuran yang telah ditentukan itu. Berprestasi berarti bernilai positif. Dalam lingkup dunia ujian, berprestasi berarti mendapatkan nilai yang baik, mendapatkan nilai lebih dari batas minimal yang telah ditetapkan. Itulah berprestasi. Secara umumnya, berprestasi berkenaan dengan hasil yang kita dapatkan sesuai dengan harapan dan ukuran yang telah ditetapkan. Jadi, dalam hal ini berprestasi hanya diukur dari pencapaian hasil atau output yang ada.

Betapa indah sungguh terbayang apabila kita sebagai seorang akademisi, mampu melaksanakan suatu ujian dengan jujur dan kemudian mendapatkan hasil yang berprestasi. Berarti kita telah mampu untuk berproses dengan benar dan juga mendapatkan hasil yang baik. ( baca : Proses yang benar atau Hasil yang baik ? ) Sebuah bentuk sangat ideal dalam sebuah dunia yang kita namakan dunia akademis. Tapi itu hanya sebuah mimpi belaka, Jujur dan Berprestasi seakan menjadi barang yang cukup sulit untuk kita temui. Terkadang atau bahkan sering salah satu dari kata itu harus kita buang, karena tak selamanya yang berproses secara benar ( jujur ) dapat serta merta mendapatkan hasil yang baik ( berprestasi ) dan tidak semuanya yang tidak berproses dengan benar ( tidak jujur ) mendapatkan hasil yang tidak baik ( tidak berprestasi ). Bahkan ada yang secara ekstrem berani memilih untuk bertindak tidak jujur untuk mendapatkan suatu prestasi. Karena realitanya memang terbukti, bahwa bertindak tidak jujur terlihat sangat mudah dan bahkan sangat dekat untuk mendapatkan suatu prestasi yang baik. Dibandingkan dengan mereka yang berlaku jujur, yang terkadang nasib presatasinya seperti gasing, dan belum terlalu pasti berpresatsi baik Hal ini ditambah dan diperparah dengan kondisi kita, terutama para generasi mudanya yang sudah terdoktrin kehidupan serba instant nan cepat, menafikan sebuah proses. ( baca : Proses atau hasil ? ) Mereka pun bertindak seperti itu karena ada sebuah mindset yang tertanam dalam benak mereka bahwa tindakan menyontek dsb merupakan sebuah tindakan biasa yang bukanlah merupakan sebuah dosa. Mereak pikir dosa hanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan agama, tapi tidak untuk permasalahan dunia. Mereka pikir menyontek, dan yang sejenisnya hanya sebuah pelanggaran kecil nan biasa dari seorang pelajar, yang hanya melanggar tata tertib semata. Tidak kawan, bila and berpikiran seperti itu, berarti doktrin sekulerisme mulai meracuni otak dan hati anda semua. Karena dengan berpikirnya anda seperti itu, maka anda telah memisahkan antara kehidupan dunia dan kehidupan agama, itu sekuler namanya. Sedangkan agama dan dunia tidak dapat kita pisahkan, keduanya saling berkaitan dan saling mempengaruhi, apa yang kita lakukan di dunai akan berdampak jelas di akhirat nanti, tidak hanya hal-hal yang berkaitan dengan agama. Perlu kita pahami bersama, bahwa segala hal yang kita lakukan, segala sesuatunya yang melanggar aturan itu adalah sebuah dosa. Tapi sayang, karena mungkin pikiran sekuler itu telah lambat laun tertanam, mereka lebih memilih berorientasi pada hasil dan menafikan proses karena memang hasil lah yang bisa kita rasakan langsung di dunia ini, karena proses yang baik ataupun proses yang benar manfaat pahalanya tak bisa kita rasakan secara langsung. Ya, itu benar, karena dosa yang kita peroleh dari hasil menyontek dan sebagainya tak akan kita rasakan langsung dampaknya di dunia ini, jadi mereka berani mempertaruhkan itu untuk mendapatkan hasil yang instant.

Apa yang terjadi pada saat ini bukanlah sesuatu hal yang berdiri sendiri, tapi merupakan sebuah rentetan peristiwa panjang yang telah terjadi di masa lalu sehingga pada akhirnya membentuk sebuah bentuk di masa sekarang ini. Itu pula yang terjadi dengan budaya curang yang ada atau terjadi pada kita, atau bolehlah saya sempitkan menjadi hanya kami semua di sini. Ini, secara jujur saya katakan, merupakan hal yang telah dibina, dilatih semenjak dini, semenjak kita kecil, ketika kita semua duduk di bangku sekolah dasar. Segala budaya curang, seperti menyontek, dsb telah menjadi rahasia umum, di dalam dunia pendidikan kita, ditambah dengan kebijakan pendidikan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang secara tidak langsung mendewakan sebuah hasil, yaitu dengan diakannya sebuah UJIAN AKHIR NASIONAL/UJIAN NASIONAL. ( baca : UN 2009-2010 ) Sehingga pendidikan yang seharusnya fokus mengajarkan ilmu dan mendidik mental, moral, sikap dan perilaku para peserta pendidik, menjadi berubah sebagai sebuah lembaga bimbingan belajar yang memfokuskan pada latihan soal untuk mengejar nilai semata. Dan yang terjadi adalah sebuah penanaman budaya curang secara struktur. Yang akhirnya muncul juga di permukaan, masuk dalam ranah berita, setelah seorang Ibu dengan berani bersuara lantang menyuarakan kesalahan itu. ( baca : Ny. Siami ; Pahlawan Tanpa Topeng )
Seharusnya nilai itu bukan menjadi tujuan utama dalam sebuah pendidikan, tapi penanaman ilmu dan pendidikan moral, sikap, mental dan perilaku dalam sebuah proses yang benar lah yang harus menjadi tujuan utamnya, sehingga nilai hanya mengikuti tepat di belakangnya. Dan yang dinilai itu seharusnya tidak melulu hasil akhir dari sebuah evaluasi belaka, apalagi dengan sakleknya menjadikan itu sebagai sebuah patokan kelulusan, tapi cobalah untuk membuat sebuah mekanisme untuk menilai suatu proses dari seorang peserta didik dalam mencapai suatu hasil itu. Dan kemudian gabungkan dengan hasil yang dia dapatkan dari sebuah tes evaluasi. Maka dengan begitu akan lebih mudah dan lebih fair rasanya untuk menetukan sebuah nilai.

Bila saya mendengar cerita dari orang-orang yang hidup nyaman di tempoe doeloe, bukan sesuatu hal yang asing bila sesorang tidak naik kelas karena memang nilainya jelek dan secara nyata dia memang belum pantas untuk naik kelas, kemudian untuk lulus dan mendapatkan gelar sarjana pun orang-orang itu harus menempuh waktu yang sangat lama, lebih dari empat tahun. Tapi hasilnya, lulusan atau orang-orang itu sangat berkualitas dan hasilnya bisa dan telah kita rasakan. Tapi, tentunya beda zaman, beda masalah dan beda pendekatan penyelesaian masalahnya. Dan mungkin itu yang terjadi sekarang, negara kita ini masih bingung untuk mencari sebuah pijakan yang kokoh sehingga segala kebijakan yang dibuat sekarang masih sanagat rapuh, masih sanagat bersifat sementara. Dan tidak berbeda jauh pula dengan dunia pendidikan kita, inilah hasil dari kebijakan yang dibuat dari tempat yang rapuh, terpengaruh oleh racun-racun kaum kapitalis nan liberal.

Dan untuk permasalahan ini, izinkan saya mengutip penggalan puisi, dari sastrawan favorit saya, yaitu Taufik Ismail, dari Puisi yang berjudul “Pelajaran Tatabahasa dan Mengarang“, diambil dari buku kumpulan puisinya yang berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”.

“...
Wahai Pak Guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca
Bila kami tak mampu mengembangkan kosa kata
Selama ini kami ‘kan diajar menghafal dan menghafal saja
Mana ada dididik mengembangkan logika
Mana ada diajar berargumentasi dengan pendapat berbeda
Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra
Pak Guru sudah tahu lama sekali
Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama dan rabun puisi
Tapi mata kami ‘kan nyalang bila menonton televisi”

Dalam puisi di atas secara jelas seorang Taufik Ismail telah melihat sebuah kesalahan dari kebijakan program pendidikan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan sistem pengajaran yang berlaku di Indonesia serta mental dan moral yang juga salah dari peserta didik yang ada. Dalam puisi itu Taufik Ismail memang tidak mengkritik permasalahan pemikiran yang serba instant, dan menafikan sebuah proses. Tapi, saya pikir permasalahan yang ada dan di ungkapkan dalam puisi itu, telah berkembang luas atau meruapakan awal dari permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh Indonesia sekarang ini.

Sehingga menjadi sesuatu hal yang “lumrah” segala hal curang yang terjadi pada generasi kita ini apalabila kita melihat serangkaian peristiwa yang melatarbelakangi segala budaya curang yang ada sekarang ini. Budaya curang itu, menjadi bertambah ironi karena terjadi pada mahasiswa yang seharusnya sebuah masa-masa tempat kita mengeluarkan dan membiasakan untuk hidup idealis, menaati segala aturan. Karena kita sudah semakin dekat dan nyata akan berkecimpung dalam dunia kerja, bermasyarakat, dan bernegara. Terlebih terjadi pada kami, selakau praja, anak negara, anak-anak yang dibiayai negara, uang rakyat, calon-calon aparatur pemerintahan, calon-calon pemimpin bangsa. Tapi ternyata diisi oleh serangkaian proses yang kurang benar dan bahkan tidak benar sama sekali.

Izinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan pada mereka yang masih menghalalkan segala cara untuk mampu berprestasi atau mendapatkan segala keinginan yang mereka harapkan :

Apakah anda yakin yang anda lakukan itu benar?
Anda yakin kalau itu bukanlah sebuah dosa?
Apakah masih pantas bagi anda untuk bersuka cita tapi dengan cara yang salah?
Apakah pantas anda bangga mendapatkan hasil yang baik dari proses yang tidak benar?
Apakah anda yakin hal itu akan menjadi sesuatu hal yang bermanfaat bagi anda?

Bagi meraka yang masih dengan tegas memegang teguh idealismenya, dan tetap teguh melakukan serangkaian proses yang benar (jujur), tetap lah anda seperti itu walaupun anda belum mendapatkan hasil yang baik ( berprestasi ). Itu berati anda belum berusaha maksimal, tapi kalaupun anda sudah merasa berusaha semaksimal mungkin, itu berarti anda belum saatnya mendapatkan hasil yang baik menurut pandanagan dan pendapatn-Nya. Karena kita manusia hanya wajib berusaha secara maksimal dalam ikhitiar dan doa, pada hakikatnya hasil akhir adalah hak preogratif-Nya. Dan kalaupun anda telah berprestasi tetapi masih kalah oleh mereka-mereka yang berproses tidak jujur, saya yakinkan anda bahwa anda kalah dengan sanagat terhormat dan mereka menang dengan sangat terhina. Anda terpuji di dunia dan insya Allah juga terpuji di akhirat sana, tapi mereka hanya terpuji di dunia dan akan merana di alam sana. Dan bagi anda yang telah berproses secara jujur dan mendapatkan hasil yang sangat berprestadi pula, two thumbs up for you! You're the man, you are the great shape and the best role model for all the students all over the world! Keep the good job guys!!
Yakinlah dan selalu berpikir positif!
Cause belivers never die and Allah never sleep!!

Tetap di jalan yang lurus, karena segala yang kita perbuat akan kita pertanggung jawabkan nantinya secara hukum, hukum dunia maupun hukum akhirat!

Sabtu, 09 Juli 2011

MILESTONE



Milestone : batu tanda tiap-tiap mil ; kiasan ; penanda mencapai tahap diidentifikasi dalam tugas apapun ; peristiwa penting dalam hidup Anda (atau proyek).

From nothing to something,
from one to one hundred,
from a big pile of shit to a sack of advise.
I told u a story,
i told u my problems,
i told u how i live this damn life,
i told u how u should live ur f***** life.
Yeah, that’s my blog,
my damn world,
my life,
and someone else’s life that i writte down with my point of view!

Akhirnya setelah kurang lebih dua tahun menjadi seorang blogger, walaupun hanya seorang blogger yang sederhana dan minimalis cenderung gaptek, karena secara tampilan hampir tak ada perubahan positif yang signifikan, masih sangat sederhana, tapi itu tidak menyurutkan penulis (saya sendiri) untuk terus berkarya, terus berkicau mengenai apapun yang ada dalam pikiran dan kemudian penulis ungkapkan dalam sebentuk uraian kata-kata yang membentuk suatu paragraf cerita, resensi, diari, berita, ataupun puisi. Dan walaupun tak banyak follower yang penulis punya, bahkan follower yang ada pun hampir semuanya mem-follow blog ini karena penulis paksa, bukan karena inisiaif mereka sendiri. Dan walaupun hanya sedikit yang mau membaca hasil tulisan penulis, cenderung tidak ada. Dan walaupun blog ini hampir tidak terindeks oleh search engine manapun, dan kalaupun ada anda harus membuka hingga ke halaman terkahir hingga akhirnya anda akan sampai ke alamat blog ini. Walaupun dengan segala kekurangan dan kelemahan itu, penulis mampu untuk mencapai milestone artikel yang ke-100. Dimulai dengan 2 Sisi Kehidupan yang penulis posting pertama kali di Blog tercinta ini pada tanggal 27, bulan September, tahun 2009 hingga akhirnya sampai pada Balada Shaf Depan yang diposting pada tanggal 8, bulan Juli, tahun 2011, menjadi tulisan yang ke-100 yang secara resmi penulis posting di Blog ini. Yeah!!

So, this is the article that i dedicated special for myself, for celebrating my milestone!! Hip hip hooray!! Hahahahaha.... mungkin ini terkesan norak, atau lebay atau apalah. Tapi, saya pikir ini merupakan suatu hal yang lumrah dan wajar untuk saya rayakan, karena walaupun untuk sebagaian orang, orang-orang ahli di luar sana, ini bukan merupakan suatu pencapaian yang fantastis, tapi bagi saya pribadi ini adalah sesuatu hal yang fantastis. Karena ini, blog ini, adalah murni berisi tulisan saya pribadi, hasil pemikiran dan pengembangan otak sendiri ( catatan : ada beberapa artikel hasil karya orang lain yang penulis posting di blog ini, tapi jumlahnya hanya beberapa dan tidak signifikan). Jadi, jumlah 100 merupakan suatu pencapaian yang harus saya tandai, saya rayakan dalam sebentuk tulisan, dan bahkan sebuah logo. Ya, jauh-jauh hari saya sudah merencanakan untuk membentuk/membuat sebuah logo, untuk memperingati mengenai hal ini, beruntung bagi saya karena berteman dengan seorang Hajid Arif Hidayat yang mahir dalam menggunakan Adobe Photoshop, sehingga realisasi dari rencana ini tidak begitu sulit untuk dilakukan. Thanks for ur help, thanks for this beautiful emblem, mas!! Good f****** job, dude!! Hahahahaha......



Sebenarnya rencana awal yang sudah saya persiapkan adalah artikel Milestone ini akan menjadi artikel atau tulisan yang ke-100. Tapi ternyata situasi dan kondisi yang ada di luar perkiraan awal saya. Artikel atau tulisan ke-99, baru berhasil saya buat pada akhir bulan Juni. Dan ketika itu konsentrasi dan fokus saya sudah terpusat pada ujian akhir semester yang akan diselenggarakan pada awal bulan Juli. Sehingga saya tidak memiliki waktu luang untuk duduk manis di depan laptop dan menulis sebuah artikel atau tulisan bertemakan tentang Milestone. Apalagi ujian di bangku kuliah khususnya di IPDN dengan fokus disiplin ilmunya adalah ilmu sosial, yang secara sederhanaya tidak akan ada jawaban yang mutlak benar dan mutlak salah. Sehingga kata-kata yang saya punya di otak seperti habis terkuras untuk saya tumpahkan di atas kertas jawaban untuk menjawab dari setiap pertanyaan essay yang telah dosen buat. Karena selain kualitas, jawaban kita pun dituntuk untuk berkuantitas. Alhasil untuk mengisi kekosongan blog saya, saya pun mem-posting tulisan-tulisan saya yang lain, berbentuk sebuah puisi, karena tulisan jenis puisi yang saya buat, merupakan tulisan yang situasional dan kondisional, tulisan yang tak bisa dipaksakan, tulisan yang mengalir apa adannya, apapun jenis situasinya bila hati dan pikiran saya mulai merasa ingin untuk berpuisi maka berpuisi lah saya dan oleh karena itu, saya selalu menulis dan menyimpan setiap ide, setiap kata-kata yang mengalir apa adanya di laptop, atau di program notes pada hape nokia yang saya miliki, mengantisipasi hilangnya setiap ide itu dan untuk kemudian saya posting setelah melalui serangakian proses editing.

Pertama kalinya saya mulai memahami atau lebih tepatnya, mencoba untuk memahami apa itu blog ketika saya mendapatkan sebuah kaos dari paman saya, yang bertuliskan/bermotifkan pengertian dari Blog. Disitu saya mulai bertanya-tanya apa itu Blog, dan jawaban yang sederhana tapi cukup berkenan dalam hati saya, keluar dari mulut kakak saya, dia berujar bahwa blog itu adalah buku catatan kita yang ada di dunia maya, di dalam blog kita bisa menulis apapun dan bahkan menyimpan foto serta video. Secara sederhana jawaban itu langsung mempengaruhi saya, saya mulai tertarik untuk membuat sebuah blog. Karena secara kebetulan pada waktu itu, saya sedang gemar untuk menulis, lebih seringnya menuliskan segala ungkapan emosi berbentuk puisi. Masa-masa yang pada saat itu saya rasakan sebagai masa-masa yang mencoba untuk menampilkan segala eksistensi diri untuk sekedar sebagai bahan gaya atau gengsi. Sehingga saya pikir, blog adalah tempat yang paling tepat untuk menjadi bahan aktualisasi itu. Bak gayung bersambut, untuk bisa mendaftar di alamat Blogspot, kita memerlukan akun gmail terlebih dahulu, dan itu bukan merupakan sebuah ganjalan besar, karena saya telah mempunyai akun gmail sebagai suatu syarat untuk mengikuti pelajaran TIK pada waktu itu. Jadi, sungguh suatu rentetan yang bersahabat. :)
Blogspot tidak serta merta saya pilih begitu saja, tapi itu pun dengan sebuah pemikiran yang memang tidak terlalu matang, tapi cukuplah untuk sekedar memilih alamat blog apa yang akan saya pakai. Pilihan itu hanya ada antara Blogspot dan Wordpress. Blogspot saya pilih karena ada sebuah situs yang saya baca secara tidak sengaja, yang mengungkapkan kelemahan dan kelebihan dari kedua alamat blog itu. Dan secara jujur, saya pun telah lupa apa yang menjadi kelebihan Blogspot sehingga saya memilih Blogspot daripada Wordpress. Hehehe...
Dan pada tanggal 27, bulan September, tahun 2009, sore hari kalau saya tidak salah, saya mulai membuat akun Blogspot, tidak memakan waktu lama, dan seketika saja saya sudah mempunyai sebuah alamat Blog. Hal yang pertama saya lakukan adalah mem-posting tulisan-tulisan yang telah saya buat, dan tulisan pertama yang saya pilih untuk posting pertama kali adalah sebuah puisi berjudul 2 Sisi Kehidupan, tak ada alasan khusus untuk itu, hanya merupakan sebuah pilihan secara acak. Untuk beberapa hari saya hanya sibuk untuk memilih tulisan-tulisan mana yang sekiranya pas untuk saya posting di dalam blog saya ini. The Resistance dan Plagiat adalah artikel atau tulisan non-puisi yang pertama kali saya buat. Itu pun tonggak awal artikel/tulisan yang memposisikan saya sebgai seorang yang sok, yang serba benar, berlagak jadi seorang komentator, seorang kritikus. Di situlah ide sebenarnya saya membuat blog mulai secara lambat laun keluar, tidak melulu mengkisahkan kehidupan saya pribadi. Hingga pada perkembangannya saya membagi tulisan saya ke dalam empat kategori utama, yaitu Poetic Tragedy (berisikan puisi), Musik (tulisan berkenaan dengan musik), Sports (mengenai segala olahraga awalnya hanya terfokus pada Sepak Bola saja), dan Life (segala hal diluar tiga kategori tadi)

Saya mulai tertarik untuk menulis ketika saya masuk dan duduk di bangku SMA, tapi tulisan yang saya buat pada waktu itu masih bersifat acak, tak ada bukti dokumentasinya. Baru ketika saya kelas XI atau kelas dua SMA, saya mulai mempunyai buku khusus tempat saya menulis, buku harian adalah ide awalnya. Itu lah seperti yang telah saya kemukakan, merupakan dorongan lebih bagi saya untuk membuat sebuah blog. Karena dari ide awal hanya ingin membuat sebuah buku harian, yang menuliskan segala kejadian dalam hidup saya, saya pun mulai ingin untuk “mempengaruhi” orang lain di sekitar agar bertindak sesuai dengan kehendak atau harapan saya, karena saya merasa segala hal harapan dan kehenak saya itu benar ( ego remaja ).
Ide-ide awal yang sempit itu kini telah berubah menjadi agak luas dan mungkin sedikit bijak. Menulis kini telah menjadi salah satu hobi saya, di samping karena tuntutan sebagai seorang akademisi, yang memang secara nyata tugas utamanya adalah membaca dan menulis. Tapi, terlepas dari itu, menulis pun mampu untuk melepaskan segala emosi dalam diri, pelepas segala penat dalam hati. Menulis adalah salah cara yang paling efektif bagi saya untuk mengekspresikan diri ini. Kini tujuan dari kenapa saya menulis adalah untuk mencurahkan segala emosi yang saya punya dalam hati dan menumpahkan segala unek-unek yang mengganjal dalam otak. Sehingga tema dalam tulisan yang saya buat tidak melulu mengenai kehidupan yang saya alami, tapi secara luas saya mencoba untuk menuliskan segala apapun itu yang sekiranya mau saya tuliskan dalam bentuk sebuah narasi, argumentasi, ataupun puisi.

Hasrat untuk menulis pun semakin meninggi ketika saya membaca buku hasil karya Bambang Pamungkas, seorang pesepak bola yang memiliki hobi untuk menulis, berjudul BEPE20 : Ketika Jemariku Menari. Itu merupakan sebuah buku kumpulan artikel-artikel yang telah dia buat dan dia posting di situs pribadinya, bampangpamungkas20.com. Buku itu sangat menggugah saya, semakin memacu saya untuk terus menulis, dan juga menjadi inspirasi saya dalam setiap tulisan saya kedepannya. ( Insya Allah saya akan menulis secara khusus mengenai buku itu dan bagaimana buku itu bisa sangat memacu semnagat menulis saya ) Dalam salah satu artikelnya, bepe berujar bahwa dia menulis agar setiap apa yang ada dalam isi otaknya bisa keluar secara lebih sistematis, lebih rapih dan lebih mudah dipahami serta meminimalisir segala kesalahpahaman persepsi. Dia juga menulis segala kejadian yang terjadi masa lampau untuk membangkitkan lagi semangatnya di masa kini. Hal-hal itu tidak berbeda jauh dengan semangat menulis yang saya junjung, walaupun dengan pengecualian pada menceritakan kejadian di masa lampau, karena saya agak susah dan cenderung pelupa dengan segala hal yang telah terjadi. Hehehe....

Harapan yang saya harap mampu untuk saya wujudkan adalah selain dari kuantitas tulisan yang saya buat yang pasti akan terus selalu bertambah, secara kualitas pun saya harap tulisan saya mampu utnuk menjadi lebih baik lagi, mampu utnuk memberikan dampak positif dan bermakna lebih dalam lagi. Sehingga setiap orang yang membacanya mendapatkan suatu feedback yang positif, tidak hanya sekedar membuang-buang waktu dan membuat lelah mata. Lebih dari itu, setiap mereka yang membaca setiap tulisan yang ada di blog ini bisa mendapatkan suatu hal yang positif walaupun hanya sedikit, tapi itu tetap jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.

Untuk itu, saya pun harus tetap belajar, harus lebih rajin lagi untuk membaca buku, memperluas lagi ilmu yang saya miliki, banyak belajar dan mendengar dari-dari orang cerdas di luar sana. Karena hanya dengan cara itu lah, tulisan saya mampu untuk menjadi lebih baik lagi dan bahkan untuk saya pribadi pun akan menjadi seseorang yang lebih dan lebih baik lagi.

Saya juga tak akan pernah putus berharap dan berdoa serta berusaha agar blog ini semakin ramai dikunjungi orang, bukan untuk mendapatkan sebuah popularitas semata, tapi agar pesan di setiap tulisan yang saya buat bisa semakin jauh dan semakin luas orang terima. Oleh karena itu, saya ucapkan terima kasih yang tidak terhingga bagi setiap orang yang telah menyempatkan waktunya untuk datang dan membaca setiap tulisan di blog ini, maafkan bila ada hal-hal yang tidak berkenan di dalam setiap tu;isan yang telah saya buat dan terdapat kata-kata yang tak pantas. Untuk itu saya sangat mengharapkan segala masukan, kritikan, cacian atau mungkin pujian dari anda-anda semua. Karena tanpa masukan dan kritikan saya tak akan mungkin bisa memperbaiki diri, tanpa adanya cacian saya tak akan mungkin bisa bertambah kuat dan tanpa adanya suatu pujian mana mungkin saya akan mempunyai sebuah semangat. Sekali lagi terima kasih dan selamat menikmati perjalanan anda di blog ini, jangan sungkan-sungkan untuk membuka setiap tulisan yang ada di blog ini. :)

PEACE AND CHEERS, MY FRIENDS!!

Jumat, 08 Juli 2011

Pura - Pura Penuh Rekayasa Sekedar Fiktif Belaka

Ini tentang sebuah situasi dalam acara,
acara untuk dua orang manusia.

Lelaki-wanita yang dimabuk cinta,
bukan kepalang bahagia,
karena telah diikat sah dalam ikatan nikah.

Dan inilah bentuk syukur suka cita,
yang mereka bagi pada sesama,
teman, sahabat, rekan kerja,
saudara, dan juga tetangga.

Ini pun suatu bentuk cara, juga usaha,
untuk menghindari segala fitnah,
Biar semua orang tau dan paham, kalau sudah sah hubungan mereka.

Tapi ada satu fenomena, yang sedikit mengganggu agaknya,
Entah cuma perasaanku saja,
Yang mungkin terlanjur berburuk sangka,
Atau memang itu adanya.

“acara itu penuh pura-pura!”,
batinku berkata.

Dekorasi yang berpura-pura mewah,
pura-pura sudah dibayar lunas,
padahal masih berhutang disini – sana,

Tamu yang berpura-pura suka,
dengan segala hidangan yang ada,
padahal sungguh tak enak mereka rasa.

Nyanyian dari para biduan,
atau tamu undangan,
yang berpura-pura bernyanyi indah,
dan yang lain pun berpura-pura mendengar itu suara,
berpura-pura suka,
padahal jelek sungguh terasa oleh telinga.

Satu hal yang sangat ngeri bila terjadi,
satu hal hasil pemikiran imaji,
terpengaruh nyata oleh satu tayangan di tivi.

Apa mungkin pasangannnya juga berpura-pura,
berpura-pura dimabuk cinta,
berpura-pura saling suka,
berpura-pura tertawa bahagia,
padahal hati penuh luka,
dibalut rasa derita,
tertulis dalam untaian bunga,
“turut berduka cita”.

Pasangan yang berpura-pura masih perawan-perjaka,
padahal telah berbadan dua,
tersengat habis oleh barangnya pemuda,
merusak meluluhlantahkan segelnya wanita,
karena termakan nafsu dunia,
hasutan si iblis dari neraka.

Dan hal yang sama terjadi pada mertua,
orang tua lelaki, orang tua wanita,
berpura-pura melempar tawa,
padahal hati penuh benci saling mengumpat.

Tapi kawan,
Ini bukan teori rerata,
yang bisa memukul rata,
segala acara serupa yang ada di dunia,
atau cukup lah di Indonesia.
Ini hanya ilusi ku saja,
sesaat setelah pulang dari satu pesta pernikahan dua manusia.

Dan batinku pun lagi berkata,
“Ku tak mau seperti itu!”.

Menjadi orang yang berpura-pura,
karena nanti di suatu masa,
di masa depan pastinya,
ku juga ‘kan menikah dengan si dia,
wanita idaman jiwa,
pelipur segala dahaga,
wanita harapan sesuai cita,

Dan nanti bila telah ku sunting dirinya,
ku mau kami benar-benar bahagia,
nyata tanpa pura-pura,
tanpa ada rekayasa.
Bukan sekedar fiktif belaka.

Balada Shaf Depan

Enggan duduk terdepan,
tapi segalanya ingin selalu duluan.
Shaf depan kosong melompong, terlihat jelas ompong, tanpa harus kita teropong.

Selalu ada di belakang,
tapi tak ingin terbelakang.
Shaf depan kosong melompong, terlihat jelas ompong, tanpa harus kita teropong.

Berdatangan mereka cepat,
memburu duduk di belakang tepat.
Mereka yang datang terlambat,
kecewa sungguh sangat.
Duduk terpaksa di depan dengan muka kesal terlihat.
Shaf depan kosong melompong, terlihat jelas ompong, tanpa harus kita teropong.

Apakah seburuk itu mental kita?
Sehingga rasa pede pun sudah sirna,
diri sendiri sudah tak dipercaya.
Orang lain lebih kita percaya,
mengharapkan bantuan di sini dan di sana.
Akhirnya tak punya tekad,
bersandar pada prinsip hidup yang tak kuat.
Shaf depan kosong melompong, terlihat jelas ompong, tanpa harus kita teropong.

Imam di mesjid berkata,
“rapatkan dan penuhi dulu shaf depan wahai jamaat”.
Tapi shaf depan tetap kosong melompong, terlihat jelas ompong, tanpa harus kita teropong.

Guru di kelas berkata jua,
“ayo! Isi dulu shaf depan murid-murid ku yang mulia”
Tapi lagi-lagi shaf depan masih kosong melompong, terlihat jelas ompong, tanpa harus kita teropong.

Jadi siapa lagi yang mau kita turuti?
Apa lagi yang mau kita taati?
Ketika imam di mesjid kita cueki, padahal jelas dia berkata berlandas pada wahyu dari Illahi.
Ketika guru di kelas pun kita biari, padahal jelas dia berkata berlandas pada aturan, norma, serta estetika dan etika akademisi.
Tapi kita tegas membantah, mengaggap itu hanya sebuah omong kosong, karena shaf depan masih saja kosong melompong, terlihat jelas ompong, tanpa harus kita teropong.

Mau jadi apa kita?
Bila niat diri ini sudah sangat tercela,
menghalalkan segala cara,
untuk mewujudkan semua cita kita.
Ya.. semua terlihat jelas terwakili nyata dari shaf depan yang terus kosong, terus melompong, seperti gigi yang telah ompong, terlihat terlampau jelas bila kita teropong.

Jadi...kapan ya shaf depan tak lagi kosong,
tak lagi ompong,
terlihat penuh, indah, dan teratur dalam teropong ?

Jumat, 01 Juli 2011

SIAPA ??

Siapa yang berkata bijak, tapi enggan ‘tuk bertindak?
Siapa yang skeptis dengan positif yang orang perbuat?
Siapa yang takut dengan kebangkitan orang sekitar?
Siapa yang tak rela dengan kemajuan para sahabat?
Siapa yang selalu mempertanyakan segala kebijakan elite atas?
Siapa yang selalu melawan teman dalam sebuah pernyataan debat?
Siapa yang memaksakan kehendak karena merasa paling tepat?

Masih banyak tanya,
Dengan “siapa”, sebagai kata tanya.
Yang harus kita tanya.

untuk mementahkan segala sikap ironi,
yang terlalu lama kita biari,
hingga akhirnya telah terinternalisasi,
menjadi sikap, budaya, dan akhlak diri,

lain di lidah, lain di sikap,
lain waktu, lain tempat,
lain pula tindakannya.

namun banyak nya kata,
yang kita tanya,
terkesan menjadi percuma,
bila yang ditembak,
tak jua merasa,
dan tetap berjalan sempurna,
dengan kontradiksi sifatnya.

Tapi sungguh jangan lah kalian bersusah-susah,
Mencari sebuah jawaban.
Karena ini bukan lah sebuah soal ujian,
Yang harus kalian jawab, atau kalian terka.

Karena ini murni dibuat,
Bukan untuk menghakimi atau menghujat,
Salah satu pihak,
Atau salah satu manusia,
Yang ada di dunia,
Atau yang sudah tiada.

Cukup lah kalian cerna,
Dan kalian telan.
Pahami dalam otak
Implementasikan dalam sikap,
Syukur2 berubah,
Agar tak melulu menjadi rubah.
Tapi sedikit menjadi malaikat,
Berbuat sesuatu yang tepat,
Sesuai dengan norma,
Norma-norma Tuhan, dan produk lokal manusia.

Sudahlah,
Ini hanya sebuah coretan.
Pelepas segala penat,
Perasaan dalam dada,
rasa tak sejalan dengan realita.
Mungkin tak bermakna,
tak jelas maksud dan tujuannnya,
tak jelas struktur katanya,
tak indah pilihan diksinya.
Jadi mari aku akhiri ini semua,
Terima kasih karena sudah mau membaca,
Maaf dengan segala salah kata,
Sekian dan sampai jumpa.

Eh.... tapi, jadi apa nih jawabnya?
siapakah gerangan orangnya?
yang kau tanya penuh tanda tanya,
dengan kata tanya "siapa" ?
Wahai saudara adima?
Atau kah ini semua sebenarnya hanya sebuah cara,
Yang kau buat dan rekayasa,
Untuk menyindir, menghina,
Dan Memukul telak, Dirimu sendiri tepat
di muka??