Kamis, 19 September 2013

Pegawai atau Pebisnis? Pt. III

"sa hormat dan bangga yang sangat tinggi saya sampaikan kepada Bung Adima, ssaya merasa sangat bangga sekali tulisan saya di respon dengan sangat antusias oleh Bung. Bukti nyata bahwa kita sangat berhasrat untuk memperbaiki Republik tercinta ini. Semoga saja semangat menggelora ini terus kita jalin dan bakar sampai Ibu Pertiwi benar-benar tersenyum bahagia.
 

Dan kemudian saya melihat ada sedikit keraguan dalam diri Bung tentang menilai masa depan saya yang di anggap “mendua” oleh Bung. Saya sangat bahagia sekali ini lah bukti bahwa kita keluarga dengan Bung sangat peduli dengan bayangan masa depan saya.
 

Dan dengan segala kerendahan hati tanpa rasa ingin membantah pendapat atau pun menyanggah pendapat bung apalagi membuka jurang pemisah dalam perjuangan kita nau’dubillah, izinkan saya mencurahkan isi hati saya sebagai saudara kepada Bung yang memang kita saudara kandung satu rahim manglayang.

Sekali lagi saya mengulang bahwa ini adalah sekolah kader pemimpin bangsa yang di cetak untuk menjadi pengisi post pemerintahan—dalam arti luas—di Republik yang kita cintai ini. Sekali lagi dalam arti luas, bahkan sangat luas. Dan tujuan utama pemerintahan di negeri ini adalah melindungi dan mensejahterakan rakyat sesuai dengan amanat UUD45. Mengapa saya pikir konsep pemikiran saya relevan dan saya tepat memilih IPDN bukan sekolah bisnis?
 

Sesuai konsepsi dasar bahwa sekolah bisnis mencetak orang-orang yang mencari utnung sebanyak-banyak nya dan mengeluarkan modal atau uang sedikit-dkitnya(sesuai teori ekonomi) sedangkan konsep pamongpreneur yang saya utarakan adalah mencari untung yang besar untung semua dan mengeluarkan uang yang banyak untuk semua dengan cara berdagang. Kemudian timbul pertanyaan “kan PNS kerjanya 7 jam sehari kapan waktu berdagangnya? Ga profesional dong?” dan akan saya jawab bukan kah kita tidak hidup sendiri? Bukan kah kita hidup dikhalayak orang yang banyak? (Sesuai dengan definisi kempemimpinan memanfaatkan orang lain utnuk tujuan yang kita inginkan) kita bisa memanfaatkan sumber daya manusia yang berjubel di negeri ini, kita bisa mengolah itu. Selain mendapatkan keuntungan angakatan kerja terserap sekali mendayung dua puluh sampi seratus pulau terlampaui. Sangatlah efektif bukan?
 

Sekali lagi saya mengulang ini sekolah kader pemimpin di masa depan, kawah candradimuka para pamongpraja. Bukan sekolah PNS biasa!! Kalau hanya mengandalkan kemapuan intelektual, hanya mengandalkan jago mengkonsep sudah saja Bung sekolah di kampus tetangga kita. Toh apa bedanya? Sangatlah rugi negara memenuhi kebutuhan kita selama empat tahun kalau sama saja.  Sudah jelas esensi pamongpraja terlebih pamongpreunuer adalah memanfaatkan segaenap sumberdaya untuk mencapai tujuan utama pemerintahan yaitu mensejahterakan dan melindungi rakyat, menjadikan rakyat Indonesia kaya, menjadikan rakyat kita sejahtera, menjadikan rakyat kita bahagia. dengan segala cara asalkan tidak menentang norma yang berlaku.
 

Sekarang kita mengingat tentang masa depan saya yang di anggap Bung “mendua”. Coba kita perhatikan tokoh-tokoh revolusioner dunia bukankah jarang bahkan tidak ada seorang revolusioner yang hanya menjalani satu profesi saja. Kita lihat Bung Karno dia seorang arsitek dia mendua dengan menjadi seorang politikus hasilnya dia bisa membawa Indonesia pada kemerdekaan, kita liha Che Guevara dia seorang dokter namun dia mendua dengan menjadi seorang pejuang akhirnya bisa menggiring Kuba pada kemerdekaan, kita lihat Sang Junjunan Alam Muhammad SAW beliau seorang pedagang bahkan beliau bukan hanya mendua namu mentiga bahkan lebih merangakap sebagai panglima perang, sebagai tokoh revolusioner, sebagai organisator, sebagai kepala negara dan hasilnya membawa dunia kepada masa yang terang benderang seperti ini.
 

Bukan kah sudah cukup contoh bahwa orang-orang yang menduakan profesinya lah yang bisa membawa perubahan? Mengibarkan bendera revolusi.
 

Di penghujung tulisan ini sekali lagi saya haturkan dengan penuh rasa rendah hati peermohonan maaf yang maha besar bukan maksud hati ingin mendebat namun hanyalah curahan isi hati darirelung hati saudara Bung yang penuh dengan kekurangan ini. Semoga tulisan kita, percikan-percikan api peperanagn kita bisa berubah menjadi api yang sangat besar api maha membara yang berkobar di dalam setiap dada bangsa Indonesia untung berjuang mengembalikan keutuhan kemerdekaan Republik ini. Merdeka!!! Revolusi belum berkahir."

KAMIS, 19 SEPTEMBER 2013
11.16 WIB


Berbeda ketika saya membaca tulisan tanggapan yang pertama dari sahabat saya. Ketika saya membaca tulisan ini, tak ada emosi yang menyertai. Entah kenapa. 

Jujur harus saya akui, rasa-rasanya saya selalu ingin menjadi pemenang dalam hal apapun.

Tapi saya pun lantas menyadari bahwa hal itu hanya akan membuat kita jadi pribadi tertutup dan keras kepala bahkan keras hati. Pada akhirnya, kita harus selalu berusaha untuk lebih banyak mendengar daripada berkata-kata, dan lebih banyak berbuat dari sekedar bercuap-cuap.

Lalu kaitannya dengan tulisan balasan ini, saya pikir saya pun tak lagi harus mengomentari apapun lagi. Mulai terlihat terang arah dan tujuan hidup saya dan sahabat saya itu memang berbeda. Berbeda visi dan misinya tapi dihasilkan dari satu Rahim yang sama.

Bahkan anak kembar sekalipun pasti terdapat perbedaan, ‘kan?

Toh, apa yang saya yakini dan teman saya yakini pun tidak menyalahi norma yang ada. Masih dalam koridor hukum yang diakui bersama. Jadi kenapa lantas tidak saling bekerjasama?

Bukankah dua lebih baik dari satu?

Mungkin akhir dari segala diskusi diantara kami berdua adalah tidak lagi memaksakan salah satu prinsip yang kami yakini. Setidaknya hingga detik saya menulis tulisan ini. 

Karena saya tidak ragu untuk menjilat ludah sendiri bila memang saya rasa prinsip saya tidak lagi relevan dan prinsip yang saya caci maki bisa mengatasinya.

Saya tidak sungkan atau malu!

Diantara kami berdua harus berusaha saling melengkapi, saling memberi dukungan, masukan, kritikan sehingga kami mampu untuk mewujudkan jalan yang telah kami pilih. Tidak justru saling menjatuhkan dan menertawakan!

Ketika memang kita memiliki tujuan yang lurus ikhlas untuk kepentingan kemaslahatan, seharusnya siapapun dan dengan cara apapun itu, kita harus mendukungnya.

Tidak lantas karena berbeda dengan jalan yang kita pilih dan orang yang melakukannya tidak kita sukai, lalu kita justru menjatuhkanya.

Itu berarti ada yang salah dalam niatan kita, ada hawa nafsu kekuasaan  yang menguasai kita.

Untuk saya pribadi, saya mungkin pesimitis tapi bagi saya ini realistis. Kemampuan saya terbatas, saya hanya bisa untuk sekedar menulis, memikirkan sebuah konsep dan mungkin sedikit bercuap-cuap.

Tidak perlu jauh perbandingannya, saya tidak bisa seperti sahabat saya ini, yang jelas memiliki kemampuan berdagang. Suatu kemampuan dan hasrat yang langsung spesifik bermanfaat langsung kepada diri sendiri bahkan khalayak luas.

Oleh karenanya, saya tidak terlalu berharap menjadi seorang tokoh yang mampu merubah dunia menjadi jauh lebih baik tapi cukup bagi saya untuk masuk bagian ke dalam barisan generasi yang mampu untuk merubah dunia.

#PMA all day, guys!

5 komentar:

  1. Yah, perbedaan adalah hal yang biasa... :D

    Mungkin lebih baik kita melakukan hal yang terbaik yang kita bisa. Nanti hal itu akan membuat kita semakin jago dalam bidang tertentu. Nah, kita nantinya bisa memakai keahlian ini untuk mengambil peran dalam memajukan bangsa dan negara :-)

    BalasHapus
  2. sedap sekali diskusinya, cukup konstruktif dan bersahaja.

    budaya akademis seperti ini yg harus dibangun dan dikembangkan dikesatriaan kita..

    BNEB !

    BalasHapus
  3. PNS jadi pebisnis juga nggak masalah

    BalasHapus
  4. @blogditter : betul sekali, tinggal bagaimana mengkombinasikannya. :)

    @catatan pamong : hehe tapi ini diskusi informal kok.

    @websitemini : emang gak masalah sih..

    BalasHapus
  5. saya mau jadi penjahat sajalah, sepertinya cuma penjahat yang makmur hidupnya diindonesia...huahahahhaha #ketawaalabuto ijo :p

    BalasHapus