Kamis, 19 September 2013

Pegawai atau Pebisnis? Pt. III

"sa hormat dan bangga yang sangat tinggi saya sampaikan kepada Bung Adima, ssaya merasa sangat bangga sekali tulisan saya di respon dengan sangat antusias oleh Bung. Bukti nyata bahwa kita sangat berhasrat untuk memperbaiki Republik tercinta ini. Semoga saja semangat menggelora ini terus kita jalin dan bakar sampai Ibu Pertiwi benar-benar tersenyum bahagia.
 

Dan kemudian saya melihat ada sedikit keraguan dalam diri Bung tentang menilai masa depan saya yang di anggap “mendua” oleh Bung. Saya sangat bahagia sekali ini lah bukti bahwa kita keluarga dengan Bung sangat peduli dengan bayangan masa depan saya.
 

Dan dengan segala kerendahan hati tanpa rasa ingin membantah pendapat atau pun menyanggah pendapat bung apalagi membuka jurang pemisah dalam perjuangan kita nau’dubillah, izinkan saya mencurahkan isi hati saya sebagai saudara kepada Bung yang memang kita saudara kandung satu rahim manglayang.

Sekali lagi saya mengulang bahwa ini adalah sekolah kader pemimpin bangsa yang di cetak untuk menjadi pengisi post pemerintahan—dalam arti luas—di Republik yang kita cintai ini. Sekali lagi dalam arti luas, bahkan sangat luas. Dan tujuan utama pemerintahan di negeri ini adalah melindungi dan mensejahterakan rakyat sesuai dengan amanat UUD45. Mengapa saya pikir konsep pemikiran saya relevan dan saya tepat memilih IPDN bukan sekolah bisnis?
 

Sesuai konsepsi dasar bahwa sekolah bisnis mencetak orang-orang yang mencari utnung sebanyak-banyak nya dan mengeluarkan modal atau uang sedikit-dkitnya(sesuai teori ekonomi) sedangkan konsep pamongpreneur yang saya utarakan adalah mencari untung yang besar untung semua dan mengeluarkan uang yang banyak untuk semua dengan cara berdagang. Kemudian timbul pertanyaan “kan PNS kerjanya 7 jam sehari kapan waktu berdagangnya? Ga profesional dong?” dan akan saya jawab bukan kah kita tidak hidup sendiri? Bukan kah kita hidup dikhalayak orang yang banyak? (Sesuai dengan definisi kempemimpinan memanfaatkan orang lain utnuk tujuan yang kita inginkan) kita bisa memanfaatkan sumber daya manusia yang berjubel di negeri ini, kita bisa mengolah itu. Selain mendapatkan keuntungan angakatan kerja terserap sekali mendayung dua puluh sampi seratus pulau terlampaui. Sangatlah efektif bukan?
 

Sekali lagi saya mengulang ini sekolah kader pemimpin di masa depan, kawah candradimuka para pamongpraja. Bukan sekolah PNS biasa!! Kalau hanya mengandalkan kemapuan intelektual, hanya mengandalkan jago mengkonsep sudah saja Bung sekolah di kampus tetangga kita. Toh apa bedanya? Sangatlah rugi negara memenuhi kebutuhan kita selama empat tahun kalau sama saja.  Sudah jelas esensi pamongpraja terlebih pamongpreunuer adalah memanfaatkan segaenap sumberdaya untuk mencapai tujuan utama pemerintahan yaitu mensejahterakan dan melindungi rakyat, menjadikan rakyat Indonesia kaya, menjadikan rakyat kita sejahtera, menjadikan rakyat kita bahagia. dengan segala cara asalkan tidak menentang norma yang berlaku.
 

Sekarang kita mengingat tentang masa depan saya yang di anggap Bung “mendua”. Coba kita perhatikan tokoh-tokoh revolusioner dunia bukankah jarang bahkan tidak ada seorang revolusioner yang hanya menjalani satu profesi saja. Kita lihat Bung Karno dia seorang arsitek dia mendua dengan menjadi seorang politikus hasilnya dia bisa membawa Indonesia pada kemerdekaan, kita liha Che Guevara dia seorang dokter namun dia mendua dengan menjadi seorang pejuang akhirnya bisa menggiring Kuba pada kemerdekaan, kita lihat Sang Junjunan Alam Muhammad SAW beliau seorang pedagang bahkan beliau bukan hanya mendua namu mentiga bahkan lebih merangakap sebagai panglima perang, sebagai tokoh revolusioner, sebagai organisator, sebagai kepala negara dan hasilnya membawa dunia kepada masa yang terang benderang seperti ini.
 

Bukan kah sudah cukup contoh bahwa orang-orang yang menduakan profesinya lah yang bisa membawa perubahan? Mengibarkan bendera revolusi.
 

Di penghujung tulisan ini sekali lagi saya haturkan dengan penuh rasa rendah hati peermohonan maaf yang maha besar bukan maksud hati ingin mendebat namun hanyalah curahan isi hati darirelung hati saudara Bung yang penuh dengan kekurangan ini. Semoga tulisan kita, percikan-percikan api peperanagn kita bisa berubah menjadi api yang sangat besar api maha membara yang berkobar di dalam setiap dada bangsa Indonesia untung berjuang mengembalikan keutuhan kemerdekaan Republik ini. Merdeka!!! Revolusi belum berkahir."

KAMIS, 19 SEPTEMBER 2013
11.16 WIB


Berbeda ketika saya membaca tulisan tanggapan yang pertama dari sahabat saya. Ketika saya membaca tulisan ini, tak ada emosi yang menyertai. Entah kenapa. 

Jujur harus saya akui, rasa-rasanya saya selalu ingin menjadi pemenang dalam hal apapun.

Tapi saya pun lantas menyadari bahwa hal itu hanya akan membuat kita jadi pribadi tertutup dan keras kepala bahkan keras hati. Pada akhirnya, kita harus selalu berusaha untuk lebih banyak mendengar daripada berkata-kata, dan lebih banyak berbuat dari sekedar bercuap-cuap.

Lalu kaitannya dengan tulisan balasan ini, saya pikir saya pun tak lagi harus mengomentari apapun lagi. Mulai terlihat terang arah dan tujuan hidup saya dan sahabat saya itu memang berbeda. Berbeda visi dan misinya tapi dihasilkan dari satu Rahim yang sama.

Bahkan anak kembar sekalipun pasti terdapat perbedaan, ‘kan?

Toh, apa yang saya yakini dan teman saya yakini pun tidak menyalahi norma yang ada. Masih dalam koridor hukum yang diakui bersama. Jadi kenapa lantas tidak saling bekerjasama?

Bukankah dua lebih baik dari satu?

Mungkin akhir dari segala diskusi diantara kami berdua adalah tidak lagi memaksakan salah satu prinsip yang kami yakini. Setidaknya hingga detik saya menulis tulisan ini. 

Karena saya tidak ragu untuk menjilat ludah sendiri bila memang saya rasa prinsip saya tidak lagi relevan dan prinsip yang saya caci maki bisa mengatasinya.

Saya tidak sungkan atau malu!

Diantara kami berdua harus berusaha saling melengkapi, saling memberi dukungan, masukan, kritikan sehingga kami mampu untuk mewujudkan jalan yang telah kami pilih. Tidak justru saling menjatuhkan dan menertawakan!

Ketika memang kita memiliki tujuan yang lurus ikhlas untuk kepentingan kemaslahatan, seharusnya siapapun dan dengan cara apapun itu, kita harus mendukungnya.

Tidak lantas karena berbeda dengan jalan yang kita pilih dan orang yang melakukannya tidak kita sukai, lalu kita justru menjatuhkanya.

Itu berarti ada yang salah dalam niatan kita, ada hawa nafsu kekuasaan  yang menguasai kita.

Untuk saya pribadi, saya mungkin pesimitis tapi bagi saya ini realistis. Kemampuan saya terbatas, saya hanya bisa untuk sekedar menulis, memikirkan sebuah konsep dan mungkin sedikit bercuap-cuap.

Tidak perlu jauh perbandingannya, saya tidak bisa seperti sahabat saya ini, yang jelas memiliki kemampuan berdagang. Suatu kemampuan dan hasrat yang langsung spesifik bermanfaat langsung kepada diri sendiri bahkan khalayak luas.

Oleh karenanya, saya tidak terlalu berharap menjadi seorang tokoh yang mampu merubah dunia menjadi jauh lebih baik tapi cukup bagi saya untuk masuk bagian ke dalam barisan generasi yang mampu untuk merubah dunia.

#PMA all day, guys!

Selasa, 17 September 2013

Pegawai atau Pebisnis? pt. II

SELASA, 17 SEPTEMBER 2013
09.53 WIB


Di dalam tulisan yang “tempo hari”, hasil diskusi semalam suntuk dengan beberapa sahabat. Ternyata harus berbuntut panjang. Setidaknya dalam koridor yang positif.

Adu argumen yang tidak mengedepankan emosi. Saling menguatkan satu sama lainnya. Ketika ada yang lebih kuat, salah satu diantara kami akan mengalah, tidak lantas terus berdebat, terus berputar, terus, dan terus tak berpangkal.

Maka jauh lebih baik apabila anda terlebih dahulu membaca tulisan “balasan” dari sahabat saya ini, selamat menikmati dan terprovokasi  

"Tulisan ini di tujukan untuk menjawab atas pertanyaan Bung Adima yang di tertuang dalam tulisan beliau tempo hari.
 
Dan kemudian Bung bertanya ini sekolah bisniskah? Atau sekolah  pemerintahankah? 

Saya jawab ini adalah sekolah pemerintahan. Sudah jelas tertera dalam  nomeklatur sekolah ini. Namun saya tegaskan pemerintahan disni adalah pemerintahan dalam arti luas bukan hanya arti pemerintahan dalam kardus susu bubuk saja. Sekolah ini membentuk kader pemimpin di masa depan pemimpin yang berkarakter kuat. Di sekolah ini lah di mana di bebankan kepada setiap benaknya peserta didik cita-cita proklamasi 17 agustus 45 dan amanat UUD45.
 
Oleh karena itu segala kebutuhan dan keperluan peserta didik di sekolah ini di penuhi oleh negara dan selanjutnya sering di sebut anak negara. Ya, anak negara. Sudah pantaslah jikalau seorang anak membalas budi jasa ibunya walaupun tak akan pernah terbalas. Mungkin sama dengan hati saya di hati bung Adima pun ada rasa hutang yang membuncah ruas biasa atas jasa negara yang memenuhi kebutuhan kita selama empat tahun.
 
Lantas timbul lah sebuah pertanyaan apa yang bisa kita balas kepada ibu pertiwi? Apa yang bisa kita beri kepada ibupertiwi? Apa yang ibu pertiwi butuhkan? Apakah hanya dengan kita menjadi manusia yang hanya memakai baju kuning apel jam tujuh pagi dan pulang jam empat sore? Apakah dengan hanya kita menjadi manusia yang hanya duduk di belakang meja dan membuat konsep kebijakan? Apakah kita hanya menjadi manusia yang berseragam dan hanya mengatakan muhun pak muhun kepada atasan nya? Sungguh TIDAK masa sekali!!
 
Yang di butuhkan ibu pertiwi saat ini adalah seorang yang mencintai tanah airnya spenuh hati rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemaslahatan umat, kemaslahatan Bangsa Indonesia. Dengan tetap setia kepada cita-cita proklamasi 17 agustus 45 dengan mewjuudkan statewalfare yang utuh di bumi pertiwi ini. Dengan menjadikan negara ini bahagia dan membahagiakan negara lain. Dengan menjadikan negara ini tertolong dan menolong negara lain.
 
Untuk itu dengan posisi kita sebagai birokrat -insya Allah- kita sudah semestinya mewujudkan apa yang di butuhkan ibu pertiwi. Janganlah kita menutup mata sudah banyak sekali musuh dalam selimut di negeri ini. Sudah banyak sekali anak bangsa yang mencoreng muka ibu pertiwi, sudah banyak sekali anak bangsa negeri ini yang menjatuhkan kehormatan ibu pertiwi, dan bahkan sudah banyak anak bangsa yang memperkosa ibu pertiwi nau’dubillah. Apakah dengan berperang dengan manusia keji seperti itu kita hanya berjuang dengan tangan kosong? Itu adalah hal yang sangat konyol sama sekali. Gusti Allah sudah menurunkan figur dan pemimpin di setiap zaman pada masa manusia mengagungkan dan memuja sihir Allah SWT menurukan Musa sebagai jawaban, di kala manusia menganggap pengobatan adalah segalanya Allah menurukan Isa sebagai jawaban. Dan kemudian bagai mana dengan akhir zaman? Di saat di mana uang adalah segalnya? Di masa ketika manusia melupakan segalanya untuk uang? Ya sungguh Allah lah Dzat maha Agung Ia menurukan manusia mulya manusia pujaan jagat raya Muhammad SAW. Apa yang di percontohkan oleh Muhammad untuk menjawab tantangan zaman? Berdagang ! kuasai bidang ekonomi, kita harus menjadi kaya. Itu senjata kita untuk berperang di masa ini Rasulullah pun berdagang dulu baru berjuang,ya berdagang dulu baru berjuang, kaya dulu baru jaya.
 
Sekarang mungkin Bung Adima bisa melihat sendiri berapa banyak bayi yang menangis karena butuh susu di tanah yang kaya ini. Berapa banyak anak yang kurang gizi di negeri yang kaya akan lautan ini. Berapa banyak ibu yang menjadi pelacur untuk mencari nasi di tanah yang subur ini? Sudah banyak sekeli.
 
Kemudian apa kah hanya dengan kebijakan lalu bayi yang meronta bisa tidur nyenyak karena perut sudah terisi susu? Apakah hanya dengan Perda mulut yang menganga dengan perut busung kelaparan bisa sehat? Apakah hanya dengan peraturan pemerintah wanita penghibur bisa berhenti melacur karena beras di dapurnya sudah cukup? Sama sekali tidak!
 
Sekarang coba bayangkan Bung Adima menjadi orang kaya dan menyedekahkan harta kepada sepuluh orang miskin, kemudian saya bersedekah kepada sepuluh orang miskin, kemudian seribu lima ratus praja angkatan dua satu bersedekah kepada sepuluh orang miskin, kemudian ratusan ribu camat dan lurah bersedekah kepada sepuluh orang msikin, kemudian juta-juta PNS bersedekah kepada sepuluh orang miskin saja. Apakah masih ada orang yang kelaparan? Itu yang saya maksud Pamongprenuer. Sudah stop-lah menjadi pegawai yang miskin, sudah stop-lah menjadi pegawai yang pendapatannya hanya bisa memenuhi setengah bulan saja dan setengah bulan kemudian mengutang.
 
Bagaimana kita bisa bekerja maksimal sedangkan kita lapar?  Bagaiman kita bisa berjuang kalau anak dan istri merana di rumah karena hutanga? Bangaimana kita bisa memberi sedangkan kita pun hanya berharap di beri gaji dari negara.
 
Jadilah Pamongprenuer seorang pelayan masyarakat yang kaya dan dermawan. Seorang abdi yang mengabdikan dirinya secara total dan tidak berharap pamrih dari negara. Stop sudah meminta kepada negara, stop sudah numpang makan kepada masyarakat. Sudah saatnya kita kaya sudah saatnya kita memberi.
 
Tulisan ini hampir habis terlepas Bung setju atau tidak saya tidak pentingkan itu yang saya pedulikan adalah kita bersama-sama berpegangan tangan berjuang untuk menghapus air mata di pipi ibu pertiwi.
   
saya harap bung bisa membaca dan rela jikalau saya menumpang untuk ikut posting tulisan ini di blog saudara.karena saya belumpunya dan belum mengerti tentang hal demikian. Dan saya tunggu jawaban Bung yang selanjutnya. Merdeka !!! Ingat REVOLUSI belum berakhir!!"

Bagaimana?
Saya sungguh tertegun ketika membacanya, argumen kuat dengan bumbu fakta yang sangat relevan. Masalah dihidangkan dengan begitu nikmat, disajikan panas dengan solusi yang membakar.

Lalu bagaiaman komentar saya? Sungguh saya tidak bisa berkata-kata, bukti nyata saya kalah dalam ini perdebatan.

Apa yang saya ingin jelaskan kembali dalam tulisan komentar ini adalah bahwa prinsip serta tujuan hidup sahabat saya itu sungguh sangat fenomenal tapi sedikit banyaknya salah tempat.

Ya, sahabat saya memang pernah menjelaskan bahwa dia pun tidak berharap muluk berada di sekolah ini setelah dia memahami benar bahwa cara menguasai dunia adalah dengan menguasai ekonominya. Maka dia pun hanya ingin sekedar memahami pemerintahan sehingga kelak ketika telah berhasil dalam dunia ekonomi, dia mudah ketika akan terjun ke dalam dunia pemerintahan.

Maka apabila dicermati dengan seksama pada tulisan saya “tempo hari” pun, saya hanya mempermasalahkan bahwa seharusnya ketika memang mempunyai keinginan atau hasrat dalam dunia bisnis, maka sekolah bisnis jauh akan lebih mampu untuk mengeksplorasinya.

Menjadi penuh sebagai seorang wirausahawan murni akan jauh lebih terbuka banyak kesempatan untuk mendapatkan kejayaan di dunia ekonomi. Daripada harus membagi waktu dengan terlebih dahulu menjadi seorang PNS yang masuk jam 7 pagi dan pulang jam 4 sore.

Bukankah hal itu justru akan membuat salah satu hal akan terbengakalai? Apakah justru nantinya kita hanya akan menjadi pegawai formalitas yang sebenarnya hati, pikiran, jiwa raga kita telah tercurah dalam dunia usaha. Kenapa tidak langsung sepenuhnya menyeburkan diri dalam lautan dunia usaha?

Kenapa harus juga tetap menjadi seorang PNS? Kalo alasan sahabat saya itu hanya ingin sekedar mengetahui bagaimana pemerintahan, dengan hobi membaca, hal itu sudah sangat bisa di dapatkan. Dengan memiliki banyak teman dari banyak kalangan, sudah bisa mengambil banyak pengalaman.

Saya hanya merasa kasian dengan anak-anak ibu pertiwi lainnya, yang lebih ingin “penuh” menjadi seorang pegawai. Yang kini posisinya harus digantikan oleh sahabat saya yang sebenarnya fokus utama hidupnya telah terpatri dalam dunia usaha.

Hanya itu sebenarnya yang sedikit banyaknya mengusik saya.

Bila kemudian sahabat saya itu akan membalas lagi tulisan ini dengan tulisan yang lainnya maka saya sungguh sangat terbuka. Karena perang melalui tulisan jauh lebih akan berguna karena meninggalkan jejak yang pasti yang bisa terus diteliti.

Sekali lagi bukan dunia usaha atau menjadi pebisnis yang saya kritisi tapi sifat setengah-setengah yang saya ingin komentari.

Bila pegawai ya pegawai, bila pebisnis ya pebisnis. Apalagi telah diketahui bahwa menjadi pegawai hanya akan mendapatkan gaji yang terbatas, hanya cukup setengah bulan dan setengah bulan lagi berhutang.

Lantas kenapa tetap menjadi PNS?

Bila telah tau berdagang mampu medatangkan harta lebih banyak dan jauh lebih halal, kenapa tidak sepenuhnya menjadi pebisnis? Bila dengan tidak penuh menjadi seorang pebisnis pun sahabat saya itu mampu mendapatkan keuntungan yang banyak, bukiankah apabila dia menjadi pebisnis sepenuh waktu keuntungan yang akan dia dapatkan bisa jauh lebih banyak.

Lalu bila dengan alasan untuk bisa masuk dalam struktur pemerintahan, bukankah dengan jadi pebisnis yang kaya raya, sahabat saya itu bisa dengan mudahnya untuk mencalonkan menjadi seorang Kepala Daerah.

Bahkan apabila penuh menjadi seorang pebisnis, yang sahabat saya "klaim" akan dermawan. Bukankah dengan begitu dia akan mendapatkan banyak simpati rakyat, dan bukankah modal dan simpati rakyat merupakan hal utama untuk terpilih menjadi seorang Kepala Daerah bahkan Pimpinan Negara?

Ya, hanya itu, hanya itu. Kenapa masih harus mendua dengan pilihan?

Senin, 16 September 2013

Pegawai atau Pebisnis?

SENIN, 16 SEPTEMBER 2013
08.24 WIB


Ini sebagian hasil obrolan semalaman suntuk bersama para sahabat, yang terkadang tidak masuk di akal.

Saya tidak akan mengomentari atau menceritakan jelas apa yang telah kami obrolkan. Karena memang saya pun tidak mampu mengingatnya penuh dan terang atau bahkan apa yang kami obrolkan terlalu tidak mengandung unsur edukasi sehingga percuma kalaupun harus saya ceritakan ulang.

Tapi banyak dari apa yang telah kami obrolkan pada malam hingga pagi hari itu berkutat pada permasalahan dunia usaha.

Saya memang kurang tertarik dan saya pun sadar tidak mempunyai bakat di dalam dunia usaha. Tapi ini pendapat saya tentang dunia usaha.

Pada dasarnya dan hakikatnya dunia usaha itu di luar apa yang di ajarkan di kampus ini. Kami tidak disiapkan untuk menjadi seorang pebisnis. Kasarnya ini bukan-lah sebuah sekolah bisnis!

Kampus ini, koreksi jika saya salah, adalah pencetak kader pemerintahan. Sejauh yang saya tau, apa yang kampus ini harapkan adalah agar peserta didiknya mampu untuk menjadi birokrat yang handal.

Di awal kami diingatkan, bahwa salah ketika ingin mendapatkan banyak harta memilih menjadi seorang abdi negara. Uang tak akan seberapa kami dapatkan.

Apa yang akan kami dapatkan nantinya, bila menjadi seorang abdi dalem, hanya akan mendapat nama baik. Mendapatkan penghargaan, sebuah pengabdian.

Bekerja untuk orang banyak, menciptakan manfaat tapi tidak mendapatkan profit. Menjadi pelayan yang tidak menjadi kaya tapi justru menyejahterakan (red:membuat kaya) masyarakat.

Dari situ terlihat jelas perbedaan mendasar. Secara prinsip, tujuan dunia usaha dan pemerintahan berbeda. Beda fokus. Yang satu benefit dan yang satu profit.

Lalu salahkah apabila kita mencampuradukannya?
Secara normatif dan mungkin etika, saya pikir sedikit bisa disalahkan walaupun bisa juga mendapatkan banyak pembenaran.

Cenderung akan bertabrakan dengan jabatan, penyalahgunaan wewenang. Sangat riskan!

Tapi berbeda ketika ada seorang atau dua atau tiga, empat, lima, dan seterusnya, yang mampu menyeimbangkannya.

Tapi bagaimana faktanya?
Ada, bahkan banyak kok yang bisa seimbang!

Untuk saya pribadi, sedari awal, saya haus akan nama baik. Apresiasi dan dikenal serta disegani karena mampu mengambil dan membuat kebijakan. Orang-orang bertumpu pada apa yang saya ucapkan dan tidak saya ucapkan. Saya pun sadar tidak pernah mempunyai kemampuan teknis spesifik. Saya terlampau sangat generalis!

Oleh karenanya, saya tidak terlalu tertarik dengan dunia usaha. Saya ingin benar-benar terfokus terhadap apa yang telah saya tentukan untuk masuk ke kampus ini dan menjadi seorang abdi negara juga masyarakat.

Itu impian idealis saya!

Perpaduan keras antara apa yang Ayah saya alami dan Paman (red:Uwa) saya dapatkan. Ada yang salah dan saya ingin merubahnya, tercampur hangat dengan keinginan untuk mendapatkan apresiasi dan nama baik serta pengakuan.

Bermanfaat dengan menghasilkan benefit. Tidak atau bukan profit. Ini pilihan saya. Tak masalah anda tidak setuju lalu kemudian berbeda.

Tapi saya pun tidak munafik, saya juga butuh materi. Hidup tanpa materi, bisa apa? Tapi saya meyakini, dapat mendapatkan itu (red:materi) sejalan dengan pengabdian yang telah saya berikan.

Lalu masalahnya apa?
Masalahnya adalah dualisme tanpa keseimbangan. Apabila sedari dunia pendidikan yang telah jelas untuk menjadi seorang pegawai negeri sipil, sudah banyak terfokus pada dunia usaha, lantas apa jadinya nanti setelah bekerja?

Ya, mungkin menjadi pegawai itu hanya untuk mendapatkan zona nyaman atau batu loncatan. Itu pun tidak melanggar aturan normatif apapun, jadi memang wajar ‘kan?

Tapi saya merasa itu sedikit banyaknya melanggar etika. Kenapa tidak sedari awal saja masuk sekolah bisnis?

Tapi, tapi, dan lagi, lagi tapi, itu pilihan hidup setiap pribadi masing-masing. Dengan setiap visi, misi, dan strategi yang telah ditetapkan. Sepanjang tidak menyalahi aturan atau norma agama, sosial, dan negara, kenapa juga harus berhenti?

Well, well, well…
just #PMA all day, guys!

Selasa, 03 September 2013

KSK, Gengsi, dan S1/D4

Selasa, 3 September 2013
09.41 WIB


Seharusnya dan semestinya, sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh pimpinan, Tahun Akademik (T.A.) 2013/2014 di kampus ini, dimulai pada hari Senin, tanggal 2, bulan September, tahun 2013.

Akan tetapi tidak semua satuan pada kenyataannya yang bisa langung memulai tahun akademik baru pada bidang pengajaran dan pelatihan, hanya satuan Madya dan Nindya yang (katanya) telah resmi memulai tahun akademik 2013/2014.

Sedangkan untuk kami, satuan Wasana, pengajaran dan pelatihan di tahun akademik 2013/2014, sesuai dengan arahan terbaru, akan mulai berjalan pada minggu kedua bulan September.

Pimpinan beralasan bahwa minggu pertama di bulan September yang (katanya) ceria ini, akan terlebih dahulu dimulai dengan integrasi. Kenapa integrasi? Karena kami, satuan Wasana, kurang lebih 2 tahun terpisah, dan sekarang di tahun terakhir kembali berkumpul. Sehingga perlu untuk kembali disamakan persepsi mengenai struktur, kultur, dan prosedur proses pelaksanaan siklus kehidupan praja.

Lalu bagaimana dengan Muda? Satuan terendah di kampus ini? Ahh, mereka masih dalam tahap penerimaan. Penerimaan tahun ini sungguh sangat berbeda, sangat lama, dan berada di akhir tahun. Sehingga setiap anak manusia yang ingin mencoba peruntungan untuk mengenyam pendidikan di kampus ini harus mereka yang benar-benar yakin, bila tidak, maka bersiap untuk tidak mengenyam pendidikan selama satu tahun ke depan. Karena praktis perguruan tinggi lainnya (negeri tentunya) telah menutup penerimaan mahasiswa baru.

Dan sebagai salah satu program kegiatan integrasi tersebut, pada pagi tadi, selepas pelaksanaan apel pagi. Seluruh satuan Wasana kampus pusat, kecuali mereka yang masuk program kelas bilingual, mendapat pengarahan dari Wakil Rektor, Prof. Sadu Wasistiono.

Acara yang saya pikir dilangsukan cukup mendadak, karena hal itu pun diakui langsung oleh Prof. Sadu. Karena pada jam yang tidak terlampau lama, seharusnya Prof. Sadu pun mengajar di kelas bilingual.

Tapi, disitu-lah letak perbedaan kualitas dan pengalaman seorang professor daripada orang-orang “biasa” lainnya. Sesempit apapun waktu yang ada, mereka akan selalu siap untuk menerima tugas sebagai pembicara.

Maka walaupun beliau meng-klaim tidak memiliki waktu banyak untuk mempersiapkan apa yang akan beliau sampaikan. Sungguh beliau tetap mampu menyampaikan beberapa arahan sekaligus pembekalan bagi kami, dalam kaitannya sebagai satuan Wasana di kampus pusat.

Hal pertama yang beliau sampaikan adalah mengenai kebijakan Kumpul-Sebar-Kumpul yang kini digunakan oleh lembaga. Beliau mengatakan bahwa ini merupakan usaha mempersipakan kami, para peserta didik, agar terbiasa untuk siap ditempatkan dimanapun tempat kerja nantinya.

Hal ini sejalan dengan manajemen modern, yang selalu menghendaki para karyawannya agar mampu bersikap dinamis dan bisa cepat untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Oleh karena itu, lembaga ini berani untuk mengambil kebijakan pembentukan Kampus Daerah, dan menerapkan sistem Kumpul-Sebar-Kumpul.

Beliau juga mengomentari salah satu kalimat dalam arahan Pak Presiden dalam pelantikan Pamong Praja Muda Angkatan 20 yang dilaksanakan beberapa hari lalu di IPDN Kampus Pusat.

Pak Presiden saat itu mengatakan bahwa IPDN merupakan salah satu perguruan tinggi bergengsi yang ada di negeri ini. Lantas bergengsi dalam bidang apa? Hal itu yang ingin dipertanyakan oleh Prof. Sadu sekaligus mengajak kami bersama untuk memikirkan dan merenungkannya.

Beliau yang memang berlatar belakang akademisi, maka beliau dengan sangat bijak mengatakan bahwa, karena IPDN merupakan sebuah perguruan tinggi, maka ya IPDN harus bergengsi dalam bidang pendidikan.

IPDN telah mampu menghadirkan sebuah kurikulum yang hanya dimiliki dan dikembangkan disini, kurikulum tritunggal terpusat, Pengajarn-Pelatihan-Pengasuhan, dengan titik berat pada keahliaan teoritis, legalistis, dan empiris.

Hal ini yang kemudian beliau sangat tegaskan. Lalu beliau memberikan standar sederhana untuk melihat apakah IPDN telah mampu untuk memiliki kualitas pendidikan yang baik sehingga pantas untuk memiliki gengsi seperti yang disebutkan oleh Pak Presiden.

Standar atau ukuran sederhana itu adalah dilihat dari perpustakaan yang ada di kampus ini, dan di setiap kampus daerah yang dimiliki IPDN.
Dan hasilnya bagaimana? Well, I just can’t say!

Beberapa hal lain yang juga beliau sampaikan adalah mengenai kebijakan program S1 dan D4 yang digunakan di sini. Secara singkat beliau mengatakan bahwa hal itu untuk menjawab tantangan para kritikus tentang fakta sampai dengan saat ini belum ada lulusan IPDN yang berkiprah secara lingkup nasional.

Alasan yang beliau kemukakan kenapa hal itu belum mampu tercapai adalah karena memang IPDN fokus untuk mencetak kader-kader pemerintahan yang siap pakai di daerah.

Dan apabila memang IPDN juga diminta untuk meluluskan kader-kader pemerintahan yang mampu berkiprah secara nasional, maka IPDN kini mempunyai program S1 yang diharapkan akan menjadi thing tank, dibandingkan dengan D4 yang benar-benar disiapkan untuk menjadi pegawai yang terampil dan siap bekerja di daerah.

Dari beberapa hal yang beliau sampaikan pada kesempatan itu, satu hal yang pasti, yang mampu saya tangkap, beliau sangat akademisi. Beliau merupakan salah satu contoh pimpinan yang ada di lembaga ini, yang menginginkan lembaga ini untuk lebih menekankan kepada segi akademis.

Karena bukankah hakikat dari pendidikan itu adalah untuk mendidik peserta didik untuk siap menempuh masa depan. Dan beliau yakin di masa depan tidak lagi relevan segala bentuk tindakan represif. Di masa depan, masyrakat akan semakin kompleks dan kemampuan persusuaif menjadi sangat diperlukan.

Maka hal itu semakin mempertegas bahwa di lembaga ini, sebenaranya tidak kekurangan orang-orang pintar, lembaga ini hanya butuh lebih banyak penyatuan persepsi, integrasi di kalangan pimpinan, lalu koordinasi dan kontrol yang baik terhadap setiap bagian yang ada di bawahnya. Kenapa seperti itu?

Karena semuanya seperti berjalan tidak beringingan, berjalan sendiri dengan visi yang tidak saling berkaitan. Satu pimpinan sangat tegas dalam hal unit kegiatan praja, dan satu yang lain sangat ketat dalam perkuliahan. Memang kurikulum di sini, tritunggal terpusat, dan semuanya harus berjalan seimbang. Tapi saya tetap meyakini, harus tetap ditetapkan fokus utamanya apa, dan mana yang sebagai pendukung.

Perumpaannnya adalah jelas dalam bentuk sebuah kepemimpinan, sangat sulit sebuah organisasi berjalan tanpa adanya satu komando. Maka hal itu pula yang terjadi disini, semua diharapkan menjadi yang utama dan tanpa disadari satu dengan yang lainnya saling mengerogoti karena ingin menjadi yang paling utama.

Jadi, saya pikir, tak cukup dan tak hanya, kami yang memiliki waktu satu minggu untuk integrasi penyamaan persepsi, saya pikir para pimpinan di lembaga ini pun sangat membutuhkan waktu untuk saling berintegrasi, bagaimana, pak?

#PMA all day, guys!