Kamis, 11 Juli 2013

Alasan penolakan

KAMIS, 11 JULI 2013
08.52 WIB

http://art.ngfiles.com/images/71/pupart_i-alone.jpg
Ini bukan berarti sebuah paham sekuleris. Saya tidak bermaksud memisahkan urusan dunia dan agama. Sungguh keduanya merupakan satu kesatuan. Semua, bagi saya, bersumber dari agama. 

Karena kita tidak pernah meminta untuk diciptakan, ‘kan? Tapi Tuhan punya Kuasa, dan Dia memilih untuk menciptakan kita ke dunia. Jadi, akal sehatnya, sebagai orang yang diciptakan, tentu kita harus taat pada yang menciptakan.

Saya hanya berkeyakinan bahwa keteladanan itu adalah yang utama. Tapi tidak juga mengurangi kenyataan bahwa kita juga harus mampu mengajak orang lain melalui lisan. Intinya, semua harus seimbang. Dan keseimbangan itu bagi saya adalah ketika kita mengajak melalui lisan dan juga melalui tindakan nyata.

Bila begitu, bagaimana dengan ungkapan bahwa kita jangan pernah melihat siapa yang berbicara tapi apa yang harus kita lihat adalah apa yang dibicarakan oleh orang itu. Itu pun  benar, karena ketika berbicara mengenai kebenaran maka dari mamapun dia keluar, hal itu harus tetap kita terima.

Selayaknya emas, dimanapun dia berada, walaupun (maaf) di tempat terhina sekalipun, dia akan tetap sebuah emas. Begitu juga dengan sebuah kebenaran, sekotor apapun mulut yang mengucapkannya, tidak akan mengurangi nilai kebenaran yang dimilikinya.

Tapi sekali lagi bagi saya, ini murni prinsip yang saya terapkan, yaa setidaknya sampai dengan detik saya menuliskan ini. 

Ada sebuah moral tersendiri ketika saya mengucapkan, mengajak ataupun memerintah suatu hal (kebaikan tentunya) tapi saya belum mampu untuk melaksanakannya. Walaupun sebenarnya tidak ada orang yang tau. Tapi hati ini tak bisa untuk berbohong. Perasaan itu, moral seperti itu, sungguh tidak mengenakan terasa!

Dulu, saya sangat senang ketika mendapat kesempatan untuk berbicara di depan banyak orang, menyeru kepada kebaikan sesuai dengan ilmu dan pengalaman yang saya miliki. Saya suka itu.

Saya sadar kemampuan saya sungguh sangat terbatas. Tapi saya rela mengambil resiko karena saya berniat untuk kebaikan dan saya merasa saya juga telah melaksanakan apa yang telah dan akan saya sampaikan itu. Atau saya berusaha untuk itu.

Tapi semua berubah, tidak berubah secara keseluruhan memang. Tapi cukup membuat saya tersudut dan tersadar. Saya telah melampaui batas. Ya, ini memang telah lama berlalu (sekitar awal tahun ini; baca : Refleksi untuk Introspeksi) tapi saya merasa bahwa ini sungguh keterlaluan. Di luar akal sehat seorang yang sering berseru untuk kebaikan. 

Dan terlebih ini adalah berkenaan dengan prinsip dasar, aturan dasar agama yang saya anut! Oleh karenanya, saya berintrospeksi diri, saya mundur secara teratur. 

Saya mulai membatasi diri dari kegiatan berbicara di depan umum terlalu intens. Saya masih merasa hina. Saya masih merasa kejadian itu terjadi kemarin sore. Saya masih merasa kesalahan itu belum dapat ditutupi dan termaafkan taubat.

Tapi saya pun tidak sepenuhnya menutup diri dari kegiatan berbicara di depan umum. Karena kondisi dan situasi yang mendorong saya untuk masih harus berbicara di depan umum. Sehingga saya putuskan bila hal itu tidak berkenaan dengan penyampaian murni urusan agama apalagi di rumah Allah Swt., pemberian nasihat tentang pelaksanaan aturan dan tata krama sopan santun sesama manusia, saya masih bisa untuk menyanggupinya.

Tapi ketika sudah murni urusan manusia dengan Allah Swt., sungguh saya masih belum sanggup memenuhinya. Dan ini bukan sebuah dikotomi untuk paham sekulerisme. Ini masalah penempatan segala sesuatunya sesuai dengan semestinya.

Dan itu-lah argumen kenapa kemudian saya harus menolak untuk memberika ceramah pada saat sebelum pelaksanaan shalat tarawih dan setelah sholat Shubuh di Mesjid Al-Ilmi IPDN Kampus Kalbar. 

Ya, tradisi di kampus ini adalah ceramah itu tidak hanya diberikan oleh ustads atau pun Pembina tapi juga diberikan kesempatan kepada peserta didik yang memiliki jabatan di organisasi keprajaan.

Bila tahun lalu, pada Ramadhan tahun lalu, saya menyanggupi itu dan mampu untuk melaksanakannya. Maka atas kejadian yang ada seperti apa yang saya sampaikan di atas, saya harus menolak hal itu.

Jangan artikan ini secara salah. Saya tidak juga ingin menjadi pengecut dengan lari dari tanggung jawab. Tapi justru saya mempunyai tanggung jawab mempertanggungjawabkan kesalahan, ahh sebut saja ini dosa, yang telah saya lakukan, maka saya ingin terlebih dahulu berfokus pada hubungan saya pribadi dengan Allah Swt., karena saya telah merusaknya!

Tapi untungnya bagi saya, hal ini dapat saya jadikan kesempatan untuk melihat penampilan dan kemampuan berbicara dari adik tingkat saya, yang insya Allah akan meneruskan jabatan yang kini saya emban. Saya kemudian perintahkan dia untuk mengganti saya pada dua kesempatan ceramah itu.

Jadi, pada akhirnya saya meminta maaf kepada panitia yang telah mencantumkan nama saya dan memberikan kepercayaan bagi saya untuk memberikan ceramah pada kesempatan di bulan yang sangat baik ini. Saya sungguh tidak bermaksud untuk tidak menjalankan amanah, tidak juga bermaksud lari dari segala tanggung jawab.

Saya harap segala pihak bisa untuk memaklumi dan mengerti alasan saya ini, walaupun tidak begitu terang, jelas, dan spesifik. Tapi mengerti-lah bahwa ini berkenaan dengan dosa. Jadi tak mungkin rasanya saya mengumbar dosa itu secara terang, jelas, dan spesifik.

Setelahnya, saya pun sangat menyadari bahwa saya tidak bisa membatasi tafsiran rekan-rekan dan adik-adik semua atas apa yang saya pilih ini. Sepanjang itu masih dalam koridor apa yang saya tuliskan di sini dan tidak menjadi fitnah yang diucapkan serta berimbas negatif kepada saya, maka saya tidak meng-intervensi tafsiran itu.

Just please don’t get this wrong, too damn f***** wrong!
 
#PMA all day, guys! :)

4 komentar:

  1. ya udah biar aku aja yang ceramah, biar semuanya sesat,wkkwwkwk

    BalasHapus
  2. haha ndak lah bang, justru abang kan lebih punya pengalaman. ;)

    BalasHapus
  3. selamat menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan,
    bila ada salah kata, salah baca, salah tulis dan salah komentar..mohon dimaafkan lahir batin...salam :-)

    BalasHapus