Kamis, 27 Desember 2012

HAPPY NEW YEAR ?

*catatan : konsep saya, prinsip saya dan juga komitmen saya adalah saya tidak ingin menjadi manusia yang bodoh juga dibodohi, bila pun saya tidak bisa untuk menguasai sesuatu hal hingga ke teori yang paling dalam atau teknis yang paling kompleks tapi setidaknya saya harus tau secara umum tentang hal itu. 
Saya tidak ingin menjadi orang yang hanya mengikuti sesuatu hal karena hal itu juga diikuti oleh banyak orang, saya harus terlebih dahulu mengerti, saya harus terlebih dulu paham baru kemudian menentukan sikap. 
Jadi, ketika dari dulu kala, banyak orang yang sibuk untuk merayakan, membuat acara besar menyambut pegantian tahun maka saya pun tidak ingin serta merta mengikutinya, saya harus tau kenapa dan mengapa. 
Dan ini-lah salah satu referensi mengenai sejarah perayaan tahun baru masehi, referensi ini bisa untuk dipertanggungjawabkan sehingga bisa untuk dijadikan landasan. 
Enjoy and PMA! :)  

SEJARAH TAHUN BARU 1 JANUARI 

The book World Book Encyclopedia ( tahun 1984, volume 14, halaman 237 ) 

“The Roman ruler Julius Caesar established January 1 as New Year’s Day in 46 BC. The Romans dedicated this day to Janus , the god of gates, doors, and beginnings. The month of January was named after Janus, who had two faces – one looking forward and the other looking backward.” 

transalate: 

“Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke 46 SM. Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yg memiliki 2 wajah – sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap ke (masa) lalu.” 

Sosok dewa Janus dalam mitologi Romawi 
Dewa Janus sendiri adalah sesembahan kaum Pagan Romawi, dan pada peradaban sebelumnya di Yunani telah disembah sosok yg sama bernama dewa Chronos.  
Kaum Pagan, atau dalam bahasa kita disebut kaum kafir para penyembah berhala. Hingga kini biasa memasukkan budaya mereka ke dalam budaya kaum lainnya, sehingga terkadang tanpa sadar kita mengikuti mereka. Sejarah pelestarian budaya Pagan (penyembahan berhala) sudah ada semenjak zaman Hermaic (3600 SM) di Yunani, dan dikawal oleh sebuah persaudaraan rahasia yg disebut sebagai Freemasons. 

Freemasons sendiri adalah kaum yg memiliki misi untuk melenyapkan ajaran para Nabi dari dunia ini. Bulan Januari (bulannya si Janus) juga ditetapkan setelah Desember dikarenakan Desember adalah pusat Winter Soltice, yaitu hari-hari dimana kaum pagan penyembah Matahari merayakan ritual mereka saat musim dingin. 

Pertengahan Winter Soltice jatuh pada tanggal 25 Desember, yg mereka sebut hari natalan. Dan inilah salah satu dari sekian banyak pengaruh Pagan pada budaya Kristen selain penggunaan lambang salib.

Tgl 1 Januari sendiri adalah seminggu setelah pertengahan Winter Soltice, yg juga termasuk dalam bagian ritual dan perayaan Winter Soltice dalam Paganisme. 
Kaum Pagan sendiri biasa merayakan tahun baru mereka (atau Hari Janus) dgn mengitari api unggun, menyalakan kembang api, dan bernyanyi bersama. 

Kaum Pagan di beberapa tempat di Eropa juga menandainya dengan memukul lonceng atau meniup terompet. 

Sedangkan konsep waktu dalam ilmu pengetahuan dan sains Islam sendiri, waktu adalah salah satu makhluk yang Allah ciptakan untuk mengiringi keseimbangan di dimensi ketiga, yaitu dimensi yang kita tinggali ini.
Tanpa adanya waktu, maka dimensi tiga ini tidak akan terdapat ruang dan massa, begitu pula sebaliknya. Ketiga makhluk Allah tersebut (ruang, massa, dan waktu) adalah sesuatu yang Allah ciptakan supaya raga dimensi tiga kita ini dapat hidup di dunia ini. 
Waullahu’alam.

Selasa, 25 Desember 2012

Yas Budaya dan PMA

Yes! We're EMO!



PMA!

*catatan : I'm a music lover for sure but I can't play music! damn, that's so ironic but this is life, like it or not I have to deal with it. 
So, saya hanya seorang penikmat sekaligus kritikus musik semata. Saya tidak peduli dengan ketukan nada, tempo sebuah musik atau segala hal teoritis teknis lainnya. Sebagai seseorang yang buta tentang musik, yang terpenting bagi saya musik itu harus-lah menghibur dan mempunyai pesan, entah itu pesan tentang cinta atau sosial, entah itu berirama melayu atau cadas, sepanjang bagi saya musik itu mampu untuk memberikan hiburan dan memberikan pesan yang sesuai dengan diri ini maka tak ada alasan bagi saya untuk kemudian tidak menyukai musik itu. 
Tapi saya pun tidak akan menyukai sebuah musik apabila musik itu ternyata hasil dari sebuah penjiplakan atau plagiat, come one, u have choose to be a musician so be creative please! show some respect! 

Atas dasar itu, bagi saya musik yang dihadirkan oleh Alone at Last* mampu untuk menghibur sekaligus memberikan pesan melalui setiap lirik yang mereka nyanyikan. 
Bahkan, melalui vokalis utamanya, Yas Budaya, Alone at Last* mampu untuk menyematkan image positiv dalam diri mereka. 
Ya, saya pun kemudian memberikan kekaguman lebih kepada seorang Yas Budaya, bukan suatu hal yang aneh ketika kita menyukai sebuah band maka kita pun seperti sudah diharuskan untuk menyukai secara lebih serta memberikan perhatian lebih kepada Vokalis band tersebut karena memang selain tugas utama seorang Vokalis untuk menarik perhatian penonton tapi pada kenyataannya seorang Vokalis memang selalu berada di garda terdepan untuk mewakili sebuah band. 

Terkhusus untuk seorang Yas Budaya, walaupun saya tidak mengenalnya secara langsung dan personal, tapi sejauh mata saya melihat dan telinga saya mendengar, Yas merupakan seorang anak muda yang baik walau berstatus sebagai seorang Vokalis band rock atau Emo yang katanya penuh dengan keputus-asaan dan depresi serta anarki. Setidaknya Yas mampu untuk konsisten berbuat baik sehingga dia mendapatkan image yang juga baik. 
Hal itu yang menjadi point lebih baginya dan juga point lebih bagi saya untuk menyukainya. Terlepas dari itu, gayanya dalam bermain musik pun sangat atraktif sehingga memenuhi syarat untuk seorang Vokalis terlebih sebuah band rock, dia total dalam membawakan sebuah lagu di setiap konser yang dilakukannya, sehingga sulit bagi saya untuk lantas tidak menyukainya. 

Salah satu pesan yang sekarang ini rajin dia sampaikan, dia kampanyekan adalah mengenai PMA. 
What the hell is that? 
well, soon u will understand that. 
Ya, saya pun mulai "teracuni" dengan pesan itu dan akhirnya latah untuk mengikutinya tapi sebagai seorang manusia yang baik, saya tidak mengikuti sesuatu hal begitu saja tanpa adanya pengetahuan tentang apa yang saya ikuti itu. saya tidak ingin menjadi pengikut yang bodoh! dan saya pun berharap anda semua seperti itu, sehingga silahkan anda semua membaca artikel di bawah ini dengan seksama, serta pahami setiap katanya. 

enjoy and PMA! :) 

Yas Budaya Berbicara Tentang PMA!

Oleh: Mahardhika Utama 

“My cure is talk with people, smiling, loving, see all negative things around us and do the opposite into the positive way. That’sYas as PMA the key” 

Rockstar dengan skandal (sepertinya sudah) biasa, tapi kalo ada vokalis dari band cadas yang memiliki pikiran, mental serta sikap positif baik di atas panggung maupun di kehidupan sehari-harinya adalah hal yang luar biasa. 
Who’s the hell is that? 

Jawabannya adalah Yas Budaya, frontman dari band cadas bernama Alone At Last. Kalo kamu sering melihat aksi Yas diatas panggung atau membaca timeline di twitternya, pasti tidak akan asing lagi dengan istilah PMA yang selalu dia dengungkan. 

What is PMA? 
Sambil makan siang dan ngopi-ngopi santai di salah satu cafe di bilangan Dipati Ukur Bandung, Formagz coba menggali PMA yang merupakan kependekan dari Positive Mental Attitude dari Yas. 

Saya yang datang terlambat disambut Yas dengan senyum sapanya yang ramah sambil mempersilakan saya duduk. 
Berikut petikan obrolan santai Formagz dengan Yas sambil diselingi beberapa lagu keren dari Rise Against dan Strike Anywhere

Formagz: Halo Yas apa kabar? How’s your band? Yas: Well, fine how about you? Si Alone lagi jarang maen di Bandung nih, lagi banyak di luar kota sekarang. 

Formagz: Fine brother. Okay, let’s talk about PMA. Belakangan ini lo sedang gencar menyebarluaskan isu ini, sebenarnya apa itu PMA? 
Yas: Ya, di twitter, facebook atau banyak teenage tanya “Hey Yas PMA itu lagunya Kemuri ya?”, padahal lebih jauh dari itu sejarahnya. PMA adalah sebuah motivasi baru didunia modern sekarang. Oke kalo diliat dari sejarah Positive Mental Attitude emang gak bisa dijauhin dari Hardcore karena memang kulturnya dimulai dari sana. Spirit hardcore yang energic, memotivasi dan positif yang bikin banyak orang berasumsi PMA adalah hardcore dan sebaliknya. Ketika taun 80-an Bad Brains bikin lagu judulnya Attitude dan yang paling modern mungkin sekarang ini si Toby Morse-H2O yang juga ngomongin soal PMA. Dia (Toby) pahamnya emang bener-bener kuat banget, dia straight edge sejati. Walaupun gua bukan straight edge, Gua coba menanamkan paham Positive Mental Attitude karena WOW! Salah satunya gua bisa motivasi diri gua dan temen-temen gua untuk melakukan hal yang lebih baik. Misalnya ketika di sekitar gua orang-orang pada “minum”, atau saat lu gak punya uang, even when you don’t have a job, atau ketika hari itu adalah the most fuck up day you ever had, tapi lo hadapin itu dengan senyuman atau ketawa. 
Positif itu energi. Kaya barusan lo dateng telat, tapi lo ga pasang tampang panik, lo senyum dan itu jadi energi buat gua. Atau misalnya lo nangkring abis diputusin pacar trus dateng temen-temen lo, trus ketawa-ketawa dan biasanya itu bisa dilupain gitu aja. Tanpa disadarin at the same time you got fight and hey I still got ma life. Ya, itu tadi hal paling simplenya dari Positive Mental Attitude: “Act”, melakukan hal yang lebih baik, dan ketika lu gagal lu senyum lalu bangkit lagi. 

Formagz: Kalo Bb lu setelah ini ilang bakal tetep senyum? 
Yas: (Yas yang lagi pegang Bb-nya tampak kaget) Fuck up hahaha… Even Toby Morse aja punya waktu-waktu khusus buat dia bilang “Fuck You, Fuck PMA”. Tapi setelah itu gua bakal coba ambil positifnya and switch my self to PMA

Formagz: Kalo tadi kita liat dari sejarahnya, PMA kan bermula dari scene hardcore. Apa ini hanya untuk orang-orang yang suka H20, Bad Brain atau Kemuri
Yas: No no, gak lah, everybody can do it

Formagz: Apa tujuan lo angkat isu PMA ini?
Yas: Sebenernya dari dulu gua paling suka ngangkat movement yang positif, kaya dulu misalnya Food Not Bombs atau Save The Children. 
Gua gak berusaha masuk ke organisasi-organisasi itu karena bagi gua it’s all about act, Man. Gua musisi, gua harus melakukan sesuatu dari konteks gua sebagai musisi misalnya dengan memberikan contoh-contoh yang baik dari atas panggung. Dan kalo untuk PMA ini banyak sebenernya tujuan gua. 
Bukan berusaha pengen sok baik, tapi gua pengen ngilangin anggapan kaya kalo kita ngomongin sesuatu yang baik orang bilang “Apa sih lo?”, kita bicara soal ketuhanan “Apa sih lo?”, Gue pengen bikin equal aja, people be good people be bad it’s okay we’re friend, tapi selama itu bisa saling sharing dan akhirnya yang negatif jadi positif, why not? Selain itu juga gua pengen gimana caranya bikin semua orang tersenyum tiap hari, on gigs, on moshpit, dats my dream. 
Lebih jauhnya lagi gua pengen bilang PMA is about a way of life and it’s not a system. Positif dan negatif itu adalah sesuatu yang lu yakin lu bisa dan kadang lu bisa gagal tapi kadang lu bisa bahagia ketika lu dapetinnya apa yang lu mau. Kaya gua sekarang bisa duduk disini, bisa ngobrol sama lu, gua bersyukur gua masih idup, bisa share sesuatu yang baik sama lu, dats cool, I got ma life Man. 

Formagz: Untuk siapa lo menerapkan PMA ini? For your self, your band, your parents or.. 
Yas: I’m doing this things for my self, as long as it can inspiring people..it’s okay That’s it. 

Formagz: Gimana aksi nyata lo dalam menanamkan PMA ini ke orang lain? 
Yas: My cure is talk with people, smiling, loving, see all negative things around us and do the opposite into the positive way. That’s the key. Hidup itu kan Yin-Yang ya negative and positive, but it your choose. 
Gua gak bakal maksa orang untuk berfikir positif karena gua yakin ketika kita memaksa orang untuk melakukan hal positif dia akan melakukan hal yang lebih negatif. Tapi kalo kita ada di tengah-tengah itu kita berusaha untuk menjadi contoh, misalnya ngerokok lah. Kalo kita bilang jangan ngerokok, ya orang bakal ngerokok, tapi kalo kitanya gak ngerokok lama kelamaan kita akan jadi contoh positif buat mereka. 
Selain itu contoh nyata dalam menanamkan PMA ini adalah gua mau rilis brand gua (Artamus) yang di merchandise-nya ada campaign-campaign tentang PMA, and it’s limited just for 50 pieces for special peoples who doing things like positive mental attitude. 

Formagz: Ngomong-ngomong soal rokok, katanya udah berhenti merokok ya? Is it true? 
Yas: Ini bulan ke-5 gua berenti ngerokok. Gua berhenti ngerokok sebenernya karena terinspirasi sama mantan gua yang gak ngerokok.
Dia tipe orang yang tiap hari begadang karena kerjaannya tapi tiap pagi mukannya gak pernah kusut, selalu keliatan seger, tetep senyum, and the key is she’s not smoking. And it works for me! 
Banyak yang bilang gua segeran sekarang, dan efek ke badan pun oke banget. Belakangan gua selalu bangun pagi dengan keadaan yang segar. Sebelumnya gua itu perokok parah, sehari bisa 3 bungkus. Tau gak kenapa gua ngerokok? Anjrit keren Johnny Depp looks cool when he smoke haha. Maklum tennage, semuanya serba instan dan asal tiru. Tapi balik lagi, semua orang punya hak buat ngerokok dan semua orang juga punya hak untuk gak kena asap rokok di mukanya, ya kan? 

Formagz: Ada niat buat bikin school visit semacam One Life One Chance? 
Yas: Akhir Juli nanti gua bakal ada talkshow and jadi pembicara di UNPAD tentang PMA dan rencananya gua juga mau bikin tour ke sekolah-sekolah gitu. Not high school but junior high school or even elementary bareng Ucay RR, Dida C.U.T.S, we gonna talk about PMA
Kenapa bukan ke SMA, soalnya gue pengen nge “brain wash” mereka (anak SD dan SMP) dan memberikan pengetahuan kalo perjalanan mereka masih panjang, dan itu harus di doktrin sama hal-hal yang positif. 

Formagz: What’s your opinion about street children? 
Yas: Gua selalu punya paham, dari dulu sebelum gua ngomong sesuatu sama orang lain gua selalu memposisikan diri jadi dia. Bayangin, dalam hal kerjaan aja mereka adalah sosok yang lebih kuat daripada kita semua. Tapi sebenernya kan ga baik, mereka ga seharusnya kerja atau minta-minta di jalanan. Mungkin basi kalo gua ngomong, mereka adalah masa depan bangsa but we have talk about act. Bingung juga ya kalo hari ini kita kasih mereka uang, besok dikasih lagi, dan terus kaya gitu, they gonna stucked and say I don’t have to work, I dont have to have educations, I just put my hand like that (sambil menengadahkan tangan) then I get my money! They can become a killer, Man. 
Harus ada aksi nyata yang konstan, gak kaya hari ini gua bilang “Oh My God kasian banget anak-anak kecil itu” tapi satu bulan kemudian dapet pacar baru then lupa gitu aja. 

Formagz: Give Forfriend your last words about PMA 
Yas: Lakuin apa yang lu suka as long as it’s positive, don’t forget about GodKeep smiling

Well, banyak hal positif yang dapat diambil dari obrolan santai dengan Yas. Dia menunjukkan kesadarannya sebagai figur yang memiliki banyak followers dari berbagai kalangan, mulai dari pemuda era 80-an hingga anak-anak belasan tahun. Dia sadar betul akan hal itu, dan seorang Yas Budaya mengerti akan tanggung jawabnya untuk memberikan contoh yang positif pada mereka. 
Andaikan semua rockstar seperti itu tampaknya tidak ada lagi anak-anak SD yang bangga akan video porno idolanya. Seperti apa yang selalu Yas bilang di twitternya, PMA all day! 
Closer with Mr. PMA, follow his twitter: @yasbudaya 

Minggu, 23 Desember 2012

Refleksi untuk Introspeksi

Ketika tulisan ini mulai untuk saya tulis maka masih ada sekitar delapan hari lagi untuk terlewati hingga akhirnya nanti kita semua akan resmi untuk menapaki lembaran baru di tahun yang baru. 
Delapan hari bukan sebuah waktu yang singkat, tidak juga lama tapi dalam kurun waktu delapan hari itu masih terbuka lebar, masih sangat terhampar luas peluang untuk kita melakukan banyak hal, masih akan banyak yang akan terjadi dan mewarnai hidup ini sehingga rasanya kurang pas ketika saya memutuskan untuk meng-klaim tulisan ini sebagai sebuah tulisan evaluasi atau bahkan refleksi. 
tapi bukan-kah hidup itu pilihan? 
dan bukankah kita tidak pernah tau kapan kita akan berakhir?  

Ketika integritas itu adalah konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan, maka jelas saya bukan atau belum menjadi orang yang ber-integritas!
Saya hanya menjungjung tinggi nilai-nilai luhur serta keyakinan ketika tak ada godaan, ketika hawa nafsu tak saya rasakan, ketika setan itu tak ada dalam dada, dan ketika berada di lingkungan yang baik dengan sejuta orang yang baik. 

Ketika integritas itu adalah kebalikan dari kemunafikan, maka jelas saya adalah orang yang munafik karena saya tak mampu untuk teguh mempertahankan dan menjalankan komitmen yang telah saya buat dan ucapan yang telah saya nasihatkan. 

Nilai-nilai luhur apa? 
Aturan apa? 
Komitmen apa? 

Tak mungkin saya kemudian deskripsikan semua itu secara mendetail, tapi sebut-lah bahwa saya adalah orang yang selalu berusaha untuk menaati segala aturan dan berbuat sesuai dengan etika dan estetika yang ada. 
Lalu karena keterbatasan saya, ketidakmampuan saya untuk menjalankan secara penuh aturan, etika dan estetika itu, maka saya pun membuat beberapa komitmen dalam diri saya pribadi untuk teguh terhadap segala aturan, etika dan estetika yang ada tapi luwes dalam pelaksanaan di kehidupan nyatanya. 

dan semua itu, tidak semua, tapi hampir semua itu akhirnya kini, hingga hari ini, Minggu, tanggal 23, bulan Desember, di tahun 2012, saya langgar, saya lewati...
 
Tapi kemudian yang terjadi sekarang, yang telah terjadi di tahun ini, komitmen itu kemudian saya langgar, saya patahkan dan bahkan tak cukup hanya dalam komitmen, saya pun lantas melanggar aturan yang ada! 
Entah ada apa, dan entah kenapa! 

Saya tak pernah menyangka saya akan menjadi seperti ini, mampu untuk melewati batas, bertindak liar, hilang kendali, sesat, tersesat dan menyesatkan! 

Bayangkan ketika semua orang tau tentang apa yang saya perbuat itu? 
Orang-orang yang hanya menilai saya dari luar, orang-orang yang hanya melihat saya ketika saya berada di surau, orang-orang yang hanya mendengar saya ketika saya menyerukan kebaikan, bagaimana reaksi mereka? 

Kini hanya tertinggal satu pertanyaan, seberapa siap saya menerima resiko atas perbuatan saya itu?
Seberapa siap saya menerima semua yang telah tersusun rapih itu harus hancur berantakan? 
Seberapa siap saya untuk melepaskan image baik yang telah lama saya bentuk? 
Seberapa siap saya? 
Seberapa siap saya? 

Saya tidak menjadi pesimis, saya tetap realistis. 
Tapi dengan segala dosa yang ada, mau jadi apa saya?

Tahun ini tahun dengan penuh pelanggaran terhadap komitmen, tahun tempat saya mengeluarkan wajah lain dari diri saya, saya harap semua ini cepat berakhir, saya pun cepat untuk berubah, berbenah, benar-benar menjadi orang yang berarti.

dan semua puisi ini pun terasa menjadi  nyata... KENYATAAN TRAGIS dan 2 SISI KEHIDUPAN

forgive me, God...
forgive me, please...
in the end, i'm just another ordinary man, 
that's it... 

Senin, 10 Desember 2012

Sekilas E-KTP

http://jatim.tribunnews.com/foto/bank/images/ektp.jpg

E-KTP 
Kartu Tanda Penduduk elektronik atau electronic-KTP (e-KTP) adalah Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang dibuat secara elektronik, dalam artian baik dari segi fisik maupun penggunaannya berfungsi secara komputerisasi. ( Wikipedia
Akan tetapi jaringan yang digunakan untuk menyimpan data e-KTP tidak sama dengan internet. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi dari kemungkinan diretas oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sistem pengamanan e-KTP dilakukan langsung oleh Lembaga Sandi Negara dan pengamanan secara fisik oleh data pendukung yang berlokasi di Batam. Program e-KTP diluncurkan oleh Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia pada bulan Februari 2011. Pelaksanaan Program e-KTP terbagi dalam dua tahap. Tahap pertama dimulai pada tahun 2011 dan berakhir pada 30 April 2012 yang mencakup 67 juta penduduk di 2348 kecamatan dan 197 kabupaten/kota. Sedangkan tahap kedua mencakup 105 juta penduduk yang tersebar di 300 kabupaten/kota lainnya di Indonesia dan berdasarkan data terakhir dari Kemendagri RI, proses perekaman data e-KTP per 7 November 2012 telah mencakup 172,4 juta orang atau 95,5% dari total penduduk potensial. 
Akan tetapi Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kemendagri, Irman, mengatakan dari 172 juta data e-KTP yang terekam, baru sekitar 89 keping e-KTP yang dicetak lantaran keterbatasan anggaran negara. Lalu untuk sisanya akan diselesaikan pada tahun 2013 dengan menggunakan anggaran e-KTP untuk 2013 yang mencapai Rp 1,045 triliun. Anggaran sebesar itu direncanakan akan digunakan untuk mendanai penyelesaian e-KTP sesuai target pemerintah, yakni 172 juta e-KTP tercetak. Batas waktu perekaman e-KTP itu sendiri akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2012. Karena proses perekaman yang baru akan berakhir pada akhir tahun ini dan pencetakan e-KTP baru akan terrealisasikan sepenuhnya pada tahun 2013 maka KTP lama akan tetap berlaku sampai dengan tanggal 31 Oktober 2013, setelah itu semua KTP lama akan diganti dengan e-KTP yang berlaku nasional dan bahkan diwacanakan untuk berlaku seumur hidup. 

Apabila kita melihat lagi ke belakang dan mencoba lagi untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah, yang dalam hal ini adalah Kemendagri RI, untuk mengganti KTP lama dengan e-KTP yang berlaku secara nasional, merupakan sebuah kebijakan yang revolusioner dan sangat sejalan dengan semangat reformasi birokrasi serta merupakan usaha nyata dari pemerintah untuk mewujudkan suatu tatanan kepemerintahan yang baik atau Good Governance. Dalam Good Governance seperti yang telah kita ketahui bersama, pelayanan prima pada masyarakat adalah fokus utama yang harus dilakukan dan dengan diterapkannya e-KTP, pemerintah berharap hal itu akan menjadi sebuah “jalan pembuka” untuk memberikan sebuah pelayanan prima terhadap masyarakat. 
Karena empat fungsi utama dari e-KTP adalah : 1. Sebagai identitas jati diri; 
2. Berlaku Nasional, sehingga tidak perlu lagi membuat KTP lokal untuk pengurusan izin, pembukaan rekening Bank, dan sebagainya; 
3. Mencegah KTP ganda dan pemalsuan KTP;dan
4. Terciptanya keakuratan data penduduk untuk mendukung program pembangunan. 

E-KTP merupakan amanat dari UU Nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dengan teknis implementasi penerapannya telah diatur dalam Perpres No. 35 Tahun 2010 tentang perubahan atas Perpres No. 26 Tahun 2009 tentang Penerapan KTP berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional. 
Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa e-KTP berisi rekaman eletronik yang memuat biodata, tanda tangan, pas foto, dan sidik jari serta tangan penduduk yang bersangkutan. Sehingga konsekuensi logis dengan adanya aturan tersebut adalah diperlukannya seperangkat alat elektronik untuk melaksanakan proses perekaman identitas. 

Kebutuhan akan seperangkat alat itu kemudian memunculkan berbagai permasalahan dalam implementasi e-KTP dilapangan. Dari mulai kurang mahirnya SDM dalam mengoperasionalkan alat itu sehingga menghambat proses perekaman atau sampai dengan munculnya isu korupsi dalam tender pengadaan alat itu. 
Akan tetapi menurut hemat penulis, dalam menjalankan atau melaksanakan suatu kebijakan yang revolusioner pasti akan selalu terdapat hambatan dan tantangan yang menyertainya, akan selalu ada pro dan kontra yang datang menghampirinya. Semua permasalahan itu bukan untuk terus diperdebatkan, tapi justru harus dimaknai sebagai sebuah kesempatan untuk terus menyempurnakan suatu kebijakan yang telah dibuat, yang dalam hal ini adalah program e-KTP, apalagi program e-KTP ini dikeluarkan dan dilaksanakan untuk kepentingan dan kebaikan bersama. 

Lalu apa kebaikan yang akan dihasilkan oleh e-KTP itu? 
Kebaikan pertama dan utama yang saat ini dikejar oleh pemerintah dengan diterapkannya e-KTP adalah data e-KTP tersebut diharapkan bisa untuk dijadikan data untuk pemilih dalam Pemilihan Umum 2014. Sehingga pemerintah akan mampu untuk menghemat anggaran pemilu karena tidak harus lagi melakukan pendataan pemilih. Pemerintah berharap dapat memaksimalkan akurasi data kependudukan untuk mendukung Pemilu 2014 dan Pemilukada berikutnya. 

Pemerintah pun berupaya dengan telah diterapkannya e-KTP secara maksimal maka akan mampu untuk meningkatkan efektivitas pelayanan publik dan perencanaan pembangunan. Selain itu, e-KTP juga diharapkan dapat meningkatkan keamanan negara. 
Khusus berkenaan dengan keamanan Negara Kemendagri akan bekerjasama dengan Kepolisian RI agar data e-KTP dapat diakses untuk mengidentifikasi pelaku kejahatan. Selain bekerjasama dengan Polri, Kemendagri juga berkoordinasi dengan pihak-pihak lain dalam upaya peningkatan pelayanan publik, yaitu berkoordinasi dengan Bank Indonesia, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, Komisi Pemberantasan Korupsi dan Imigrasi RI dalam pemanfaatan data e-KTP. 
Sehingga untuk kedepannya, untuk rencana jangka panjangnya, kelak, database kependudukan Indonesia akan menjadi satu-satunya data resmi kependudukan Indonesia yang berisi lengkap mengenai seluruh identitas penduduk Indonesia ( sidik jari, retina mata, tanda tangan, dsb. ). 

Jadi ketika nantinya penduduk Indonesia akan membuat Surat Izin Mengemudi, Pasport dan identitas diri lainnya maka penduduk Indonesia tidak akan lagi melakukan pendataan identitas diri itu, tapi identitas itu akan langsung menggunakan data yang telah terdapat dalam database kependudukan Indonesia yang dimiliki oleh Kemendagri RI. 
Hal itu pun akan meminimalisir penyelewengan terhadap penggunaan identitas penduduk Indonesia karena setiap instansi tidak lagi memiliki data diri penduduk Indonesia, tapi hanya akan ada satu instansi sehingga pengawasan pun akan semakin mudah untuk dilakukan. 

Selain dari isu untuk peningkatan pelayanan publik, isu lain yang kini hangat dibicarakan oleh banyak orang berkenaan dengan e-KTP adalah tentang masa berlaku dari e-KTP itu sendiri yang mulai diwacanakan untuk berlaku seumur hidup. Sampai dengan saat ini, dengan aturan yang ada KTP yang berlaku seumur hidup hanya diberikan kepada warga berumur 60 tahun. Wacana diberlakukannya e-KTP seumur hidup didengungkan oleh anggota DPR RI, Nurul Arifin seperti yang diberitakan dalam Kompas.com, Nurul menyampaikan bahwa dengan diberlakukannya e-KTP seumur hidup maka hal itu akan mampu untuk menghemat anggaran pemerintah. 
Karena target penerbitan e-KTP hingga 2012 mencapai 172 juta lembar. Biaya penerbitan satu lembar e-KTP sebesar Rp 4.586. Dengan demikian, jika e-KTP sebanyak 172 juta itu berlaku seumur hidup, maka pemerintah bisa menghemat sekitar Rp 788,9 miliar yang harusnya dikeluarkan per periode penerbitan. Akan tetapi, Nurul pun mengingatkan bahwa jika usulan itu disepakati semua pihak, maka Undang-Undang Nomor 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan perlu direvisi terlebih dulu. Karena Dalam Pasal 64 UU itu diatur masa berlaku KTP hanya 5 tahun. 

Jadi, mari kita sama-sama bersikap optimis dan berbaik sangka dengan program e-KTP yang sedang dijalankan oleh pemerintah karena sungguh tujuan dan harapan yang nantinya akan dicapai atau berusaha untuk diwujudkan oleh e-KTP itu sangat besar dan sangat bermanfaat bagi efektifitas pelayanan publik yang ada di Indonesia.

PMA! :) 

Senin, 03 Desember 2012

Etika dan Estetika

KODE KEHORMATAN PRAJA 
1. KETAQWAAN KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA;
2. KOMITMEN WAWASAN KENEGARAWANAN, SETIA KEPADA PANCASILA, UNDANG UNDANG DASAR NEGERA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945, NEGARA DAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA;
3. KESIAPAN MENGABDI DAN RELA BERKORBAN, BEKERJA KERAS UNTUK KEPENTINGAN RAKYAT BANGSA DAN NEGARA;
4. KESIAPAN MELAKSANAKAN PENGABDIAN BERDASARKAN KAIDAH KEILMUAN, ETIKA DAN ESTETIKA SERTA PENGEMBANGAN KEILMUAN YANG DAPAT DIAMALKAN;
5. KEJUJURAN, KEARIFAN, KEADILAN, KETERBUKAAN TAAT ASAS, PROFESSIONAL DAN PERTANGGUNG JAWABAN PRAJA, SERTA BERORIENTASI PADA PELAYANAN KEPADA MASYARAKAT SESUAI DENGAN STRUKTUR, KULTUR, DAN PROSEDUR DALAM BOUNDRY SYSTEM. 
( Pasal 3 ayat (2) Permendagri No. 46 tahun 2009 tentang Peraturan Tata Kehidupan Praja ) 

Upacara bendera setiap hari Senin merupakan kegiatan rutin dan wajib untuk dilakukan oleh segenap sivitas akademika Institut Pemerintahan Dalam Negeri ( IPDN ), baik yang berada di Kampus Pusat maupun Kampus Daerah. Apabila pada biasanya, menurut protap ( prosedur tetap ) Upacara Bendera yang lama, yang berlaku di IPDN, pada saat pengucapan hanya diucapkan Pembukaan UUD 1945, Pancasila dan Panca Prasetya Korps Pegawai Republik Indonesia ( KORPRI ). Maka terhitung dari awal bulan November ( mulai diterapkan di IPDN Kampus Kalimantan Barat ), ada sedikit perubahan atau lebih tepatnya ada penambahan pengucapan yang harus dilakukan pada saat Upacara Bendera. Penambahan itu yaitu dengan adanya pengucapan Kode Kehormatan Praja. 

Kode kehormatan praja yang kini diucapkan setiap hari Senin pada Upacara Bendera merupakan tata nilai yang tersusun sebagai akumulasi semangat kepamongprajaan ( Pasal 3 ayat (1) Permendagri No. 46 tahun 2009 tentang Peraturan Tata Kehidupan Praja ). Secara pribadi saya tidak mengetahui alasan dengan ditambahkannya pengucapan Kode Kehormatan Praja. Tapi secara singkat dan sedikit berseloroh, saya melihat dengan adanya pengucapan Kode Kehormatan Praja ini merupakan sebuah bentuk penyesuaian terhadap realita yang ada sekaligus perubahan yang terjadi di Institusi Pendidikan Kepamongprajaan ini. 
Karena dimulai dari angkatan XIX, peserta didik ( praja ) IPDN tidak lagi menyandang status sebagai Pegawai negeri Sipil ( PNS ) atau CPNS yang secara otomatis langsung terikat dengan Panca Prasetya Korpri, tapi kini, praja baru akan diangkat menjadi pegawai atau calon pegawai pada saat memasuki semester V atau VI ( tingkat Nindya Praja ) sehingga secara logika sederhana praja dewasa ini belum “wajib” untuk mengucapkan Panca Prasetya Korpri karena baik secara lahir maupun bathin belum terikat oleh tata nilai atau janji seorang PNS yang masuk ke dalam Korps Pegawai Republik Indonesia. 

Jadi, secara kasarnya, praja tidak mempunyai “kewajiban” untuk melaksanakan segala ketentuan yang ada terdapat dalam Panca Prasetya Korpri. Oleh Karena itu, mungkin, sekali saya katakan mungkin, lembaga akhirnya memutuskan untuk memasukan pengucapan Kode Kehormatan Praja di setiap Upcara Bendera yang diselenggarakan pada hari Senin. Sehingga praja bisa lebih “akrab” dengan aturan, serta norma yang memang mengikat mereka secara nyata baik lahir maupun batin. 
Tapi, sungguh, itu bukan merupakan substansi utama yang akan saya bahas dalam tulisan ini. 

Saya justru menjadi sangat tertarik dengan kata-kata “etika dan estetika” yang terdapat dalam kalimat KESIAPAN MELAKSANAKAN PENGABDIAN BERDASARKAN KAIDAH KEILMUAN, ETIKA DAN ESTETIKA SERTA PENGEMBANGAN KEILMUAN YANG DAPAT DIAMALKAN, butir ketiga kode kehormatan praja. 
Apa itu Etika? 
Apa itu estetika? 
Kenapa menjadi begitu menarik untuk dibahas? 
Mari kita coba kenali dan pahami satu per satu. 

Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah sebuah sesuatu dimana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical philosophy). 

Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia. 

Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia. 
Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika) 
( http://id.wikipedia.org/wiki/Etika )

Sedangkan Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. 

Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni. Estetika berasal dari bahasa Yunani, aisthetike. Kali pertama digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan. Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam membentuk suatu karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut memengaruhi penilaian terhadap keindahan. Misalnya pada masa romantisme di Perancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah keagungan. Pada masa realisme, keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya. Pada masa maraknya de Stijl di Belanda, keindahan berarti kemampuan mengkomposisikan warna dan ruang dan kemampuan mengabstraksi benda. 

Perkembangan lebih lanjut menyadarkan bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya. Karena itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar keindahan dan the ugly, suatu karya yang sama sekali tidak memenuhi standar keindahan dan oleh masyarakat banyak biasanya dinilai buruk, namun jika dipandang dari banyak hal ternyata memperlihatkan keindahan. 

Keindahan seharusnya sudah dinilai begitu karya seni pertama kali dibuat. Namun rumusan keindahan pertama kali yang terdokumentasi adalah oleh filsuf Plato yang menentukan keindahan dari proporsi, keharmonisan, dan kesatuan. Sementara Aristoteles menilai keindahan datang dari aturan-aturan, kesimetrisan, dan keberadaan. keindahan seharusnya memenuhi banyak aspek. aspek jasmani dan aspak rohani. 
( http://id.wikipedia.org/wiki/Estetika )

Secara sederhananya, Etika berkaitan dengan baik dan buruk atau berkenaan dengan sebaiknya, seharusnya dan sepatutnya sedangkan estetika adalah tentang indah dan jelek. Kedua hal ini sangat erat dengan rasa atau perasaan masing-masing individu sehingga sangat bersifat nisbi. Tapi walau, ukuran etika dan estetika itu nisbi atau hampir tidak mempunyai standar yang pasti/tetap atau bahkan universal tapi sungguh etika dan estetika merupakan hal yang tak bisa serta merta kita sepelekan apalagi acuhkan begitu saja. 
Terlebih apabila kemudian kita hubungkan permasalahan etika dan estetika ini dengan upaya dan usaha kita dalam bersikap benar atau menegakan kebenaran. 

Kebenaran adalah sesuatu yang lahir dari kalkulasi rasio dan dijernihkan oleh nurani. Plus kerendahan hati untuk tidak membenar-benarkan diri di hadapan sesama. Kalau sudah demikian, kita layak meyakini sebuah kebenaran meski tetap harus disisakan sedikit ruang akan relativitasnya. ( http://filsafat.kompasiana.com/2011/03/28/kebenaran-adalah/ ). 

Kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan dan obyek. Kebenaran adalah lawan dari kekeliruan yang merupakan obyek dan pengetahuan tidak sesuai. Contohnya adalah roda sebuah mobil berbentuk segitiga. Kenyataannya bentuk roda adalah bundar, karena pengetahuan tidak sesuai dengan obyek maka dianggap keliru. Namun saat dinyatakan bentuk roda adalah bundar dan terjadi kesesuaian, maka pernyataan dianggap benar. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Kebenaran

Menentukan suatu hal benar atau salah relatif lebih mudah dibandingkan dengan menentukan apakah sesuatu hal itu beretika atau tidak, berestetika atau tidak. Mudah di sini karena kebenaran itu tidak bersifat relatif atau nisbi, tapi mutlak karena kebenaran itu tidak berdasarkan rasa, selera tapi berdasarkan hukum yang berlaku kini dan disini. 

Ketika kita akan menentukan orang itu benar, atau sesuatu hal itu salah, maka kita hanya perlu mengembalikan itu semua pada hukum yang ada, tidak lebih dan tidak kurang. Tapi disini-lah letak ketidaksederhanaan hidup di dunia ini, hidup pada kenyataannya tidak semudah dengan hanya menentukan salah atau benar sesuai dengan hukum yang ada. Manusia tidak sekaku itu, manusia tidak sesederhana itu, Manusia terlalu kompleks untuk bisa menerima sekedar hanya benar dan salah, terlalu banyak faktor yang ada di dunia ini sehingga segala perkara kemudian tidak bisa berhenti atau disikapi dengan hanya benar atau salah. 
Bila hanya begitu, lantas untuk apa manusia memilki hati, nurani dan hati? Apakah hanya rasio otak dengan logika rasionalnya saja yang menjalankan tubuh manusia? Tentu tidak, bukan? 

Sehingga kemudian selain juga harus brtindak benar sesuai dengan hukum yang ada, kita pun harus juga memperhatikan etika dan estetika yang berlaku. Sialnya bagi kita, etika dan estetika itu tidak selalu tertulis, tapi hanya merupakan sebuah tradisi, ada hanya lisan dan berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya tapi sungguh memberikan sebuah dampak yang luas juga besar ketika kita tidak mampu untuk menujukan etika dan estetika dalam bertindak. 

Ketika misalnya kita akan melaksanakan sholat ( Muslim ), aturan yang ada dan berlaku hanya menyebutkan bahwa sholat itu harus menutup aurat dan aurat untuk kaum lelaki itu adalah dari pusar sampai ke lutut maka ketika kaum lelaki sholat mengenakan sarung dan pakaian oblong, secara aturan itu benar. Tapi apakah layak? Apakah indah? 

Atau ketika kita bekerja dalam sebuah perusahaan atau instansi pemerintahan. Posisi kita adalah sebagai seorang staf atau bawahan. Sesuai dengan aturan, jam masuk kerja itu pukul 07.30, dan setiap harinya kita masuk kerja, masuk ke kantor tepat pukul 07.30 akan tetapi pada saat yang bersamaan ternyata atasan kita selalu tiba di kantor pada pukul 07.20. Sekali lagi, secara aturan sungguh kita tidak melanggar tapi kemudian apakah pantas seorang bawahan datang lebih lambat dariapada atasannya sendiri? Apakah elok terlihat atasan telah lebih dulu duduk manis di tempat kerja ketika justru stafnya belum terlihat satupun? 

Dua contoh tadi saya sungguh tidak mengada-ngada, tapi merupakan dua contoh kecil tapi seringkali kita temui di lapangan. Sekali lagi, apa yang saya sebutkan di atas hanya merupakan contoh kecil nan sederhana belum mengena pada contoh nyata yang kompleks. 
Pada intinya, saya hanya mencoba untuk membuktikan bahwa kebenaran, etika dan estetika itu tidak bisa untuk kemudian berdiri sendiri. Tapi juga tidak serta merta kebenaran, etika dan estetika itu saling berkaitan. 
Pada akhirnya kita harus tetap mengutamakan kebenaran daripada etika dan estetika. Karena tidak sedikit kebenaran yang berbenturan dengan etika dan estetika tapi ketika hal itu terjadi, kebenaran harus tetap kita tegakan. Seperti misalnya, ketika kita mencuri untuk kemudian kita bagikan kepada fakir miskin, itu sungguh sangat mulia juga indah, tapi mencuri tetap merupakan suatu hal yang salah. 

Memiliki sikap yang paripurna, yaitu mampu untuk menselaraskan antara kebenaran, etika dan estetika sesuai dengan tempat dan waktu yang ada, maka sungguh kita akan menjadi manusia yang bertindak dan bersikap secara menyeluruh dan bahkan kita akan memiliki suatu kebijaksanaan karenanya. Siapa yang tidak mau? 

Sulit? Ya! 
Tidak mungkin? Nope
Ketika kita akan bertindak benar maka kita hanya perlu untuk melihat dan menjabarkan aturan atau hukum yang ada dan berlaku, lalu selanjutnya untuk mampu bertindak sesuai dengan etika dan estetika yang ada, kita harus terus memupuk sikap empati dan simpati. 
Kita harus memiliki kepekaan hati juga rasa yang tinggi, selalu mencoba untuk berpikir dan memposisikan diri di posisi orang lain, melihat kepada mereka yang tidak seberuntung kita, banyak bersosialisasi dan bertukar cerita dengan semua orang dari semua golongan, ya kita harus menumbuhkan sikap sosial terhadap sesama untuk akhirnya kita akan mampu memiliki kepekaan hati yang tinggi yang akan menjadi bekal bagi kita dalam berempati dan bersimpati. 
Setelah itu maka sikap beretika dan berestetika hanya akan tinggal menungguh waktu. 

Terus berusaha mengukir segala sikap postif tanpa pernah mengotorinya dengan sikap pamrih yang picik, yakini bahwa pada akhirnya orang yang baik, mereka yang benar, beretika dan berestetika, akan selalu menang, akan selalu dinaungi keberuntungan. 
Let’s be a good guy and stay PMA!  :)

Jumat, 23 November 2012

Sensasi dan Kontroversi Pak DI


Dahlan Iskan atau biasa media menyebutnya dengan istilah DI ( perlu kita akui bahwa semenjak Bapak Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden RI atau semenjak beliau dikenal dan dipuja banyak orang di Indonesia maka semenjak itu pula masyarakat kita, dipelopori oleh media, ramai-ramai untuk menyebut nama seseorang tokoh nasional dengan sebuah singkatan semisal Pak JK untuk Jusuf Kalla, dst. ) seperti yang telah kita ketahui bersama kini menempatii posisi sebagai seorang Menteri BUMN ( Badan Usaha Milik Negara ). Pak DI mulai menjabat sebagai Menteri BUMN terhitung mulai tanggal 18, bulan Oktober, tahun 2011 menggantikan Pak Mustafa Abubakar.  

Nama Pak DI mulai dikenal oleh khalayak luas ketika beliau ditunjuk oleh Bapak Presiden untuk menjabat menjadi seorang Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara ( Dirut PLN ). Hal itu sempat menimbulkan banyak pergunjingan, suara miring walau memang tak sedikit juga yang pro tapi harus diakui pada kala itu masih terlalu banyak orang yang kontra terhadap kenyataan yang ada pada saat itu. Pada dasarnya Pak DI memang tidak memiliki latar belakang pendidikan atau kualifikasi khusus yang bersentuhan langsung dengan permasalahan kelistrikan atau teknologi. Pak DI hanya dikenal sebagai seorang Juragan Media, karena beliau menjadi aktor sekaligus alasan utama bangkitnya Jawa Pos dan kini beliau adalah CEO atau pemilik dari Grup Jawa Pos. Beliau juga dikenal sebagai seorang jurnalis sekaligus penulis handal penghasil berbagai macam artikel dan juga buku yang sangat enak untuk dibaca. Singkatnya tak ada fakta yang mampu untuk mendukung beliau menjabat sebagai seorang pimpinan utama sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kelistrikan! 

Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, ternyata Pak DI mampu untuk bekerja maksimal sebagai seorang Dirut PLN dengan berbagai macam gebrakan penuh inovasi untuk menyelesaikan macam-macam masalah yang kala itu melilit kuat PLN. Siapa kemudian yang tak berdecak kagum dengan program Sehari Satu Juta Sambungan? Atau program satu bulan tanpa SPPD? Atau bahkan Program Listrik Pra-Bayar? Ya, itu merupakan beberapa contoh nyata dari banyak gebrakan positif yang dilakukan oleh Pak DI dalam kapasitasnya sebagai seorang Dirut PLN untuk mengatasi segala permasalahan yang pada saat itu dihadapai oleh PLN. Tapi dari semua gebrakan yang ada tentu yang akan selalu dikenang dan akan senantiasa dikagumi oleh masyarakat Indonesia adalah kemampuan Pak DI untuk mengatasi masalah byar-pet

Keberhasilan Pak DI itu merupakan sebuah bukti nyata bahwa kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang top-manager tidak terfokus pada kemampuan teknis tapi yang paling utama adalah pimpinan itu harus mempunyai kemampuan dalam memimpin, mengarahkan, bekerja sebagai seorang konduktor, kemampuan untuk membuat konsep dan senantiasa berpikir out of box serta berani dalam mengambil berbagai macam keputusan, kebijakan atau kebijaksanaan. 

Hal lain yang kemudian terlihat oleh masyarakat luas ketika Pak DI menjabat sebagai seorang Dirut PLN selain tentunya kinerja optimal adalah Pak DI mampu untuk menunjukan gaya kepemimpinan yang sederhana walau cenderung nyeleneh. Pak DI sering tanpa ragu turun langsung kepada masayarakat, berinteraksi serta jauh dari gaya seorang birokrat selayaknya pejabat Negara pada umumnya. Hal itu tidak dapat dipungkiri memang sangat disukai oleh masyarakat Indonesia pada umumnya. 

Dan karena sepak terjang itu, dengan segala trackrecord positif nan mengkilap juga dengan fakta beliau sangat popular di mata masyarakat, maka tak heran akhirnya Bapak Presiden memasukan namanya ke dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu II pada masa reshuffle kabinet saat itu. Walaupun gaya kepemimpinan Pak DI yang cenderung sederhana akan tetapi ternyata beliau menyukai juga terhadap apa yang kita sebut dengan “sensasi” atau “kontroversi”. 

“Sensasi” dan “kontroversi” itu adalah ketika pada hari Senin, tanggal 5, bulan November, tahun 2012, Pak DI menyerahkan dua nama anggota Dewan Perwakilan Rakyat ( DPR ) kepada Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat ( BK DPR ), yang diduga memeras BUMN. Kedua nama itu adalah Idris Laena dan Sumaryoto. Idris diduga meminta jatah ke PT PAL dan PT Garam sedangkan Sumaryoto diduga meminta jatah ke PT Merpati Nusantara Airlanes. 
Kemudian dua hari berselang, Pak DI kembali menyerahkan lima nama anggota DPR lainnya yang lagi-lagi diduga melakukan pemerasan dalam kasus Merpati. Nama-nama yang masuk di dalam laporan Pak DI dalam bentuk sebuah surat itu adalah Achsanul Qosasi, M. Ichlas El Qudsi, Andi Timo Pangerang, Linda Megawati dan Andi Rachmat. 

Laporan tersebut jelas menimbulkan banyak protes dari pihak DPR dan tentunya nama-nama yang terdapat di dalamnya bahkan tak sedikit yang mengancam akan melakukan somasi terhadap Pak DI dan melaporkan Pak DI kepada pihak Kepolisian dengan tuntutan pencemaran nama baik. Di lain pihak, ada juga yang menilai bahwa Pak DI salah dalam melakukan laporan karena alih-alih melapor kepada pihak yang lebih berwenang untuk bertindak dalam bidang hukum semisal KPK, Pak DI justru melapor pada BK DPR. 
Walaupun dalih yang dikemukakan oleh Pak DI adalah pada hakikatnya beliau tidak pernah ingin melapor permasalahan ini pada siapapun, beliau melapor kepada BK DPR itu pun dalam kapasitas beliau yang diminta secara resmi oleh BK DPR untuk menyebutkan nama-nama yang diduga melakukan pemerasan terhadap BUMN. 

Praktik pemerasan diduga dilakukan terkait penyertaan modal negara (PMN). Peristiwa upaya pemerasan ini terungkap dari rapat pemegang saham PT Garam. Pak DI pun mengetahui permasalahan mengenai pemerasan dari rapat itu. Ketika itu, Pak DI menanyakan ke Yulian Lintang ( Dirut PT Garam ) soal adanya permintaan jatah anggota DPR. Kemdian Yulian menceritakan pernah dimintai jatah oleh salah seorang anggota dewan terkait penyertaan modal negara (PMN) yang baru pertama kali diajukan PT Garam. Tetapi, permintaan jatah itu kemudian ditolaknya. Akhirnya, PMN PT Garam belum cair hingga saat ini. 

“Sensasi” dan “Kontroversi” lainnya adalah beberapa hari yang lalu “tiba-tiba” Pak DI menarik dua nama yang sebelumnya ada dalam laporang yang beliau sampaikan kepada BK DPR. Dua nama tersebut adalah Timo Pangerang dan El Qudsy. Menurut Pak DI sebetulnya mereka ( Timo dan Qudsy ) tidak terkait sama sekali dengan kasus pemerasan yang digulirkan oleh Pak DI sendiri. Pak DI menyebutkan bahwa kesalahan itu terjadi karena pada saat siding tidak ada notulensi sehingga identifikasi menjadi keliru. Pak DI pun mengaku telah meminta maaf kepada dua politisi yang sebetulnya sama sekali tidak ada sangkut pautnya itu. 

ADA APA DI BALIK SEMUA INI? 
Bukan karena saya menyukai Pak DI lantas saya menulis hal ini, saya menulis hal ini karena sungguh saya pribadi agak “risih” melihat pergerakan politik yang dilakukan oleh Pak DI. Saya pikir masyarakat awam seperti saya, bisa menilai dengan sangat gamblangnya bahwa apa yang dilakukan oleh Pak DI ini adalah merupakan sebuah pencitraan politik kaitannya untuk bisa dicalonkan sebagai seorang Presiden. Saya mungkin berburuk sangka tapi politik memang selalu memaksa kita untuk terus berburuk sangka. 

Bila boleh saya berpendapat, kekuatan utama Pak DI dalah terletak di media yang dia miliki. 
Saya sangat tertarik dengan pernyataan yang dikemukakn oleh salah satu nama yang tercantum dalam laporan Pak DI terhadap BK DPR. Dia mengatakan bahwa akan menjadi percuma berperang argumentasi dan opini dengan Pak DI, dia lebih memilih untuk diam dan membiarkan kelak hukum yang nantinya akan berbicara karena apabila kemudian dia “melawan” Pak DI tidak melalui jalur hukum, maka dia akan babak belur dan kalah telak karena lawan yang dia hadapi adalah seorang Pemilik Media. Mudah saja bagi Pak DI untuk men-stir setiap media yang berada di bawah genggamannya untuk kemudian membuat opini publik bahwa Pak DI yang benar atau setidak-tidaknya terlihat benar. 

Bagi saya hal itu merupakan sebuah pernyataan dan juga pilihan yang cerdas seketika saat itu juga saya teringat dengan sebuah tulisan dalam buku yang berjudul INDONESIA HABIS GELAP TERBITLAH TERANG KISAH INSPIRATIF DAHLAN ISKAN. 
Buku tersebut berisi beberapa tulisan yang khusus menceritakan sepak terjang Pak DI dalam mengelola listrik di negeri ini tentu dari kaca mata masing-masing penulis artikel itu. Hampir semua artikel atau tulisan dalam buku itu menulis hal positif mengenai Pak DI tapi ada satu artikel yang berjudul GAYA ORANG MEDIA MENGELOLA PERUSAHAAN LISTRIK yang ditulis oleh Dr. Herman Darnel Ibrahim ( Direktur Transmisi dan Dsitribusi PLN 2003-2008/Anggota Dewan Energi Nasional RI 2009-2014 ), beliau benar-benar mampu untuk memberikan gambaran serta persepsi lain dari seorang Pak DI. Salah satu kata-kata yang menarik saya pribadi adalah : 
“Dengan kepiawaian mengelola media, Pak DI telah berhasil membentuk persepsi publik, termasuk elite pemerintah dan DPR, sehingga seolah-olah PLN sudah bagus dan tidak punya masalah lagi. Namun dalam pandangan masyarakat listrik tidaklah demikian. Hal yang dilakukan, ibarat mengobati orang sakit, tindakan saat itu baru menghilangkan sindrom, seperti menurunkan panas dan mengurangi rasa sakit. Namun, penyakit utamanya justru belum terobati. Malah, mungkin ada komplikasi baru yang belum terlihat.” 

Dengan fakta seperti itu, saya pun mulai bertanya-tanya tentang kinerja seorang Pak DI kaitannya dengan sikap Pak DI sekarang yang jutru asyik untuk berbuat “gaduh” dengan menabuh genderang “politik”. Padahal menurut hemat saya, sebagai seorang yang kagum dan menyukai Pak DI, dengan kesederhanaan, dengan etos kerja dan dengan segala keberanian yang dimilik oleh seorang Pak Dahlan Iskan, Pak DI telah mampu untuk mendapatkan citra politik yang baik, saya pikir cukup baik untuk kemudian beliau mencalonkan diri sebagai seorang Presiden RI. 

Jadi tak elok rasanya bila justru Pak DI melakukan sebuah “sensasi” dan “kontroversi” mengenai permasalahan pemerasan. Perlu diingat saya tidak membahas tentang substansi pemerasan, saya hanya berbicara mengenai cara yang dilakukan oleh Pak DI yang saya rasa kurang pas.

Senin, 19 November 2012

Latsirtada


Latsirtadanus ( Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara ) merupakan kegiatan kurikulum integratif Taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian sebagai bekal dalam menyongsong tugas dan pengabdian kepada bangsa dan negara.  

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menumbuh kembangkan jiwa dan semangat integrasi serta untuk meningkatkan etika moral kejuangan para Taruna sebagai upaya membangun soliditas, meningkatkan wawasan para Taruna dengan mengenal suatu daerah sebagai bagian integral wilayah NKRI, serta membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui karya bhakti dan penyuluhan. Karena Bangsa Indonesia memiliki wilayah yang besar dan luas dengan latar belakang kondisi geografis yang berbeda, sumber daya alam yang beraneka ragam dan kehidupan masyarakat yang kompleks dan majemuk, merupakan suatu realita kebhinekaan yang harus dipahami dan dimaknai secara positif oleh para taruna dalam upaya untuk memperkuat kesadaran tentang pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. 

Karena itu, kegiatan yang dilakukan oleh anggota Latsitarda Nusantara, tidak hanya bersifat fisik seperti perbaikan jalan, pembukaan jalan, pembangunan rumah ibadah, rehabiltasi rumah layak huni, namun juga akan diisi dengan kegiatan nonfisik seperti penyuluhan kesehatan dan pemantapan nilai kejuangan dan pengobatan massal. 

Latsitardanus XXXIII tahun 2012 yang diselenggarakan di tiga daerah di Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat yakni Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur, diikuti oleh 1.738 Taruna dan Mahasiswa, terdiri dari Taruna Akademi TNI 453 orang, Taruna Akmil 239 orang, Kadet AAL 105 orang, Karbol AAU 109 orang, Taruna Akpol 293 orang, Taruni 49 orang, Mahasiswa IPDN 200 orang, Mahasiswa gabungan 155 orang dan pengasuh/pendamping 135 orang. 

Kegiatan Latsirtadanus akan dilaksanakan selama 45 hari efektif, dimulai dan dibuka secara resmi pada hari Minggu, tanggal 18, bulan November, tahun 2012 oleh Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., di lapangan Sangkareang Mataram, Nusa Tenggara Barat, sehingga akan berakhir pada puncak peringatan Hari Nusantara 2012, yang juga akan dilaksanakan di Pulau Lombok, 13 Desember 2012. 

Beberapa perguruan tinggi yang bergabung dalam Latsitardanus XXXIII tahun 2012, diantaranya : Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Universitas Indonesia (UI), UPN Surabaya, IAIN Mataram, Sekolah Tinggi Agama Hindu Gde Pudya Mataram dan Universitas Mataram. 

Adapun kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan para Taruna dan Mahasiswa dalam Latsitardanus XXXIII tahun 2012 ini, diantaranya adalah kegiatan karya bakti, bakti sosial, penyuluhan, sadar hukum, riset sosial, pembekalan kejuangan dan teknologi tepat guna. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kotamadya Mataram, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Barat. 

Sementara itu, tujuan dilaksanakannya Latsitardanus adalah merupakan wujud nyata kepedulian generasi muda TNI dan Polri serta mahasiswa dalam rangka membantu percepatan program pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Barat, terutama dalam rehabilitasi tempat pemukiman penduduk, sekolah-sekolah, tempat ibadah serta sarana dan prasarana lainnya. Hal tersebut sejalan dengan tekad dan program pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta mencerdaskan kehidupan seluruh rakyat Indonesia. 

Panglima TNI dalam amanatnya menyampaikan, bahwa pelaksanaan Latsitardanus menjadi wahana integrasi generasi muda calon pemimpin bangsa dimasa akan datang serta menjadi media membangun kebersamaan dengan masyarakat melalui bakti nyata sebagai wujud kepedulian sosial yang kesemuanya itu merupakan modal dalam membangun dan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk itu, melalui Latsitardanus XXXIII tahun 2012, segenap generasi muda TNI, Polri, Mahasiswa dan masyarakat akan merajut kebersamaan dalam membangun daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang merupakan panggilan moral yang dibaktikan guna membantu percepatan pembangunan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat Nusa Tenggara Barat. 

Tema yang diangkat dalam Latsitardanus XXXIII tahun 2012 adalah “Melalui Latsitardanus XXXIII Tahun 2012 Kita Tingkatkan Kemanunggalan TNI, Mahasiswa, dan Masyarakat Dalam Rangka Percepatan Pembangunan Perekonomian Daerah di Nusa Tenggara Barat”. 

SUMBER :