Sabtu, 27 Juli 2013

Merubah format Otonomi Daerah di Indonesia

Sabtu, 27 Juli 2013
15.00 WIB

http://2.bp.blogspot.com/-j6-VwE-22dY/UMWPyUWULiI/AAAAAAAAAGs/_KxAwPwiBLM/s400/otonomi-daerah.jpg

*catatan : tulisan ini seharusnya (dan sebenarnya saya telah niatkan) untuk saya kirimkan pada sebuah perlombaan artikel yang diselenggarakan oleh salah satu Universitas negeri di Sulawesi Selatan. 

ahh, apa daya? saya harus bertekuk lutut terkalahkan oleh rasa malas dan euforia kemenangan pada Lomba Karya Tulis Ilmiah. Padahal apa yang saya harus lakukan hanya-lah mengurus surat keterangan bahwa saya adalah benar seorang mahasiswa beserta tiga atau empat berkas surat pernyataan lainnya lalu mengirimkan artikel dan semua berkas beserta seluruh persyaratannya pada alamat yang telag ditentukan dengan terlebih dahulu membayar uang pendaftaran.

Tapi memang begitu hebat apa yang bisa dikalahkan oleh rasa malas!

Bila memang berbicara hadiah, apa yang mereka tawarkan tidak begitu menggiurkan. Tapi dari segi prestise, hal itu sungguh sangat menggairahkan! karena lingkup dari perlombaan tersebut adalah mencakup seluruh mahasiswa yang ada di Indonesia.

Sudah-lah, nikmati saja tulisan ini kawan!

#PMA all day, guys! 

MERUBAH FORMAT OTONOMI DAERAH SEBAGAI UPAYA PEMBERANTASAN KORUPSI
oleh : Adima Insan Akbar Noors

Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, dalam hal ini adalah Undang-Undang (UU) Nomor 31 tahun 2009 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 tahun 2009 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, tindak pidana korupsi di Indonesia dirumuskan sebagai sebuah tindakan melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara. Korupsi merupakan sesuatu hal yang sangat diharamkan dalam iklim pemerintahan sekarang ini.Pemerintahan dewasa ini yang dituntut untuk selalu mengedepankan transparansi dan akuntabilitas untuk mencapai sebuah konsep pemerintahan yang baik atau Good Governance, maka memang sudah sepantasnya tidak lagi berkutat dengan permasalahan korupsi. Dilihat dari perspektif apapun, terlebih dengan menggunakan dasar pengertian seperti apa yang tercantum dalam UU, maka tindakan korupsi tidak bisa untuk dibenarkan karena jelas merugikan Negara. Uang Negara yang berasal dari rakyat secara aturan bahkan etika, harus digunakan untuk kepentingan rakyat itu sendiri, bukan justru dinikmati untuk kepentingan diri sendiri.

Fenomena tindak pidana korupsi mulai mengemuka seiring dengan jatuhnya rezim Orde Baru dan hadirnya rezim Reformasi.Rezim reformasi yang hadir dengan konsep desentralisasi dan otonomi daerah, ternyata justru menjadi keranpembuka untuk lahirnya tindak pidana korupsi yang lebih besar.Hal ini tidak berarti bahwa pada saat rezim Orde Baru dengan sistem sentralistisnya terbebas dari permasalahan korupsi. Tindak pidana korupsi merupakan sebuah budaya laten. Akan tetapi ketika pada saat rezim Orde Baru, permasalahan korupsi kurang begitu mendapat perhatian dan tidak menjadi isu utama karena memang situasi dan iklim pemerintahan (reperrsif) pada saat itu tidak memungkinkan hal-hal seperti korupsi, bisa dengan mudah untuk muncul ke permukaan. Terlebih lagi dengan penerapan sistem sentralistis maka secara otomatis transaksi politik hanya berada di sekitar ibu kota.

Semua hal itu kemudian berubah 180 derajat ketika Pemerintah mulai berani untuk menerapkan sistem desentralisasi dengan menerapkan format otonomi daerah. Setiap daerah yang ada di Indonesia di bagi ke dalam beberapa provinsi dan masing-masing provinsi terdiri dari beberapa kabupaten dan/atau kota. Pada mulanya desentralisasi dengan otonomi daerah diatur dalam UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah tapi kemudian direvisi dengan UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Di dalam UU  32/2004 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan desentralisasi dirumuskan sebagai penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.Sehingga konsekuensi logis dari aturan tersebut adalah setiap pemerintah daerah memiliki wewenang untuk mengatur setiap urusannya masing-masing dan hal itu juga berarti setiap pemerintah daerah mempunyai kewenangan untuk mengatur setiap keuangannya. Karena penyelenggaraan desentralisasi dan otonomi tidak akan mungkin berjalan tanpa adanya biaya. Oleh sebab itu setiap pemerintah daerah berhak untuk menentukan dan membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN) sendiri.Dan disini adalah letak permasalahannya.
 
Hal itu yang kemudian menyebabkan tindak pidana korupsi di era reformasi ini menjadi merajalela bahkan dilakukan secara sistematis.Karena secara sistem terdapat celah bagi setiap penyelenggara pemerintahan untuk melakukan penyelewangan.Penyelenggara pemerintahan seperti “terpaksa” untuk melakukan tindak pidana korupsi karena memang sistem otonomi daerah sekarang ini menyebabkan biaya demokrasi di Indonesia sangat tinggi. Fakta yang ada di lapangan, kepala daerah beserta perangkat daerahnya hanya fokus untuk bekerja mengabdi kepada masyarakat pada 2 (dua) atau 3 (tiga) tahun pertama, setelah itu mereka akan terfokus pada upaya mereka untuk memenangkan kembali pemilihan yang akan datang.Setiap kepala daerah berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin modal untuk nantinya digunakan dalam usaha mereka memenangi pemilihan selanjutnnya.
 
Semua itu terjadi karena sistem otonomi di Indonesia yang diatur dalam UU Nomor 32 tahun 2004 masih menempatkan provinsi dan kabupaten/kota sebagai sebuah daerah otonom. Hal ini menyebabkan provinsi dan kabupaten/kota harus memilih kepala daerahnya secara terpisah dan langsung oleh rakyat. Konsekuensi lain dari aturan itu adalah provinsi dan kabupaten/kota sebagai daerah otonom diamanatkan untuk membentuk satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di wilayah kerjanya masing-masing. Hal ini jelas membuat gemuk struktur organisasi yang ada di pemerintah Indonesia, khususnya pemerintah daerah.Gemuknya SKPD berarti berbanding lurus dengan banyaknya anggaran yang harus dikeluarkan untuk urusan belanja pegawai.Selain dari gemuknya SKPD di pemerintah daerah, dengan adanya SKPD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota juga membuat semakin panjang birokrasi yang harus dilewati untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, yang berarti semakin banyak biaya yang harus dikeluarkan.
 
Atas dasar realita di lapangan seperti yang telah dikemukakan di atas maka perlu adanya perubahan format otonomi daerah. Perubahan format ini juga merupakan salah satu cara untuk melakukan pencegahan terhadap segala bentuk tindak pidana korupsi di negeri ini. Pemikiran mendasar yang perlu dimiliki adalah bahwa dengan semakin panjang dan gemuknya birokrasi maka akan semakin besar kecenderungan untuk terjadinya rigidity, yang berarti akan semakin banyak anggaran yang harus dikeluarkan serta pemahaman yang menyeluruh bahwa konsep otonomi daerah yang diletakan pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota menyebabkan biaya demokrasi di negeri ini menjadi sangat besar. Sehingga kepala daerah dan perangkatnya terjebak pada politik transaksional.Sistem yang ada sekarang ini menyebabkan adanya tumpang tindih peraturan serta wewenang dan kekuasaan antara gubernur dan bupati/walikota pun tidak diatur secara jelas.
 
Solusi yang bisa diberikan untuk menyelesaikan segala permasalahan diatas yang pada akhirnya bermuara pada semakin maraknya praktek tindak pidana korupsi di dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah perlu untuk dilakukan perubahan format otonomi daerah di Negera Kesatuan Republik Indonesia. Otonomi daerah tidak lagi diberikan pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota tapi cukup diberikan kepada kabupaten/kota.Karena pemilik wilayah atau yang memiliki wilayah dan langsung berkenaan dengan masyarakat beserta segala permasalahannya adalah kabupaten/kota.Provinsi yang dalam hal ini adalah gubernur dioptimalkan pada fungsi sebagai wakil pemerintah pusat yang ada di daerah.Gubernur tidak lagi harus mengemban tugas sebagai kepala daerah, tapi dirubah perannya menjadi seorang “koordinator” yang mengorganisasikan penyelenggaraan otonomi daerah di kabupaten/kota.Sehingga gubernur tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat dan tidak perlu lagi ada DPRD Provinsi.Karena provinsi tidak memiliki wilayah dan tidak langsung berkenaan dengan masyarakat. Format otonomi seperti itu akan membuat birokrasi menjadi lebih sederhana karena konsekuensi provinsi tidak lagi menjadi sebuah daerah otonom maka provinsi tidak lagi harus membuat SKPD.
 
Ide seperti itu bukan merupakan sebuah wacana baru dan bukan sesuatu hal yang tidak mungkin untuk dilakukan.Sejak beberapa tahun ke belakang RUU Pemerintahan Daerah (sebagai revisi UU 32/2004) telah ramai dibicarakan bahkan telah masuk ke dalam tahap pembahasan di DPR-RI. Secara garis besarnya dalam RUU tersebut memang telah mencoba mengatur bahwa Gubernur tidak lagi harus dipilih secara langsung oleh masyarakat karena dalam UUD 1945 pun tidak diamanatkan seperti itu. Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 hanya menyebutkan bahwa Gubernur, Bupati dan Walikota dipilih secara demokratis.Itu artinya tidak harus secara langsung. Akan tetapi untuk sampai pada konsep meniadakan DPRD Provinsi, hal itu memang akan sulit untuk dilakukan karena DPRD Provinsi merupakan amanat dari Pasal 18 ayat (3) UUD 1945.Adapun konsep lainnya, yaitu untuk menjadikan gubernur sebagai seorang koordinator di wilayah provinsi (murni wakil pemerintah pusat di daerah), hal itu memang belum diatur secara tersurat di dalam RUU Pemerintahan Daerah tersebut. Akan tetapi dengan adanya niat untuk memilih gubernur tidak lagi secara langsung oleh masyarakat maka hal itu lambat laun pasti akan mengarah pada konsep bahwa gubernur bertindak hanya selaku koordinator wilayah. Fakta yang ada, dengan dua fungsi yang diemban oleh gubernur (wakil pemerintah pusat dan kepala daerah provinsi), tidak mampu untuk dijalankan secara seimbang.Gubernur pada kenyataan lebih berpihak kepada kepentingan daerah.Sehingga jauh lebih baik apabila gubernur lebih difokuskan untuk menjadi wakil pemerintah pusat di daerah karena gubernur tidak memilki wilayah.
 
Perubahan format otonomi daerah menjadi sebuah urgensi karena pada kenyataannya dengan menerapkan format otonomi daerah seperti apa yang diamanatkan oleh UU 32/2004, pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia belum berjalan sebagaimana mestinya. Otonomi daerah pada hakikatnya diberikan untuk memberdayakan masyakarat yang ada di daerah sesuai dengan karakteristiknya masing-masing.Segala perencanaan dilakukan dengan metode bottom-up, sehingga melibatkan partisipasi aktif dari setiap lapisan masyarakat.karena pada akhirnya Negara itu ada untuk melayani masyarakat. akan tetapi ternyata dengan format yang ada sekarang, hal yang begitu menonjol justru praktek tindak pidana korupsi di setiap daerah otonom. Mayoritas kepala daerah di Indonesia terindikasi terkait dengan kasus korupsi.Sehingga menjadi sesuatu hal yang wajar dan normal apabila kemudian mulai untuk dipikirkan format otonomi daerah yang baru berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan otonomi daerah saat ini. Efektifitas dan efisiensi kerja pemerintah daerah adalah 2 (dua) hal yang tentunya ingin dicapai dan dengan format otonomi daerah hanya ditempatkan di kabupaten/kota serta gubernur hanya bertindak sebagai wakil pemerintah pusat di daerah, bertindak sebagai seorang koordinator, maka efektifitas dan efisiensi pemerintah daerah bisa untuk terlaksana dan tercapai dengan baik.

Sabtu, 20 Juli 2013

I'm leaving

satu dari sekian banyak kenangan di IPDN Kalbar

Mempawah, 20 Juli 2013
05.14 WIB

Ahh, saya sulit mendiskripsikan apa yang akan saya tulis. Oh bukan! Bahkan belum menyentuh tahapan tulisan. Masih sebatas ada dalam angan, bergerak liar tak memiliki tempat aman atau nyaman.

Perasaan apa? Sepertinya tak mampu saya definisi hingga tak bisa saya olah secara pasti.

Saya pikir semua bisa berjalan, berlalu begitu saja selayaknya angin yang membuat daun berjatuhan tanpa ada sedikit kata permulaan. 
 
Tapi ternyata semua membekas menimbulkan ruang hampa di dada. Tiba-tiba kenangan dengan setiap kebaikan personal membuat nafas tertahan, tak dapat bersiklus secara normal.

Saya sesak, tapi tak tertumpah air mata, Alhamdulillah!

Ternyata saya mencintai kampus dan tanah ini, dengan sejuta kenangan dan hiruk pikuk orang di dalamnya. Bahkan untuk hal yang saya tidak sukai, begitu sangat saya rindukan.

Kenapa? Kenapa lantas harus begitu melankolis membekas di hati? Entah, bila sudah masalah rasa, saya bertekuk lutut, menyerah untuk mencari hubungan logika. Saya biarkan mengalir selama itu tak bertentangan dengan akal sehat yang ada.

Seharusnya saya langsung berlalu, tanpa harus membuat dan melewati serangkaian perpisahan dengan setiap orang yang ada di kampus dan tanah ini. 
 
Itu justru membuat semuanya bertambah berat, hati gelisah antara kebahagian dan kesedihan. Tak pernah rasanya saya mendapati perasaan seperti ini. 
 
Bila dulu, ketika akan tiba hari rehat itu datang, kesempatan untuk melarikan diri dari segala rutinitas dan bersua dengan sanak keluarga di tanah kelahiran, hati bukan kepalang berbahagia. Urusan kampus dan tanah perantauan tak sedikit pun datang mengusik pikirang apalagi hati.

Tapi kini, dua hal itu justru saling bertautan di dalam pikiran apalagi hati. 
 
Saya menyadari bahwa saya tak akan kembali ke kampus dan tanah ini setidaknya untuk beberapa tahun ke depan dan mungkin beberapa tahun lamanya. 
 
Saya tak bisa memberikan kepastian kapan saya bisa lagi meraut cerita di tanah ini, tanah perantaun. Saya pun kembali tersadar bahwa itu berarti saya harus meninggalkan kehidupan beserta semua orang yang selama 2,5 tahun ini menemani dan membentuk kepribadian saya.

Semua itu semakin terasa tragis karena tak ada jaminan untuk saya mampu bertemu mereka dan membalas segala kebaikannya dan menebus segala kesalahan saya pada mereka. 
 
Mereka telah berjasa, mereka telah menjadi bagian dalam perjalanan hidup ini. Tanpa ada kampus ini, tanah ini dan semua yang ada di dalamnya, siapa yang mampu menjamin bahwa saya akan seperti sekarang ini?

Dan itu-lah yang membuat sesak di hati, kontradiksi antara bahagia atau sedih.

Saya tak takut untuk meninggalkan zona aman nan nyaman untuk melangkah bahkan berlari menuju tahapan hidup selanjutnya di tempat yang baru. 
 
Saya hanya benci perpisahan dan ketidakpastian bahwa saya tak bisa lagi berjumpa dengan orang-orang yang telah banyak menghiasi kehidupan ini.

Saya tidak anti dengan perubahan. Saya hanya benci ketika harus memulai semua dari nol dan kembali harus beradaptasi.

Sudah-lah, saya harus hentikan tulisan ini, sebelum bertambah berat hati ini melangkah pergi dari tanah ini.

Terima kasih banyak saya haturkan kepada seluruh sivitas akademika IPDN Kampus Kalimantan Barat atau mereka yang pernah menjadi bagian dari IPDN Kampus Kalimantan Barat : Pak Hasbullah, Pak Mering, Pak Guruh, Pak Imen, Pak Agus Thoyib, Pak Suyanto, Bang Zhamhir, Pak Wawan, Pak Eli Hambali, Bang Niko, Bang Indra, Pak Hatta, Pak A.Yanto, Bang Alfian, Bang Deddi, Bang Dodi, Pak Syatibie, Pak Syarif Edi, Pak Maskana, Pak Akbar Ali, Pak Andi Gusti, Pak Maris, Pak Hendayana, Pak Asep, Bang Aldo, Bang Suparianto, Bang Doan, Bang Mulyadi, Bang Anto, Bang Lutfi, Bang Aan, Bang Arif, Bang Rizky, Bang Harkun, Bang Irwan, Bang Taufik, Kak Eka, Kak Patrisia, beserta seluruh karyawan yang ada di dalamnya yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu. Juga satuan Madya Praja angkatan XXII IPDN Kampus Kalimantan Barat : Hei diks, saya tak akan pernah melupakan kalian, saya jusru khawatir kalian yang akan melupakan saya!

Tak lupa juga ucapan terima kasih itu saya berikan kepada seluruh orang tua asuh : Bapak dan Ibu yosef, bang rudi beserta keluarga dan seluruh Budak Nusa Indah Mempawah yang tak akan pernah saya lupakan!

Semua orang yang telah sudi menjadi teman dan kawan serta keluarga baru bagi saya yang hina dina ini : Kelurahan Sungai Beliung, Kecamantan Pontianak Tenggara, Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Pontianak.
 
Bila mampu saya akan penuhi tulisan ini dengan semua nama yang telah terpatri dalam ingatan, hati dan kenangan hidup saya. 
 
Tapi maafkan ketidakmampuan raga untuk melakukan itu dan kesalahan motorik jari terhadap kesalahan penulisan nama. 
 
Semua itu tidak mengurangi apa yang saya rasakan, saya sungguh berhutang banyak pada semua orang di sini, ini hanya mewakili.

Pada akhirnya saya tidak akan menjadi sombong untuk berharap lebih semua orang itu akan terus menyukai dan mencintai saya, tapi saya hanya berharap semua orang itu tidak lantas menjadi musuh bagi saya. 
 
Bila dengan membenci, mereka bisa terus mengingat saya, maka saya sangat siap untuk dibenci, karena dilupakan oleh orang yang terpatri dalam hati sanubari sungguh sangat memilukan…

This isn’t a goodbye, I hope…

See you later, West Borneo
Goddamned you’re so fucking hot!
 
#PMA all day!

Kamis, 11 Juli 2013

Alasan penolakan

KAMIS, 11 JULI 2013
08.52 WIB

http://art.ngfiles.com/images/71/pupart_i-alone.jpg
Ini bukan berarti sebuah paham sekuleris. Saya tidak bermaksud memisahkan urusan dunia dan agama. Sungguh keduanya merupakan satu kesatuan. Semua, bagi saya, bersumber dari agama. 

Karena kita tidak pernah meminta untuk diciptakan, ‘kan? Tapi Tuhan punya Kuasa, dan Dia memilih untuk menciptakan kita ke dunia. Jadi, akal sehatnya, sebagai orang yang diciptakan, tentu kita harus taat pada yang menciptakan.

Saya hanya berkeyakinan bahwa keteladanan itu adalah yang utama. Tapi tidak juga mengurangi kenyataan bahwa kita juga harus mampu mengajak orang lain melalui lisan. Intinya, semua harus seimbang. Dan keseimbangan itu bagi saya adalah ketika kita mengajak melalui lisan dan juga melalui tindakan nyata.

Bila begitu, bagaimana dengan ungkapan bahwa kita jangan pernah melihat siapa yang berbicara tapi apa yang harus kita lihat adalah apa yang dibicarakan oleh orang itu. Itu pun  benar, karena ketika berbicara mengenai kebenaran maka dari mamapun dia keluar, hal itu harus tetap kita terima.

Selayaknya emas, dimanapun dia berada, walaupun (maaf) di tempat terhina sekalipun, dia akan tetap sebuah emas. Begitu juga dengan sebuah kebenaran, sekotor apapun mulut yang mengucapkannya, tidak akan mengurangi nilai kebenaran yang dimilikinya.

Tapi sekali lagi bagi saya, ini murni prinsip yang saya terapkan, yaa setidaknya sampai dengan detik saya menuliskan ini. 

Ada sebuah moral tersendiri ketika saya mengucapkan, mengajak ataupun memerintah suatu hal (kebaikan tentunya) tapi saya belum mampu untuk melaksanakannya. Walaupun sebenarnya tidak ada orang yang tau. Tapi hati ini tak bisa untuk berbohong. Perasaan itu, moral seperti itu, sungguh tidak mengenakan terasa!

Dulu, saya sangat senang ketika mendapat kesempatan untuk berbicara di depan banyak orang, menyeru kepada kebaikan sesuai dengan ilmu dan pengalaman yang saya miliki. Saya suka itu.

Saya sadar kemampuan saya sungguh sangat terbatas. Tapi saya rela mengambil resiko karena saya berniat untuk kebaikan dan saya merasa saya juga telah melaksanakan apa yang telah dan akan saya sampaikan itu. Atau saya berusaha untuk itu.

Tapi semua berubah, tidak berubah secara keseluruhan memang. Tapi cukup membuat saya tersudut dan tersadar. Saya telah melampaui batas. Ya, ini memang telah lama berlalu (sekitar awal tahun ini; baca : Refleksi untuk Introspeksi) tapi saya merasa bahwa ini sungguh keterlaluan. Di luar akal sehat seorang yang sering berseru untuk kebaikan. 

Dan terlebih ini adalah berkenaan dengan prinsip dasar, aturan dasar agama yang saya anut! Oleh karenanya, saya berintrospeksi diri, saya mundur secara teratur. 

Saya mulai membatasi diri dari kegiatan berbicara di depan umum terlalu intens. Saya masih merasa hina. Saya masih merasa kejadian itu terjadi kemarin sore. Saya masih merasa kesalahan itu belum dapat ditutupi dan termaafkan taubat.

Tapi saya pun tidak sepenuhnya menutup diri dari kegiatan berbicara di depan umum. Karena kondisi dan situasi yang mendorong saya untuk masih harus berbicara di depan umum. Sehingga saya putuskan bila hal itu tidak berkenaan dengan penyampaian murni urusan agama apalagi di rumah Allah Swt., pemberian nasihat tentang pelaksanaan aturan dan tata krama sopan santun sesama manusia, saya masih bisa untuk menyanggupinya.

Tapi ketika sudah murni urusan manusia dengan Allah Swt., sungguh saya masih belum sanggup memenuhinya. Dan ini bukan sebuah dikotomi untuk paham sekulerisme. Ini masalah penempatan segala sesuatunya sesuai dengan semestinya.

Dan itu-lah argumen kenapa kemudian saya harus menolak untuk memberika ceramah pada saat sebelum pelaksanaan shalat tarawih dan setelah sholat Shubuh di Mesjid Al-Ilmi IPDN Kampus Kalbar. 

Ya, tradisi di kampus ini adalah ceramah itu tidak hanya diberikan oleh ustads atau pun Pembina tapi juga diberikan kesempatan kepada peserta didik yang memiliki jabatan di organisasi keprajaan.

Bila tahun lalu, pada Ramadhan tahun lalu, saya menyanggupi itu dan mampu untuk melaksanakannya. Maka atas kejadian yang ada seperti apa yang saya sampaikan di atas, saya harus menolak hal itu.

Jangan artikan ini secara salah. Saya tidak juga ingin menjadi pengecut dengan lari dari tanggung jawab. Tapi justru saya mempunyai tanggung jawab mempertanggungjawabkan kesalahan, ahh sebut saja ini dosa, yang telah saya lakukan, maka saya ingin terlebih dahulu berfokus pada hubungan saya pribadi dengan Allah Swt., karena saya telah merusaknya!

Tapi untungnya bagi saya, hal ini dapat saya jadikan kesempatan untuk melihat penampilan dan kemampuan berbicara dari adik tingkat saya, yang insya Allah akan meneruskan jabatan yang kini saya emban. Saya kemudian perintahkan dia untuk mengganti saya pada dua kesempatan ceramah itu.

Jadi, pada akhirnya saya meminta maaf kepada panitia yang telah mencantumkan nama saya dan memberikan kepercayaan bagi saya untuk memberikan ceramah pada kesempatan di bulan yang sangat baik ini. Saya sungguh tidak bermaksud untuk tidak menjalankan amanah, tidak juga bermaksud lari dari segala tanggung jawab.

Saya harap segala pihak bisa untuk memaklumi dan mengerti alasan saya ini, walaupun tidak begitu terang, jelas, dan spesifik. Tapi mengerti-lah bahwa ini berkenaan dengan dosa. Jadi tak mungkin rasanya saya mengumbar dosa itu secara terang, jelas, dan spesifik.

Setelahnya, saya pun sangat menyadari bahwa saya tidak bisa membatasi tafsiran rekan-rekan dan adik-adik semua atas apa yang saya pilih ini. Sepanjang itu masih dalam koridor apa yang saya tuliskan di sini dan tidak menjadi fitnah yang diucapkan serta berimbas negatif kepada saya, maka saya tidak meng-intervensi tafsiran itu.

Just please don’t get this wrong, too damn f***** wrong!
 
#PMA all day, guys! :)

Rabu, 10 Juli 2013

Soft skill dan Hard skill, penting mana?

Rabu, 10 Juli 2013
09.55 WIB

https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRSVEgfTVy7FxDr19Mq3k5wUEXY4PvxQ7Qn-2LVvZNU71Ih1XRbHA
Ini merupakan sebuah tulisan review dari sebuah tulisan tanggapan dari tulisan Boediono yang berjudul "Pendidikan Kunci Pembangunan" (Kompas, 27 Agustus 2012). Cukup rumit, 'kan? ;)

Jadi, ini merupakan sebuah review (lebih teaptanya sebuah rangkuman) dari tulisan review yang berjudul "Tantangan Besar Pendidikan Kita" yang ditulis oleh Ratna Megawangi (Dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB; Pendiri Indonesia Heritage Foundation)

Dan sebenarnya juga ini merupakan sebuah tugas dari Mata Kuliah Analisis Kebutuhan Diklat yang diberikan oleh dosen Ibu Aminuriyati. Dan sebenarnya juga ini merupakan sebuah tugas kelompok.

Jadi, tak elok rasanya bila saya tidak terlebih dahulu menyebutkan rekan-rekan satu kelompok saya. Mereka adalah : Bagas Yuwono Ario Negoro, Biandy Dian Malik, Afiuddin, dan Andi Ardianto Eka Putra. Cheers, guys! :)

Inti dari tulisan ini adalah berkenaan dengan konsep soft skill dan hard skill yang terdapat dalam dunia pendidikan. 

Konsep soft skill dan hard skill yang dipahami disini adalah :

  1. Soft skill atau warga negara yang baik adalah seseorang yang memiliki keterampilan dari kemampuan berpikir yang tinggi, yakni cakap mengelola emosi, berkarakter baik, mempunyai motivasi, berpikir analitis, kritis dan kreatif.
  2. Hard skill atau pekerja yang baik adalah seseorang yang lebih menekankan kepada kemampuan akademik sehingga hanya memiliki kemampuan berpikir rendah, yakni berorientasi pada hapalan yang dilakukan dengan membaca dan menghapal.

Oleh karena itu berdasarkan konsep diatas, saya (kami lebih tepatnya hehe) berpendapat bahwa soft skill harus lebih diutamakan daripada hard skill karena sesuai dengan penelitian yang ada, soft skill berkontribusi 80 % pada keberhasilan seseorang sedangkan hard skill hanya menyumbangkan 20 %.

Bahkan apabila dalam pendidikan dan pelatihan (diklat) hanya menekankan pada hard skill yang didapatkan dengan cara hapalan, pelatihan berulang, dan instruksi instruktur serta pengajaran satu arah. Hal ini hanya akan baik untuk serangkaian test yang membutuhkan jawaban baku, sehingga seseorang tidak akan mengerti konteks suatu hal. Seseorang tersebut tidak akan mampu bersikap fleksibel dan memiliki sikap takut salah.

Sedangkan pendidikan dan pelatihan yang berorientasi kepada soft skill akan mampu membuat seseorang berpikir analisis, kritis, dan kreatif atau berpikir advance yaitu kemampuan mengolah informasi, membuat generalisasi, menyelesaikan masalah non-rutin dan mengambil kesimpulan.

Pendidikan dan pelatihan soft skill dapat dilakukan dengan teknik wawancara yang mendalam dan menyeluruh dengan pendekatan behavioural interview

Adapun macam-macam soft skill adalah inisiatif, kemauan, komitmen, motivasi, kreatifitas, komunikasi, berpikir kritis, mandiri, integritas diri, dan disiplin.

Macam-macam soft skill tersebut kemudian digunakan untuk mengukur seberapa jauh seseorang tersebut memiliki soft skill dalam dirinya. Singkatnya, beberapa macam itu merupakan indikator ada tidaknya soft skill.

Untuk mencapai semua hal itu maka metode diklat yang digunakan adalah dengan cara diskusi dan mengajar atau pelatih hanya menjadi seorang fasilitator dan lebih menekankan peserta didik untuk berbicarta mengemukakan pendapatnya. 

Kenapa harus soft skill? apakah ada yang salah dengan menghapal. Kesalahan metode menghapal adalah ketika itu menjadi satu-satunya tujuan pendidikan dan pelatihan. Padahal tujuan pendidikan lebih dari hanya sekedar hapal.

Pendidikan dan pelatihan diharapkan mampu untuk merubah sikap seseorang menjadi jauh lebih baik lagi. Tidak lantas berhenti dari tidak tau menjadi tau, atau dari gelap menjadi terang. Tapi tau dan terangnya seseorang itu harus bermakna dan memberikan manfaat.

Dan ketika seseorang hanya dididik dan dilatih untuk sekedar hapal, kecil kemungkinan dia akan mampu memaknai hapalannya itu.

Tapi ketika seseorang itu difokuskan untuk mampu mengetahui kenapa dia harus menghapalkan sesuatu hal. Apa yang melatarbelakangi hal tesebut. Apa. Kenapa. Dimana. Siapa. Untuk apa/siapa. Bagaimana. Semuanya mampu untuk diketahui.

Maka dapat dipastikan dia akan dengan sendirinya hapal karena memahami. Apabila memahami, dia akan terus memaksa otaknya untuk terus berpikir kritis serta kreatif mencari solusi dari ke-kritisannya itu.

Disitu-lah letak pentingnya soft skill dan disitu pula letak kurang bermanfaatnya hard skill.

#PMA, all day guys! :)

Minggu, 07 Juli 2013

Kuis #TanyaBepe

Bepe

Minggu, 5 Mei 2013
17.06 WIB
*catatan : siapa yang tidak ingin mendapatkan jersey gratis? saya ulangi, siapa yang tidak ingin mendapatkan sebuah jersey away Indonesia gratis lengkap dengan tanda tangan seorang Bambang Pamungkas? dan saya pertegas, fans bepe mana yang tidak mau mendapatkan sebuah jersey away Indonesia dengan tanda tangannya secara gratis? 
kabar yang sangat indah di sore hari. 
karena walaupun kesempatan untuk menang memang sangat kecil dan sangat berbau keberuntungan, tapi tak ada salahnya untuk mencoba, iya 'kan? 
toh tak ada modal yang harus saya keluarkan, saya hanya tinggal bertanya kemudian menunggu tangan nasib akan berlaku baik pada saya. 
tapi saya pun kemudian menolak untuk terlalu berharap, saya biarkan saja semuanya berlalu seperti biasa. 
In the end, it is worth to try.  

Stay #PMA :)

Kuis #TanyaBepe 
By Ridwan Sujarwo on May 5, 2013 

Mau jersey tim nasional Indonesia atas nama Bambang Pamungkas? 
SportSatu akan memberikan jersey away timnas Piala AFF 2012 atas nama Bambang Pamungkas lengkap dengan tanda-tangan untuk pemenang utama Kuis #TanyaBepe. 

Caranya : 
  1. Follow Twitter @Sport_Satu dan Like Page Facebook Sportsatu. 

  2. Ajukan pertanyaan untuk Bambang Pamungkas di Twitter.
 Pertanyaan maksimal 100 karakter. Contoh pertanyaan dengan 100 karakter: Seandainya dibutuhkan dan dipanggil lagi untuk bermain di timnas, apakah Bambang Pamungkas bersedia? 
  3. Pertanyaan harus di-mention ke @Sport_Satu dengan memakai hastag #TanyaBepe.
 
  4. Setiap orang boleh mengajukan lebih dari satu pertanyaan.
 
  5. Setiap minggu Bepe akan memilih beberapa pertanyaan untuk dijawab. 

  6. Setiap minggu akan dipilih 1 pertanyaan terbaik, dengan hadiah voucher makan di Kedai Kak Ani, Kemang, Jakarta.
 
  7. Pemenang utama akan dipilih pada 17 Juni 2013, dengan hadiah jersey away tim nasional Piala AFF 2012 atas nama Bambang Pamungkas dengan tanda tangan.

Sabtu, 06 Juli 2013

#WeAreAcMilan

SABTU, 6 JUNI 2013 
14.33 WIB

#weareacmilan

Pada dasarnya semua pecinta sepak bola, termasuk saya, akan sangat membenci ketika sebuah musim kompetisi harus berakhir. 

Selain karena berarti harus berpuasa menonton pertandingan sepak bola secara rutin juga karena tidak bisa melihat aksi para idola, entah itu klub maupun pemainnya, berlaga di medan perang lapangan hijau. 

Memang terkadang selalu ada terselip pertandingan internasional antar negara dalam balutan pertandingan persahabatan ataupun pertandingan kualifikasi suatu kompetisi atau bahkan ada kompetisi antar negara yang berlangsung.

Tapi ketika itu mengatasnamakan negara maka sepertinya greget itu agak berkurang karena berbenturan dengan masalah nasionalisme. Apalagi kompetisi antar negara hanya berlangsung paling lama 1 satu bulan dalam format setengah kompetisi. Jadi gairah itu hanya sesaat.

Maka tak heran bila sudah berbicara tentang kompetisi klub, dalam bentuk liga, yang berlangsung selama satu tahun penuh. Sensasi, gairah, dan semangat itu sangat terasa. Tak ada pertentangan nasionalisme. Disini murni masalah selera dan cinta.

Bagi saya pribadi, ada satu hal yang lebih membuat saya kesal selain harus berakhirnya sebuah kompetisi. Hal itu adalah : BURSA TRANSFER!

Saya sungguh tidak terlalu senang ketika harus menghadapi sebuah bursa transfer. Terlalu banyak isu yang berkembang liar. Tak ada hal pasti. Semua bisa berubah bahkan dalam hitungan detik. Saat-saat dimana harapan bisa seketika muncul tapi sesaat kemudian harus hancur berkeping-keping.

Sungguh industri mengubah segalanya. Dan kita, para penggemar, sungguh hanya bisa melihat sambil berharap.

Di dalam bursa transfer maka hanya akan tersisa dua pilihan : menjual pemain atau membeli pemain. Sebagai penggemar kita tentu berharap klub kesayangan kita tidak banyak menjual pemain dan bahkan para pemain yang kita cintai tidak masuk dalam daftar jual. Dan sebaliknya, membeli banyak pemain bila perlu pemain mahal berlabel bintang.

Tapi faktanya tidak semudah itu. Realitanya tidak sesederhana itu. Banyak faktor disana. Paling besar berperan adalah kondisi finansial dan kebijakan pimpinan klub.

Lalu bagaimana dengan Milan saat ini? sejauh ini masih terlalu banyak isu yang menghampiri. Para petinggi klub masih doyan saling memberikan pernyataan yang menumbuhkan harapan. Tapi belum tentu terlaksana.

Melihat trackrecord transfer milan dalam 2 (dua) tahun belakangan ini maka Milan gemar untuk membuat penggemarnya memompa darah lebih cepat. Karena banyak pergerakan transfer tak terduga dan dilakukan di saat akhir penutupan. Damn!

Bagi saya, apapaun itu, saya selalu percaya kepada apa yang diputuskan oleh orang-orang yang berada dalam tataran pengambil keputusan. Saya selalu yakin bahwa selalu ada cinta di sana. Sehingga mereka pasti berbuat untuk nama besar Milan di masa yang akan datang.

Saya hanya berharap bursa tranfer bergerak lebih cepat sehingga bisa cepat diketahui skuad seperti apa Milan di musim depan.

Let's hope for the best and prepare for the freakin' worst!
#PMA all day, guys! :)

"The squad next season will consist of 3 goalkeepers, 9 defenders, 8 midfielders and 5 strikers. We have a competitive team. We made a big investment in signing Zapata.
Balotelli is absolutely not for sale, because we have chosen him as our icon."
Adriano Galliani (Milan CEO and vice-president)

Jumat, 05 Juli 2013

Ramadhan 1434 H

JUMAT, 5 JUNI 2013
13.51 WIB

http://indahnyahidupku.files.wordpress.com/2010/08/ramadhan5nu81.jpg

Alhamdulillah! 

Akhirnya dalam beberapa hari ke depan, saya dan seluruh umat Islam yang ada di dunia akan kembali dipertemukan dengan bulan penuh berkah, yaitu bulan Ramadhan. Walaupun dalam beberapa hari kedepan apapun bisa terjadi dan tak ada jaminan saya bisa bertemu dengannya. Tapi tak ada salahnya bagi saya untuk tetap menuliskan perasaan serta harapan saya apabila nantinya kembali bersua dengan bulan Ramadhan. 
Pertama dan yang utama, saya ingin terlebih dahulu memohon ampun kepada semua orang yang pernah tersakiti oleh lisan, tulisan, sikap, dan pola pikir saya baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Saya sungguh meminta maaf! Karena 1000 sahabat tak akan pernah cukup tapi satu orang musuh sungguh terlalu banyak. 

Saya pun lantas tak berharap lebih agar semua orang bisa menyukai saya seutuhnya tapi cukup-lah semua orang itu tidak menjadi musuh bagi saya.
 
Lalu harapan saya di bulan Ramadhan 1434 H ini, tentu saya ingin menjadikan bulan tersebut sebagai momentum perubahan diri ini menjadi jauh lebih baik lagi serta mampu untuk lebih bermanfaat bagi orang lain. Saya ingin mampu untuk bersikap seimbang serta selaras dalam hubungan saya dengan Allah, sesama serta diri saya sendiri dan lingkungan alam sekitar. 

Saya ingin menjadi adil, menempatkan segala sesuatunya sesuai dengan tempat dan porsinya.

Saya ingin mampu untuk membedakan mana yang bisa untuk saya rubah dan mana yang memang sudah ketentuan Allah Swt., saya butuh kebijaksanaan untuk itu, dan saya harus mengusahakannya.

Saya ingin selalu mampu menempatkan diri pada pola dan gaya hidup positif optimis. Melihat peluang dari setiap tantangan yang ada serta mensyukuri setiap peluang yang mampu dihasilkan.

Ahh, betapa sangat klisenya. 

Ini semua hanya permainan kata, hanya membolak-balikan kalimat. Pada akhirnya semua bermuara pada satu : menjadi manusia yang menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ya, itu semua (kata-kata di awal tadi) hanya bentuk penjabaran dari apa yang diperintahkan dan apa yang menjadi larangan Allah. Tak lebih. Tapi nafsu-lah yang membuat semuanya menjadi melewati batas.

Jadi, harapan saya akan selalu sama, tidak berarti stagnan, tapi merupakan wujud dari pemahaman diri, bahwa hidup itu harus senantiasa lebih baik dan lebih bermanfaat. Kuantitas dan kualitas itu yang selalu berubah. Tapi substansinya tetap satu dan sama : ISTIQOMAH.

Terakhir, saya ingin mentup segala harapan positif yang saya harapkan ada dalam tubuh saya dengan balutan satu sikap yaitu konsistensi.

Eh, bagaimana dengan segala perbedaan yang ada? perdebatan antara hisab dan rukyah yang kembali mengemuka? ah, kita sudah cukup dewasa. Media kini (untuk kesekian kalinya saya sebutkan) tidak lagi dalam posisi untuk memberi informasi, tapi menggiring opini.

Celakanya, tindak tanduk kita pun amat dekat untuk diperselisihkan. Solusinya? Ada yang mau mengalah, menundukan ego. Ada yang berani menjadi pemersatu. Pasti bisa.

Lalu sikap kita sekarang? jangan taklid dengan satu pemahaman, mari satukan semua pendapat yang ada. Toh, kita semua punya akal dan nurani. Sepanjang kita masih bisa membedakan mana tiang listrik dan mana pena, kita pasti cukup dewasa untuk memilih mana yang berargumen kuat dan mana yang lemah.

Ya, itu tadi, kuncinya ada pada konsistensi, jangan memprovokasi, dan jangan malu untuk mengevaluasi.

Selamat bulan Ramadhan 1434 H dan selamat menjalankan ibadah shaum.

#PMA all day, guys! ;)

silahkan membaca juga :
  1. Hisab dan Rukyah
  2. Hisab dan Rukyah part. 2  

Sidang Itsbat
Rabu, 03/07/2013 17:20 WIB
Tentukan 1 Ramadan, Pemerintah Gelar Sidang Isbat Senin 8 Juli
Mega Putra Ratya - detikRamadan

http://ramadan.detik.com/read/2013/07/03/173209/2291806/631/tentukan-1-ramadan-pemerintah-gelar-sidang-isbat-senin-8-juli?r990101mainnews

Jakarta - Pemerintah akan menentukan awal bulan puasa atau 1 Ramadan dengan menggelar sidang Isbat. Sidang akan digelar pada Senin (8/7) pekan depan.

"Memang sudah ada yang umumkan bulan puasa 1 Ramadan 9 Juli. Tapi pemerintah belum putuskan. Nanti akan diketahui jatuhnya 1 Ramadan, dengan sidang Isbat pada 8 Juli," ujar Menag Suryadharma Ali di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (3/7/2013).

Ketum PPP ini mengatakan, sejak 1 Juli lalu, Kementerian Agama sudah mengundang sejumlah organisasi Islam untuk mendengarkan laporan terkait peneropongan atau rukyat di berbagai tempat. Dari hasil tersebut Kemenag kemudian mencocokkan secara ilmiah melalui hisab atau penghitungan.

"Karena kriteria bulan terlihat di beberapa tempat derajatnya itu berbeda-beda. Ada 6 derajat, ada di bawah 2 derajat, bahkan ada 1 derajat," tutur Suryadharma.

Surya berharap, apapun nantinya hasil keputusan sidang isbat, diharapkan dapat dijadikan sebagai keputusan pemersatu dari perbedaan tersebut. "Perbedaan itu tidak bisa dicegah," kata dia.

Ormas Islam terbesar kedua di Indonesia, Muhammadiyah, telah menetapkan 1 Ramadan pada 9 Juli sedang Idul Fitri 8 Agustus.

Muhammadiyah
Hilal Wujud di tanggal 8 Juli, Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadhan 9 Juli 2013
Kamis, 13-06-2013

http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-2750-detail-hilal-wujud-di-tanggal-8-juli-muhammadiyah-tetapkan-awal-ramadhan-9-juli-2013.html

Yogyakarta- Ijtima jelang Ramadhan 1434H, akan terjadi pada hari Senin Pon, 8 Juli 2013 mulai pukul 14:15:55WIB, sedangkan tinggi bulan pada saat matahari terbenam di Yogyakarta adalah +0® 44’ 59”, dan hilal akan wujud membelah dari kawasan Indonesia. Dengan criteria Hisab Wujudul Hilal yang telah terpenuhi tersebut, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1434H akan jatuh pada Selasa Wage, 9 Juli 2013M.

Hal tersebut diungkapkan wakil ketua Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah Oman Faturohman dalam konferensi pers yang juga didampingi ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yunahar Ilyas dan juga Haedar Nashir di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jl Cik Di Tiro No.23, Yogyakarta, Kamis (16/06/2013). Dalam Maklumat yang dibacakan pada acara tersebut, juga dibarengi dengan penetapan awal Syawal dan juga Dzulhijjah 1434H, dengan 1 Syawal akan jatuh pada tanggal 8 Agustus 2013, serta 1 Dzulhijjah akan jatuh pada Ahad 6 Oktober 2013, dengan begitu maka Idul Adha akan jatuh pada Selasa Pahing, 15 Oktober 2013M. Saat ditanya wartawan megenai potensi perbedaan dalam penetapan yang akan diputuskan pemerintah pada siding Itsbat, Oman Faturohman tidak menepis akan adanya perbedaan tersebut, karena dengan motode hisab Imkannurukyat 2 derajat yang digunakan pemerintah, maka saat Hilal Wujud di Yogyakarta dengan ketinggian kurang dari 1 derajat, jelas tidak memenuhi unsur metode yang digunakan pemerintah. Sedangkan untuk awal Syawal dan Dzulhijjah ungkap Oman, kemungkinan besar akan bersamaan, karena ketinggian bulan pada saat matahari terbenam setelah Ijtima, sudah lebih dari 2 derajat.

Sementara itu menurut Yunahar Ilyas, perbedaan yang kemungkinan akan terjadi pada 1 Ramadhan nanti tidaklah perlu untuk diperdebatkan, karena masing-masing berpedoman pada Fikih yang diyakini . Muhammadiyah berpedoman bahwa, berpuasa pada tanggal 1 Ramadhan adalah sesuatu yang dalam ibadah disebut Taabudi yakni hal yang tidak bisa diperdebatkan, sedangkan untuk metode yang digunakan untuk menetapkan awal bulan, merupakan wilayah yang masih dapat diperdebatkan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang ada. “Muhammadiyah tidak akan menawar metode yang ada dengan metode pemerintah, karena wilayah Ibadah adalah wilayah yang harus dipertanggungjawabkan pada Allah SWT,” tegasnya. Saat ditanya mengenai kemungkinan Muhammadiyah bergabung kembali pada sidang Itsbat yang dilaksanakan pemerintah, Yunahar menegaskan bahwa Muhammadiyah masih belum mencabut keputusannya untuk tidak mengikuti Sidang tersebut, yang dianggap tidak menampung aspirasi Muhammadiyah dan cenderung mengolok-olok.