Senin, 02 Januari 2012

PACARAN



hmmm…bayangkan saja atau mari-lah kita berpura-pura bahwa ada satu diantara kalian di luar sana yang bertanya kepada saya, menanyakan pendapat saya, tentang “pacaran”. Kenapa harus seperti itu? Karena saya, dalam tulisan ini, ingin mengeluarkan segala apa yang ada dalam otak saya mengenai apa itu “pacaran”. Tentunya dalam sudut pandang seorang Adima Insan Akbar Noors, Noorz’s Point of View, dengan segala keterbatasan ilmu yang saya miliki tapi tetap dibungkus dengan ego yang melambung tinggi.
Okay, let’s begin this shit!


Saya menyadari dengan sangat sadar, dengan segala akal sehat yang saya miliki, konsep pacaran tidak pernah sekalipun diajarkan dalam Islam, agama saya. Akan tetapi saya yakin dan percaya Islam pun tidak pernah melarang umatnya untuk berpacaran, Islam hanya dengan sangat tegas melarang umatnya untuk melakukan perbuatan zinah, serta segala perbuatan yang mendekatinya. ( baca : My Name Is … ) Oh iya, terkadang pengertian zinah pun masih sedikit salah dipahami kebanyakan orang atau entah saya yang justru mungkin yang salah memahaminya, but who cares?! This is my blog, this is my damn world! So at the time I write it, I’m the right man until someone can proof me wrong. But ‘till then I am Mr. Right!
Pemahaman zinah menurut saya adalah perbuatan atau dilakukannya hubungan seksual/intim/bersetubuh/atau terserah anda mau menyebutnya apa, antara lelaki dan perempuan tanpa ada ikatan pernikahan yang sah diantara mereka berdua. Itu pengertian zinah yang utamanya. Akan tetapi jangan kita pikir ciuman, pelukan dan segala yang sejenisnya bukan merupakan zinah apabila kita lakukan tanpa ada ikatan pernikahan, itu juga merupakan zinah, itu juga merupakan sebuah dosa. Tapi itu semua bila boleh saya istilahkan masih merupakan zinah kecil dalam artian bukan zinah utamanya, bukan zinah yang harus dihukum razam. Tapi tetap saja, saya pertegas di sini, dan yang harus kita garis bawahi, itu semua termasuk perbuatan dosa.
Wallahu’alam bishawab.

Dan dewasa ini banyak cendekia agama saya yang cenderung untuk melarang setiap muslim berpacaran adalah karena pada kenyataannya, pada praktek nyatanya, konsep pacaran yang dilakukan oleh banyak orang sekarang ini hanya sekedar sarana bagi mereka untuk melegitimasi kegiatan-kegiatan yang dalam Islam jelas dikategorikan sebagai suatu perbuatan zinah atau setidaknya mendekati zinah. Lebih banyak mudarat daripada maslahat.
Islam itu agama yang paling benar, Islam sangat menghargai hak umatnya, terlebih hak dan martabat seorang wanita. Itu-lah kenapa Islam sangat ketat dalam melakukan pengaturan hubungan antar lelaki dan perempuan. Secara nafsu dan ego, apabila kita melihat segala pengaturan itu, maka akan dengan sangat cepat pula kita mengatakaan bahwa aturan-aturan itu sangat merugikan, sangat tidak menghargai HAM. Dan pemikiran seperti itu jelas sebuah pemikirang yang sangat salah! Islam itu indah, aturan dalam Islam, yang dalam hal ini aturan tentang pergaulan lelaki dan perempuan, sangat menjaga umatnya dan sangat berpikiran jauh ke depan. Karena apabila hubungan antara lelaki dan perempuan itu tidak diatur seketat seperti yang telah diatur oleh Islam, maka percaya-lah dunia ini akan kacau balau, hanya akan menjadi tempat pelampiasan hawa nafsu. Dan percaya juga-lah, pihak yang paling akan dirugikan apabila hal itu yang terjadi adalah WANITA! Come on guys! Think visionary, don’t think for only your own pleasure or the effects for only a week ahead but think the effects for the next five or ten or twenty years later. What will happen if we just follow our lust??

Itu-lah kenapa, sekali lagi saya tekankan, Islam sangat ketat dalam mengatur pergaulan antara lelaki dan perempuan. Secara sangat sederhananya, tak ada hubungan apapun selain saudara dan sahabat antara lelaki dan perempuan sebelum adanya ikatan pernikahan yang sah, yang diakui oleh Islam.
Lalu bukankah pernikahan itu adalah sesuatu hal yang sakral, sesuatu hal yang suci, merupakan hal yang harus diusahakan agar hanya terjadi sekali seumur hidup, jadi bukankah hubungan antara lelaki dan perempuan itu harus benar-benar cocok, chemistry diantara keduanya harus benar-benar terjalin sehingga bisa langgeng pernikahan itu. Walupun apabila ketidakcocokan yang menimbulkan percekcokan terus terjadi tanpa henti dan perpisahan menjadi solusi yang dipilih maka sungguh Islam pun menyediakan sebuah alternatif yaitu perceraian. Tapi permasalahan yang ada, perceraian itu memang merupakan sebuah perbuatan yang halal untuk dilakukan akan tetapi merupakan perbuatan yang dibenci oleh Allah Swt. Jadi itu-lah kenapa sebisa mungkin perceraian itu harus dihindari dan perikahan itu cukup-lah hanya dilakukan sekali, dalam artian tidak nikah-cerai.

Dengan argumentasi seperti itu, dengan kenyataan bahwa pernikahan itu ibadah dan perceraian itu halal tapi dibenci Allah, maka bukankah hubungan pra-pernikahan itu adalah hal yang sangat penting?? Untuk dapat melihat apakah cocok, apakah ada chemistry diantara lelaki dan perempuan itu, melihat lebih jauh sifat dan kepribadian masing-masing. Untuk mengatasi hal ini, Islam telah memberikan sebuah konsep taaruf. Secara sederhananya, taaruf adalah perkenalan antara lelaki dan perempuan, akan tetapi hanya perkenalan secara umum dan apabila ingin terus melanjutkan, ingin terus mengenal lebih jauh, maka langkah selanjutnya adalah segera untuk melangsungkan pernikahan. Sebenarnya bagi para pecinta atau pengikut “cinta pada pandangan pertama”, seperti saya ( baca : fisrt impression ), konsep taaruf merupakan konsep yang pas dan sangat logis, sangat mendukug ideologi cinta yang dianutnya. Akan tetapi saya pun merasa kurang yakin atau merasa takut kurang memahami apabila harus secara penuh menggunakan konsep taaruf. Tapi tidak, ini tidak berarti saya menganggap konsep Islam kurang sempurna, tidak sama sekali, demi Allah tidak!! Tetapi justru konsep itu terlalu sempurna maka saya sebagai manusia biasa belum mampu untuk menjalankannya secara penuh. Maka dengan kenyataan seperti itu, konsep pacaran saya beranikan untuk saya bawa keluar dan laksanakan.

Dan di bagian ini-lah saya akan mencoba menjelaskan konsep pacaran yang saya anut tetapi perlu saya jelaskan juga disini konsep pacaran seperti apa yang hendak saya jelaskan dalam tulisan ini bukan-lah konsep pacaran yang saya pegang teguh sedari dulu, tapi konsep ini secara penuh baru saya benar-benar lakukan atau yakini, ketika saya menjadi mahasiswa seiring dengan pengalaman hidup yang telah saya jalani dan pengalaman hidup orang lain yang saya lihat dan saya coba pelajari. Here it is, pacaran bagi saya adalah suatu proses antara lelaki dan perempuan untuk saling mengenal satu sama lainnya dengan tujuan akhir atau tujuan utamanya adalah pernikahan. Begini ilustrasinya, apabila saya melihat seorang wanita dan kagum serta tertarik atau bahasa lainnya mempunyai rasa kepada wanita tersebut maka jelas saya akan mendekatinya melakukan sedikit pendekatan dan mengajaknya untuk melakukan suatu hubungan yang lebih serius yaitu pacaran jadi tidak ada konsep PDKT ( pendekatan ) yang terlalu lama, tapi proses PDKT itu terjadi dalam pacaran, karena tujuan ahirnya bukan-lah pacaran tapi tujuan akhirnya adalah pernikahan sehingga menurut konsep saya, pacaran itu-lah proses PDKT itu. Cinta dan sayang itu tumbuh dalam proses pacaran, tidak dalam pproses PDKT karena sekali lagi, tujuan akhirnya adalah pernikahan bukan pacaran. Jadi dalam pacaran-lah kita benar-benar mencoba untuk mengenal pasangan kita secara lebih jauh, apabila terus cocok dan chemistry itu terus tumbuh maka pernikahan menjadi tujuan yang indah untuk dilakukan akan tetapi apabila tidak cocok dan chemistry itu tidak terbangun dengan baik, maka perpisahan mungkin menjadi pilihan. Saya tau anda mungkin sedikit bingung membaca bagian ini, saran saya coba anda baca lagi lebih dari sekali, dan ya…coba-lah untuk memahaminya! Hhe…
Seperti halnya anda sulit untuk memahami tulisan saya itu maka sesulit itu-lah saya juga untuk mencari wanita yang mampu sepaham atau setidaknya mampu untuk mengerti konsep saya itu ( but now I finally found that girl, hope it will be for the last )

Konsep seperti itu, setelah kini usia saya hampir menginjak 20 tahun, dengan kondisi yang memaksa saya untuk menjadi dewasa lebih cepat, itu semua membuat saya pun semakin mematangkan konsep pacaran yang akan saya lalui. Saya pikir sudah bukan saatnya lagi apabila saya hanya berpacaran untuk sekedar memadu kasih belaka, apalagi tempat untuk pelampiasan nafsu semata. Itu terlalu hina, dan terlalu anak muda, akan menjadi tempat bagi saya berbuat dosa. Bagi saya pacaran harus benar-benar terfokus untuk nantinya dilangsungkan suatu pernikahan. Dengan konsep seperti itu, akhirnya mendasari saya untuk bercita-cita apabila nanti saya telah lulus maka saya ingin dua atau tiga tahun setelah itu saya segera untuk melangsungkan pernikahan. Saya tidak ingin untuk berlama-lama, karena saya ingin terhindar dari perbuatan zinah dan untuk mendukung cita-cita itu maka harapan saya adalah ketika nanti saya berada di tingkat tiga atau maksimalnya tingkat empat, saya harus sudah mampu memperkenalkan pacar saya ( calon istri saya ) kepada keluarga saya, karena pernikahan bukanlah semata tentang si lelaki dan si perempuan akan tetapi juga merupakan tentang menyatukan dua keluarga besar dan saya yakin hal itu sulit bila harus dilakukan dalam waktu yang singkat, ada sebuah proses di sana dan proses itu memerlukan waktu. Sehingga menurut hitungan matematis sederhananya, bila saya mengenalkan pacar saya itu ketika saya tingkat tiga atau tingkat empat maka saya yakin akan ada cukup waktu untuk keluarga saya dan juga keluarga dia ( pihak perempuan ) untuk saling mengenal.
That’s my dream about my love story.

Jadi, itu-lah konsep pacaran yang saya miliki, yang insya Allah akan saya jalani. Secara sangat sederhananya konsep pacaran yang saya kemukakan diatas adalah konsep pacaran yang mencoba menjabarkan lebih jauh dari konsep taaruf dengan tetap mengedepankan atau mengutamakan kemaslahatan daripada perbuatan mudarat. Lalu pertanyaan kecil menggelitik datang mengusik, apa anda yakin anda mampu terhindar dari perbuatan zinah dalam menjalankan proses pacaran itu, walaupun dengan teori seindah itu, wahai Adima Insan Akbar Noors?? Maka dengan sangat lantang saya mampu untuk menjawab, ya, insya Allah saya mampu untuk menahan diri dari perbuatan zinah, bila zinah disini adalah zinah dalam pengertian utamanya, yaitu melakukan hubungan seksual di luar nikah. Akan tetapi apabila kemudian pengertian zinah itu diperluas lagi sehingga juga mencakup pegangan tangan, dan sebagainya seperti yang telah saya jelaskan diatas, maka jawaban yang mampu saya berikan adalah, mengutip potongan lirik lagu dari band Armada,” Aku bukan-lah dewa yang tak pernah berbuat dosa. Aku manusia sama sepertimu seperti yang lainnya juga.”

You know what? in the end, I’m just an ordinary man, young and fresh! Hahaha….
But hell yeah, I know the drill, I know the boundaries.
PEACE AND CHEERS!!

9 komentar:

  1. seharusnya tidak usah pacaran langsung aja cari calon jodoh

    BalasHapus
  2. nah itu dia pak, saya pacaran tuh untuk mencari jodoh...

    BalasHapus
  3. pacaran itu boleh dilakukan tapi janganlah menggunakan nafsu untuk berpacaran,

    guna pacaran itu untuk mengetahui kecocokan pasangan kita sebelum kita menuju kelebih tinggi, daripada kita menemukan ketidakcocokan saat nikah, malah jadi perceraian kan?

    BalasHapus
  4. yah menurut saya masih agag kontroversi mengenai boleh tidaknya pacaran..
    karena setiap orang punya pandangan masing2 :)..

    BalasHapus
  5. @hwrry susanto : betul mas, that's what i'm talkin' about! :)

    @socafahreza : iya betul sekali dan ini lah sudut pandang saya. :)

    BalasHapus
  6. sesungguhnya dalam Islam tidak ada dan tidak pernah dikenal istilah PACARAN, yang dikenal dalam proses mencari jodoh antara lelaki dan wanita adalah hanya TA'ARUF saja, nice share post sobat..btw..linkback-nya sukses terpajang di BlogS of Hariyanto, silahkan di cek di sidebar...salam :)

    BalasHapus
  7. @blogs of hariyanto : betul pak, betul sekali, tidak ada sanggahan utk pernyataan itu. :)

    terima kasih pak, salam juga!

    BalasHapus
  8. menurut saya yang terpenting pacaran jgn djdikan alsan untuk brbuat yg bukan2.. ckup alsan sbgai thapan mencari sunnah rasul..menikah

    BalasHapus
  9. @ anonim ( mas hanafi ) :betul mas, that's what i'm talkin' about! tumben nih kasih komentar yang bermanfaat! hhe....

    BalasHapus