Rabu, 25 Januari 2012

Perlukah Membela Tuhan ?



Rasa tenang saya tersentuh atau lebih tepatnya terganggu. Ketenangan hati ini terusik pasti oleh sebuah artikel kontroversi sedikit memprovokasi dan menyulut emosi. Sesaat setelah membaca judulnya hati ini mulai tertarik, mulai terpancing untuk sesegera mungkin mengeluarkan sebuah reaksi. Tapi saya tidak ingin menjadi orang yang bodoh, orang yang termakan nafsu emosi, saya tidak ingin menjadi orang yang bereaksi tanpa ada sebab yang pasti. Saya ingin menjadi orang yang dewasa, yang melihat segala sesuatunya secara jernih, rasional komprehensif, hanya mau untuk bersikap dan menunjukan sebuah reaksi apabila telah tau dengan pasti dan meresapi serta memahami segala sesuatunya secara utuh. Tidak beraksi bodoh hanya karena melihat secara dangkal apalagi sekedar permukaannya saja. Ya, disadari atau tidak, itu-lah penyebab utama kenapa masih banyak diantara kita yang bertengkar tak jelas hanya karena masalah sepele dan akhirnya mudah terprovokasi, hal itu karena kita mudah untuk terpengaruh, mudah terhasut, mudah terpancing hanya oleh sesuatu yang sebenarnya kita tidak tau pasti apa akar masalahnya. Kita hanya melihat secara kasar dari luarnya saja.

Dan sekali lagi, bereaksi tanpa sebab atau tanpa terlebih dahulu memahami apa yang sedang dihadapi adalah sesuatu hal yang paling saya hindari dan jauhi. Begitu halnya dalam permasalahan ini, artikel atau tulisan yang ada di situs atau forum sosial ternama di Indonesia, yaitu Kaskus, benar-benar sebuah judul yang sangat provokatif. Dan judul itu memang sangat ampuh untuk membuat orang mau dan penasaran untuk membaca tulisan itu, dan begitu pun dengan saya, saya benar-benar termakan oleh judul itu dan tanpa pikir panjang segera untuk membuka tulisan itu dan membaca serta memahami apa yang sebenarnya dimaksudkan dalam tulisan itu. Tulisan ( atau biasa disebut dengan “Threads” ) itu dibuat oleh seseorang dengan nama alias ( Kaskus ID ) FutureKing.
Check this out!




Tuhan TIDAK PERLU DIBELA!!




SUMBER

Membela

Di kamus bahasa Indonesia membela diartikan menjadi:

be•la ark v, mem•be•la v 1 menjaga baik-baik; memelihara; merawat: dia - ibunya yg sakit dng sabar; ibulah yg paling berjasa - kita sejak kecil; 2 melepaskan dr bahaya; menolong: untunglah ia masih dapat - jiwa perempuan yg malang itu;

pem•be•la n orang yg merawat;

Dapat disimpulkan dari kata di atas, orang yang membela berarti memiliki kekuatan melebihi sesuatu yang dibelanya.

Membela TUHAN atau agama

Bila seseorang dengan bangganya dapat berkata: “Aku membela TUHAN-ku” atau “Aku membela agamaku”, sesungguhnya ia menghujat atau memperkecil TUHAN atau agamanya. Mengapa demikian? Karena konsep berpikir dari orang tersebut meletakkan dirinya lebih besar dari TUHAN atau agamanya, dengan demikian dia seolah-olah menyatakan bahwa ia mampu melebihi TUHAN maupun agamanya.

Ironis bukan? Orang yang berkata membela seperti di atas sesungguhnya adalah orang yang paling tidak beriman terhadap ajaran agamanya karena ia menganggap TUHAN-nya tidak berkuasa atas perkara tersebut hingga IA perlu pembelaan dalam perkara itu. Atau agamanya seolah-olah tidak mampu untuk berbuat apa-apa tanpa dirinya. Jika demikian halnya, apa perlunya orang lain menghargai ajaran yang ia anut maupun TUHAN yang ia sembah?

Q & A

Q : Bukankah kita tidak boleh diam jika agama/kepercayaan kita dihina/dicela? Banci amat donk kalau cuma diam-diam aja?

A : Kalau kamu balas menghina mereka, apa bedanya kalian sama mereka? Bukankah penghakiman adalah urusan Tuhan? Mengapa kita sok saling menghakimi, padahal kita sendiri belum tentu benar?

Q : Bukankah kita harus membela Tuhan terlebih dahulu baru Tuhan akan menolong kita? Keajaiban dan pertolongan Tuhan itu ga gratis gan...

A : Apakah nafas kehidupan manusia tidak termasuk kedalam kejaiban Tuhan? Lihatlah ke sekelilingmu,

Bukankah Orang yang paling suci dan paling bejat yang kamu kenal, keduanya diberi nafas kehidupan oleh Tuhan?
Bukankah Orang paling taat melaksanakan ibadah sesuai agamamu, dan orang paling kafir yang kamu kenal keduanya diberi nafas kehidupan juga?

Tuhan tidak pernah meminta kita untuk membelanya! Tuhan dapat menolong orang-orang yang berkenan di hadapannya, yaitu orang-orang yang menuruti firmannya untuk mengasihi satu sama lain.

Jika Tuhan berkehendak, bukankah orang paling jahat pun dapat bertobat menjadi orang paling baik?
Bukankah mukjizat dan kuasa Tuhan berlaku untuk semua mahluk, bukan hanya pada satu agama spesifik?
Bukankah terdapat rencana Tuhan dibalik masing-masing orang?

Kenapa kita berbuat seolah-olah kita membatasi kuasa Tuhan, yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang?

Q : Bukankah kita berbuat kebaikan bagi Tuhan, jika kita menyingkirkan manusia-manusia kafir dari muka bumi?

A : Berbuat kebaikan dari mana?! Apakah kamu sadar, yang sedang kamu sakiti, dan kamu aniaya adalah sama-sama CIPTAAN TUHAN? Bukankah Tuhan mempunyai maksud dengan menciptakan masing-masing manusia di dunia ini? Lalu mengapa kalian bahkan masih MENGANIAYA CIPTAAN TUHAN DENGAN MENGATAS NAMAKAN TUHAN MASING-MASING?

Q : Bagaimana kalau tidak dibela, nanti kan ajaran agama Tuhan yang saya anggap benar bisa hilang dari muka bumi

A : Sekali lagi, mengapa anda MEREMEHKAN KUASA TUHAN? Jika Tuhan Yang Maha Kuasa itu sudah berfirman, dan Dia-lah yang berkuasa atas seluruh bumi, tentu ajaran-Nya tidak mungkin hilang, bahkan akan selalu bertambah jumlah pengikutnya.

Q : Ah ini semua cuma teori lu aja, emangnya lu sanggup?

A : YA, GW SANGGUP! Dan banyak orang lain selain gw yang sanggup, dan gw berharap yg baca trit ini bakal berubah dan menghargai satu sama lain.

SATU-SATUNYA YANG DIPERLUKAN DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA DI NEGARA INI ADALAH SALING TOLERANSI SATU SAMA LAIN






Bagaimana tanggapan anda setelah membaca artikel tersebut? Sebuah artikel yang sekali lagi saya katakan disini, merupakan sebuah artikel yang kontroversi dan harus saya akui cukup berani. Logika yang dia sampaikan cukup mudah untuk dipahami kebanyakan orang. Tapi entah kenapa diri ini menolak penuh dengan opini serta persepsi yang dia kemukakan itu. Dia memang mempunyai sebuah harapan yang mulia, logika berpikir yang dia sampaikan didasari oleh sebuah cita-cita yang agung nan suci, yaitu dia menginginkan sebuah toleransi beragama yang kokoh diantara setiap umat bergama yang ada di Indonesia, terlebih dengan fakta bahwa Indonesia merupakan negara yang majemuk, sebuah negara yang apabila kita teliti lebih jauh merupakan negara yang lebih terdapat banyak faktor-faktor untuk terjadinya sebuah fragmentasi daripada sebuah integrasi. Salah satu faktor paling nyatanya adalah perbedaan dan keberagaman dalam bergama yang ada di Indonesia. Dan ya, saya pun setuju dengan harapan dia seperti itu, tapi cara serta logika berpikir yang kemudian dia tuliskan diatas untuk mencipatakan sebuah toleransi beragama yang tidak saya setujui.

Perlu saya tekankan, di sini dalam tulisan ini, saya tidak memposisikan sebagai seorang yang benar dan menghakimi bahwa dia adalah pihak yang salah, pada dasarnya dan pada hakikatnya saya sangat menghormati pendapat orang lain dan kebebasan orang lain untuk menyampaikan apa yang menjadi pendapatnya itu. Karena hal itu merupakan hak bagi setiap orang yang ada di dunia, hak menyampaikan pendapat. Tapi saya pun merasa mempunyai hak serta kebebasan itu untuk kemudian menyanggah sebuah pendapat dan mengemukakan argumentasi yang saya miliki. Jadi saya hanya ingin memenuhi hak saya untuk menyampaikan segala pendapat yang saya miliki, yang kebetulan pendapat yang saya sampaikan pada saat ini merupakan pendapat saya untuk menyanggah pendapat yang dikemukakan oleh seseorang di luar sana dengan nama alias FutureKing.
Dan ini-lah pendapat saya itu …

“Demi Masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Al-‘Asr ( 103 ) : 1-3

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena ( menjalankan ) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat;dan yang demikian itulah agama yang lurus ( benar ).”
Al-Bayyinah ( 98 ) : 5

“Serulah ( manusia ) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapatkan petunjuk.”
An-Nahl ( 16 ) : 125

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”
Ali ‘Imran ( 3 ) : 19

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh ( berbuat ) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Ali ‘Imran ( 3 ) : 104


Dalam tulisan itu dia berkata bahwa dia tidak berbicara mengenai satu agama, tapi agama secara universal. Tapi dalam menanggapi tulisan tersebut saya akan mencoba menggunakan pendekatan Islam, agama saya, sehingga pembahasan yang akan saya jelaskan bisa lebih bersifat konkrit spesifik tidak mengambang dan akhirnya justru tidak mengena. Tapi perlu saya katakan di awal, walaupun saya menggunakan pendekatan Islam dalam membahas masalah ini, sungguh saya pun baru sedikit mengerti tentang Islam, saya bukan seorang cendekiawan muslim, ustadz, kiayi, atau pun yang lainnya. Saya hanya seorang muslim biasa, yang hanya sekedar tau tapi merasa mempunyai kewajiban untuk menyampaikan “tau” itu, walaupun sungguh hanya sekecil debu. ( baca : berawal dari nifsu syaban ) Sebelum saya menulis artikel ini pun, saya terlebih dahulu berkonsultasi kepada guru agama sewaktu saya duduk di bangku SMA dan saya pikir itu sudah merupakan bukti nyata bahwa saya juga masih dalam tahap belajar mengenai permasalahan agama. Jadi saya memohon maaf dan memohon koreksi, masukan ataupun cacian dari rekan-rekan semua apabila dalam penyampaiannya nanti terdapat banayak kesalahan dan kekhilafan. Karena pada hakikatnya kebenaran itu hanya-lah milik Allah Swt.
Wallahu’alam Bishawab.

Sebenarnya tidak banyak argumen yang akan saya kemukakan untuk menyanggah pendapat yang FutureKing sampaikan, dia mempunyai pola pikir seperti itu karena konsep dasar yang dia miliki adalah apabila seseorang membela agamanya atau Tuhannya maka seseorang tersebut sombong karena berpikiran bahwa Tuhan serta agama-Nya itu perlu dibela. Dari konsep dasar ini pun jelas suatu pemikiran yang keliru dan akan menjadi benar untuk akhirnya dia berpendapat bahwa Tuhan itu tidak perlu untuk dibela. Tapi yang seharusnya menjadi konsep dasar atau melandasi pola pikir seseorang, terkhusus bagi seorang Muslim adalah bahwa perihal membela Allah dan Islam itu bukan-lah untuk menjadikan Islam lebih baik atau agar Allah tetap mulia, tapi karena semua hal itu adalah perintah Allah, tugas Allah bagi setiap muslim yang ada di dunia.

Muslim itu secara sangat sederhananya adalah mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Dalam hal ini, Allah telah secara jelas memerintahkan kepada kita selaku umat Muslim untuk mengatakan yang hak itu benar dan yang bathil itu salah, memerintahkan kepada kita agar selalu menegakan kebenaran dan menumpas kejahatan. Sungguh apabila kita tidak melakukan itu semua pun, hal itu tidak akan pernah menjadi suatu masalah bagi Allah, tak akan sedikit pun mengurangi ke-Mahabesaran Allah, tidak mengurangi sedikit pun keindahan kerajaan Allah, tapi justru hal itu menjadi kebutuhan bagi kita semua. Kita ini adalah makhluk ciptaan Allah, hidup dan kehidupan kita merupakan anugerah dari-Nya, dan Dia tidak pernah meminta lebih kepada kita selain hanya kita untuk selalu bertaqwa kepada-Nya.

Jadi membela agama Islam dan membela Allah tidak kita lakukan karena kita merasa kita “lebih” daripada Allah, tidak sama sekali, tapi karena hal itu merupakan kewajiban kita selaku umat muslim, merupakan hal yang telah diperintahkan oleh Allah kepada kita. Itu-lah konsep yang saya ketahui dalam agama saya, Islam. Dan permasalahan lain yaitu dengan cara apa kita membela agama serta Allah? Saya juga kecewa dengan pemikiran FutureKing bahwa dia hanya menyempitkan pikirannya dan menggangap bahwa cara untuk membela agama itu hanya melalui sebuah kekerasan. Sebuah pemikiran yang tidak relevan! Tapi memang cukup berdasar apabila melihat fakta yang ada sekang ini. Dan konsep dasar yang harus saya tekankan disini apabila kita akan membela agama Allah adalah perlu terlebih dahulu kita sadari dan pahami bahwa hidayah itu hanya berasal dari Allah, kita manusia hanya berkewajiban untuk menyampaikan apa yang benar dan apa yang salah, kita hanya berkewjiban untuk saling menasihati, menegur dan mendoakan dalam kebaikan, apabila kita telah melakukan itu semua maka telah lepas-lah kewajiban kita dan selebihnya itu menjadi tanggung jawab setiap orangnya. Jadi, ketika kita melihat suatu kemungkaran, suatu kesalahan, agama kita dihina orang, dihujat orang, maka langkah awal yang perlu kita lakukan adalah melawan itu semua, menyerang itu semua dengan kemampuan yang kita miliki dengan cara-cara yang positif destruktif serta elegan. Kita katakan kepada mereka melalui tulisan, orasi ataupun media-media yang ada lainnya bahwa mereka itu salah dan argumennya adalah seperti ini lalu kita jelaskan kepada mereka bahwa yang benar itu ini dan argumentasinya adalah ini. Ya, cara-cara yang cerdas, tidak dengan cara yang kasar nan keras. Dan tidak juga hanya diam! Karena selemah-lemahnya kita, kita tetap diwajibkan untuk berdakwah walaupun hanya dengan sebaris doa. Dan seperti hal-nya saya sekarang ini, menulis merupakan cara yang paling efektif dan paling bisa untuk menjauhi kekerasan secara fisik. Ini saya anggap sebuah pembelaan terhadap agama Allah, agama saya.

Adapun sikap toleransi yang semua orang idam-idamkan, yang FutureKing idamkan dan juga saya idamkan tidak harus dan tidak hanya mampu tercipta apabila kita tidak membela agama kita masing-masing. Tapi akan mampu untuk terwujud apabila kita meletakan fondasi dasar, “untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” Kita saling menghargai dan menghormati setiap agama dengan tidak menggangu sedikit pun orang lain dalam beribadah menurut agamanya masing-masing dan yang seperti yang telah diakui dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. ( baca : MK pertahankan UU Penodaan Agama ). Tapi tetap melakaukan kerja sama secara baik dan sehat dalam urusan duniawi. Sehingga yang perlu kita garis bawahi di sini adalah untuk mampu melakukan toleransi yang baik maka kita harus mampu memisahkan secara jelas dan pasti mana urusan agama dan mana urusan dunia, sehingga ketika kita melakukaan suatu kerja sama dan hubungan dengan orang lain dengan mereka yang bukan seagama, kita akan mampu menerapkan batas-batas tersebut sehingga tidak akan pernah menyinggung apalagi menghina perasaan orang lain. Dan apabila masih ada oknum yang tetap mencaci salah satu agama atau secara sadar menghina suatu agama maka toleransi yang harus kita lakukan adalah tidak membalas hinaan tersebut dengan juga hinaan tapi kita kembali kepada konsep dasar yang telah saya kemukakan di atas, kita sampaikan kepada meraka mana yang benar dan mana yang salah secara cerdas dan elegan. That’s it!
Tidak harus dengan kekerasan bukan?

Jadi menutup tulisan ini saya sekali lagi tekankan sekaligus simpulkan bahwa saya tidak setuju dengan tulisan yang ditulis oleh saudara FutureKing berkenaan dengan bahwa Tuhan Itu tidak harus dibela. Tulisan tersebut cenderung membuat kita menjadi seorang yang pasif dan mati rasa serta apatis terhadap situasi yang ada. Itu merupakan suatu pemikiran yang saya pikir cenderung sekuler. Agama dalam hal ini Islam, harus dibela harus ditegakan bukan karena Islam itu butuh untuk dibela atau karena kita dalam posisi yang “lebih” dibandingkan Allah, tidak sedikit pun! Tapi itu semua wajib kita laksanakan karena merupakan tupoksi kita sebagai seorang muslim, bahwa kita ini harus selalu tunduk, taat dan patuh terhadap Allah Swt, terhadap segala yang Dia perintahkan dan segala yang Dia larang. Allah secara jelas memerintahkan kita untuk selalu menegakan kebenaran, dan Islam serta Allah Swt. merupakan suatu kebenaran yang hakiki maka sudah seharusnya bagi kita untuk menegakannya. Adapun bial kita tidak mau untuk melakukan itu semua maka yang kan merugi adalah kita sendiri karena tidak menjalankan perintah Allah itu berarti kita tidakk akan mendapatkan pahala dan justru akan mendapatkan dosa. Karena Allah memberikan pahala kepada kita untuk setiap Kebaikan yang Kita USAHAKAN dan memberikan hukuman atau dosa kepada kita untuk setiap kemungkaran yang kita LAKUKAN. See the different!
Wallahu’alam Bishawab.


“Toleransi itu ada bukan dengan hanya diam tak ada reaksi tapi justru mampu dan akan terwujud serta terjaga dan tertanam abadi apabila kita mampu untuk bereaksi secara cerdas dan pasti menanggapi segala perbedaan yang ada dan hadir setiap hari.”


Minggu, 15 Januari 2012

D-IV atau S1 ?



Suatu malam pada hari Sabtu, tanggal 14, bulan Januari, tahun 2012, berlatar tempatkan teras masjid Al-Ilmi IPDN Kampus Kalimantan Barat, terjadi satu percakapan ringan sangat sederhana tapi kemudian mampu untuk membuat otak ini menjadi rumit karena terus memikirkan substansi dari apa yang diperbincangkan itu, terlalu rumit sehingga saya pikir perlu untuk dituangkan dalam sebuah narasi penuh kata, tidak berpetuah dan tidak juga indah. Tapi cukup-lah untuk sekedar berbagi ide dan informasi yang pastinya tidak sesat.

Dan ini-lah percakapan singkat itu :
HP ( inisial teman saya ) : “Dim, kamu lebih milih mana, S.IP atau S.STP ?”
Saya : “mmm….pengennya sih S.IP”
HP : “Kenapa, Dim? Kata orang kan kalo S.STP tuh lebih baik buat karir dan kata orang juga S.IP tuh lebih condong buat jadi dosen.”
Saya : “Wah gak tau sih kalo masalah yang kayak gitunya, tapi saya ingin S.IP karena yang saya tau S.IP itu lebih mudah untuk nantinya kita mau nerusin ke S2, nah kalo S.STP itu gak semua universitas mau nerima untuk langsung bisa ke S2, jadi kayak yang terbatas gitu.”
HP : “ooh…gitu ya!”
Saya : “Tapi terserah aja sih, toh ntar ujung-ujungnya tetap III/a.”
HP dan Saya : Tertawa lepas menutup perbincangan singkat itu.

Sejarah baru telah diciptakan di lingkingan pendidikan kedinasan pencetak kader-kader aparatur pemerintahan, Institut Pemerintahan Dalam Negeri ( IPDN, baca : Selayang Pandang IPDN ). Di sekolah para calon-calon birokrat ini, dimulai dari angkatan XIX dan efektif berjalan pada januari 2012 ini, diselenggrakan pendidikan S1 di IPDN Kampus Cilandak. Yang menjadi spesial dan menjadi sebuah sejarah baru adalah program S1 itu adalah merupakan program pengalihan, bukan merupakan program pasca-sarjana seperti biasanya. Jadi, dimulai dari angkatan XIX dan seterusnya ( dengan catatan tidak ada lagi perubahan kebijakan di tengah jalan ) akan ada dua gelar berbeda dalam satu angkatan, yaitu sebagian akan bergelar S.IP dan yang lainnya akan tetap bergelar S.STP. Sejatinya semenjak dari angkatan V, IPDN ( dulu STPDN ) merupakan pendidikan vokasi yang menyelenggrakan program Diploma IV ( D-IV) yang setingkat dengan S1, sehingga lulusan yang dihasilkannya secara otomatis mendapatkan gelar S.STP, pendidikan S1 sendiri memang ada di IPDN ( dulu IIP ), tapi merupakan program yang berbeda. Dan terobosan kali ini adalah setelah setiap praja kembali berkumpul pada tingkat empat semester VII di IPDN Kampus Pusat Jatinangor, diantara mereka dipilih yang terbaik, yang memenuhi syarat ( IPK minimal 3,25 ) untuk dialih programkan ke jenjang S1, sedangkan yang lainnya tetap pada program semula yaitu D-IV.

Jadi secara sederhanya alur pendidikan di IPDN adalah : pada tingkat pertama semester I semua berkumpul dan mendapatkan kuliah yang sama di IPDN Kampus Pusat, pada semester dua mereka mulai disebar ke setiap Kampus Daerah ( baca : Kampus Daerah dan Semangat Perubahan ), pada tingkat dua semester III mulai dilakukan penjurusan ( ada dua fakultas dan delapan jurusan atau program studi ), kemudian pada tingkat empat semester VII kembali berkumpul di IPDN Kampus Pusat Jatinangor, kemudian dipilih yang ( katanya ) terbaik ( sekitar 100 praja ) diantara mereka untuk kemudian dialih programkan ke S1 di IPDN Kampus Cilandak, dan yang lainnya tetap di IPDN Kampus Pusat untuk tetap meneruskan studinya di program D-IV.

Sebagian diantara kami menganggap program tersebut sebagai sebuah diskriminasi tapi secara jujur nan jantan saya adalah mungkin salah satu dari sedikit orang yang setuju atau tidak berkeberatan sama sekali dengan namanya diskrimasi atau nepotisme sakalipun. Tapi diskriminasi dan nepotisme yang saya setujui disini harus memenuhi beberapi syarat dan pada hakikatnya merupakan diskriminasi dan nepotisme dalam kebaikan. Saya setuju untuk dilakukannya diskriminasi atau pembedaan dalam memberlakukan sesuatu hal atau seseorang apabila pembeda tersebut dilakukan berdasarkan kualitas sesuatu hal dan seseorang tersebut. Ilustrasinya adalah seperti ini, pada kenyataanya dan secara adilnya tentu kita tidak bisa memberlakukan sama antara satu orang dan orang lainnya karena diantara dua orang itu ada satu diantaranya yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan yang lainnya, dalam hal pendidikan misalnya tentu orang-orang yang pintar/cerdas harus mendapatkan sesuatu hal yang lebih, misalnya beasiswa, dan ini-lah suatu bentuk diskriminasi itu, semua orang tidak bisa dan tidak akan pernah bisa mendapatkan beasiswa, tapi beasiswa itu hanya diberikan kepada mereka yang pintar/cerdas saja. Pun dengan nepotisme, apabila ada dua orang atau lebih yang memperebutkan suatu posisi tertentu dalam suatu bidang apapun itu, dua orang atau lebih tersebut memilki kemampuan yang sama persis, sama kuat, dan pada akhirnya yang terpilih adalah ternyata dia yang memilki hubungan kekerabatan/saudara dengan orang yang mempunyai kebijakan untuk menentukan pengisian posisi tadi, maka hal tersebut menjadi sangat bisa saya maklumi. Karena bagi saya nepotisme itu menjadi wajar di era sekarang ini ( baca : Api-Asap, Sebab-Akibat ), dengan catatan orang tersebut harus setidaknya memilki kemampuan di bidang yang akan dia isi dan seminimal-minimalnya kemampuanya itu juga harus sama dengan para pesaingnya serta syukur-syukur mampu untuk lebih. Itu-lah diskriminasi dan nepotisme yang saya pikir wajar apabila kita lakukan.

Dengan pemikiran saya seperti itu, saya menjadi kurang setuju dengan pendapat bahwa program pengalihan dari D-IV ke S-1 merupakan suatu diskriminasi dalam hal yang buruk, tapi itu merupakan diskrimansi yang baik, karena yang mampu sudah seharusnya mendapatkan apa yang mereka mampui tersebut. Lantas, apa beda D-IV dan S1? Untuk menjawab pertanyaan itu, saya akan sertakan informasi-informasi yang saya himpun dari berbagai sumber.




Perbedaan D4 dan S1




aaghof.blogspot.com
Perbedaan D4 dan S1

Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi, pada Bab VII Gelar dan Sebutan Lulusan Perguruan Tinggi pasal 22, bahwa gelar antara Program D4 dengan Program S1 adalah sama-sama sarjana, untuk Sarjana (pendidikan akademik) penggunaan gelar dengan mencantumkan huruf S disertai singkatan nama kelompok bidang ilmu, dan untuk Diploma 4 (pendidikan profesionalisme) penggunaan gelar dengan mencantumkan huruf S.ST (Sarjana Sains Terapan). Sedangakan untuk beban studi antara Program Sarjana dengan D4 adalah sama (Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 232/U/2000)

Jadi dapat disimpulkan bahwa program Pendidikan Profesional Diploma IV dengan gelar profesional Sarjana Sains Terapan memiliki tingkat yang sama dengan Program Pendidikan Akademik dengan gelar akademik Sarjana.








Kesetaraan D4 dengan S1




www.posradiografer.com
Kesetaraan D4 dengan S1

Berikut beberapa kutipan dari Forum Direktur Politeknik Negeri mengenai D4, semoga bermanfaat.

Oleh : Forum Direktur Politeknik Negeri
Jakarta, 31 Oktober 2008

Salah satu bagian dari UU No:20/2003 perihal SISDIKNAS menyebutkan bahwa proses pendidikan dapat dilakukan secara formal, nonformal maupun informal. Pendidikan formal dilakukan terstruktur, berjenjang yang didalamnya terdapat juga unsur pelatihan untuk mendapatkan ketrampilan, serta ditandai kelulusannya dengan ijazah serta gelar/sebutan yang mengimajinasi bahwa yang bersangkutan telah menyelesaikan pendidikan formal pada jenjang tertentu. Sedangkan nonformal adalah berupa pelatihan – pelatihan diluar pendidikan formal guna mendapatkan ketrampilan untuk melengkapi proses pendidikan formal. Selanjutnya proses pendidikan informal dapat dilakukan lebih fleksibel dilingkungan keluarga.

Berdasarkan UU No. 20/2003 tentang SISDIKNAS, sesuai dengan sebutannya, yakni Pendidikan Tinggi Vokasi, maka perbedaannya yang utama dengan Pendidikan Tinggi Akademik adalah pada Pendidikan Tinggi Vokasi jumlah jam-jam pelatihan yang harus diselesaikan adalah lebih banyak. Pendidikan Tinggi D4 Politeknik (Sarjana Sains Terapan) adalah Program Sarjana yang dilaksanakan di lingkungan Pendidikan Tinggi Politeknik. Dengan demikian dalam proses pendidikannya, Program Sarjana Sains Terapan D4 Politeknik ini harus menyediakan perangkat kurikulum yang mengakomodasi jam pelatihan lebih besar dibandingkan Program Sarjana yang dari jalur Pendidikan Tinggi Akademik.

Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa salah satu ciri Pendidikan Tinggi formal adalah dianugerahkannya gelar/sebutan didepan atau dibelakang nama yang bersangkutan sesuai dengan jenjang program Pendidikan Tinggi formal yang telah diselesaikannya. Gelar/sebutan tersebut haruslah mengimajinasi sebagai gelar pendidikan formal yang mempunyai kesetaraan di dunia pendidikan Internasional, utamanya untuk gelar kesarjanaan. Hal ini penting sebagai pengakuan administratif saat yang bersangkutan akan bergabung dengan dunia usaha dan dunia industri atau pada saat yang bersangkutan ingin melanjutkan studi di dalam negeri atau keluar negeri.

Dibawah ini adalah beberapa regulasi pemerintah yang telah mengatur keberadaan program Sarjana Sains Terapan D4 Politeknik, serta Program Sarjana dari jalur Akademik:
KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 234/U/2000 TENTANG PEDOMAN PENDIRIAN PERGURUAN TINGGI.
Pasal 1 ayat 16. Program Diploma IV selanjutnya disebut Program D IV adalah jenjang pendidikan profesional yang mempunyai beban studi minimal 144 satuan kredit semester (sks) dan maksimal 160 sks dengan kurikulum 8 semester dan lama program antara 8 sampai 14 semester setelah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.

Pasal 1 ayat 17. Program Sarjana selanjutnya disebut Program S1 adalah jenjang pendidikan akademik yang mempunyai beban studi antara minimal 144 satuan kredit semester(sks) dan maksimal 160 sks dengan kurikulum 8 semester dan lama program antara 8 sampai 14 semester setelah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.

Langsung pada kesimpulan
1. Kualitas pendidikan teknik di beberapa Politeknik dengan program D4 yang mendidik menjadi seorang Sarjana Sains Terapan, sudah bisa mempunyai kualitas yang sejajar dengan pendidikan sarjana teknik yang ada di Universitas maupun Institut.
2. Berdasarkan KEPMENDIKNAS 234/U/2000, KEPMENDIKAS 232/U/2000 serta PP 60 tahun 1999, menjelaskan bahwa, lulusan S1 dan D4 mempunyai beban studi yang sama yakni 144 SKS, serta mempunyai beban tanggung jawab yang sama di dunia kerja.
3. Ciri Pendidikan Tinggi formal adalah dianugerahkannya gelar/sebutan didepan atau dibelakang nama yang bersangkutan sesuai dengan jenjang program Pendidikan Tinggi formal yang telah diselesaikannya. Gelar/sebutan tersebut haruslah mengimajinasi sebagai gelar pendidikan formal yang mempunyai kesetaraan di dunia pendidikan Internasional, utamanya untuk gelar kesarjanaan. Hal ini penting sebagai pengakuan administratif saat yang bersangkutan akan bergabung dengan dunia usaha dan dunia industri atau pada saat yang bersangkutan ingin melanjutkan studi di dalam negeri atau keluar negeri.
4. Kerjasama Internasional yang sudah dilakukan beberapa Politeknik adalah atas dasar pengembangan pendidikan Sarjana (Bachelor).
5. Gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST) untuk para lulusan D4 Politeknik seperti yang termaktub dalam Peraturan Pemerintah No:60 Tahun 1999 Pasal 22 ayat 3 adalah sudah benar adanya. Gelar ini sama dengan gelar Bachelor of Applied Science untuk lulusan University of Applied Science di negara-negara maju seperti yang sudah disebut diatas.










Apa itu Diploma IV (D4) ?




tatok.blog.ugm.ac.id
Apa itu Diploma IV (D4) ?

Pada beberapa kesempatan, sering saya baca pertanyaan mengenai Diploma IV atau D4. sebagian besar pertanyaannya bisa dikelompokkan menjadi dua: Apa itu D4 dan apa bedanya dengan S1.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus membagi jalur pendidikan menjadi dua, jalur akademis dan jalur profesional.
Menurut beberapa referensi, jalur akademis terdiri dari S0-S1-S2-S3 atau Strata 0 (non gelar) – strata 1 (Sarjana) – strata 2 (Master) – strata 3 (Doktor), sedangkan jalur profesional terdiri dari D1 (Diploma satu)-D2(diploma dua)-D3 (diploma tiga)-D4 (diploma empat)-Sp1(spesialis satu)-Sp2(spesialis dua).

Program pendidikan D3 mungkin sudah sering kita dengar tapi D1, D2,D4, sp1 dan sp2 yang mungkin tidak begitu akrab ditelinga masyarakat luas. Bisa dikatakan D1 itu program kuliah satu tahun, D2 dua tahun dan D3 tiga tahun, sedangkan D4 empat tahun. D4 itu setara dengan S1/Sarjana di jalur profesional, sedangkan spesialis satu itu setara dengan Master, sp.2 setara dengan Doktor.

Mungkin lebih mudah dicontohkan di bidang kedokteran jalur akademisnya adalah S.Ked (S1), M.Si/MPH (S2), dan Dr (S3), sedang jalur profesionalnya dr/dokter, spesialis 1 (Sp.A/Sp.B/dst) dan speasialis 2 (Sp.A(K)/sp.B(K)/dst). namun di sini sepertinya dokter tidak bisa di samakan dengan D4 tapi mungkin Spesialis 0.
Selanjutnya, apa beda D4 dengan S1?

Dilihat dari jumlah SKS yang harus diambil, D4 dan S1 sama banyaknya, yaitu 144 SKS, tapi kalau dilihat dari kurikulumnya, D4 menitik beratkan pada skill sehingga 60% praktek dan 40% Teori, sebaliknya S1 lbih menekankan pada aspek analitis dengan 40% Praktek dan 60% Teori.

Diharapkan lulusan D4 ini akan siap untuk bekerja, sedangkan lulusan S1 diarahkan ke bidang Riset dan disiapkan untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi sampai jenjang akademis Doktor.

Menurut wikipedia, program D4 sudah ada pada sekitar 50 persen dari politeknik negri di Indonesia yang berjumlah 26 buah. Sedangkan untuk Universitas, secara resmi belum ada, namun ITB juga membuka D4 namun dalam bentuk kerjasama dengan lembaga atau instansi.

Menurut kabar, Universitas Gadjah Mada malalui Sekolah Vokasi sedang mengajukan proposal pendirian D4 Teknik Elektronika dan D4 Teknik Informatika. kita doakan semoga segera bediri dan ikut meramaikan pendidikan profesional di Indonesia.

Sedangkan Bidang studi yang mebuka program D4 diantaranya adalah
D4 Teknik Elektronika
D4 Teknik Telekomunikasi
D4 Teknik Elektronika Industri
D4 Teknik Mekatronika
D4 Teknologi Informasi / Teknik Informatika
D4 Teknik Komputer
D4 Akuntansi
D4 Statistika

Bagaimanakah prospek D4?
Sementara ini karna masih belum akrabnya dunia Industri dengan D4 maka belum semua kalangan industri maupun calon mahasiswa mengenal D4, malah ada HRD salah satu perusahaan yang belum tahu D4 sehingga dimasukkan ke level D3, namun setelah kami kunjungi, kami beri pengertian apa itu D4. Sehingga PENS sampai menamai robotnya D4=S1 guna mempromosikan D4 dikalangan masyarakat.

Namun jangan khawatir, seiring dengan perkembangan waktu, saat ini lulusan D4 yang lebih siap kerja dibanding S1 sudah mulai diperhitungkan oleh dunia industri, lambat laun, kami optimis tidak akan lama lagi, tenaga profesional seperti pada level Engineer akan lebih banyak diambil dari lulusan D4, karna memang D4 lah yang disiapkan untuk langsung bekerja dan dibekali ketrampilan yang lebih daripada S1.
Untuk pegawai negri, alhamdulillah jenjang D4 sudah disamakan dengan S1 sehingga pertama masuk langsung masuk ke Golongan IIIA sebagaimana lulusan S1.

Bagaimana untuk studi lanjut?
Lulusan D4 tentu bisa langsung melanjutkan ke jenjang S2 karna setara dengan S1. hanya sebaiknya memang melanjutkan ke jenjang S2 profesional seperti misalnya MM/MBA dan DBA untuk bidang ekonomi.









Lulusan D4 bisa melanjutkan ke S2




tatok.blog.ugm.ac.id
Lulusan D4 bisa melanjutkan ke S2

Dari beberapa pertanyaan mengenai, apakah lulusan D4 bisa lanjut ke S2 Reguler (bukan Spesialis 1 dan spesialis 2?)

Saya temukan beberapa Universitas yang secara resmi menyatakan BISA menerima lulusan D4 untuk lanjut ke S2. Universitas yang lain walau resminya menyatakan tidak menerima D4, tapi pada kenyataannya saya temukan alumni D4 di program S2 mereka.
Perguruan tinggi yang resmi menerima D4 itu salah satunya adalah ITB, sesuai dengan SK Senat Akademik ITB NO. 20/SK/K01-SA/2006






Perdebatan yang ada di kalangan kami adalah terbangunnya suatu image bahwa S1 itu lebih baik daripada D-IV, dan S1 itu tempatnya orang-orang pintar sedangkan D-IV hanya-lah untuk mereka yang berkemampuan biasa-biasa saja. Hal itu, pola pikir seperti itu-lah yang saya pikir membuat kondisi menjadi agak kurang nyaman. Padahal sebenarnya, secara normatif aturannya, bisa rekan-rekan semua baca lagi dari tulisan-tulisan yang telah saya sertakan diatas, bahwa D-IV dan S1 itu setingkat, perbedaan hanya pada komposisi kurikulumnya, Hanya itu! Jadi, saya pribadi juga tidak habis pikir kenapa harus dibangunnya image seperti itu, apakah seseorang dengan kemampuan teoritis lebih dianggap pintar daripada mereka yang lebih berkemampuan praktik? Saya sangat tidak setuju dengan hal itu! Saya sangat kecewa, dengan fakta bahwa yang bisa dan boleh untuk meneruskan pendidikan ke jenjang SI dalah mereka yang memilki IPK 3,25 saja sudah menujukan image bahwa mereka yang S1 itu lebih “pintar” daripada mereka yang tetap berada di jalur pendidikan D-IV, ironi! Padahal sudah secara jelas dan nyata SI dan D-IV itu berbeda jalur akademisnya tapi berada pada satu tingkatan, jadi sekali lagi saya tekankan, TIDAK ADA YANG LEBIH PINTAR!

Saya melihat program ini lebih pada suatu produk politik. Saya mendengar segelintingan kabar bahwa IPDN mengadakan program seperti ini hanya untuk agar IPDN bisa membuka jalur pendidikan S3 dan agar terlihat lulusan IPDN itu lebih ”akademisi”, karena dengan SI maka 60% yang didapatkan peserta didik adalah teori dan 40% praktik. Hal lain yang menguatkan program ini terlihat sangat politik adalah kenyataan penentuan 100 orang praja yang bisa mengikuti program S1, secara aturannya mereka yang bisa masuk adalah mereka yang memiliki minimal IPK 3,25 atau dikategorikan “pintar”. Tapi permasalahannya, IPDN Merupakan sekolah kedinasan yang mengenal istilah kontingen asal pendaftaran, peserta didik di IPDN adalah perwakilan dari masing-masing provinsi yang ada di Indonesia ( baca : Keluarga Besar IPDN ), apabila lembaga ini secara saklek menggunakan aturan seperti tadi maka jelas aka ada provinsi yang tidak mempunyai perwakilan yang masuk ke S1 dan apabila hal itu benar terjadi sudah jelas hal itu akan memicu suatu konflik kecil. Jadi yang ada sekarang adalah lembaga lebih menekankan kepada perwakilan masing-masing provinsi. Permasalahannya adalah apabila sebenarnya di provinsi A ada sebanyak 10 orang yang secara administraitf dan kualitas nyata pun mereka mampu untuk masuk S1, tapi kemudian harus terpental menjadi hanya 5 orang saja, karena terbatas jumlah perwakilan masing-masing provinsi dan di lain pihak di provinsi B sebenarnya tidak ada sama sekali peserta didiknya yang memenuhi syarat untuk masuk S1, tapi karena dipaksakan oleh peraturan perwakilan setiap provinsi, maka terpaksa-lah lima orang pun dimasukan kedalamnya, padahal lima orang itu sama sekali tidak lebih baik atau bahkan sekedar mendekati kemampuan lima orang dari provinsi A yang harus terjungkal karena permasalahn ini. Dan apabila seperti ini, adilkah ?? Karena adil itu bukan sama rata, sama rasa tapi mampu untuk menempatkan segala sesuatunya pada tempatnya. Dan saya pikir ini jelas tidak ditempatkan pada tempatnya!

Senin, 02 Januari 2012

PACARAN



hmmm…bayangkan saja atau mari-lah kita berpura-pura bahwa ada satu diantara kalian di luar sana yang bertanya kepada saya, menanyakan pendapat saya, tentang “pacaran”. Kenapa harus seperti itu? Karena saya, dalam tulisan ini, ingin mengeluarkan segala apa yang ada dalam otak saya mengenai apa itu “pacaran”. Tentunya dalam sudut pandang seorang Adima Insan Akbar Noors, Noorz’s Point of View, dengan segala keterbatasan ilmu yang saya miliki tapi tetap dibungkus dengan ego yang melambung tinggi.
Okay, let’s begin this shit!


Saya menyadari dengan sangat sadar, dengan segala akal sehat yang saya miliki, konsep pacaran tidak pernah sekalipun diajarkan dalam Islam, agama saya. Akan tetapi saya yakin dan percaya Islam pun tidak pernah melarang umatnya untuk berpacaran, Islam hanya dengan sangat tegas melarang umatnya untuk melakukan perbuatan zinah, serta segala perbuatan yang mendekatinya. ( baca : My Name Is … ) Oh iya, terkadang pengertian zinah pun masih sedikit salah dipahami kebanyakan orang atau entah saya yang justru mungkin yang salah memahaminya, but who cares?! This is my blog, this is my damn world! So at the time I write it, I’m the right man until someone can proof me wrong. But ‘till then I am Mr. Right!
Pemahaman zinah menurut saya adalah perbuatan atau dilakukannya hubungan seksual/intim/bersetubuh/atau terserah anda mau menyebutnya apa, antara lelaki dan perempuan tanpa ada ikatan pernikahan yang sah diantara mereka berdua. Itu pengertian zinah yang utamanya. Akan tetapi jangan kita pikir ciuman, pelukan dan segala yang sejenisnya bukan merupakan zinah apabila kita lakukan tanpa ada ikatan pernikahan, itu juga merupakan zinah, itu juga merupakan sebuah dosa. Tapi itu semua bila boleh saya istilahkan masih merupakan zinah kecil dalam artian bukan zinah utamanya, bukan zinah yang harus dihukum razam. Tapi tetap saja, saya pertegas di sini, dan yang harus kita garis bawahi, itu semua termasuk perbuatan dosa.
Wallahu’alam bishawab.

Dan dewasa ini banyak cendekia agama saya yang cenderung untuk melarang setiap muslim berpacaran adalah karena pada kenyataannya, pada praktek nyatanya, konsep pacaran yang dilakukan oleh banyak orang sekarang ini hanya sekedar sarana bagi mereka untuk melegitimasi kegiatan-kegiatan yang dalam Islam jelas dikategorikan sebagai suatu perbuatan zinah atau setidaknya mendekati zinah. Lebih banyak mudarat daripada maslahat.
Islam itu agama yang paling benar, Islam sangat menghargai hak umatnya, terlebih hak dan martabat seorang wanita. Itu-lah kenapa Islam sangat ketat dalam melakukan pengaturan hubungan antar lelaki dan perempuan. Secara nafsu dan ego, apabila kita melihat segala pengaturan itu, maka akan dengan sangat cepat pula kita mengatakaan bahwa aturan-aturan itu sangat merugikan, sangat tidak menghargai HAM. Dan pemikiran seperti itu jelas sebuah pemikirang yang sangat salah! Islam itu indah, aturan dalam Islam, yang dalam hal ini aturan tentang pergaulan lelaki dan perempuan, sangat menjaga umatnya dan sangat berpikiran jauh ke depan. Karena apabila hubungan antara lelaki dan perempuan itu tidak diatur seketat seperti yang telah diatur oleh Islam, maka percaya-lah dunia ini akan kacau balau, hanya akan menjadi tempat pelampiasan hawa nafsu. Dan percaya juga-lah, pihak yang paling akan dirugikan apabila hal itu yang terjadi adalah WANITA! Come on guys! Think visionary, don’t think for only your own pleasure or the effects for only a week ahead but think the effects for the next five or ten or twenty years later. What will happen if we just follow our lust??

Itu-lah kenapa, sekali lagi saya tekankan, Islam sangat ketat dalam mengatur pergaulan antara lelaki dan perempuan. Secara sangat sederhananya, tak ada hubungan apapun selain saudara dan sahabat antara lelaki dan perempuan sebelum adanya ikatan pernikahan yang sah, yang diakui oleh Islam.
Lalu bukankah pernikahan itu adalah sesuatu hal yang sakral, sesuatu hal yang suci, merupakan hal yang harus diusahakan agar hanya terjadi sekali seumur hidup, jadi bukankah hubungan antara lelaki dan perempuan itu harus benar-benar cocok, chemistry diantara keduanya harus benar-benar terjalin sehingga bisa langgeng pernikahan itu. Walupun apabila ketidakcocokan yang menimbulkan percekcokan terus terjadi tanpa henti dan perpisahan menjadi solusi yang dipilih maka sungguh Islam pun menyediakan sebuah alternatif yaitu perceraian. Tapi permasalahan yang ada, perceraian itu memang merupakan sebuah perbuatan yang halal untuk dilakukan akan tetapi merupakan perbuatan yang dibenci oleh Allah Swt. Jadi itu-lah kenapa sebisa mungkin perceraian itu harus dihindari dan perikahan itu cukup-lah hanya dilakukan sekali, dalam artian tidak nikah-cerai.

Dengan argumentasi seperti itu, dengan kenyataan bahwa pernikahan itu ibadah dan perceraian itu halal tapi dibenci Allah, maka bukankah hubungan pra-pernikahan itu adalah hal yang sangat penting?? Untuk dapat melihat apakah cocok, apakah ada chemistry diantara lelaki dan perempuan itu, melihat lebih jauh sifat dan kepribadian masing-masing. Untuk mengatasi hal ini, Islam telah memberikan sebuah konsep taaruf. Secara sederhananya, taaruf adalah perkenalan antara lelaki dan perempuan, akan tetapi hanya perkenalan secara umum dan apabila ingin terus melanjutkan, ingin terus mengenal lebih jauh, maka langkah selanjutnya adalah segera untuk melangsungkan pernikahan. Sebenarnya bagi para pecinta atau pengikut “cinta pada pandangan pertama”, seperti saya ( baca : fisrt impression ), konsep taaruf merupakan konsep yang pas dan sangat logis, sangat mendukug ideologi cinta yang dianutnya. Akan tetapi saya pun merasa kurang yakin atau merasa takut kurang memahami apabila harus secara penuh menggunakan konsep taaruf. Tapi tidak, ini tidak berarti saya menganggap konsep Islam kurang sempurna, tidak sama sekali, demi Allah tidak!! Tetapi justru konsep itu terlalu sempurna maka saya sebagai manusia biasa belum mampu untuk menjalankannya secara penuh. Maka dengan kenyataan seperti itu, konsep pacaran saya beranikan untuk saya bawa keluar dan laksanakan.

Dan di bagian ini-lah saya akan mencoba menjelaskan konsep pacaran yang saya anut tetapi perlu saya jelaskan juga disini konsep pacaran seperti apa yang hendak saya jelaskan dalam tulisan ini bukan-lah konsep pacaran yang saya pegang teguh sedari dulu, tapi konsep ini secara penuh baru saya benar-benar lakukan atau yakini, ketika saya menjadi mahasiswa seiring dengan pengalaman hidup yang telah saya jalani dan pengalaman hidup orang lain yang saya lihat dan saya coba pelajari. Here it is, pacaran bagi saya adalah suatu proses antara lelaki dan perempuan untuk saling mengenal satu sama lainnya dengan tujuan akhir atau tujuan utamanya adalah pernikahan. Begini ilustrasinya, apabila saya melihat seorang wanita dan kagum serta tertarik atau bahasa lainnya mempunyai rasa kepada wanita tersebut maka jelas saya akan mendekatinya melakukan sedikit pendekatan dan mengajaknya untuk melakukan suatu hubungan yang lebih serius yaitu pacaran jadi tidak ada konsep PDKT ( pendekatan ) yang terlalu lama, tapi proses PDKT itu terjadi dalam pacaran, karena tujuan ahirnya bukan-lah pacaran tapi tujuan akhirnya adalah pernikahan sehingga menurut konsep saya, pacaran itu-lah proses PDKT itu. Cinta dan sayang itu tumbuh dalam proses pacaran, tidak dalam pproses PDKT karena sekali lagi, tujuan akhirnya adalah pernikahan bukan pacaran. Jadi dalam pacaran-lah kita benar-benar mencoba untuk mengenal pasangan kita secara lebih jauh, apabila terus cocok dan chemistry itu terus tumbuh maka pernikahan menjadi tujuan yang indah untuk dilakukan akan tetapi apabila tidak cocok dan chemistry itu tidak terbangun dengan baik, maka perpisahan mungkin menjadi pilihan. Saya tau anda mungkin sedikit bingung membaca bagian ini, saran saya coba anda baca lagi lebih dari sekali, dan ya…coba-lah untuk memahaminya! Hhe…
Seperti halnya anda sulit untuk memahami tulisan saya itu maka sesulit itu-lah saya juga untuk mencari wanita yang mampu sepaham atau setidaknya mampu untuk mengerti konsep saya itu ( but now I finally found that girl, hope it will be for the last )

Konsep seperti itu, setelah kini usia saya hampir menginjak 20 tahun, dengan kondisi yang memaksa saya untuk menjadi dewasa lebih cepat, itu semua membuat saya pun semakin mematangkan konsep pacaran yang akan saya lalui. Saya pikir sudah bukan saatnya lagi apabila saya hanya berpacaran untuk sekedar memadu kasih belaka, apalagi tempat untuk pelampiasan nafsu semata. Itu terlalu hina, dan terlalu anak muda, akan menjadi tempat bagi saya berbuat dosa. Bagi saya pacaran harus benar-benar terfokus untuk nantinya dilangsungkan suatu pernikahan. Dengan konsep seperti itu, akhirnya mendasari saya untuk bercita-cita apabila nanti saya telah lulus maka saya ingin dua atau tiga tahun setelah itu saya segera untuk melangsungkan pernikahan. Saya tidak ingin untuk berlama-lama, karena saya ingin terhindar dari perbuatan zinah dan untuk mendukung cita-cita itu maka harapan saya adalah ketika nanti saya berada di tingkat tiga atau maksimalnya tingkat empat, saya harus sudah mampu memperkenalkan pacar saya ( calon istri saya ) kepada keluarga saya, karena pernikahan bukanlah semata tentang si lelaki dan si perempuan akan tetapi juga merupakan tentang menyatukan dua keluarga besar dan saya yakin hal itu sulit bila harus dilakukan dalam waktu yang singkat, ada sebuah proses di sana dan proses itu memerlukan waktu. Sehingga menurut hitungan matematis sederhananya, bila saya mengenalkan pacar saya itu ketika saya tingkat tiga atau tingkat empat maka saya yakin akan ada cukup waktu untuk keluarga saya dan juga keluarga dia ( pihak perempuan ) untuk saling mengenal.
That’s my dream about my love story.

Jadi, itu-lah konsep pacaran yang saya miliki, yang insya Allah akan saya jalani. Secara sangat sederhananya konsep pacaran yang saya kemukakan diatas adalah konsep pacaran yang mencoba menjabarkan lebih jauh dari konsep taaruf dengan tetap mengedepankan atau mengutamakan kemaslahatan daripada perbuatan mudarat. Lalu pertanyaan kecil menggelitik datang mengusik, apa anda yakin anda mampu terhindar dari perbuatan zinah dalam menjalankan proses pacaran itu, walaupun dengan teori seindah itu, wahai Adima Insan Akbar Noors?? Maka dengan sangat lantang saya mampu untuk menjawab, ya, insya Allah saya mampu untuk menahan diri dari perbuatan zinah, bila zinah disini adalah zinah dalam pengertian utamanya, yaitu melakukan hubungan seksual di luar nikah. Akan tetapi apabila kemudian pengertian zinah itu diperluas lagi sehingga juga mencakup pegangan tangan, dan sebagainya seperti yang telah saya jelaskan diatas, maka jawaban yang mampu saya berikan adalah, mengutip potongan lirik lagu dari band Armada,” Aku bukan-lah dewa yang tak pernah berbuat dosa. Aku manusia sama sepertimu seperti yang lainnya juga.”

You know what? in the end, I’m just an ordinary man, young and fresh! Hahaha….
But hell yeah, I know the drill, I know the boundaries.
PEACE AND CHEERS!!