Minggu, 22 Januari 2017

The Way of Life

AHAD, 24 RABIUL AKHIR 1438 H / 21 JANUARI 2017
04:15:00

Beberapa tulisan yang saya buat akhir-akhir ini bertemakan tentang pernikahan. Tema yang saya kupas dari berbagai sudut pandang. Dan kali ini pun saya akan menuliskan lagi tentang pernikahan. Tulisan ini akan mencoba membahas pernikahan dalam sudut pandang menentukan kriteria atau faktor-faktor yang harus dijadikan landasan dalam memilih pasangan.

Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam telah mewasiatkan bagi umatnya dalam sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui jalur Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa mencari seorang pasangan harus mempertimbangkan 4 (empat) faktor, yakni harta, nasab, rupa, dan agama. Akan tetapi Nabi shallallahu alaihi wa sallam menutup atau mengakhiri nasihatnya itu dengan mengatakan bahwa diantara 4 (empat) faktor tadi, kita harus mengutamakan faktor agama.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahkan menekankan hal itu dengan menyebutkan bahwa ketika faktor agama yang kita utamakan maka kita termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung.

Pada realitanya, Muslim sekarang ini tidak terlalu mengindahkan nasihat Nabinya shallallahu alaihi wa sallam, yang berarti secara tidak langsung menyelisihi Sunnah beliau shallallahu alaihi wa sallam. Diantara kita masih banyak yang meremehkan faktor agama dan berdalih bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam menempatkan faktor agama setelah harta, nasab, dan rupa. Itu artinya, menurut anggapan mereka, agama berada di bawah harta, nasab, dan rupa. Na’udzubillah.

Bila dilihat secara logika maka pernyataan itu sangat masuk di akal dan rasa-rasanya tidak sedikitpun bertentangan dengan nasihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Akan tetapi pemahaman seperti itu adalah pemahaman secara parsial, tidak memahami Hadits secara utuh.

Seperti yang telah kita sebutkan, di akhir nasihatnya beliau shallallahu alaihi wa sallam mengatakan bahwa faktor agama harus diutamakan agar kita akan masuk ke dalam orang yang beruntung. Maka kita harus paham, apa sih yang akan didapatkan oleh orang yang beruntung dalam perspektif Islam.

Subhanallah, di banyak ayat dalam Al-Qur'an, salah satunya adalah Q.S. Al-Mujadilah (58): 22, disebutkan bahwa balasan bagi orang yang beruntung adalah Surga! Dengan kata lain bila kita mentaati Rasul shallallahu alaihi wa sallam perihal mencari pasangan dengan mengutamakan faktor agama, maka kita pun sama dengan orang-orang selalu beramar ma'ruf nahi mungkar, orang-orang yang berjihad, dan orang yang bertaqwa karena semua orang-orang itu Allah ta'ala kategorikan juga sebagai orang yang beruntung.

Jadi, dengan manfaat dan keutamaan seperti yang tersebut di atas, sungguh disayangkan bila kemudian kita tidak mengutamakan faktor agama dalam mencari pasangan dan melepas begitu saja kesempatan untuk menjadi orang yang beruntung.

Lantas apakah setelah kita mengutamakan faktor agama permasalahan mencari pasangan akan menjadi lebih mudah? Well, the answer is NO! Setidak-tidaknya itulah yang sedang saya alami saat ini.

Karena satu hal yang pasti, kita tidak sedang hidup di zaman dengan kualitas keimanan yang insya Allah sama dan seragam selayaknya zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam, atau di zaman para sahabat, atau di zaman tabi'in, atau di zaman tabi'ut tabi'in.

Tapi demi Allah, kita sedang hidup di akhir zaman, kita hidup di zaman yang segala sesuatunya telah sangat jauh dari hukum Allah ta'ala dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Dewasa ini, terutama di negara Indonesia, kita hidup dengan agama Islam yang "beragam". Bagaimana Islam diterapkan atau diimplementasikan dengan banyak cara dan gaya.

Hal itu seringkali membuat kita terkecoh untuk membedakan mana muslim dan mana kafir. Tak ada identitas yang mampu kita bedakan. Syubhat dan syahwat bertebaran di sana-sini. Fragmentasi kini tak lagi terjadi antar beda agama, tapi fragmentasi justru ada dan sangat terlihat jelas diantara satu pemeluk agama.

Semua itu berpengaruh pada penentuan dalam mencari pasangan, terutama dalam hal faktor agama. Karena kini tak cukup hanya melihat bagaimana kualitas ibadah atau penampilan seseorang, akan tetapi lebih jauh dari itu harus dilihat apakah Islam telah menjadi landasan dalam kehidupannya ataukah masih terkontaminasi dengan paham-paham lainnya. Apakah Islam telah secara penuh dia jadikan pedoman kehidupan atau baru sekedar pedoman peribadatan.

Bila Islam belum menjadi pola pikir, belum kuat tertanam dalam hati, maka kemungkinan besar idelisme-idealisme lain akan datang merasuki sehingga sadar ataupun tidak, kita akan menjadi orang yang sekuler. Islam hanya untuk mengurusi peribadatan dan urusan dunia kita gunakan paham lainnya. Allahuakbar!

Salah satu cara untuk bisa mengetahui hal tersebut adalah dengan menanyakan apa visi dan misi calon pasangan dalam menjalani kehidupan terutama kehidupan dalam rumah tangga. Bagaimana dia memposisikan dirinya di dalam rumah. Atau kita pun bisa menanyakan padanya pertanyaan-pertanyaan kasuistik, ketika urusan dunia dan agama saling bertabrakan. Insya Allah dengan mempelajari setiap jawaban yang dia berikan maka kita akan bisa menilai sejauh mana Islam dia letakan dalam hidupnya.

Di awal saya telah saya sebutkan, untuk saya pribadi, hal-hal di atas adalah hal yang cukup sulit saya lalui. Itu adalah salah satu alasan kenapa kini saya masih begitu sulit menemukan pasangan. Dan itu pun alasan kenapa saya cukup selektif dalam menentukan pasangan. Karena tak bisa saya bayangkan bila saya harus menjalani sisa kehidupan dengan seseorang yang tak memiliki landasan berpikir yang sama.

Tidak, saya tidak mencari pasangan yang harus identik sama atau bahkan sempurna. Demi Allah, manusia adalah tempat salah dan khilaf. Saya pun penuh dosa, jadi kenapa saya mengharapkan seseorang yang suci? Sekali lagi saya tekankan, tulisan ini hanya menggaris bawahi pentingnya sama-sama telah menjadikan Islam sebagai segalanya dalam hidup, baik dalam aqidah, ibadah, muamalah, apapun itu! 

Permasalahan mengenai pasangan masih banyak berbeda dalam menerapkan hukum untuk beberapa urusan itu adalah hal yang bisa untuk didiskusikan. Karena ketika telah sama-sama menyadari bahwa Islam mengatur segalanya, menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan maka insya Allah kita akan sami'na wa atho'na ketika ada dalil yang kuat mendatangi. Tak akan sulit menasihati.

Akhir kata, semoga Allah azza wa jalla memudahkan kita semua terutama saya pribadi untuk mendapatkan pasangan hidup yang bisa semakin mendekatkan kita kepada-Nya, pasangan hidup yang sama-sama mau untuk belajar ilmu syar'i, zuhud terhadap dunia, mengutamakan kepentingan akhirat di atas kepentingan dunia, dan pasangan hidup yang satu metode (manhaj) dalam beragama. Aamiin.

#PMA

Jumat, 13 Januari 2017

Tulisan macam apa ini?!

KAMIS, 14 RABIUL AKHIR 1438 H / 12 JANUARI 2017
09:30:00

Karena menikah bukan sebuah balapan, tak harus cepat-cepatan.
Saling susul menyusul jadi yang terdepan.

Bukan juga perkara mudah, yang sekali ketemu langsung saja nikah.
Tanpa perkenalan, tak saling bertukar pikiran.

Menikah itu urusan besar karena menghalalkan sebuah aktivitas yang tadinya haram. Sebuah hubungan yang mulanya menghasilkan dosa dan tak berguna, sangat sia-sia, kemudian berubah menjadi pahala yang terus mengalir sepanjang waktu. Jadi sungguh keliru bila untuk sesuatu yang dapat merubah hukum Allah Ta'ala 180 derajat, dimaknai dengan sangat dangkal dan dilakukan tanpa persiapan. 

Menikah itu butuh ilmu karena prakteknya hingga nanti mati. Menikah itu tak bisa terlebih dahulu coba-coba dan bila merasa tak mampu lantas mundur! Menikah tak sebercanda itu. 

Banyak orang yang salah sangka terhadap Islam. Bahwa Islam melalui wahyu Allah Ta'ala dan sunnah Nabi-nya shallallahu 'alaihi wa sallam menasihati setiap umatnya, terkhusus pemuda untuk menyegerakan pernikahan dan setiap pemudinya untuk mempermudah maharnya, bukan berarti Islam menyuruh umatnya menikah tanpa ilmu atau menikah tanpa ada rasa terlebih dahulu.

Saya pun dulu beranggapan seperti itu, tapi subhanallah, pemikiran tersebut sangat keliru. Islam melalui sunnah Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam juga sunnah para sahabat beliau, mengajarkan dan bahkan sangat menekankan untuk menikah dengan terlebih dahulu memiliki ilmu. Baik itu ilmu tentang siapa yang akan kita nikahi maupun ilmu berkenaan dengan hukum-hukum pernikahan itu sendiri.

Dan bila masih ada diantara kita yang berpikiran Islam itu agama yang penuh paksaan dalam urusan pernikahan, maka sepertinya orang tersebut belum banyak mendengarkan ceramah atau kajian Islam berkenaan dengan hubungan pria dan wanita yang akan menikah. 

Orang tersebut rasa-rasanya hanya menyimpulkan Islam dari fakta bahwa Islam melarang pacaran. Sehingga mereka langsung mem-vonis Islam adalah agama yang tak mengizinkan umatnya untuk saling berinteraksi. Allahuakbar, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang cepat mengambil kesimpulan tanpa terlebih dahulu memahami permasalahan secara utuh. 

Lalu apa maksud semua ini? Apa tujuan saya menulis beberapa untaian kalimat di atas? Entah-lah, saya hanya sedang berusaha merangkai setiap kata yang ada dalam otak. Lama tak merangkai kata rasa-rasanya menyumbat beberapa saluran darah dalam otak.

Jadi, ya ini-lah hasilnya. Apa ada manfaatnya? hmm