Selasa, 19 Juli 2011

Tanggung Jawab, Status, Jabatan, dan Peran

“Setiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan kamu bertanggung jawab atas kepemimpinan itu”.
(Al-Hadits, Shahih Bukhari – Muslim)

“tanggung jawab adalah siap menerima kewajiban atau tugas”

“Bila ada seorang tukang tambal ban yang tidak mau untuk menambal ban, tentu sudah gila dia !”


Pak Samsu Khoerudin, S.STP., M.Si., (koreksi dan maafkan saya jika salah dalam penulisan nama dan gelar), Kepala Sub Bagian Bimbingan dan Pengawasan (Kasubbag Bimwas) di Bagian Pengasuhan IPDN Kampus Pusat Jatinangor, adalah seorang pembina sekaligus pengasuh yang sangat disegani, dihormati dan bahkan ditakuti walaupun tak sedikit yang membenci, mencibir dan mencaci. Karena beliau merupakan orang yang saya pikir paling bijak dalam bertutur kata, konsisten dalam penegakan aturan, serta tak kenal ampun dalam memberikan suatu hukuman. Kriteria seperti itu memang membuat beliau sangat ideal menjadi seorang pamong pengasuh, yang bertugas untuk membina dan menggembleng sikap, mental, moral serta perilaku dari para praja.

Pak Samsu merupakan sosok ideal dari hasil didikan pendidikan kepamongprajaan IPDN (dulu STPDN). Karena beliau adalah purna praja STPDN angkatan 10. Beliau cerdas, loyal, respect serta disilin dalam bertindak dan bertingkah laku sehari-harinya, sehingga menjadi role model yang pas dari setiap output yang hendak dihasilkan dari pendidikan tinggi kedinasan ini. (terlepas dari kondisi fisik beliau)

Hal lain yang membuat saya kagum dari sosok beliau adalah kemampuannya dalam memberikan setiap doktrin, petuah serta pesan dalam setiap kesempatan beliau mengambil apel. Dia mampu berkata panjang lebar, tapi jelas makna dan tujuannya, bahasa yang akademis terkadang puitis, dibalut dalam sebuah cerita fiksi tak jarang sebuah analogi. Semuanya mampu beliau kemas seindah dan semenarik mungkin. Kata motivasi ataupun koreksi, beliau sampaikan tajam, kritis dan tepat sasaran. Hal lain yang saya kagumi adalah beliau tidak termasuk ke dalam orang-orang yang munafik, orang-orang yang hanya indah di lidah, tapi apa yang beliau kemukakan mampu beliau terapkan dalam kehidupan nyata, konsisten beliau implementasikan dalam realita sehari-hari.

Jujur, saya masih mampu untuk mengingat semua pesan-pesan yang beliau sampaikan ketika saya masih berada di kampus Pusat sana, kurang lebih selama satu semester yang lalu. Dan sekarang, dalam satu kondisi tertentu, saya semakin teringat dengan satu cerita, satu doktrin, satu petuah yang beliau sampaikan. Apel pagi, siang , malam, entah lah saya lupa. Yang jelas pesannya masih terekam manis dalam otak ini dan menyeruak keluar seiring situasi yang terjadi sekarang ini.

Inti dari apa yang beliau sampaikan adalah beliau mengoreksi kepada setiap praja, yang ternyata pada realitanya sangat rendah dalam minat untuk membaca dan belajar. Fakta yang ada, praja masih sedikit dalam memiliki buku referensi kuliah atau sekedar buku bacaan biasa, setiap jam kegiatan belajar mandiri yang khusus dialokasikan dalam siklus kehidupan praja ternyata lebih banyak praja habiskan untuk pergi ke kantin, bermain laptop, dan mengobrol serta kumpul-kumpul bersama teman. Hal itu sangat membuat beliau miris dan kecewa, sehingga dia memberikan suatu cerita kepada kami tentang seorang tukang tambal ban, yang apabila dia tidak mau untuk menambal ban, tentunya tukang atau orang itu sudah gila. Dan ternyata apabila seorang mahasiswa/praja/pelajar enggan untuk belajar, bukankah mahasiswa/praja/pelajar itu juga sudah gila ?

Cerita sederhana, pertanyaan yang juga sangat sederhana, sebuah logika yang juga terlampau sederhana, tapi sangat bermakna dalam. Dalam konteks itu, Pak Samsu hanya berbicara pada permasalahan keengganan praja untuk belajar, akan tetapi dalam tulisan/artikel ini, saya akan mencoba untuk membahasnya ke dalam konteks yang agak luas.

***

Pada cerita tersebut sebenarnya intinya adalah kita harus bertindak sesuai dengan status dan peran yang kita emban dan kita jalani pada saat ini.

Kedudukan ( status ) diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Kedudukan sosial artinya adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya, dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya.
Peranan ( role ) merupakan aspek dinamis kedudukan ( status ). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, dia menjalankan suatu peran. Tak ada peranan tanpa kedudukan atau tak ada kedudukan tanpa peranan.
( Soerjono Soekanto:Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2009) )

Setiap status yang kita pilih atau kita dapatkan atau kita usahakan tentu akan mempunyai suatu peranannya masing-masing atau dengan kata lainnya akan menimbulkan suatu konsekuensi logis yang tak bisa kita elak, tapi harus kita laksanakan. Dan disinilah suatu permasalahan itu muncul, orang-orang banyak yang mengejar suatu status, mengusahakan suatu status, atau mendapatkan suatu status tapi enggan untuk berperan selayaknya status yang dia jalani itu. Orang-orang itu hanya ingin mendapatkan suatu status/jabatan sebagai suatu prestise, suatu gengsi tapi meninggalkan jauh dibelakang dan melupakan tanggung jawab yang melekat pada status/jabatan itu.

Sebelum kita bicara lebih jauh lagi, izinkan saya untuk menyertakan terlebih dahulu pengertian dari tanggung jawab.



Definisi 'tanggung jawab'



1. keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb): fungsi menerima pembebanan, sbg akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain;
ber•tang•gung ja•wab v berkewajiban menanggung; memikul tanggung jawab: menanggung segala sesuatunya (kpd):
me•nang•gung•ja•wabi v mempertanggungjawabkan:
pe•nang•gung ja•wab n orang yg bertanggung jawab;
per•tang•gung•ja•wab•an n perbuatan (hal dsb) bertanggung jawab; sesuatu yg dipertanggungjawabkan;
mem•per•tang•gung•ja•wab•kan v memberikan jawab dan menanggung segala akibatnya (kalau ada kesalahan); memberikan pertanggungjawaban:
http://www.artikata.com/arti-353251-tanggung+jawab.html




Seperti yang telah saya singgung di atas, semua ini bisa terjadi, bisa menjadi suatu permasalahan karena kurangnya pemahaman kita terhadap apa-apa saja yang menjadi suatu tanggung jawab, hak serta kewajiban yang ada pada suatu jabatan atau status tertentu. Kita hanya fokus pada cara untuk mendapatkan suatu status/jabatan itu, sehingga ketika kita berhasil mendapatkannya, berhasil mengusahakannya, kita menjadi bingung sendiri, tak tahu harus berbuat apa, dan akhirnya, pada ujungnya, kita melempar tanggung jawab itu, mendelegasikan semuanya pada orang lain, bawahan kita. Dan kita pun dengan enaknya hanya menikmati segala fasilitas serta segala hal lain yang serba enak dan nyaman dari suatu status/jabatan itu.

Faktor lainnya adalah faktor niat serta tujuan awal dari pengusahaan kita untuk mendapatkan serta menduduki suatu jabatan/status adalah murni hanya untuk mengejar suatu prestise, suatu gengsi penaik harga diri, dan mengejar kepuasaan materi serta pemuas nafsu belaka. Bila itu yang menjadi niat serta tujuannya, sudah jelaslah semua peranan serta tanggung jawab itu akan kita lepas dengan mudahnya. Membuat, menjadikan kita sebagai orang yang melempar batu sembunyi tangan.

Seharusnya, betuk ideal yang seharunya diwujudkan adalah kita harus meniatkan diri untuk mengejar dan mendapatkan suatu jabatan atau status sebagai suatu bentuk pengabdian kita, suatu amanah yang harus kita kerjakan sepenuh hati. Kita pun harus terlebih dahulu mempunyai ilmu yang cukup tentang jabatan/status yang akan, sedang, atau telah kita dapatkan mengenai apa saja hak, kewajiban serta tanggung jawab yang harus kita lakukan dan pertanggung jawabkan nantinya. Sehingga kita mantap untuk bertindak dan mampu untuk berbuat sebaik serta semaksimal mungkin sesuai dengan status serta peranan yang kita emban atau jalani.

Kita harus mampu menjadi orang yang melempar batu dan kemudian dengan jantan mengangkat tangan, dan secara lantang mengakuinya. Secara sportif menerima segala konsekuensi dari setiap apa yang kita telah kita kerjakan. Bukan justru melempar tanggung jawab dan menjadi pengecut yang terus bersembunyi, berbicara di belakang serta secara konstan dan konsisten menyalahkan orang lain.
Hmm...I’m so sad for all of you who do something like that!
Poor you, you son of a motherf***** b****!!

Berani berbuat berani kita harus berani bertanggung jawab, mendapatkan atau mengusahakan suatu status atau jabatan berani kita siap dengan segala tugas serta kewajiban bahkan hak-hak yang menyertainya. Kalaupun anda terpaksa dalam menjalani suatu status atau jabatan, maka pintu keluar dan menyerah selalu terbuka lebar untuk anda. Tapi, berarti anda sudah mundur selangkah ketika yang lain justru maju selangkah.
Yes, It’s your life, It’s your damn choice. But, choice wisely, and please, take all the risk and all the responsibility of every choice you’ve been made! ( baca : Memilih Pilihan )
Be a man, don’t be a such boy!
Grow up, don’t get so childish!!

Jadi, normal kah seorang pelajar yang tidak mau belajar?
Normalkah seorang praja yang tidak mau menjalani siklus kehidupan praja?
Dan normalkah seorang manusia hidup yang tidak mau menjalani kehidupan?

PEACE and CHEERS, My Friends!!

5 komentar:

  1. kalau di jabodetabek melemoar batu itu anak sekolah tawuran...salam kenal

    BalasHapus
  2. kalau di jabodetabek melemoar batu itu anak sekolah tawuran...salam kenal

    BalasHapus
  3. hahaha...boleh2.
    salam kenal juga ya!! :)

    BalasHapus
  4. Kalo gak mau belajar, gak usah jadi mahasiswa,.. jadi orang gila aja. hihi
    krna semua profesi perlu belajar.

    BalasHapus
  5. betul sekali mas. :)
    emang anak-anak zaman sekarang suka ada-ada aja, kalo kata saya mah aya-aya wae! hehehe....

    BalasHapus