Selasa, 16 April 2013

Pembunuhan besar-besaran akal sehat di dunia asmara!

Saya mungkin terlampau sederhana atau cepat dalam mengambil sebuah keputusan untuk sebuah hubungan. 
Saya mungkin terkesan mudah menyerah dan tak mau untuk mencoba. 
Pun saya dianggap sebagai orang yang kejam karena dengan begitu mudahnya memutuskan sebuah hubungan. 

Tapi ini pembelaan saya!  

Secara prinsipnya, saya mencoba untuk hidup tanpa sebuah kemunafikan, menuruti apa yang logika dan nurani saya katakan, berdasarkan apa yang telah menjadi keyakinan dalam kehidupan saya. 
Sederhana ‘kan? 

Walaupun belum mampu saya melepaskan penuh segala topeng kemunafikan tapi setidaknya saya selalu berbuat tanpa harus mengada-ngada. Karena terkadang situasi dan kondisi itu sendiri yang memang mengharuskan kita untuk menjadi “munafik”, atas dasar menjaga perasaan orang lain dan segala adat ketimuran lainnya dan itu pun saya tidak mempermasalahkannya. Sehingga hal itu menggiring saya pada sebuah kesimpulan bahwa bukan merupakan sebuah dosa ketika pada akhirnya kita harus menjadi pragmatis, sedikit meninggalkan hal idealis, menjilat ludah kita sendiri. 

Karena ketika itu berbicara untuk suatu hal yang lebih baik, kepentingan umum, kenapa juga harus memaksakan menjadi seorang yang idealis? Bertindak dinamis, tegas dalam idealisme tapi luwes dalam impelementasi. 

Lalu untuk masalah rasa, penuh dengan nilai subjektifitas, terkadang tak ada ukuran atau standar pastinya, murni hati yang berbicara. Sehebat apapun saya dalam menggunakan logika ( akal sehat ), banyak halnya saya harus tunduk patuh pada hati ( emosi ), walaupun secara cepat saya coba kemudian analisis menggunakan logika. 

Jadi begini, dalam hubungan ini, yang sebenarnya belum lama yang jalani, sedari awal saya sudah menekankan bahwa sudah-lah kita jalani saja apa adanya, tanpa harus membuinya dengan segala janji tak pasti penuh cinta warna-warni. Saya sadar saya sudah bukan lagi seoran pelajar SMA apalagi SMP, saya telah duduk di bangku kuliah bahkan kurang dari 2 (dua) tahun akan menjadi seorang pegawai ( insya Allah ). 

Saya pikir tak masuk akal sehat ketika harus menjalani sebuah hubungan selayaknya kawula remaja walau dari segi umur tak juga beda terlalu jauh. Tapi rasanya, keadaan memaksa saya untuk bertindak lebih dewasa, jadi rasanya tak pas bila harus tetap memaksakan menjadi seorang remaja. 

Saya menyadari bahwa yang terpenting itu adalah komitmen, sesuatu yang lebih nyata daripada sebuah “cinta”, ukurannya jelas, begitu pun takarannya. 

Saya mengatakan di awal hubungan bahwa yang terpenting adalah kita mampu untuk saling menemukan kecocokan diantara kita berdua, bila sudah begitu maka akan nyaman untuk menjalaninya dan semakin kuat pula komitmen yang kita sepakati. Seiring waktu berjalan, saya menemukan bahwa sepertinya saya tidak berhasil menemukan “chemistry” itu. Saya kurang begitu nyaman ketika harus berdua dengannya, ketika harus saling bertukar kata dengannya. 

Kami terlalu banyak diam, dan tak saling memahami visi atau cara pandang satu sama lainnya. Dia sepertinya kurang memahami saya, dan begitu pula saya. Hal itu kemudian membuat saya tak selalu ingin dekat dengan dia, tak selalu setiap waktu merindukan dia. Saya lebih nyaman justru bila tanpanya dalam artian ketika dengan dirinya, saya yang sesungguhnya tak mampu untuk saya tampilkan secara penuh, sehingga saya seperti berpura-pura. 

Pada tataran ini, jelas hati dan rasa yang berperan, karena ini masalah kenyamanan, sama halnya ketika kita mengukur suatu keindahan pemandangan maka tak ada ukuran pasti untuk menentukannya, setiap orang memiliki ukuran “rasa”-nya tersendiri. Maka hal itu pun yang berlaku di sini, saya hanya tidak mendapatkan rasa nyaman itu, akibatnya saya menjadi tak mampu untuk menjadi diri saya ketika harus bersamanya. 

Alasannya? 
Mungkin karena saya merasa dia memiliki cara pandang dan visi yang berbeda dalam melihat kehidupan ini. Tapi alasan utamanya jelas masalah “selera”, masalah “rasa”, masalah hati. 

Lalu bagaimana komitmen? Hal yang katanya pasti dalam hubungan ini? Komitmen itu memang hal pasti, tapi ini pun sesuatu yang pasti, karena ketika saya sudah tidak lagi memiliki semangat, gairah, dan tidak lagi menemukan kenyamanan dalam hubungan, maka apakah masuk di akal apabila saya terus mempertahankannya? 

Pilihannya, hanya berkisar pada, terus menikmati ( dalam artian pasrah ), menikmati sambil berusaha merubahnya, dan yang terakhir memilih pergi untuk mencari semangat, gairah, dan kenyamanan baru. Dan saya memilih untuk pergi! 

Tapi kemudian dia tak bisa menerimanya karena merasa belum maksimal dia berusaha, atau mungkin juga saya yang kurang maksimal. Dia salahkan situasi yang menyebabkan kurangnya komunikasi sehingga belum bisa membuat nyaman hingga akhirnya chemistry itu belum ada. Dia pun beralasan bahwa dia sangat teguh terhadap komitmen awal hubungan ini, sehingga tak ingin mudah untuk memutuskannya. Dia yakin bahwa hubungan ini masih mampu untuk berkembang jauh lebih baik lagi! 

Saya salut dengan semangat dan pikiran positif yang dia miliki, tapi itu sama sekali tak bisa saya dapati. Saya tak merasakan hal itu. 

Hubungan itu tentang dua orang ‘kan? Apabila salah satu pihak tak lagi merasakan kenyamanan dan kebahagiaan, apakah lantas adil? Bilapun terus dipaksakan untuk berlanjut, apakah hubungan itu bisa untuk menjadi sehat? Karena secara terang salah satu pihak, saya, sudah tak lagi memiliki semangat dan gairah di dalamnya? 

Saya yang terus bersikukuh untuk memutuskan hubungan ini, dan dia yang juga bersikukuh untuk mempertahannya, memang pada akhirnya kami tak bisa untuk menemukan titik temu. 

Akhirnya saya mengalah, dan saya biarkan dia untuk berbuat apa yang saat ini menjadi keyakinannya, tapi saya pun katakan padanya bahwa saya tak lagi memiliki semangat dan hasrat untuk terus membina hubungan ini. Maka saya hanya tinggal menunggu kata “iya” darinya untuk secara resmi mengakhiri hubungan ini. Tidak saat ini, karena katanya dia masih ingin mencoba. Entah kapan, bisa cepat, bisa juga lama. Tapi ini hanya sekedar formalitasnya karena bagi saya hubungan ini telah berakhir. 

Maaf, tapi sebelum ini terlalu dalam dan jauh,  sebelum terlalu tinggi harapan kita, maka sesaat setelah kita merasa ketidakcocokan jauh lebih baik bagi kita untuk segera mengakhirinya. 

Saya pun bukan malaikat penyelemat untuknya, saya tidak begitu perhatian padanya, tidak selalu mampu memberinya nasihat atau membuatnya tertawa atau berbuat sesuatu yang berjasa bagi kehidupannya, lantas kenapa dia tetap ingin bersama saya? 
Hal itu sungguh jauh di luar akal sehat saya.

dan bila terus dibiarkan maka akan menjadi pembunuhan besar-besaran akal sehat!

stay #PMA ?

7 komentar:

  1. kalau sudah tak ada kecocokan buat apa lagi dipertahankan,
    namun kalau ternyata masih ada kecocokan dan juga benih2 cinta..maka sebaiknya berpikir dua ratus kali kali sebelum mengatakan kata putus :-)

    BalasHapus
  2. izin kang tulisannya boleh lili tanggapi ngga?

    BalasHapus
  3. @BlogS of Hariyanto : siap pak, terima kasih ya pak. insya Allah ini sudah dipikirkan dua ratus kali.

    @Lili Fauziah : boleh atuh neng, senang malahan akang mah ada yang nanggapi tulisan akang. sok atuh, apa tanggapan neng?

    BalasHapus
  4. Mampir ke sini tuk jalin silaturahmi, O iya ijin follow ya,..

    BalasHapus
  5. @Boku no Blog : terima kasih banyak ya pak! ;) sebuah kehormatan :D

    BalasHapus
  6. izin kang, ada di blog lili. mohon maaf ya kang. izin copy linknya untuk bikin tulisan.

    BalasHapus