Selasa, 25 September 2012

Munafik ?

Dan apakah saya ini seorang yang munafik?  

Sebuah pertanyaan yang seketika menyeruak muncul ke permukaan, tak terlontar oleh mulut, cukup berbisik hangat dalam hati, seakan terdapat dua manusia yang berbeda, mereka saling berbincang saling melempar tanya, pertanyaan yang sama, apakah saya ini munafik? 

Banyak teori yang telah saya pelajari, sialnya saya ini bermulut besar, saya hanya tak bisa untuk tinggal diam, selalu ingin terlibat dalam segala hal, selalu ingin mencampuri segalanya, selalu ingin mengatur semuanya sesuai dengan apa yang ideal dalam pemikiran saya, sehingga ya akhirnya saya pun banyak berucap, mengoceh kesana kemari tentang segala hal yang sangat ideal. 

Saya seperti itu sungguh sangat sadar, saya tau konsekuensi yang harus saya terima, saya pun tak ingin menjadi orang yang tak bisa untuk konsisten jadi ketika saya berucap A maka tindakan saya pun akan A atau setidak-tidaknya berusaha untuk menjadi A. 

Saya selalu berusaha untuk konsisten, kuat pendirian, tak mudah untuk goyah, menyelaraskan apa yang saya ucapkan dengan apa yang saya lakukan. 
Sesederhana itu. 

Tapi kali ini sungguh berbeda, silahkan kalian semua liat dan telaah terlebih dahulu tulisan ini D4 atau S1 ?, setelah itu silahkan kalian simpulkan sendiri apa yang saya maksudkan dalam tulisan itu. 

Dan sekarang, ketika tanpa ada angin, tanpa ada sedikit pun pertanda, tiba-tiba muncul sebuah kabar, kabar yang jujur saya akui sedikit banyaknya mengganggu kenyamanan otak serta rasa ini. 
Secara teori, secara pemikiran ideal dalam diri ini, saya tidak berkeberatan bahkan tidak terlalu memperdulikan akan mendapat gelar apa saya ini nantinya, tapi kemudian semua itu sekarang sedikit berbalik, entah karena saya telah termakan oleh doktrin yang ada bahwa mereka yang terpilih itu adalah mereka orang-orang yang pintar, orang-orang cerdas yang walaupun secara teori yang saya pahami hal itu sungguh sangat tidak benar tapi siapa di dunia ini yang tak ingin mendapat label positif? siapa? siapa?! 

Semua orang ingin di-cap orang baik walaupun tingkah lakunya tidak sedikit pun menunjukan orang baik. 
Ironi! 

Mereka bangga dengan segala label positif walaupun mereka tau mereka tidak sedikit pun mendekati label postif itu atau bahkan untuk sekedar mampu mempertanggungjawabkannya. Kita masih senang dengan kemasan yang indah daripada kualitas yang terdapat dalam kemasan itu. 
Tapi mau bagaimana? 
ini-lah dunia, walaupun pemikiran saya ini benar tapi apa pedulinya orang di luar sana?

6 komentar:

  1. tetaplah konsisten dalam mempertahankan kebenaran sesuai tuntunan agama :)

    BalasHapus
  2. @BlogS of Hariyanto : siap pak! mohon do'anya pak, terima kasih banyak ya pak. :)

    BalasHapus
  3. ah itu cuma perasaan sesaat aja #ngutip ulang :p

    BalasHapus
  4. hmmm kayaknya lebih dari perasaan sesaat deh bang.

    BalasHapus
  5. hehe, saya pernah menuliskan tentang kemunafikan yang intinya kurang lebih seperti ini, adima bilang hanya perasaan sesaat... zzzz, curang nih, hehe

    tapi memang kenyataan banyak orang munafik disini adima... "sungguh terlalu" kata bang haji. saya juga mengeluhkan hal itu, saat saya sudah terlalu muak dengan kondisi itu, saya hanya bisa diam dan kalo otak lagi bener bikin puisi #puisi gak jelas... hehehe...

    btw.. emas tetaplah emas walau di berada dalam lumpur, bahkan kotoran sekalipun. jadi adima tenang saja, selama ada bung harri, adima aman... wkakkawkwkk

    BalasHapus
  6. @Bang Harri : hehehe namanya juga ngeles kayak bajaj :D

    itu-lah bang, tanpa ada kekuatan susah bagi kita utk merubah keadaan. tapi sebelum itu, yg terpenting kita merubah diri sndri dlu kan bang?

    BalasHapus