Kamis, 25 April 2013

Mendadak Bukan Konser

#MendadakBukanKonser

*catatan : Akhirnya saya kembali harus menutup rapat keinginan untuk bisa kembali menonton sebuah konser atau pertunjukan musik secara langsung, terlebih untuk musisi favorit saya. 

Pengalaman itu baru sekali saya rasakan, ketika saya menonton konser dari Band Saosin. 

Dan pengalaman itu sangat membekas juga berkesan sehingga menimbulkan keinginan untuk bisa lagi menonton sebuah pertunjukan musik secara langsung. Kini, saat ini, saya lagi-lagi harus menahan keinginan itu karena tak bisa untuk mengambil kesempatan, meluangkan waktu dan uang, untuk menonton sebuah konser. 

Sedari dulu hingga sekarang ini, banyak alasan dan sebab yang menghalangi saya. Uang dan waktu adalah dua alasan utama saya tidak bisa memenuhi keinginan ini. 

Dan kali ini pun alasan utamanya adalah permasalahan waktu. Saya yang saat ini masih dalam proses pendidikan jauh di luar jawa dan dalam sistem asrama, tentu tidak bisa untuk meluangkan waktu menonton konser yang akan diselenggerakan pada tanggal 28 April 2013. 

Memangnya konser siapa sih? Alone at Last*
damn, isn't it? 

okay, i may end up this bulls***, just read the article down here! 
Hope that they will make a DVD concert!

always #PMA

Alone at Last*
 
11th Years Anniversary Alone At Last* di Mendadak Bukan Konser 
Posted on April 22, 2013 by rizzy 

Di bulan April ini baru saja kami menginjak usia yang ke 11 tahun, Dan sudah lebih dari satu dekade kami bertahan dan bereksistensi di dunia musik Indonesia
 
Tiga tahun lalu kami membuat mini konser “Takkan Terhenti Disini” di JB’s Bar Grand Hyatt dan sekarang Sebagai Persembahan kami di usia Yang ke 11 ini kami mempersembahkan Sebuah Pertunjukan Musik Dalam Memperingati 11 tahun anniversary Alone At Last* dengan tema MENDADAK BUKAN KONSER. MENDADAK BUKAN KONSER ini adalah suatu bentuk apresiasi kami dalam musikalitas kami di dunia musik dengan format full band, Yang akan terbagi dalam 3 sesi. 

Pertunjukan ini Juga Sekaligus Akan Memperkenalkan Formasi Baru Kami di Tahun yang ke 11 ini, dan Juga ada Reunian dari personil yang sempat mengisi line-up Alone At Last* yang sempat menghiasi perjalanan kami. 

Dengan target sekitar 300-400 orang yang datang konser ini lebih seperti syukuran perjalanan 11 tahun kami, dan hanya diadakan di Bandung saja. Event ini dipersembahkan oleh Lonely End Management , Yang Bertempat di Bober Tropica , Bandung Minggu 28 April 2013. 

Dan Untuk Penjualan tiket pre-sale Mendadak Bukan Konser akan dijual di Bandung: Go Studio, Booth Core Burger, dan Riotic Store. 

Info Penjualan Tiket Mendadak Bukan Konser : 
GO Studio : Jalan Terusan Jakarta no 47, 
Bandung Core Burger : Jalan Ternate no 10, 
Bandung Riotic Store : Jalan Sumbawa no 61, Bandung 

Alone at Last* : Stay Gold

Selasa, 23 April 2013

Membunuh Akal Sehat dengan UN!

http://images.detik.com/content/2013/04/20/1314/090026_cover73.jpg
Sikap dan pendapat saya terang juga jelas. Masih juga sama, yaitu saya menolak UN! 

Saya menolak segala bentuk penentuan kelulusan oleh sebuah standar yang ditetapkan secara sama dan nasional ketika kualitas pendidikan kita masih sangat timpang dan berbeda satu sama lainnya. 

Permasalahan yang ada dalam tubuh UN adalah karena UN menjadi tolak ukur kelulusan setiap siswa, baik SD, SMP, dan SMA (dan segala bentuk sekolah lainnya yang sederajat). 
Okay, bahwa kini UN bukan lagi satu-satunya penyebab atau syarat kelulusan, tapi sejauh yang saya tau (koreksi jika saya salah) UN masih mendapat porsi yang besar dalam penentuan kelulusan tersebut. 

Akal sehat saya masih belum bisa menerima dengan kenyataan bahwa 3 (tiga) tahun menempuh sebuah proses pendidikan di bangku sekolah (SMP atau SMA) tiba-tiba semuanya harus ditentukan hanya dengan beberapa hari dan oleh beberapa pelajaran saja! Dimana akal sehatnya?! 

UN pun dengan angkuhnya menyamaratakan kualitas pendidikan Indonesia, yang tersebar dari Sabang sampai dengan Merauke. UN lupa kalau Indonesia itu Negara yang majemuk. Mungkin juga lupa dengan Bhinneka Tunggal Ika. Dan sangat tidak ingat bahwa kini Indonesia tidak lagi sentralistik, bila sudah begitu mana UN tau dengan sistem otonomi daerah! 

Mari kita bicara fakta, desentralisasi dengan otonominya (berdasarkan UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) menyebabkan daerah leluasa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Positifnya kekayaan lokal berkembang maksimal. Tapi sayang, kemampuan satu daerah dengan daerah yang lain menjadi berbeda. Ada yang berlari. Ada yang cukup puas dengan berjalan. Bahkan ada yang masih merangkak! 

Sehingga tak bisa dipungkiri kualitas pendidikan kita pun belum sama antara Jakarta dan Papua. Masih ada jurang pemisah dalam bentuk infrastruktur pendidikan yang memisahkan keduanya. Jadi bagaimana mungkin siswa di Jakarta dan siswa di Papua harus dituntut mengerjakan soal yang sama? dimana akal sehatnya?! 

Alasan lain, yang tentunya lebih detail, telah jauh-jauh hari saya jabarkan dalam tulisan  UN 2009-2010 , Api-Asap Sebab-Akibat , Ny. Siami : Pahlawan Tanpa Topeng dan Tersebab UN. 

Tetapi secara garis besarnya saya masih belum mampu untuk menemukan alasan positif serta prinsip, sehingga pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, masih bersikukuh untuk menetapkan UN sebagai sebuah instrument kelulusan. 

Bahkan secara lebih spesifiknya, akal sehat saya masih belum mengerti alasan pemerintah menetapkan kebijakan secara nasional dalam hal pendidikan. Karena bukan kah pendidikan itu adalah urusan daerah? 

Di dalam UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 10 ayat (1) disebutkan bahwa Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang-Undang ini ditentukan menjadi urusan Pemerintah. 

Dalam hal menjalankan urusan yang menjadi kewenangannya, pemerintah daerah dapat menyelenggarakannya secara otonom berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Akan tetapi ketika hal itu berkaitan dengan urusan Pemerintah maka Pemerintah Daerah tidak bisa begitu saja mengerjakannya secara otonom. 

Karena hal itu bukan urusan mereka jadi Pemerintah daerah bersifat “pasif” dan harus menunggu arahan dari Pemerintah, apakah Pemerintah akan menyelenggrakan sendiri, melimpahkan sebagian urusannya kepada SKPD atau menyerahkanya kepada Wakil Pemerintah di daerah atau menugaskan langsung kepada Pemerintah Daerah dan/atau desa. 

Lalu apa saja urusan pemerintah itu? Sebagaimana Pasal 10 ayat (3) UU No. 32 tahun 2004 Urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. politik luar negeri; b. pertahanan; c. keamanan; d. yustisi; e. moneter dan fiskal nasional; dan f. agama. 

Dan pertanyaan sederhananya adalah adakah urusan pendidikan di dalam ayat tersebut? Bila tidak ada, berarti urusan pendidikan adalah urusan pemerintah daerah ‘kan? Bila begitu, pemerintah daerah mempunyai wewenang untuk menjalankannya secara otonom berdasarkan asas otonomi ‘kan? 

Bahkan di pasal-pasal selanjutnya di dalam UU No. 32 tahun 2004 itu kita akan menemukan bahwa urusan pendidikan itu merupakan urusan wajib yang harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah! 

Lalu kenapa pemerintah harus bersusah payah menetapkan UN sebagai sebuah tolak ukur kelulusan secara nasional? Akal sehat saya justru lebih senang berpendapat bahwa alangkah sangat bijak bila saja pemerintah dalam hal ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Menterinya sekarang M. Nuh), fokus pada membuat kebijakan umum kurikulum nasional yang harus dilaksanakan oleh setiap daerah tapi dengan tetap menekankan bahwa pelaksanaan teknisnya atau penjabaran secara spesifiknya, tetap disesuaikan pada daerah itu masing-masing sesuai dengan otonomi itu sendiri. Saya pikir itu jauh lebih hemat! 

Saya pikir itu tidak akan mengurangi kualitas peserta didik, karena saya yakin tidak akan ada daerah yang berani mempertaruhkan masa depan anak-anaknya! Semua pasti menginginkan yang terbaik bagi setiap anaknya. 

Dan saya juga yakin, daerah-lah yang akan lebih mengetahui apa yang paling tepat untuk anaknya karena setiap hari mereka berproses dalam pendidikan secara langsung. Lalu pemerintah tau apa? Tak ada yang bisa menjamin pejabat yang ada di pemerintah pernah juga menjabat di daerah atau setidak-tidaknya pernah tau seperti apa proses pendidikan di daerah. Jadi kenapa harus mereka (pejabat pemerintah) yang menentukan kebijakan untuk urusan yang menurut UU bukan urusan pemerintah? Dimana akal sehatnya?! 

Karena demi masa depan anak-anak Indonesia. Karena faktanya UN tidak memberikan sumbangsih positif selain hanya berupa data dan perang nilai di atas kertas juga grafik. Karena UN justru menyebabkan terbentuknya pola pikir mementingkan hasil daripada sebuah proses. Karena UN justru melegalkan pikiran-pikiran instant. Karena UN justru mendorong kita untuk dekat dengan kapitalisme. 

Dan karena karena yang lainnya, yang ternyata lebih banyak mudharat-nya daripada maslahat-nya, bahkan tidak hanya secara akal sehat tapi secara nurani pun UN sungguh tidak bisa diterima. Lalu lantas kenapa masih juga dilaksanakan? Dimana akal sehatnya?! 

stay #PMA!

Minggu, 21 April 2013

Peran Wanita dalam Politik Indonesia

Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam Negara. Politik berasal dari bahasa Belanda politiek dan bahasa Inggris politics, yang masing-masing bersumber dari bahasa Yunani politika - yang berhubungan dengan Negara dengan akar katanya polites ( warga Negara ) dan polis ( negara kota ). 

Secara etimologi kata "politik" masih berhubungan dengan polisi ( kebijakan ). Kata "politis" berarti hal-hal yang berhubungan dengan politik. Kata "politisi" berarti orang-orang yang menekuni hal politik. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Politik ). 

Secara praktisnya, kita seringkali memahami politik sebagai kekuasaan, bagaimana kita mendapatkan suatu kekusaan ( melalui cara konstitusional ataupun inkonstitusional ), dan bagaimana cara mempertahankan kekuasaan yang telah didapatkan. 

Politik juga bisa kita pahami sebagai cara untuk menjalankan suatu kekuasaan di dalam sebuah organisasi, baik dalam bentuk Negara maupun organisasi kecil yang hanya berbasis dalam suatu masyarakat. Kaitannya dengan menjalankan kekuasaan itu maka akan juga bersinggungan dengan bagaimana cara membagi kekuasaan yang ada sehingga tidak terjadi sebuah tindakan yang sewenang-wenang atau kekuasaan yang bersifat absolut yang cenderung akan selalu disalahgunakan ( power tends to corrupt but absolute power corrupts absolutelyLord Acton ). 

Sehingga rumusan politik yang paling mudah untuk dipahami adalah berkenaan urusan menjalankan kekuasaan dalam suatu Negara dalam kaitannya untuk membentuk kebijakan yang diharapkan akan mampu untuk mewujudkan suatu keamanan, ketertiban, dan kesejahteraan bagi masayarakat. 

Politik yang kita pahami sebagai usaha untuk menjalankan suatu kekuasaan maka diperlukan suatu sistem untuk menjalankannya, karena bagaimanapun juga politik itu tidak akan pernah mampu untuk berdiri sendiri dan akan selalu bersentuhan dengan unsur lainnya dalam kehidupan ini. 

Sistem politik menurut Drs. Sukarno adalah sekumpulan pendapat, prinsip yang membentuk satu kesatuan yang berhubungan satu sama lain untuk mengatur pemerintahan serta melaksanakan dan mempertahankan kekuasaan dengan cara mengatur individu atau kelompok individu satu sama lain atau dengan Negara dan hubungan Negara dengan Negara. 

Definisi lain yang dikemukakan oleh Rusadi Kartaprawira adalah sistem politik yaitu mekanisme seperangkat fungsi atau peranan dalam struktur politik dalam hubungan satu sama lain yang menunjukan suatu proses yang langsung memandang dimensi waktu ( melampaui masa kini dan masa yang akan datang )

Berdasarkan kedua pengertian itu, sistem politik merupakan seperangkat unsur atau komponen dalam Negara yang menjalankan suatu kekuasaan untuk menjalankan Negara serta roda pemerintahan yang ada di Negara tersebut dalam kaitannya untuk membuat sebuah kebijakan atau ketentuan demi terwujudnya kesejahteraan bagi masyarakat. 

Sistem politik di Indonesia atau sistem politik Indonesia dapat kita artikan sebagai kumpulan atau keseluruhan berbagai kegiatan dalam Negara Indonesia yang berkaitan dengan kepentingan umum termasuk proses penentuan tujuan, upaya-upaya mewujudkan tujuan, pengambilan keputusan, seleksi dan penyusunan skala prioritasnya ( http://saiyanadia.wordpress.com/2010/11/20/pengertian-sistem-politik-indonesia/ ). 

Politik yang telah kita pahami sebagai sebuah kekuasaan maka yang menjalankan kegiatan dalam Negara Indonesia, berkaitan dengan kepentingan umum, spesifik lagi, dalam proses penentuan tujuan serta pengambilan keputusan maka tidak akan lepas dari lembaga-lembaga yang ada dan dibentuk di Negara ini. 

Sebelum kita membahas apa saja lembaga yang dimaksud di dalamnya, kita harus terlebih dahulu memahami bahwa dalam politik secara sangat sederhanya ada yang disebut dengan suprastruktur dan infrastruktur politik ( ada beberapa ahli yang membedakannya ke dalam tiga unsur ). 

 Suprastruktur politik berarti pranata atau lembaga politik yang ada di tingkat supra atau atas atau yang dibentuk sesuai dengan konstitusi yang berlaku di Negara tersebut. Sedangkan infrastruktur politik adalah pranata politik yang ada di tingkat masyarakat atau di luar lembaga-lembaga yang telah dibentuk oleh amanat konstitusi seperti kelompok kepentingan, kelompok penekan, media massa, dsb. 

Kembali pada pembahasan awal kita yaitu apa lembaga politik yang telah dibentuk oleh konstitusi, yang dalam hal ini adalah UUD 1945, adalah MPR, Presiden, Kementerian Negara, Pemerintah Daerah, DPR, DPD, BPK, MA, dan MK. 

Di dalam UUD 1945, tentunya yang telah diamandemen sebanyak 4 (empat) kali, konstitusi secara tersirat menganut trias-politica yang masyur dikemukakan oleh Montesquieu. Walaupun memang tidak menganutnya secara utuh. 

Karena di dalam UUD 1945 telah sangat jelas diatur kekuasaan itu dibagi menjadi kekuasaan eksekutif ( menjalankan UU ) yang dijalankan oleh Presiden beserta jajarannya ( Menteri ), kekuasaan legislatif ( membuat UU ) dijalankan oleh DPR, DPD, dan juga Presiden, serta kekuasaan yudikatif ( mengawasi ) dijalankan oleh MA dan MK. Sehingga sekali lagi, secara tersirat dan walaupun tidak mengadopsi secara utuh, Indonesia memang menganut sistem politik trias-politica. 

Atas dasar ini, maka pembicaraan politik dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia berarti hanya berkisar pada Presiden beserta jajarannya, DPR, DPD, MA, dan MK dalam konteks suprastruktur politik atau yang berkaitan langsung dengan pembuatan kebijakan. 

Hal ini menjadi penting untuk terlebih dahulu penulis kemukakan karena penulis tertarik membahas berkenaan dengan peran wanita dalam dunia politik yang ada di Indonesia

Penulis tertarik membahas ini karena penulis melihat sebuah fenomena yang ada dalam kehidupan sehari-hari, yang sepertinya wanita itu berada dalam posisi “teraniaya” atau “terdiskriminasi” atau setidaknya itu adalah klaim dari beberapa wanita, terutama yang terlibat aktif dalam sebuah kelompok kepentingan. 

Itu semua kemudian akan semakin hangat untuk diperbicangkan, khususnya dalam momen diperingatinya Hari Kelahiran R.A. Kartini, pahlawan nasional yang khusus mendedikasikan perjuangan dalam hidupnya untuk melawan penindasan terhadap kaum wanita atau bahasa yang lebih jauh populernya adalah memperjuangkan apa yang kita sebut dengan emansipasi wanita. 

Apa itu wanita? Wanita ( wa.ni.ta [n] ) adalah perempuan dewasa : kaum -- , kaum putri (dewasa) ( http://kamusbahasaindonesia.org/wanita ). 

Sebelum penulis melanjutkan kepada pokok permasalahan utama yaitu mengkaji peran wanita dalam dunia politik Indonesia, penulis akan terlebih dahulu mengemukakan latar belakang dari pemilihan tema atau pokok masalah yang kini sedang penulis bahas. Seperti yang juga telah penulis sebutkan di awal, wanita akan mendadak menjadi sebuah tema yang menarik untuk diperbincangkan ketika kita memasuki bulan April setiap tahunnya. Hal itu terjadi karena pada bulan April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini, pejuang atau pahlawan nasional yang dianggap sebagai wanita yang gigih memperjuangkan emansipasi wanita. 

Akan tetapi ada satu catatan menarik akan hal ini. Di dalam referensi lain yang penulis baca ( http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/emansipasi-wanita.htm#.UVf2WjeTPLY ), ada sebuah sejarah yang sepertinya terlupa atau bahkan sengaja untuk dilupakan, yaitu bahwa delapan abad sebelum Kartini lahir, di Kerajaan Aceh Darussalam sudah ada 4 (empat) perempuan yang menjadi Sultan (Sultanah) dari 31 Sultan yang ada. 

Mereka adalah Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin (memerintah tahun 1050-1086 H), Sri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin (1086-1088 H), Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah (1088-1098 H), dan Sri Ratu Kamalat Syah (1098-1109 H)

Fakta sejarah yang ada menyebutkan bahwa di zaman kerajaan-kerajaan yang ada di Aceh, sudah banyak kaum wanita yang ikut berjuang bersama-sama dengan suaminya untuk melawan penjajah dan juga sekaligus memperjuangkan segala bentuk penindasan terhadap kaumnya. 

Mereka adalah Laksamana Malahayati yang gagah berani dalam memimpin armada laut Kerajaan Aceh Darussalam melawan Portugis; Cut Nyak Din yang memimpin perang melawan Belanda setelah suaminya, Teuku Umar, syahid; Teungku Fakinah, seorang ustadzah yang memimpin resimen laskar perempuan dalam perang melawan Belanda, usai perang Fakinah mendirikan pusat pendidikan Islam bernama Dayah Lam Diran; Lalu kita kenal ada Cut Meutia, yang selama 20 tahun memimpin perang gerilya dalam belukar hutan Pase yang akhirnya syahid karena Meutia bersumpah tidak akan menyerah hidup-hidup kepada kapel Belanda; Pocut Baren, seorang pemimpin gerilya yang sangat berani dalam perang melawan Belanda di tahun 1898-1906; Pocut Meurah Intan, yang juga sering disebut dengan nama Pocut Biheu, bersama anak-anaknya—Tuanku Muhammad, Tuanku Budiman, dan Tuanku Nurdin—berperang melawan Belanda di hutan belukar hingga tertawan setelah terluka parah di tahun 1904; Cutpo Fatimah, teman seperjuangan Cut Meutia, puteri ulama besar Teungku Chik Mata Ie yang bersama suaminya bernama Teungku Dibarat melanjutkan perang setelah Cut Meutia syahid, hingga dalam pertempuran tanggal 22 Februari 1912, Cutpo Fatimah dan suaminya syahid bertindih badan diterjang peluru Belanda. 

Fakta-fakta sejarah itu jelas merupakan sebuah bukti bahwa sebenarnya wanita telah jauh-jauh hari memperjuangkan nasibnya bahkan lebih dari itu mereka berjuang melawan penindasan melawan penjajahan, penindasan yang tidak hanya terjadi pada kaum wanita tapi juga menyeluruh kepada seluruh rakyat yang ada pada saat itu. 

Fakta yang penulis kemukakan bukan lantas bermaksud untuk menimbulkan sebuah polemik atau kontroversi tapi penulis hanya ingin menunjukan bahwa masih ada perlakukan yang kurang adil dalam menanggapi segala peristiwa sejarah yang sebenarnya masih dalam kerangka atau satu rangkaian dari terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, tapi entah kenapa, entah ada faktor apa, segala sesuatu itu atau beberapa fakta sejarah itu terkesan untuk ditutupi atau diceritakan/disajikan dalam bentuk dan redaksi yang telah sedemikian rupa dirubah sehingga akhirnya substansi peristiwa sejarah pun berubah dan menimbulkan sebuah penafsiran yang berbeda. 

Kaitannya dengan tema yang sedang penulis bahas di sini adalah dengan hanya berpatokan emansipasi itu dimulai ketika perjuangan seorang Kartini maka kesan yang timbul kemudian adalah wanita itu memang terjajah dan juga teraniaya, tak bisa untuk berbuat apa-apa. 

Padahal seperti fakta searah yang telah penulis sebutkan di atas, hal itu tidak terjadi sepenuhnya karena jauh sebelum ada seorang Kartini, wanita telah juga mempunyai hak yang sama untuk berjuang dan bisa berbuat dengan leluasa. Besar kemungkinan hal yang dialami oleh Kartini hanya terjadi pada daerah tertentu ( Jawa ), lalu karena terus dibesarkan maka dianggap wanita itu memang secara keseluruhan mengalami diskriminasi sehingga harus mempunyai atau mendapatkan perlakuan yang sama selayaknya pria. 

Hal ini tidak jauh berbeda juga dengan fakta sejarah yang menyebutkan Gajah Mada sebagai pahlawan pemersatu Nusantara, padahal bagi orang-orang Swarnadwipa, Borneo, Celebes, Bali, dan lainnya, Gajah Mada tidak lebih sebagai seorang agresor dan penjajah ( http://www.eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/emansipasi-wanita.htm#.UVf2WjeTPLY ). 

Sekarang mari kita lihat kondisi dewasa ini, dalam dunia politik serta posisi wanita dalam politik, gencar kita dengar pernyataan bahwa harus ada persamaan gender antara wanita dan pria. 

Hal ini di dasari dengan argumen yang menyatakan bahwa masih terdapat banyak diskriminasi terhadap wanita sehingga wanita tidak mempunyai kesempatan untuk menunjukan kapasitasnya atau berpartisipasi secara lebih leluasa dalam mengambil suatu kebijakan sehingga banyak kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada wanita bahkan cenderung untuk melemahkan posisi wanita. 

Di dalam UUD 1945 telah diatur secara jelas bahwa Negara kita mengakui HAM bahkan dalam Pasal 28C ayat (2) disebutkan bahwa setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya. 

Lalu pada pasal 28D ayat (3) setiap wargaa Negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan. 

Di sini terlihat jelas bahwa tidak ada diskriminasi bagi wanita maupun pria, semua sama dalam konstitusi Negara kita. Bahkan lebih jauh lagi, sejauh yang penulis tau ( koreksi jika penulis salah ) tak ada satu pun aturan perundang-undangan dalam kaitannya hak politik warga Negara Indonesia yang menyatakan bahwa harus mendahulukan/memprioritaskan kaum pria daripada kaum wanita. 

Sehingga kemudian penulis menyangsikan klaim diskriminasi itu sendiri. Diskriminasi itu apa? Diskriminasi ( dis.kri.mi.na.si [n] ) adalah pembedaan perlakuan thd sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dsb) (http://kamusbahasaindonesia.org/diskriminasi). 

Dalam hal ini penulis berpendapat bahwa diskriminasi itu terjadi ketika wanita tidak mempunyai akses yang sama terhadap suatu sumber daya sehingga mereka menjadi tidak berdaya tapi sejauh yang penulis tau tak ada aturan positif di Indonesia yang menyatakan hal itu. Sehingga kesimpulan yang penulis bisa sampaikan adalah wanita dan pria itu sama-sama memiliki akses yang sama terhadap segala sumber daya yang ada di Negara ini. 

Pertanyaan selanjutnya yang pasti akan muncul adalah, lantas kenapa apabila tidak ada diskriminasi kemudian jumlah wanita yang ada di lembaga politik itu sedikit dan tak signifikan? Padahal jumlah wanita itu banyak. 

Maka hal itu tak lepas dari masih banyaknya orang yang mempercayakan suatu profesi, jabatan serta pekerjaan pada suatu kaum sesuai dengan kodrat yang dimiliki kaum tersebut. 

Apa itu kodrat? Kodrat ( kod.rat [n] ) adalah (1) kekuasaan (Tuhan): manusia tidak akan mampu menentang -- atas dirinya sbg makhluk hidup; (2) hukum (alam): benih itu tumbuh menurut -- nya; (3) sifat asli; sifat bawaan: kita harus bersikap dan bertindak sesuai dng -- kita masing-masing (http://kamusbahasaindonesia.org/kodrat). 

Lalu apakah kita melakukan diskriminasi bila kita berbuat sesuai kodrat? Penulis berpendapat justru merupakan sebuah diskriminasi ketika bertindak menyalahi kodrat yang kita miliki. 

Wanita setidak-tidaknya memiliki dua peran seperti yang disebutkan oleh Suwondo ( 1981 : 266 ). Dua peran itu yaitu : 

  1. Sebagai warga Negara dalam hubungannya dengan hak-hak dalam bidang sipil dan politik, termasuk perlakuan terhadap wanita dalam partisipasi tenaga kerja; yang dapat disebut fungsi ekstern;
  2.  Sebagai ibu dalam keluarga dan istri dalam hubungan rumah tangga; yang dapat disebut fungsi intern. 
Akan tetapi dari kedua fungsi ini jelas wanita harus mengutamakan fungssi intern mereka daripada fungsi ekstern. Hal ini juga diebutkan oleh Gurniawan K. Pasya dalam jurnal yang berjudul Peranan Wanita dalam kepemimpinan dan Politik, beliau menyebutkan : “…Karena itu tugas wanita yang utama dari banyaknya tugas-tugas lain adalah membina keluarga bahagia sejahtera.” 

Sebenarnya semua itu juga telah sedari dulu disebutkan, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah Saw. : “Dan wanita adalah penanggung jawab di dalam rumah suaminya ia akan di minta pertanggung jawabannya atas tugasnya.” 

Mencari nafkah bukan merupakan tugas utama bagi seorang wanita, "Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf (baik)". (QS. Al-Baqarah: 233)

Dengan segala kodrat yang dimilikinya, yaitu mengalami haidh, hamil, melahirkan, nifas, menyusui, mengasuh anak,sepertinya memang tugas dalam dunia politik lebih pantas untuk disematkan pada kaum pria. 

Apabila lantas kemudian wanita tetap memilih untuk terjun dalam dunia politik ataupun menjadi wanita karier hal itu sebenarnya tidak menjadi suatu permasalahan walaupun pada praktiknya nanti akan menghadapi banyak masalah. 

Noerhadi ( dalam Tan, 1991 :6 -7 ) mengemukakan bahwa : “bila semua wanita menjadi ibu rumah tangga, keberanian untuk berkarir tentu harus ditopang oleh kemampuan yang memadai, tetapi berkarier memerlukan pula tekad dan konsentrasi yang tadinya tidak dituntut pada wanita, jadi tidak dengan sendirinya menjadi modalnya. Pengembangan ambisi, keyakinan memimpin, upaya dan keberhasilan ambisi dilaksanakan dalam ilkim kehidupan dengan suatu etika atau moralitas tertentu yang sebenannya tidak dimiliki wanita.” 

Peran wanita dalam dunia politik Indonesia memang akan menjadi sebuah warna tersendiri bahkan dengan segala sifat kewanitaannya hal itu akan semakin melengkapi perpolitikan Indonesia. 

Wanita pun di-klaim akan lebih peka terhadap isu-isu yang seringkali dianggap kurang begitu diperhatikan oleh kaum pria, seperti isu-isu masalah KDRT, kekerasan terhadap anak, dsb. Hal itu sungguh tak dapat penulis pungkiri apalagi di alam demokrasi seperti ini, seperti juga yang dianut dan digunakan dalam sistem politik Indonesia. 

Dari segi kualitas pun, kita tak bisa lagi untuk meragukan kemampuan seorang wanita, baik dalam dunia pendidikan, seni, teknologi, dan segala segi penunjang kehidupan lainnya. Terlebih dengan kuantitas wanita yang juga banyak, maka jelas itu merupakan sebuah kekuatan bagi Negara Indonesia. 

Akan tetapi yang perlu untuk sama-sama kita pahami di sini adalah, secara konstitusi, tak ada perbedaan antara wanita dan pria, semua dipandang sama, bahkan dalam agama sekalipun tak ada sama sekali pembeda, karena satu hal yang membedakan antara wanita dan pria di mata Tuhan adalah tingkat ketaqwaan mereka. Hal itu pul yang berlaku dalam Negara ini. 

Wanita dan pria dalam ranah politik memiliki posisi yang sama untuk memilih dan juga dipilih, apalagi dengan sistem demokrasi yang ada, maka rakyat yang menjadi penentu apakah wanita atau pria yang layak duduk di suatu lembaga politik. 

Pada akhirnya kemampuan dan kepatutan yang akan menjadi penilaian utama. Maka apabila kemudian memang suatu jabatan, profesi, atau pekerjaan, banyak masyarakat, banyak orang, yang menilai jabatan, profesi, serta pekerjaan itu jauh lebih pantas dikerjakan oleh suatu kaum daripada kaum yang lainnya, apakah memang hal itu suatu yang diskriminatif? 

Karena sekali lagi, kodrat itu tak akan pernah mampu untuk kita rubah. Itu hukum alam, karena bukankah memang segala sesuatu itu tercipta dengan tugas dan fungsinya masing-masing? Ada dan tercipta untuk saling melengkapi sehingga menghasilkan suatu keharmonisan? Bila lantas harus semuanya sama, bagaimana mungkin segalanya bisa bergerak seimbang? 

Pada akhirnya, penulis ingin menyampaikan kepada seluruh kaum wanita untuk berhenti memposisikan diri dalam posisi yang lemah atau teraniaya, karena secara hukum positif tak ada yang berbeda antara wanita dan pria. 

Tapi, mulai—lah untuk menempatkan diri sesuai dengan kodrat yang dimilikinya. Yakin, bahwa segala sesuatunya itu mempunyai manfaatnya tersendiri. 

Gimana, wanita? bisa? :)
Selamat Hari Kartini, selamat kembali ke kodrat semestinya!

always #PMA !

Sabtu, 20 April 2013

Perdebatan akal sehat dan rasa (3)

Saya merasa malu karena baru menyadari bahwa saya memiliki sebuah kesalahan dalam membuat konsep menjalani kehidupan ini, ahh tidak! Bukan konsep kehidupan secara menyuluruh tapi hanya sebuah konsep untuk menjalin sebuah hubungan cinta antara saya dan wanita yang saya sayangi, atau setidaknya yang saya kasihi atau cintai atau inginkan.  

Konsep saya yang mengutamakan “cinta pada pandangan pertama”, “komitmen bukan cinta”, serta “pendekatan dalam pacaran”, dengan memberikan sebuah garis pemisah antara akal sehat dan rasa. 

Dan ternyata semua itu kurang tepat saya jalani! 

Buktinya apa? Buktinya sampai dengan saat ini saya belum berhasil menemukan pasangan yang tepat, belum menemukan sebuah “chemistry” sehingga mampu untuk menemukan kenyamanan mengusir kebosanan dalam hubungan. Setidaknya 12 kali saya harus mengalami fase buruk rusaknya sebuah hubungan. Beragam alasan, hanya sekitar 2 (dua) diantaranya saya menjadi korban. Selebihnya saya menjadi tokoh antagonis dengan secara “kejam” mengambil sebuah keputusan yang saya pikir sangat memenuhi akal sehat untuk saya memutuskan hubungan. 

Akal sehat apa? Akal sehat yang menyatakan bahwa saya tak lagi merasa cocok dengannya. Cocok dalam artian apa? Cocok yang yang saya rasakan dalam hati, dalam sebentuk ketidaknyamanan. Lalu ditafsirkan oleh logika bahwa ini tak lagi masuk akal sehat ketika telah tak cocok harus terus bersama. Intinya itu. Tapi pada praktek yang sudah-sudah, tentu dengan berbagai penjabaran yang berbeda. Dan dengan kadar sakit hati yang juga berbeda. 

Lalu apa kesalahan dalam konsep saya? Kesalahan mendasar itu adalah karena saya terlalu memisahkan antara rasa dan akal sehat, saya lupa dengan sebuah kata kunci yaitu ( Perasaan sekaligus Akal Sehat ) : “Perasaan itu ada, agar cinta dapat dirasakan. Logika itu hadir, agar cinta tidak merugikan.” 

Saya yang menganut doktrin Kahlil Gibran dalam dunia percintaan. Saya yang percaya bahkan menjalani cinta pada pandangan pertama jelas berarti sangat mengandalkan rasa, karena sangat tidak masuk akal sehat ketika harus suka atau cinta atau sayang hanya pada pandangan pertama. Siapa dirinya pun kita belum tau, kok bisa ngomong cinta? Dimana akal sehatnya? Tapi itu-lah, tak selamanya akal sehat saya tegakkan terlebih untuk masalah ini. 

Kemudian sesaat setelah mampu untuk satu dalam ikatan cinta. Saya lantas memindahkan segala rasa pada akal sehat. Karena tidak masuk akal sehat ketika hanya mengandalkan cinta dalam sebuah hubungan. Cinta itu ‘kan abstrak, bagaimana cara menetapkan standarnya? Maka saya pun lantas menyodorkan sebuah komitmen. Komitmen itu apa? Komitmen itu janji. Lalu janji seperti apa? Janji atau kesepakatan yang saya sendiri lebih mengartikan bahwa kita menjalin hubungan murni untuk mencari kecocokan, kenyamanan, dan segala lainnya untuk menjadi bekal nanti melanjutkan ke jenjang yang lebih sempurna. 

Nah dalam memahami komitmen ini, yang saya pikir sangat berbeda. Saya yang telah mengalihkan segala rasa itu pada akal sehat memahami komitmen ini dengan apabila di perjalanan tiba-tiba menumukan ketidakcocokan sekecil apapun, maka putus adalah jalan keluar atau sebuah pilihan terbaik. Sedangkan di pihak wanita, komitmennya tak sesederhana itu. Dan disini letak ketidakseimbangan konsep saya. 

Saya terlalu egois. Saya lupa bahwa hubungan itu terdiri dari dua orang : pria dan wanita, saya dan dia. Saya lupa bahwa saya sebagai pria akan selalu mengedepankan akal sehat tapi wanita pasti akan selalu mengutamakan rasa. Saya lupa bahwa ketika saya “menyerang” dia ( semua wanita ) dengan argumen akal sehat maka mereka pasti akan “bertahan” dengan segala rasa-nya. Hal ini bukan pasangan yang pas! Bila begini, sampai kapanpun saya pasti tak akan mampu mempunyai hubungan yang lama nan kuat. Bila begitu, jangan berharap bisa untuk segera menuju ke jenjang yang sempurna! 

Saya terlalu mudah untuk memindahkan rasa pada akal sehat atau akal sehat pada rasa atau rasa menjabarkan akal sehat atau akal sehat yang menjabarkan rasa. Saya lupa bahwa rasa ya rasa dalam hati, akal sehat ya akal sehat dalam otak! Keduanya bukan untuk saling “menekan” tapi harus saling melengkapi, saling mengisi, dan saling menyeimbangkan. Tak selalu rasa memonopoli akal sehat dan tidak selamnya juga akal sehat menang atas rasa.  Semua harus ada porsinya!

Dan saya belum bisa seperti itu! 

Stay #PMA ?

Perdebatan akal sehat dan rasa (2)

Sebuah tulisan yang dia labeli dengan nama Perasaan sekaligus Akal Sehat. Sebuah tulisan yang dia buat sebisa mungkin tidak menghakimi, tidak menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Tulisan yang dia rangkai sedemikian rupa sehingga terbebas dari nilai, terbebas dari substansi masalah utama. Dia mencoba hanya menggunakan masalah utama yang ada dalam tulisan saya sebagai sebuah latar atau sebuah batu loncatan atau sebuah prolog pembuka paragraf atau hanya pemanis tulisannya saja. 

Pada intinya dia hanya berusaha untuk mengungkapkan pendapatnya tentang cara pandangnya dalam melihat sebuah rasa dan akal sehat. 

Awal saya membaca tulisannya, saya terhenyak, saya terkagum, dan saya tak bisa untuk berkata apapun. Argumennya kuat, redaksi katanya runtut penuh semangat. Ringan tapi juga berat. Denotasi tapi banyak dibungkus dalam konotasi. Apa adanya tapi penuh makna dalam penuh arti. Bisa apa saya? 

Saya yang telah mulai menulis pada pertengahan tahun 2009 merasa malu ketika membaca tulisannya. Saya malu karena saya yang telah lama menulis belum bisa untuk menulis seringkas itu tapi sungguh padat substansinya. Redaksi kata yang indah tapi tidak mengurangi maksud utamanya. Dan yang terpenting adalah dia mempunyai argumen yang juga kuat. 

Woow!

Perdebatan akal sehat dan rasa (1)

Pelajaran itu memang bisa datang dari mana saja, melalui perantara apa saja. Kita tak boleh merasa puas, apalagi menjadi sombong dengan segala yang telah dimiliki dan segala pencapaian yang telah terlaksana. Hal itu tidak akan menghasilkan apapun kecuali mempertebal ego dan memandang rendah yang lain.  

Akibatnya apa? Akibatnya kita akan selalu merasa benar, selalu ingin menang. Lebih parahnya, kita juga tak memiliki lagi hasrat untuk belajar atau setidaknya mengembangkan apa yang telah dimiliki. Pantas kah seperti itu? 

Maka seharusnya tak ada orang yang seperti itu atau berusaha untuk menjadi seperti itu atau ketika merasa telah sedikit demi sedikit menuju kearahnya, cepat-cepat-lah untuk segera memutar arah dan sadari diri bahwa kesombongan itu tak layak untuk kita miliki. Bila memang akal sehat serta nurani masih ada di kandung badan! 

Dan saya, yang saya pikir dan saya rasa, masih memiliki akal sehat serta nurani yang setahu saya juga masih sangat sehat, tentu tak ingin menjadi seperti yang telah saya sebutkan di atas. Saya selalu terbuka dengan segala apapun bentuk argumen, tak melulu ingin menang, serta tak sungkan untuk mengikuti pendapat dari orang yang saya benci sekalipun bila memang pendapat itu sangat argumentatif dan mampu untuk mempengaruhi saya. 

Inkonsistensi? Saya rasa bukan, tapi sekali lagi ini bentuk nyata dari sebuah prinsip “tegas dalam idealisme, luwes dalam implementasi”, bersikap adaptif, dinamis serta fleksibel karena bukan kah semua bisa berubah sejalan dengan kejadian yang kita alami, entah musibah ataupun anugerah. Persepsi kita, cara pandang kita, opini kita, pengalaman kita, semuanya bisa berubah. Tapi, satu hal yang jangan berubah adalah : Aqidah kita, kepercayaan kita terhadap Allah, terhadap semua kekuasaan-Nya dan pilihan-Nya. 
Iya ‘kan? 

Hal-hal seperti itu membuat saya selalu berusaha terbuka dengan segala bentuk masukan, kritikan, bahkan cacian. Bahkan saya butuh itu semua! Saya selalu berusaha untuk mengetahui bagaimana pendapat orang, bagaimana penilaian orang terhadap apa yang telah, sedang, dan akan saya kerjakan, pikirkan, rencanakan serta konsepkan dalam kehidupan ini. 

Ini lebih dari sekadar bentuk aktualisasi diri, ini lebih dari sekedar ingin untuk selalu diperhatikan. Tapi ini bentuk nyata untuk selalu mampu mengintrospeksi diri. Sarana untuk bisa semakin tau batas dan tau diri! 

Makanya saya tak ingin mengintervensi sebuah pendapat karena toh UUD saja melindungi hak untuk mengemukakan pendapat, jadi kenapa juga saya harus mengintervensi? Sepanjang itu bukan fitnah atau hasutan buruk, kenapa saya harus risau? 

Pada akhirnya, sehebat apapun saya, saya tak akan pernah bisa membuat orang untuk sepenuhnya serta seluruhnya menyukai, mencintai, dan menyayangi saya. Saya pun tidak cukup gila untuk mengharapkan itu terjadi. Hal yang paling mungkin untuk saya usahakan adalah agar semua orang tidak menjadi musuh bagi diri saya. 

Oleh karena itu, ketika ada seorang junior meminta izin kepada saya untuk menanggapi salah satu tulisan saya ( baca : Pembunuhan akal sehat! ), saya justru berucap padanya untuk sesegara mungkin menuliskannya. 

Memang apa yang hendak dia tanggapi bukan sebuah tulisan bertemakan sosial atau kehidupan masyarakat pada umumnya, tapi sebuah tulisan tentang kehidupan pribadi yang saya alami. Karena itu mungkin dia menjadi merasa harus meminta izin terlebih dahulu. Apalagi pada dasarnya dia memang tidak mengetahui apa duduk masalahnya secara menyeluruh. 

Tapi itu bukan masalah bagi saya, sepanjang itu telah saya curahkan dalam sebuah media sosial atau sepanjang telah orang lain atau orang banyak ketahui, maka bagi saya itu tak lagi jadi ranah pribadi. Karena ketika itu masalah pribadi maka saya tidak akan mengumbarnya kepada khalayak luas dalam sebuah media jejaring sosial. Masuk akal sehat ‘kan? 

Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Saya belajar banyak dari tulisan yang dia tuliskan ( Perasaan sekaligus Akal Sehat ), sebuah tulisan yang “katanya” hanya sebuah tanggapan dari apa yang saya tulis tapi bagi saya terasa sebagai sebuah tulisan referensi, pembuka cakrawala baru serta memperluas sudut pandang saya dalam satu fokus kehidupan.

Selasa, 16 April 2013

Pembunuhan besar-besaran akal sehat di dunia asmara!

Saya mungkin terlampau sederhana atau cepat dalam mengambil sebuah keputusan untuk sebuah hubungan. 
Saya mungkin terkesan mudah menyerah dan tak mau untuk mencoba. 
Pun saya dianggap sebagai orang yang kejam karena dengan begitu mudahnya memutuskan sebuah hubungan. 

Tapi ini pembelaan saya!  

Secara prinsipnya, saya mencoba untuk hidup tanpa sebuah kemunafikan, menuruti apa yang logika dan nurani saya katakan, berdasarkan apa yang telah menjadi keyakinan dalam kehidupan saya. 
Sederhana ‘kan? 

Walaupun belum mampu saya melepaskan penuh segala topeng kemunafikan tapi setidaknya saya selalu berbuat tanpa harus mengada-ngada. Karena terkadang situasi dan kondisi itu sendiri yang memang mengharuskan kita untuk menjadi “munafik”, atas dasar menjaga perasaan orang lain dan segala adat ketimuran lainnya dan itu pun saya tidak mempermasalahkannya. Sehingga hal itu menggiring saya pada sebuah kesimpulan bahwa bukan merupakan sebuah dosa ketika pada akhirnya kita harus menjadi pragmatis, sedikit meninggalkan hal idealis, menjilat ludah kita sendiri. 

Karena ketika itu berbicara untuk suatu hal yang lebih baik, kepentingan umum, kenapa juga harus memaksakan menjadi seorang yang idealis? Bertindak dinamis, tegas dalam idealisme tapi luwes dalam impelementasi. 

Lalu untuk masalah rasa, penuh dengan nilai subjektifitas, terkadang tak ada ukuran atau standar pastinya, murni hati yang berbicara. Sehebat apapun saya dalam menggunakan logika ( akal sehat ), banyak halnya saya harus tunduk patuh pada hati ( emosi ), walaupun secara cepat saya coba kemudian analisis menggunakan logika. 

Jadi begini, dalam hubungan ini, yang sebenarnya belum lama yang jalani, sedari awal saya sudah menekankan bahwa sudah-lah kita jalani saja apa adanya, tanpa harus membuinya dengan segala janji tak pasti penuh cinta warna-warni. Saya sadar saya sudah bukan lagi seoran pelajar SMA apalagi SMP, saya telah duduk di bangku kuliah bahkan kurang dari 2 (dua) tahun akan menjadi seorang pegawai ( insya Allah ). 

Saya pikir tak masuk akal sehat ketika harus menjalani sebuah hubungan selayaknya kawula remaja walau dari segi umur tak juga beda terlalu jauh. Tapi rasanya, keadaan memaksa saya untuk bertindak lebih dewasa, jadi rasanya tak pas bila harus tetap memaksakan menjadi seorang remaja. 

Saya menyadari bahwa yang terpenting itu adalah komitmen, sesuatu yang lebih nyata daripada sebuah “cinta”, ukurannya jelas, begitu pun takarannya. 

Saya mengatakan di awal hubungan bahwa yang terpenting adalah kita mampu untuk saling menemukan kecocokan diantara kita berdua, bila sudah begitu maka akan nyaman untuk menjalaninya dan semakin kuat pula komitmen yang kita sepakati. Seiring waktu berjalan, saya menemukan bahwa sepertinya saya tidak berhasil menemukan “chemistry” itu. Saya kurang begitu nyaman ketika harus berdua dengannya, ketika harus saling bertukar kata dengannya. 

Kami terlalu banyak diam, dan tak saling memahami visi atau cara pandang satu sama lainnya. Dia sepertinya kurang memahami saya, dan begitu pula saya. Hal itu kemudian membuat saya tak selalu ingin dekat dengan dia, tak selalu setiap waktu merindukan dia. Saya lebih nyaman justru bila tanpanya dalam artian ketika dengan dirinya, saya yang sesungguhnya tak mampu untuk saya tampilkan secara penuh, sehingga saya seperti berpura-pura. 

Pada tataran ini, jelas hati dan rasa yang berperan, karena ini masalah kenyamanan, sama halnya ketika kita mengukur suatu keindahan pemandangan maka tak ada ukuran pasti untuk menentukannya, setiap orang memiliki ukuran “rasa”-nya tersendiri. Maka hal itu pun yang berlaku di sini, saya hanya tidak mendapatkan rasa nyaman itu, akibatnya saya menjadi tak mampu untuk menjadi diri saya ketika harus bersamanya. 

Alasannya? 
Mungkin karena saya merasa dia memiliki cara pandang dan visi yang berbeda dalam melihat kehidupan ini. Tapi alasan utamanya jelas masalah “selera”, masalah “rasa”, masalah hati. 

Lalu bagaimana komitmen? Hal yang katanya pasti dalam hubungan ini? Komitmen itu memang hal pasti, tapi ini pun sesuatu yang pasti, karena ketika saya sudah tidak lagi memiliki semangat, gairah, dan tidak lagi menemukan kenyamanan dalam hubungan, maka apakah masuk di akal apabila saya terus mempertahankannya? 

Pilihannya, hanya berkisar pada, terus menikmati ( dalam artian pasrah ), menikmati sambil berusaha merubahnya, dan yang terakhir memilih pergi untuk mencari semangat, gairah, dan kenyamanan baru. Dan saya memilih untuk pergi! 

Tapi kemudian dia tak bisa menerimanya karena merasa belum maksimal dia berusaha, atau mungkin juga saya yang kurang maksimal. Dia salahkan situasi yang menyebabkan kurangnya komunikasi sehingga belum bisa membuat nyaman hingga akhirnya chemistry itu belum ada. Dia pun beralasan bahwa dia sangat teguh terhadap komitmen awal hubungan ini, sehingga tak ingin mudah untuk memutuskannya. Dia yakin bahwa hubungan ini masih mampu untuk berkembang jauh lebih baik lagi! 

Saya salut dengan semangat dan pikiran positif yang dia miliki, tapi itu sama sekali tak bisa saya dapati. Saya tak merasakan hal itu. 

Hubungan itu tentang dua orang ‘kan? Apabila salah satu pihak tak lagi merasakan kenyamanan dan kebahagiaan, apakah lantas adil? Bilapun terus dipaksakan untuk berlanjut, apakah hubungan itu bisa untuk menjadi sehat? Karena secara terang salah satu pihak, saya, sudah tak lagi memiliki semangat dan gairah di dalamnya? 

Saya yang terus bersikukuh untuk memutuskan hubungan ini, dan dia yang juga bersikukuh untuk mempertahannya, memang pada akhirnya kami tak bisa untuk menemukan titik temu. 

Akhirnya saya mengalah, dan saya biarkan dia untuk berbuat apa yang saat ini menjadi keyakinannya, tapi saya pun katakan padanya bahwa saya tak lagi memiliki semangat dan hasrat untuk terus membina hubungan ini. Maka saya hanya tinggal menunggu kata “iya” darinya untuk secara resmi mengakhiri hubungan ini. Tidak saat ini, karena katanya dia masih ingin mencoba. Entah kapan, bisa cepat, bisa juga lama. Tapi ini hanya sekedar formalitasnya karena bagi saya hubungan ini telah berakhir. 

Maaf, tapi sebelum ini terlalu dalam dan jauh,  sebelum terlalu tinggi harapan kita, maka sesaat setelah kita merasa ketidakcocokan jauh lebih baik bagi kita untuk segera mengakhirinya. 

Saya pun bukan malaikat penyelemat untuknya, saya tidak begitu perhatian padanya, tidak selalu mampu memberinya nasihat atau membuatnya tertawa atau berbuat sesuatu yang berjasa bagi kehidupannya, lantas kenapa dia tetap ingin bersama saya? 
Hal itu sungguh jauh di luar akal sehat saya.

dan bila terus dibiarkan maka akan menjadi pembunuhan besar-besaran akal sehat!

stay #PMA ?

Rabu, 10 April 2013

Menegakan Akal Sehat

Cover Buku Menegakan Akal Sehat
Setelah kurang lebih 3 (tiga) bulan atau bahkan lebih lama dari itu, saya “terbelenggu” oleh biografi Steve Jobs yang ditulis oleh Walter Isaacson, akhirnya saya bisa move on ke bacaan yang lain. Bacaan yang telah lama ingin saya baca tapi harus terhalang oleh keterbatasan kemampuan saya dalam membaca sehingga perlu waktu lebih (atau mungkin kurang ya?) 3 (tiga) bulan untuk melahap buku setebal 728 halaman itu. 

Ini mungkin akan menjadi sebuah lelucon di kalangan mereka yang mengaku menjadikan membaca merupakan hobi dalam kehidupannya, terlebih untuk saya yang juga menuliskan kata “membaca’ dalam kolom hobi biodata diri. 

Tapi mau gimana lagi? 
itu memang kenyataannya dan kenyataan lain bahwa ada sebuah pengakuan dari seorang teman (yang walaupun baru sebatas teman BBM-an serta Twitter-an) meng-klaim bahwa dia hanya membutuhkan waktu sekitar 2 (dua) jam saja untuk membaca buku biografi Steve Jobs itu. 
Damn!  

Tapi saya pribadi yang berprinsip bahwa semua orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya, sepanjang saya tau diri, tau batas, dan mau belajar memperbaiki segala kekurangan serta terus mengembangkan kelebihan, maka saya bukan orang yang mutlak buruk. Maka dalam hal ini, setelah saya mengetahui kemampuan membaca saya masih sangat di bawah rata-rata air, saya pun harus sesegera mungkin untuk memperbaikinya. Sehingga kelak (saya harap secepatnya) saya mampu untuk membaca buku, setebal apapun buku itu, dalam waktu yang relatif singkat tapi tetap mampu menyerap segala hal baik yang terkandung di dalamnya. 

Hal itu kalau saya pikir-pikir menjadi sesuatu hal yang mendesak bagi saya karena hal ini juga berkaitan dengan kebiasaan saya selanjutnya yaitu saya cenderung tidak bisa untuk membaca buku lain apabila saya belum mampu untuk membaca habis satu buku. Itu karena saya termasuk orang yang susah apabila harus berfokus pada dua hal yang berbeda dalam satu waktu yang bersamaan. 
Saya pernah mencoba membaca 2 (dua) buah buku yang berbeda (jenis tentunya) secara bergantian dan alhasil saya tidak mendapat apapun selain kebingungan dan 2 (dua) buku itu tak mampu untuk saya baca habis. 
Karena bukankah ketika kita mengejar  2 (dua) kelinci secara bersamaan kita justru akan kehilangan keduanya? 

Dan ya, akibatnya selama 3 (tiga) bulan itu (baik, saya genapkan saja selama 3 (tiga) bulan aja deh ya!), saya tak lagi membaca buku apapun selain biografi setebal 728 halaman itu. 
Betapa tidak efisien ‘kan? 

Maka setelah lepas “belenggu” itu, saya pun sesegera mungkin untuk memesan buku-buku yang telah lama saya ingin segera lahap dan cerna secara nikmat. Tak tanggung-tanggung 4 (empat) buku sekaligus langsung saya pesan. Buku-buku yang saya beli itu merupakan buku-buku hasil tulisan dari Pak Dahlan Iskan, sehingga Alhamdulillah semua buku hasil tulisan beliau telah mampu saya dapatkan. Hip hip hooray! 

Kenapa saya begitu suka dengan tulisan Pak Dahlan Iskan? 
Entah-lah, ini murni masalah selera, saya suka gaya penulisan beliau dan banyak hal yang juga saya setujui dari jalan pikiran, pendapat, serta akal sehat yang beliau coba untuk tegakan. 

Dan tak ingin mengulangi kesalahan yang sama maka 1 (satu) buku dari 4 (empat) buku yang saya beli itu telah mampu saya baca dalam waktu kurang dari 1 (satu) hari, mungkin hanya sekitar 1 (satu) jam apabila dikalkulasikan secara penuh. Buku itu berjudul “Menegakan Akal Sehat”

Buku “Menegakan Akal Sehat” merupakan buku yang dicetak pada sekitar medio tahun 2008. Buku itu berisikan kumpulan artikel beliau yang beliau tulis dalam sebuah rubrik yang juga beliau prakarsai sendiri untuk diterbitkan dalam Media “Jawa Post”, yaitu Rubrik Menegakan Akal Sehat. Rubrik “Menegakan Akal Sehat” itu dilatarbelakangi oleh banyaknya peristiwa sehari-hari yang sama sekali tidak masuk akal dalam pandangan akal sehat Pak Dahlan. Tapi hal-hal seperti itu terus saja masyarakat kita menjalaninya. Tidak ada pula usaha untuk mengubahnya. Pak Dahlan menilai adanya sebuah filsafat “pokonya harus…” yang terlalu dominan di masyarakat kita sehingga akhirnya membunuh secara besar-besaran akal sehat di tengah-tengah masayarakat kita. 

Apa sih memangnya akal sehat itu? 
Secara sederhananya akal sehat itu ya logika berpikir kita yang menggunakan akal yang sesuai dengan teori-teori, kaidah keilmuan, aturan dan segala pondasi positif lainnya. Akal sehat itu bertolak belakang dengan emosi yang lebih mengedepankan perasaan dan nilai-nilai subjektifitas lainnya. 
Akan tetapi tak jarang juga ada perbedaan dalam menerapkan sebuah akal sehat. Karena diakui atau tidak akal sehat satu orang dengan akal sehat orang lainnya sangat dipengaruhi oleh ilmu, pengalaman, lingkungan, situasi, dan berbagai macam faktor internal serta eksternal lainnya. Jadi memang tidak bisa mutlak selamanya sama. 

Akan tetapi akal sehat yang coba ditegakan oleh Pak Dahlan di sini adalah akal sehat yang memang benar-benar berakal dan juga benar-benar sehat dalam artian sesuai dengan nalar, sesuai dengan aturan dan sesuai dengan teori ilmu yang ada. 

Contoh nyata yang beliau kemukakan adalah setiap tahun, perkara kasasi yang masuk ke MA jumlahnya 1.000 perkara. Kemampuan para Hakim Agung untuk menyelesaikannya hanya kurang dari separonya. Begitu terus terjadi dari tahun ke tahun. Akibatnya terjadi penumpukan perkara yang kian tahun kian tinggi saja. Pernah suatu ketika jumlah tumpukan perkara di MA sampai 25.000 perkara! 
Nah, bagaimana cara menyelesaikan semua perkara itu? 
Itu ‘kan tidak masuk akal sehat, iya ‘kan? 

Dalam buku itu ada 31 artikel berkenaan dengan permasalahan penegakan akal sehat yang coba untuk didengungkan oleh Pak Dahlan. Semuanya sungguh menarik, dan saya sungguh setuju dengan setiap akal sehat yang dikemukakan oleh Pak Dahlan walaupun ada beberapa akal sehat beliau yang tidak juga masuk dalam akal sehat saya. 

Contohnya dalam artikel “PKS & Keimanan Wanita di Era Demokrasi Murni”. Akal sehat Pak Dahlan menyebutkan bahwa Imam di bidang politik dewasa ini adalah rakyat serta Presiden, gubernur, wali kota, dan bupati tidak bisa lagi disebut Imam dalam pengertian yang utuh karena mereka hanya mengambil sebagian saja dari fungsi Imam. Hal ini beliau utarakan berkaitan dengan tidak masuk akalnya (akal sehat Pak Dahlan tentunya) pernyataan dari salah satu Partai yang bernafaskan Islam yang menyatakan bahwa Partai tersebut belum bisa menerima seorang wanita sebagai imam. 
Hal itu jelas bertentangan dengan akal sehat saya karena akal sehat saya yang di dasari oleh keimanan saya terhadap agama Islam, menyatakan bahwa pria itu adalah pemimpin untuk wanita. Jadi sepanjang masih ada pria dalam sebuah kelompok maka wanita tak bisa untuk memimpin kelompok tersebut. Itu pendapat saya berdasarkan referensi yang saya dapatkan setidaknya hingga saat saya menuliskan tulisan ini. Maka sepanjang saya belum mendapatkan sebuah argumen baru atau penafsiran yang argumentatif berkaitan dengan masalah itu, maka sepanjang itu pula akal sehat saya akan mengatakan bahwa imam itu memang harus seorang pria selama masih ada pria. 

Dalam hal perbedaan akal sehat seperti ini saya pikir bukan sebuah hal yang harus dibesar-besarkan tapi justru harus segera dibuka sebuah pintu diskusi tapi tentunya dengan tetap mengedepankan akal sehat bukan sebuah diskusi yang hanya sehat akal-akalannya. Karena saya yakin apabila kita berdiskusi bahkan berdebat tentang suatu masalah, suatu perbedaan dengan sama-sama menggunakan akal sehat dan mengesampingkan emosi maka tak akan pernah ada gontok-gontok-kan, tak akan ada lagi debat kusir. Semua masalah pasti akan cepat untuk terselesaikan. 

Di sisi yang lainnya saya ingin juga mengemukakan bahwa akal sehat kita, sebagai seorang yang beragama, Muslim khususnya harus tetap tunduk pada keimanan kita terhadap-Nya. Karena banyak hal yang berkenaan dengan agama tidak akan pernah bisa masuk dalam akal sehat seorang manusia biasa. Ada beberapa urusan yang memang harus kita imani semata, tak usah lantas kita selidiki dengan segala metode penegakan akal sehat. Hal itu justru akan membuat kita bimbang lalu akhirnya jadi atheis, mau? 

Kalau jadi atheis kita berarti gak boleh dapet THR lho! karena THR ‘kan Tunjangan Hari Raya, nah atheis kan gak percaya Tuhan mana ada hari raya? 
hahaha

Untuk mereka yang Muslim, peristiwa Isra Mi’raj merupakan contoh paling nyata bahwa ada beberapa hal berkenaan dengan agama hanya cukup perlu kita imani saja. 

Hal lain yang membuat saya menyukai setiap tulisan Pak Dahlan adalah beliau mampu untuk mengambil sebuah moment dalam setiap tema yang akan beliau tuliskan. Beliau mampu dengan sangat cerdas memanfaatkan media tulisan dengan jaringan media massa yang beliau miliki untuk membentuk sebuah opini publik yang mendukung kelancaran aktifitas yang sedang beliau jalankan. 
Misalnya saja rubrik "Menegakan Akal Sehat”. Rubrik ini beliau buat ketika masih berada di luar pemerintahan, beliau gunakan rubrik ini untuk mengemukakan segala ide-ide yang memang menarik untuk disimak sehingga nama seorang Pak Dahlan mulai diperhitungkan. 

Hasilnya apa? 
Hasilnya beliau diangkat menjadi Dirut PLN, kemudian beliau membuat CEO’s Notes yang awalnya hanya untuk lingkup internal pimpinan PLN tapi kemudian juga meluas dan khalayak luas mampu untuk juga membaca setiap tulisan dalam CEO’s Notes. Dan kini setelah beliau menjabat sebagai seorang Menteri BUMN, beliau hadir kembali dengan rubrik “Manufactoring Hope” sebuah rubrik yang berisikan segala kegiatan yang beliau lakukan dalam kapasitasnya sebagai seorang Menteri, yang tujuan utama dari rubrik ini sendiri adalah untuk melawan pesimisme yang terlanjur hidup nyaman di tengah-tengah masyarakat dengan virus optimisme yang ingin beliau tumbuhkan. 

Semua apa yang beliau lakukan itu sungguh sangat baik dan dengan perhitungan yang matang. Pak Dahlan benar-benar seorang jurnalistik handal yang tau bagaimana cara yang paling tepat dalam menggunakan media tulisan sebagai sarana untuk berkomunikasi dan membentuk sebuah opini pubilk serta pencitraan positif akan dirinya. 

Ahh, saya pun sungguh ingin seperti itu. Makanya saya tak malu untuk terus belajar dalam menulis. Karena saya pikir hanya dengan menulis-lah kita bisa untuk mengemukakan pendapat kita secara sistematis dan lebih mampu untuk meninggalkan jejak. 

Jadi, tunggu apa lagi untuk mulai membaca kemudian menulis! 
Tunggu apalagi untuk sesegera mungkin kita tegakan akal sehat! 
Dan tunggu apalagi untuk kita untuk hidup dalam cara yang positif! 

#PMA always!:)