Jumat, 25 Februari 2011

KAMPUS DAERAH DAN SEMANGAT PERUBAHAN


”Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja IPDN menetapkan : Kampus IPDN Manado, Kampus IPDN Makassar, Kampus IPDN Pekanbaru, dan Kampus IPDN Bukittinggi, yang selanjutnya berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: 892.1¬829 Tahun 2009 ditetapkan lokasi pembangunan kampus IPDN di daerah yaitu: di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara, di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan, di Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau, dan di Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat, serta pada saat ini sedang dipersiapkan pengembangan Kampus IPDN di Pontianak di Provinsi Kalimantan Barat, Kampus IPDN di Mataram di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kampus IPDN di Jayapura Provinsi Papua.”


Itulah dasar hukum diadakannya kampus daerah di lembaga pendidikan tinggi kepamong prajaan IPDN. Ada banyak sebab kenapa pemerintah dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri mengeluarkan kebijakan untuk membuka kampus-kampus di daerah. Salah satu yang pasti dan paling logis yang dapat kita pikirkan, khususnya masyarakat umum, adalah karena Kementerian Dalam Negeri sebagai atasan langsung dari lembaga pendidikan IPDN ingin merubah kultur, struktur dan prosedur yang telah lama ada di IPDN, yang pada masa lampau pada kenyataannya telah menimbulkan polemik dan bahkan hilangnya nyawa peserta didik.

Kita tak perlu lagi pura-pura tidak tahu dan bahkan saya pribadi pun tidak harus sok tahu menceritakan kepada anda semua tentang apa yang terjadi di masa lampau di lembaga pendidikan kedinasan ini. Ya...yang lalu biarlah berlalu, mari kita berorientasi ke masa depan, toh lembaga ini sudah mawas diri dan melakukan serangkaian perubahan agar peristiwa di masa lampau yang sangat menyakitkan itu tak terulang lagi. Intinya, belajar dari kesalahan dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Perubahan bagaimanapun juga sangat diperlukan dalam kehidupan ini, seiring bertambahnya usia dan perubahan zaman kita tidak boleh menjadi seorang yang bebal yang tidak mau berubah untuk beradaptasi dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat ini. Kita harus menjadi seorang yang fleksibel dan dinamis, kita harus mampu beradaptasi dengan baik dan secepat mungkin, agar kita tetap mampu bertahan hidup dan mampu hidup dengan baik. Dan itulah yang terjadi pada lembaga IPDN, ketika dulu di saat pemerintah memegang peranan yang sangat kuat di hadapan masyarakat, ketika pemerintah begitu berkuasa dan mempunyai kekuatan serta kekuasaan yang sangat kuat. Dan rakyat tak lebih hanya sekedar rakyat biasa yang hidup di negara, yang secara kasar hanya memiliki hak untuk hidup, sekedar untuk hidup. Pemerintah memegang kendali untuk segala segi kehidupan manusia pada saat itu, keseragaman dan ketaatan total menjadi doktrin utama. Tak boleh ada perbedaan dan tak boleh ada perlawanan, otoriter begitu biasa kita menyebutnya. Sudah banyak contoh pada waktu itu, ketika ada seorang saja yang berani melawan arus dan menjadi beda diantara yang sama, maka orang itu akan hilang tanpa jejak. Itulah suatu masa yang kita sebut sebagai masa Orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto. Satu hal yang menyebabkan hal itu tak menjadi masalah dan polemik adalah karena faktor ekonomi yang stabil sehingga tidak terlalu banyak keluhan dari masyarakat atas kekangan seperti itu. Itulah kenapa, IPDN (STPDN pada waktu itu) sebagai pencetak kader aparatur pemerintahan, melakukan suatu pendidikan yang keras yang menganut atau berkiblat pada sistem pendidikan militer. Itu semata dilakukan karena memang pada waktu itu, situasi dan kondisi menuntut seorang pegawai pemerintahan yang kuat, penuh wibawa dan ditakuti masyarakat. Agar masyarakat tetap taat patuh pada setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Karena memang sekali lagi, pemerintah pada waktu itu memilki posisi yang kuat dibandingkan dengan masyarakat.
Lalu seiring perkembangan zaman, di era globalisasi ini, khususnya di Indonesia, era perubahan itu ditandai dengan runtuhnya kekusaan Soeharto pada tahun 1998, munculah suatu era yang bernama Reformasi. Di era atau zaman ini lah kekuasaan pemerintah mulai luntur, rakyat mulai menunjukan tajinya dan mulai dari saat itu lah rakyat yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang kuat dengan massa sebagai senjatanya (People Power), dengan Demokrasi sebagai sistemnya (oleh, dari, dan untuk rakyat). Tak ada lagi pemerintah yang otoriter dan tak akan bisa lagi ada penguasa yang diktator. Berjuta-juta rakyat mengawasi pemerintah dan berjuta-juta rakyat itu pula siap setiap saat untuk melakukan perlawanan bila ada sesuatu hal yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang ada. Itulah cerminan wajah pemerintah kita masa kini dan itulah kenapa pendidikan dengan kekerasan juga sudah tidak relevan dengan zaman sekarang. Segala bentuk pembentukan mental dan fisik yang menggunakan unsur kekerasan di masa lampau sudah tidak cocok dengan zaman sekarang ini. Karena ini bukan lagi Orde Baru, tapi ini Reformasi. Rakyat sudah tidak lagi mau dipimpin dengan cara-cara yang otoriter nan menakutkan, rakyat ingin dipimpin dengan cara-cara yang positif jauh dari pemaksaan dan kekerasan.

Pemerintah sekarang dalam posisi yang lemah, masyarakat lah yang kuat. Karena memang pada hakikatnya rakyat lah yang mempunyai kekuasaan itu, pemerintah tidak lebih hanya sebagi pembantu yang mempunyai tugas untuk melayani rakyat. Karena dengan uang rakyat, pemerintah bisa hidup dan menjalankan segala tugas pemerintahannya. Inilah yang dipahami oleh IPDN, walaupun proses pemahaman dan perubahan itu harus dilewati dengan terjadinya serangkaian kasus tragis nan menghebohkan. Mungkin bisa dikatakan IPDN terelambat untuk berubah, tapi bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Menerapkan pendidikan kemiliteran di IPDN yang tujuan akhirnya adalah untuk mencetak kader aparatur pemerintahan yang pada praktek kerja nantinya akan banyak berhadapan langsung dengan rakyat, sudah tidak relevan. Karena pendidikan seperti itu hanya akan membentuk kader-kader yang ingin dilayani bukan melayani. Karena pendidikan seperti itu hanya akan mencetak orang-orang yang keras nan pasif dan hanya bergerak menunggu perintah, padahal kader aparatur pemerintahan haruslah ramah, persuasif, kreatif dan inovatif.
Di zaman ini, ketika rakyat yang memegang kendali, aparatur pemrintahan haruslah mampu melayani masyarakat dengan sebaik mungkin, memposisikan dirinya sebagai pelayan yang harus memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Bukan justru bertindak angkuh, ingin dihormati.

Kembali lagi ke permasalahan awal, kebijakan membuka kampus di daerah merupakan salah satu dari banyak perubahan sistem di IPDN untuk beradaptasi dengan perubahan zaman dan tentunya untuk menjadi perguruan tinggi kedinasan pencetak kader pamong praja menjadi lebih baik lagi. Kampus daerah sudah mulai dibuka sejak tahun 2009, yaitu Kampus Bukittinggi, Kampus Makassar dan Kampus Pekanbaru. Lalu pada tahun 2010 ditambah satu kampus daerah yaitu Kampus Manado. Dan pada tahun 2011 ditambah lagi Kampus Mataram, Kampus Pontianak dan Kampus Jayapura. Jadi, total ada tujuh kampus daerah yang disediakan oleh IPDN.
Angkatan XXI, angkatan muda praja tahun pendidikan 2010/2011, akan menjadi angkatan pertama yang mengisi kampus daerah di Pontianak, Mataram, dan Jayapura. Disamping itu pula mereka akan tetap menjadi angkatan ketiga setelah angkatan XIX dan XX, yang mengisi kampus Pekanbaru, Makassar, dan Bukitttinggi. Serta menjadi angkatan kedua setelah angkatan XX untuk mengisi kampus daerah di Manado. Sistem regional ini menggunakan sisitem KSK (Kumpul Sebar Kumpul), dengan rincian satu dua semester kumpul di Kampus Pusat Jatinangor, semseter tiga, empat, lima, dan enam sebar di beberapa kampus daerah dan kemudian kumpul lagi pada semester tujuh dan delapan di Jatinangor. Tapi, karena situasi dan kondisi program regional dipercepat menjadi pada semester dua. Oleh karena itu, bila tidak ada perubahan, 750 dari 1500 orang muda praja angkatan XXI IPDN akan berangkat menuju regional pada tanggal 15 Maret 2011, 100 orang tiap regional kecuali Mataram 150 orang. Proses penentuan regional masing-masing orang nya, tergantung minat yang telah dipilih oleh setiap pribadinya, walaupun pada akhirnya kebijakan lembaga lah yang menentukan.



Minggu, 13 Februari 2011

Catatan ringan : keluhan dan harapan

Sebuah masa telah terlewati dan kini saya telah memasuki masa, sebuah fase baru dalam kehidupan ini. Tak terasa memang, tapi inilah keadaannya. Kini, saya telah menjadi seorang praja, Muda Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri Angkatan XXI, sebuah Perguruan Tinggi Kedinasan pencetak aparatur pemerintahan. IPDN merupakan PTK di bawah lingkungan Kementerian Dalam Negeri. Bukan hal yang mudah memang untuk bisa masuk dan akhirnya dilantik menjadi seorang Muda Praja. Setidaknya ada lima tes yang harus dilewati untuk bisa masuk ke IPDN. Dimulai dari Psikotest, tes kesehatan, tes kesamaptaan, tes akademik dan Pantukhir. Seperti kebanyakan orang lainnya, saya pun tidak hanya berpangku tangan atau hanya mengandalkan IPDN sebagai tujuan tempat kuliah. Prinsip Hope for the best and prepare for the worst, sangat cocok dan harus kita terapkan di setiap pilihan yang akan kita buat. Begitu juga dalam hal ini. Saya mencoba menyiapkan pilihan lainnya sebagai bentuk usaha saya dalam menata masa depan, karena pada hakikatnya manusia hanya diwajibkan untuk berusaha diiringi dengan doa dan menyerahkan segala apapun hasilnya pada Allah Swt.

Cita-cita utama, bila tidak boleh saya katakan sebagai ambisi, adalah masuk dan bersekolah di IPDN. Pilihan kedua yang saya tentukan pada waktu itu adalah masuk ke UI, jurusan HI atau Ilmu Politik dan pilihan ketiga atau pilihan terakhir saya adalah STAN. Ketiga pilihan itu memang sangat beragam dan bahkan tidak sesuai dengan jurusan IPA yang saya pilih dan jalani di SMA, karena memang hal yang mendasari kenapa saya memilih jurusan IPA bukan karena kemampuan tapi murni karena hanya ingin melatih diri ini berpikir logis dan runtut. Hal yang menjadi prinsip dan acuan saya dalam menentukan ketiga pilihan tadi adalah semua pilihan yang saya buat harus benar-benar sesuai dengan hati, minat dan kemampuan yang saya miliki, bukan berdasarkan paksaan dan gengsi semata atau alasan-alasan lainnya. Semua pilihan yang saya buat harus murni dari suara hati.

Setelah rencana dan pilihan telah saya tentukan, saya pun mulai melakukan usaha-usaha guna mewujudkan semua itu. Dimulai dengan mengikuti SIMAK UI, UMB, UM STAN dan tentunya tes masuk IPDN. Dan Alhamdulillah, saya bisa lulus tes UMB ke UI Jurusan Ilmu Politik, lulus STAN D1 Bea Cukai dan lulus tes IPDN. Sebuah anugerah, sebuah hadiah yang begitu indah dari Allah Swt. Tapi di saat itulah masalah lain datang menghampiri. Hati mulai bimbang untuk menentukan, mulai banyak saran yang datang. Saran yang mayoritas hanya bersandar kepada penilaian subjektif perorangan. Dan pada akhirnya, saya tetap mantap untuk memilih IPDN.
Dengan fakta bahwa saya mempunyai dua pilihan lain selain IPDN, yang dari awal memang kurang disetujui oleh keluarga dekat saya yang tidak bisa dipungkiri sedikit banyak telah terpengaruh oleh pemberitaan buruk IPDN tujuh tahun belakangan ini. Akhirnya pilihan saya pun menjadi kurang populer. Tapi sekali lagi saya tekankan, dalam memilih setiap pilihan yang ada saya benar-benar ingin menyandarkan dan mendasari itu semua berdasarkan hati, cita-cita dan keinginan. IPDN merupakan cita-cita saya, karena saya sangan tertarik dengan dunia birokrasi beserta segala budayanya dan ilmu pemerintahannya. Selain itu dengan masuknya saya ke IPDN, kita sudah pasti menjadi bagian dari birokrasi itu sendiri dan secara teori jenjang karir kita nantinya setelah lulus sudah dapat kita perkirakan dan terjamin. Kita juga tidak perlu lagi dipusingkan dengan segala biaya kuliah, makan dan segala hal lainnya yang biasanya menjadi beban bagi seorang mahasiswa. Kita hanya tinggal fokus belajar, menaati segala peraturan yang ada dan akhirnya lulus menjadi seorang PNS golongan III/A.


Tapi ternyata IPDN tak seindah yang saya pikirkan, ternyata IPDN Belum berubah seperti yang saya bayangkan. Mungkin benar pihak lembaga telah melakukan segala daya dan upaya nya untuk membenahi sistem yang ada sehingga IPDN bisa menjadi lembaga pendidikan tinggi yang lebih baik lagi dan tidak mengulangi kesalahn yang sama di masa lalu. Perubahan disana-sini telah mereka lakukan, tapi merubah kultur memang tidaklah mudah untuk dilakukan. Mungkin secara prosedur dan struktur IPDN sudah mampu berubah kearah yang lebih baik, tapi secara kultur IPDN bukanlah tempat belajar yang kondusif bagi peserta didik di dalamnya. Secara kurikulum, IPDN mempunyai kurikulum yang sangat besar dan hebat, yaitu kurikulum JarLatSuh (Pengajaran, Pelatihan dan Pengasuhan). Sebuah kurikulum yang dibuat untuk mendidik dan melatih secara langsung tiga potensi dalam diri setiap peserta didiknya, yang disebut praja, yaitu Pengajaran untuk kognitif, Pelatihan untuk apektif dan Pengasuhan untuk psikomotorik. Karena memang untuk menjadi seorang aparatur yang baik, yang mampu melakukan sebuah pelayanan yang optimal terhadap masyarakat, diperlukan seorang aparatur yang mempunyai wawasan yang luas, skill yang hebat didukung dan sikap dan perilaku yang baik. Maka disinilah semua itu dilatih, di bidang Pengajaran dalam bentuk kuliah seperti pada umumnya dimaksudkan agar praja mengusai berbagai disiplin ilmu beserta segala teorinya, Pelatihan dalam bentuk praktek dan setiap akhir semesternya dilakukan Praktek Lapangan bertujuan untuk mengasah skill praja dalam menguasai dan menerapkan berbagai ilmu pemerintahan dalam dunia nyata di pemerintahan desa, kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi dan Pengasuhan untuk membentuk sikap disiplin, loyal dan respect, yang dilakukan dalam dunia asrama, yang dipenuhi dengan segala aturan yang sangat mengikat.

Secara teori kurikulum JarLatSuh ini sangat ideal dalam membentuk seorang kader aparatur pemerintahan dalam negeri. Tapi dalam praktek nya dilapangan, ketiga komponen tadi belum mampu untuk disinergikan dan yang terjadi adalah komponen Pengasuhan masih menjadi yang utama, mengalahkan komponen Pengajaran dan Pelatihan. Kesalahan yang terjadi disini adalah kuarangnya kordinasi dari setiap komponen tadi, yang terjadi adalah ketiga komponen tadi seperti berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya visi misi yang sama. Inilah yang menjadi kultur di IPDN, sebuah kultur yang kurang kondusif. Praja lebih disibukan dengan bidang Pengasuhan daripada Pengajaran dan Pelatihan. Tidak dipungkiri memang, Pengasuhan dengan segala aturannya, berusaha untuk menanamkan rasa korsa (komando satu rasa), performance, disiplin, loyal dan respect di dalam diri setiap praja. Oleh karena itu, setiap kesalahan yang ada, maka hukuman kolektif yang akan diperlakukan. Disiplin, loyal dan respect memang sangat diperlukan, tapi ketiga hal itu harus diimbangi dengan ilmu dan skill yang mumpuni dari setiap praja. Karena tanpa ilmu, disiplin, loyal dan respect yang ada hanyalah semu dan kosong. Fisik menjadi yang utama daripada otak, itulah kesan yang ada di IPDN.

Setelah lima bulan berjalan hidup di dunia IPDN, sempat terlintas penyesalan. Sempat terpikir di dalam benak, kenapa dulu tidak memilih UI atau STAN, yang mungkin lebih baik yang mungkin jauh lebih kondusif dalam hal pembelajaran. Tapi itu semua hanyalah pikiran-pikiran yang hanya membuat kita lemah dan patah semangat. Tidak ada gunanya menyesali setiap pilihan yang telah kita buat, tidak ada gunanya meratapi hal-hal yang telah berlalu. IPDN adalah pilihan saya, dan menjadi seorang birokrat adalah cita-cita saya. Maka setiap konsekuensi yang ada diakibatkan oleh pilihan itu, saya harus mampu terima dan menjalani nya. Saya tidak boleh menjadi seorang pecundang yang hidup di masa lalu. Saya, kita semua harus berorientasi ke masa depan dan menjadikan masa lalu sebagai suatu pembelajaran yang sangat berharga. Menikmati semua yang ada di IPDN sebagai suatu pendidikan untuk membentuk saya menjadi seorang yang kuat dan lebih baik lagi. IPDN dalah sebuah lembaga besar yang pasti akan selalu berusaha berubah menjadi lebih baik dan membenahi setiap sistem yang belum benar. Karena IPDN merupakan lembaga pendidikan tinggi kepamong prajaan. Saya bangga menjadi Praja! And I’m refuse to REGRET!!

Sabtu, 12 Februari 2011

Valentine's Day


Berawal dari sebuah kisah, kisah legenda di masa lampau.
Tentang masyarakat Romawi dengan dewanya, tentang Valentine yang mati dibunuh Claudius.
Munculah sebuah tradisi, tradisi perayaan kasih sayang dengan nama Valentine's Day, 14 Februari setiap tahunnya.


Sungguh itu hanya merupakan tipu daya belaka.
Suatu upaya pembenaran terhadap kemaksiatan.
Alasan untuk mereka yang ingin mengumbar syahwat.
Dan melampiaskan segala hasrat.

Ironis memang, di negara ini, Indonesia
dengan mayoritas Islam agamanya.
Valentine masih menjadi sebuah perayaan, bahkan ritual bagi anak muda, mengatasnamakan globalisasi dan kebebasan.
Mereka dengan bangga merayakannya.
Berpesta, berhura-hura hingga lupa diri dan agama.
Bertindak liar tanpa batas, tak ada aturan.
Ketika ego menjadi acuan dan nafsu terbebas lepas tanpa arah.
mereka pun menjadi hina, sehina-hinanya binatang.

Dan seakan melihat peluang, produk komersil pun ikut serta memeriahkan acara.
Mereka ikut serta mengompori semua kegitan.
Bahkan secara jelas dan sadar, mereka membuat acara khusus, memfasilitasi itu semua.
Mengajak, membujuk dengan nama Valentine, dengan nama cinta.
Hanya melihat untung, tidak melihat dampak.

Sungguh kita sangat merugi, kawan.
kita telah menyerupai mereka, kaum Romawi kuno nan animis sebagai panutan.
Disaat kita telah menjadi Islam, dengan segala kesempurnaanya.
dan Muhammad sebagai rasul kita.
kita justru menggadaikan harga diri kita atas nama cinta, diatas ritual yang bukan bersumber dari agama kita.
Kita merugi, itu bukan cinta.
Itu hanya nafsu belaka, itu hanya godaan dunia fana.

Let's wake up, dude! Stand up and make a change.
peace and cheers!