Senin, 30 November 2009

Teruntuk Sahabatku..


Sebuah kesalahan telah saya lakukan, sesuatu hal yang wajar karena pada akhirnya kita semua hanyalah manusia biasa yang tak sempurna.

Sesuatu hal yang memalukan bila kita bertengkar dengan sahabat, keluarga kita sendiri.
Tak ada maksud lain tak ada alasan lain selain karena kebodohan saya tak bisa mengendalikan emosi, nafsu sesaat.
Tapi, terlepas dari itu, pertengkaran bukanlah hal yang membanggakan bila sebenarnya kita masih bisa untuk duduk hangat berdiskusi menyelesaikan semua permasalahan yang ada.

Sebuah pelajaran berharga buat saya pribadi, karena sesungguhnya setiap kejadian yang telah terjadi dalam hidup kita, tak peduli apakah itu kecil atau besar, sudah sepantasnya kita jadikan pelajaran hidup untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Kita tak akan pernah belajar berbuat benar bila kita tak pernah berbuat salah.
Dan, berubah lah secepat mungkin, berubah lah menjadi yang lebih baik sebelum ajal menjemput.

Teruntuk WSL dan semua orang yang mungkin mempunyai cara berpikir yang sama dengan dia.
Rubahlah pola pikir anda karena hidup tak seburuk yang anda pikirkan, itu hanyalah dalam pikiran anda!
Mulai lah melihat segala sesuatunya dengan positif, jangan anda salah paham tentang segala yang terjadi.
Dan sebagai sahabat, Insya Allah saya akan membantu anda melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, dari sudut yang lebih indah dan tentu saja saya akan mencoba untuk lebih sabar.
and for the rest of my friends, especially for my classmates, kita mungkin belum benar-benar kompak dan bahkan saya sendiri yang pernah "mengkhianati" kata-kata itu. Tapi, kita tidak hidup di masa lalu, jadi mari kita sama-sama menjadi yang terbaik. Yang paling penting adalah menikmati setiap waktu yang kita habiskan bersama dan mensyukuri itu semua.

shit...honestly, I LOVE U ALL, even if you don't give a damn 'bout me, i don't fuckin' care!
coz, deep in my heart u are my family!
if you don't like me or don't wanna call me your friends, please just treat me like you know me and It will be just fine for me!
I swear to God, please don't ignore me!

Senin, 16 November 2009

Piala Dunia 2022 dan Mimpi Indonesia


Bagi para penggila bola, Piala Dunia adalah turnamen yang sangat dinantikan, sebuah kompetisi terbesar dan terdahsyat di dunia (setidaknya itulah klaim dari FIFA) karena mempertemukan 32 negara dari masing-masing benua di belahan dunia ini.

Walaupun negara kita tercinta, Indonesia, belum pernah sekalipun tampil di ajang termegah ini, kita rakyat Indonesia para penggemar keindahan sepak bola selalu mempunyai tempat tersendiri untuk menikmati turnamen ini.

Dan tanpa disangka-sangka Indonesia, yang jelas-jelas belum mempunyai pengalaman ataupun sejarah khusus dalam kejuaraan ini, dengan berani mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022! Ini bukan berita baru dan bahkan telah terdengar tak asing lagi. Karena Indonesia sendiri telah melakukan pendaftaraan resmi kepada FIFA pada tanggal 16 Maret lalu. Dan kini perjuangan Indonesia, melalui PSSI telah memasuki babak baru dan akan masih melewati babak-babak lainnya.

Apakah Indonesia pantas untuk melakukan itu? Hmm...jawaban dari pertanyaan ini sangat tergantung dari sudut mana kita memandang permasalahan bidding piala dunia 2022 ini. Bila kita menanyakan itu pada Nurdin Halid, ketua umum PSSI, maka kita akan disuguhkan sebuah jawaban yang sangat menggebu-gebu nan optimis. Nurdin berkali-kali telah memberikan pernyataan bahwa Indonesia sangat layak untuk menyelenggarakan Piala Dunia dan tidak ada satu alasan pun bagi Indonesia untuk mersa rendah diri dari negara-negara lainnya. Dia tidak salah tapi bagi saya pernyataan itu juga tak sepenuhnya benar.

Menyelenggarakan sebuah event besar sebesar Piala Dunia merupakan impian setiap negara di dunia ini, termasuk negara Indonesia. Tak ada salahnya bagi kita untuk bermimpi dan mempunyai cita-cita, bahkan kita memang sudah seharusnya memiliki cita-cita dan keinginan setinggi mungkin. Karena sungguh, kita manusia tak akan pernah bisa hidup tanpa adanya sebuah mimpi sebagai sebuah penyemangat dalam diri kita. Tanpa adanya sebuah mimpi dan cita-cita, mungkin tak akan ada semangat bagi kita dalam menjalani segala rutinitas sehari-harinya, tapi dengan adanya sebuah mimpi, itu merupakan sebuah motivasi lebih bagi kita dalam menatap dan menata masa depan kita sebaik mungkin. Tapi, selayaknya seorang bayi yang pasti bermimpi untuk bisa berlari, bayi itu harus melewati serangkaian proses dan melalui beberapa "mimpi yang lebih kecil" agar bisa mendapatkan dan meraih mimpi yang lebih besar itu.

Begitu pun dengan kasus ini, apakah tak sebaik nya Indonesia yang dalam hal ini PSSI terlebih dahulu mereformasi dirinya sendiri, memperbaiki kompetisi dalam negeri, membenahi prestasi timnas Indonesia? yang sedianya merupakan mimpi yang tak kunjung selesai untuk direalisasikan oleh PSSI. Dan dengan fakta yang kurang mengenakan itu, kenapa justru PSSI dengan "berani" mencalonkan diri sebagai tuan rumah piala dunia 2022? Bahkan dari segi nonprestasi pun, yaitu dari segi infrastruktur Indonesia masih jauh dari sekadar kata cukup!

Sekali lagi hal ini bukanlah untuk membatasi kita untuk bermimpi, tapi lebih untuk agar kita bersikap optimis diimbangi rasa realistis. Memikirkan segala tahapan dan prosesnya.
Hanya untuk mengikuti bidding ini pun PSSI memerlukan sedikitnya uang sebesar 24 juta dollar AS atau sekitar Rp 240 miliar, apakah tidak sebaiknya uang sebesar itu digunakan untuk mewujudkan mimpi yang lebih kecil dulu yaitu memperbaiki segala sarana dan prasarana olahraga di Indonesia?
Lalu untuk melancarkan segala urusan dalam bidding itu, PSSI juga menyewa seorang jasa konsultan asing, Michel Bachini yang dibayar tak kurang dari 1 juta dollar AS, dan apakah uang sebesar itu tidak sebaiknya digunakan untuk memperkejakan pelatih berkaliber dunia untuk mengangkat prestasi timnas kita?

Sebuah ironi memang dan terkesan banyak bermuatan politis di dalamnya. Tapi PSSI telah menentukan sikap dan tak mungkin lagi untuk mundur, suka atau tidak semua telah berjalan dan marilah kita berharap segala yang akan terjadi adalah benar-benar yang terbaik bafi wajah persepakbolaan tanah air.

Benar kata orang, hampir tak ada batasan yang jelas antara berbuat berani dan berbuat bodoh. Karena terkadang kita akan disebut orang bodoh ketika melakukan sesuatu yang menurut kita berani dan justru orang menyebut kita berani ketika sebenarnya kita melakukan hal yang bodoh.

Sabtu, 14 November 2009

UN 2009/2010

Sampai dengan hari ini, Sabtu, 14-11-2009, setidaknya ada dua artikel koran atau berita yang sangat menarik bagi saya dan siswa/siswi di seluruh Indonesia pada umumnya. Berita itu adalah berita tentang Ujian Nasional, sebuah hal yang sangat menakutkan bagi sebagian besar pelajar di Indonesia. Artikel pertama berjudul, "Menjawab Tuntutan, UN Tahun Depan Dilaksanakan 2 Kali." dan yang kedua berjudul, "UN Dua Kali bukan Terobosan." Kedua artikel itu diberitakan di koran Pikiran Rakyat berturut-turut pada tanggal 13 dan 14 November 2009.

Ujian Nasional (UN) tahun pelajaran 2009/2010 akan dilaksanakan dua kali dan UN pertama yang disebut UN utama akan dilaksanakan pada minggu ketiga Maret 2010 (untuk SMA/MA/SMALB/SMK) dan minggu keempat Maret 2010 (untuk SMP/MTs/SMPLB). Lalu UN kedua atau yang akan disebut UN ulangan akan dilaksanakan pada minggu kedua Mei 2010 (untuk SMA/MA/SMALB/SMK) dan minggu ketiga Mei 2010 (untuk SMP/MTs/SMPLB). Dan bagi mereka yang berhalangan mengikuti UN, akan dilakukan UN susulan satu minggu setelah UN utama. Terobosan ini dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan masukan yang diterima oleh Departemen Pendidikan Nasional dan bisa dibilang inilah gebrakan yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan yang baru yaitu, M.Nuh. Jadi, bagi mereka yang gagal dalam UN utama bisa memperbaiki itu semua dan mendapatkan kelulusan dengan mengikuti UN ulangan. Tapi, bila mereka tetap gagal, mereka masih bisa mendapatkan kelulusan dengan mengikuti UN paket C.

Sebenarnya disatu sisi ini merupakan kabar gembira bagi kita semua, khusunya pelajar di seluruh Indonesia. Tapi ternyata Dan Satriana, Ketua Lembaga Advokasi Pendidikan mempunyai pendapat lain tentang hal ini. Baginya, ini bukanlah terobosan brilian dan hanya alternatif agar semua murid lulus. Dia berpendapat para menteri Pendidikan Nasional Indonesia proparadigma pendidikan liberal yang artinya mengutamakan kompetisi individu dan mekanisme pasar. Karena pelaksanaan UN sangat mencerminkan sebuah kompetisi.

Saya pribadi kurang begitu yakin harus bagaimana dalam menyikapi berita ini, apakah saya harus merasa senang? atau tetap merasa was-was? Pada dasarnya setiap pelajar tidak setuju dengan diadakannya UN dan begitu juga saya. Karena, yang saya permasalahkan adalah UN yang dijadikan sebagai tolak ukur kelulusan. Karena dengan seperti itu, berarti secara tidak langsung pemerintah telah menyama ratakan kualitas pendidikan di Indonesia dari sabang samapai merauke, dari pelosok desa hingga perkotaan. Yang secara fakta dilapangan masih terdapat gap yang cukup jauh antara pendidikan di satu sekolah dengan sekolah lain, apakah tidak lebih bermanfaat bila uang jutaan juta untuk membuat soal-soal UN digunakan untuk memperbaiki kualitas pendidikan Indonesia terlebih dulu?
Karena sungguh pelaksanaan UN yang Indonesia telah lakukan sangat jauh dari harapan, terutama dari segi moral. Terlalu banyak kepentingan yang bermain di dalamnya.

Dan setiap menginjak atau memasuki semester genap bagi kelas IX dan kelas XII, maka pembelajaran mereka tak akan lagi efektif dan justru terjadi pengerdilan pembelajaran, karena KBM yang terjadi adalah pembelajaran intensif dengan mengutamakan hapalan.

Tapi, kita sebgai rakyat dan pelajar tak akan bisa berbuat apa-apa, karena "merekalah" yang memiliki kekuasaan untuk membentuk sebuah aturan. Dan oleh karena itu, tak ada gunanya bagi kita untuk mengeluh yang justru membuat hati kita tak karuan dan akhirnya menjadi penyakit bagi raga kita. So, let's face it with smile and prepare ourself as best as we can!
Study harder dude!
Cheers!

Senin, 09 November 2009

KO-TEKS Vs. KONTEKS

Dalam sebuah wacana, apapun bentuk wacana itu, biasanya kita selaku pembaca akan menemukan atau bahkan sengaja mencari makna apa yang terkandung dalam sebuah wacana tersebut. Kegiatan itu tidak lain dilakukan agar kita dapat mengetahui, mengerti dan memahami isi dari wacana tersebut dan pesan apa yang hendak disampaikan oleh penulis.

Biasanya dalam sebuah wacana, kita akan menemukan dua macam makna. Yang pertama adalah makna ko-teks (tersurat), yaitu makna yang benar-benar ada dalam wacana tersebut atau sesuai dengan fakta kalimat yang kita baca atau dengar. Yang kedua adalah makna konteks (tersirat) adalah makna yang tidak terdapat dalam kalimat yang kita baca atau dengar.

Kedua macam makna tersebut memberi pemahaman bagi saya pribadi, bahwa saya tak akan pernah mau untuk membatasi pendapat orang lain, selama masih sesuai dengan topik pembicaraan dan tidak merugikan saya pribadi khususnya dan orang banyak pada umumnya. Kenapa demikian? karena dengan adanya kedua jenis makna tersebut, terlebih untuk makna konteks, maka disitu yang akan berperan banyak adalah faktor persepsi dan pendidikan orang yang kita ajak bicara atau orang yang membaca tulisan kita.

Setiap otak manusia akan berbeda isinya dan mempunyai beragam sudut pandang dan bila dalam mendengarkan atau membaca sebuah wacana, mereka menggunakan makna konteks untuk dapat memahami wacana tersebut, maka yang akan kita dapatkan adalah beribu-ribu macam kesimpulan. Yang harus kita pahami adalah semua orang berhak untuk mengeluarkan pendapat mereka, tapi pendapat itu haruslah bisa dipertanggung jawabkan dan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Jadi, hendaknya bila kita memperbincangkan segala sesuatunya atau berdebat tentang suatu hal, maka haruslah jelas patokan dan pijakan hukum nya. Agar pada akhirnya, perdebatan itu tak akan menjadi debat kusir and means nothing but waste our time....

Senin, 02 November 2009

"KH Siddiq Amin Berpulang"

KH Siddiq Amin Berpulang, sebuah judul artikel berita pada surat kabar Republika edisi Senin 2 November, 14 Dzulkaidah 1430 H, nomor 292/tahun ke-17. Seperti biasa sepulang sekolah saya selalu menyempatkan diri untuk membaca koran, sekadar untuk memenuhi hasrat untuk membaca sekaligus menambah wawasan tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Dan pada hari ini, Kamis, ketika saya membuka halaman 12, saya melihat judul itu dan tertarik untuk membacanya.

Berita itu termasuk berita duka, khususnya bagi dunia dakwah Islam di Indonesia. KH Siddiq Amin adalah Ketua Umum Pimpiman Pusat Persatuan Islam (Persis). Almarhum menjabat ketua umum PP Persis sejak 1999. Beliau dikukuhkan menjadi ketua umum sejak 2000 dan terpilih kembali pada 2005. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya, Sabtu (31/10), pukul 22.10 WIB, di RS Al Islam, Bandung.

Saya pribadi tidak mengenal beliau secara detail, bahkan saya baru tahu beliau dari pemberitaan di artikel tadi. Tapi, hanya dengan membaca sejarah singkat tentang beliau dari artikel tersebut, dalam sekejap timbul rasa simpati dalam diri saya. Terlebih beliau merupakan ketua umum dari Persis, walaupun saya dan keluarga saya bukan termasuk di dalam organisasi keagamaan itu. Tapi, yang jelas Persis memang dikenal sebagai organisasi keagamaan yang sangat "saklek" dalam meyampaikan syiar Islam dan beliau tentunya, sebagai ketua umum dari organisasi tersebut dikenal sebagai sosok yang cerdas dan konsisten. Banyak orang yang kagum dan merasa kehilangan dengan kepergiannya. Tak percaya? Untuk menyalatkan saja, banyak orang yang mengantri untuk itu, bahkan dilakukan lebih dari sekali untuk menyalatkan beliau.

Hmm...kematian memang sebuah topik yang selalu membuat saya merinding. Sekali lagi, kematian adalah satu-satunya hal yang pasti akan terjadi pada diri kita semua. Tapi, artikel tersebut membuat semangat lebih dalam diri saya, bahwa kematian KH Siddiq tidaklah sia-sia. Karena sungguh hidup seseorang dapat kita nilai dari kematian nya. Bila kematian seseorang sangat tidak diinginkan orang banyak, dan ketika dirinya mati ditangisi banyak orang lalu banyak diantara mereka yang ikut bersama-sama mengurusi jenazahnya dan akhirnya dengan ikhlas menyalatkannya. Maka dirinya telah berhasil dalam hidup, telah sukses memberikan hal yang posif dalam kehidupan bermasyarakat dan telah menjadi manusia yang berguna.
Dan itulah kehidupan KH SIDDIQ AMIN.

Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun...

Minggu, 01 November 2009

Renungan Semu


Setiap seminggu sekali,
kami mendapat sebuah pelajaran yang sangat berarti.
Pada hari Kamis tepatnya,
dimulai setelah istirahat selesai dan berakhir tepat pada jam 12 siang.

Selama kurang lebih 90 menit,
aku dan 40 temanku yang lain
dengan setia mendengarkan semua nasihat indah penuh petuah.
Walaupun ada diantara kami yang terkantuk dibuatnya.

Dan bagi kami yang memperhatikan itu semua,
kami akan berlomba menampilkan wajah serius seolah mengerti.
Mengangguk dengan pasti, mengiyakan semua yang dikatakannya.
kami seolah malaikat suci, dengan wajah penuh arti.
berintrospeksi diri, karena sungguh setiap kalimat yang kami dengar,
seberapun acuhnya kami terlihat,
dan seberapa kuatnya kami mencoba untuk tidak mendengar,
kata-kata itu akan tetap masuk, menusuk nurani kami semua.

Terlihat sebuah tekad
terlihat sebuah semangat

Tapi, sayang seribu sayang,
semua hilang melayang.
seiring beliau pergi melangkahkan kaki
meninggalkan kami di sini
yang belum sepenuhnya siap 'tuk berserah total pada Illahi...